- Beranda
- Stories from the Heart
2.5 Tahun Tinggal di Rumah Setan
...
TS
wonwon.islami
2.5 Tahun Tinggal di Rumah Setan
2.5 Tahun Tinggal di Rumah Setan
Narator
Cerita ini fakta, bukan imajinasi atau cerita sekedar mencari sensasi.
Cerita ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan kisah “4 Tahun tinggal dirumah hantu” milik akun kaskus Pijar88. Tapi jujur alasan untuk menceritakan cerita ini terinspirasi dari kisah tersebut.
Berawal dari sore itu, ketika suamiku, sebut saja Anjas, mengajak kencan berkeliling mataram, tidak sengaja melewati salah satu jalan yang semua orang tau namanya (tapi tidak akan disebutkan tepatnya), dijalan itulah kami melewati sebuah rumah, dengan pohon mangga besar lebat dihalamannya, tidak banyak yang dapat dilihat mengingat tembok pembatasnya sangat tinggi seakan membatasi diri dari dunia luar (agak lebay dikit).
Disitulah awal Anjas mengingat sebuah waktu dan menceritakan kepadaku, kisah yang pernah dia alami dirumah itu, kisah yang menurut seorang penakut sepertiku adalah kisah yang sangat mengerikan sekaligus sangat sayang untuk tidak diceritakan kembali dalam bentuk tulisan seperti ini. Sekali lagi ini kisah nyata, kisah dari seorang anak kos yang demi mendapat tempat tinggal gratis harus rela berbagi rumah dengan penghuni alam lain.
Pertengahan Tahun 2008
“Njas, udah dapet kos?”, siang itu Fajri sengaja mendatangi Anjas menanyakan hal serupa yang dia sudah tanyakan pada 6 orang temannya yang lain.
“Belum, ini lagi nyari. Kamu udah? Jangan yang deket2 kampus, biar gak mahal” jawab Anjas.
“Bagus, Pas deh” ucap Fajri berseri,bersyukur sekali Anjas belum mendapat kos, dia melanjutkan dengan tidak sabar “Ini saya ada rumah, mau tinggal disana?”
“Rumah? rumahmu? Dimana? Patungan berapa?” tanya Anjas
“ Slow..slow bro,, iya rumah, bukan rumah saya, rumah temen…GRATIS” Cengir Fajri
“serius bro? “ ucap Anjas,
“Hayok nah kalogitu saya bonceng, kita ngomong ma yang punya aja dah langsung biar pasti” ucap Fajri, “Untung dah kamu belum dapet Njas, capek saya Tanya yang lain udah pada dapet kos semua. Jadi gak ada temen” lanjutnya. “Saya udah liat rumahnya, gak jauh-jauh amat si dari kampus. Rumah lama, tinggal dibersihin dikit aja” ocehnya, Anjas hanya mendengar saja tidak memperhatikan tapi senang luar biasa, dia tidak harus menyisihkan tabungan nya untuk bayar kos lagi, lumayan berhemat pikirnya.
Sesampai disana, rumah yang dimaksud Fajri tepat dipinggir jalan raya kecil pinggir kali, cukup ramai lalu lintasnya. Tembok rumahnya besar dan ada sekitar 2 meter sekat sebagai pintu gerbangnya. Pintu gerbangnya agak berderit nyaring ketika dibuka, begitu masuk tidak ada yang aneh dari penampakan rumah ini, halaman nya lumayan luas untuk menampung beberapa motor, dan ada pohon mangga besar tepat ditengah halamannya, rumahnya bertipe kuno ala-ala belanda, dengan jendela panjang abu-abu disisi kanan rumah yang sedikit kotor tidak terawat. Tidak buruk pikir Anjas hanya saja kesan pertama yang dirasakannya untuk rumah ini adalah sunyi. Terlalu sunyi. Padahal persis didepan rumah ini jalan raya yang ramai dilalui pengendara. Entah itu kesan pertama karena rumah ini sudah lama tidak dihuni, atau memang ada sesuatu yang lain pada rumah itu, yang jelas bulu kuduk Anjas sedikit meremang.
Narator
Cerita ini fakta, bukan imajinasi atau cerita sekedar mencari sensasi.
Cerita ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan kisah “4 Tahun tinggal dirumah hantu” milik akun kaskus Pijar88. Tapi jujur alasan untuk menceritakan cerita ini terinspirasi dari kisah tersebut.
