- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.8K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#26
Part 7 : Olive
Aku mulai terbiasa dan mulai bisa membedakan Normal atau "tidak normal". Wanita ataupun laki-laki. Lirikan orang-orang sekitarku memang tak begitu tajam. Paling hanya sedikit menoleh untuk menegaskan apakah aku wanita atau laki-laki.
Mungkin ada yang tau diantara kalian. Sudah terkenal jika "wanita tomboy" akan mengenakan korset atau bebet di daerah dadanya agar tidak menonjol. Walaupun aku sudah mulai anti di bilang cantik. Aku tak menampik kodratku sebagai wanita yang memiliki "tonjolan". Aku suka ikut Kakak ku lari di CFD tiap minggu di Sudirman. Kakak ku suka membelikan ku pakaian olah raga. Dari situ aku lebih nyaman menggunakan dalaman sport dari pada yang menggunakan busah.
Mata kuliah hari ini sudah habis. Sore ini aku duduk di tempat kopi di mall dekat kampusku. Aku hanya berdua Bona. Kebetulan Bona searah dengan rumah ku. Ia suka menawarkan diri menyetirkan ku sampai dekat rumahnya. Nebeng tepatnya. Duduk disana sambil membuka laptop agar tugas presentasiku ikut selesai. Kami sampai lupa waktu. Sudah jam 9 malam rupanya.
"Bona, pulang yuk! "
Bona tidak menjawab.
"Bon, woy Bon! Pulang! "
Tatapan matanya melihat ke pojok tempat kopi itu.
Aku agak kesal. Aku lempar saja pakai sisa batang yang habis ku hisap.
"Eh sial! " kagetnya tak meyakinkan karena matanya masih ke arah pojok.
Aku penasaran apa yang ia lihat. Ternyata ada wanita yang duduk disana sambil melihat ke arah kita.
Aku sudah tau apa maksud Bona. Saat melirik kearahku dan kembali ke arah pojok tempat wanita itu.
"Ah, cuma cewe minta dibayarin kopi kali. Jangan nanti bangkrut loh! " gerutuku
"Coba dulu. Paling rugi goban (50.000) doang" Bela Bona.
Hari sudah malam. Aku ingin pulang. Jadi ku setuju dengan Bona. Biar cepet keluhku. Ya, kalau nyangkut rejeki. Kalau gak paling rugi duit.
Aku mematikan dan menutup laptop. Aku berdiri. Merapihkan baju dan rambutku.
"Sok ganteng Lo! " ledek Bona
Aku hanya tersenyum sedikit dan memasang muka Cool ku.
Aku berjalan mendekati wanita itu. Dia salah tingkah. Kelihatan sekali. Saat didepannya aku yang jadi gugup.
" H... Hey" pasti mukaku aneh
" Eh, iya" wanita itu tak kalah gugup
" Acel" dengan pedenya aku mengulurkan tangan. Berharap ia tak mengusirku.
" Olive" wanita itu berdiri. Mengulurkan tangannya dan tersenyum.
" Oh, Olive. Boleh duduk? " basa basi saja sih. Biar sopan.
" Boleh kok. Duduk aja sini kosong kok"
Aku duduk. Kami berhadapan. Aku bingung mau memulainya dari mana. Eh, dia bilang kosong? Aku mulai dari kosong.
" Kok kosong? Eh maksudnya kok sendiri? "
" iya kosong. Soalnya sendiri. Kalau ada orangnya gak kosong"
Aku menatapnya. Manis juga senyumnya. Kulitnya hitam manis. Rambutnya se bahu di blow ke dalam. Agak terang warnanya tapi tetap cocok dengan dia.
Kami mengobrol basa basi. Aku ajak Bona dan memperkenalkan Olive ke Bona. Cukup lama mengobrol sampai Olive berpamitan karna besok akan kerja lagi.
" Cel, aku pulang duluan ya. Besok masih kerja"
" iya boleh kok pulang. Tapi aku juga boleh minta no Hp kamu kan? "
"jir, bisa aja anak ingusan" bisik Bona
Olive yang mendengar Bona jadi tersenyum malu.
Olive menyodorkan Hpnya agar aku bisa mencatat no ku di Hpnya.
" Makasih ya Cel. Ketemu lagi nanti hehe... "
" Sama-sama live"
Aku tersenyum lebar. Aku senang.
