- Beranda
- Stories from the Heart
BULLET
...
TS
User telah dihapus
BULLET
Bullet - minus personality [ fiksi | thriller ]
Satu lokasi, satu korban, satu luka, satu nyawa, satu peluru, nol tersangka.
Di saat ini siapapun orangnya tak akan ada yang begitu sangat peduli dengan sebuah angka satu, hanya sebuah angka dengan nilai terkecil di depan nol.
Hanya saja saat 'satu' itu menjadi lebih dari cukup untuk merenggut sebuah nyawa, maka tak ada seorang pun yang meremehkan keberadaannya lagi.

* FYI, keseluruhan cerita ini belum tertulis sama sekali,
jadi bukan maksud mengulur-ngulur update tapi memang tergantung situasi & kondisi.
* Kesamaan cerita terhitung sangat kebetulan, kecuali beberapa yang tercantum referensinya.
Satu lokasi, satu korban, satu luka, satu nyawa, satu peluru, nol tersangka.
Di saat ini siapapun orangnya tak akan ada yang begitu sangat peduli dengan sebuah angka satu, hanya sebuah angka dengan nilai terkecil di depan nol.
Hanya saja saat 'satu' itu menjadi lebih dari cukup untuk merenggut sebuah nyawa, maka tak ada seorang pun yang meremehkan keberadaannya lagi.
Spoiler for Konten cerita:

Quote:
[ ??? ] - [ Raka ] - [ Lintang ] - [ ??? ] - [ Ratna ] - [ ??? ]
Quote:
Chapter 00
Chapter 01
- masa lalu Raka dan awal mula permasalahan.
Chapter 02
- kasus penembakkan ke-10 dan mimpi buruk Raka.
Chapter 03
- obrolan panjang tentang pemuda yang sudah mati.
Chapter 04
- obrolan berlanjut, membuka sisi gelap seorang Raka.
Chapter 05
- tiga tahun seusai kematian.
- kasus pembulian yang menelan korban nyawa.
Chapter 06
- jawaban Raka.
Chapter 01
- masa lalu Raka dan awal mula permasalahan.
Chapter 02
- kasus penembakkan ke-10 dan mimpi buruk Raka.
Chapter 03
- obrolan panjang tentang pemuda yang sudah mati.
Chapter 04
- obrolan berlanjut, membuka sisi gelap seorang Raka.
Chapter 05
- tiga tahun seusai kematian.
- kasus pembulian yang menelan korban nyawa.
Chapter 06
- jawaban Raka.
* FYI, keseluruhan cerita ini belum tertulis sama sekali,
jadi bukan maksud mengulur-ngulur update tapi memang tergantung situasi & kondisi.
* Kesamaan cerita terhitung sangat kebetulan, kecuali beberapa yang tercantum referensinya.
Quote:
Q :nggak lanjut cerita lama aja? genre sama.. A : nggak, ntar niatnya cerita lama sekalian ane tamatin di cerita ini.
Q : baca dari kiri ke kanan nggak? A : ya, kalo dibaca terbalik maknanya berubah jadi teori bumi kotak dan rencana konspirasi rahasia penguasaan dunia. eeekk..
Q : baca dari kiri ke kanan nggak? A : ya, kalo dibaca terbalik maknanya berubah jadi teori bumi kotak dan rencana konspirasi rahasia penguasaan dunia. eeekk..
Diubah oleh User telah dihapus 21-08-2017 18:23
anasabila memberi reputasi
1
1.8K
Kutip
7
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
User telah dihapus
#4
Spoiler for chapter 02:
"aku nggak bawa motor sendiri, jadi kayaknya aku tetep di sini buat berjaga-jaga.. sekaligus memantau perkembangan tim penyelidik" kata Lintang panjang, kini dengan menggunakan kata aku sebagai ganti panggilan dirinya.
"jangan alasan, tugasmu bukan di sini.." balas seorang pria yang menjadi lawan bicara, tepat di depannya.
"ayolah, kasih aku kelonggaran... semalaman aku nggak tidur gara-gara harus mengurus dokumen budukan itu.. lagian kasus penembakan ini sama saja kayak 9 kasus sebelumnya, nggak akan ada petunjuk lain, semua variabelnya bakalan bernilai sama saja kayak pemeriksaan sebelum-sebelumnya" protes Lintang pada pria yang lebih tua darinya itu.
"jangan memulai, Lintang!" balas pria itu sangat serius dengan ucapannya.
