Sedikit cepat hingga beberapa minggu setelahnya, gue dan Risma jadi kian deket, tapi jika kalian anggap hubungan kita selanjutnya adalah seperti orang berpacaran normal seharusnya, jawabanya adalah salah! ada banyak hal yang kemudian gak bisa kita lakuin sama2, semua karena ketiadaan waktu yang dimiliki Risma, entah mungkin hidupnya hanya untuk bekerja! bahkan untuk menyediakan sedikit waktunya buat gue yang notabene pacarnya sendiri dia masih harus perlu mempertimbangkan, satu2nya waktu yang gue miliki adalah ketika mengunjunginya di tokonya, selebihnya dia tak bisa memerankan peran yang sama itu di tempat lain
Dia seperti menjadi pribadi asing yang sama sekali tak gue kenali, jadi apa gunanya kita dipertemukan lagi jika semuanya hanya akan menjadi seperti ini, merasa hampir menyerah! akhirnya gue mencoba untuk mengajaknya bicara, dari pembicaraan ini gue harapkan dapat menemukan kesamaan tujuan yang memang sama2 kita inginkan berdua, tapi sepertinya negosiasi itu berjalan cukup alot, kalian pasti dapat perkirakan, dua orang yang memiliki watak dan ego yang sama dengan tingkat keras kepala yang juga hampir sama, saat kemudian mereka duduk bersama apakah akan menghasilkan sesuatu? tapi mungkin hari itu kita sedikit beruntung bahwa kita akhirnya dapat menyelesaikanya
Quote:
Gue : Awalnya aku senang dapat bertemu lagi denganmu Ris, tapi aku merasa benar2 tak tau lagi gimana caramu menghargai aku sebagai pacarmu, apakah kamu sudah benar melakukanya dan sepantasnya? selama ini kamu justru hampir gak pernah mempunyai waktu hanya sekedar untuk kita bicara, tuntutan pekerjaan yang menjadi alasanmu untuk menghindariku! jujur awalnya aku menginginkan hubungan serius denganmu Ris, tapi dengan kamu terus selalu menghindar begini apakah itu bisa membuatku masih mempercayaimu! apakah kita memang benar2 memiliki tujuan yang sama, jika kamu memang merasa bahwa aku ini pacarmu! setidaknya buatlah aku sedikit berguna, mintalah bantuanku untuk mengurus sesuatu yang tak bisa kamu selesaikan sendiri, jangan semuanya harus kamu kerjakan sendiri! sudah cukup dengan beban yang sudah selama ini kamu tanggung, jadi ijinkanlah aku membantu, ijinkanlah aku untuk turut campur
Risma : Jadi kamu keberatan! yaudah silahkan tinggalkan saja aku jika kamu tak lagi bisa mempercayaiku, carilah orang lain yang bisa memberikanya untukmu! hanya karena kita dekat, bukan berarti kamu bisa bebas mengaturku, aku belum berkewajiban untuk selalu menuruti keinginanmu, dan sebaliknya kamu juga masih belum bertanggung jawab atas hidupku, jadi karena kita masing2 belum terikat sesuatu, kedepan seharusnya kita akan baik2 saja kan? tentang bantuan yang kamu tawarkan! sudah kujelaskan kan itu bukan menjadi kewajibanmu memberikanya, selama aku masih bisa mengusahakanya sendiri pasti tak akan ada masalah! karena aku sudah terbiasa seperti ini, sebelum kamu hadir pun, sebelum kamu bisa memberikan bantuanmu, aku telah berhasil membantu diriku sendiri, telah tumbuh hingga sampai sebesar ini, bertahan hidup, dan berhasil memperoleh pendidikan adalah karena usahaku sendiri, bukan karena atas pemberianmu, jadi berhenti berperan seakan kamu orang penting yang telah banyak merubahku! orang yang lebih tau segalanya tentangku! karena sebenernya kamu belumlah cukup benar2 mengenalku
