- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
87K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#491
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Spoiler for Part 51: Pisau Dapur yang Melayang:
Niat Sandra terhenti karena teringat bahwa tetangga Amanda ada di belakangnya. Di saat bersamaan pula, Sandra juga merasa energi nether berada di belakangnya. Gadis pemburu hantu menoleh ke belakang. Di belakangnya adalah Emmy Merah menyeringai lebar dan langsung lenyap di udara. Hawa nethernya pun juga langsung hilang.
Erik mengamati semua yang menghubungkan bagian dalam dan luar rumah. Jika melalui pintu, mau tidak mau harus menghancurkannya. Emmy Merah sudah menguncinya. Kesempatan lain yaitu dua buah jendela. Terdapat tralis di masing-masing jendela. Tralis-tralis itu dikunci oleh gembok. Untungnya sistem penguncian pada jendela hanya menggunakan grendel. Berarti ada dua kemungkinan.
Tidak banyak bicara lagi, Amanda segera memusatkan konsentrasinya ke gembok kecil. Karena Amanda berusaha mengkonsentrasikan pengendalian esnya ke tingkat molekul, prosesnya butuh satuan menit. Pengendalian es ke tingkat molekul sangat perlu untuk menghancurkan besi seperti gembok.
Selagi Amanda berkonsentrasi, mata Erik menangkap dua buah benda yang berkilauan. Benda itu muncul dan melayang dari dapur. Erik memicingkan matanya untuk mengamati benda yang muncul dari kegelapan itu. Kelihatannya seperti pisau tapi tidak logis jika pisau melayang sendiri.
Meski Erik mengangguk, Sandra menangkap keraguan dan ketakutan di mata pemburu vampire itu. Sandra tidak berkomentar apapun. Dia hanya menyalurkan energi nether ke tangan, kaki dan mata Erik. Agar Erik mampu melihat dan melukai hantu yang mendatanginya. Pisau melayang semakin mendekat untuk mencincang para pemburu vampire.
Berkat aliran nether dari Sandra, Erik bisa melihat hantu yang mendekat. Meski samar-samar dan sedikit kabur, secara keseluruhan wujud si hantu mirip dengan deskripsi Sandra. Wajar karena dia tidak memiliki Eyes of Ghost Dimension seperti milik Sandra dan anggota Departemen Investigasi Supernatural. Terutama mukanya yang seperti badut. Hantu bergaun merah berhenti sesaat, selama lima detik, kemudian melaju mendekati Erik dengan kecepatan tinggi.
Erik yang menyadari bahaya langsung siaga. Menggunakan tumpuan kaki kirinya, berputar dan menendang hantu tepat dimuka. Emmy Merah terlempar dan mendarat di meja tamu. Erik tidak menambah serangannya. Dia tetap berdiri di tempat karena tugasnya bukan mengalahkan hantu itu melainkan menjaga Amanda sebisa mungkin. Baru kali ini Erik mengalami tiga puluh detik rasa tiga puluh menit.
Emmy Merah bangkit dan mencoba menyerang Erik bertubi-tubi. Ilmu bela diri Erik bisa menepis dan menahan sebagian besar tusukannya. Tangan dan kaki Erik tergores sedikit. Dia saat momen yang pas, Erik menangkap lengan kiri Emmy Merah, melapisi tangan kanannya dengan listrik-nether dan meninju leher Emmy Merah. Emmy Merah mundur beberapa langkah dan lumpuh sesaat. Memanfaatkan momen ini, Erik menciptakan listrik-nether tak terlihat di udara. Emmy Merah merangsek lagi dan langsung terpantul begitu menyentuh tameng listrik-nether. Tameng medan listrik-nether yang dipasang Erik membuat Emmy Merah terhempas dan menjerit kesakitan. Erik memaksa dirinya untuk tenang. Walau musuhnya tidak memiliki kemampuan bertarung, Erik mencoba untuk tidak meremehkan lawannya.
