- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#12
Part 5 : Hidup Baru
Gemetar tanganku masih terasa. Aku hanya diam memandang kosong ke depan. Entah apa yang ku lihat. Desi terus menerangkan siapa Audi bagi Sherly. Sepenglihatannya di akun sosmed itu. Mereka udah dekat dari sebulan yang lalu.
Audi perempuan bule berambut pendek, berbadan agak berisi dan dada rata. Ya, kalau tidak di perhatikan pasti kalian mengira Audi itu laki-laki. Aku sudah bisa menebak bahwa Sherly sedang sibuk-sibuknya meladeni Audi.
Desi menutup akun itu. Mematikan laptop dan menutupnya. Desi menepuk pundak ku. Mengusapnya. Ia berkata banyak. Tapi aku tak fokus mendengarkannya. Aku malah tak mendengarkannya. Aku duduk di pinggir kasur. Menopangkan siku ke paha dan meletakkan telapak tangan menutupi muka ku.
"Ini ya patah hati" batinku
Aku hanya diam. Tak ada yang ini aku lakukan dan katakan. Aku hanya mendengar Desi bilang
"Cari yang lain! "
Apanya cari yang lain. Belum ngaku aja aku sudah patah hati. Gimana cari yang lain. Kesal. Ah, bukan Desi sebenarnya yang tak mengerti. Akunya saja sedang terbawa emosi. Desi melihatku tak bergerak. Ia mungkin tau aku hanya ingin sendiri sekarang ini. Desi merapihkan barang-barangnya dan pamit pulang. Aku tak bergeming. Hanya anggukan tipis tanda mengiyakan. Lalu bunyi gagang pintu tertutup dan aku hanya sendiri dikamarku sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan? " batinku
***
Hari ini hari sabtu. Ah, enaknya bisa bangun siang dan tidur pulas semalam. Hari sabtu sekolahku libur. Aku meregangkan badan-badanku dikasur. Sambil meraih Hp dan melihat isinya. Sudah menjadi kebiasaan setiap membuka mata sehabis tidur atau aktifitas lainnya. Pasti Hp yang akan ku cari terlebih dahulu. Pasti kalian juga begitu.
Sudah lama rasanya tak mendengar nama Sherly. Aku kangen. Sakit hatiku sudah mulai hilang karena memang sudah setahun kejadian itu. Apa Sherly masih ingat aku ya? Aku penasaran. Ya, setelah kepo di twitter yang membuat aku patah hati. Aku tak pernah mau mengechat duluan. Jika ia yang chat duluan, selalu aku balas singkat. Sherly mungkin heran. Mungkin. Tapi ia biasa saja tidak ada pertanyaan yang memaksaku harus memberikan alasan aku menjauhinya. Paling hanya pertanyaan kecil "Kamu kenapa? " dan pasti selalu aku jawab "Gpp"
Aku beranjak dari tempat tidur empuk ku. Menatap diri di depan cermin sebesar badanku. Aku melihat dengan detail setiap inci kulit mukaku. Terdapat 2 sampai 3 jerawat di sana. Aku tak peduli. Sudah besar rupanya. Aku memegang rambut hitam yang sudah mulai panjang. Sudah melebihi dada rupanya.
"Aku akan potong semana ya?" batinku
Badanku mulai agak berisi sejak tidak banyak lagi kegiatan sekolah karena memang kami sudah ujian kelulusan. Hanya ada beberapa exkul dan kegiatan test masuk ke perguruan tinggi.
Desi dan Aulia janji akan menemani ku mendaftar di kampus impian ku. Aku akan mengambil jurusan Design Grafis. Aku tak sabar menjadi anak kuliahan.
Kami janjian di mall di daerah Senayan. Karena kampus impianku itu dekat, hanya tinggal jalan kaki dari mall tersebut. Sebelum aku mendaftar. Aku mau potong rambutku dulu. Desi dan Aulia sudah menunggu di dalam.
" Dorrr... " niat ku mengagetkan Desi dan Aulia yang sedang duduk di bangku mall.
Tapi ternyata mereka malah pura-pura kaget untuk meledekku.
