- Beranda
- Stories from the Heart
Sloth Demoness [Fantasy]
...
TS
NodiX
Sloth Demoness [Fantasy]
![Sloth Demoness [Fantasy]](https://dl.kaskus.id/i.imgur.com/c5RfIVe.jpg)
Judul:Sloth Demoness
Author: NodiX
Genre: Fantasy, Drama
Frekuensi Update: Gak nentu. Minimal seminggu sekali.
Panjang Chapter: Sekitar 1000 kata per update
Quote:
SINOPSIS
Sebuah Sistem turun, memberikan kekuatan kepada yang terpilih untuk mengalahkan Demon King. Dan suatu hari ia memilih seorang gadis pribumi.
Gadis itu pun menjadi Sloth Demoness. Mendapatkan skill dengan potensi terkuat dan senjata arifact teragung di jagad raya. Hanya saja masalahnya... yang gadis itu tahu hanyalah pergi ke pasar membeli sayur dan beras, menyapu halaman, bermain dengan kelinci peliharaannya dan sesekali dihukum oleh Madamnya karena suka bermalas-malasan.
Takdir dunia ditentukan oleh pilihannya. Bisakah Sistem mengubah gadis polos ini menjadi Sloth Demoness yang sesungguhnya, mengalahkan Demon King dan membawa kedamaian pada dunia sekali lagi?
INDEX CHAPTER
CHAPTER 1 & 2 - Sistem
CHAPTER 3 - Emilda
CHAPTER 4 - Madam yang Galak
CATATAN:
Materi cover comot dari google. Jadi kemungkinan besar diganti nanti.
Diubah oleh NodiX 19-08-2017 06:06
anasabila memberi reputasi
1
4.6K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NodiX
#25
CHAPTER 4 - Madam yang Galak
Spoiler for BACA:
Saat Emilda pulang, ia tak tahu ada sebuah masalah di rumah Madam.
Sepeninggalan mendiang suaminya, Madam kini memiliki dua pembantu dan seorang penjaga di rumahnya selain Emilda. Bibi Kariah adalah pembantu senior yang sudah mengabdi semenjak Madam masih muda. Sedang yang muda tujuh tahun lalu datang menjadi pembantu karena keluarganya terlibat hutang.
Pembantu kedua berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh. Namanya Nining. Seorang wanita muda yang penurut dan giat bekerja.
Awalnya, Madam membantu hutang keluarganya dengan balasan Nining harus menjadi pembantu untuk Madam selama dua tahun. Tapi kontrak itu tembus menjadi tujuh tahun, itu karena Nining merasa upah yang diberikan Madam lebih baik ketimbang ia harus bekerja di tempat lain.
Sekarang, di ruang kerja Madam, dua wanita tengah duduk dengan sikap formal.
Satunya adalah wanita paruh baya yang ekspresinya kaku dan tegas, membuatnya terlihat lebih tua ketimbang usia sebenarnya, walau tak ada yang bisa menyangkal aura elegan dan anggunnya masih melekat sampai di usia empat puluh tahun lebihnya. Ia adalah Madam. Sedang yang kedua, seorang wanita muda yang merundukkan muka dengan gugup, adalah Nining.
“Kamu bilang dulu kamu ingin bekerja selama sepuluh tahun untukku supaya bisa menabung dan menikah dengan pacarmu itu. Sekarang masih baru tujuh tahun. Aku tau kalian mengincar petak sawah di desa sebelah. Tapi jangan kira hanya karena aku menyukai cara kerjamu tujuh tahun ini aku bakal berbaik hati membayar upah untuk tiga tahun sisanya.”
Yang berbicara dengan nada tajam, pedas, dan memerintah itu tentu saja Madam. Walaupun ia sudah menyiapkan hatinya, Nining masih tak berani melihat lurus ke wajah Madam sekarang.
Nining ingin mengatakan alasan yang ia siapkan sebelumnya. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Mengenal jelas karakter tegas Madam, Nining pun memutuskan untuk menutup mulutnya ketimbang salah berbicara karena saking gugupnya.
Melihat Nining yang diam saja Madam pun juga ikut diam sejenak. Ia meminum lagi gelas tehnya yang sudah dingin semenjak beberapa jam yang lalu.
“Jadi... apa pacarmu sudah dapat pekerjaan yang layak?” akhirnya Madam mulai meraba dengan pertanyaannya yang diucapkan dengan mata yang dipicingkan.
