Kaskus

Story

anak86comeAvatar border
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati


YANG TERBUANG

Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…

Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia

Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku

Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?

Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati



Selamat Membaca

INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
anak86comeAvatar border
TS
anak86come
#29
BAB IX


Nila…
Ya nama itu yang selalu terbayang di kepala ku, entah mengapa itu terjadi. Ada rasa penyesalan karena sudah berbuat salah kepadanya, entah sampai kapan rasa penyesalannya ini berakhir. Di media sosial, Aku masih berteman dengannya tapi tidak ada update dari masing-masing. Entah siapa yang harus memulai, Aku atau dia.

Memori kebersamaanku dengannya sangat teringat detail, karena ada “sesuatu” yang Aku dapatkan darinya, sesuatu yang indah melebihi segalanya, segalanya yang ada di dunia. Seandainya saat itu Aku jujur dengannya, melakukan pengakuan dihadapannya atau… tidak sama sekali melakukannya, memang sumber permasalahan 80% karena diri ku dan 20% adalah kesalahannya. Tetapi mau sampai kapan tergayut dalam suatu kesalahan yang secara sadar diakui sama-sama.

“La, ngomong donk, mau sampai kapan kamu begini terus” Tanya ku

Dia tetap menatap tajam ke arah monitor, dan menghentikan segala aktifitas jemarinya di tuts keyboard. Dan tidak lama setelahnya, Aku melihat kedua bola matanya sudah mulai basah dan semakin basah sehingga kelopak matanya sudah tidak mampu menahan letupan dan… keluarlah satu butiran air matanya. Tetap tanpa suara namun sangat terdengar gempuran nada yang tercekat di kerongkongannya. Kulit hidung memerah terang menandakan gejolak emosi yang sudah tidak dapat tertahan.

Aku merasakan beban batin Nila, sehingga sudah tiada emosi yang bisa dicurahkan keluar, hanya dendam yang mengharubirukan kenestapannya… nelangsa.

“La, Please… berikan Aku senyum mu walau kecut” ucap ku

“… … …”

(hening)

Keluarlah tangis-tangis yang sedari tadi tertahan, tetap tanpa suara namun dengan mimik muka yang menjawab atas kemunafikan cinta. Tetesan demi tetesan meluncur deras dari kedua pipinya dan memencar di atas meja kerjanya, cipratan-cipratan air mata menggenangi beberapa huruf-huruf hitam di kertas putih yang memberikan coretan-coretan kebencian.

Kupegang jemarinya tak lama kemudian dia campakkan keras ke udara menampar angin-angin yang ada di ruangan, keras sangat keras kebencian itu… Aku pun sudah tidak sanggup berhadapan dengannya. Sedikit kuguncangkan tubuhnya semakin meluap tetesan air mata menumpahkan semua kebenciannya, Aku takut…

Kulangkahkan kaki keluar ruangan itu, disetiap langkah kaki ku sangat terdengar jelas pekika-pekikan kepedihan yang keluar ditiap tetesan air mata Nila, Aku sudah tidak sanggup menengok apalagi menghampirinya kembali,

“sudah cukup… cukup” kata hati ku

Biarlah ini semua menjadi rahasia diantara Aku dan Nila, sampai di bawa mati kelak.


-The End of the Nila…-

0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.