Kaskus

Story

hrdntyAvatar border
TS
hrdnty
( Horror Story) Cerita tentang mereka yang sebenarnya ada namun tak terlihat
Salam hangat untuk para warga kaskus emoticon-Haiemoticon-Hai

Sebagai salah satu penghuni kaskus yang eksistensinya jarang tercium (?) , ane pengen menceritakan salah satu kisah yang tak biasa, jika ada yang bertanya apakah ini fiksi atau bukan , silahkan berimajinasi semampu agan sekalian . Jika memang dirasa tidak masuk akal maka silahkan anggap bahwa cerita ini hanya karangan semata dari seseorang yang baru belajar menulis.
Mohon maaf jika bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan kehendak agan sekalian , karna harus ane akui , menulis dan merangkai kata itu bahkan lebih sulit dari menceritakannya kembali secara lisan.emoticon-Hammer2


Quote:






Diubah oleh hrdnty 05-09-2017 11:30
joewanAvatar border
joewan memberi reputasi
1
74.4K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hrdntyAvatar border
TS
hrdnty
#77
PART 10 : PERMINTAAN YANG MUSTAHIL

Aku menarik tangan Prio cepat , tepat sebelum dia menuju parkiran motor dan bergegas untuk pulang.
“Dimohon untuk Tuan Prio yang terhormat , saya minta waktunya sebentar bisa?” jelas itu bukan lah sebuah permohonan , melainkan lebih kepada sebuah paksaan , karna aku tak akan membiarkannya melangkah sedikitpun sampai pada akhirnya dia mengiyakan ajakanku tersebut.

Dan itulah awalnya mengapa saat ini kami bisa duduk berdua di tempat ini , di sebuah rumah makan yang ada di dekat kantor.
Sebelum aku mulai berbicara , Prio sudah paham betul bahwa aku akan memberondongnya dengan berbagai pertanyaan , jadi sebelum aku mulai bertanya , dia pun membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kalau kamu tanya tentang apa yang aku tau tentang kejadian di kantor , aku akan jelaskan , tapi tidak semuanya , karna ada bagian dimana aku punya hak untuk tidak memberitahunya pada siapapun”
Aku hampir tak percaya seseorang seperti Prio yang terkenal juara dengan mulut ‘ember’ nya itu bisa berkata seperti itu , ku pikir aku akan tau semuanya , namun nyatanya ‘keserakahanku’ itu tidak dapat terpenuhi untuk saat ini.

“Jadi katakanlah , hari dimana aku jatuh pingsan , ‘dia’ itu siapa?”
Prio menyeruput minumannya , mungkin tak sebentar karna saat itu dia menghabiskannya hingga bunyi sedotan beradu dengan tetes terakhir di gelasnya.
“Dia adalah penghuni terdahulu , mungkin saat kantor itu masih berupa bangunan yang berbeda , aku tak tau persis , tapi yang pasti ‘mereka’ senang menggangguku bahkan menjelma menjadi aku karna aku yang tak bisa memenuhi permintaan mereka ..”
Aku mengedarkan pandanganku , dan memastikan tidak ada yang mendengarkan pembicaraan kami yang mungkin terdengar tak masuk akal oleh orang lain.
“Jadi permintaan apakah….?”
Prio menjawab dengan cepat bahkan sebelum aku menyelesaikan perkataanku.
“Mengusir sesuatu yang sebangsa dengan mereka..”

Pukul 21.00 WITA

Aku menatap layar laptopku dan mencari beberapa informasi penting yang mungkin bisa kudapatkan untuk membentuk sebuah opini yang masuk akal atas kejadian yang terjadi akhir-akhir ini , tapi seperti yang kuduga sebelumnya , hasilnya nihil.

Sampai akhirnya aku pun mengalihkan pandanganku dari layar dan mulai menyadari bahwa inilah batasanku. Aku tak perlu tau lebih , cukup anggap apa yang telah terjadi dengan biasa saja , sampai akhirnya aku pun terbiasa atas semuanya. Ya memang itu awal rencananya , tapi kehendak itu kembali tergoyahkan sampai pada saat aku memutar ingatanku tentang apa yang Prio utarakan padaku beberapa jam yang lalu.

“Jadi aku harus terkejut atau bagaimana ? tolong berikan instruksi , karna jujur untuk saat ini aku sudah kehabisan kata-kata …”
Prio tak menjawab pertanyaanku , karna memang tak ada jawaban yang berarti untuk itu.
Dia hanya mengatakan bahwa dia memaklumi atas semua ketidakpercayaanku mengenai semua pengakuannya , bahkan jika aku bersumpah mati untuk tidak akan pernah percaya tentang hal itu , tapi kenyataannya akan tetap seperti itu dan tidak akan berubah.

Aku menghela nafas panjang.

“Jadi kamu yang manusia ini” tunjukku padanya “Diminta untuk mengusir sebangsa makhluk astral seperti itu , memangnya kamu bisa ? Ahh .. aku lupa kalau kamu bilang tak bisa , tapi kenapa harus minta tolong ke kamu? “ Sebuah pertanyaan atas sesuatu yang masih belum bisa kumengerti.
“Ya , karna sesuatu yang mereka takuti itu adalah ‘sesuatu’ yang sangat dekat bahkan berkaitan denganku, tapi mereka tak mau tahu bahkan saat kukatakan aku memiliki ketakutan yang sama seperti mereka..”

Tidakkah mereka makhluk yang egois , pikirku saat itu. Arogansi memang benar tidak mengenal alam dan dimensi.

“Jadi waktu dimana kamu jatuh dari tangga , itu juga ulah ‘mereka’ ?”
“Ya …” Prio menjawabnya tanpa ragu.
“Jadi kalau aku tarik kesimpulan , Prio yang kulihat berbeda saat itu adalah mereka juga?”
Dia membenarkan perkataanku dengan sebuah angggukan.
“Aku hanya punya dua ingatan “ Dia mengacungkan dua jarinya di depanku.
“Yang pertama saat pagi aku membuka pintu depan kantor, dan yang kedua adalah saat aku terbangun dirumah sakit. Jika kau tanya sisanya , maka tanyakanlah pada ‘mereka’ ..” lanjutnya lagi.

Aku menatapnya cukup lama , sampai pada pertanyaan selanjutnya.

“Apa kamu tidak bisa menolak ‘kedatangan’ mereka?”
Dia menundukan kepalanya , aku hampir merasa tak enak karena menanyakan hal yang mungkin ‘sensitif’ untuknya , namun saat ia menegakan kepalanya kembali , aku menyesal telah mengkhawatirkannya , karna yang kulihat adalah dia yang tertawa lebar sambil berkata ,

“Itu karna memang aku yang mengundang mereka …”


0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.