Gue : Baiklah! sebelum pembicaraan ini akan berkesimpulan terlalu jauh, akan ku sederhanakan saja apa yang sebenernya menjadi keinginanku, aku hanya menutut waktu kebersamaan denganmu Ris yang memang sangat jarang bisa kudapatkan, apakah salah jika memintanya darimu, apa yang membuatmu begitu keberatan untuk mengabulkanya! oke jika masalahnya hanya karena materi, mungkin aku bisa berikan! mulai dari sekarang kamu bisa berhenti kerja! aku masih sanggup mencukupinya untukmu, bagaimanapun kamu hanyalah seorang wanita Ris, yang kodratmu nanti hanya akan menjadi seorang ibu dari anak2mu, tak usah terlalu keras memperlakukan dirimu, karena bukanlah kamu nanti yang sepantasnya berjuang keras atas nafkah dan menanggung beban kerja, kodrat kamilah sebagai laki2 yang akan memberikanya, jika bukan aku yang sanggup memberikanya! mungkin akan ada orang lain nanti yang dapat memberikanya untukmu, aku yakin semua laki2 didunia ini juga pasti akan setuju dan berpikiran sama denganku
Risma : Apakah sebelumnya aku pernah memintamu turut campur urusanku? aku bekerja bukan semata2 hanya tuntutan hidup, tapi juga karena aku senang melakukanya, sebenernya apa yang tercela dari pekerjaanku hingga kamu begitu memandangnya rendah, bukankah semua pekerjaan apapun itu selama itu halal! bukankah sudah cukup! jangan pernah mengukur pekerjaan orang dengan standartmu sendiri, iya memang kamu sekarang lebih beruntung dariku, bekerja di perusahaan ternama dan memiliki gaji yang besar, beserta segala akses kemudahan yang dapat selalu kamu peroleh, tumbuh dibesarkan di lingkungan berada oleh orang tua yang mengutamakan pendidikan, selalu tercukupi segala fasilitas dan materi, apa itu pantas kamu bandingkan denganku?
Risma : Aku yang dari sejak awal terlahir memiliki nasib yang kurang beruntung dengan segala keterbatasan yang kumiliki, jika bukan aku sendiri yang merubahnya! memang siapa yang akan memberikan itu padaku? jika bukan aku yang mengusahakan untuku sendiri lalu memang aku harus memintanya dari siapa? sedang aku hanya tahu bahwa waktu tak akan pernah berbaik hati untuk bisa menungguku siap, jika aku tak terus maju kedepan aku pasti akan jauh tertinggal, kamu pikir siapa yang dapat menjamin itu? orang tuaku? bukan! aku hanya berkesempatan mengenal mereka sampai usiaku baru belasan, sampai aku tamat dari SMP, selebihnya aku hanyalah gadis yatim piatu yang tak beruntung memiliki kesempatan untuk dapat berbakti dan sedikit memberi kebanggaan untuk mereka, aku terpaksa berjuang keras demi mengidupi diriku, memenuhi setiap kebutuhan, sambil juga aku mesti harus menempa diriku dengan berbagai pengetahuan
Risma : Supaya apa? karena jika sewaktu2 aku berkesempatan bertemu lagi denganmu, aku telah pantas dan tak akan mengecewakanmu! tapi mungkin salahku juga yang terlalu yakin untuk bisa menjadi pilihan yang pantas buatmu, sedang aku tak pernah menyadari latar belakang kita yang berbeda, sampai kapanpun sepertinya hubungan kita akan sulit terwujud, sebenarnya aku hanya mengharapkan dukungan darimu, bukan dalam bentuk apa2, tapi dorongan moril untuku dapat berusaha dengan caraku sendiri, aku hanya perlu ijin dan pengertianmu
Gue : (Memeluknya yang ketika itu telah menangis) Maaf Ris! jika semua ini karena salahku, karena telah membangkitkan lagi kenangan lamamu! sekarang aku yakin bahwa kamu memang satu2nya yang terpantas untukku, beri aku sebuah kesempatan lagi untuk dapat lebih mengenalmu! terima kasih bahwa selama ini kamu masih setia menungguku! berikutnya aku tak akan lagi membatasimu, silahkan lakukan apa yang hendak ingin kamu lakukan, aku akan mendukungnya!