"..........."
"aku tunggu di ruang rapat, siang ini" kata si pria brewokan itu singkat dan tegas.
"....kenapa? sudah lelah tampil di tv tanpa mengantongi satu nama pun 3 bulan ini??" balas Lintang melawannya.
"....kamu bukan satu-satunya yang sudah lelah karena kejadian ini" kata si pria itu lagi membalasnya.
"oh,bagus! lalu apa? mau membicarakan ini lagi dengan atasan, memeriksa jenis peluru yang digunakan pelaku, memeriksa waktu kematian, memperluas pencarian sampai keluar kota, begadang setiap malam memeriksa surat kesaksian dan mencocokkan dengan database kantor, lalu- lalu apa??" ujar Lintang melepaskan kekesalannya.
"......seperti itu lah pekerjaan kita" jawab si pria sebelumnya terdiam cukup lama mempertimbangkan kata-katanya.
"semuanya cuma akan berakhir dengan hasil yang sama.. dan sementara kita berdua melakukan hal sia-sia itu, seseorang di luar sana hanya perlu mencuci kaki-tangannya lalu pergi tidur semaunya" jawab Lintang menambahkan lagi.
"aku paham siatuasinya! jadi debatkan hal sesukamu di kantor nanti, bukan di depan rumah duka seperti ini"
"...." Lintang hanya diam seraya menjaga kontak matanya untuk tetap fokus ke arah pria di depannya itu.
"sebentar lagi tempat ini akan ramai oleh orang-orang dari media pemberitaan, aku tunggu kamu di mobil.. 5 menit" ujar si pria brewok kemudian pergi terlebih dahulu menuju mobilnya yang sedari tadi terparkir di tepi jalan.
....
"damn!!" umpat Lintang kesal saja setelah barusaja berhadapan dengan salah satu dari anggota kepolisian yang didatangkan ke sana.
kesal pula dengan hanya melihat mobil hitam yang berada jauh di depan menunggunya, Lintang pun memalingkan pandangannya ke arah berlawanan yang tak lain adalah mengarah ke rumah duka dari kasus tewasnya wali kota A sekaligus ayah dari Ratna, pagi ini.
tak diduganya pula Raka justru kebetulan batu saja keluar dari dalam sana.
"....yoh" panggil Lintang enteng saja dengan harapan Raka mampir menemuinya terlebih dahulu.
"apa nggak papa lu langsung pulang? mungkin Ratna lagi butuh orang di sampingnya sekarang.."
"keluarga besarnya sudah pada datang, teman dekatnya juga sudah banyak di sana.. aku ngerasa aneh jadi satu-satunya orang asing di dalam sana"
"...ahh"
"aku perhatiin kamu barusan sibuk sama salah satu dari mereka"
"....rekan kerja"
"dia jauh lebih tua darimu"
"di kepolisian umur itu nggak berpengaruh sama sekali.. tua-muda sama aja"
keduanya masih saling meniaga kontak mata mereka, terdiam sesaat setelah percakapan terakhir barusan. terlihat Raka punya lebih banyak hal yang ingin disampaikannya pada saat ini juga, namun agaknya dia tau kalau situasi dan waktunya sedang kurang tepat. sama halnya Lintang yang lebih kearah menahan beban stress di pikirannya.
"...jadi ini pekerjaanmu? orang dari kepolisian.." kata Raka biasa saja.
"mmh.." jawab Lintang tak sepenuhnya antusias saat temannya akhirnya tau apa pekerjaannya selama ini.
"aku turut berduka soal kematian korban.. bagaimanapun yang aku tau kamu cukup dekat dengan keluarga mereka"
"yah"
"kalau gitu tolong usahakan yang terbaik.. seseorang harus dihukum atas kejadian ini" kata Raka menyampaikan harapannya pada Lintang yang termasuk bertanggung jawab memngurus kasus penembakan tersebut.
"nggak usah diminta,sial!" balas Lintang tak peduli dengan permintaan Raka.
walau sebenarnya ia cukup senang Raka bisa berbicara banyak hari ini.
Raka pun pergi meninggalkan Lintang sendiri di depan pagar rumah Ratna selepas pembicaraan mereka berakhir barusan.
lima menit rasanya belum berlalu sepenuhnya semenjak si pria brewok yang berseragam polisi tadi menawari tumpangan mobil pada Lintang.
terlihat dari kejauhan mobil hitam tersebut masih menunggu Lintang di tepi jalan.
