- Beranda
- Stories from the Heart
Ketidak Normalan Ku
...
TS
angela.aghastya
Ketidak Normalan Ku
Part 1 : Panggil saja Acel
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Ku amati bayangan di depanku dari jendela kelas, samar-samar terlihat anak club basket sedang bermain basket di depanku. Aku memang lebih tertarik melihat anak laki-laki memperebutkan bola dari pada anak perempuan yang sibuk memikirkan dandanan mereka.
Namaku Angela Aghastya, panggil saja Acel. Aku memang sedikit tomboy kala itu. Aku punya pacar laki-laki saat aku kelas 2 SMA di sekolah kejuruan di Jakarta. Setelah 6 bulan kami berpacaran, aku memutuskan hubungan karna pacarku terlalu "lembek" pikir ku.
Saat libur sekolah kenaikan kelas 3 SMA, aku berlibur ke rumah kakak Ke 2 ku di Bandung. Disana aku bertemu dengan adik teman kakak ku, namanya Sherly.
Sherly kuliah di australia dan sedang berlibur sama sepertiku. Kami menghabiskan waktu berdua mengobrol dan bercanda. Aku senang sekali berteman dengan Sherly. Selain ia baik, ia juga pintar.
Tak terasa sudah seminggu kami berteman, hampir setiap hari Sherly menginap di rumah kakak ku. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Badanku mulai lelah dan mataku mengantuk. Aku memeluk guling membelakangi Sherly,
"Cel, punya pacar ga?"
"Pernah punya, tapi udah ga, kalo sherly?" jawabku dengan mata berair hasil menguap
"Pernah punya juga"
Mataku terpejam sedikit demi sedikit. Badanku terasa ada yang memeluk dari belakang dengan erat dan makin erat. Seketika mataku terbuka lebar yang tadinya berat seperti ada batu dikelopaknya. Dadaku bergebu-gebu seperti jantungnya mau keluar dari tempatnya. Aku tak berani bergerak sedikit pun dan tak berani bicara sepatah katapun. Aku takut. Sampai ku sadari sudah berganti hari dan pelukan itu terlepas dengan sendirinya dan aku tertidur.
Pagi itu, matahari sudah menerangi rerumputan yang tertutup embun. Aku melihat sosok gadis berambut ikal duduk menyerong di bangku teras depan rumah. Mukanya samar tertutup rambut panjangnya yang tertiup angin dengan kulit sawo matang. Ya, itu Sherly.
Aku ingin sekali punya kulit agak gelap dari kulit asliku, karena mama keturunan belanda dan papa manado sepertinya mustahil. Sherly yang sadar aku sedang melihatnya, menyapa dan mengajak duduk disampingnya.
"Cel, sini duduk sama aku"
"Eh..."
Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya
"Semalem acel bobo ya? Aku kan lagi cerita"
"hehe..." pasti wajah ku berubah menjadi aneh karena heran
Apa Sherly ketiduran dan tidak sadar ia memeluk ku erat semalam? Apa aku saja yang terlalu berlebih karena tidak pernah di peluk sesama teman wanita? Apa aku saja yang merasa gugup dan takut saat dipeluk erat oleh teman wanita?
Ah, anggap saja memang hanya aku yang terlalu berlebihan.
____________________________________________
Prolog
Oh, ya aku lupa memperkenalkan diri. Panggil saja Acel. Aku wanita dan usiaku saat ini masih belum di bilang tua. Ah, nanti kalian akan kenal aku seiring banyaknya Part di Thread ku ini.
Mohon maaf Thread ini masih sangat banyak kekurangan. Maklum baru pertama kali menjadi "Penulis" setelah sekian lama menjadi Silent Reader. Inipun terpaksa membuat ID karena tertarik ingin membagi sedikit perjalanan hidupku. Aku tau kalian sudah cukup bijak membedakan yang baik dan buruk dari Thread ini.
Mohon maaf sekali lagi. Dengan tidak bermaksud menyinggung apalagi menyudutkan salah satu pihak ataupun golongan. Jika dari kalian mengenal aku atau tokoh-tokoh dalam cerita ini. Mohon untuk tidak saling mengusik. Biarkan kami bahagia dengan jalan hidup masing-masing.
Terimakasih sebelumnya.