Risma : Sebenernya kamu tak harus melakukan apapun untukku, aku hanya memintamu untuk bersabar! hanya sampai ketika aku nanti telah lulus wisuda, sementara itu biarkan aku untuk berusaha sendiri, akan kubuktikan padamu bahwa sangat membanggakan memiliki aku disisimu, sementara ini biarkan aku untuk tetap bekerja! bukan semata2 untuk mengejar materi tapi juga bekalku nanti ketika memasuki dunia pendidikan sebagai seorang pengajar, aku hanya minta satu tahun padamu dan tak akan lebih, karena aku tahu begitu aku telah mencapai cita2ku, aku akan meninggalkan semua pekerjaanku disini
Gue : Selama masa itu! dapatkah kita masih selalu berhubungan Ris, satu tahun akan terasa lama bagiku, aku khawatir ketika kita pada akhirnya bertemu lagi nanti, kita akan menjadi pribadi yang berbeda lagi dan tak saling mengenal, aku tak ingin itu terulang
Risma : Jangan khawatir, 13 tahun aku masih setia menunggumu bukankah itu suatu bukti bahwa aku tak pernah ingkar janji, jadi kamu ingin aku membuktikan apalagi? seandainya hatiku dapat kugadaikan, apa boleh kujaminkan padamu biar buat kamu percaya?
Gue : Bukankah baru kemaren juga kejadianya! dan berjalan tak sesuai dengan kendalimu, kamu bahkan tak dapat mengenaliku lagi setelah sekian lama, jadi apakah aku harus berharap lagi hal yang sama! jadi kali ini apa yang menurutmu bisa membedakanya dari yang dulu
Risma : Tak seperti dulu yang hanya masing2 dari kita yang tahu tentang hubungan kita, saat ini telah banyak yang mengetahuinya baik Nuri, Ibu pemilik toko juga semuanya, jadi aku tak mungkin bisa menghindar dari semua kenyataan itu, bahkan jika disuatu saat seandai nya aku berkeinginan untuk pergi dan meninggalkanmu, itu akan justru menjadi nilai buruk bagiku di depan mereka, bagaimanapun hubungan kita jika suatu saat dapat bersatu, itu semua adalah atas harapan mereka, sedang aku tak punya kuasa ataupun niat untuk dapat mengecewakan siapapun, jika kamu masih tak percaya kamu boleh memasang jerat padaku, jika kamu masih khawatir aku akan lari dan tak menepati janji
Gue : Baiklah aku percaya padamu! sini ulurkan tanganmu (melingkarkan sebuah cincin di jari manisnya) dengan ini aku telah selesai menandaimu Ris, bahwa kehidupan dan kebahagiaanmu dimasa depan adalah menjadi milikku, akulah kelak yang pantas mendampingi disisimu, memang ini bukanlah sebuah benda yang berharga yang dapat kuberikan tapi semoga dapat menyenangkanmu, dengan inilah aku berusaha untuk membuktikan keseriusanku tentang hubungan ini, bolehkah aku menunjukmu sebagai salah satu perwalian malaikat-Nya di dunia yang dapat selalu menjaga dan menjauhkanku dari perbuatan khufur atas nikmat, menjaga syahwatku dari berbuat zina, dan juga sebagai penyempurna amal ibadahku, Novarisma Alfianti binti ****** bersediakah kamu menjadi istriku
Risma : Jika aku masih memiliki sebuah pilihan, aku tak akan menjadi cukup bodoh untuk bisa menolaknya, sudah pasti jawabanku adalah iya Gri! ya aku bersedia menjadi Istrimu, kesempatan untuk dapat hidup bersamamu tak akan begitu saja dapat kulewatkan, terima kasih karena telah memilihku, aku akan berusaha juga nanti untuk tak mengecewakan
