- Beranda
- Stories from the Heart
Hidup, Kerja, Mati
...
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati
YANG TERBUANG
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Selamat Membaca
INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anak86come
#24
BAB V
“Lex, tolong siapkan dokumen-dokumen perusahaan, apapun itu tolong kamu siapkan semua, nanti ada orang dari konsultan yang datang” ucap Direktur
Aku pun bertanya-tanya dalam hati “ada apa sih sebenarnya?”
“baik pak, kalau boleh tahu siapa konsultannya?” Tanya Aku
“ya pokoknya kamu siapkan lah semua itu, nanti dari bagian lain juga kok, saya suruh seperti yang saya suruh ke kamu, deadline-nya besok soore ya” jelasnya
“siap pak 86”? jawab Aku
Mulailah Aku mencari-cari beberapa dokumen yang diperlukan, meskipun Aku pun tudak tahu dokumen ini yang bakal dibutuhkan atau bukan. Untungnya Aku punya rekan kerja yang dapat diandalkan.
“wati, kerjaan baru nih, tolongin donk” melasku
“kerjaan apaan sih? Siapa yang nyuruh? Buat apaan sih? Terus gw harus ngapain?” jawab Wati
“buseh… elo mau nanya atau mau malak? Nanyanya banyak beud” jawab aku
“ya kan pengen tau keless” ujarnya
Dan akhirnya Aku menjelaskan semuanya sampai sedatail mungkin meski diotakku sudah mulai berpkir yang aneh-aneh atas tugas yang diberikan oleh Direktur Aku.
“semangt-semangat” batinku
Sebenarnya yang paling repot adalah harus mengarsip ulang semua dokumen-dokumen perusahaan sejak tahun 2007, ya tepat 8 tahun yang lalu, Aku harus membereskan dan mengumpulkan dokumen-dokumen yang sudah terlalu lampau. Sangat paling merepotan adalah saat orang yang disebut “konsultan” itu datang ke kantor, otomatis Aku harus menunda mengopre-oprek dokumen yang sedang Aku cari.
“pagi, dengan pak Alex?” ucap konsultan ini
“pagi sekali” jawabku
“kami dapat info harus ketemu dengan pak Alex dari Direktur bapak, jadi ada beberapa hal yang akan kami jelaskan dan mintakan informasi” jelas si Konsultan
“oke-oke apa dan hal yang mana yang harus dijelaskan” jawabku
Dan akhirnya Aku dan konsultan sudah mulai Tanya jawab serta mulai meminta dokumen-dokumen yang harus diserahkan saat itu juga. Aku sangat shock sekali atas penjelasan dari konsultan ini tentang apa yang terjadi sampai dengan harus melakukan ini. Dan sesuai pikiran ku di awal kalau hal ini yang menyebabkan kejadian ini
“sebenarnya dalam rangka apa ya sampai harus melakukan due diligence ini?” tanyaku ke konsultan disela-sela monitoring checklist
“ini mau ada akuisisi perusahaan pak Alex loh, memang pak Alex tidak megetahuinya?” jawab si konsultan
“oh enggak bukan itu, kenapa harus sedetail ini?’ Tanya Aku kembali, meskipun pertanyaannya gk penting, Cuma Aku jaga image aja biar seolah-olah sudah paham betul
“ya memang harus detail pak, karena akan kami sampaikan ke klien kami” jawab konsultan
Selanjutnya banyak Tanya jawab dan crossheck langsung ke dokumen yang aku tunjukkan ke konsultan, saat itu Aku sudah mulai khawatir akan dibeli siapa perusahaan ini dan bagaimana nasib aryawan-karyawan yang ada diperusahaan ini. Jelas aku sangat dan sangat khawatir sekali secara Aku baru menginjak satu tahun lewat beberapa bulan, bagaimana nasib ku selanjutnya, disaat itulah timbul perasaan menyesal memilih resign dari kantor yang dulu, tapi Aku tepiskan penyesalan itu semua setelah teringat akan nama Nila di kepalaku, dia lah sebenarnya alasan terbesarku memilih resign dari kantor yang dulu. Daripada Aku harus menghadapi sesuatu yang obatnya sudah dipastikan tidak dijual lagi lebih baik Aku memilih sakit yang sudah dipastikan ada obatnya.