" Eh copot... Copot... " kata Aulia sambil memegang dadanya
" Gue kaget banget Cel" dengan muka meledek khas Desi.
"Lo ga liat depan ada kaca etalase yang bisa buat Lo ngaca sekalian Fashionshow? " Ledek Aulia sedikit marah.
Bodohnya. Ternyata di depan mereka ada etalase yang bisa memantulkan bayanganku. Diriku tepatnya. Pantas saja usahaku gagal kali ini. Bukan kali ini saja sih. Aku hanya bisa nyengir kuda khas aku kalau sedang malu seperti itu. Mereka kan sahabatku pasti sudah tau akulah, jadi tak perlu malu.
" Hehe... De, Au, Gue mau potong rambut nih. Masih bingung model apa ya? Udah kayak kunti nih panjang banget"
"Langsung ke salonnya aja yuk, biar abangnya yang kasih tau yang bagus buat Lo yang mana" Desi menjawab.
Mereka sudah mengenalku. Akan di beri masukan apapun kalau tidak sesuai dengan bayanganku, ide sebagus apa pasti akan ku tolak. Kami berjalan ke salon yang sudah ternama di Indonesia. Aku tidak punya salon langganan. Bisa di hitung jari aku ke salon dalam setahun. Paling hanya potong rambut dan cuci jika malas keramas.
Berjejer bangku-bangku salon dan peralatannya. Aku duduk di salah satu bangku. Desi dan Aulia menunggu di sofa tunggu. Bukan memikirkan aku mau potong model apa aku malah salah fokus ke TV yang sedang menayangkan acara ulangan musik di salah satu Channel TV. Ada group duo penyanyi wanita disana. Yang satu cantik dengan dandanan full makeup memegang mic bernyanyi. Yang satunya lagi memegang gitar dan ikut bernyanyi.
"Keren juga" batinku
Di lebarkannya kain penghalang agar bajuku tetap bersih. Mbak salon itu memperkenalkan diri, mbak inem namanya. Ia bertanya aku mau dipotong model apa. Aku hanya tersenyum dan menunjuk TV.
" Oh mau kayak yang tomboy ya mbak, gak sayang rambutnya? " mbak inem meyakinkanku
" Gak apa apa mbak, potong saja. Gerah soalnya" alasan itu yang cuma ada di otakku.
Kres... Kres... Rambutku yang terpotong ku pandangi tiap helainya. Kalau jelek kan masih bisa panjang lagi kok. Batinku menenangkan pikiranku. Saking khawatirnya aku tidak melihat kecermin. Aku melihat ke pangkuanku yang sudah banyak rambut berceceran.
"Ini hidup baruku" tegas batinku
Setelah mbak inem merapihkan setiap sudutnya dan mengerikannya. Aku minta tidak di pakaikan gell rambut atau semacamnya. Toh, nanti akan biasa saja kan saat aku di rumah. Setelah membayar ke kasir dan menyelipkan sedikit uang tips untuk mbak inem. Aku berjalan menghampiri Desi dan Aulia yang sudah mulai bosan disana. Muka mereka agak seram saat aku sudah didekat mereka.
"Cel, Lo gila Cel? " Aulia Heran. Seperti matanya mau keluar dari kelopaknya.
Berbeda dengan Desi.
"Haha... Keren sodara Gue. Ganteng njir... "
" Ajarannya Desi nih sahabat Gue jadi buci (panggilan untuk wanita tomboy di Kalangannya) "
Sedikit marah tapi Aulia pasti akan menerima keadaanku sekarang
Desi memeluk ku. Aulia juga. Aku malah teharu. Mereka memang sahabatku. Kami bergegas menuju calon kampusku. Lumayan membuang keringat siang-siang begini. Dikampus ada banyak calon mahasiswa dan calon kakak-kakak angkatan ku. Aku melihat sekeliling. Ini calon kampusku. Desi dan Aulia juga tertarik dengan jurusan yang aku ambil. Mereka ikut mendaftar. Senang sekali punya sahabat yang bisa berbagi tugas. Untung sahabatku mereka.