Berawal dari sore itu, ketika suamiku, sebut saja Anjas, mengajak kencan berkeliling mataram, tidak sengaja melewati salah satu jalan yang semua orang tau namanya (tapi tidak akan disebutkan tepatnya), dijalan itulah kami melewati sebuah rumah, dengan pohon mangga besar lebat dihalamannya, tidak banyak yang dapat dilihat mengingat tembok pembatasnya sangat tinggi seakan membatasi diri dari dunia luar (agak lebay dikit).
Disitulah awal Anjas mengingat sebuah waktu dan menceritakan kepadaku, kisah yang pernah dia alami dirumah itu, kisah yang menurut seorang penakut sepertiku adalah kisah yang sangat mengerikan sekaligus sangat sayang untuk tidak diceritakan kembali dalam bentuk tulisan seperti ini. Sekali lagi ini kisah nyata, kisah dari seorang anak kos yang demi mendapat tempat tinggal gratis harus rela berbagi rumah dengan penghuni alam lain.
Pertengahan Tahun 2008
“Njas, udah dapet kos?”, siang itu Fajri sengaja mendatangi Anjas menanyakan hal serupa yang dia sudah tanyakan pada 6 orang temannya yang lain.
“Belum, ini lagi nyari. Kamu udah? Jangan yang deket2 kampus, biar gak mahal” jawab Anjas.
“Bagus, Pas deh” ucap Fajri berseri,bersyukur sekali Anjas belum mendapat kos, dia melanjutkan dengan tidak sabar “Ini saya ada rumah, mau tinggal disana?”
“Rumah? rumahmu? Dimana? Patungan berapa?” tanya Anjas
“ Slow..slow bro,, iya rumah, bukan rumah saya, rumah temen…GRATIS” Cengir Fajri
“serius bro? “ ucap Anjas,
“Hayok nah kalogitu saya bonceng, kita ngomong ma yang punya aja dah langsung biar pasti” ucap Fajri, “Untung dah kamu belum dapet Njas, capek saya Tanya yang lain udah pada dapet kos semua. Jadi gak ada temen” lanjutnya. “Saya udah liat rumahnya, gak jauh-jauh amat si dari kampus. Rumah lama, tinggal dibersihin dikit aja” ocehnya, Anjas hanya mendengar saja tidak memperhatikan tapi senang luar biasa, dia tidak harus menyisihkan tabungan nya untuk bayar kos lagi, lumayan berhemat pikirnya.
Sesampai disana, rumah yang dimaksud Fajri tepat dipinggir jalan raya kecil pinggir kali, cukup ramai lalu lintasnya. Tembok rumahnya besar dan ada sekitar 2 meter sekat sebagai pintu gerbangnya. Pintu gerbangnya agak berderit nyaring ketika dibuka, begitu masuk tidak ada yang aneh dari penampakan rumah ini, halaman nya lumayan luas untuk menampung beberapa motor, dan ada pohon mangga besar tepat ditengah halamannya, rumahnya bertipe kuno ala-ala belanda, dengan jendela panjang abu-abu disisi kanan rumah yang sedikit kotor tidak terawat. Tidak buruk pikir Anjas hanya saja kesan pertama yang dirasakannya untuk rumah ini adalah sunyi. Terlalu sunyi. Padahal persis didepan rumah ini jalan raya yang ramai dilalui pengendara. Entah itu kesan pertama karena rumah ini sudah lama tidak dihuni, atau memang ada sesuatu yang lain pada rumah itu, yang jelas bulu kuduk Anjas sedikit meremang.
symoel08 dan 66 lainnya memberi reputasi
47
529.8K
1.1K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
wonwon.islami
#82
Sosok Wanita
“Saya harus pastikan motormu udah dirumah baru berani balik…heheee” Kata Fajri pada Anjas yang barusaja masuk lewat pintu depan ruang tamu.
Dia melongo melihat Anjas yang dengan wajah pucat bolak-balik menatap Fajri yang asli dihadapannya dan seseorang yang “tadi” Dia lihat dikamar tidur Fajri.
“Woi, Njas,…kamu kenapa…” Ucapnya
“Nggak,,,gak kenapa-kenapa…” Jawab Anjas, Dia tidak mau Fajri memikirkan yang aneh-aneh. Dia melemparkan HP milik Fajri padanya.
“Bilang apa tadi..?” Tanya Anjas, Fajri yang masih kurang yakin dengan jawaban Anjas tadi melongok masuk kekamarnya, mengecek apa ada sesuatu yang aneh, dan setelah merasa aman berbalik menatap Anjas dan menjawab “ Saya kabur keluar tadi,,,ngerokok diluar…” Jawabnya “tadi pas nelpon kamu itu, “dia” muncul..” ucapnya.