.
.
.
.
.
.
setelah keduanya terpisah saat masih di rumah Ratna tadi, Raka memutuskan untuk pulang ke tempatnya.
lima menit perjalanan pulang ke rumah tak terasa sudah berlalu, Raka yang tak punya kesibukan lain lagi memilih untuk menyendiri di kamarnya.
tak ingin seseorang tiba-tiba masuk lagi ke kamarnya, kali ini ia tak lupa untuk mengunci pintu kamarnya dari dalam.
terhitung 2 bulan sudah ia berada di kota ini, 2 bulan itu pula ia sudah menyewa tempat kecil ini sebagai tempat tinggalnya. Raka yang dikenal depresi tak pernah keluar dari tempatnya selama 1 bulan pertamanya. tak ada seorang pun yang paham, tak seorang pun yang tau alasan kenapa ia melakukannya, atau alasan kenapa ia bisa sampai berujung pada kondisinya pada saat itu.
bahkan sampai Lintang sekali pun selaku teman pertamanya di kota ini. disusul oleh kehadiran Ratna setelah Lintang mengenalkannya padanya karena ia punya kedekatan hubungan dengan ayah Ratna.
namun tetap saja Raka tak ingin membuka hati pada orang lain, tak bisa lebih tepatnya.
itulah kenapa ia tak pernah peduli dengan hal-hal yang terjadi di luaran sana.
bahkan sampai 9 orang penting di kota ini terbunuh secara mengenaskan pun tak ia hiraukan.
mati.. kematian.. baginya bukan hal baru. ratusan orang meninggal di rumah sakit di seluruh dunia setiap harinya, bahkan di jalanan maupun gedung-gedung besar masih bisa ditemukan.. 'bukankah itu hal biasa?' pikirnya.
biar kata mereka mati karena penyakit maupun mati karena terbunuh... mati adalah mati, sama saja menurutnya.
pikirannya tak pernah terbebani ketika ia mendengar 1 orang penting tewas setiap minggunya. di kota yang sama oleh pelaku yang diduga adalah sama.
baginya itu cuma bahan obrolan untuk orang awam setelah menontonnya melalui tv atau hanya sekedar menemukan link-nya di internet.
tak pernah dalam hidupnya ia kenganggap pemikiran semacam itu adalah benar, tidak setelah hari itu... hari yang ia harap tak pernah terjadi.
tapi di luar semua itu... di seberang batas kebosanannya..
ia justru menemukan kesenangannya dari hal kecil yang tak seberapa.. dari seseorang yang tak ia kenal siapa..
yaitu 1 video dongeng bergambar rutin yang dibawakan oleh seorang perempuan di internet setiap minggunya..
how simple.
"................................."
sunyi senyap kondisi kamarnya semenjak ia memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur.
.
.
.
-- Bukk!! ( bunyi benturan sikut Raka dengan tembok kamar )
hanya mimpi buruk di siang bolong rupanya, pasti cukup nyata jika sampai membuat Raka tak sadar mengayunkan tangannya dengan keras saat dalam kondisi tertidur barusan. cukup keras tangannya beradu hantam dengan tembok di samping tempat tidurnya membuat ia merasa sakit di area sikutnya untuk sementara waktu.
"....." Raka yang baru saja terbangun karena terkejut oleh mimpinya barusan masih tak sempat memikirkan apapun juga. jantungnya berdetak kencang layaknya sedang dalam situasi tegang. tak seperti biasanya, kepalanya juga pusing sebelah karena efek dari tidurnya yang kurang sempurna sejak kepulangannya dari rumah Ratna.
Didekatkannya kedua telapak tangannya ke hadapan matanya, hawa dingin dan keringat melapisi kedua telapak tangannya secara merata. takut, itulah yang berlanjut membuat tubuhnya merinding selama wajah bocah yang ada di dalam mimpinya kembali teringat dengan jelas di kepalanya.
"............" Raka dengan langkah yang perlahan pergi ke dapurnya setelah pusing di kepalanya mulai sedikit mereda. Satu gelas air putih ia harapkan bisa untuk menenangkan tubuhnya.
Ia pikir dirinya sudah tertidur sangat lama semenjak pulang tadi namun rupanya jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah tiga sore. betapa anehnya waktu berjalan menyesuaikan kondisi pikirannya yang sedang kacau saat ini.
