Kaskus

Story

anak86comeAvatar border
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati


YANG TERBUANG

Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…

Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia

Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku

Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?

Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati



Selamat Membaca

INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
anak86comeAvatar border
TS
anak86come
#20
BAB III


PLAAK…

kaget kurasakan ketika telapak tangannya dengan keras mengenai pipi sebelah kananku, tamparan itu dilakukan dari belakang dimana Aku duduk, sakit memang sakit rasanya baru pertama kali kumerasakan hal ini. Kutengok kebelakang kanan, dengan napas tersengal-sengal hidung kemerahan, kembang kempis Nampak terlihat dia sedang menahan amarah yang sewaktu-waktu akan segera meledak kembali. Nila yang Nila namanya yang melakukan hal ini kepadaku,

“kenapa sih kamu ini La?, Aku sudah bicara baik-baik tapi kamu acuhkan itu” tanyaku,

sembari berdiri dihadapanku dengan matanya yang membesar seolah mau menelan diriku saat itu juga sampai terbuka bibirnya untuk berbicara meski bergetar Nila berucap

“elo tega udah buat gw begini Lex, elo udah tau semuanya, elo udah iat semuanya, elo jahat! Inget ya elo emang benar-benar bajingan, baik, ingat karma bakal sampai ke diri lo!!!”.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena Aku tahu bahwa ada sisi Aku yang salah, Aku sangat mengetahui kesakitan yang dia rasakan, terasa dicampakkan.

“Aku kan udah bilang baik-baik ke kamu, Aku sudah berusaha mendekat ke kamu untuk meminta maaf, kita sudah gk bisa sejalan lagi, tapi kamu tidak ada kepedulian kan?” ucapku.

Dia mulai mundur dari tempat semula dia berdiri dan mulai mengepalkan tangan dan menunjuk-nunjuk dengan jari telunjuknya ke arahku, kemudian Aku berdiri mendekatinya dan…

DUUGG…

kepalan tangannya mengenai tulang pipiku sebelah kiri,

“ini yang pantas elo dapatkan, bajingan….!” Hardiknya.

Sekali lagi rasa sakit ini sudah terasa dikanan kiri wajahku, Aku bingung harus berbuat apa karena ini memang salah langkah dalam mengambil hati dan menerima hati sebelumnya, perasaanku bercampur aduk tak tentu apa yang harusnya Aku lakukan, Aku pun menyesal setengah mati bilamana waktu bisa mundur lagi, Aku pasti akan memperbaikinya dan tidak akan mau melanjutkan hal-hal yang ujungnya merugikan diri sendiri dan orang lain, sesal pun terlihat tanpa guna…

Rela-rela Aku membeli modem wifi demi bisa skype dengannya setelah pulang kerja, witing tresno jalaran soko kulino pepatah itu ternyata benar adanya dan terjadi pada diriku. Nila sebenarnya adalah karyawan baru dikantorku, saat dia interview pertama kali Aku sengaja rebutan dengan rekan kerjaku untuk ikut serta meng-interview dirinya. Saat first sight, Aku tidak ada tuh perasaan yang “gimana-gimana” (you know lah…) ku hanya melihat wajahnya jutek, make up tebal, rambut panjang, just it. Satu tahun berjalan dia akhirnya diujung masa kontrak, sejak saat itu kita mulai dekat, menceritakan sedikit hal terkait pekerjaan, curhat, yang lambat laun sudah saling percaya untuk menceritakan hal-hal pribadi masing-masing seperti: kebiasaan sehari-hari, nama orang tua, kebiasaan keluarganya, hobi masing-masing. Yahh… Aku cuma senang aja ada orang yang segitu gampangnya share kehidupannya, mungkin karena Aku lebih senang menjadi pendengar dibanding pembual dan dari dulu karakterku seperti itu. Satu tahun setengah berjalan Aku mulai sering pergi dan pulag kerja dengannya, entah kenapa hal itu mengalir begitu saja dan sejauh ini fine… Aku bisa terima itu.

Namun saat dikantor dia mulai mengatakan

“ehh… gw mau cerita nih Lex… hhmmm… ehh… gak jadi deh” ucapnya.

Yaa… jelaslah Aku penasaran, setelah kutanya-tanya terus apa yang mau diceritakan ehh… Aku kaget dan sedikit merasa… hhmmm… aneh sih bagi ku itu bukan sesuatu yang “penting” dan dia bilang begini

“ehh Lex… hhmmm…tau gak gw semalem mimpiin elo tau”,

tanpa menengok ku jawab “ya elah… mimpi mah wajar lah semua orang juga pernah mimpi, biasa aja kali…”.

Kuterus fokus dilayar komputer dengan terus menarikan jemariku di atas keyboard.