“pak alex… pak… halo pak” tegur si konsultan melihat diriku merenung
“eh…oh… iya ada apa?” ucapku dengan terbata-bata
“yang ini dokumennya mana pak?” Tanya si konsultan
“sebentar… oh ini ada” jawabku
Huufft…
Sadar Aku atas lamunan tadi, memang hidup ini yang Aku pilih dan harus Aku jalani. Kurang lebih 3 jam Aku bersama konsultan ini dan otomatis setelah Aku menemani konsultan menuju lift serta mulai merebahkan pantatku ke bangku mulai deh rekan-rekan kerja mengerubungi Aku dan bertanya
“jadi bener Lex klo perusahaan kita mau dijual?” Tanya abu
“terus siapa yang beli?” Tanya rizal
“terus nasib karyawannya gimana? Dibawa serta atau di PHK?” Tanya meli
terus… terus… terus… terus… bertanya semua rekanku dikantor menanyaiku, sampai-sampai Aku bingung harus menjawab yang pertanyaan siapa. Dan akhirnya
BRAAAK….
Semua kaget dan mencari sumber suara itu dari mana, dan ternyata rekanku dibagian General Affair si Bimo tiba-tiba sudah rebahan di lantai dengan beberapa kertas terburai kemana-mana.
“eh tolongin…tolongin pak bimo pingsan” ucap yanto
Semua langsung menyerbu ketempat bimo jatuh terkulai, kami pun bersama-sama menggendong bimo dengan pelan-pelan. Security pun sibuk memberikan minyak angina didepan hidungnya supaya bisa menyadarkan Bimo, dan perlahan-lahan matanya terbuka disertai keluarnya darah dari hidungnya yang jelas membuat semua rekan kerja panic sepanik-paniknya.
“langsung bawa ke klinik deh” ucap wati
“jangan… langsung ke apotik aja” jawab meli
“heh.. jangan ngaco!!! Becanda aja dari tadi, cepat bawa ke rumah sakit” ucap Paul dengan lantang
Semua langsung terbengong-bengong atas kejadian itu, suasana kantor menjadi panas seketika karena mendapatkan kejadian yang bertubi-tubi. Pertama rencana akan ada akuisisi dan kedua pak Bimo tiba-tiba ambruk dikantor. Tapi berdasarkan informasi dari rekan-rekan kalau si Bimo itu memang jantungnya lemah jadi tidak bisa mendapatkan sesuatu yang membuat dirinya kaget. Mungkin si Bimo ini mendengar perbincangan kami yang menanyakan status kedepan perusahaan ini selanjutnya. Namun atas kejadian tersebut semula Aku dikeroyok dengan berbagai pertanyaan berangsur-angsur menghilang dan semua lupa atas pertanyaan masing-masing. Aku menyimpulkan berita rencana akuisisi perusahaan ini sudah dapat menumbangkan salah satu karyawannya, padahal baru rencana tai efeknya luar biasa.
Semenjak kejadian itu esok hari semua karyawan mulai kasak-kusuk masing-masing, mereka semua tidak lagi berani terang-terangan berbicara keras terkait rencana akuisisi perusahaan ini. Dan Aku serta Wati tetap berjibaku mencari dokumen-dokumen sesuai permintaan yang ada dilist yang kemarin diserahkan oleh konsultan ke Aku. Ada banyak dokumen yang berbunyi disurat satunya tapi secara fisik tidak terlihat, menurutku itulah yang paling sulit karena harus masuk-masuk, buka-buka lemmari yang ada digudang. Kalau gudangnya rapi sih tidak masalah nah ini gudang juga berantakan banget, sampai-sampai kalai mau masuk harus menundukkan badan terlebih dahulu. Bersin, batuk, dan lembab yang kurasakan. Deadline tinggal beberapa jam lagi, Aku harus menyelesaikan ini semua.