“Dia..? siapa…? Eh, maksudnya yang mana….?” Tanya Anjas,
“Cewek, serem…oh iya, ntar Fatoni mau dateng main, mau nginep juga…, gak papa kan…” lanjutnya,
“Oh oke, gak apa-apa….” Kata Anjas, “ trus nampakin gimana..? kamu lihat langsung…?” lanjutnya
Wajah Fajri langsung pucat sambil menatap lorong kamar mandi, “Jangan dibahas sekarang deh…ntar pas rame-rame aja..”
“Oh gitu,Lukman belum pulang?” Tanya Anjas,
“Belum, Bapaknya sakit jadi gak pasti bisa pulang kapan..” jawab Fajri
Mereka mengobrol diruang tengah, berhubung TV belum ada, mereka memilih menyalakan radio lewat HP mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.45 ketika pintu gerbang terdengar ada yang membuka. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu depan, dan muncul Fatoni.
“Assalamualaikum broh-brooh,,,,” sapanya sambil melepas tas punggungnya dilantai dan ikut duduk disamping Anjas, “Apa kabarmu Njas,,,,” Ujarnya.
Sebentar saja mereka bertiga hanyut dalam obrolan panjang sampai mereka tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 23.15…Fatoni memang asyik diajak ngobrol, banyak sekali cerita-cerita lucu yang dia ceritakan, yang bikin ngakak sampai tertawa terbahak-bahak.
PRAAANNNNKKKKKKKKK
Tiba-tiba suara kaca pecah yang sangat mengejutkan, membuat kaget mereka bertiga. Hening, kemudian mereka saling tatap.
“Coba liat Njas,maling mungkin…” bisik Toni
Anjas beranjak ke ruang tamu, dan kembali 5 menit kemudian dan mengatakan tidak ada yang aneh diruang depan.
Mereka kembali duduk dan melanjutkan obrolan, namun dengan suara yang agak pelan kali ini. Mereka sepakat bahwa mungkin suara terbahak-bahak mereka sedikit berlebihan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 namun mata ketiga lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan rasa kantuk.
Masih dengan cerita lucu yang menemani malam itu, Anjas dan Fatoni membakar rokok masing-masing ditemani kacang rebus dan extra jos dingin yang dibeli Fajri di warung depan. Fajri yang tidak tahan minum banyak segera berlalu ke kamar mandi sementara yang dua lainnya melanjutkan candaan.
Tiba-tiba suara gedebug dari kamar mandi, disusul Fajri yang berlari kembali keruang tengah.
“Kamu kenapa ri…!” kata Fatoni,
“Gak ada, kepleset…” jawab Fajri yang dibalas tatap curiga oleh Anjas
“Giliran…” kata Fatoni yang sudah berdiri hendak ke kamar mandi sebelum ditahan oleh Fajri yang berkata “Baca doa dulu broh sebelum masuk..” katanya,
Fatoni yang belum betul-betul paham hanya ngeloyor masuk ke kamar mandi, Anjas menunggu Fajri duduk dan hendak bertanya pada Fajri apa gerangan yang barusan Dia lihat dikamar mandi, namun Fajri masih terlalu sibuk memperhatikan kamar mandi seakan menunggu sesuatu terjadi, dan benar saja baru sekitar 5 menit Toni didalam kamar mandi tiba-tiba pintu nya dibuka dengan sangat keras sampai hampir lepas dari tempatnya dan Toni tiba-tiba keluar dengan wajah putih pucat.
Jam saat itu menunjukkan pukul 00.15, mereka bertiga duduk membentuk lingkaran kecil, tidak lain tidak bukan sedang membicarakan yang barusaja terjadi.
“Apa yang ente lihat Ton…” desak Anjas, Dia yang paling bersemangat mengumpulkan informasi tentang penghuni rumah tua ini.
“Ada yang jongkok, diatas tempat air,,,,” Ujarnya masih pucat namun sudah terlihat tenang.
“Panjang rambut kan….sampe bawah kan rambutnya….” Tambah Fajri yang dibenarkan oleh Toni.
Mereka bertiga kembali menatap lorong antara kamar Anjas dan kamar mandi, seakan mereka dapat melihat wanita itu disana.