Nining menelan ludahnya sebelum menjawab. “Mas Karyo... pacarku... tiga hari lalu berhasil menjadi petarung kelas Swordsman...”
Mendengar jawaban ragu-ragu Nining tersebut, Madam langsung mendengus. “Usia awal tiga puluh tahun baru bisa jadi petarung, ck! Apa pacarmu berpikir dia bakal bisa dapat petak sawah setelah mengabdi di garis depan melawan pasukan Demon King selama enam bulan?”
Jelas ada nada mencibir dari ucapan Madam. Nining mengerti keputusan untuk menjadi prajurit di garis depan melawan pasukan iblis adalah hal yang tabu untuk rakyat jelata seperti mereka. Banyak orang tua yang sudah lelah makan garam semasa hidup mereka melarang habis-habisan anak cucu mereka untuk menjadi prajurit di garis depan. Tapi tetap saja kamp militer tak pernah kehabisan rombongan pemuda yang datang mendaftar. Karena katanya, hadiah setelah bertempur mempertahankan lini depan peradaban dari jajahan iblis sangatlah menggiurkan. Pada kesempatan ini, Nining dan kekasihnya mengincar hadiah beberapa petak sawah yang dihadiahkan pihak militer untuk prajurit yang sudah bertugas selama enam bulan.
Menunggu enam bulan atau tiga tahun? Nining dan kekasihnya sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, tapi mereka belum berani menikah karena kondisi finansial mereka belum matang untuk berkeluarga. Sekarang ketika datang kesempatan untuk bisa menikah dalam waktu enam bulan... Madam hanya bisa mendengus ketika melihat pasangan yang sudah gatal kimpoi ini.
“Levelberapa sekarang pacarmu sudah?”
“Mas Karyo sudah level 12, Madam,” Nining cepat-cepat menjawab.
“Level 12? Kamu bilang dia lulus jadi petarung kelas Swordsman kapan? Masih mending kalau dia level 10 sekarang. Rata-rata semua petarung kalau dapet kelas itu idealnya pas level 10. Kalau terlalu cepet, berarti fondasinya jelek. Kalau terlalu lambat, berarti talenta orangnya yang jelek.”
Nining hanya diam saja mendengar Madam mengomel. Kemudian wanita paruh baya itu melanjutkan.
“Ngeliat prospek pacarmu yang jelek itu, apa kamu pikir pacarmu bisa pulang membawa akta sawah enam bulan lagi? Jangan kaget kalau ternyata mayatnya saja yang pulang nanti!”
Nining masih diam. Bohong kalau ia bilang ia tak sakit hati mendengar omelan Madam. Tapi Madam adalah senior baginya. Ia datang dari kota besar ke desa kumuh ini dan Nining tahu pengalaman serta edukasi Madam jauh di atas rata-rata. Jadi ketika Madam berbicara, orang-orang desa biasanya menyimak apa yang ia ucapkan dan merenungkannya lagi selama tiga hari ke depan.
Tapi Nining sudah berjanji pada kekasihnya untuk ikut merantau. Karena pamannya si Mas Karyo punya kenalan pejabat tingkat bawah di militer, mereka diberi kesempatan untuk menempati sebuah rumah kecil dekat sawah yang terbengkalai sebelum mereka mendapatkan hadiah sawah enam bulan mendatang.
Nining mengepalkan tangannya, bertekad untuk meyakinkan Madam hari ini.
“Madam, Anda gak tau kalau Mas Karyo itu petarung macam apa. Pemburu desa sangat menghormati keberaniannya, dia bahkan pernah bertarung dengan pasukan iblis!” Nining menjelaskan dengan niat mendesak, tapi suaranya lemah dan kurang percaya diri. “Selain itu, Mas Karyo juga punya kenalan... dia berjanji setelah dia sudah dapat sawahnya Mas Karyo bakal pensiun untuk menggarap sawah kami!”
“Ck, bodohnya!” Madam hanya bisa berdecak lidah sambil menggeleng-gelengkan kepala, meminum tehnya untuk mendinginkan kepala karena ia mulai habis kesabaran berdiskusi dengan wanita muda yang mabuk kasmaran ini!
Sebenarnya tak ada yang bisa menyalahkan Madam bersikap pesimis seperti ini, terutama bila sedang berbicara tentang prajurit yang akan bertarung di garis depan.