CLAAP… KLEEK…
Ruangan sudah mulai redup tanda hari sudah semakin sore, karena perusahaan ini sudah sepakat dengan pemilik gedung bahwa sewa ruangan ini untuk jam kerja hanya sampai jam 5 sore, bilamana mau nambah waktu maka akan dikenakan charge diluar harga sewa, karena Direktur perusahaan pelit kayak batu maka tidak ada istilah nambah-nambah duit dengan charge. Ya sudah akhirnya Aku dan Wati tetap fokus memenuhi target awal, semangat 45 deh…
“BERES…!!!” teriakku dengan keras
“heh… kampret…! Kaget gw, biasa aja donk Lex” hardik Wati
“ehh… sorry… sorry kelepasan, namanya juga 2 hari diterpa penat, wajar donk” jawabku dengan cengengesan
“ya tapi bisa kan biasa aja” ketus wati
Lumayan lama berurusan dengan kerjaan beginian membuat mata ku perih, kuteteskan obat mata di kedua mata ku sedikit menghilang rasa perihnya. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 19.00 WIB da kutengok HP ku dan
“ya ampun… bini ku udah nelpon berkali-kali tapi diangkat” batinku
Memang Aku lupa kalau bakal pulang larut malam, lupa karena berkutat dikerjaan beginian memang membuat lupa semuanya.
KRUUYUUKK….
“ya ampun sampai lupa makan” batinku sambil ngelus-ngelus perut
“heh, elo kapan cabut Wat?” tanyaku
“udah, ini juga mau cabut” jawab wati sambil berjalan cepat menuju ke lorong dimana ada lift
Dan Aku pun hanya mendengar suara langkahnya yang perlahan-lahan menghilang namun membuat ku makin berpikir kembali tentang rencana perusahaan ini dan kejadian ambruknya Bimo dikantor sejak mendengar berita itu. Bias-bias hal yang telah Aku lalui selama hidup mulai bermunculan di kepala ku.
“bagaimana kelanjutan hidupku kedepan ya?” batin ku bertanya
Memang kita tidak akan dan memang tidak bakal tahu apa yang terjadi didepan kita, semua adalah jalan hidup masing-masing manusia yang terlahir di dunia ini, siapa pun itu jabatan apapun itu profesi apapun itu tidak ada yang tahu akan menjadi apa, yang ada hanya ingin menjadi apa. Semburat-semburat cahaya menerpa mata ku, tersadar kembali dari lamunan ku dengan memicingkan mata akibat sinar terang Aku menoleh, oh ternyata security gedung menyorotkan senternya ke arah ku.
“loh… maaf pak , belum pulang? Masing dikantor” ucapnya
“iya pak sebentar lagi juga pulang, ini lagi beres-beres sedikit” jawab Aku
CEKREEEKKK…CEKREEKK…
Aku kunci semua pintu masuk dan keluar ruangan, Aku memang dipercayakan oleh rekan-rekan kantor untuk memegang kunci semenjak Bimo pingsan kemarin, mereka percaya karena Aku pasti akan sering pulang larut untuk menyelesaikan tugas.
Berjalan lemas dan kantuk Aku menuju lift, tapi utungnya Aku ditemani turun oleh security gedung jadi tidak akan sering bayang-bayang masa lalu kehidupan ku tersembur lagi di otakku. Terus Aku berjalan tanpa terasa sudah ada di halte tempat ku berdiri menunggu bus ke stasiun. Tak lama Aku menunggu bus, akhirnya dapat bus yang lumayan kosong jadi Aku bisa memilih posisi nyaman. “Terendap Lara” ya lagu itu yang dinyanyikan oleh pengamen jalanan didepan ku, Aku tak habis pikir kenapa pengamen ini nekat ngamen di bus yang penumpangnya cuma ada Aku doank, mungkin dia melihat dari kejauhan kalau langkah kaki ku penuh ketidakpastian hehehehe lucu sih.
“habis…habis… stasiun habis…” teriak kernet bus lantang
Kaget Aku dari buaian lagu yang dinyanyikan oleh pengamen jalanan itu, kuserahkan Rp 5000,- ke pengamen jalanan karena Aku sangat mengapresiasinya dan Rp 3000,- kuserahkan ke kernet bus sebagai bayaran atas jasanya yang sudah mengantarku ke tujuan ku meski bukan belum mengantar ke tujuan hidup ku, “terima kasih” kuucapkan untuk bang kernet, bang supir bus, dan bang pengamen.
Saat Aku menyeberang sayup-sayup terdengar ada yang memanggil namaku.
“Lex… Lex… woy Alex… disini woy!!!” teriak Paul
Sembari mencari sumber suara, Aku pun memicingkan mata mencari orang yang memanggil ku,
“oh ternyata si Paul” batinku
“belum pulang lo Paul?” tanyaku
“bentar makan sate taichan dulu” jawabnya
Kulihat jam sudah pukul 20.00 WIB, “yah… rebahan dulu deh sebelum naik kereta” batinku
Bersambung…
0