- Beranda
- Stories from the Heart
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
...
TS
beavermoon
( TAMAT ) AKU, KAMU, DAN LEMON : BUKU HARIAN AIRIN
Selamat datang di BeaverMoon Land
Sudah lama tak berjumpa dengan halaman ini dan biasanya cuma liat info-info HT doang.
Dan pada akhirnya ane kembali dengan membawa kisah yang ngga terlalu bagus

Spoiler for Tanya Jawab:
Q : Bang bakalan panen kentang lagi ngga?"
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)
Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
A : Kayaknya ngga, soalnya thread ini cuma 15 episode pendek
Q : Kok cuma 15 Bang?
A : Ya emang segitu adanya dan ngga ada yang ditambah-tambahin
Q : Update tiap hari kan?"
A : Sayangnya ngga tiap hari. Berhubung cuma 15 episode dan ane lagi lumayan sibuk jadi updatenya seminggu sekali (biasanya weekend)

Q : Ini cerita tentang apa Bang?
A : Ini adalah prekuel dari AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Bang, prekuel apa sih?
A : Ini cerita sebelum adanya AKU, KAMU, DAN LEMON
Q : Jadi saya harus baca AKU, KAMU, DAN LEMON dulu dong bang?
A : Sebaiknya seperti itu, tapi kalo mau ini duluan juga nggapapa
Q : Bang, Nanda apa kabar?
A : -_- pertanyaan yang pasti ane jarang jawab
Jadi buat agan dan aganwati sekalian yang mau mengikuti thread ini seharusnya baca AKU, KAMU, DAN LEMONterlebih dahulu. Cuma kalo mau baca ini dulu ya nggapapa ngga ada larangannya

Selamat membaca

Spoiler for INDEX:
Episode 1
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Episode 2
Episode 3
Episode 4
Episode 5
Episode 6
Episode 7a
Episode 7b
Episode 8a
Episode 8b
Episode 9a
Episode 9b
Episode 10
Episode 11a
Episode 11b
Episode 12
Episode 13a
Episode 13b
Episode 14a
Episode 14b
Episode 15
Episode 15 + 1 (Finale)
Bad News Lemon
Behind The Story (part 1)
Behind The Story (part 2)
Behind The Story (part 3 / finale)
Pemberitahuan
Diubah oleh beavermoon 28-01-2020 19:37
i4munited dan 13 lainnya memberi reputasi
14
77.8K
Kutip
417
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beavermoon
#368
Spoiler for Behind The Story (part 2):
Dan semenjak saat itu semuanya berubah. Yang awalnya gue males-malesan untuk ngetik jadi berbanding terbalik menjadi gue yang cukup rajin buat ngetik cerita yang menurut gue cukup layak untuk dibagikan ke hal layak banyak. Dan tentu saja semua cerita yang udah gue buat dari awal harus dirombak ulang.
Beberapa kali gue menemui Mba Widya untuk bertanya mengenai bagaimana kelanjutan cerita yang ia alami, namun hingga beberapa kali kami bertemu gue ngga tau sama sekali isi dari buku itu dan bagaimana keadaan lelaki yang sempat berjuang untuknya. Hingga untuk pertemuan yang ke sekian kalinya gue mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya mengenai isi buku itu dan juga sang lelaki tersebut.
“Mba Wid, aku mau nanya.” Kata gue
Ia melihat ke arah gue, bukan cuma dia tapi Mba Nisa juga ikut melihat ke arah gue
“Isi dari buku itu sebenernya apa sih? Kenapa bisa sampe usang begitu penampilannya?” Tanya gue memberanikan diri
Mba Nisa dan Mba Widya saling tatap untuk beberapa saat, hingga akhirnya Mba Widya mengeluarkan buku itu dari dalam tasnya. Ia memberikan buku itu kepada gue, sebenernya dengan ragu gue menerima buku itu.
“Kamu bisa baca buku itu, tapi pasti semuanya bakalan berubah. Pandangan kamu terhadap Mas Bram pasti berubah total.” Kata Mba Widya
“Mending kamu baca buku itu menjelang cerita ini selesai.” Kata Mba Nisa
Gue pun menyetujui untuk membaca isi buku itu belakangan dan kembali melanjutkan sesi tanya jawab dengan Mba Widya.
