- Beranda
- Stories from the Heart
The Paranoid ----Khusus untuk Pecinta Horor Tingkat Dewa -----
...
TS
benz9999
The Paranoid ----Khusus untuk Pecinta Horor Tingkat Dewa -----
Cerita ini hanya fiktif belaka yang diambil dari urban legend, sosok hantu yang diceritakan banyak orang pada tempat tertentu.
tapi sekali lagi, jalan cerita ini sepenuhnya karangan TS yang hanya bermaksud menyalurkan hobby nulis dan semata-mata untuk menghibur, menemani hari2 para penikmat tulisan bergenre horor.
apabila ada kemiripan Tempat, Nama Tokoh dan lain sebagainya, itu semua tanpa unsur kesengajaan.
Jika banyak respon baik dan terhibur dengan cerita ini, maka TS akan mengupdate cerita lainnya Karangan TS yang tidak kalah sukses membuat bulu roma meremang
hak cipta dilindungi ane dan yang maha kuasa, dilarang mengcopy tanpa izin kalo ga mau kena azab hahaha
TS terbuka dengan kritik dan saran yang baik terhadap tulisan ini.
selamat membaca, semoga terhibur
berhubung ceritanya akan terus di update, ane bikinin index untuk cerita selanjutnya ya gan
Index :
cerita ke 3 --Shadow Man--
cerita ke 4 ---Jerigo---
cerita ke 5 ---tell me---
tapi sekali lagi, jalan cerita ini sepenuhnya karangan TS yang hanya bermaksud menyalurkan hobby nulis dan semata-mata untuk menghibur, menemani hari2 para penikmat tulisan bergenre horor.
apabila ada kemiripan Tempat, Nama Tokoh dan lain sebagainya, itu semua tanpa unsur kesengajaan.
Jika banyak respon baik dan terhibur dengan cerita ini, maka TS akan mengupdate cerita lainnya Karangan TS yang tidak kalah sukses membuat bulu roma meremang
hak cipta dilindungi ane dan yang maha kuasa, dilarang mengcopy tanpa izin kalo ga mau kena azab hahaha
TS terbuka dengan kritik dan saran yang baik terhadap tulisan ini.
selamat membaca, semoga terhibur
Spoiler for The Paranoid:
Meidy memainkan cursor pada layar komputernya, memeriksa setiap laporan datanya. Baru dua minggu Ia diterima bekerja di kantor yang bergerak di bidang kontraktor tersebut sebagai Staff accounting.
kantor yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga lantai. hanya saja ukuran space pada setiap lantainya yang terlihat cukup luas. kantor ini berada di deretan paling ujung diantara tujuh bangunan kantor lainnya. area ini memang khusus diperuntukkan untuk perkantoran yang dikelola oleh management developer. tapi sepertinya area tersebut baru selesai dibangun, karena sebagian besar ruko perkantoran tersebut masih kosong sehingga lokasi sekitar terlihat sangat sepi.
Hanya lantai satu yang dipergunakan untuk bekerja, lantai dua dibiarkan kosong walaupun perlengkapan kantor sudah lengkap, sedangkan lantai tiga dijadikan gudang tempat barang yang tidak terpakai.
untuk menuju toilet mereka harus naik, karena toilet hanya tersedia di lantai dua dan lantai tiga.
lelaki kurus yang duduk disebelahnya bernama Anji, rekan kerjanya yang lebih dulu bekerja pada perusahaan tersebut.
Anji mengatakan bahwa Ia terbiasa sendiri di kantor itu. Ia bertugas sebagai Design Interior. sedangkan bos mereka sangat jarang mengunjungi kantor, dalam satu bulan dapat dihitung sekitar dua atau tiga kali.
Anji merupakan rekan kerja yang baik dan tidak segan membantu Meidy walau Jobdesk mereka berbeda. Namun terkadang Ia bertingkah jahil seperti anak kecil. Meidy kerap kali menganggap candaan yang dilontarkan Anji sangat aneh dan Ia tidak menyukainya. Setiap kali Meidy akan beranjak ke toilet Anji selalu melontarkan candaan.
"hati-hati di atas ada si Merah" ucap Anji menyeringai sambil melirik ke lantai atas, lalu kemudian terkekeh.
Meidy selalu menanggapinya dengan mencibir dan berusaha terlihat tidak peduli. karna Ia sudah paham jika Ia menanggapi dan menujukkan rasa takut maka rekannya ini akan bertingkah semakin menjadi untuk mengerjainya.
Jauh dilubuk hatinya sebenarnya perkataan Anji cukup membuatnya merasa risih. setiap kali menuju toilet Meidy selalu merasa sedikit takut. terkadang Ia memperhatikan sofa merah klasik dan berukuran besar disamping pintu kecil menuju toilet yang semakin menambah kesan mistis di ruangan yang kosong dengan dinding kaca yang dibiarkan selalu tertutup oleh gorden itu. menjadikannya suasana yang temaram walaupun di siang hari. terlebih ketika menyibakkan gorden dibagian belakang yang menjadi pembatas area perkantoran tersebut, maka langsung terpampang jelas dan hanya berjarak sekitar tiga meter yaitu sekumpulan pohon bambu liar yang terlihat saling bersenggolan tertiup angin.
tapi Meidy selalu berusaha menguasai rasa takutnya. ia selalu menepis perasaannya. apa sebenarnya si Merah yang di maksud Anji itu, ah apa mungkin sofa itu? jadi hanya sofa itu? haha lucu sekali! bahkan Ia pun tidak pernah menemukan apa-apa ketika di lantai dua. mengapa Ia bergitu bodoh dan terlalu menanggapi candaan konyol Anji, begitu pikirnya.
siang itu Meidy beranjak dari kursinya hendak naik menuju toilet. seperti biasa Anji bersiap melontarkan candaannya.
