- Beranda
- Stories from the Heart
Sloth Demoness [Fantasy]
...
TS
NodiX
Sloth Demoness [Fantasy]
![Sloth Demoness [Fantasy]](https://dl.kaskus.id/i.imgur.com/c5RfIVe.jpg)
Judul:Sloth Demoness
Author: NodiX
Genre: Fantasy, Drama
Frekuensi Update: Gak nentu. Minimal seminggu sekali.
Panjang Chapter: Sekitar 1000 kata per update
Quote:
SINOPSIS
Sebuah Sistem turun, memberikan kekuatan kepada yang terpilih untuk mengalahkan Demon King. Dan suatu hari ia memilih seorang gadis pribumi.
Gadis itu pun menjadi Sloth Demoness. Mendapatkan skill dengan potensi terkuat dan senjata arifact teragung di jagad raya. Hanya saja masalahnya... yang gadis itu tahu hanyalah pergi ke pasar membeli sayur dan beras, menyapu halaman, bermain dengan kelinci peliharaannya dan sesekali dihukum oleh Madamnya karena suka bermalas-malasan.
Takdir dunia ditentukan oleh pilihannya. Bisakah Sistem mengubah gadis polos ini menjadi Sloth Demoness yang sesungguhnya, mengalahkan Demon King dan membawa kedamaian pada dunia sekali lagi?
INDEX CHAPTER
CHAPTER 1 & 2 - Sistem
CHAPTER 3 - Emilda
CHAPTER 4 - Madam yang Galak
CATATAN:
Materi cover comot dari google. Jadi kemungkinan besar diganti nanti.
Diubah oleh NodiX 19-08-2017 06:06
anasabila memberi reputasi
1
4.5K
Kutip
25
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
NodiX
#24
CHAPTER 3 - Emilda
Spoiler for BACA:
Namanya Emilda.
Saat ia berjalan di tengah keramaian desa, gadis periang itu selalu memasang wajah senyum sebagai balas sapa warga desa.
Bisa dibilang, karena pribadinya yang jinak dan manis, serta parasnya yang juga cantik, orang-orang senang menyapa dan berinteraksi dengannya.
Tak heran bila di desa tempatnya tinggal ia cukup populer. Terutama di kalangan anak-anak muda. Bulan lalu, Emilda ulang tahun ke lima belas. Tiga pemuda desa mencoba untuk menyatakan perasaan padanya tapi Madam langsung mengusir mereka saat itu.
Madam adalah majikan Emilda. Seorang janda tegas dan galak, tapi Emilda selalu patuh dan hormat padanya mengingat dalam hati ia menganggap Madam sebagai ibu angkatnya semenjak kecil. Karena keberadaan Madam, para pemuda yang jatuh hati pada gadis tersebut tak pernah sempat menyampaikan maksud hati mereka. Bahkan ketika bertemu dengannya di jalan pun, tak ada yang berani mendekatinya karena takut amarah Madam di kemudian hari.
Walaupun begitu, Emilda menghabiskan waktunya di desa dengan tenang dan bahagia sebagai gadis pelayan di sebuah rumah besar yang ditinggal seorang saudagar yang sudah mati.
Saat Emilda bertemu dengan seorang pria suruhan desa, barulah ia mengatakan tentang mayat yang ia temukan tadi.
Awalnya Emilda masih berbicara dengan lidah asing yang tak dimengerti oleh penghuni dunia lain seperti Jeremy dan Harri. Tapi kali ini, Sistem otomatis menyesuaikan bahasa.
“Oh, Emilda. Kamu bilang tadi kamu mindahin mayat itu? Hmm? Apa cewek sepertimu gak takut orang mati?”
“Om Rajel bilang gitu, Emilda juga ngerasa kayak ada yang aneh gitu...”
Emilda tak lupa berbicara tentang suara aneh yang terdengar di kepalanya. Hal yang ia kira kutukan, ternyata adalah suara bising Sistem berbunyi.
“Kalau memang mayat yang kamu sentuh ada kutukannya, coba nanti kamu kunjungi Mama Loria.”
Suruhan desa yang Emilda sebut Om Rajel itu tulus memberi saran. Pasalnya, orang-orang desa sangat takut tentang kutukan. Kebetulan Mama Loria, yang tinggal di pinggiran desa, adalah orang sakti. Banyak orang menganggapnya sebagai guru spiritual dan sangat dihormati.
Emilda mengangguk ketika Om Rajel menyarankan mengunjunginya.
***
Sebuah kereta kuda yang elok berwarna gelap tiba di desa.
Orang-orang desa bisa menebak status pendatang dari cara ia muncul. Jika mereka berjalan kaki, tak ada yang bakal peduli. Jika mereka datang dengan kereta kuda biasa, seseorang akan menyambut mereka. Tapi bila kereta kudanya memiliki atap, tersusun rapi, dan bercorak-corak elok, semua orang langsung tahu yang datang bukanlah orang biasa.