Gemetar tanganku masih terasa. Aku hanya diam memandang kosong ke depan. Entah apa yang ku lihat. Desi terus menerangkan siapa Audi bagi Sherly. Sepenglihatannya di akun sosmed itu. Mereka udah dekat dari sebulan yang lalu.
Audi perempuan bule berambut pendek, berbadan agak berisi dan dada rata. Ya, kalau tidak di perhatikan pasti kalian mengira Audi itu laki-laki. Aku sudah bisa menebak bahwa Sherly sedang sibuk-sibuknya meladeni Audi.
Desi menutup akun itu. Mematikan laptop dan menutupnya. Desi menepuk pundak ku. Mengusapnya. Ia berkata banyak. Tapi aku tak fokus mendengarkannya. Aku malah tak mendengarkannya. Aku duduk di pinggir kasur. Menopangkan siku ke paha dan meletakkan telapak tangan menutupi muka ku.
"Ini ya patah hati" batinku
Aku hanya diam. Tak ada yang ini aku lakukan dan katakan. Aku hanya mendengar Desi bilang
"Cari yang lain! "
Apanya cari yang lain. Belum ngaku aja aku sudah patah hati. Gimana cari yang lain. Kesal. Ah, bukan Desi sebenarnya yang tak mengerti. Akunya saja sedang terbawa emosi. Desi melihatku tak bergerak. Ia mungkin tau aku hanya ingin sendiri sekarang ini. Desi merapihkan barang-barangnya dan pamit pulang. Aku tak bergeming. Hanya anggukan tipis tanda mengiyakan. Lalu bunyi gagang pintu tertutup dan aku hanya sendiri dikamarku sekarang.
"Apa yang harus aku lakukan? " batinku
***
Hari ini hari sabtu. Ah, enaknya bisa bangun siang dan tidur pulas semalam. Hari sabtu sekolahku libur. Aku meregangkan badan-badanku dikasur. Sambil meraih Hp dan melihat isinya. Sudah menjadi kebiasaan setiap membuka mata sehabis tidur atau aktifitas lainnya. Pasti Hp yang akan ku cari terlebih dahulu. Pasti kalian juga begitu.
Sudah lama rasanya tak mendengar nama Sherly. Aku kangen. Sakit hatiku sudah mulai hilang karena memang sudah setahun kejadian itu. Apa Sherly masih ingat aku ya? Aku penasaran. Ya, setelah kepo di twitter yang membuat aku patah hati. Aku tak pernah mau mengechat duluan. Jika ia yang chat duluan, selalu aku balas singkat. Sherly mungkin heran. Mungkin. Tapi ia biasa saja tidak ada pertanyaan yang memaksaku harus memberikan alasan aku menjauhinya. Paling hanya pertanyaan kecil "Kamu kenapa? " dan pasti selalu aku jawab "Gpp"
Aku beranjak dari tempat tidur empuk ku. Menatap diri di depan cermin sebesar badanku. Aku melihat dengan detail setiap inci kulit mukaku. Terdapat 2 sampai 3 jerawat di sana. Aku tak peduli. Sudah besar rupanya. Aku memegang rambut hitam yang sudah mulai panjang. Sudah melebihi dada rupanya.
"Aku akan potong semana ya?" batinku
Badanku mulai agak berisi sejak tidak banyak lagi kegiatan sekolah karena memang kami sudah ujian kelulusan. Hanya ada beberapa exkul dan kegiatan test masuk ke perguruan tinggi.
Desi dan Aulia janji akan menemani ku mendaftar di kampus impian ku. Aku akan mengambil jurusan Design Grafis. Aku tak sabar menjadi anak kuliahan.
Kami janjian di mall di daerah Senayan. Karena kampus impianku itu dekat, hanya tinggal jalan kaki dari mall tersebut. Sebelum aku mendaftar. Aku mau potong rambutku dulu. Desi dan Aulia sudah menunggu di dalam.
" Dorrr... " niat ku mengagetkan Desi dan Aulia yang sedang duduk di bangku mall.
Tapi ternyata mereka malah pura-pura kaget untuk meledekku.