Part 2 : Sherly ke Jakarta
Part 3 : Pengakuan Sherly
Part 4 : Patah Hati
Part 5 : Hidup Baru
Part 6 : Tatto Pertama
Part 7 : Olive
Part 8 : Mulai Nyaman dengan Olive
Part 9 : Renda Ungu
Part 10 : Patah Hati 2
Part 11 : Penjelasan Olive
Part 12 : Ketulusan Mas Jerry
Part 13 : Pertama Kali Kerja
Part 14 : Paling Ku Takuti
Part 15 : Iqbal
Part 16 : Lumba-lumba
Part 17 : Lumba-lumba 2
Part 18 : Pertama
Part 19 : Langit Ke Tujuh
Part 20 : Menarik
Stay tuned ❤
Diubah oleh angela.aghastya 31-05-2018 22:47
anasabila memberi reputasi
1
15.7K
97
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
angela.aghastya
#11
Part 4 : Patah hati
Birunya langit berubah warna menjadi kemerahan dan kebiruan. Aku menatap langit senja dipinggir pantai pasir putih tanpa pinggiran pantai yang bisa di pijak. Duduk beralaskan sendal jepit dan bahuku yang disandari oleh Sherly. Malam ini Sherly akan pulang ke Ausi. Entah apa yang aku rasakan. Ragu. Cuma itu yang aku tau.
"Cel, nanti kalo aku jauh, kita Vcall ya. Jangan sombong"
Sherly memecahkan lamunanku
"iya Sher, baik-baik disana. Cepet pulang lagi ya"
Perasaan ku bercampur aduk bersamaan dengan Sherly yang menggenggam tanganku.
Ada yang salah denganku. Cuma itu yang aku tau.
"Sher, kita kebandara yuk! Nanti km terlambat"
Aku berdiri dan berjalan menuju mobil hasil pinjam papa ku.
Sesampainya di bandara keberangkatan international, kami berpelukan. Sherly mencium pipi kanan dan kiri ku. Aku tersenyum. Ia mengambil koper yang kupegang dengan erat. Ah, sampai lupa kalau itu kopernya. Ku lihat Sherly berjalan menjauhi ku, memasuki ruang berkaca. Ia melambaikan tangannya tanda berpisah. Aku menatapnya sampai ia benar-benar tidak bisa terlihat lagi. Aku masih di tempat yang sama walau ia tak terlihat lagi.
Sedih rasanya ditinggal teman baru yang kau anggap dekat. Pasti dengan waktu yang lama akan bertemu lagi dan melihat senyum manisnya langsung. Aku akan menunggunya, dan akan menjemputnya jika ia pulang. Aku tersenyum. Membalikan badan dan pulang kerumah.
***
Hari berlalu cepat sekali. Menurutku. Sudah 2 bulan setelah Sherly pulang dan aku menjalani hari-hari normalku seperti biasanya. Aku dan Sherly tetap berhubungan baik melalui aplikasi komunikasi, setiap kegiatannya Sherly akan mengabari ku. Aku juga begitu. Walau kadang menurutku tidak penting tapi Sherly bilang ia ingin tau apa kegiatanku.
Tapi udah seminggu ini aku tidak dapat kabar darinya. Kangen senyum manisnya. Kangen uraian rambut panjang, cokelat, dan ikal yang selalu ia mainkan dengan jarinya. Kangen ada Voicenote masuk yang bernada manja memanggil nama ku.
"Cel... Aaa... Cel... Cel... Aaa... Hahaha... "
Pasti di akhiri dengan tawa dan aku ikut tertawa.
Bangku kayu panjang dikantin belakang sekolah aku duduk meminum es teh manis dan indomie rebus ayam bawang pakai sedikit rawit. Tak seperti biasanya yang akan langsung habis dengan sekejab. Kali ini hanya ku aduk-aduk saja es tehnya. Indomienya juga masih rapih dengan sedikit merekah karena terlalu lama tak di makan.
Dari kejauhan Desi meneriaki namaku. Mungkin memanggil maksudnya. Tapi karna terlalu kencang jadi seperti meneriaki.
"Angela... Woy Angela... "
Aku hanya menengok dan mengerutkan dahi.