.
.
.
Sudah beberapa bulan berlalu dan tak terasa cerita Aku, Kamu dan Lemon akan segera berakhir. Entah sudah beberapa kali gue bertemu dengan Mba Widya hingga bertambah satu lagi kenalan yang ikut andil dalam cerita ini, yaitu Mba Ajeng. Mba Ajeng adalah sahabat semasa SMA Mba Widya dan dia bisa dibilang sebagai saksi bagaimana kedekatan antara Mba Widya dan juga Mas Bram.
“Oh iya cerita ini udah mau selesai kan?” Tanya Mba Widya
Gue cuma mengangguk karena mulut gue sedang terisi sebatang rokok yang sedang menyala
“Kamu boleh baca isi buku itu...” Kata Mba Widya lagi
Gue terdiam untuk beberapa saat sambil melihat kearah Mba Widya, Mba Ajeng dan juga Mba Nisa. Sesuatu yang semula udah gue lupain gitu aja kembali ke permukaan dan membuat gue kembali penasaran dengan apa isi dari buku itu
“Aku harus baca di sini juga Mba?” Tanya gue
“Ngga juga sih, kamu juga bisa baca itu di rumah.” Kata Mba Widya
Gue mengangguk berulang kali dan melihat sampul buku itu untuk ke sekian kalinya. Apa yang ada di benak kalian jika kalian melihat sebuah benda yang ada di genggaman kalian? Apa yang akan kalian lakukan? Langsung membukanya dan membaca keseluruhan isi dari buku itu? Awalnya gue berpikiran demikian, tapi semuanya gue tahan. Kenapa? Gue ngga mau bayangan gue tentang Bram dan juga keluarganya berubah setelah gue membaca isi buku itu, terlebih lagi cerita yang gue buat belum selesai.
Beberapa bulan udah berlalu, gue berinisiatif untuk menghubungi Mba Widya lewat hp gue. Dia ngajak gue dan juga Mba Nisa untuk kembali bertemu di sebuah rumah tempat gue dan juga Mba Widya pertama bertemu.
Setelah gue jemput Mba Nisa, kita langsung berangkat ke tempat waktu itu. Dari kejauhan gue udah liat mobil sedan warna silver punya Mba Widya dan juga gue liat dia lagi duduk di bangku taman waktu itu.
“Hai Nis, hai juga kamu si penulis...”Katanya sambil melihat ke arah kita
“Udah lama Mba?” Tanya gue
Ia menggeleng, lalu ia melepas kacamata yang ia kenakan dan meletakannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. Dan di sana gue liat ada hand bouquet atau buket bunga berwarna merah dan juga ungu.
“Itu buat Mas Bram?” Tanya gue
“Iya, ini buat dia. Oh ya kamu udah baca isi buku itu?”
Gue cuma bisa menggelengkan kepala karena emang sampe saat ini gue belum baca isi buku itu.
“Kamu baca buku itu aja dulu sambil nunggu temen Mba...” Kata Mba Widya
Gue ambil buku dari dalem tas yang gue bawa. Beberapa saat gue menatap Mba Widya dan juga Mba Nisa, dalam hati gue semakin ragu untuk mengetahui apa yang sebenernya terjadi tentang Mas Bram dan masa lalunya. Semuanya udah kejadian, gue udah nulis cerita tentang kehidupan Mas Bram, mau ngga mau gue juga harus tau latar belakang yang buat Mas Bram berada di titik ini. Titik yang bukan lagi terberat dalam hidup seseorang melainkan melibatkan beberapa orang yang juga ikut masuk ke dalam fase ini.
Dan di sinilah gue, bersama dengan salah satu orang yang juga masuk ke dalam titik terberat seseorang. Gue mulai buka buku usang ini secara perlahan dan melihat halaman pertama dari buku ini. Ada beberapa tulisan yang sudah tertumpuk dengan tulisan lain mengenakan warna tinta yang berbeda-beda. Ada pula beberapa gambar yang menurut gue udah samar, kalo bisa ditebak ada gambar pinggiran pantai dengan tinta biru lalu ada orang yang sedang berdiri di pinggiran pantai itu dengan tinta hitam. Ada pula goresan-goresan kuat yang entah mengarah kemana, bukan hanya satu melainkan cukup banyak.