***
Hari-hari ku lewati seperti biasanya. Hanya yang membedakan ada kabar dari Olive sekarang. Semakin dekat sejak dia sering meluangkan waktu bertemu ku. Olive bekerja di salah satu channel TV Indonesia dibagian HRD. Kebetulan kantornya dekat dengan kampusku. Jadi tidak ada alasan aku menolak bertemu dengannya. Aku sering menggali mengetahuan soal dunia kerja ke dia. Jurusan kuliahku bisa bekerja di kantornya. Ada untungnya bukan kalau ada orang dalam. Ya, minimal untuk tempat aku magang sudah tak pusing lagi.
Jumat ini aku janji akan menemani Olive ke acara ulang tahun temannya di daerah Sudirman. Karena acaranya malam. Aku di tawarkan menginap di apartment nya di daerah Karet. Aku setuju. Dengan segala alasan ke orang tuaku. Aku berhasil mendapat izin tidak pulang kerumah malam ini.
Aku melihat jam di tangan kiriku. Sudah pukul 1 dini hari rupanya. Pantas kepalaku sudah pusing menahan kantuk. Aku mengajak Olive pulang karena inti Acaranya juga sudah selesai.
"Live, pulang yuk. Ngantuk" sifat manjaku keluar
"Anak mami ngantuk ya? Uch... uch... uch..." Olive malah meledekku
"Ayooo... "
Olive memegang pipiku dengan kedua tangannya. Dia mencium bibirku lalu menatapku.
"Yuk pulang"
Aku hanya tersenyum. Olive juga tersenyum.
Setelah Olive dan aku berpamitan dengan teman-temannya. Kami pulang. Olive yang menyetir karena mataku sudah tak bisa di buka lebar. Seperti ada lem di ujung-ujungnya.
Tiba di apartment, aku sedikit heran. Karyawan TV swasta sebesar itu gajinya sampai bisa menyewa apartment tipe studio di daerah Jakarta pusat ini. Yah, anggap saja Olive setara dengan manager.
Aku tak sempat mandi. Hanya cutek, cumek, ganti kaos dan celana pendek.
Olive juga melakukan itu. Hanya ia ganti baju tidur tipis bertali tipis dan celana pendek.
Padahal aku sudah mengantuk. Tapi olive malah mengajakku bercanda. Sampai ia tak sengaja menjedotkan kepalanya ke kepalaku.
"Duh, sakit Live" sambil memegangi kepalaku yang ku rasa akan benjol
"Maaf... Maaf Cel. Sini cium biar sembuh"
Olive menciumi kepalaku. Berkali kali.
Tidak berhenti sampai disitu. Ia menjalar sampai ke kening dan seterusnya.
Sebenarnya Aku agak risih. Tapi aku mau tau apa lagi yang akan ia lakukan padaku. Tubuhku kaku. Hanya berani menghadap ke atap yang remang-remang tak terlihat karena hanya lampu tidur yang menyala.
Aku sedikit bergerak merasa geli.
Olive berhenti. Kedua tangannya memegang kedua pipiku. Mengarahkan kepalaku ke hadapannya. Olive menatapku.
"Cel, takut ya? "
" Gak kok" aku berusaha meyakinkannya. Dan menyakinkan ku sendiri.
" Kalau risih bilang ya" Olive kembali menyakiniku
Aku hanya mengangguk. Tak tau apa dia memang melihat muka ketakutan di mukaku.
Olive meneruskannya. Sekarang tangannya yang menjalar kemana pun. Setiap sudut. Aku hanya diam. Masih sedikit tak paham maksudnya. Tapi aku mau tau. Oh, ini rasanya. Batinku.
Olive terus berusaha. Aku mulai belajar sedikit demi sedikit. Aku ikuti jejaknya. Aku tiru gayanya. Sampai pada intinya. Aku mulai gugup. Aku makin kaku. Ah.. Aku yakin ini yang di ceritakan teman-temanku. Olive mulai berani berpindah posisi. Sekarang dia di atas. Aku agak aneh dengan pemandangan ini. Tapi dia sudah mahir menggerakan badannya. Aku tak paham apa maksudnya. Ya, maklum lah baru sekali. Olive juga memakluminya. Aku hanya mengikuti perintahnya. Sampai dia ke puncaknya.