Akhirnya tanpa menunggu lama mereka memutuskan untuk tidur saja, kali ini mereka sepakat untuk tidur bertiga dikamar Lukman dan syukurnya tidak diganggu oleh pasukan kaki kecil.
Muncul Gangguan yang Lain..!
Gangguan demi gangguan dialami oleh Anjas dan Fajri, gangguan pasukan kaki kecil sudah dianggap hal yang biasa oleh mereka, karena mereka jarang mau menampakkan dirinya kecuali pada salah satu teman Anjas yang pernah menginap disana, kakinya pernah ditarik hingga terbangun dan sekilas melihat sosok kerdil yang sedang menarik kakinya dan langsung menghilang menyisakan kikik tawa khas anak kecil yang tetap mendirikan bulu roma.
Tapi anehnya, sosok wanita yang kerap kali memunculkan diri dri kamar mandi ini tidak pernah mau menunjukkan diri dihadapan Anjas, sedangkan Fajri sekali lagi berhasil terkejut luar biasa saat kuntilanak itu muncul tiba-tiba dibelakangnya saat Dia memasak mie didapur.
Yang spesial dari hantu-hantu dirumah ini adalah mereka tidak memilih waktu untuk mengganggu dan sekedar memunculkan diri walaupun hanya beberapa detik, kalau ada orang yang ingin sekali melihat hal beginian tanpa harus menunggu waktu malam mungkin sebaiknya mereka mencoba untuk tour sebentar saja dirumah ini.
Pernah ada rombongan teman Anjas dan Fajri yang entah mendengar dari siapa bahwa rumah yang mereka tinggali cukup horror.
Mereka berlima mencoba untuk menantang salah satu mahluk itu untuk menampakkan diri, namun ternyata mereka (mahluk halus) nya merasa tidak tertantang jika mereka dengan sengaja dicari. Karena begitu teman-teman Anjas itu masuk dan mencari-cari keberadaan mereka,hasilnya nihil. Bahkan sampai sore mereka menunggu namun sama sekali tidak ada yang muncul atau bahkan mengganggu.
Mungkin “mereka” merasa tidak suka jika sengaja dicari.
Fakta yang masih belum bisa dicerna oleh Anjas adalah bahwa “mereka” tidak pernah mau mengganggu Lukman. Bahkan ketika mereka bertiga (Anjas, Fajri dan Lukman) makan malam diruang tengah, dan dengan jelas telinga kanan Anjas disentil oleh si kaki kecil pun, saat itu Lukman tak bergeming. Tidak menunjukkan sama sekali bahwa Dia diganggu.
Sedikit demi sedikit Anjas menyadari bahwa mahluk-mahluk dirumah itu ada banyak jenis, tidak hanya si kaki kecil dan si wanita berambut panjang. Ada tambahan sosok baru itu diketahui Anjas setelah hampir 11 bulan lebih menempati rumah tua itu.
Saat itu bulan April dan sedang musim hujan. Saat itu yang ada dirumah hanya Anjas sendiri, Lukman masih dikampus sedangkan Fajri pamit pulang kekampung halamannya dengan alasan membantu administrasi adiknya yang baru mau masuk SMP.
Anjas sedang asyik mendengar radio di HP saat ada yang mengusik matanya, Dia melihat disudut langit-langit kamarnya ada menjuntai rambut. Awalnya hanya sedikit kemudian lama-lama Dia menyadari bahwa rambut itu seperti tumbuh dan memanjang. Saat itu juga Dia terpaku,antara penasaran dan ada rasa sedikit takut dalam dirinya.
Dia bangun dari tidurnya dan dengan posisi masih duduk diatas kasurnya Dia menatap rambut itu disudut langit-langit kamarnya. Rambut itu lama-lama menggumpal membentuk seperti kepala tapi menghadap tembok, dan..
Syyuuuuuttttt…kepala itu memutar dan menunduk menghadap Anjas…!
Dengan kemampuan luar biasa Anjas melompat langsung dari kasurnya dan keluar kamar berlari ke teras kamarnya.
“Saya harus pastikan motormu udah dirumah baru berani balik…heheee” Kata Fajri pada Anjas yang barusaja masuk lewat pintu depan ruang tamu.
Dia melongo melihat Anjas yang dengan wajah pucat bolak-balik menatap Fajri yang asli dihadapannya dan seseorang yang “tadi” Dia lihat dikamar tidur Fajri.