"Cel, itu indomie enak ga dimakan? Nanti makin kurus loh dan pasti abis ini gue kenyang"
Desi sudah tau pasti indomienya akan ku berikan ke dia, itu kebiasaanku kalau sedang gak mood.
"Makan de, pake nasi kalo kurang"
"Wah, mbak nasi ya 1"
Desi melambaikan tangan ke ibu kantin, seperti aji mumpung. Ya, begitulah sahabatku.
Desi makan dengan lahapnya. Sahabat paling dekat denganku diantara yang lain. Aku tak pernah menyimpan rahasia ke Desi. Begitupun dengan Desi. Menurutku. Desi berambut pendek dibawah teliga. Poni depannya agak panjang menutupi mata. Seperti band Vierra kami menyebutnya. Desi pun tomboy sama sepertiku. Selalu marah jika Aulia, Rubi atau yang lain mengoleskan bedak ke mukanya. Pasti berhasil buat kami tertawa. Desi punya sahabat dekat selain kami. Dwi namanya.
Dwi dan Desi akan selalu berdua kemanapun pergi. Sayangnya Dwi tidak satu sekolah dengan kami. Dwi teman SMP kami. Dulu mereka satu bangku. Memang kalau di lihat kedekatan mereka tidak lazim. Antara terlalu bersahabat dengan saling tidak mau pisah satu sama lain beda tipis.
Aku jadi teringat Sherly, yang aku tunggu-tunggu kabarnya seminggu ini. Seketika aku menyadari perlakuan Desi ke Dwi sama seperti Sherly ke aku. Aku jadi penasaran apa yang di rasakan Desi sama seperti aku juga.
"De, Lo tuh sedeket apa sih sama Dwi? "
"Huk... Huk... Huk... "
Sepertinya Desi tersedak.
Desi mengambil es teh manisku dan meminumnya.
"Cel, Lo kok tanya gitu? Sampe kaget gue"
"De, kok gue kangen Sherly ya? "
Desi menatapku, memelototi tepatnya.
"Bukan, bukan! Udah seminggu Sherly ilang De. Gue takut dia kenapa-kenapa. Apa dia sakit ya? "
Aku menunduk. Aku malu.
Desi menyelesaikan makannya dan memegang pundakku. Ya, ia pasti tau ada yang tak beres dengan aku.
"Cel, sebelum Lo cerita Lo kenapa, Gue akan jujur dulu sama Lo. Banyak hal yang Lo ga tau sebenernya dari Gue. Gue sebenernya malu ngomongnya. Tapi kyknya Lo harus tau"
Aku menatap Desi tanpa berkata apa-apa. Desi mulai dengan ceritanya.
"Cel, Gue sama Dwi bukan sekedar sahabat kayak Lo sama Gue. Gue ada rasa sama Dwi kayak rasa sayang ke orang spesial. Mungkin kayak rasa yang Lo rasain sekarang ke Sherly" Desi terlihat serius.
Deg. Rasanya jantungku di ikut permainan Histeria di dufan dan tertinggal di bawah walau permainannya sudah keatas.
"Cel, Gue sama Dwi emang gak pernah ngungkapin perasaan kita. Tapi Gue sama Dwi tau kalau kita sama-sama saling sayang. Gue juga gak tau apa Lo sama kayak gue atau cuma kekangenan aja sama temen deket Lo yang jauh "
Aku menangis mendengar Desi mengungkapkan jati dirinya di depan sahabatnya yang bodoh ga pernah tau tanda-tanda itu dari dulu. Aku hanya ingin sabahat ku tau apa yang aku rasakan sekarang, ternyata malah Desi yang lebih lama memendam perasaan itu.
"De, Gue udah pernah di peluk dan di cium sama Sherly. Gue ga bisa ngelak. Gue ga bisa marah. Gue jatuh cinta sama Sherly, De. Gue takut harus ngomong sama siapa karena Gue tau ini salah."
Desi menenangkan ku. Mengusap pundakku. Menguatkanku.
"Cel, Lo ga sendirian. Lo ga usah takut. Sahabat-sahabat Lo akan ada saat Lo seneng atau sedih kayak sekarang. Udah yuk kita pulang. Gak enak nangis ditempat rame. "
Desi membantuku berdiri. Membayarkan makannya dan mengantarkan aku pulang.