“bukan gitu Lex, gw mimpiin elo karena mimpinya kita lagi begituan… dan gw basah semua…” ucapnya,

ya terus terang saja Aku kaget dan balik bertanya

“begituan… begituan apaan?, maksudnya apa sih?”,

Tapi antara bingung dan heran, Aku sudah mengerti maksudnya apa, tapi jujur Aku sih heran aja dan saat itu Aku tahu dan merasa kalau dia sudah mulai ada rasa.

Malam itu seperti biasa kita berdua skype sehabis pulang kerja, dari wajahnya di layar laptop terlihat sangat berseri-seri, kita bicara banyak, ketawa sama-sama walau menggunakan teknologi tanpa berhadapan secara fisik, namun tiba-tiba dia bilang seperti ini

“Lex, hhmm… gw suka sama elo” sambil malu-malu dan menutup mukanya.

Baru pertama kali dalam hidup ku “ditembak” seorang perempuan dan satu sisi Aku tidak ada rasa ehh… maksudnya ada rasa tapi sedikit kok. Karena saat itu Aku sangat hampa dan butuh orang yang bisa menerima kondisi Aku yang saat ini sendiri, maksudnya Aku punya “seseorang” tapi lagi long distance gitu deh… dan dia juga sebenarnya juga sudah punya “seseorang” tapi kelihatannya hampa hubungannya, saat dia mengatakan itu Aku dengan tegas mengucapkan

“Aku juga suka kamu La…”,

dan kami pun sama-sama menutup muka dengan kedua telapak tangan masing-masing. “mungkin dia jodoh deh” batinku, yahh… sejak itu Aku jadian hehehehe. Karena satu kantor, maka kita sepakat untuk menutup-nutupi hubungan ini karena biar tetap bisa professional dalam bekerja. Semangat kerja ku saat itu sangat baik,

“ternyata begini ya rasanya kalau pacaran” batinku, Aku memang sering melihat teman-temanku kemana-mana selalu berdua dengan pasangannya sedangkan Aku karena long distance yahh… cuma jadi “obat nyamuk” bagi mereka. Mungkin karena hal itu myang membuat ku mengatakan “yes” kepadannya. Nila itu orangnya humble, supel, meski pada pandangan pertama terlihat jutek mungkin itu karena penampilan luarnya saja sih. Hari senin sampai jumat berangkat dan pulang kerja selalu bareng, biasanya sih kalau pulang kerja kita sempatkan mampir-mampir yahh… mampir kemana saja lah yang penting bisa mengobrol banyak berdua dengannya dari tempat seperti: café, food court, tempat makan pinggir jalan, sampai cukup bubur ayam gerobak sederhana. Aku menikmati saat-saat itu karena ada orang yang secara fisik selalu memperhatikanku, menyangiku, meskipun hari sabtu dan minggu Aku dan Nila tidak bersama karena kesibukan kami masing-masing seperti dia sibuk bertemu dengan pacarnya dan Aku dengan pacarku tapi hanya sebatas suara ya… sebatas suara hehehehe.

“La, sabtu malam kita jalan yuk… makan dimana gitu… bosen Aku nih, lagian kan belum pernah kita malam mingguan” ucapku.

Serta merta dan dengan senang hati dijawab

“serius Lex? Oke deh mau…mau…”.

Sejak saat itu Aku tidak sabar menunggu malam minggu yang indah,

“Lex, gak usah pakai motor ya, pakai mobil aja, tapi nanti kamu kerumah ya, kamu yang nyetirin” ucapnya,

“oke” jawabku dengan sangat antusias.

Akhirnya malam itu tiba, kuberangkat dari sore menuju rumahnya menggunakan angkutan umum, kurang lebih 40 menit Aku tiba dirumahnya, saat itu Aku seperti orang yang sedang jatuh cinta entah mengapa perasaan ini kembali kurasakan, deg-deg ser… setiap ku melangkahkan kaki kea rah rumahnya. Paling yang pertama harus kutemui adalah orangtuanya, kembali mengenalkan diri dan memohon izin untuk mulai berdekatan dengan anaknya karena ini prinsip hidupku bahwa kalau mendekati seorang perempuan maka harus mendekati orangtuanya juga.

“permisi…” ucapku didepan pagar rumahnya Nila,

ckrek…

terbukalah pintu dan ternyata Lina yang membuka pintu dan mempersilahkan Aku masuk. Begitu kaget bukan kepalang diriku karena saat Aku mau masuk rumah ada seorang bapak-bapak yang menatapku begitu dalam,

“ya… itu bapaknya” batinku.

Ku mohn izin untuk masuk kedalam rumah dan bapak itu mempersilahkan ku untuk duduk persis dihadapannya, hanya meja tamu yang memberikan Aku dan bapak itu jarak.

“siapa namamu? Ucap bapaknya,

“nama saya Alex pak” jawabku.

Masih agak canggung menghadapi orang tua ini, selain suaranya yang berat namun ada beberapa huruf yang kurang bisa dicerna, hal ini membuatku berpikir bahwa bapak ini pernah atau sedang menderita stroke ringan. Setelah berbincang lama yang dipenuhi dengan basa-basi akut akhirnya Aku memhon ijin untuk mengajak anak perempuannya ini jalan-jalan.

