- Beranda
- Stories from the Heart
Hidup, Kerja, Mati
...
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati
YANG TERBUANG
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Selamat Membaca
INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anak86come
#26
BAB VII
“baiklah, per hari ini kalian sudah tidak bekerja di ruangan ini, karena perusahaan sudah dijual, oleh karenanya kalian harus ikut ke pembeli yang beli perusahaan ini” lantang si Direktur
(suara gaduh mulai terdengat)
“maksudnya apa nih Bos?” Tanya Rizal
“apaan sih gk ngerti?” ucap Wati
“siapa yang ulang tahun?, traktirannya donk” celetuk Meli
“tenang… tenang… semua, mohon diulang penjelasannya pak?” ucap Dedy
“jadi semua akan di pindah ikut ke pembeli” lantangnya kembali Direktur
Akhirnya masa-masa yang kami semua tunggu akhirnya terjadi, sebenarnya tidak ada yang dikhawatirkan semua karyawan, karena mereka sebelumnya sudah mengalami hal yang sama sebelum Aku masuk diterima bekerja diperusahaan ini.
“masa kerja kalian semua akan diakui oleh pembeli, oleh karenanya silahkan bicarakan dengan pembeli perusahaan ini” jelas Direktur
Kami semua sepertinya juga sudah jengah dengan kondisi seperti ini, makanya tidak dapat berbuat banyak. Kalau pun kami semua menuntut, maka opsi yang ada adalah di PHK atau dibuat tidak nyaman. Piliha sulit, kalau pun PHK belum tentu di luar sana dapat menerima, kalau pun tetap bertahan entah kapan akan bertahan.
“jadi elo ikut siapa Lex?” Tanya Wati
“gw ikut yang beli aja deh sementara” jawab ku
“kok gitu? Alasannya apa?” Tanya Wati
“gw udah tau apa yang gw dapet disini, makanya gw punya ekspektasi yang lebih ke pembeli perusahaan ini, jadi jalanin aja deh” jawab ku
“ohh… gitu ya udah gw pake prinsip loe juga deh Lex” jawab Wati
Banyak sekali saat itu teman-teman menanyakan hal yang sama “ikut siapa”, Aku sih memberikan penjelasan yang se-logis mungkin dan sewajar mungkin. Tapi kondisi saat ini yang membuat ku berpikir seperti itu, toh kalaupun tidak sesuai harapan ya berarti Aku salah dalam perhitungannya.
Terkadang Aku menyesal juga pindah dari kantor lama yang sudah cukup membesarkan ku, tapi inilah hidup yang harus Aku jalani. Aku pun mulai packing barang-barang milik sendiri untuk dibawa ke tempat pembeli perusahaan ini, Aku melihat perusahaan baru ini cukup besar dan terkenal
“mudah-mudahan lebih baik” batin ku
Setiap barang yang kumasukkan ke dalam kardus Aku selalu mengingat-ingat kembali kenangan yang terbawa didalam barang itu. Ada yang indah dan ada juga pahit yang kurasa, tapi itu semua membuat ku berimajinasi lebih tinggi, bagiku imajinasi itu tidak ada batas, imajinasi itu tidak terbatas sampai kematian yang membuat itu terbatas.
Dalam hati ku bergumam “apakah benar ekspektasi ku ini untuk ikut dengan pemilik baru perusahaan ini”
Dari segi jarak dari rumah ku ke kantor pemlik baru memang lebih jauh, malah sangat jauh. Tapi Aku tetap memilih ke sana karena Aku punya ekspektasi ke mereka.
Sudah kuran glebih satu minggu ini Aku berangkat selalu ke kantor pembeli perusahaan ku, meski hanya disediakan ruangan yang cukup untuk 10 orang tapi Aku memakluminya.
“Lebih baik Aku tunjukkan prestasi disini” batin ku
Tetapi entah mengapa ada rasa-rasa yang sedikit kurang nyaman disini, tapi Aku buang jauh-jauh hal itu karena Aku harus menghilangkan sisi-sisi negatif agar sisi-sisi positif selalu melingkar didalam diri ku.
Beberapa karyawan ada yang ikut serta dengan pemilik perusahaan yang baru dan ada juga yang tidak ikut serta. Tetapi mayoritas banyak yang ikut serta dengan pemilik perusahaan baru, dan semua mempunyai ekspektasi yang lebih buat kedepannya.
Bersambung…
0