Emmy Merah tiba-tiba menghilang di udara. Dua pisaunya dijatuhkannya ke lantai. Hawa nethernya pun juga hilang tak berbekas. Bahkan Sandra yang sensitif terhadap energi nether pun tidak merasakannya.
Erik membiarkan tangannya digenggam oleh Sandra. Selagi mengalirkan energi nether, Erik mengawasi keadaan sekitar. Hantu itu bisa muncul kapanpun dan dimanapun. Atau jika Emmy Merah lebih cerdas sedikit, dia akan muncul di tempat yang bisa membunuh Amanda dengan mudah. Bisa dari bawah meja, dari balik sofa, dari pojokan pintu atau dari ...
Erik mendongak ke atas dan dia melihat sosok hantu badut kecil bermuka merah. Emmy Merah terjun dari langit-langit rumah yang tinggi. Cakar-cakarnya yang berwarna merah, tajam dan mengerikan siap mencongkel mata Amanda. Erik mendorong Amanda hingga kepala gadis itu terbentur pegangan pintu. Tidak sempat menyerang, Emmy Merah berhasil mencakar bahu Erik. Erik berusaha menyerang balik, namun rasa sakit memecah konsentrasinya sehingga pukulannya hanya mendarat di udara. Dari sela-sela jendela, Sandra melayangkan tinju apinya ke kepala belakang Emmy Merah. Hantu itu melesat beberapa langkah dengan bagian rambut belakang yang terbakar. Lagi-lagi hantu itu menghilang.
Mereka segera melanjutkan pekerjaan. Hanya butuh lima belas detik untuk Amanda. Setelah pembekuan molekul selesai, Erik mengumpulkan listrik biru di tangan dan memukul gembok. Gembok itu retak sedikit demi sedikit hingga rontok ke lantai. Amanda membuka tralis dan akhirnya Sandra berhasil masuk.
Erik bergidik ngeri membayangkan makhluk itu. Seorang humanoid berkepala ular muncul dari kedalaman sungai dan langsung menyemburkan racun ke muka Sandra. Selama ini Erik hanya tahu vampire, werewolf dan penyihir. Bahkan sebelumnya dia tidak tahu bahwa gurunya adalah mantan raja dari kisah rakyat Inggris. Dunia ini ternyata sangat luas. Tuhan pun menciptakan makhluk setengah ular.
Ketika mereka bertiga menyentuh lantai dua, terdengar suara ketukan di pintu depan. Mereka pun saling berpandangan. Bertanya-tanya bagaimana jika Emmy Merah mengelabui mereka lagi.
Quote:
“Sial!!” Sandra menggebrak pintu dengan tinjunya.
“Ada apa, Kak?” tanya Erik dari dalam.
“Yang barusan bukan tetangga Amanda,” jawab Sandra dari luar, “Tapi si licik Emmy Merah yang berusaha memecah belah kita.”
“Tunggu, Kak Sandra. Kita juga memiliki orang licik,” kata Amanda yang melirik Erik.
“Ketahuilah, aku tidak terlalu berguna jika menghadapi hantu,” kata Erik, “Aku tidak bisa mengendalikan nether.”
“Gunakan otakmu, Erik! Kau kan murid Leon!”
“Iya, iya! Beri aku waktu satu menit!” kata Erik.
“Bagaimanapun caranya, jangan menjauh dari pintu!” kata Sandra, “Jika kita terpisah, maka akan membuat Emmy Merah senang!”
“Ada apa, Kak?” tanya Erik dari dalam.
“Yang barusan bukan tetangga Amanda,” jawab Sandra dari luar, “Tapi si licik Emmy Merah yang berusaha memecah belah kita.”
“Tunggu, Kak Sandra. Kita juga memiliki orang licik,” kata Amanda yang melirik Erik.