'Let's just live! just one day..' sepotong lirik lagu yang sering ia nyanyikan kembali terngiang di kepalanya secara tiba-tiba tanpa ia ketahui kenapa.
.....
dua gelas air putih habis sudah diminumnya. tanpa menghiraukan apapun juga, Raka langsung kembali ke tempat tidurnya untuk beristirahat lagi setelahnya. matanya terpejam, sabar menunggu untuk terlelap kembali.
"jangan alasan, tugasmu bukan di sini.." balas seorang pria yang menjadi lawan bicara, tepat di depannya.
"ayolah, kasih aku kelonggaran... semalaman aku nggak tidur gara-gara harus mengurus dokumen budukan itu.. lagian kasus penembakan ini sama saja kayak 9 kasus sebelumnya, nggak akan ada petunjuk lain, semua variabelnya bakalan bernilai sama saja kayak pemeriksaan sebelum-sebelumnya" protes Lintang pada pria yang lebih tua darinya itu.
"jangan memulai, Lintang!" balas pria itu sangat serius dengan ucapannya.
"..........."
"aku tunggu di ruang rapat, siang ini" kata si pria brewokan itu singkat dan tegas.
"....kenapa? sudah lelah tampil di tv tanpa mengantongi satu nama pun 3 bulan ini??" balas Lintang melawannya.
"....kamu bukan satu-satunya yang sudah lelah karena kejadian ini" kata si pria itu lagi membalasnya.
"oh,bagus! lalu apa? mau membicarakan ini lagi dengan atasan, memeriksa jenis peluru yang digunakan pelaku, memeriksa waktu kematian, memperluas pencarian sampai keluar kota, begadang setiap malam memeriksa surat kesaksian dan mencocokkan dengan database kantor, lalu- lalu apa??" ujar Lintang melepaskan kekesalannya.
"......seperti itu lah pekerjaan kita" jawab si pria sebelumnya terdiam cukup lama mempertimbangkan kata-katanya.
"semuanya cuma akan berakhir dengan hasil yang sama.. dan sementara kita berdua melakukan hal sia-sia itu, seseorang di luar sana hanya perlu mencuci kaki-tangannya lalu pergi tidur semaunya" jawab Lintang menambahkan lagi.
"aku paham siatuasinya! jadi debatkan hal sesukamu di kantor nanti, bukan di depan rumah duka seperti ini"
"...." Lintang hanya diam seraya menjaga kontak matanya untuk tetap fokus ke arah pria di depannya itu.
"sebentar lagi tempat ini akan ramai oleh orang-orang dari media pemberitaan, aku tunggu kamu di mobil.. 5 menit" ujar si pria brewok kemudian pergi terlebih dahulu menuju mobilnya yang sedari tadi terparkir di tepi jalan.
....
"damn!!" umpat Lintang kesal saja setelah barusaja berhadapan dengan salah satu dari anggota kepolisian yang didatangkan ke sana.
kesal pula dengan hanya melihat mobil hitam yang berada jauh di depan menunggunya, Lintang pun memalingkan pandangannya ke arah berlawanan yang tak lain adalah mengarah ke rumah duka dari kasus tewasnya wali kota A sekaligus ayah dari Ratna, pagi ini.
tak diduganya pula Raka justru kebetulan batu saja keluar dari dalam sana.
"....yoh" panggil Lintang enteng saja dengan harapan Raka mampir menemuinya terlebih dahulu.
Chapter 02 .
"aku mau langsung pulang.. kamu lagi nggak butuh tumpangan kan sekarang?" tanya Raka saat sampai di gerbang depan rumah tepat berpapasan dengan Lintang di sana."apa nggak papa lu langsung pulang? mungkin Ratna lagi butuh orang di sampingnya sekarang.."
"keluarga besarnya sudah pada datang, teman dekatnya juga sudah banyak di sana.. aku ngerasa aneh jadi satu-satunya orang asing di dalam sana"
"...ahh"
"aku perhatiin kamu barusan sibuk sama salah satu dari mereka"
"....rekan kerja"
"dia jauh lebih tua darimu"
"di kepolisian umur itu nggak berpengaruh sama sekali.. tua-muda sama aja"
keduanya masih saling meniaga kontak mata mereka, terdiam sesaat setelah percakapan terakhir barusan. terlihat Raka punya lebih banyak hal yang ingin disampaikannya pada saat ini juga, namun agaknya dia tau kalau situasi dan waktunya sedang kurang tepat. sama halnya Lintang yang lebih kearah menahan beban stress di pikirannya.
