- Beranda
- Stories from the Heart
( Horror Story) Cerita tentang mereka yang sebenarnya ada namun tak terlihat
...
TS
hrdnty
( Horror Story) Cerita tentang mereka yang sebenarnya ada namun tak terlihat
Salam hangat untuk para warga kaskus 

Sebagai salah satu penghuni kaskus yang eksistensinya jarang tercium (?) , ane pengen menceritakan salah satu kisah yang tak biasa, jika ada yang bertanya apakah ini fiksi atau bukan , silahkan berimajinasi semampu agan sekalian . Jika memang dirasa tidak masuk akal maka silahkan anggap bahwa cerita ini hanya karangan semata dari seseorang yang baru belajar menulis.
Mohon maaf jika bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan kehendak agan sekalian , karna harus ane akui , menulis dan merangkai kata itu bahkan lebih sulit dari menceritakannya kembali secara lisan.


Sebagai salah satu penghuni kaskus yang eksistensinya jarang tercium (?) , ane pengen menceritakan salah satu kisah yang tak biasa, jika ada yang bertanya apakah ini fiksi atau bukan , silahkan berimajinasi semampu agan sekalian . Jika memang dirasa tidak masuk akal maka silahkan anggap bahwa cerita ini hanya karangan semata dari seseorang yang baru belajar menulis.
Mohon maaf jika bahasa yang digunakan tidak sesuai dengan kehendak agan sekalian , karna harus ane akui , menulis dan merangkai kata itu bahkan lebih sulit dari menceritakannya kembali secara lisan.
Quote:
Quote:
Diubah oleh hrdnty 05-09-2017 11:30
joewan memberi reputasi
1
74.5K
238
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
hrdnty
#34
PART 4 : HARI YANG ANEH
“Hawanya panas ya , atau hanya perasaanku saja?”
Entah kepada siapa pertanyaan itu ditujukan, tapi aku yang saat itu sedang berada di dalam ruangan bagian keuangan merespon pertanyaan tersebut.
“Iya mbak , mungkin AC disini sedang rusak berjamaah,” ucapku sambil menunjuk AC yang tergantung di dinding belakang meja salah satu staff accounting bernama Maya itu.
“Jadi di ruanganmu panas juga na?’ tanyanya
Aku mengangguk kecil
“Bukan hanya di ruangan sini dan ruangan aku saja mbak, bahkan di semua ruangan kantor. Tapi anehnya di luar cuaca lagi sejuk-sejuknya”
Aku mengangkut beberapa berkas yang kuperlukan dan berbalik menuju ruangan admin sesaat Mbak Maya kembali mengajukan pertanyaan.
“Sudah ada yang lapor Pak Sugeng belum? (Atasan-Nama disamarkan)
“Kebetulan Pak Sugeng sedang tidak di tempat Mbak.. Katanya ada urusan penting diluar”.
Aku melangkah keluar dari rungan tersebut, sambil bersenandung kecil mataku mencoba melihat ke dalam ruangan yang ada di sebelah kiri dan kanan lorong melalui kaca yang ada di pintunya.
Tapi langkahku terhenti saat aku sekilas melihat sesuatu yang aneh di dalam gudang ATK. Tak yakin ilusi atau bukan, tapi nyatanya aku melihat dengan jelas seseorang berbaju hijau dan berambut panjang tadi ada di dalam ruangan itu , dan parahnya dia hanya berdiri di sana dan menatap tajam ke arahku.
Tapi setelah aku memberanikan diri untuk mundur 1 langkah ke belakang dan melihat ke sana kembali. Sosok itu sudah tidak ada.
Aku menampar pipiku cepat, harus ku akui, aku bukanlah orang yang terbiasa dengan hal ganjil seperti ini, tapi kalau hanya sekedar mendengar cerita ataupun menonton film tentang makhluk tak kasat mata seperti itu, tidak pernah ada ketakutan yang berarti.Bahkan jujur saja, aku cenderung menganggap beberapa orang yang berteriak histeris saat menonton ataupun mendengar hal bertema mistis itu adalah orang yang lemah bahkan cenderung *maaf* kampungan.Namun saat akhirnya mengalami salah satu kejadian seperti tadi, aku teringat salah satu kakak sepupuku pernah berkata , "Cerita ataupun sesuatu yang kau lihat dari balik layar kaca mungkin tidak akan mempengaruhimu, tapi hal yang berbeda akan terasa saat kamu lah yang jadi “pemeran utama” dalam cerita itu sendiri".
Saat aku terpaku sebentar di sana , aku merasakan angin dingin meniup dari balik tengkuk ku, tidak masuk akal , di hawa panas seperti ini ada angin yang lewat entah darimana.