“Ketahuilah, aku tidak terlalu berguna jika menghadapi hantu,” kata Erik, “Aku tidak bisa mengendalikan nether.”
“Gunakan otakmu, Erik! Kau kan murid Leon!”
“Iya, iya! Beri aku waktu satu menit!” kata Erik.
“Bagaimanapun caranya, jangan menjauh dari pintu!” kata Sandra, “Jika kita terpisah, maka akan membuat Emmy Merah senang!”
Erik mengamati semua yang menghubungkan bagian dalam dan luar rumah. Jika melalui pintu, mau tidak mau harus menghancurkannya. Emmy Merah sudah menguncinya. Kesempatan lain yaitu dua buah jendela. Terdapat tralis di masing-masing jendela. Tralis-tralis itu dikunci oleh gembok. Untungnya sistem penguncian pada jendela hanya menggunakan grendel. Berarti ada dua kemungkinan.
Quote:
“Ada dua cara agar Kak Sandra bisa masuk. Yaitu menghancurkan pintu atau menghancurkan gembok pada tralis ini. Pilih yang ...”
“Hancurkan gemboknya!” perintah Amanda dan Sandra bersamaan.
“Aku tidak mau dibunuh orang tuaku gara-gara menghancurkan pintu!” tambah Amanda.
“Bagaimana caranya?” tanya Sandra.
“Gunakan es Amanda tentunya. Kemudian biar kuhantam dengan listrik biru,” jawab Erik.
“Hancurkan gemboknya!” perintah Amanda dan Sandra bersamaan.
“Aku tidak mau dibunuh orang tuaku gara-gara menghancurkan pintu!” tambah Amanda.
“Bagaimana caranya?” tanya Sandra.
“Gunakan es Amanda tentunya. Kemudian biar kuhantam dengan listrik biru,” jawab Erik.
Tidak banyak bicara lagi, Amanda segera memusatkan konsentrasinya ke gembok kecil. Karena Amanda berusaha mengkonsentrasikan pengendalian esnya ke tingkat molekul, prosesnya butuh satuan menit. Pengendalian es ke tingkat molekul sangat perlu untuk menghancurkan besi seperti gembok.
Selagi Amanda berkonsentrasi, mata Erik menangkap dua buah benda yang berkilauan. Benda itu muncul dan melayang dari dapur. Erik memicingkan matanya untuk mengamati benda yang muncul dari kegelapan itu. Kelihatannya seperti pisau tapi tidak logis jika pisau melayang sendiri.
Quote:
“Erik ... tetap tenang!!” teriak Sandra dari luar rumah yang juga melihat pisau melayang, “Kau akan menghadapi si gadis bergaun merah. Hantu yang baru saja memisahkan kita. Tetap tenang, Erik!! Demi Amanda dan adiknya... oke?? Tetap tenang!!”
Meski Erik mengangguk, Sandra menangkap keraguan dan ketakutan di mata pemburu vampire itu. Sandra tidak berkomentar apapun. Dia hanya menyalurkan energi nether ke tangan, kaki dan mata Erik. Agar Erik mampu melihat dan melukai hantu yang mendatanginya. Pisau melayang semakin mendekat untuk mencincang para pemburu vampire.
Quote:
“Tahan dia!” kata Sandra, “Sampai Amanda berhasil merusak molekul gembok!”
“Dua hingga tiga menit, Rik,” kata Amanda.
“Dua hingga tiga menit, Rik,” kata Amanda.
Berkat aliran nether dari Sandra, Erik bisa melihat hantu yang mendekat. Meski samar-samar dan sedikit kabur, secara keseluruhan wujud si hantu mirip dengan deskripsi Sandra. Wajar karena dia tidak memiliki Eyes of Ghost Dimension seperti milik Sandra dan anggota Departemen Investigasi Supernatural. Terutama mukanya yang seperti badut. Hantu bergaun merah berhenti sesaat, selama lima detik, kemudian melaju mendekati Erik dengan kecepatan tinggi.