Benar saja. Kali ini seorang pejabat kota datang untuk membicarakan perubahan kebijakan pajak dengan kepala desa. Banyak orang yang penasaran mengerumuni pinggiran jalan utama desa untuk bisa melihat kereta kuda mewah tersebut. Emilda salah satunya.
Seorang bawahan kepala desa yang memiliki wajah biasa dan senyum merendah, datang untuk membuka pintu. Seorang pria gemuk dan berwajah arogan pun turun. Langsung saja kereta kuda itu terangkat ketika beban terberatnya sudah tak ada lagi.
Walaupun pria gemuk itu melihat warga-warga desa dengan sorotan mata jijik dan menghina, tak ada yang merasa sakit hati. Semuanya membalas tatapan angkuh itu dengan bola mata berbinar-binar penuh hormat dan harap-harap. Beberapa anak kecil yang tak dijaga oleh orang tuanya bahkan melangkah maju sambil menengadahkan telapak tangannya ke arah pria gemuk tersebut, meminta uang sedekah, sebelum cepat-cepat diusir oleh bawahan kepala desa itu.
“Mohon maaf, Tuan Pejabat. Tamu yang sebelumnya terlalu baik hati dan selalu membagikan uang receh setiap kali dia datang. Karena itu banyak yang jadi lupa diri seperti tadi,” kata bawahan itu cepat-cepat beralasan.
“Hmph! Asal jangan baju baruku dikotori oleh orang-orang yang belum mandi saja!” pejabat gemuk itu mendengus kemudian menyuruh bawahan kepala desa menunjuk jalan. Tiga orang berperawakan besar dan berseragam prajurit kerajaan tingkat rendah mengikuti dari belakang sebagai pengawal.
Emilda takjub ketika melihat tiga pria berseragam prajurit tersebut. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya sejak dulu pergi sebagai prajurit untuk menahan pasukan Demon King menjajah peradaban manusia.
Karena itu sudah mimpinya sejak dulu Emilda ingin menikah dengan seorang prajurit gagah berani, kemudian membuat keluarga kecil seperti ayah dan ibunya.
“Emilda, Emilda!!”
Seseorang menarik bajunya dari belakang. Sontak saja Emilda menoleh.
“Kak Meri?” Emilda mengedip-ngedipkan matanya melihat gadis cantik yang melihat ke arahnya dengan wajah panik.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku baru pulang beli sayur.”
“Cepat kamu pulang sebelum penjabat itu melihatmu!” seru Meri dengan suara rendah.
Emilda memiringkan wajahnya tak mengerti. “Kok gitu?”
“Cepat pulang! Cewek cantik sepertimu lebih baik jangan keluar rumah dulu sekarang!”
Meri tak ingin berdebat dengan Emilda di situ. Ia langsung menarik gadis itu dari kerumunan dan berjalan ke arah rumah Madam.
“Kenapa aku gak boleh keluar rumah?” tanya Emilda.
“Mending kamu tanya Madammu saja. Pokoknya, parasmu semakin lama semakin cantik. Kalau gak hati-hati bisa bahaya,” kata Meri setengah menjelaskan.
“Tapi kalau masalah cantik-cantikkan, Emilda masih kalah jauh dari Kakak Meri kok!”
Meri tak tersenyum ketika Emilda menggodainya seperti itu. Tapi memang benar ia lebih cantik ketimbang Emilda. Tiga tahun sudah ia dijuluki sebagai kembang desa oleh orang-orang. Usianya sekarang sudah sembilan belas tahun. Gadis seusianya biasanya sudah dilepaskan ke keluarga lain sebagai mempelai wanita. Tapi Meri masih sendirian sekarang. Bukan karena laki-laki tak pernah masuk dalam standarnya. Memang semenjak awal orang tua Meri punya rencana untuk anak gadisnya.
Saat melewati toko manisan, Meri memberikan beberapa koin perunggu kepada Emilda untuk jajan adik-adiknya.
Adik-adik Emilda yang dimaksud bukanlah adik kandung. Melainkan anak-anak yang senasib dengan Emilda. Mereka yang ibunya sudah tak ada dan ayahnya tak pernah kembali dari medan perang, yang kini diasuh dan dibesarkan oleh Madam.
Meri memberi peringatan kepada Emilda lagi sebelum mereka berpisah.
Sambil membawa manisan untuk diberikan adik-adiknya Emilda melompat-lompat dan bernyanyi riang. Semua orang sudah terbiasa dengan sikap cerianya. Sesekali ia melambai kepada paman dan bibi yang akrab dan ramah.