Berlanjut ke halaman berikutnya, ada sebuah tulisan tangan yang berupa penggalan kalimat. Halaman ini jauh lebih bersih dibandingkan dengan halaman pertama yang gue liat karena cuma ada kalimat-kalimat ini aja.
“Apa yang lebih buruk dari patah hati?” Tanya gue kemudian melihat ke arah Mba Widya
Mba Widya hanya membalas dengan senyuman, lalu gue terusin baca halaman ini
“Apa yang lebih buruk dari patah hati? Yaitu ketika dua orang yang sama-sama mencintai tidak saling tau jika mereka saling mencintai. Namun apakah ada yang lebih buruk dari itu? Ketika dua orang yang saling mencintai tau bahwa mereka saling mencintai, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani menunjukkan cintanya.”
Tertulis sebuah nama yang tidak lain adalah tulisan tangan dari Mas Bram. Di bawahnya ada sebuah tulisan lagi.
“Anyer?” Tanya gue lagi lalu melihat ke arah Mba Widya
“Anyer jadi salah satu tempat cukup bersejarah buat aku sama Bram...”
Mba Widya melihat ke arah daun-daun pohon yang berada di atas
“... waktu itu masih SMA. Ngga nyangka aja dia bakalan nulis kata-kata itu lagi di buku. Ingatannya dia masih bagus juga.” Kata Mba Widya
Gue mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan dari Mba Widya lalu gue mulai buka halaman berikutnya. Bukan tulisan tangan dan juga bukan gambar-gambar yang tidak jelas seperti halaman pertama, melainkan ada sebuah tiket yang sudah dijepit dengan penjepit kertas.
“Tiket First Class Class ke Paris???” Tanya gue cukup kaget
Mba Widya lagi-lagi cuma senyum, dan kalo gue boleh jujur senyumannya bisa bikin siapapun jadi ge-er termasuk gue...
“Tiket itu aku kasih ke Bram kalo dia mau nyusul dan liat pertunjukan aku di sana. Pasti bakalan seneng banget kalo liat orang yang kamu sayang dateng ngeliat pertunjukan kamu dan kalo bisa kalian saling tatap-tatapan secara ngga sengaja. Setelah pertunjukan selesai kalian ketemu di belakang panggung dan cerita banyak hal karena udah lama ngga ketemu...”
Gue liatin Mba Widya sesekali ngisep rokok yang udah nyala
“Tapi sayang... dia lebih milih ngga nyusul aku ke sana. Semuanya cuma jadi angan-angan aja.” Kata Mba Widya
Gue kembali liat tiket itu. Entah siapa yang bisa dibilang melakukan pengorbanan lebih besar namun menurut gue mereka berdua sudah cukup mengorbankan perasaan mereka masing-masing.
Halaman berikutnya gue menemukan selembar kertas, dan disebelahnya ada sebuah amplop berwarna hitam. Jujur aja baru pertama kali gue ngeliat amplop dengan warna yang seperti ini.
“Beberapa tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal
“Beberapa tahun bukan waktu yang singkat untuk memikirkan
“Namun beberapa tahun masih belum cukup untuk semuanya
“Hai Bram, semoga kamu bisa baca tulisan ini dengan baik dan kamu bisa mengerti semuanya
“Kamu pernah bilang kalo semuanya pasti berasalan, dari mulai kita makan karena lapar, tidur karena mengantuk, dan kentut agar kita sehat.
“Dan itu semua aku jadiin pedoman buat semuanya
“Aku pergi juga memiliki beberapa alasan yang mungkin ngga semua orang berhak untuk tau, termasuk juga kamu
“Aku tau pasti kamu bakalan nyusul aku ke bandara, sayangnya pertemuan kita beberapa minggu yang lalu udah aku jadiin pertemuan yang terakhir buat kita
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa harus minggu lalu kan?
