- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#188
Aku Ingin Bertemu Dirinya
Tapi angin tidak selalu bertiup ke arah yang sama, ombak lautpun memiliki pasang surutnya. Keluarga Anissa terkena dampak krisis moneter terparah di Indonesia saat itu. Dan alhasil, hal tersebut membawa mereka pada kebangkrutan. Yang tersisa hanyalah rumah tempat mereka tinggal. Ayah dan Ibu Anissa justru akur kembali setelah peristiwa itu. Selalu ada berkah di tengah musibah.
Anissa telah berada di Jakarta pada saat krisis moneter itu. Dia sedang menempuh kuliahnya. Hingga sebuah telepon pada siang Sabtu itu. Saat Anissa sedang merapikan pakaiannya. Kembali membuyarkan segala mimpinya yang pelan-pelan di susun kembali.
“Mama, kenapa? Kenapa mama nangis?”, suara Anissa panik.
“Nis, kamu masih punya tabungan tidak? Semuanya masih cukupkan?”, tanya mamanya.
“Masih ma. Kenapa sih? “, tanya Anissa mulai gusar.
Suara hening seketika. Tidak ada jawaban dari mamanya. Anissa menatap layar handphonenya. Masih tersambung.
“Halo. Ma? Mama masih dengar aku tidak? Halo??”, Anissa mencoba memperoleh respon mamanya.
“Kita bangkrut nak. Papamu tertipu oleh rekan bisnisnya.”, terdengar suara lemah dari seberang sana.
Apa?! Anissa tiba-tiba merasakan peluh dingin di seluruh badannya. Bangkrut? Kenapa? Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Di tipu atau karena krisis?”, Anissa tahu betul keadaan sekarang.
“Mama juga kurang ngerti Nis. Kalau kamu bisa kerja. Coba cari kerja ya Nak. Mama bakal tetap usahaiin kirimin kamu uang bulanan. Tapi kamu juga harus tahu biar bisa jaga-jaga.”, ujar mamanya berusaha tenang.
“Anissa keluar saja. Kuliah mahal.”, ujar Anissa.
“Jangan Nak. Tetap kuliah. Mama bakal usahain, Nak. Jangan hancurkan masa depanmu.”, seketika telepon putus.
Anissa melihat handphonenya. Baterai hpnya habis.
Dia merebahkan badannya di kasur. Dia tidak berniat menelepon balik.
Dia membiarkan hpnya di charge tapi Ia tidak mau menghidupkannya.
Pikirannya sangat kacau.
Yo, sekarang kamu di mana? Aku takut..
Setitik air mata jatuh di pipi Anissa. Dia hanya ingin bertemu pria itu dan menceritakan semua kesulitannya.
Tapi angin tidak selalu bertiup ke arah yang sama, ombak lautpun memiliki pasang surutnya. Keluarga Anissa terkena dampak krisis moneter terparah di Indonesia saat itu. Dan alhasil, hal tersebut membawa mereka pada kebangkrutan. Yang tersisa hanyalah rumah tempat mereka tinggal. Ayah dan Ibu Anissa justru akur kembali setelah peristiwa itu. Selalu ada berkah di tengah musibah.
Anissa telah berada di Jakarta pada saat krisis moneter itu. Dia sedang menempuh kuliahnya. Hingga sebuah telepon pada siang Sabtu itu. Saat Anissa sedang merapikan pakaiannya. Kembali membuyarkan segala mimpinya yang pelan-pelan di susun kembali.
“Mama, kenapa? Kenapa mama nangis?”, suara Anissa panik.
“Nis, kamu masih punya tabungan tidak? Semuanya masih cukupkan?”, tanya mamanya.
“Masih ma. Kenapa sih? “, tanya Anissa mulai gusar.
Suara hening seketika. Tidak ada jawaban dari mamanya. Anissa menatap layar handphonenya. Masih tersambung.
“Halo. Ma? Mama masih dengar aku tidak? Halo??”, Anissa mencoba memperoleh respon mamanya.
“Kita bangkrut nak. Papamu tertipu oleh rekan bisnisnya.”, terdengar suara lemah dari seberang sana.
Apa?! Anissa tiba-tiba merasakan peluh dingin di seluruh badannya. Bangkrut? Kenapa? Apa yang harus dilakukannya sekarang?
“Di tipu atau karena krisis?”, Anissa tahu betul keadaan sekarang.
“Mama juga kurang ngerti Nis. Kalau kamu bisa kerja. Coba cari kerja ya Nak. Mama bakal tetap usahaiin kirimin kamu uang bulanan. Tapi kamu juga harus tahu biar bisa jaga-jaga.”, ujar mamanya berusaha tenang.
“Anissa keluar saja. Kuliah mahal.”, ujar Anissa.
“Jangan Nak. Tetap kuliah. Mama bakal usahain, Nak. Jangan hancurkan masa depanmu.”, seketika telepon putus.
Anissa melihat handphonenya. Baterai hpnya habis.
Dia merebahkan badannya di kasur. Dia tidak berniat menelepon balik.
Dia membiarkan hpnya di charge tapi Ia tidak mau menghidupkannya.
Pikirannya sangat kacau.
Yo, sekarang kamu di mana? Aku takut..
Setitik air mata jatuh di pipi Anissa. Dia hanya ingin bertemu pria itu dan menceritakan semua kesulitannya.
Diubah oleh anism 12-08-2017 19:55
0