Gue : Terima kasih! mungkin tadi bisa kamu sebut sebagai lamaran pribadiku sebelum nanti kita menuju ke tahap yang selajutnya, sementara ini untuk satu tahun dari sekarang, sampai saat kita akan benar2 menikah, apakah aku boleh menuntut janji setia darimu Ris! sebelumnya juga aku ingin memastikan! masihkah ada anggota keluargamu yang bisa menjadi walimu, soalnya ini sangat diperlukan untuk pengurusan berkas di KUA
Risma : Kenapa aku merasa bahwa sepertinya kamu telah cukup berpengalaman tentang ini, mungkinkah kecurigaanku benar Gri? bahwa di waktu sebelumnya kamu telah berpengalaman menikah Gri? Ah! sungguh bodoh! kenapa aku tak lebih dulu memastikanya! jika ternyata benar! beri aku alasan untuk dapat menerimamu, aku ingin tahu siapa orang pertama yang telah berhasil kamu nikahi itu, tentang wali sepertinya gak ada seorangpun kini yang dapat menjadi waliku, satu2nya keluargaku yang tersisa adalah Ibu2 yang dulu sempat berkenalan denganmu di rumah sakit, tapi sekarang beliau juga telah wafat
Gue : Kalau boleh jujur! sebenernya aku memang sempat mau menikah Ris! dan calonya adalah orang yang sebelumnya pernah kamu kenal, Astri! apakah kamu masih mengingatnya? salah satu teman wanitaku dulu selain yang dulu sakit dan dirawat sepertimu, memang waktu itu tak berhasil karena mungkin kami memang tak ditakdirkan berjodoh, selain itu sebelum ini juga sebenarnya aku pernah tersangkut kasus pidana, sempat menjalani masa tahanan hingga beberapa bulan, jadi dengan orang sepertiku ini Ris! masihkah kira2 kamu yakin untuk menerimaku?
Gue : Maafkan aku sebelumnya! memang salahku karena terlambat memberitahumu, dulu aku lebih memilih untuk tetap merahasiakan darimu, karena aku khawatir setelah kamu tahu yang sebenernya tentangku, kemudian kamu akan mempermasalahkan nya! tapi kalau sudah terlanjur begini ya mau apa lagi, semua kuserahkan padamu baik dan buruknya, jika kamu mau berubah pikiran setelahnya, tentu saja tak apa2, aku dapat mengerti!
Risma : Gak Gri! walau aku cukup menyayangkan bahwa kebenaran ini baru terlambat kuketahui, tapi aku tidak ada pilihan untuk menolakmu, aku tahu pasti ada alasan untuk dulu kamu melakukanya, aku percaya bahwa kamu bukanlah orang yang seperti itu, yang akan bertindak tanpa sebuah alasan, ohya! aku benar2 lupa tentang mereka! Aning dan Astri ya? pasti sesuatu yang buruk ya yang dulu membuat mereka hingga meninggalkanmu? bagaimana khabar mereka sekarang? apakah mereka telah hidup bahagia? bolehkah aku menemui mereka lagi!
Gue : Tentu saja Ris! mana bisa aku melarangmu, insyaallah mereka telah bahagia masing2, kapan saja kamu punya waktu senggang mari kita kesana!
Risma : Besok aku kemungkinan bisa! kebetulan jadwal kuliahku libur, untuk kerjaan bisalah nanti menyesuaikan, akan kucoba ambil ijin dulu, mereka masih menetap disini aja kan? gak diluar kota karena aku hanya dapat ijin selama sehari aja
Gue : Iya masih disekitaran sini aja, dan jika kamu gak keberatan sekalian besok akan kuperkenalkan dengan calon walimu nanti, karena atas permintaan seseorang menyuruhku membawamu kesana
Risma : Siapa Gri? masih keluarga dekat?
Gue : Bukan! ntar kamu juga pasti tahu sendiri, jadinya besok acaranya gimana? rada siangan aja aku ketempat kerjamu atau gimana?