“Dan kamu pasti bertanya-tanya tentang sebuah kejelasan kan?
“Kamu mau tau jawabannya apa?
“Mungkin ngga bisa lewat surat ini. Kamu ngungkapin secara langsung maka aku akan jawab secara langsung juga
“Kapan?
“Percaya aja sama hati kamu...
“Ada pertemuan pasti ada perpisahan, namun kenapa orang-orang tidak pernah berpikiran untuk kembali bertemu lagi? Apa yang salah dengan itu?
“Isi surat ini sengaja aku buat dengan ngga jelas, biarkan waktu yang akan menjelaskannya
“Ikhlaskan semuanya dan kamu akan tau jawabnya
“Pretty eye, Pirate smile...
“Your Ballerina”
Gue menghela nafas untuk beberapa saat lalu gue menuju halaman berikutnya. Dan lagi-lagi gue nemuin selembar kertas dan juga amplop hitam. Gue cukup heran dimana Mba Widya bisa nemuin amplop dengan warna hitam pekat kayak gini. Ngga perlu pikir panjang akhirnya gue kembali baca isi lembar kertas ini.
“Awalnya aku ragu untuk kembali, dan aku juga takut dengan keadaan yang pasti akan berbeda ketika dulu aku meninggalkan kamu tanpa adanya sebuah kejelasan. Hingga akhirnya keraguanku hilang ketika aku kembali melihatmu untuk yang pertama kalinya setelah aku menghilang.”
“Hai Bram, apa kabar? Kamu lagi baca surat ini sendiri atau sama siapa? Ngga penting sih lagi sama siapanya yang jelas kamu udah baca surat dari aku lagi.”
“Kata maaf mungkin bisa menghilangkan suatu permasalahan, tapi kata maaf mungkin ngga bisa untuk menutupi luka hati yang kembali terbuka.”
“Ternyata aku masih ngga bisa buat jujur ke kamu tentang semuanya. Dari mulai apa yang aku lakukan selama aku pergi, kenapa tiba-tiba aku kembali, dan bagaimana perasaan aku yang sebenarnya ke kamu. Aku ngga pernah ragu atas perasaan yang udah kamu tunjukkan saat itu, dan hingga aku kembali lagi aku percaya bahwa perasaan itu masih ada.”
“Maafin aku yang harus kembali menghilang dengan tiba-tiba dari kehidupanmu, maafin aku yang hanya bisa mengungkapkan semuanya lewat surat ini, dan maafin aku yang harus menggantungkan semua perasaan yang udah kami beri padaku.”
“Kalo boleh aku jujur, sebenarnya aku sangat menaruh hati sama kamu. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi aku ngga cukup nyali buat bilang itu semua ke kamu sebelum aku memutuskan untuk pergi lagi. Rasa sesal selalu ada, namun aku percaya akan satu hal. Bahwa sebuah perasaan dengan keikhlasan yang tulus dapat membimbing kita kejalan yang benar hingga waktu memberikan kita ruang untuk saling bertemu lagi. Dan aku akan membuktikan ini semua untuk yang kedua kalinya.”
“Aku pergi ke sebuah tempat dimana semua cita-citaku ada di sana, dan aku percaya bahwa karirku akan meninggi di sana. Lagi-lagi sebuah keegoisan diriku yang belum bisa tertahankan dan juga obsesiku yang masih melambung dengan tingginya, hingga aku mengorbankan perasaanku sendiri, aku mengorbankan kamu untuk cita-citaku.”
“Maaf Bram, ini yang udah aku pilih. Sebuah keraguan muncul ketika kamu ngga sama sekali berubah seperti waktu dulu dan jujur aku hampir aja ngebatalin kepergianku untuk menetap sama kamu di sini, tapi lagi dan lagi berbicara tentang ego dan obsesikku yang belum bisa tertahankan. Maaf Bram, sekali lagi maaf.”
“Dan mungkin jika kamu ada waktu, kamu bisa lihat bagaimana aku di tempatku dan cita-citaku. Ada di dalam amplop semuanya dan aku harap kamu bisa dateng dan lihat bagaimana aku menari-nari dengan indahnya seperti dulu.”