Aku menggosok2 tengkuk ku dan sebisa mungkin tetap bersikap tenang, aku melanjutkan langkahku kembali namun saat tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk ke dalam ruangan admin , aku mendengar suara seseorang sedang berteriak dari dalam sana “
“Gimana sih , panas seperti ini mana bisa kerja , tolong lah seseorang panggilkan tukang service atau apapun itu. Masa iya harus nunggu izin bos dulu kalau sedang darurat gini”
Tak perlu waktu lama untuk mengenali siapa pemilik suara teriakan cempreng itu , dan benar saja saat aku masuk ke dalam ruangan , pemandangan pertama yang kulihat adalah tampak Gita yang seumuran denganku sedang mengumpat sambil mengipasi dirinya dengan sebuah buku.
Aku mengernyit saat menyadari buku yang dia pegang.
“Git , itu buku rekapan Prio kamu gituin nanti dia marah loh. Dia apikan orangnya, kalau tau bukunya dibikin lecek gitu nanti kamu diomelin lagi”
Gita tersentak saat tau kesalahan apa yang baru saja di perbuat. Sambil mengelus elus permukaan nya, Gita meletakkan kembali buku tersebut ke tempat semula.
Tak lama setelah itu, Mas Tara yang juga satu ruangan dengan kami masuk , sambil misuh-misuh ia mengeluarkan saputangan dari kantong dan mengelap dahi nya yang berkeringat. Nampak perasaan kesal terlintas di raut wajah Mas Tara.
“Ada apa mas?” tanyaku saat itu.
Mas Tara meletakkan sapu tangannya kembali ke dalam kantong bajunya.
“Kalian tau gak , tadi aku sudah minta salah satu teknisi dari toko elektronik sebelah buat cek kondisi AC disini..”
Mendengar sesuatu yang diharapkannya datang tengah di bahas Gita meloncat dari kursinya, kemudian berseru
“Lalu ? gimana mas? Memang lagi bermasalah ya?”
Mas Tara menggeleng.
“Gak ada masalah Git, AC nya berfungsi dengan normal semua..”
“Hah..? tau dari mana mas normal semua, perasaan tadi tidak ada yang cek ruangan sini? “ tanya Gita tak percaya.
“Tadi kita udah cek semua yang di lantai 1 , dan nyatanya AC disana normal semua, tapi seperti kalian yang tau, hawa di lantai 1 kondisinya sama saja kan dengan yang di lantai lain?”
Kami berpandangan sambil mengangguk tanda mengiyakan.
“Ya sudah, berarti kita asumsikan saja kalau tidak ada juga masalah dengan AC di lantai lain” Lanjut Mas Tara lagi.
Kami yang ada di dalam ruangan saling berpandangan kembali, namun hening menguasai. Tanpa berkomentar apa-apa lagi akhirnya kami pun harus pasrah dengan fenomena aneh yang sedang terjadi. Meskipun dalam hati dari masing-masing kami masih mencoba menerka ada apa sebenarnya dengan keganjilan yang terjadi saat itu.
Tapi keanehan yang terjadi tidak berakhir sampai disana saja, tepat pada waktu jam makan siang, saat atasan kami kembali ke kantor. Tak hanya aku, Gita atau Mas Tara , tapi seisi “penghuni” kantor menyadari, bahwa hawa panas yang ada di kantor kami, mendadak lenyap begitu saja.
“Hawanya panas ya , atau hanya perasaanku saja?”
Entah kepada siapa pertanyaan itu ditujukan, tapi aku yang saat itu sedang berada di dalam ruangan bagian keuangan merespon pertanyaan tersebut.
“Iya mbak , mungkin AC disini sedang rusak berjamaah,” ucapku sambil menunjuk AC yang tergantung di dinding belakang meja salah satu staff accounting bernama Maya itu.
“Jadi di ruanganmu panas juga na?’ tanyanya
Aku mengangguk kecil
“Bukan hanya di ruangan sini dan ruangan aku saja mbak, bahkan di semua ruangan kantor. Tapi anehnya di luar cuaca lagi sejuk-sejuknya”
Aku mengangkut beberapa berkas yang kuperlukan dan berbalik menuju ruangan admin sesaat Mbak Maya kembali mengajukan pertanyaan.
“Sudah ada yang lapor Pak Sugeng belum? (Atasan-Nama disamarkan)
“Kebetulan Pak Sugeng sedang tidak di tempat Mbak.. Katanya ada urusan penting diluar”.
Aku melangkah keluar dari rungan tersebut, sambil bersenandung kecil mataku mencoba melihat ke dalam ruangan yang ada di sebelah kiri dan kanan lorong melalui kaca yang ada di pintunya.
Tapi langkahku terhenti saat aku sekilas melihat sesuatu yang aneh di dalam gudang ATK. Tak yakin ilusi atau bukan, tapi nyatanya aku melihat dengan jelas seseorang berbaju hijau dan berambut panjang tadi ada di dalam ruangan itu , dan parahnya dia hanya berdiri di sana dan menatap tajam ke arahku.