" Eh copot... Copot... " kata Aulia sambil memegang dadanya
" Gue kaget banget Cel" dengan muka meledek khas Desi.
"Lo ga liat depan ada kaca etalase yang bisa buat Lo ngaca sekalian Fashionshow? " Ledek Aulia sedikit marah.
Bodohnya. Ternyata di depan mereka ada etalase yang bisa memantulkan bayanganku. Diriku tepatnya. Pantas saja usahaku gagal kali ini. Bukan kali ini saja sih. Aku hanya bisa nyengir kuda khas aku kalau sedang malu seperti itu. Mereka kan sahabatku pasti sudah tau akulah, jadi tak perlu malu.
" Hehe... De, Au, Gue mau potong rambut nih. Masih bingung model apa ya? Udah kayak kunti nih panjang banget"
"Langsung ke salonnya aja yuk, biar abangnya yang kasih tau yang bagus buat Lo yang mana" Desi menjawab.
Mereka sudah mengenalku. Akan di beri masukan apapun kalau tidak sesuai dengan bayanganku, ide sebagus apa pasti akan ku tolak. Kami berjalan ke salon yang sudah ternama di Indonesia. Aku tidak punya salon langganan. Bisa di hitung jari aku ke salon dalam setahun. Paling hanya potong rambut dan cuci jika malas keramas.
Berjejer bangku-bangku salon dan peralatannya. Aku duduk di salah satu bangku. Desi dan Aulia menunggu di sofa tunggu. Bukan memikirkan aku mau potong model apa aku malah salah fokus ke TV yang sedang menayangkan acara ulangan musik di salah satu Channel TV. Ada group duo penyanyi wanita disana. Yang satu cantik dengan dandanan full makeup memegang mic bernyanyi. Yang satunya lagi memegang gitar dan ikut bernyanyi.
"Keren juga" batinku
Di lebarkannya kain penghalang agar bajuku tetap bersih. Mbak salon itu memperkenalkan diri, mbak inem namanya. Ia bertanya aku mau dipotong model apa. Aku hanya tersenyum dan menunjuk TV.
" Oh mau kayak yang tomboy ya mbak, gak sayang rambutnya? " mbak inem meyakinkanku
" Gak apa apa mbak, potong saja. Gerah soalnya" alasan itu yang cuma ada di otakku.
Kres... Kres... Rambutku yang terpotong ku pandangi tiap helainya. Kalau jelek kan masih bisa panjang lagi kok. Batinku menenangkan pikiranku. Saking khawatirnya aku tidak melihat kecermin. Aku melihat ke pangkuanku yang sudah banyak rambut berceceran.
"Ini hidup baruku" tegas batinku
Setelah mbak inem merapihkan setiap sudutnya dan mengerikannya. Aku minta tidak di pakaikan gell rambut atau semacamnya. Toh, nanti akan biasa saja kan saat aku di rumah. Setelah membayar ke kasir dan menyelipkan sedikit uang tips untuk mbak inem. Aku berjalan menghampiri Desi dan Aulia yang sudah mulai bosan disana. Muka mereka agak seram saat aku sudah didekat mereka.
"Cel, Lo gila Cel? " Aulia Heran. Seperti matanya mau keluar dari kelopaknya.
Berbeda dengan Desi.
"Haha... Keren sodara Gue. Ganteng njir... "
" Ajarannya Desi nih sahabat Gue jadi buci (panggilan untuk wanita tomboy di Kalangannya) "
Sedikit marah tapi Aulia pasti akan menerima keadaanku sekarang
Desi memeluk ku. Aulia juga. Aku malah teharu. Mereka memang sahabatku. Kami bergegas menuju calon kampusku. Lumayan membuang keringat siang-siang begini. Dikampus ada banyak calon mahasiswa dan calon kakak-kakak angkatan ku. Aku melihat sekeliling. Ini calon kampusku. Desi dan Aulia juga tertarik dengan jurusan yang aku ambil. Mereka ikut mendaftar. Senang sekali punya sahabat yang bisa berbagi tugas. Untung sahabatku mereka.
Diubah oleh angela.aghastya 23-05-2018 11:58
0