“Aku harap ini semua ngga merubah perasaanmu. Tapi aku ngga bisa maksain ini semua, kamu berhak untuk mencintai wanita lain. Satu yang aku percaya, bahwa aku akan selalu ada di hatimu. Begitu juga kamu yang akan selalu ada di hatiku.
“Tidak akan pernah terganti...”
“Je t’aime...”
“Widyanti Pratiwi, Your Ballerina.”
“Meskipun udah beberapa tahun yang lalu tapi Mba masih inget sama semua isi surat-surat ini?” Kata gue
Mba Widya kembali tersenyum, tapi kali ini senyumannya bersamaan dengan air mata yang mengalir melewati pipinya. Mba Nisa yang menyadari akan hal tersebut langsung menyeka air matanya menggunakan tisu.
“Keegoisan ini harus memakan korban, ngga seharusnya ini terjadi.” Kata Mba Widya
“Bukan seharusnya Mba Widya ngga merasa bersalah karena Mas Bram juga yang ngga pernah ngutarain isi hatinya?” Tanya gue
“Tapi kita sama-sama tau kalo kita saling suka dari lama, dan inilah yang lebih buruk. Kata-kata yang masih aku inget banget dari Bram, dia masih ingat persis seperti di halaman kedua buku itu.” Jelas Mba Widya dengan tenang
Beberapa kali gue menemui Mba Widya untuk bertanya mengenai bagaimana kelanjutan cerita yang ia alami, namun hingga beberapa kali kami bertemu gue ngga tau sama sekali isi dari buku itu dan bagaimana keadaan lelaki yang sempat berjuang untuknya. Hingga untuk pertemuan yang ke sekian kalinya gue mencoba untuk memberanikan diri untuk bertanya mengenai isi buku itu dan juga sang lelaki tersebut.
“Mba Wid, aku mau nanya.” Kata gue
Ia melihat ke arah gue, bukan cuma dia tapi Mba Nisa juga ikut melihat ke arah gue
“Isi dari buku itu sebenernya apa sih? Kenapa bisa sampe usang begitu penampilannya?” Tanya gue memberanikan diri
Mba Nisa dan Mba Widya saling tatap untuk beberapa saat, hingga akhirnya Mba Widya mengeluarkan buku itu dari dalam tasnya. Ia memberikan buku itu kepada gue, sebenernya dengan ragu gue menerima buku itu.
“Kamu bisa baca buku itu, tapi pasti semuanya bakalan berubah. Pandangan kamu terhadap Mas Bram pasti berubah total.” Kata Mba Widya
“Mending kamu baca buku itu menjelang cerita ini selesai.” Kata Mba Nisa
Gue pun menyetujui untuk membaca isi buku itu belakangan dan kembali melanjutkan sesi tanya jawab dengan Mba Widya.
.
.
.
Sudah beberapa bulan berlalu dan tak terasa cerita Aku, Kamu dan Lemon akan segera berakhir. Entah sudah beberapa kali gue bertemu dengan Mba Widya hingga bertambah satu lagi kenalan yang ikut andil dalam cerita ini, yaitu Mba Ajeng. Mba Ajeng adalah sahabat semasa SMA Mba Widya dan dia bisa dibilang sebagai saksi bagaimana kedekatan antara Mba Widya dan juga Mas Bram.
“Oh iya cerita ini udah mau selesai kan?” Tanya Mba Widya
Gue cuma mengangguk karena mulut gue sedang terisi sebatang rokok yang sedang menyala
“Kamu boleh baca isi buku itu...” Kata Mba Widya lagi
Gue terdiam untuk beberapa saat sambil melihat kearah Mba Widya, Mba Ajeng dan juga Mba Nisa. Sesuatu yang semula udah gue lupain gitu aja kembali ke permukaan dan membuat gue kembali penasaran dengan apa isi dari buku itu
“Aku harus baca di sini juga Mba?” Tanya gue
“Ngga juga sih, kamu juga bisa baca itu di rumah.” Kata Mba Widya
Gue mengangguk berulang kali dan melihat sampul buku itu untuk ke sekian kalinya. Apa yang ada di benak kalian jika kalian melihat sebuah benda yang ada di genggaman kalian? Apa yang akan kalian lakukan? Langsung membukanya dan membaca keseluruhan isi dari buku itu? Awalnya gue berpikiran demikian, tapi semuanya gue tahan. Kenapa? Gue ngga mau bayangan gue tentang Bram dan juga keluarganya berubah setelah gue membaca isi buku itu, terlebih lagi cerita yang gue buat belum selesai.
