- Beranda
- Stories from the Heart
Hidup, Kerja, Mati
...
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati
YANG TERBUANG
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Selamat Membaca
INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anak86come
#22
BAB IV
Akhirnya masa-masa Aku merasakan suasana tempat kerja baru telah tiba, sejak subuh Aku sudah bersiap diri menatap hal baru ditempat baru. Aku merasa senang karena akan melewati perjalanan yang belum pernah Aku lewati selama ini. Suara bagian informasi terdengar dengan cepat dan seringnya, distasiun kereta inilah Aku berdiri, sangat padat orang yang punya tujuannya masing-masing. Aku masih mempelajari jalur-jalur, stasiun-stasiun yang akan Aku lewati.
Jeesss….
Suara commuterline melepaskan remnya menandakan akan segera bergerak, penuh dan sesak yang kurasakan saat didalam commuterline, berbagai aroma tubuh tercium sampai Aku tidak dapat lagi mencerna bau-bau yang ada disekitarnya. Pintu tertutup rapat, jendela pun demikian, hembusan angin dingin menerpa tubuhku meski orang-orang menyebutnya AC namun Aku tidak merasakan AC yang sebenar-benarnya.
Bunyi klakson saling bersahut-sahutan, Aku melambaikan tangan kanan agar semua pengemudi kendaraan berkenan memberikan Aku kesempatan untuk menyeberang. Orang-orang banyak yang berlarian untuk mengejar waktu agar tidak telat masuk kerja, para pedagang masih bersemangat menyelesaikan pesanan-pesanan konsumennya yang antri berbaris-baris, tukang ojek tetap semangat menjajakan jasanya, dan Aku pun sibuk berlari dari sisi jalan satu ke sisi jalan lain. Akhirnya sampai ditempat tujuan, baju sudah penuh peluh keringat.
“mudah-mudahan berjalan lancar hari pertama kerja” batinku.
Pintu lift terbuka dilantai 25, dan Aku pun melangkahkan kaki keluar dari lift langsung menuju kantor baruku, tanpa kusadari ternyata Dedy sudah ada disana menunggu kehadiranku.
“apa kabar Lex?” Tanya dedy
“baik Pak Ded” jawabku
“silahkan pak Alex, ikuti saya, akan saya kenalkan ke teman-teman kantor yang ada disini, kurang lebih jumlah karyawan disini kurang lebih 30 orang” ujar dedy
“baik pak, gk terlalu sulit menghapal 30 orang” jawabku untuk mencairkan suasana.
Setelah selesai perkenalan, akhirnya Aku duduk ditempat yang sudah ditentukan, si prakas yang notabene menjadi atasanku mulai memberikan tugas-tugas yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat dan beberapa outstanding yang sudah lama tak terselesaikan dengan baik. Aku sedikit kaget sih karena banyak pekerjaan yang sebenarnya bisa mudah terselesaikan tapi kenapa tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dan akhirnya Aku tahu penyebabnya, ya penyebabnya adalah karena atasanku sendiri, aneh…memang aneh… tapi rejeki sudah ada yang ngatur bukan.
Aku sepenuhnya belum sangat terbiasa bekerja ditempat baru karena disinilah Aku murni menggunakan transportasi umum, dahulu Aku bekerja selalu menggunakan kendaraan pribadi, namun kini menggunakan kendaraan umum, dimana Aku harus berbagi tempat ke penumpang-penumpang lain, dan ini sangat terasa manusiawi-nya meskipun terkadang kita hidup penuh ketidakmanusiawian.
“Lex…?” ucapnya.
Kutengok sambil sedikit memicingkan mata mencari sumber suara.
“woy… Lex” ucapnya kedua kali.
“ohh… Paul… naik kereta juga?” jawabku.
(dengan senyum-seyum) si Paul membalas pertanyaanku.
Ya Paul adalah salah satu karyawan ditempat kerjaku yang baru, ternyata kami berdua naik kereta yang searah yang sama.
“emang tinggal dimana kau Paul?” tanyaku.
“disana Jombang, gw turun di stasiun Sudimara bro” jawabnya.
“ohh… orang sana juga, (sambil cengar-cengir)” ucapku.
Syukur deh ditempat kerja baru Aku akhirnya punya teman dikantor baru sekaligus arah pulang yang searah, so kalau ada apa-apa kan enak jadinya.
Hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan tetap berjalan lancar sebagaimana mestinya dan Aku pun menikmatinya, so far so good lah dikantor ini, meskipun ada beberapa case yang sedikit rumit dikarenakan sisa-sisa kerjaan yang belum pernah terselesaikan.
Namun yang Aku heran adalah kenapa Aku harus mempunyai atasan seperti si Prakas ini, secara penampilannya sih cukup meyakinkan, namun dari segi ilmu dan wawasan hhmmm… agak jauh dari yang diharapkan sih. Tapi gk masalah sih kan Aku kerja untuk diriku, keluargaku sendiri dan bukan untuk dia.
Bersambung….
0