Sahabat-sahabatku sering sekali main kerumah ku yang tak terlalu besar. Hanya ada 3 kamar di rumah yang luasnya sekitar 150 m2. Cukup untuk Papa, mama, aku dan adik perempuan ku. Kami 4 bersaudara.
Abang tertuaku sudah menikah, memiliki 2 anak dan tinggal di daerah Jakarta selatan. Bekerja sebagai Manager salah satu band Indonesia.
Kakak ke 2 ku juga sudah menikah memiliki 1 anak, akan bercerai dengan suaminya yang jabatannya lebih rendah darinya dan tinggal di rumah orang tuaku di Bandung. Kakakku akan pindah bekerja di Thailand di perusahan obat disana.
Aku anak ke 3 yang sudah duduk di bangku SMA jurusan pariwisata di Jakarta.
Adik ku kelas 2 SMA di sekolah Negri dekat rumah.
Desi sudah masuk kamarku lebih dulu. Sedangkan aku mengambil minum dan beberapa cemilan. Sampai dikamar aku lihat Desi menyalakan TV. Aku membuka Laptop ku. Berharap ada email dari Sherly.
"Cel, udah cek sosmednya Sherly belum? "
Desi ternyata pintar juga. Tidak terlintas di pikiranku kalo kita bisa tau aktifitas orang lain dari sosmednya.
Karena aku tak berteman dengan Sherly di sosmed manapun. Aku mulai dengan Facebook. Facebooknya tidak banyak yang aku bisa lihat. Karna cuma beberapa foto yang tidak di kunci. Di timelinenya pun aku tidak bisa melihat karena tidak berteman denganya. Aku juga tidak mau pencet Add. Aku tidak mau ketahuan aku Kepo.
Tidak ada yang berarti aku temui. Aku buka Twitter dan mencari nama lengkapnya. Nah ketemu, aku buka profilnya. Terlihat fotonya dengan parasnya yang cantik menawan menurutku.
Aku lihat timelinenya. Ternyata dia baru update di tempat makan dengan seseorang. Mungkin temannya.
Aku lanjutkan ke bawah, ternyata Sherly banyak menulis caption dan memention ke orang itu. @audi_andra nama akun itu.
Aku buka akun itu dan aku temui foto mereka berdua sedang makan malam yang baru saja di posting. Sesak dadaku melihatnya. Tanganku gemetar. Desi langsung mengambil laptopku dan melihat yang lainnya. Ternyata mereka memang ada hubungan. Karena dengan jelas Sherly memanggil "Babe" ke akun itu. Hancur hatiku. Ini yang namanya jatuh cinta lalu patah hati?
Birunya langit berubah warna menjadi kemerahan dan kebiruan. Aku menatap langit senja dipinggir pantai pasir putih tanpa pinggiran pantai yang bisa di pijak. Duduk beralaskan sendal jepit dan bahuku yang disandari oleh Sherly. Malam ini Sherly akan pulang ke Ausi. Entah apa yang aku rasakan. Ragu. Cuma itu yang aku tau.
"Cel, nanti kalo aku jauh, kita Vcall ya. Jangan sombong"
Sherly memecahkan lamunanku
"iya Sher, baik-baik disana. Cepet pulang lagi ya"
Perasaan ku bercampur aduk bersamaan dengan Sherly yang menggenggam tanganku.
Ada yang salah denganku. Cuma itu yang aku tau.
"Sher, kita kebandara yuk! Nanti km terlambat"
Aku berdiri dan berjalan menuju mobil hasil pinjam papa ku.
Sesampainya di bandara keberangkatan international, kami berpelukan. Sherly mencium pipi kanan dan kiri ku. Aku tersenyum. Ia mengambil koper yang kupegang dengan erat. Ah, sampai lupa kalau itu kopernya. Ku lihat Sherly berjalan menjauhi ku, memasuki ruang berkaca. Ia melambaikan tangannya tanda berpisah. Aku menatapnya sampai ia benar-benar tidak bisa terlihat lagi. Aku masih di tempat yang sama walau ia tak terlihat lagi.
Sedih rasanya ditinggal teman baru yang kau anggap dekat. Pasti dengan waktu yang lama akan bertemu lagi dan melihat senyum manisnya langsung. Aku akan menunggunya, dan akan menjemputnya jika ia pulang. Aku tersenyum. Membalikan badan dan pulang kerumah.