Beberapa bulan udah berlalu, gue berinisiatif untuk menghubungi Mba Widya lewat hp gue. Dia ngajak gue dan juga Mba Nisa untuk kembali bertemu di sebuah rumah tempat gue dan juga Mba Widya pertama bertemu.
Setelah gue jemput Mba Nisa, kita langsung berangkat ke tempat waktu itu. Dari kejauhan gue udah liat mobil sedan warna silver punya Mba Widya dan juga gue liat dia lagi duduk di bangku taman waktu itu.
“Hai Nis, hai juga kamu si penulis...”Katanya sambil melihat ke arah kita
“Udah lama Mba?” Tanya gue
Ia menggeleng, lalu ia melepas kacamata yang ia kenakan dan meletakannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. Dan di sana gue liat ada hand bouquet atau buket bunga berwarna merah dan juga ungu.
“Itu buat Mas Bram?” Tanya gue
“Iya, ini buat dia. Oh ya kamu udah baca isi buku itu?”
Gue cuma bisa menggelengkan kepala karena emang sampe saat ini gue belum baca isi buku itu.
“Kamu baca buku itu aja dulu sambil nunggu temen Mba...” Kata Mba Widya
Gue ambil buku dari dalem tas yang gue bawa. Beberapa saat gue menatap Mba Widya dan juga Mba Nisa, dalam hati gue semakin ragu untuk mengetahui apa yang sebenernya terjadi tentang Mas Bram dan masa lalunya. Semuanya udah kejadian, gue udah nulis cerita tentang kehidupan Mas Bram, mau ngga mau gue juga harus tau latar belakang yang buat Mas Bram berada di titik ini. Titik yang bukan lagi terberat dalam hidup seseorang melainkan melibatkan beberapa orang yang juga ikut masuk ke dalam fase ini.
Dan di sinilah gue, bersama dengan salah satu orang yang juga masuk ke dalam titik terberat seseorang. Gue mulai buka buku usang ini secara perlahan dan melihat halaman pertama dari buku ini. Ada beberapa tulisan yang sudah tertumpuk dengan tulisan lain mengenakan warna tinta yang berbeda-beda. Ada pula beberapa gambar yang menurut gue udah samar, kalo bisa ditebak ada gambar pinggiran pantai dengan tinta biru lalu ada orang yang sedang berdiri di pinggiran pantai itu dengan tinta hitam. Ada pula goresan-goresan kuat yang entah mengarah kemana, bukan hanya satu melainkan cukup banyak.
Berlanjut ke halaman berikutnya, ada sebuah tulisan tangan yang berupa penggalan kalimat. Halaman ini jauh lebih bersih dibandingkan dengan halaman pertama yang gue liat karena cuma ada kalimat-kalimat ini aja.
“Apa yang lebih buruk dari patah hati?” Tanya gue kemudian melihat ke arah Mba Widya
Mba Widya hanya membalas dengan senyuman, lalu gue terusin baca halaman ini
“Apa yang lebih buruk dari patah hati? Yaitu ketika dua orang yang sama-sama mencintai tidak saling tau jika mereka saling mencintai. Namun apakah ada yang lebih buruk dari itu? Ketika dua orang yang saling mencintai tau bahwa mereka saling mencintai, namun tidak ada satupun dari mereka yang berani menunjukkan cintanya.”
Tertulis sebuah nama yang tidak lain adalah tulisan tangan dari Mas Bram. Di bawahnya ada sebuah tulisan lagi.
“Anyer?” Tanya gue lagi lalu melihat ke arah Mba Widya
“Anyer jadi salah satu tempat cukup bersejarah buat aku sama Bram...”