"...jadi ini pekerjaanmu? orang dari kepolisian.." kata Raka biasa saja.
"mmh.." jawab Lintang tak sepenuhnya antusias saat temannya akhirnya tau apa pekerjaannya selama ini.
"aku turut berduka soal kematian korban.. bagaimanapun yang aku tau kamu cukup dekat dengan keluarga mereka"
"yah"
"kalau gitu tolong usahakan yang terbaik.. seseorang harus dihukum atas kejadian ini" kata Raka menyampaikan harapannya pada Lintang yang termasuk bertanggung jawab memngurus kasus penembakan tersebut.
"nggak usah diminta,sial!" balas Lintang tak peduli dengan permintaan Raka.
walau sebenarnya ia cukup senang Raka bisa berbicara banyak hari ini.
Raka pun pergi meninggalkan Lintang sendiri di depan pagar rumah Ratna selepas pembicaraan mereka berakhir barusan.
lima menit rasanya belum berlalu sepenuhnya semenjak si pria brewok yang berseragam polisi tadi menawari tumpangan mobil pada Lintang.
terlihat dari kejauhan mobil hitam tersebut masih menunggu Lintang di tepi jalan.
.
.
.
.
.
.
setelah keduanya terpisah saat masih di rumah Ratna tadi, Raka memutuskan untuk pulang ke tempatnya.
lima menit perjalanan pulang ke rumah tak terasa sudah berlalu, Raka yang tak punya kesibukan lain lagi memilih untuk menyendiri di kamarnya.
tak ingin seseorang tiba-tiba masuk lagi ke kamarnya, kali ini ia tak lupa untuk mengunci pintu kamarnya dari dalam.
terhitung 2 bulan sudah ia berada di kota ini, 2 bulan itu pula ia sudah menyewa tempat kecil ini sebagai tempat tinggalnya. Raka yang dikenal depresi tak pernah keluar dari tempatnya selama 1 bulan pertamanya. tak ada seorang pun yang paham, tak seorang pun yang tau alasan kenapa ia melakukannya, atau alasan kenapa ia bisa sampai berujung pada kondisinya pada saat itu.
bahkan sampai Lintang sekali pun selaku teman pertamanya di kota ini. disusul oleh kehadiran Ratna setelah Lintang mengenalkannya padanya karena ia punya kedekatan hubungan dengan ayah Ratna.
namun tetap saja Raka tak ingin membuka hati pada orang lain, tak bisa lebih tepatnya.
itulah kenapa ia tak pernah peduli dengan hal-hal yang terjadi di luaran sana.
bahkan sampai 9 orang penting di kota ini terbunuh secara mengenaskan pun tak ia hiraukan.
mati.. kematian.. baginya bukan hal baru. ratusan orang meninggal di rumah sakit di seluruh dunia setiap harinya, bahkan di jalanan maupun gedung-gedung besar masih bisa ditemukan.. 'bukankah itu hal biasa?' pikirnya.
biar kata mereka mati karena penyakit maupun mati karena terbunuh... mati adalah mati, sama saja menurutnya.
pikirannya tak pernah terbebani ketika ia mendengar 1 orang penting tewas setiap minggunya. di kota yang sama oleh pelaku yang diduga adalah sama.
baginya itu cuma bahan obrolan untuk orang awam setelah menontonnya melalui tv atau hanya sekedar menemukan link-nya di internet.
tak pernah dalam hidupnya ia kenganggap pemikiran semacam itu adalah benar, tidak setelah hari itu... hari yang ia harap tak pernah terjadi.
tapi di luar semua itu... di seberang batas kebosanannya..
ia justru menemukan kesenangannya dari hal kecil yang tak seberapa.. dari seseorang yang tak ia kenal siapa..
yaitu 1 video dongeng bergambar rutin yang dibawakan oleh seorang perempuan di internet setiap minggunya..
how simple.
"................................."
sunyi senyap kondisi kamarnya semenjak ia memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur.
.
.
.
Quote:
.....
"hei, kau yang di situ!? namamu Raka,kan??"
".........?"
"coba liat ini!" panggil seorang bocah laki-laki menunjukkan sebuah benda yang mirip dengan wadah keris sepanjang kurang lebih 30cm di hadapan Raka.
"hoi, mau apa kamu!? itu berbahaya!" balas Raka setengah menegurnya.