Saat ia pulang, Bibi Kariah, pembantu yang sudah tiga puluh tahun bekerja untuk Madam, menyambut Emilda pulang dengan penuh senyum.
“Bibi, bibi, tadi aku melihat orang mati!” kata Emilda melapor.
“Apa kamu macam-macam dengan orang mati? Awas kamu nanti kena kutukan!” Bibi Kariah memperingati dengan tegas, walau sikap lembutnya kepada Emilda dan adik-adiknya membuat ketegasan wanita lima puluhan itu nampak jinak sekali.
“Om Rajel bilang nanti aku harus mengunjungi Mama Loria.”
“Mn,” Bibi Kariah mengangguk. “Kena atau gak mending kamu pergi ke rumahnya Mama Loria. Nanti Bibi bantu bawakan sayur dan lauk juga sebagai ucapan terima kasih.”
***
Saat ia berjalan di tengah keramaian desa, gadis periang itu selalu memasang wajah senyum sebagai balas sapa warga desa.
Bisa dibilang, karena pribadinya yang jinak dan manis, serta parasnya yang juga cantik, orang-orang senang menyapa dan berinteraksi dengannya.
Tak heran bila di desa tempatnya tinggal ia cukup populer. Terutama di kalangan anak-anak muda. Bulan lalu, Emilda ulang tahun ke lima belas. Tiga pemuda desa mencoba untuk menyatakan perasaan padanya tapi Madam langsung mengusir mereka saat itu.
Madam adalah majikan Emilda. Seorang janda tegas dan galak, tapi Emilda selalu patuh dan hormat padanya mengingat dalam hati ia menganggap Madam sebagai ibu angkatnya semenjak kecil. Karena keberadaan Madam, para pemuda yang jatuh hati pada gadis tersebut tak pernah sempat menyampaikan maksud hati mereka. Bahkan ketika bertemu dengannya di jalan pun, tak ada yang berani mendekatinya karena takut amarah Madam di kemudian hari.
Walaupun begitu, Emilda menghabiskan waktunya di desa dengan tenang dan bahagia sebagai gadis pelayan di sebuah rumah besar yang ditinggal seorang saudagar yang sudah mati.
Saat Emilda bertemu dengan seorang pria suruhan desa, barulah ia mengatakan tentang mayat yang ia temukan tadi.
Awalnya Emilda masih berbicara dengan lidah asing yang tak dimengerti oleh penghuni dunia lain seperti Jeremy dan Harri. Tapi kali ini, Sistem otomatis menyesuaikan bahasa.
“Oh, Emilda. Kamu bilang tadi kamu mindahin mayat itu? Hmm? Apa cewek sepertimu gak takut orang mati?”
“Om Rajel bilang gitu, Emilda juga ngerasa kayak ada yang aneh gitu...”
Emilda tak lupa berbicara tentang suara aneh yang terdengar di kepalanya. Hal yang ia kira kutukan, ternyata adalah suara bising Sistem berbunyi.
“Kalau memang mayat yang kamu sentuh ada kutukannya, coba nanti kamu kunjungi Mama Loria.”
Suruhan desa yang Emilda sebut Om Rajel itu tulus memberi saran. Pasalnya, orang-orang desa sangat takut tentang kutukan. Kebetulan Mama Loria, yang tinggal di pinggiran desa, adalah orang sakti. Banyak orang menganggapnya sebagai guru spiritual dan sangat dihormati.
Emilda mengangguk ketika Om Rajel menyarankan mengunjunginya.
***
Sebuah kereta kuda yang elok berwarna gelap tiba di desa.
Orang-orang desa bisa menebak status pendatang dari cara ia muncul. Jika mereka berjalan kaki, tak ada yang bakal peduli. Jika mereka datang dengan kereta kuda biasa, seseorang akan menyambut mereka. Tapi bila kereta kudanya memiliki atap, tersusun rapi, dan bercorak-corak elok, semua orang langsung tahu yang datang bukanlah orang biasa.
Benar saja. Kali ini seorang pejabat kota datang untuk membicarakan perubahan kebijakan pajak dengan kepala desa. Banyak orang yang penasaran mengerumuni pinggiran jalan utama desa untuk bisa melihat kereta kuda mewah tersebut. Emilda salah satunya.
Seorang bawahan kepala desa yang memiliki wajah biasa dan senyum merendah, datang untuk membuka pintu. Seorang pria gemuk dan berwajah arogan pun turun. Langsung saja kereta kuda itu terangkat ketika beban terberatnya sudah tak ada lagi.