Mba Widya melihat ke arah daun-daun pohon yang berada di atas
“... waktu itu masih SMA. Ngga nyangka aja dia bakalan nulis kata-kata itu lagi di buku. Ingatannya dia masih bagus juga.” Kata Mba Widya
Gue mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan dari Mba Widya lalu gue mulai buka halaman berikutnya. Bukan tulisan tangan dan juga bukan gambar-gambar yang tidak jelas seperti halaman pertama, melainkan ada sebuah tiket yang sudah dijepit dengan penjepit kertas.
“Tiket First Class Class ke Paris???” Tanya gue cukup kaget
Mba Widya lagi-lagi cuma senyum, dan kalo gue boleh jujur senyumannya bisa bikin siapapun jadi ge-er termasuk gue...
“Tiket itu aku kasih ke Bram kalo dia mau nyusul dan liat pertunjukan aku di sana. Pasti bakalan seneng banget kalo liat orang yang kamu sayang dateng ngeliat pertunjukan kamu dan kalo bisa kalian saling tatap-tatapan secara ngga sengaja. Setelah pertunjukan selesai kalian ketemu di belakang panggung dan cerita banyak hal karena udah lama ngga ketemu...”
Gue liatin Mba Widya sesekali ngisep rokok yang udah nyala
“Tapi sayang... dia lebih milih ngga nyusul aku ke sana. Semuanya cuma jadi angan-angan aja.” Kata Mba Widya
Gue kembali liat tiket itu. Entah siapa yang bisa dibilang melakukan pengorbanan lebih besar namun menurut gue mereka berdua sudah cukup mengorbankan perasaan mereka masing-masing.
Halaman berikutnya gue menemukan selembar kertas, dan disebelahnya ada sebuah amplop berwarna hitam. Jujur aja baru pertama kali gue ngeliat amplop dengan warna yang seperti ini.
“Beberapa tahun bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal
“Beberapa tahun bukan waktu yang singkat untuk memikirkan
“Namun beberapa tahun masih belum cukup untuk semuanya
“Hai Bram, semoga kamu bisa baca tulisan ini dengan baik dan kamu bisa mengerti semuanya
“Kamu pernah bilang kalo semuanya pasti berasalan, dari mulai kita makan karena lapar, tidur karena mengantuk, dan kentut agar kita sehat.
“Dan itu semua aku jadiin pedoman buat semuanya
“Aku pergi juga memiliki beberapa alasan yang mungkin ngga semua orang berhak untuk tau, termasuk juga kamu
“Aku tau pasti kamu bakalan nyusul aku ke bandara, sayangnya pertemuan kita beberapa minggu yang lalu udah aku jadiin pertemuan yang terakhir buat kita
“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa harus minggu lalu kan?
“Dan kamu pasti bertanya-tanya tentang sebuah kejelasan kan?
“Kamu mau tau jawabannya apa?
“Mungkin ngga bisa lewat surat ini. Kamu ngungkapin secara langsung maka aku akan jawab secara langsung juga
“Kapan?
“Percaya aja sama hati kamu...
“Ada pertemuan pasti ada perpisahan, namun kenapa orang-orang tidak pernah berpikiran untuk kembali bertemu lagi? Apa yang salah dengan itu?
“Isi surat ini sengaja aku buat dengan ngga jelas, biarkan waktu yang akan menjelaskannya
“Ikhlaskan semuanya dan kamu akan tau jawabnya
“Pretty eye, Pirate smile...
“Your Ballerina”
Gue menghela nafas untuk beberapa saat lalu gue menuju halaman berikutnya. Dan lagi-lagi gue nemuin selembar kertas dan juga amplop hitam. Gue cukup heran dimana Mba Widya bisa nemuin amplop dengan warna hitam pekat kayak gini. Ngga perlu pikir panjang akhirnya gue kembali baca isi lembar kertas ini.
“Awalnya aku ragu untuk kembali, dan aku juga takut dengan keadaan yang pasti akan berbeda ketika dulu aku meninggalkan kamu tanpa adanya sebuah kejelasan. Hingga akhirnya keraguanku hilang ketika aku kembali melihatmu untuk yang pertama kalinya setelah aku menghilang.”