Tapi setelah aku memberanikan diri untuk mundur 1 langkah ke belakang dan melihat ke sana kembali. Sosok itu sudah tidak ada.
Aku menampar pipiku cepat, harus ku akui, aku bukanlah orang yang terbiasa dengan hal ganjil seperti ini, tapi kalau hanya sekedar mendengar cerita ataupun menonton film tentang makhluk tak kasat mata seperti itu, tidak pernah ada ketakutan yang berarti.Bahkan jujur saja, aku cenderung menganggap beberapa orang yang berteriak histeris saat menonton ataupun mendengar hal bertema mistis itu adalah orang yang lemah bahkan cenderung *maaf* kampungan.Namun saat akhirnya mengalami salah satu kejadian seperti tadi, aku teringat salah satu kakak sepupuku pernah berkata , "Cerita ataupun sesuatu yang kau lihat dari balik layar kaca mungkin tidak akan mempengaruhimu, tapi hal yang berbeda akan terasa saat kamu lah yang jadi “pemeran utama” dalam cerita itu sendiri".
Saat aku terpaku sebentar di sana , aku merasakan angin dingin meniup dari balik tengkuk ku, tidak masuk akal , di hawa panas seperti ini ada angin yang lewat entah darimana.
Aku menggosok2 tengkuk ku dan sebisa mungkin tetap bersikap tenang, aku melanjutkan langkahku kembali namun saat tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk ke dalam ruangan admin , aku mendengar suara seseorang sedang berteriak dari dalam sana “
“Gimana sih , panas seperti ini mana bisa kerja , tolong lah seseorang panggilkan tukang service atau apapun itu. Masa iya harus nunggu izin bos dulu kalau sedang darurat gini”
Tak perlu waktu lama untuk mengenali siapa pemilik suara teriakan cempreng itu , dan benar saja saat aku masuk ke dalam ruangan , pemandangan pertama yang kulihat adalah tampak Gita yang seumuran denganku sedang mengumpat sambil mengipasi dirinya dengan sebuah buku.
Aku mengernyit saat menyadari buku yang dia pegang.
“Git , itu buku rekapan Prio kamu gituin nanti dia marah loh. Dia apikan orangnya, kalau tau bukunya dibikin lecek gitu nanti kamu diomelin lagi”
Gita tersentak saat tau kesalahan apa yang baru saja di perbuat. Sambil mengelus elus permukaan nya, Gita meletakkan kembali buku tersebut ke tempat semula.
Tak lama setelah itu, Mas Tara yang juga satu ruangan dengan kami masuk , sambil misuh-misuh ia mengeluarkan saputangan dari kantong dan mengelap dahi nya yang berkeringat. Nampak perasaan kesal terlintas di raut wajah Mas Tara.
“Ada apa mas?” tanyaku saat itu.
Mas Tara meletakkan sapu tangannya kembali ke dalam kantong bajunya.
“Kalian tau gak , tadi aku sudah minta salah satu teknisi dari toko elektronik sebelah buat cek kondisi AC disini..”
Mendengar sesuatu yang diharapkannya datang tengah di bahas Gita meloncat dari kursinya, kemudian berseru
“Lalu ? gimana mas? Memang lagi bermasalah ya?”
Mas Tara menggeleng.
“Gak ada masalah Git, AC nya berfungsi dengan normal semua..”
“Hah..? tau dari mana mas normal semua, perasaan tadi tidak ada yang cek ruangan sini? “ tanya Gita tak percaya.
“Tadi kita udah cek semua yang di lantai 1 , dan nyatanya AC disana normal semua, tapi seperti kalian yang tau, hawa di lantai 1 kondisinya sama saja kan dengan yang di lantai lain?”
Kami berpandangan sambil mengangguk tanda mengiyakan.
“Ya sudah, berarti kita asumsikan saja kalau tidak ada juga masalah dengan AC di lantai lain” Lanjut Mas Tara lagi.
Kami yang ada di dalam ruangan saling berpandangan kembali, namun hening menguasai. Tanpa berkomentar apa-apa lagi akhirnya kami pun harus pasrah dengan fenomena aneh yang sedang terjadi. Meskipun dalam hati dari masing-masing kami masih mencoba menerka ada apa sebenarnya dengan keganjilan yang terjadi saat itu.
Tapi keanehan yang terjadi tidak berakhir sampai disana saja, tepat pada waktu jam makan siang, saat atasan kami kembali ke kantor. Tak hanya aku, Gita atau Mas Tara , tapi seisi “penghuni” kantor menyadari, bahwa hawa panas yang ada di kantor kami, mendadak lenyap begitu saja.
Diubah oleh hrdnty 16-08-2017 15:00
0