Walaupun pria gemuk itu melihat warga-warga desa dengan sorotan mata jijik dan menghina, tak ada yang merasa sakit hati. Semuanya membalas tatapan angkuh itu dengan bola mata berbinar-binar penuh hormat dan harap-harap. Beberapa anak kecil yang tak dijaga oleh orang tuanya bahkan melangkah maju sambil menengadahkan telapak tangannya ke arah pria gemuk tersebut, meminta uang sedekah, sebelum cepat-cepat diusir oleh bawahan kepala desa itu.
“Mohon maaf, Tuan Pejabat. Tamu yang sebelumnya terlalu baik hati dan selalu membagikan uang receh setiap kali dia datang. Karena itu banyak yang jadi lupa diri seperti tadi,” kata bawahan itu cepat-cepat beralasan.
“Hmph! Asal jangan baju baruku dikotori oleh orang-orang yang belum mandi saja!” pejabat gemuk itu mendengus kemudian menyuruh bawahan kepala desa menunjuk jalan. Tiga orang berperawakan besar dan berseragam prajurit kerajaan tingkat rendah mengikuti dari belakang sebagai pengawal.
Emilda takjub ketika melihat tiga pria berseragam prajurit tersebut. Ibunya sudah meninggal dan ayahnya sejak dulu pergi sebagai prajurit untuk menahan pasukan Demon King menjajah peradaban manusia.
Karena itu sudah mimpinya sejak dulu Emilda ingin menikah dengan seorang prajurit gagah berani, kemudian membuat keluarga kecil seperti ayah dan ibunya.
“Emilda, Emilda!!”
Seseorang menarik bajunya dari belakang. Sontak saja Emilda menoleh.
“Kak Meri?” Emilda mengedip-ngedipkan matanya melihat gadis cantik yang melihat ke arahnya dengan wajah panik.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Aku baru pulang beli sayur.”
“Cepat kamu pulang sebelum penjabat itu melihatmu!” seru Meri dengan suara rendah.
Emilda memiringkan wajahnya tak mengerti. “Kok gitu?”
“Cepat pulang! Cewek cantik sepertimu lebih baik jangan keluar rumah dulu sekarang!”
Meri tak ingin berdebat dengan Emilda di situ. Ia langsung menarik gadis itu dari kerumunan dan berjalan ke arah rumah Madam.
“Kenapa aku gak boleh keluar rumah?” tanya Emilda.
“Mending kamu tanya Madammu saja. Pokoknya, parasmu semakin lama semakin cantik. Kalau gak hati-hati bisa bahaya,” kata Meri setengah menjelaskan.
“Tapi kalau masalah cantik-cantikkan, Emilda masih kalah jauh dari Kakak Meri kok!”
Meri tak tersenyum ketika Emilda menggodainya seperti itu. Tapi memang benar ia lebih cantik ketimbang Emilda. Tiga tahun sudah ia dijuluki sebagai kembang desa oleh orang-orang. Usianya sekarang sudah sembilan belas tahun. Gadis seusianya biasanya sudah dilepaskan ke keluarga lain sebagai mempelai wanita. Tapi Meri masih sendirian sekarang. Bukan karena laki-laki tak pernah masuk dalam standarnya. Memang semenjak awal orang tua Meri punya rencana untuk anak gadisnya.
Saat melewati toko manisan, Meri memberikan beberapa koin perunggu kepada Emilda untuk jajan adik-adiknya.
Adik-adik Emilda yang dimaksud bukanlah adik kandung. Melainkan anak-anak yang senasib dengan Emilda. Mereka yang ibunya sudah tak ada dan ayahnya tak pernah kembali dari medan perang, yang kini diasuh dan dibesarkan oleh Madam.
Meri memberi peringatan kepada Emilda lagi sebelum mereka berpisah.
Sambil membawa manisan untuk diberikan adik-adiknya Emilda melompat-lompat dan bernyanyi riang. Semua orang sudah terbiasa dengan sikap cerianya. Sesekali ia melambai kepada paman dan bibi yang akrab dan ramah.
Saat ia pulang, Bibi Kariah, pembantu yang sudah tiga puluh tahun bekerja untuk Madam, menyambut Emilda pulang dengan penuh senyum.
“Bibi, bibi, tadi aku melihat orang mati!” kata Emilda melapor.
“Apa kamu macam-macam dengan orang mati? Awas kamu nanti kena kutukan!” Bibi Kariah memperingati dengan tegas, walau sikap lembutnya kepada Emilda dan adik-adiknya membuat ketegasan wanita lima puluhan itu nampak jinak sekali.
“Om Rajel bilang nanti aku harus mengunjungi Mama Loria.”
“Mn,” Bibi Kariah mengangguk. “Kena atau gak mending kamu pergi ke rumahnya Mama Loria. Nanti Bibi bantu bawakan sayur dan lauk juga sebagai ucapan terima kasih.”
***
Diubah oleh NodiX 19-08-2017 06:03
0
Kutip
Balas