“Woi, Njas,…kamu kenapa…” Ucapnya
“Nggak,,,gak kenapa-kenapa…” Jawab Anjas, Dia tidak mau Fajri memikirkan yang aneh-aneh. Dia melemparkan HP milik Fajri padanya.
“Bilang apa tadi..?” Tanya Anjas, Fajri yang masih kurang yakin dengan jawaban Anjas tadi melongok masuk kekamarnya, mengecek apa ada sesuatu yang aneh, dan setelah merasa aman berbalik menatap Anjas dan menjawab “ Saya kabur keluar tadi,,,ngerokok diluar…” Jawabnya “tadi pas nelpon kamu itu, “dia” muncul..” ucapnya.
“Dia..? siapa…? Eh, maksudnya yang mana….?” Tanya Anjas,
“Cewek, serem…oh iya, ntar Fatoni mau dateng main, mau nginep juga…, gak papa kan…” lanjutnya,
“Oh oke, gak apa-apa….” Kata Anjas, “ trus nampakin gimana..? kamu lihat langsung…?” lanjutnya
Wajah Fajri langsung pucat sambil menatap lorong kamar mandi, “Jangan dibahas sekarang deh…ntar pas rame-rame aja..”
“Oh gitu,Lukman belum pulang?” Tanya Anjas,
“Belum, Bapaknya sakit jadi gak pasti bisa pulang kapan..” jawab Fajri
Mereka mengobrol diruang tengah, berhubung TV belum ada, mereka memilih menyalakan radio lewat HP mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul 20.45 ketika pintu gerbang terdengar ada yang membuka. Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu depan, dan muncul Fatoni.
“Assalamualaikum broh-brooh,,,,” sapanya sambil melepas tas punggungnya dilantai dan ikut duduk disamping Anjas, “Apa kabarmu Njas,,,,” Ujarnya.
Sebentar saja mereka bertiga hanyut dalam obrolan panjang sampai mereka tidak sadar waktu sudah menunjukkan pukul 23.15…Fatoni memang asyik diajak ngobrol, banyak sekali cerita-cerita lucu yang dia ceritakan, yang bikin ngakak sampai tertawa terbahak-bahak.
PRAAANNNNKKKKKKKKK
Tiba-tiba suara kaca pecah yang sangat mengejutkan, membuat kaget mereka bertiga. Hening, kemudian mereka saling tatap.
“Coba liat Njas,maling mungkin…” bisik Toni
Anjas beranjak ke ruang tamu, dan kembali 5 menit kemudian dan mengatakan tidak ada yang aneh diruang depan.
Mereka kembali duduk dan melanjutkan obrolan, namun dengan suara yang agak pelan kali ini. Mereka sepakat bahwa mungkin suara terbahak-bahak mereka sedikit berlebihan. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 namun mata ketiga lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan rasa kantuk.
Masih dengan cerita lucu yang menemani malam itu, Anjas dan Fatoni membakar rokok masing-masing ditemani kacang rebus dan extra jos dingin yang dibeli Fajri di warung depan. Fajri yang tidak tahan minum banyak segera berlalu ke kamar mandi sementara yang dua lainnya melanjutkan candaan.
Tiba-tiba suara gedebug dari kamar mandi, disusul Fajri yang berlari kembali keruang tengah.
“Kamu kenapa ri…!” kata Fatoni,
“Gak ada, kepleset…” jawab Fajri yang dibalas tatap curiga oleh Anjas
“Giliran…” kata Fatoni yang sudah berdiri hendak ke kamar mandi sebelum ditahan oleh Fajri yang berkata “Baca doa dulu broh sebelum masuk..” katanya,
Fatoni yang belum betul-betul paham hanya ngeloyor masuk ke kamar mandi, Anjas menunggu Fajri duduk dan hendak bertanya pada Fajri apa gerangan yang barusan Dia lihat dikamar mandi, namun Fajri masih terlalu sibuk memperhatikan kamar mandi seakan menunggu sesuatu terjadi, dan benar saja baru sekitar 5 menit Toni didalam kamar mandi tiba-tiba pintu nya dibuka dengan sangat keras sampai hampir lepas dari tempatnya dan Toni tiba-tiba keluar dengan wajah putih pucat.
Jam saat itu menunjukkan pukul 00.15, mereka bertiga duduk membentuk lingkaran kecil, tidak lain tidak bukan sedang membicarakan yang barusaja terjadi.
“Apa yang ente lihat Ton…” desak Anjas, Dia yang paling bersemangat mengumpulkan informasi tentang penghuni rumah tua ini.