Pasalnya, Madam tahu hadiah-hadiah yang menggiurkan itu hanyalah jebakan pemerintah kerajaan yang dibuat karena beberapa tahun lalu mereka kekurangan calon prajurit yang akan dilatih. Pemerintah militer selalu mengelu-elukan betapa terhormat dan elegannya prajurit yang gagah berani membela kerajaan dari invasi pasukan Demon King. Tapi bagi orang-orang bermata tajam dan berotak cendekiawan seperti Madam tahu kalau rakyat jelata hanya dijadikan umpan meriam dan tameng untuk bisnis-bisnis saudagar privat yang dekat dengan pejabat pemerintah. Hadiah-hadiah yang menggiurkan itu pun, seperti sawah dan properti lainnya, adalah tanah bekas terbengkalai yang ditinggalkan usai diserang oleh pasukan iblis. Bila banyak orang yang mulai menempati tanah yang ditinggalkan itu lagi, siapa yang akan tahu mereka bakal menjadi sasaran antek-antek Demon King lagi? Bila rakyat jelata mengetahui fakta yang berusaha ditutup-tutupi ini, maka tak ada yang mau mengabdi untuk kerajaan nantinya.
Madam bisa saja menjelaskan panjang lebar soal siasat dan permainan kotor pemerintah. Tapi sudah kebijakannya selama bertahun-tahun untuk tak berbicara banyak tentang korupsi. Mengingat pemerintah kerajaan adalah pelindung resmi para rakyat jelata, hal ini sangat sensitif dan tak baik bagi semua orang jika didiskusikan dengan kaum yang tak tahu apa-apa seperti Nining dan kekasihnya Mas Karyo.
Jadi, dengan ekspresi galak yang sudah menjadi ciri khasnya, Madam pun berkata, “aku gak peduli kamu mau menikah atau gak. Kalau kamu mau berhenti bekerja di sini, silahkan! Tapi gajimu tahun ini kupotong setengahnya karena aku gak suka melihat pasangan bodoh seperti kalian,” Madam diam sesaat untuk mendesahkan napas. “Tapi aku gak mau pembantu kompeten sepertimu berhenti. Jadi kalau kamu tetap mau tinggal tiga tahun lagi seperti rencanamu sejak awal, aku bisa menjual sawahku yang tanahnya subur dengan harga lebih murah ketimbang sawah-sawah di tempat lain.”
Nining merenung sesaat. Ia mengerti di sela-sela suara dingin dan galak Madam, majikannya peduli tentang masa depan pasangan tersebut.
Tapi sekali lagi, Nining dan kekasihnya sudah membuat janji. Apa boleh buat.
Malamnya, Emilda baru mendengar kabar itu dari Bibi Kariah. Dengan mata basah, si gadis bertanya dengan nada setengah merengek.
“Mbak Nining mau berhenti? Kok gitu...”
Emilda baru saja bahagia bisa membelikan adiknya jajan manisan malam ini dari uang yang diberikan Meri. Dan ketika mendengar kabar Nining yang akan berhenti, ia tak bisa menahan rasa sedihnya, sampai menangis semalaman sambil merengek-rengek di depan Nining yang mulai membereskan barang-barangnya malam itu.
***
Sepeninggalan mendiang suaminya, Madam kini memiliki dua pembantu dan seorang penjaga di rumahnya selain Emilda. Bibi Kariah adalah pembantu senior yang sudah mengabdi semenjak Madam masih muda. Sedang yang muda tujuh tahun lalu datang menjadi pembantu karena keluarganya terlibat hutang.
Pembantu kedua berusia dua puluh enam atau dua puluh tujuh. Namanya Nining. Seorang wanita muda yang penurut dan giat bekerja.
Awalnya, Madam membantu hutang keluarganya dengan balasan Nining harus menjadi pembantu untuk Madam selama dua tahun. Tapi kontrak itu tembus menjadi tujuh tahun, itu karena Nining merasa upah yang diberikan Madam lebih baik ketimbang ia harus bekerja di tempat lain.
Sekarang, di ruang kerja Madam, dua wanita tengah duduk dengan sikap formal.
Satunya adalah wanita paruh baya yang ekspresinya kaku dan tegas, membuatnya terlihat lebih tua ketimbang usia sebenarnya, walau tak ada yang bisa menyangkal aura elegan dan anggunnya masih melekat sampai di usia empat puluh tahun lebihnya. Ia adalah Madam. Sedang yang kedua, seorang wanita muda yang merundukkan muka dengan gugup, adalah Nining.
