Kaskus

Story

hrdntyAvatar border
TS
hrdnty
( Horror Story) Cerita tentang mereka yang sebenarnya ada namun tak terlihat
Salam hangat untuk para warga kaskus emoticon-Haiemoticon-Hai

Sebagai salah satu penghuni kaskus yang eksistensinya jarang tercium (?) , ane pengen menceritakan salah satu kisah yang tak biasa, jika ada yang bertanya apakah ini fiksi atau bukan , silahkan berimajinasi semampu agan sekalian . Jika memang dirasa tidak masuk akal maka silahkan anggap bahwa cerita ini hanya karangan semata dari seseorang yang baru belajar menulis.
Mohon maaf jika bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan kehendak agan sekalian , karna harus ane akui , menulis dan merangkai kata itu bahkan lebih sulit dari menceritakannya kembali secara lisan.emoticon-Hammer2


Quote:






Diubah oleh hrdnty 05-09-2017 11:30
joewanAvatar border
joewan memberi reputasi
1
74.4K
238
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
hrdntyAvatar border
TS
hrdnty
#46
PART 6 : SATU KESALAHAN

“Harusnya kamu jangan terlalu akrab dengan Prio , dia itu bahaya ..”
Aku menatap Mba Kina dengan tatapan heran sekaligus tak percaya atas apa yang baru saja dia katakan.
“Bahaya gimana sih mbak , Prio itu cuma bercanda , akunya aja yang terlalu takut sampai jatuh pingsan..”
Kali ini aku mengalihkan pandanganku ke arah lain , berharap jawaban Mba Kina nantinya bukanlah sesuatu yang aku takutkan.
“Ya pokok nya bahaya , Mbak hanya tidak suka saja kamu dekat dengan dia. Kalau kamu tidak mau percaya ,ya itu urusanmu”
Lagi dan lagi , apakah tidak ada seorangpun yang bisa memberikan jawaban yang masuk akal dan bisa dimengerti. Sudah cukup dengan tragedi yang menimpa Prio dan sekarang aku harus dihadapkan dengan seseorang yang memberikan predikat “bahaya” pada seorang Prio. Apa ini lelucon ? tapi nampaknya tidak. Hanya saja mereka memang sengaja membuat aku berimajinasi dengan tebakan ku sementara mereka menyimpan kebenarannya untuk mereka sendiri.

Tapi kali ini aku memilih untuk tidak memikirkannya , aku hanya menjawab “pernyataan” bermakna judgement dari Mba Kina dengan anggukan dan jawaban singkat
“Akan saya pikirkan Mbak ...”
Aku beranjak dari tempat tidur ruangan kesehatan ala kadarnya yang di bangun di lantai 3 setelah terlebih dulu mengucapkan terima kasih kepada Mba Kina yang menjaga ku saat aku jatuh pingsan di ruanganku sekitar 1 jam yang lalu.
Saat aku melangkah keluar, seseorang yang tak ku ingat namanya dari divisi pemasaran menyapaku sambil menanyakan tentang kejadian yang baru saja terjadi. Aku hanya mengatakan tidak ada apa-apa , hanya “sedikit” terkejut karena bercandaan seseorang. Nampak wajah tak puas tersirat di wajah orang itu , tapi itu lebih baik, daripada dia dan orang lain tau tentang kebenarannya. Karena hal itu tentu saja akan sangat merepotkan bagiku dan juga Prio.

Ah.. Prio , teringat dengan orang itu aku pun segera berlari kecil menuju ruanganku yang berada tepat 1 lantai di bawah. Tapi sosok yang ku cari tak ada di sana , hanya ada Gita dan Mas Tara yang masih sibuk dengan pekerjaan mereka . Melihat aku yang masuk ke dalam ruangan, Gita sontak menerjang dan memegangi pundakku , entah ada apa gerangan dengan anak ini, tapi aku berterima kasih, karna dari sorot mata yang aku lihat , sepertinya dia tengah khawatir padaku.
“Maafin Prio ya na , dia kalau bercanda memang suka keterlaluan..” Ucap Gita.
“Iya na , Prio emang agak-agak gimana gitu orangnya .. kadang ngeselin” sambung Mas Tara mengiyakan.
“Siapa yang bilang seperti itu?”
Gita melepaskan pegangan tangannya dari pundakku
“Maksudnya na ? bilang apa?”
Aku memandangi Gita dan Mas Tara bergantian.
“Iya maksudnya siapa yang bilang aku pingsan karena bercandaan nya Prio?”
“Prio ..” jawab mereka bersamaan.