Risma : Gimana jika kamu sekalian juga bolos besok! agak pagian aja kamu jemput langsung ke kostku, bisa?
Gue : Bisa! gak masalah, tapi emang boleh aku kesana Ris? soalnya kata Nuri dulu dia gak pernah kamu ijinin namu ke rumah, terlebih kamu juga hanya sendirian! takut aja tentang anggapan tetanggamu nanti
Risma : Tentu saja boleh! udah gak pa2 kok disana bebas, kamu emang siapa aku sih? tentu saja kamu berhak mendapat kespesialan itu, takut? lhah emang kita mau ngapain disana? kamu cuman namu aja kan gak mau niat macem2, yaudah pokoknya besok pagi aku tunggu, dan jangan telat!
Keesokan paginya gue menepati janji gue ke Risma, setengah 8 pagi tepat gue sudah berada di sekitaran rumah kostnya, sedikit tanya2 ke orang disana akhirnya diberitahukan alamat tepat rumahnya, ternyata jalan menuju kesana cukup sempit, hanya dapat dilewati satu sepeda motor, ibarat jika ada dua orang yang berjalan dari arah berlawanan, berikutnya mereka harus rela berjalan miring karena super sempitnya akses, setelah gue sampai di alamat rumah tersebut, kedatangan gue segera disambut oleh seseorang yang kemudian gue kenal bernama Mbak Mamik, dia menanyakan maksud kedatangan gue kesana
Quote:
Mbak Mamik : Nyari siapa Mas? dan ada perlu apa?
Gue : Risma nya ada Mbak, kemaren udah janjian mau keluar
Mbak Mamik : Disini gak ada yang namanya Risma Mas! masnya salah alamat paling
Gue : Oh maaf! mungkin kalau Nova mbaknya kenal?
Mbak Mamik : Nova! ciri2nya bagaimana? dan sampean ini siapanya?
Gue : Anaknya berjilbab, dan kerjanya di ******** saya kenalanya mbak!
Mbak Mamik : Ada memang yang namanya Nova disini ! dan kebetulan kerjanya juga disana! tapi setahu saya dia gak pernah berjilbab dirumah, coba ciri2 yang lain mungkin ada?
Gue : Oh! sepertinya dia punya tahi lalat di ujung hidungnya Mbak
Mbak Mamik : Bener berarti! tapi kok aneh! seperti bukan dia yang biasanya, jadi sudah berani ya sekarang dia bawa tamu cow ke rumah, percuma juga sok2 an suci di depan kita. kalau kepepet dan ada maunya mah pada akhirnya juga terpaksa!
Gue : Maaf Mbak! maksudnya apa ya?
Mbak Mamik : Eh gak kok Mas! gak ada apa2, mau dipanggilin aja sekarang anaknya Mas?
Gue : Iya Mbak! jika Mbaknya gak keberatan! kalau gak! biar saya nunggu aja dulu gak pa2
Tak lama kemudian muncul Risma yang telah keluar dari kamarnya, tampaknya juga telah bersiap
Quote:
Risma : Yah seperti inilah gubuku Gri! mungkin terkesan jorok dan kotor ya, tapi buatku ini sudah yang paling sempurna untuk dapat kutinggali, memang belum pantas dan selayaknya tapi aku sudah cukup nyaman dengan keadaan seperti ini setiap harinya, gimana? langsung aja kita berangkat sekarang! atau mau duduk2 ngobrol dulu
Gue : Langsung aja Ris!
Risma : Oh yaudah! btw ini apa yang mesti kubawa, mau namu ke rumah orang, kan gak enak kalau cuman dengan tangan kosong!