Aku mulai terbiasa dan mulai bisa membedakan Normal atau "tidak normal". Wanita ataupun laki-laki. Lirikan orang-orang sekitarku memang tak begitu tajam. Paling hanya sedikit menoleh untuk menegaskan apakah aku wanita atau laki-laki.
Mungkin ada yang tau diantara kalian. Sudah terkenal jika "wanita tomboy" akan mengenakan korset atau bebet di daerah dadanya agar tidak menonjol. Walaupun aku sudah mulai anti di bilang cantik. Aku tak menampik kodratku sebagai wanita yang memiliki "tonjolan". Aku suka ikut Kakak ku lari di CFD tiap minggu di Sudirman. Kakak ku suka membelikan ku pakaian olah raga. Dari situ aku lebih nyaman menggunakan dalaman sport dari pada yang menggunakan busah.
Mata kuliah hari ini sudah habis. Sore ini aku duduk di tempat kopi di mall dekat kampusku. Aku hanya berdua Bona. Kebetulan Bona searah dengan rumah ku. Ia suka menawarkan diri menyetirkan ku sampai dekat rumahnya. Nebeng tepatnya. Duduk disana sambil membuka laptop agar tugas presentasiku ikut selesai. Kami sampai lupa waktu. Sudah jam 9 malam rupanya.
"Bona, pulang yuk! "
Bona tidak menjawab.
"Bon, woy Bon! Pulang! "
Tatapan matanya melihat ke pojok tempat kopi itu.
Aku agak kesal. Aku lempar saja pakai sisa batang yang habis ku hisap.
"Eh sial! " kagetnya tak meyakinkan karena matanya masih ke arah pojok.
Aku penasaran apa yang ia lihat. Ternyata ada wanita yang duduk disana sambil melihat ke arah kita.
Aku sudah tau apa maksud Bona. Saat melirik kearahku dan kembali ke arah pojok tempat wanita itu.
"Ah, cuma cewe minta dibayarin kopi kali. Jangan nanti bangkrut loh! " gerutuku
"Coba dulu. Paling rugi goban (50.000) doang" Bela Bona.
Hari sudah malam. Aku ingin pulang. Jadi ku setuju dengan Bona. Biar cepet keluhku. Ya, kalau nyangkut rejeki. Kalau gak paling rugi duit.
Aku mematikan dan menutup laptop. Aku berdiri. Merapihkan baju dan rambutku.
"Sok ganteng Lo! " ledek Bona
Aku hanya tersenyum sedikit dan memasang muka Cool ku.
Aku berjalan mendekati wanita itu. Dia salah tingkah. Kelihatan sekali. Saat didepannya aku yang jadi gugup.
" H... Hey" pasti mukaku aneh
" Eh, iya" wanita itu tak kalah gugup
" Acel" dengan pedenya aku mengulurkan tangan. Berharap ia tak mengusirku.
" Olive" wanita itu berdiri. Mengulurkan tangannya dan tersenyum.
" Oh, Olive. Boleh duduk? " basa basi saja sih. Biar sopan.
" Boleh kok. Duduk aja sini kosong kok"
Aku duduk. Kami berhadapan. Aku bingung mau memulainya dari mana. Eh, dia bilang kosong? Aku mulai dari kosong.
" Kok kosong? Eh maksudnya kok sendiri? "
" iya kosong. Soalnya sendiri. Kalau ada orangnya gak kosong"
Aku menatapnya. Manis juga senyumnya. Kulitnya hitam manis. Rambutnya se bahu di blow ke dalam. Agak terang warnanya tapi tetap cocok dengan dia.
Kami mengobrol basa basi. Aku ajak Bona dan memperkenalkan Olive ke Bona. Cukup lama mengobrol sampai Olive berpamitan karna besok akan kerja lagi.
" Cel, aku pulang duluan ya. Besok masih kerja"
" iya boleh kok pulang. Tapi aku juga boleh minta no Hp kamu kan? "
"jir, bisa aja anak ingusan" bisik Bona
Olive yang mendengar Bona jadi tersenyum malu.
Olive menyodorkan Hpnya agar aku bisa mencatat no ku di Hpnya.
" Makasih ya Cel. Ketemu lagi nanti hehe... "
" Sama-sama live"
Aku tersenyum lebar. Aku senang.