Pukul 17:30

Sore itu lewat 30 menit dari jam pulang kantor, aku masih berada di ruanganku, belum ada niat untuk berberes meskipun pekerjaanku sebenarnya sudah lama selesai,, saat aku masih “sibuk” dengan komputer dan beberapa situs tentang perbankan, Gita pamit untuk pulang duluan meninggalkan aku dan Mas Tara berdua. Saat keheningan beberapa saat ,mendekati jam 6 Mas Tara membuka pembicaraan :

“Kamu masih tetap mau nungguin Prio? Kalau kataku sih mending kamu nunggu besok aja na”
Ah.. aku tau cepat atau lambat pertanyaan seperti ini pasti akan datang.
“Gak Mas , aku tetap nunggu aja dulu. Memangnya Prio tadi izin kemana? Masa sampai sekarang belum balik juga..”
Kulirik meja nya dan masih ada beberapa berkas berserakan disana.
“Dan kayaknya perginya tadi juga buru-buru ya”
Mas Prio menggaruk kepalanya yang ku yakin sebenarnya tak gatal.
“Hemhh .. gak tau na , tadi katanya izin bentar ada yang mau dia ambil, untung Pak Bos sedang tidak di kantor hari ini , kalau ada pasti sudah habis lah itu si Prio ...”
Tak lama setelah pembicaraan singkat itu, seseorang yang baru saja kami bicarakan akhirnya datang. Melihatku yang masih berada di dalam ruangan membuatnya sedikit terkejut dengan rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Hai , na ..” Sapanya canggung.
Melihat ekspresi nya itu sebenarnya aku hampir tak bisa menahan diri untuk tertawa , namun mengingat masih ada Mas Tara disini aku pun akhirnya mencoba untuk mencairkan suasana.
“Kemana aja kamu ? Aku rindu ...” ucapku begitu saja.
Mas Tara tertawa lebar, terlebih saat melihat Prio menundukan kepalanya. Ku tebak saat itu dia sedang malu.
“Dijawab lah yo , itu Yuana nyariin kamu dari tadi . Masa didiamkan begitu..” Goda Mas Tara.
Tapi Prio masih terdiam tertunduk di depan pintu , andai kalian melihatnya , aku yakin semua orang past berpikiran sama denganku. Dia terlihat menggemaskan.
“Udahlah yo..” ucapku lagi , “ jangan merasa tak enak , aku nya saja yang terlalu berlebihan nanggepin candaanmu..”
Prio mengangkat kepalanya, sedikit senyum dia lemparkan padaku. Dia pikir aku marah padanya , namun saat ku katakan bahwa aku tak apa-apa akhirnya dia pun tersenyum lebar hingga menampilkan lesung di pipi kiri nya. Ya meskipun aku sangat tau sekali , bahwa apa yang terjadi beberapa jam yang lalu bukanlah salah satu candaannya, melainkan kenyataan yang masih belum bisa ku cerna bahkan hingga saat ini.

Suasana mencair setelah itu, aku dan Mas Tara akhirnya memutuskan untuk menunggu di kantor tepatnya menunggu Prio untuk menyelesaikan beberapa pekerjaanya. Tapi untukku sendiri bukan tanpa alasan aku menunggu nya selesai, karna aku masih memilik satu urusan dengannya yang tak bisa ku katakan saat Mas Tara masih ada bersama kami.

Tanpa terasa saat itu malam sudah mendekati jam 8, Prio memberi isyarat dengan mengangkat tangannya yang masih sibuk menulis sesuatu di buku rekapannya, menandakan bahwa sebentar lagi dia akan selesai dengan pekerjaanya.
Mas Tara yang mulai menguap memutuskan untuk membuat satu cangkir kopi terakhir sebelum kami pulang, aku yang merasa suntuk berada di dalam ruangan pun mengikuti dari belakang.Namun sesampanyai di pantry , Mas Tara mengumpat dikarenakan air galon yang ternyata habis, tetapi seperti tetap harus menunaikan niat “suci” nya untuk membuat kopi, Mas Tara mengajakku ke lantai 4, aku mengangguk,meskipun masih heran entah kenapa dari sekian lantai kami harus pergi ke lantai 4 , namun yang ku dengar dari Mas Tara lantai 4 itu mempunyai pantry yang lebih luas dari lantai lain , bahkan disana tersedia mesin coffee maker yang cukup besar.

“Kebetulan sekali” pikirku.

Setelah lebih sebulan bekerja disini, sekalipun aku belum pernah berkunjung ke lantai 4 ,tentu saja malam itu adalah waktu yang tepat untuk melihat-lihat terlebih saat itu suasana kantor sudah sangat sepi.
Namun saat itu aku belum menyadari bahwa aku melupakan satu hal yang sangat penting, mengenai sebuah dongeng lama , tentang “mereka” yang lebih memilih “muncul” dalam gelap dan keheningan.
Diubah oleh hrdnty 16-08-2017 15:06
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.