- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
620.5K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#671
Quote:
CHAPTER 7
“Perlu kita mengeceknya Im ?”
Baim hanya diam, mungkin dia juga bingung harus menjawab pertanyaanku. Apakah benar yang didengar Hesti itu makhluk halus atau cuma bentuk ketakutannya saja, seperti yang aku alami saat melihat sosok perempuan berambut panjang tadi saat pendakian.
“Tidak usah, ngapain. Mending kita masuk kedalam tenda saja.” Imron menjawab.
“Aku tidak mau tidur sendirian. Apalagi tendaku jaraknya cukup jauh dengan tenda kalian.”
Aku dan Baim saling bertatapan mendengar perkataan Hesti, apa yang harus kami lakukan sekarang. berdesakan dengan lelaki ditenda kecil bukan masalah, tapi bagaimana dengan seorang perempuan.
“Begini saja, bagaimana kalau kamu tidur ditendamu, dan kita akan gantian berjaga didepan tendamu Hes.”
“Berjaga sendirian Im ?”
Baim menjawab dengan anggukan. Menurutku itu bukan solusi yang baik, bagi Baim berjaga sendirian mungkin bukan masalah. Begitu juga bagi Imron, rasa takutnya rela ia simpan sebentar untuk mendapatkan perhatian Hesti. Tapi aku ? sama sekali tidak ada kepentingan disini.
Api unggun yang kami buat masih menyala didepan tenda, kami berempat duduk dan tidak ada satupun yang memulai percakapan. Sisa indomie rebus yang tadi kami makan secara lahap, kini tergeletak didepan dan masih tersisa. Tiba-tiba dalam heningnya suasana, aku mendengar suara lelaki sedang bersenandung. Aku tidak tahu apakah yang lain juga mendengar suara seperti apa yang aku dengar.
“Kalian mendengarnya ?” sebelum aku berbicara Imron sudah lebih dulu bertanya.
“Itu suara yang aku dengar tadi, tapi sekarang suaranya terasa sangat dekat sekali.” Jawab Hesti.
Baim yang berdiri lebih dulu, kemudian dia mengambil senter kedalam tenda. Kami sempat memaksanya untuk diam saja dan tidak melakukan apapun. Aku takut kalau benar itu suara hantu, aku tidak mau menarik perhatiannya lantas hantu itu datang mengganggu lebih jauh lagi. Cukup suaranya saja yang bikin kami merinding, tak usah dia menampakan diri. karena kalau dia menampakan diri, aku harus meminta bantuan siapa ? dan kalaupun mau kabur, harus lari kemana ?
Baim tidak bisa kami cegah, dia malah berjalan mendatangi arah suara itu. sambil mengarahkan senter kearah rumpun pepohonan untuk mencari sumber suara misterius itu berasal. Aku mulai gelisah, takut kalau makhluk halus itu menampakan dirinya.
Setelah Baim menyorotkan senternya, tiba-tiba suara pria yang sedang bersenandung ataupun bernyanyi tadi hilang. Suasana kembali sepi hanya suara angin dan terkadang jangkrik yang terdengar.
“Siapa disana ?” tiba-tiba suara yang bergema terdengar dari atas.
Kami bertiga yang masih duduk didepan tenda segera melafalkan doa-doa. Mulanya ayat kursi yang kami percaya bisa mengusir setan, kemudian makin kesini doa kami semakin belepotan, kami tidak ingat lagi apa yang kami lafalkan.
“Siapa disana ? Baim dengan tenangnya malah menjawab pertanyaan tadi dengan pertanyaan yang sama.
Tidak ada jawaban, suasana kembali hening. Baim masih rajin menyorotkan senternya untuk mengecek arah suara, hingga akhirnya kami dibalas lagi dengan sorotan cahaya. Sekitar lima menit berlalu, terdengar suara langkah kaki dari belakang tenda kami.
“Siapa ?” Tanya Baim.
Dua orang pria dan dua orang perempuan berjalan beriringan menghampiri kami. Rupanya mereka para pendaki juga, tapi walaupun sudah mengetahui kebenarannya, sisa-sisa ketakutan tadi masih membuat lututku lemas untuk berdiri.
“Maaf mas tadi kami berteriak-teriak, kami Cuma khawatir kalau suara yang kami dengar bukan suara orang.” Baim mempersilahkan para pendaki ini untuk duduk.
“Iya maaf mas, tadi saya memang nyanyi-nyanyi untuk mengusir sepi.” Jawab pendaki pria yang tampak sedang menggendong seorang pendaki perempuan.