***
Hari berlalu cepat sekali. Menurutku. Sudah 2 bulan setelah Sherly pulang dan aku menjalani hari-hari normalku seperti biasanya. Aku dan Sherly tetap berhubungan baik melalui aplikasi komunikasi, setiap kegiatannya Sherly akan mengabari ku. Aku juga begitu. Walau kadang menurutku tidak penting tapi Sherly bilang ia ingin tau apa kegiatanku.
Tapi udah seminggu ini aku tidak dapat kabar darinya. Kangen senyum manisnya. Kangen uraian rambut panjang, cokelat, dan ikal yang selalu ia mainkan dengan jarinya. Kangen ada Voicenote masuk yang bernada manja memanggil nama ku.
"Cel... Aaa... Cel... Cel... Aaa... Hahaha... "
Pasti di akhiri dengan tawa dan aku ikut tertawa.
Bangku kayu panjang dikantin belakang sekolah aku duduk meminum es teh manis dan indomie rebus ayam bawang pakai sedikit rawit. Tak seperti biasanya yang akan langsung habis dengan sekejab. Kali ini hanya ku aduk-aduk saja es tehnya. Indomienya juga masih rapih dengan sedikit merekah karena terlalu lama tak di makan.
Dari kejauhan Desi meneriaki namaku. Mungkin memanggil maksudnya. Tapi karna terlalu kencang jadi seperti meneriaki.
"Angela... Woy Angela... "
Aku hanya menengok dan mengerutkan dahi.
"Cel, itu indomie enak ga dimakan? Nanti makin kurus loh dan pasti abis ini gue kenyang"
Desi sudah tau pasti indomienya akan ku berikan ke dia, itu kebiasaanku kalau sedang gak mood.
"Makan de, pake nasi kalo kurang"
"Wah, mbak nasi ya 1"
Desi melambaikan tangan ke ibu kantin, seperti aji mumpung. Ya, begitulah sahabatku.
Desi makan dengan lahapnya. Sahabat paling dekat denganku diantara yang lain. Aku tak pernah menyimpan rahasia ke Desi. Begitupun dengan Desi. Menurutku. Desi berambut pendek dibawah teliga. Poni depannya agak panjang menutupi mata. Seperti band Vierra kami menyebutnya. Desi pun tomboy sama sepertiku. Selalu marah jika Aulia, Rubi atau yang lain mengoleskan bedak ke mukanya. Pasti berhasil buat kami tertawa. Desi punya sahabat dekat selain kami. Dwi namanya.
Dwi dan Desi akan selalu berdua kemanapun pergi. Sayangnya Dwi tidak satu sekolah dengan kami. Dwi teman SMP kami. Dulu mereka satu bangku. Memang kalau di lihat kedekatan mereka tidak lazim. Antara terlalu bersahabat dengan saling tidak mau pisah satu sama lain beda tipis.
Aku jadi teringat Sherly, yang aku tunggu-tunggu kabarnya seminggu ini. Seketika aku menyadari perlakuan Desi ke Dwi sama seperti Sherly ke aku. Aku jadi penasaran apa yang di rasakan Desi sama seperti aku juga.
"De, Lo tuh sedeket apa sih sama Dwi? "
"Huk... Huk... Huk... "
Sepertinya Desi tersedak.
Desi mengambil es teh manisku dan meminumnya.
"Cel, Lo kok tanya gitu? Sampe kaget gue"
"De, kok gue kangen Sherly ya? "
Desi menatapku, memelototi tepatnya.
"Bukan, bukan! Udah seminggu Sherly ilang De. Gue takut dia kenapa-kenapa. Apa dia sakit ya? "
Aku menunduk. Aku malu.
Desi menyelesaikan makannya dan memegang pundakku. Ya, ia pasti tau ada yang tak beres dengan aku.
"Cel, sebelum Lo cerita Lo kenapa, Gue akan jujur dulu sama Lo. Banyak hal yang Lo ga tau sebenernya dari Gue. Gue sebenernya malu ngomongnya. Tapi kyknya Lo harus tau"
Aku menatap Desi tanpa berkata apa-apa. Desi mulai dengan ceritanya.