Duugg…

bunyi pintu mobil tertutup, ya akhirnya malam ini Aku menjadi sopir hehehehe… banyak hal yang Aku dan Nila ceritakan, mulai dari orang tua kandungnya sampai dengan permasalahan-permasalahan besar yang ada dikeluarganya, Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Tiba saat membicarakan pacarnya, agak risih sih sebenarnya, tapi ya karena Aku adalah pendengar yang baik ya enjoy saja sih… tapi dari ceritanya Nila, hubungan mereka dengan pacarnya agak sedikit awkward sih karena menurut pengakuan Nila sudah tidak ada lagi yang bisa diomongin, dibahas, diceritakan antar mereka berdua. Menurutku sih hal aneh malah sangat aneh, berarti sudah tidak ada kenyamanan diantara mereka berdua. Lebih aneh sih Aku dan Nila, masing-masing sudah “punya someone” tapi kenapa kita mendustakan malah bisa dikatakan “mengkhianati”, huuft… Aku juga heran, tapi sudahlah jalani aja dulu. Akhirnya Aku sampae juga ditempat tujuan, restoran ini Aku baru pertama kali mengunjunginya, bagus… tapi rame banget disini,

“duduk dimana kita nih?” tanyaku pada Nila,

“disitu aja, lagian cuaca malam cerah jadi gk bakal hujan kok” jawabnya.

Kita berdua pesan makanan, bisa dibilang sih ini makanan khas sunda pada umumnya tetapi agak mahal menurutku, sembari menunggu makan maupun saat mulai makan dan selesai makan Aku tidak pernah berhenti berbincang dengannya, seolah-olah tidak ada kata atau cerita yang berhenti, semua mengalir seperti air, Aku menyengi saat-saat itu. Oh iya kalau dihitung-hitung Aku sudah menjalani hubungan ini kira-kira baru 14 hari, mungkin karena hubungan yang belum terlalu lama menjadi masing-masing penuh dengan rasa penasaran, mungkin yahhh…

Selesai makan Aku pun menyelesaikan juga pembayarannya, bisa dibilang cukup mahal kalau Cuma makan berdua, whatever, Aku sih gk peduli yang penting bisa berduaan dengan Nila. Aku pun menuju parkiran mobil dengan jalan santai sambil menggenggam telapak tangannya serasa dunia milik berdua hehehehe… Sampai suatu saat, Aku tidak tahu mengapa itu terjadi, saat kita berdua sudah didalam mobil Nila memelukku dengan eratnya, Aku sontak kaget bukan kepalang karena baru pertama kali Aku memeluk perempuan yang sangat intim. Lama sekali dia memelukku sampai akhirnya Akupun juga membalas memeluknya, pelukan ini melewati batas Antara rem tangan dan cup holder yang memisahkan dua kursi penumpang depan dan kursi driver. Nyaman… ya nyaman yang Aku rasakan terlebih Nila berbisik pelan

“aku sayang kamu lex”,

“Aku jg La” jawabku.

Dan Nila pun mulai melepaskan sedikit pelukannya dan…. Saat kami berhadapan tanpa komando tanpa arahan dia mencium bibirku,

“aaarrggg… kenapa ini!!!” batinku.

Aku tahu apa yang menyebabkan hal ini terjadi, kami saling berpagutan menikmati ciuman yang sangat intim, entah berapa menit kami melakkukan ini, Aku hanya merasakan… merasakan perasaan yang berdesir hebat, jantung berdegub kencang, keringat mulai sedikit menyembul diatas permukaan kulit. Kami baru melepaskan ciuman itu setelah adanya lampu kendaraan didepan yang menyorot ke arah mobil ini, cahaya itu cukup terang yang membuat kami tersadar apa yang sedang kami lakukan. Aku pun terbengong-bengong tak percaya, Nila pun juga, Aku sedikit malu memandang wajahnya begitupun sebaliknya. Kunyalakan dengan segera mesin mobil dan Air Conditioner untuk mendinginkan hawa pengap, kujalankan mobilnya dengan sedikit bergetar tanngan ini memegang setir hehehehe… Aku tak tahu perasaan apa ini yang kurasakan. Sepanjang jalan menuju rumahnya, Aku dan Nila tidak ada pembicaraan, Aku speechless tak berani Aku menatap wajahnya, aku hanya fokus mengendarai mobil ini. Akhirnya Aku sampai persis didepan rumahnya,

“udah sampai nih” ucapku,

“thanks ya Lex udah nemenin malam ini” jawab Nila.

Aku pun keluar dari mobil dan pamit untuk pulang dan Nila pindah ke bangku sopir tanpa menatapku.

“ya sudahlah… Lagian gk sengaja juga” batinku mengingat kejadian tadi.

“bye Nila” ucapku,

“bye juga Lex” jawab Nila.
Diubah oleh anak86come 14-08-2017 17:03
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.