Gue : Udah gak perlu bawa apa2, cukup kita hadir aja mereka pasti udah seneng
Berikutnya gue ajak Risma untuk mampir dulu kesebuah rumah makan untuk sarapan, sengaja gue pilih tempat agak jauh dari tempat tinggalnya, di tempat yang sama yang dulu pernah gue pake buat ribut dengan Irfan, hingga gue juga hampir aja kehilangan Aning disana
Quote:
Gue : Kita cari sarapan dulu Ris, dari rumah tadi belum sarapan soalnya, kamu juga pasti lapar kan?
Risma : Yah! kenapa gak langsung aja sih? masih jam segini nanggung! lapar mah masih bisa kutahan, sekalian aja nanti dobel pas makan siang, biasanya juga sehari2nya gitu dan gak ada masalah
Gue : Kalau begitu! kali ini aku memaksa! terlebih sebenernya ada yang sengaja mau aku omongin juga ke kamu
Risma : Tentang apa? apa hari ini aku udah buat salah! apa penampilanku kurang sepantasnya?
Gue : Bukan tentang itu, tapi tentang tempat tinggalmu! aku hanya kurang nyaman aja jika kamu masih tinggal disana, lingkunganya sepertinya agak gimana menurutku, pokoknya gak pantes aja untuk orang seperti kamu masih tinggal disana, kok bisa sih kamu dulu betah tinggal disana? dan lagi kata Mbak Mamik tadi kamu kalau dirumah gak pernah kenakan hijab ya, apa ada alasanya?
Risma : Ya mau bagaimana lagi Gri! itu adalah satu2nya tempat terdekat dengan kerjaanku, dan lagi itu juga sebenernya bukan aku sendiri yang cari, aku sudah sejak lama disana mengikuti tanteku, orang yang telah merawatku dulu, lingkungan yang bagaimana maksudmu? iya memang ada beberapa banyak mereka yang tinggal disana berprofesi semacam itu, tapi selama aku tak terpengaruh bukanya gak masalah, aku masih bisa jaga diri kok! dan lagi aku kan jarang ada di rumah, sebagian waktuku sering habis di tempat kerja atau gak kuliah, ibaratnya aku hanya pulang untuk menginap saja disana, jadi tak perlu kamu khawatir berlebihan, tentang jilbab! kuakui aku sering menanggalkanya ketika dirumah, bukan karena apa2 cuman aku sungkan aja jika terus mengenakanya sedang di lingkungan yang demikian
Gue : Jika begitu! kalau seandainya aku dapat menyediakan tempat yang layak untukmu tinggal sementara, mungkinkah kamu mau mempertimbangkan nya lagi Ris, karena aku gak bisa rela melihatmu tinggal disana lebih lama lagi, tentu karena aku khawatir! mungkin kekhawatiranku sementara belum terjadi tapi bukankah lebih baik kita mencegah dari pada terlanjur, sekali ini saja ijinkan aku membantu Ris, tinggal disana tak akan banyak membantumu dalam hal apapun, setidaknya pikirkan juga tentang kuliahmu, sebentar lagi kamu akan lulus wisuda dan sedang menghadapi skripsi, tinggal disana hanya akan mengganggu konsentrasimu dalam belajar, kamu gak ingin kan gagal tahun ini, jadi percayalah padaku! aku hanya mengupayakan dan menginginkan yang terbaik untukmu, tak akan pernah aku tega membiarkanmu dalam kesulitan
Risma : Aku tahu bahwa niatmu baik, tapi aku tetap gak bisa menerimanya Gri, aku gak mau merepotkan siapapun dalam hal ini, aku juga gak mau berhutang budi ke orang, jadi biarkan aku tetap tinggal disana ya selama gak ada masalah
Gue : Kalau aku tetap memaksa! kamu mau bagaimana Ris? tolong pertimbangkan lagi! setidaknya pandanglah aku sebagai orang yang khawatir tentang keadaanmu, jika sesuatu hal terjadi padamu nanti disana! aku tak akan pernah bisa maafin diriku sendiri karena tak bisa melindungimu, jadi mohon kerja samanya! jangan buat aku selalu khawatir!
Risma : Baiklah! untuk saat ini aku malas berdebat! aku akan menurut aja kali ini