"Cel, Gue sama Dwi bukan sekedar sahabat kayak Lo sama Gue. Gue ada rasa sama Dwi kayak rasa sayang ke orang spesial. Mungkin kayak rasa yang Lo rasain sekarang ke Sherly" Desi terlihat serius.
Deg. Rasanya jantungku di ikut permainan Histeria di dufan dan tertinggal di bawah walau permainannya sudah keatas.
"Cel, Gue sama Dwi emang gak pernah ngungkapin perasaan kita. Tapi Gue sama Dwi tau kalau kita sama-sama saling sayang. Gue juga gak tau apa Lo sama kayak gue atau cuma kekangenan aja sama temen deket Lo yang jauh "
Aku menangis mendengar Desi mengungkapkan jati dirinya di depan sahabatnya yang bodoh ga pernah tau tanda-tanda itu dari dulu. Aku hanya ingin sabahat ku tau apa yang aku rasakan sekarang, ternyata malah Desi yang lebih lama memendam perasaan itu.
"De, Gue udah pernah di peluk dan di cium sama Sherly. Gue ga bisa ngelak. Gue ga bisa marah. Gue jatuh cinta sama Sherly, De. Gue takut harus ngomong sama siapa karena Gue tau ini salah."
Desi menenangkan ku. Mengusap pundakku. Menguatkanku.
"Cel, Lo ga sendirian. Lo ga usah takut. Sahabat-sahabat Lo akan ada saat Lo seneng atau sedih kayak sekarang. Udah yuk kita pulang. Gak enak nangis ditempat rame. "
Desi membantuku berdiri. Membayarkan makannya dan mengantarkan aku pulang.
Sahabat-sahabatku sering sekali main kerumah ku yang tak terlalu besar. Hanya ada 3 kamar di rumah yang luasnya sekitar 150 m2. Cukup untuk Papa, mama, aku dan adik perempuan ku. Kami 4 bersaudara.
Abang tertuaku sudah menikah, memiliki 2 anak dan tinggal di daerah Jakarta selatan. Bekerja sebagai Manager salah satu band Indonesia.
Kakak ke 2 ku juga sudah menikah memiliki 1 anak, akan bercerai dengan suaminya yang jabatannya lebih rendah darinya dan tinggal di rumah orang tuaku di Bandung. Kakakku akan pindah bekerja di Thailand di perusahan obat disana.
Aku anak ke 3 yang sudah duduk di bangku SMA jurusan pariwisata di Jakarta.
Adik ku kelas 2 SMA di sekolah Negri dekat rumah.
Desi sudah masuk kamarku lebih dulu. Sedangkan aku mengambil minum dan beberapa cemilan. Sampai dikamar aku lihat Desi menyalakan TV. Aku membuka Laptop ku. Berharap ada email dari Sherly.
"Cel, udah cek sosmednya Sherly belum? "
Desi ternyata pintar juga. Tidak terlintas di pikiranku kalo kita bisa tau aktifitas orang lain dari sosmednya.
Karena aku tak berteman dengan Sherly di sosmed manapun. Aku mulai dengan Facebook. Facebooknya tidak banyak yang aku bisa lihat. Karna cuma beberapa foto yang tidak di kunci. Di timelinenya pun aku tidak bisa melihat karena tidak berteman denganya. Aku juga tidak mau pencet Add. Aku tidak mau ketahuan aku Kepo.
Tidak ada yang berarti aku temui. Aku buka Twitter dan mencari nama lengkapnya. Nah ketemu, aku buka profilnya. Terlihat fotonya dengan parasnya yang cantik menawan menurutku.
Aku lihat timelinenya. Ternyata dia baru update di tempat makan dengan seseorang. Mungkin temannya.
Aku lanjutkan ke bawah, ternyata Sherly banyak menulis caption dan memention ke orang itu. @audi_andra nama akun itu.
Aku buka akun itu dan aku temui foto mereka berdua sedang makan malam yang baru saja di posting. Sesak dadaku melihatnya. Tanganku gemetar. Desi langsung mengambil laptopku dan melihat yang lainnya. Ternyata mereka memang ada hubungan. Karena dengan jelas Sherly memanggil "Babe" ke akun itu. Hancur hatiku. Ini yang namanya jatuh cinta lalu patah hati?
Diubah oleh angela.aghastya 26-08-2017 19:16
0