Quote:
“Jangan takut, Erik!” Sandra memotivasi, “Bayangkan saja kau saat ini sedang melawan vampire!”
“Jalang!” umpat Erik ketika hantu itu melompat dan berusaha menhunjamkan pisau ke kepala Erik, “Kau bukan bidangku, jalang berbaju merah!”
“Jalang!” umpat Erik ketika hantu itu melompat dan berusaha menhunjamkan pisau ke kepala Erik, “Kau bukan bidangku, jalang berbaju merah!”
Erik yang menyadari bahaya langsung siaga. Menggunakan tumpuan kaki kirinya, berputar dan menendang hantu tepat dimuka. Emmy Merah terlempar dan mendarat di meja tamu. Erik tidak menambah serangannya. Dia tetap berdiri di tempat karena tugasnya bukan mengalahkan hantu itu melainkan menjaga Amanda sebisa mungkin. Baru kali ini Erik mengalami tiga puluh detik rasa tiga puluh menit.
Quote:
“Bagus!” kata Sandra.
Emmy Merah bangkit dan mencoba menyerang Erik bertubi-tubi. Ilmu bela diri Erik bisa menepis dan menahan sebagian besar tusukannya. Tangan dan kaki Erik tergores sedikit. Dia saat momen yang pas, Erik menangkap lengan kiri Emmy Merah, melapisi tangan kanannya dengan listrik-nether dan meninju leher Emmy Merah. Emmy Merah mundur beberapa langkah dan lumpuh sesaat. Memanfaatkan momen ini, Erik menciptakan listrik-nether tak terlihat di udara. Emmy Merah merangsek lagi dan langsung terpantul begitu menyentuh tameng listrik-nether. Tameng medan listrik-nether yang dipasang Erik membuat Emmy Merah terhempas dan menjerit kesakitan. Erik memaksa dirinya untuk tenang. Walau musuhnya tidak memiliki kemampuan bertarung, Erik mencoba untuk tidak meremehkan lawannya.
Quote:
“Satu setengah menit,” kata Sandra.
Erik menghela nafas, “Entah kenapa rasanya masih satu jam setengah lagi.”
Erik menghela nafas, “Entah kenapa rasanya masih satu jam setengah lagi.”
Emmy Merah tiba-tiba menghilang di udara. Dua pisaunya dijatuhkannya ke lantai. Hawa nethernya pun juga hilang tak berbekas. Bahkan Sandra yang sensitif terhadap energi nether pun tidak merasakannya.
Quote:
“Dia ... menyerah?” kata Erik.
“Jangan lengah! Dia akan terus menyerang Amanda selagi kalian terpisah denganku,” kata Sandra, “Kemarilah! Akan kuisi tubuhmu dengan nether.”
“Jangan lengah! Dia akan terus menyerang Amanda selagi kalian terpisah denganku,” kata Sandra, “Kemarilah! Akan kuisi tubuhmu dengan nether.”
Erik membiarkan tangannya digenggam oleh Sandra. Selagi mengalirkan energi nether, Erik mengawasi keadaan sekitar. Hantu itu bisa muncul kapanpun dan dimanapun. Atau jika Emmy Merah lebih cerdas sedikit, dia akan muncul di tempat yang bisa membunuh Amanda dengan mudah. Bisa dari bawah meja, dari balik sofa, dari pojokan pintu atau dari ...
Quote:
“ERIK!! ATAS!!” teriak Sandra.
Erik mendongak ke atas dan dia melihat sosok hantu badut kecil bermuka merah. Emmy Merah terjun dari langit-langit rumah yang tinggi. Cakar-cakarnya yang berwarna merah, tajam dan mengerikan siap mencongkel mata Amanda. Erik mendorong Amanda hingga kepala gadis itu terbentur pegangan pintu. Tidak sempat menyerang, Emmy Merah berhasil mencakar bahu Erik. Erik berusaha menyerang balik, namun rasa sakit memecah konsentrasinya sehingga pukulannya hanya mendarat di udara. Dari sela-sela jendela, Sandra melayangkan tinju apinya ke kepala belakang Emmy Merah. Hantu itu melesat beberapa langkah dengan bagian rambut belakang yang terbakar. Lagi-lagi hantu itu menghilang.
