- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.3K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#172
Aku Pergi
“Jangan bilang apa-apa ke dia. Aku titip uang ini untuk mengembalikan sedikit pinjaman mamanya. Aku akan berusaha mentransfer sisanya.”, ujar suara itu.
“Mau kemana kamu?”, tanya salah satu suara dengan cemas.
“Aku mau ke Jakarta. Aku tidak mau terus-terusan menjadi bulan-bulanan bapaknya. Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”, suara itu mulai mengepalkan tangan.
“Dia akan mencarimu.”, jelas salah satu suara tersebut.
“Aku pasti kembali suatu hari nanti. Aku janji.”, suara itu mengambil tas yang berisi pakaiannya dan kebutuhannya.
“Aku titipkan galeri padamu. Aku tahu kau pasti bisa menjalankannya.”, ujar suara itu.
Pria itu pergi ke pelabuhan. Dia naik kapal untuk tiba ke kota besar tersebut. Mencoba peruntungannya yang lain, dengan modal kenekatan.
Waktu demi waktu terus bergulir. Ini adalah minggu kedua Anissa tidak dapat menghubungi Ario. Ia kemudian pergi ke galeri untuk bertemu dengan Luna. ‘Pasti Luna sebenarnya tahu dimana Ario berada’.
“Lun, kamu tidak bisa begitu. Aku berhak tahu. Dia pacarku.”,tekan Anissa. Luna tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa membohongi Anissa. Jadi Luna memilih untuk diam. Dan bungkamnya Luna membuat Anissa semakin tidak tahan.
“Luna, aku akan pergi sebentar lagi. Papaku telah mengaturkan universitas yang akan aku tuju. Aku benar-benar ingin tahu Ario ada dimana.”, ujar Anissa hampir memelas.
“Nis, Ario melakukan semua ini ada tujuannya. Kalau kau pikir menunggunya adalah hal sulit. Lepaskan saja dia. Mungkin itu yang terbaik bagi kalian berdua, Nis.”,Luna berbicara dengan mata berkaca-kaca.
“Pertemanan kita selama hampir setahun ini…”, ujar Anissa lirih.
“Kita tetap teman Nis. Selamanya. Aku senang mengenalmu Nis.”, ucap Luna.
“Jangan bilang apa-apa ke dia. Aku titip uang ini untuk mengembalikan sedikit pinjaman mamanya. Aku akan berusaha mentransfer sisanya.”, ujar suara itu.
“Mau kemana kamu?”, tanya salah satu suara dengan cemas.
“Aku mau ke Jakarta. Aku tidak mau terus-terusan menjadi bulan-bulanan bapaknya. Aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”, suara itu mulai mengepalkan tangan.
“Dia akan mencarimu.”, jelas salah satu suara tersebut.
“Aku pasti kembali suatu hari nanti. Aku janji.”, suara itu mengambil tas yang berisi pakaiannya dan kebutuhannya.
“Aku titipkan galeri padamu. Aku tahu kau pasti bisa menjalankannya.”, ujar suara itu.
Pria itu pergi ke pelabuhan. Dia naik kapal untuk tiba ke kota besar tersebut. Mencoba peruntungannya yang lain, dengan modal kenekatan.
Waktu demi waktu terus bergulir. Ini adalah minggu kedua Anissa tidak dapat menghubungi Ario. Ia kemudian pergi ke galeri untuk bertemu dengan Luna. ‘Pasti Luna sebenarnya tahu dimana Ario berada’.
“Lun, kamu tidak bisa begitu. Aku berhak tahu. Dia pacarku.”,tekan Anissa. Luna tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa membohongi Anissa. Jadi Luna memilih untuk diam. Dan bungkamnya Luna membuat Anissa semakin tidak tahan.
“Luna, aku akan pergi sebentar lagi. Papaku telah mengaturkan universitas yang akan aku tuju. Aku benar-benar ingin tahu Ario ada dimana.”, ujar Anissa hampir memelas.
“Nis, Ario melakukan semua ini ada tujuannya. Kalau kau pikir menunggunya adalah hal sulit. Lepaskan saja dia. Mungkin itu yang terbaik bagi kalian berdua, Nis.”,Luna berbicara dengan mata berkaca-kaca.
“Pertemanan kita selama hampir setahun ini…”, ujar Anissa lirih.
“Kita tetap teman Nis. Selamanya. Aku senang mengenalmu Nis.”, ucap Luna.
Diubah oleh anism 05-08-2017 19:55
0