“Teman saya ini sedang sakit, makanya kami nekat turun gunung walaupun sudah malam begini. Kami takut terjadi apa-apa kalau memaksakan tetep dipuncak sampai besok.”
Kami membantu menurunkan perempuan digendongannya yang tampak lemas dan pucat. Hesti segera membuatkannya STMJ instan untuk teman-teman baru kami ini.
“Kenapa bisa begini ?” Tanya hesti sambil menyajikan empat gelas minuman hangat.
“Tadi kami sampai dipuncak sore. Setelah mendirikan tenda tiba-tiba saja hujan disertai angin kencang. Karena diatas tidak ada tempat berlindung, tenda kami terbawa terbang sampai berantakan. Untunglah semua barang bisa kami selamatkan. Dan sepertinya teman kami ini kedinginan, saya takut dia hipo.”
“Tadi saat hujan kencang kami juga terjebak dibawah. Sudah diakasih makan jahe ?” Tanya Baim.
“Sudah mas, tubuhnya juga sudah digosok pake balsem biar badannya hangat. Tapi kami masih tetap khawatir. Takut kalau hujan turun lagi. Lihatlah dilangit tidak terlihat bintang satupun, pasti ini mendung kalau siang hari. jadi sebelum itu terjadi kami ingin membawanya turun.”
“Tapi bukannya turun masih jauh yah, memang tidak apa-apa berjalan malam-malam ?”
“Yang kami khawatirkan Cuma hujan, semoga sebelum tengah malam kami sudah sampai dibawah. Semua teman kami juga tidak ikut turun, masih ada empat orang lagi diatas.”
“Kenapa tidak pulang semuanya ?”
“Sengaja saya larang, mereka tampak kecapean. Saya suruh mereka turun pagi-pagi saja.”
Setelah berbincang cukup lama sambil menikmati segelas minuman hangat, kawan baru kami ini segera pamit untuk melanjutkan perjalanan. Katanya tidak baik istirahat terlalu lama, takut keburu malam. Perempuan sakit yang sedari tadi tidak bicara kembali digendong teman lelaki satunya lagi, sepertinya mereka bergantian.
Sedangkan teman perempuan yang lain berjalan dibelakang mengikuti. Sebelum pergi salah satu dari mereka menitipkan korek gas kepadaku, katanya itu milik temannya yang terbawa setelah meroko. Dia menyuruhku untuk mengembalikannya kalau nanti sudah sampai dipuncak.
Hari sudah menjelang tengah malam, tapi rasa kantuk belum juga datang. aku mulai khawatir dengan teman baruku yang tadi turun, padahal kita baru saja kenal. Apakah mereka sekarang sudah sampai dibawah. Aku takut mereka tersesat. Berjalan ditengah malam menyusuri jalur pendakian tentu bukan hal yang mudah, kecuali kalau dia sudah terbiasa melakukannya.
“Tenang saja, mereka pasti sampai dibawah. Mereka kelihatan bukan pendaki amatiran seperti kalian.” Kata Baim.
“Bagaimana kamu bisa tahu Im ?”
“Membuat keputusan untuk turun ketika hari sudah malam itu tidak akan dilakukan pendaki pemula. Lihatlah ketenangan mereka saat membawa temannya yang sedang sakit sambil bernyanyi-nyanyi untuk mengusir sepi.”
“Lah kalian boro-boro tenang, baru denger sedikit suara saja sudah panik.” Lanjut Baim.
Ditengah obrolan terdengar suara gemuruh diatas langit, kadang terlihat kilat dibalik awan. Nampaknya malam ini akan turun hujan. Kesepakatan kami untuk bergantian berjaga pada akhirnya gagal juga, Hesti mau tidak mau harus tidur sendirian didalam tenda. Sedangkan kami bertiga harus tidur berdesakan.
“Tidak apaa-apa, aku tidak akan tidur. Percayalah tidak ada apapun digunung ini, sebaiknya kamu tidur yang nenyak.” Imron mencoba menenangkan Hesti.
Angin mulai bertiup, awalnya pelan tapi lama-lama semakin kencang. Udara dingin yang sedari tadi kami rasakan, begitu menjelang tengah malam dinginnya menjadi dua kali lipat. Butiran air menyentuh wajah, pertanda bahwa hujan akan segera datang.
Hesti masuk kedalam tenda lebih dulu, dari raut wajahnya ia seperti tidak rela didalam tenda sendirian. Sedangkan kami langsung masuk kedalam sleeping bag untuk menghangatkan badan. Tidak begitu lama hujan turun dengan lebatnya, api unggun yang telah kami buat kini sudah padam. Baim menyalakan senter kemudian ia gantung untuk mengusir gelap.