Quote:
“Maaf, Amanda,” kata Erik, “Maaf, aku tadi sangat kasar.”
Amanda tersenyum, “Tak apa. Semua begitu cepat terjadi dan pastinya kau panik.”
Erik menyeringai, “Berarti selama dalam kondisi panik, aku bisa mendorongmu dengan kasar lagi, dong.”
Amanda menampar Erik pelan sambil tertawa, “Enak saja! Sini! Biarkan aku menyelesaikan gemboknya!”
Amanda tersenyum, “Tak apa. Semua begitu cepat terjadi dan pastinya kau panik.”
Erik menyeringai, “Berarti selama dalam kondisi panik, aku bisa mendorongmu dengan kasar lagi, dong.”
Amanda menampar Erik pelan sambil tertawa, “Enak saja! Sini! Biarkan aku menyelesaikan gemboknya!”
Mereka segera melanjutkan pekerjaan. Hanya butuh lima belas detik untuk Amanda. Setelah pembekuan molekul selesai, Erik mengumpulkan listrik biru di tangan dan memukul gembok. Gembok itu retak sedikit demi sedikit hingga rontok ke lantai. Amanda membuka tralis dan akhirnya Sandra berhasil masuk.
Quote:
“Untung kita hanya perlu menghancurkan gembok. Tak bisa kubayangkan bagaimana orang tuaku jika rumah ini tak memiliki pintu,” kata Amanda, “Nah, bagaimana cara kita menemukan adikku?”
“Kenapa kita tidak memulainya dari lantai dua?” usul Sandra.
“Tunggu,” kata Erik, “Kenapa tidak menunggu teman Kak Sandra?”
Sandra menjewer telinga Erik, “Pertama, adik Amanda sedang diculik entah dimana. Bayangkan jika kau menjadi gadis kecil malang yang ditemani oleh hantu psikopat bergaun merah. Kedua, jika menunggu, kenapa kita repot-repot menghancurkan gemboknya cepat-cepat? Aku tahu kau tidak bodoh. Kau hanya takut, kan?”
“Hanya?! Hanya?! ‘Hanya’, katamu, Kak?” kata Erik seraya mengikuti Sandra yang sudah tiga langkah di depannya, “Aku dan Amanda dibentuk untuk memburu vampire. Bukan untuk memburu makhluk tak jelas yang eksis antara dunia orang hidup dengan orang mati. Dan aku berharap pengalaman pertamaku ini adalah pengalaman terakhirku. Aku sangat ingin menolong Amanda ... tapi ...”
“Aku mengerti. Aku sependapat denganmu, Erik. Ini bukan bidang kita,” kata Amanda, “Tapi aku sebagai seorang kakak, mau tidak mau harus menolong adikku.”
Sandra menghentikan langkah dan mukanya berubah menjadi serius, “Erik ... bukan ... untuk kalian berdua ... jika kalian menjadi anggota manipulator negara, jangan pernah katakan ‘ini bukan bidangku.’ Aku yakin Arthur sudah mengatakan hal itu pada kalian. Jay pernah mengatakan hal itu padaku. Namun, aku tidak mempercayainya dan berpikiran seperti kalian. Sampai aku mengalaminya langsung.”
Amanda mendekati Sandra dan bertanya dengan antusias, “Kakak pernah menghadapi apa?”
Sandra melangkah lagi dan menjawab pertanyaan Amanda setelah kakinya menapak ke tangga, “Banyak. Vampire, penyihir, benda-benda bersejarah dan Srayuda.”