“Ada yang jongkok, diatas tempat air,,,,” Ujarnya masih pucat namun sudah terlihat tenang.
“Panjang rambut kan….sampe bawah kan rambutnya….” Tambah Fajri yang dibenarkan oleh Toni.
Mereka bertiga kembali menatap lorong antara kamar Anjas dan kamar mandi, seakan mereka dapat melihat wanita itu disana.
Akhirnya tanpa menunggu lama mereka memutuskan untuk tidur saja, kali ini mereka sepakat untuk tidur bertiga dikamar Lukman dan syukurnya tidak diganggu oleh pasukan kaki kecil.
Muncul Gangguan yang Lain..!
Gangguan demi gangguan dialami oleh Anjas dan Fajri, gangguan pasukan kaki kecil sudah dianggap hal yang biasa oleh mereka, karena mereka jarang mau menampakkan dirinya kecuali pada salah satu teman Anjas yang pernah menginap disana, kakinya pernah ditarik hingga terbangun dan sekilas melihat sosok kerdil yang sedang menarik kakinya dan langsung menghilang menyisakan kikik tawa khas anak kecil yang tetap mendirikan bulu roma.
Tapi anehnya, sosok wanita yang kerap kali memunculkan diri dri kamar mandi ini tidak pernah mau menunjukkan diri dihadapan Anjas, sedangkan Fajri sekali lagi berhasil terkejut luar biasa saat kuntilanak itu muncul tiba-tiba dibelakangnya saat Dia memasak mie didapur.
Yang spesial dari hantu-hantu dirumah ini adalah mereka tidak memilih waktu untuk mengganggu dan sekedar memunculkan diri walaupun hanya beberapa detik, kalau ada orang yang ingin sekali melihat hal beginian tanpa harus menunggu waktu malam mungkin sebaiknya mereka mencoba untuk tour sebentar saja dirumah ini.
Pernah ada rombongan teman Anjas dan Fajri yang entah mendengar dari siapa bahwa rumah yang mereka tinggali cukup horror.
Mereka berlima mencoba untuk menantang salah satu mahluk itu untuk menampakkan diri, namun ternyata mereka (mahluk halus) nya merasa tidak tertantang jika mereka dengan sengaja dicari. Karena begitu teman-teman Anjas itu masuk dan mencari-cari keberadaan mereka,hasilnya nihil. Bahkan sampai sore mereka menunggu namun sama sekali tidak ada yang muncul atau bahkan mengganggu.
Mungkin “mereka” merasa tidak suka jika sengaja dicari.
Fakta yang masih belum bisa dicerna oleh Anjas adalah bahwa “mereka” tidak pernah mau mengganggu Lukman. Bahkan ketika mereka bertiga (Anjas, Fajri dan Lukman) makan malam diruang tengah, dan dengan jelas telinga kanan Anjas disentil oleh si kaki kecil pun, saat itu Lukman tak bergeming. Tidak menunjukkan sama sekali bahwa Dia diganggu.
Sedikit demi sedikit Anjas menyadari bahwa mahluk-mahluk dirumah itu ada banyak jenis, tidak hanya si kaki kecil dan si wanita berambut panjang. Ada tambahan sosok baru itu diketahui Anjas setelah hampir 11 bulan lebih menempati rumah tua itu.
Saat itu bulan April dan sedang musim hujan. Saat itu yang ada dirumah hanya Anjas sendiri, Lukman masih dikampus sedangkan Fajri pamit pulang kekampung halamannya dengan alasan membantu administrasi adiknya yang baru mau masuk SMP.
Anjas sedang asyik mendengar radio di HP saat ada yang mengusik matanya, Dia melihat disudut langit-langit kamarnya ada menjuntai rambut. Awalnya hanya sedikit kemudian lama-lama Dia menyadari bahwa rambut itu seperti tumbuh dan memanjang. Saat itu juga Dia terpaku,antara penasaran dan ada rasa sedikit takut dalam dirinya.
Dia bangun dari tidurnya dan dengan posisi masih duduk diatas kasurnya Dia menatap rambut itu disudut langit-langit kamarnya. Rambut itu lama-lama menggumpal membentuk seperti kepala tapi menghadap tembok, dan..
Syyuuuuuttttt…kepala itu memutar dan menunduk menghadap Anjas…!
Dengan kemampuan luar biasa Anjas melompat langsung dari kasurnya dan keluar kamar berlari ke teras kamarnya.
sirluciuzenze dan 12 lainnya memberi reputasi
13