***
Hari-hari ku lewati seperti biasanya. Hanya yang membedakan ada kabar dari Olive sekarang. Semakin dekat sejak dia sering meluangkan waktu bertemu ku. Olive bekerja di salah satu channel TV Indonesia dibagian HRD. Kebetulan kantornya dekat dengan kampusku. Jadi tidak ada alasan aku menolak bertemu dengannya. Aku sering menggali mengetahuan soal dunia kerja ke dia. Jurusan kuliahku bisa bekerja di kantornya. Ada untungnya bukan kalau ada orang dalam. Ya, minimal untuk tempat aku magang sudah tak pusing lagi.
Jumat ini aku janji akan menemani Olive ke acara ulang tahun temannya di daerah Sudirman. Karena acaranya malam. Aku di tawarkan menginap di apartment nya di daerah Karet. Aku setuju. Dengan segala alasan ke orang tuaku. Aku berhasil mendapat izin tidak pulang kerumah malam ini.
Aku melihat jam di tangan kiriku. Sudah pukul 1 dini hari rupanya. Pantas kepalaku sudah pusing menahan kantuk. Aku mengajak Olive pulang karena inti Acaranya juga sudah selesai.
"Live, pulang yuk. Ngantuk" sifat manjaku keluar
"Anak mami ngantuk ya? Uch... uch... uch..." Olive malah meledekku
"Ayooo... "
Olive memegang pipiku dengan kedua tangannya. Dia mencium bibirku lalu menatapku.
"Yuk pulang"
Aku hanya tersenyum. Olive juga tersenyum.
Setelah Olive dan aku berpamitan dengan teman-temannya. Kami pulang. Olive yang menyetir karena mataku sudah tak bisa di buka lebar. Seperti ada lem di ujung-ujungnya.
Tiba di apartment, aku sedikit heran. Karyawan TV swasta sebesar itu gajinya sampai bisa menyewa apartment tipe studio di daerah Jakarta pusat ini. Yah, anggap saja Olive setara dengan manager.
Aku tak sempat mandi. Hanya cutek, cumek, ganti kaos dan celana pendek.
Olive juga melakukan itu. Hanya ia ganti baju tidur tipis bertali tipis dan celana pendek.
Padahal aku sudah mengantuk. Tapi olive malah mengajakku bercanda. Sampai ia tak sengaja menjedotkan kepalanya ke kepalaku.
"Duh, sakit Live" sambil memegangi kepalaku yang ku rasa akan benjol
"Maaf... Maaf Cel. Sini cium biar sembuh"
Olive menciumi kepalaku. Berkali kali.
Tidak berhenti sampai disitu. Ia menjalar sampai ke kening dan seterusnya.
Sebenarnya Aku agak risih. Tapi aku mau tau apa lagi yang akan ia lakukan padaku. Tubuhku kaku. Hanya berani menghadap ke atap yang remang-remang tak terlihat karena hanya lampu tidur yang menyala.
Aku sedikit bergerak merasa geli.
Olive berhenti. Kedua tangannya memegang kedua pipiku. Mengarahkan kepalaku ke hadapannya. Olive menatapku.
"Cel, takut ya? "
" Gak kok" aku berusaha meyakinkannya. Dan menyakinkan ku sendiri.
" Kalau risih bilang ya" Olive kembali menyakiniku
Aku hanya mengangguk. Tak tau apa dia memang melihat muka ketakutan di mukaku.
Olive meneruskannya. Sekarang tangannya yang menjalar kemana pun. Setiap sudut. Aku hanya diam. Masih sedikit tak paham maksudnya. Tapi aku mau tau. Oh, ini rasanya. Batinku.
Olive terus berusaha. Aku mulai belajar sedikit demi sedikit. Aku ikuti jejaknya. Aku tiru gayanya. Sampai pada intinya. Aku mulai gugup. Aku makin kaku. Ah.. Aku yakin ini yang di ceritakan teman-temanku. Olive mulai berani berpindah posisi. Sekarang dia di atas. Aku agak aneh dengan pemandangan ini. Tapi dia sudah mahir menggerakan badannya. Aku tak paham apa maksudnya. Ya, maklum lah baru sekali. Olive juga memakluminya. Aku hanya mengikuti perintahnya. Sampai dia ke puncaknya.
Diubah oleh angela.aghastya 26-08-2017 19:17
0