“Kamu bilang dulu kamu ingin bekerja selama sepuluh tahun untukku supaya bisa menabung dan menikah dengan pacarmu itu. Sekarang masih baru tujuh tahun. Aku tau kalian mengincar petak sawah di desa sebelah. Tapi jangan kira hanya karena aku menyukai cara kerjamu tujuh tahun ini aku bakal berbaik hati membayar upah untuk tiga tahun sisanya.”
Yang berbicara dengan nada tajam, pedas, dan memerintah itu tentu saja Madam. Walaupun ia sudah menyiapkan hatinya, Nining masih tak berani melihat lurus ke wajah Madam sekarang.
Nining ingin mengatakan alasan yang ia siapkan sebelumnya. Tapi suaranya tertahan di tenggorokan. Mengenal jelas karakter tegas Madam, Nining pun memutuskan untuk menutup mulutnya ketimbang salah berbicara karena saking gugupnya.
Melihat Nining yang diam saja Madam pun juga ikut diam sejenak. Ia meminum lagi gelas tehnya yang sudah dingin semenjak beberapa jam yang lalu.
“Jadi... apa pacarmu sudah dapat pekerjaan yang layak?” akhirnya Madam mulai meraba dengan pertanyaannya yang diucapkan dengan mata yang dipicingkan.
Nining menelan ludahnya sebelum menjawab. “Mas Karyo... pacarku... tiga hari lalu berhasil menjadi petarung kelas Swordsman...”
Mendengar jawaban ragu-ragu Nining tersebut, Madam langsung mendengus. “Usia awal tiga puluh tahun baru bisa jadi petarung, ck! Apa pacarmu berpikir dia bakal bisa dapat petak sawah setelah mengabdi di garis depan melawan pasukan Demon King selama enam bulan?”
Jelas ada nada mencibir dari ucapan Madam. Nining mengerti keputusan untuk menjadi prajurit di garis depan melawan pasukan iblis adalah hal yang tabu untuk rakyat jelata seperti mereka. Banyak orang tua yang sudah lelah makan garam semasa hidup mereka melarang habis-habisan anak cucu mereka untuk menjadi prajurit di garis depan. Tapi tetap saja kamp militer tak pernah kehabisan rombongan pemuda yang datang mendaftar. Karena katanya, hadiah setelah bertempur mempertahankan lini depan peradaban dari jajahan iblis sangatlah menggiurkan. Pada kesempatan ini, Nining dan kekasihnya mengincar hadiah beberapa petak sawah yang dihadiahkan pihak militer untuk prajurit yang sudah bertugas selama enam bulan.
Menunggu enam bulan atau tiga tahun? Nining dan kekasihnya sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, tapi mereka belum berani menikah karena kondisi finansial mereka belum matang untuk berkeluarga. Sekarang ketika datang kesempatan untuk bisa menikah dalam waktu enam bulan... Madam hanya bisa mendengus ketika melihat pasangan yang sudah gatal kimpoi ini.
“Levelberapa sekarang pacarmu sudah?”
“Mas Karyo sudah level 12, Madam,” Nining cepat-cepat menjawab.
“Level 12? Kamu bilang dia lulus jadi petarung kelas Swordsman kapan? Masih mending kalau dia level 10 sekarang. Rata-rata semua petarung kalau dapet kelas itu idealnya pas level 10. Kalau terlalu cepet, berarti fondasinya jelek. Kalau terlalu lambat, berarti talenta orangnya yang jelek.”
Nining hanya diam saja mendengar Madam mengomel. Kemudian wanita paruh baya itu melanjutkan.
“Ngeliat prospek pacarmu yang jelek itu, apa kamu pikir pacarmu bisa pulang membawa akta sawah enam bulan lagi? Jangan kaget kalau ternyata mayatnya saja yang pulang nanti!”
Nining masih diam. Bohong kalau ia bilang ia tak sakit hati mendengar omelan Madam. Tapi Madam adalah senior baginya. Ia datang dari kota besar ke desa kumuh ini dan Nining tahu pengalaman serta edukasi Madam jauh di atas rata-rata. Jadi ketika Madam berbicara, orang-orang desa biasanya menyimak apa yang ia ucapkan dan merenungkannya lagi selama tiga hari ke depan.
Tapi Nining sudah berjanji pada kekasihnya untuk ikut merantau. Karena pamannya si Mas Karyo punya kenalan pejabat tingkat bawah di militer, mereka diberi kesempatan untuk menempati sebuah rumah kecil dekat sawah yang terbengkalai sebelum mereka mendapatkan hadiah sawah enam bulan mendatang.