“Apa yang akan kalian lakukan setelah kita pulang dari pendakian ini ?” aku memulai pembicaraan. Sementara diluar hujan semakin lebat dan halilintar terus terdengar.
“Kalau tidak ada panggilan dari perusahaan yang aku lamar, mungkin selamanya aku akan terjebak didapur restoran untuk menggoreng ayam. Tapi yang pasti aku akan menikahi Hesti, dengan catatan kalau dia mau jadi pacarku” Imron yang pertama menjawab.
“Aku tidak tahu. Kalau kamu ?” Baim malah balik bertanya.
“Aku akan bekerja, menikah, membesarkan anak. Dan tua bersama istriku sambil menunggu siapa yang akan mati lebih dulu.”
“Jawaban yang dramatis.”
“ Dramatis ? Bukankah fase kehidupan orang-orang normal seperti itu ?”
“Jadi maksudmu orang-orang yang tidak melewati fase itu tidak normal ?” Baim malah balik bertanya, dia sepertinya jenis orang yang suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
“Normal dan tidak normal itukan tergantung siapa orang yang sedang membicarakannya. Dan setiap orang punya standar normalnya masing-masing. Kalau kita terus meributkan normal versimu dan versiku, hanya akan membuat bertengkar saja.”
“Apa rombongan tadi sudah sampai dibawah atau belum yah ?” tiba-tiba Imron memotong pembicaraan.
“Aku juga mulai khawatir, hujan sangat lebat diluar. Kalau mereka masih belum sampai kebawah. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang, apakah sedang berteduh ? atau tetap memaksakan jalan walaupun kehujanan.”
“Aku harap mereka sudah sampai dibawah sebelum hujan turun tadi. Kalaupun sekarang masih dijalan, semoga mereka menemukan tempat untuk berteduh.”
Tidak ada lagi pembicaraan, karena kami sudah kehabisan bahan obrolan. Imron sudah terdengar mendengkur, Baim sudah terlihat tertidur. Sementara aku masih belum bisa menutup mata, terus menggeser posisi tubuh karena merasa tidak nyaman.
Hujan yang tadi lebat kini telah berubah menjadi gerimis. Halilintar sudah tidak terdengar lagi, tapi angin masih bertiup. Aku melihat keluar dari celah resleting tenda, hanya kegelapan yang ada didepan mata.
Entah berapa lama aku menatap keluar, hingga akhirnya aku melihat cahaya bulat berwarna kuning mengerjap-ngerjap dari arah bawah. Apakah ada pendaki yang sedang naik ? cahaya itu samakin lama semakin mendekat.
Kini terlihat jelas, beberapa meter dibawah terlihat seorang pria sedang berdiri diatas batu dan menyorotkan senter kearahku. Wajahnya tidak terlihat jelas karena dia mengenakan penutup kepala, tapi tangannya melambai-lembai seperti sedang memanggilku.
Aku terperanjat bangun dan membuka resleting lebih lebar lagi. Aku membangunkan Baim dengan cara menggoyang-goyangkan tubuhnya.
“Ada apa ?”
“Ada yang minta toloh dibawah.”
Saat kami melihat kearah luar, cahaya yang tadi aku lihat hilang, gelap tidak ada apapun disana. Tubuhku merinding, aku mencoba meyakinkan Baim bahwa barusan aku benar-benar melihat seorang pria yang sedang melambaikan tangannya. Tapi sepertinya dia sedang tidak tertarik dengan pembicaraanku, hingga dia menyuruhku menutup resleting tenda dan kembali tidur.
Sebisa mungkin aku menutup mata, tapi tetap saja aku tidak bisa tidur. Ketika hujan sudah mulai reda dan angin tidak bertiup lagi. Tiba-tiba disamping tenda aku mendengar suara langkah kaki dan hembusan nafas seseorang yang sedang kelelahan.
“Mas boleh ikut masuk, saya kedinginan disini” aku sangat yakin bahwa yang kudengar adalah suara seorang pria.
Aku mencoba diam dan tidak meresponnya, aku tahu itu bukan manusia. Tubuhku sudah basah oleh keringat karena ketakutan. Aku mencoba tidak bergerak, dan bernafas secara perlahan. Tapi suara itu kini semakin dekat, seperti sedang berbisik disebelah telingaku.
“Mas saya tidak mau mati kedinginan, ijinkan saya masuk.” suara itu semakin lirih terdengar.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
twiratmoko dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas
Tutup