"berbahaya??? apanya yang berbahaya? kau bilang ini baik-baik saja kan,waktu itu?" jawab si bocah kecil mencabut benda itu dari sarung yang membungkusnya. dan benar saja kalau benda tersebut adalah sebuah keris hitam yang panjang.
"hoi!!? mau apa kamu!?? Riko!!!" Raka panik membentaknya keras sambil bergegas lari ke arah bocah bernama Riko itu, hendak merebut keris tajam tersebut dari tangannya.
"perutku sering sakit kalau aku menekan-nekan pusarku pakai jari tangan.. apa rasanya sama kalau pakai benda ini??"
"jangan!!" Raka berlari ke arah bocah itu dengan sekuat tenaga, namun aneh dirinya tak kunjung sampai untuk meraih tangan bocah itu.
"jawab aku,Raka! apa ini akan sakitt!!???" tanya Riko menyeringai dengan posisi keris ditangannya sudah siap menunjuk ke arah pusar perutnya sendiri.
"JANG- !!!"
"hei, kau yang di situ!? namamu Raka,kan??"
".........?"
"coba liat ini!" panggil seorang bocah laki-laki menunjukkan sebuah benda yang mirip dengan wadah keris sepanjang kurang lebih 30cm di hadapan Raka.
"hoi, mau apa kamu!? itu berbahaya!" balas Raka setengah menegurnya.
"berbahaya??? apanya yang berbahaya? kau bilang ini baik-baik saja kan,waktu itu?" jawab si bocah kecil mencabut benda itu dari sarung yang membungkusnya. dan benar saja kalau benda tersebut adalah sebuah keris hitam yang panjang.
"hoi!!? mau apa kamu!?? Riko!!!" Raka panik membentaknya keras sambil bergegas lari ke arah bocah bernama Riko itu, hendak merebut keris tajam tersebut dari tangannya.
"perutku sering sakit kalau aku menekan-nekan pusarku pakai jari tangan.. apa rasanya sama kalau pakai benda ini??"
"jangan!!" Raka berlari ke arah bocah itu dengan sekuat tenaga, namun aneh dirinya tak kunjung sampai untuk meraih tangan bocah itu.
"jawab aku,Raka! apa ini akan sakitt!!???" tanya Riko menyeringai dengan posisi keris ditangannya sudah siap menunjuk ke arah pusar perutnya sendiri.
"JANG- !!!"
-- Bukk!! ( bunyi benturan sikut Raka dengan tembok kamar )
hanya mimpi buruk di siang bolong rupanya, pasti cukup nyata jika sampai membuat Raka tak sadar mengayunkan tangannya dengan keras saat dalam kondisi tertidur barusan. cukup keras tangannya beradu hantam dengan tembok di samping tempat tidurnya membuat ia merasa sakit di area sikutnya untuk sementara waktu.
"....." Raka yang baru saja terbangun karena terkejut oleh mimpinya barusan masih tak sempat memikirkan apapun juga. jantungnya berdetak kencang layaknya sedang dalam situasi tegang. tak seperti biasanya, kepalanya juga pusing sebelah karena efek dari tidurnya yang kurang sempurna sejak kepulangannya dari rumah Ratna.
Didekatkannya kedua telapak tangannya ke hadapan matanya, hawa dingin dan keringat melapisi kedua telapak tangannya secara merata. takut, itulah yang berlanjut membuat tubuhnya merinding selama wajah bocah yang ada di dalam mimpinya kembali teringat dengan jelas di kepalanya.
"............" Raka dengan langkah yang perlahan pergi ke dapurnya setelah pusing di kepalanya mulai sedikit mereda. Satu gelas air putih ia harapkan bisa untuk menenangkan tubuhnya.
Ia pikir dirinya sudah tertidur sangat lama semenjak pulang tadi namun rupanya jam di dinding baru menunjukkan pukul setengah tiga sore. betapa anehnya waktu berjalan menyesuaikan kondisi pikirannya yang sedang kacau saat ini.
'Let's just live! just one day..' sepotong lirik lagu yang sering ia nyanyikan kembali terngiang di kepalanya secara tiba-tiba tanpa ia ketahui kenapa.
.....
dua gelas air putih habis sudah diminumnya. tanpa menghiraukan apapun juga, Raka langsung kembali ke tempat tidurnya untuk beristirahat lagi setelahnya. matanya terpejam, sabar menunggu untuk terlelap kembali.
0
Kutip
Balas