Nining mengepalkan tangannya, bertekad untuk meyakinkan Madam hari ini.
“Madam, Anda gak tau kalau Mas Karyo itu petarung macam apa. Pemburu desa sangat menghormati keberaniannya, dia bahkan pernah bertarung dengan pasukan iblis!” Nining menjelaskan dengan niat mendesak, tapi suaranya lemah dan kurang percaya diri. “Selain itu, Mas Karyo juga punya kenalan... dia berjanji setelah dia sudah dapat sawahnya Mas Karyo bakal pensiun untuk menggarap sawah kami!”
“Ck, bodohnya!” Madam hanya bisa berdecak lidah sambil menggeleng-gelengkan kepala, meminum tehnya untuk mendinginkan kepala karena ia mulai habis kesabaran berdiskusi dengan wanita muda yang mabuk kasmaran ini!
Sebenarnya tak ada yang bisa menyalahkan Madam bersikap pesimis seperti ini, terutama bila sedang berbicara tentang prajurit yang akan bertarung di garis depan.
Pasalnya, Madam tahu hadiah-hadiah yang menggiurkan itu hanyalah jebakan pemerintah kerajaan yang dibuat karena beberapa tahun lalu mereka kekurangan calon prajurit yang akan dilatih. Pemerintah militer selalu mengelu-elukan betapa terhormat dan elegannya prajurit yang gagah berani membela kerajaan dari invasi pasukan Demon King. Tapi bagi orang-orang bermata tajam dan berotak cendekiawan seperti Madam tahu kalau rakyat jelata hanya dijadikan umpan meriam dan tameng untuk bisnis-bisnis saudagar privat yang dekat dengan pejabat pemerintah. Hadiah-hadiah yang menggiurkan itu pun, seperti sawah dan properti lainnya, adalah tanah bekas terbengkalai yang ditinggalkan usai diserang oleh pasukan iblis. Bila banyak orang yang mulai menempati tanah yang ditinggalkan itu lagi, siapa yang akan tahu mereka bakal menjadi sasaran antek-antek Demon King lagi? Bila rakyat jelata mengetahui fakta yang berusaha ditutup-tutupi ini, maka tak ada yang mau mengabdi untuk kerajaan nantinya.
Madam bisa saja menjelaskan panjang lebar soal siasat dan permainan kotor pemerintah. Tapi sudah kebijakannya selama bertahun-tahun untuk tak berbicara banyak tentang korupsi. Mengingat pemerintah kerajaan adalah pelindung resmi para rakyat jelata, hal ini sangat sensitif dan tak baik bagi semua orang jika didiskusikan dengan kaum yang tak tahu apa-apa seperti Nining dan kekasihnya Mas Karyo.
Jadi, dengan ekspresi galak yang sudah menjadi ciri khasnya, Madam pun berkata, “aku gak peduli kamu mau menikah atau gak. Kalau kamu mau berhenti bekerja di sini, silahkan! Tapi gajimu tahun ini kupotong setengahnya karena aku gak suka melihat pasangan bodoh seperti kalian,” Madam diam sesaat untuk mendesahkan napas. “Tapi aku gak mau pembantu kompeten sepertimu berhenti. Jadi kalau kamu tetap mau tinggal tiga tahun lagi seperti rencanamu sejak awal, aku bisa menjual sawahku yang tanahnya subur dengan harga lebih murah ketimbang sawah-sawah di tempat lain.”
Nining merenung sesaat. Ia mengerti di sela-sela suara dingin dan galak Madam, majikannya peduli tentang masa depan pasangan tersebut.
Tapi sekali lagi, Nining dan kekasihnya sudah membuat janji. Apa boleh buat.
Malamnya, Emilda baru mendengar kabar itu dari Bibi Kariah. Dengan mata basah, si gadis bertanya dengan nada setengah merengek.
“Mbak Nining mau berhenti? Kok gitu...”
Emilda baru saja bahagia bisa membelikan adiknya jajan manisan malam ini dari uang yang diberikan Meri. Dan ketika mendengar kabar Nining yang akan berhenti, ia tak bisa menahan rasa sedihnya, sampai menangis semalaman sambil merengek-rengek di depan Nining yang mulai membereskan barang-barangnya malam itu.
***
0
Kutip
Balas