“Srayuda?” tanya Erik, “Apa masih ada hubungan dengan makanan srabi?”
Sandra membentak, “Bukan! Srayuda adalah makhluk mitologi dari Jawa Tengah. Di sebuah misi mengantar seorang awakened human ke seorang Immortal yang tinggal di Jepara. Aku menghadapi makhluk itu ketika melewati sebuah sungai yang mengalir di kota itu. Sungainya terkenal angker. Bukannya hantu yang muncul, tapi malah Srayuda. Tubuhnya humanoid dan berkepala ular. Dia menyemburkan racun.”
“Kenapa kita tidak memulainya dari lantai dua?” usul Sandra.
“Tunggu,” kata Erik, “Kenapa tidak menunggu teman Kak Sandra?”
Sandra menjewer telinga Erik, “Pertama, adik Amanda sedang diculik entah dimana. Bayangkan jika kau menjadi gadis kecil malang yang ditemani oleh hantu psikopat bergaun merah. Kedua, jika menunggu, kenapa kita repot-repot menghancurkan gemboknya cepat-cepat? Aku tahu kau tidak bodoh. Kau hanya takut, kan?”
“Hanya?! Hanya?! ‘Hanya’, katamu, Kak?” kata Erik seraya mengikuti Sandra yang sudah tiga langkah di depannya, “Aku dan Amanda dibentuk untuk memburu vampire. Bukan untuk memburu makhluk tak jelas yang eksis antara dunia orang hidup dengan orang mati. Dan aku berharap pengalaman pertamaku ini adalah pengalaman terakhirku. Aku sangat ingin menolong Amanda ... tapi ...”
“Aku mengerti. Aku sependapat denganmu, Erik. Ini bukan bidang kita,” kata Amanda, “Tapi aku sebagai seorang kakak, mau tidak mau harus menolong adikku.”
Sandra menghentikan langkah dan mukanya berubah menjadi serius, “Erik ... bukan ... untuk kalian berdua ... jika kalian menjadi anggota manipulator negara, jangan pernah katakan ‘ini bukan bidangku.’ Aku yakin Arthur sudah mengatakan hal itu pada kalian. Jay pernah mengatakan hal itu padaku. Namun, aku tidak mempercayainya dan berpikiran seperti kalian. Sampai aku mengalaminya langsung.”
Amanda mendekati Sandra dan bertanya dengan antusias, “Kakak pernah menghadapi apa?”
Sandra melangkah lagi dan menjawab pertanyaan Amanda setelah kakinya menapak ke tangga, “Banyak. Vampire, penyihir, benda-benda bersejarah dan Srayuda.”
“Srayuda?” tanya Erik, “Apa masih ada hubungan dengan makanan srabi?”
Sandra membentak, “Bukan! Srayuda adalah makhluk mitologi dari Jawa Tengah. Di sebuah misi mengantar seorang awakened human ke seorang Immortal yang tinggal di Jepara. Aku menghadapi makhluk itu ketika melewati sebuah sungai yang mengalir di kota itu. Sungainya terkenal angker. Bukannya hantu yang muncul, tapi malah Srayuda. Tubuhnya humanoid dan berkepala ular. Dia menyemburkan racun.”
Erik bergidik ngeri membayangkan makhluk itu. Seorang humanoid berkepala ular muncul dari kedalaman sungai dan langsung menyemburkan racun ke muka Sandra. Selama ini Erik hanya tahu vampire, werewolf dan penyihir. Bahkan sebelumnya dia tidak tahu bahwa gurunya adalah mantan raja dari kisah rakyat Inggris. Dunia ini ternyata sangat luas. Tuhan pun menciptakan makhluk setengah ular.
Ketika mereka bertiga menyentuh lantai dua, terdengar suara ketukan di pintu depan. Mereka pun saling berpandangan. Bertanya-tanya bagaimana jika Emmy Merah mengelabui mereka lagi.
0
Kutip
Balas