“Hai Bram, apa kabar? Kamu lagi baca surat ini sendiri atau sama siapa? Ngga penting sih lagi sama siapanya yang jelas kamu udah baca surat dari aku lagi.”
“Kata maaf mungkin bisa menghilangkan suatu permasalahan, tapi kata maaf mungkin ngga bisa untuk menutupi luka hati yang kembali terbuka.”
“Ternyata aku masih ngga bisa buat jujur ke kamu tentang semuanya. Dari mulai apa yang aku lakukan selama aku pergi, kenapa tiba-tiba aku kembali, dan bagaimana perasaan aku yang sebenarnya ke kamu. Aku ngga pernah ragu atas perasaan yang udah kamu tunjukkan saat itu, dan hingga aku kembali lagi aku percaya bahwa perasaan itu masih ada.”
“Maafin aku yang harus kembali menghilang dengan tiba-tiba dari kehidupanmu, maafin aku yang hanya bisa mengungkapkan semuanya lewat surat ini, dan maafin aku yang harus menggantungkan semua perasaan yang udah kami beri padaku.”
“Kalo boleh aku jujur, sebenarnya aku sangat menaruh hati sama kamu. Aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Tapi aku ngga cukup nyali buat bilang itu semua ke kamu sebelum aku memutuskan untuk pergi lagi. Rasa sesal selalu ada, namun aku percaya akan satu hal. Bahwa sebuah perasaan dengan keikhlasan yang tulus dapat membimbing kita kejalan yang benar hingga waktu memberikan kita ruang untuk saling bertemu lagi. Dan aku akan membuktikan ini semua untuk yang kedua kalinya.”
“Aku pergi ke sebuah tempat dimana semua cita-citaku ada di sana, dan aku percaya bahwa karirku akan meninggi di sana. Lagi-lagi sebuah keegoisan diriku yang belum bisa tertahankan dan juga obsesiku yang masih melambung dengan tingginya, hingga aku mengorbankan perasaanku sendiri, aku mengorbankan kamu untuk cita-citaku.”
“Maaf Bram, ini yang udah aku pilih. Sebuah keraguan muncul ketika kamu ngga sama sekali berubah seperti waktu dulu dan jujur aku hampir aja ngebatalin kepergianku untuk menetap sama kamu di sini, tapi lagi dan lagi berbicara tentang ego dan obsesikku yang belum bisa tertahankan. Maaf Bram, sekali lagi maaf.”
“Dan mungkin jika kamu ada waktu, kamu bisa lihat bagaimana aku di tempatku dan cita-citaku. Ada di dalam amplop semuanya dan aku harap kamu bisa dateng dan lihat bagaimana aku menari-nari dengan indahnya seperti dulu.”
“Aku harap ini semua ngga merubah perasaanmu. Tapi aku ngga bisa maksain ini semua, kamu berhak untuk mencintai wanita lain. Satu yang aku percaya, bahwa aku akan selalu ada di hatimu. Begitu juga kamu yang akan selalu ada di hatiku.
“Tidak akan pernah terganti...”
“Je t’aime...”
“Widyanti Pratiwi, Your Ballerina.”
“Meskipun udah beberapa tahun yang lalu tapi Mba masih inget sama semua isi surat-surat ini?” Kata gue
Mba Widya kembali tersenyum, tapi kali ini senyumannya bersamaan dengan air mata yang mengalir melewati pipinya. Mba Nisa yang menyadari akan hal tersebut langsung menyeka air matanya menggunakan tisu.
“Keegoisan ini harus memakan korban, ngga seharusnya ini terjadi.” Kata Mba Widya
“Bukan seharusnya Mba Widya ngga merasa bersalah karena Mas Bram juga yang ngga pernah ngutarain isi hatinya?” Tanya gue
“Tapi kita sama-sama tau kalo kita saling suka dari lama, dan inilah yang lebih buruk. Kata-kata yang masih aku inget banget dari Bram, dia masih ingat persis seperti di halaman kedua buku itu.” Jelas Mba Widya dengan tenang
khuman dan Herisyahrian memberi reputasi
2
Kutip
Balas