"awas, diatas..."
"apa? si Merah lagi??" Meidy memotong cepat. matanya tampak melotot kepada Anji.
Anji berusaha menyembunyikan tawanya. tapi diotaknya muncul sebuah ide untuk mengerjai Meidy. sifat jahilnya memang sangat menyebalkan. Ia melepas sepatunya dan benjinjit perlahan menaiki anak tangga agar suaranya tidak terdengar. ketika sampai diatas Ia pun berhenti di depan pintu geser kecil yang menghubungkan lorong kecil menuju toilet. Ia menggeser pintu kecil tersebut dan menutupnya agar ketika Meidy keluar dari toilet dan membuka pintu kecil itu maka Ia akan kaget melihat kepala Anji menjulur dibalik pintu itu. disitulah Anji akan merasa puas melihat ekpresi kaget Meidy.
Ia tak sabar menunggu. perlahan terdengar suara langkah sepatu Meidy. Anji semakin bersemangat dan bersiap memasang wajah yang sangat seram agar semakin membuat Meidy ketakutan. langkah sepatu Meidy semakin dekat, kemudian pintu kecil itu bergeser. Anji segera menjulurkan kepalanya dengan ekspresi seram yang dibuatnya disertai suara dengusan kecilnya. Meidy terlonjak kaget dan spontan mundur ketika mendapatinya dan beberapa detik kemudian Ia berteriak histeris. Anji tak kuasa menahan tawanya dan terpingkal-pingkal memegang perutnya. Ia merasa sangat sukses mengerjai Meidy. Namun beberapa saat kemudian tawanya perlahan terhenti ketika Ia menyadari tubuh Meidy sudah terbaring di lantai.
Anji segera menghampiri Meidy, menepuk-nepuk bahunya. dibenaknya sempat terpikir apa mungkin kali ini Meidy yang mengerjainya? tapi Meidy tak kunjung bangun. Ia pun mulai panik. Mereka hanya berdua di kantor itu dan kini Anji harus sendirian menangani temannya yang pingsan ini. Ia pun mengangkat tubuh Meidy dan membaringkannya di atas sofa merah disamping pintu kecil itu.
Ia menatap Meidy dengan bingung dan masih tak percaya bahwa candaan konyolnya bisa sampai membuat temannya tak sadarkan diri. apakah Meidy selemah itu? atau mungkin Meidy adalah penderita lemah jantung? Ia semakin merasa bersalah diantara pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam kepanikannya.
Berbagai cara Ia lakukan mulai dari memijit kening Meidy, mendekatkan minyak aromatherapy yang Ia ambil dari kotak obat ke hidung Meidy, berusaha membangunkannya. Hingga sekitar lima belas menit kemudian terlihat Meidy perlahan menggerakkan tangganya kemudian membuka matanya.
“Mei, kamu udah sadar?” Anji langsung mendekat dan menepuk pelan bahu Meidy.
Meidy bangun dengan ekpresi kaget dan panik. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan tatapan nanar. lalu kemudian segera bengkit dengan tergesa-gesa dengan langkah yang tertatih-tatih.
Anji berusaha menahannya.
Meidy tidak memperdulikan Anji dan terus berlari kecil menuruni anak tangga dengan langkah yang lunglai dan nafas masih terengah-engah. Meraih tas nya kemudian pergi tanpa mematikan komputernya yang masih menyala.
“Mei” Anji berjalan dengan cepat berusaha mengikuti.
Meidy menghidupkan sepeda motornya dengan terburu-buru meski terlihat jelas bahwa Ia masih sangat lemah. Kemudian Ia langsung melesat pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Anji terdiam menatap Meidy yang semakin menjauh. Selain merasa bersalah Ia pun merasa khawatir dengan Meidy yang mengendarai motor dalam keadaan seperti itu. Ia tidak menyangka jika Meidy akan semarah itu.
Keesokan harinya Meidy tidak masuk kerja. Anji berusaha menghubungi melalui ponselnya namun tidak ada jawaban.
Sore itu, Jam menunjukkan pukul 18.30 dan Anji masih berkutat dengan layar monitor didepannya yang tengah menampilkan pertempuran dalam Game Action yang sedang Ia mainkan.
Hari ini sudah masuk hari ketiga Meidy tidak datang ke kantor dan Anji sudah sedikit melupakan kejadian itu meski Ia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah dalam benaknya ketika teringat Meidy. Sampai suatu ketika telepon berdering.
Siapa yang menelepon di luar jam kantor, begitu pikirnya. segera Ia meraih gagang telepon itu.
“halo, selamat Sore,” Jawab Anji pelan
“Halo..” suara wanita di sebrang sana tak kalah pelan
“Lym’s contractor, ada yang bisa dibantu?” jawab Anji lagi. Kali ini suaranya lebih dipertegas.
“Mas Anji..” wanita itu menjawab masih dengan nada pelan dan terdengar ragu.
Seketika Anji menyadari suara di sebrang sana
“Mei? Ini Kamu?? Tanya Anji terdengar sumringah “eh, ehm apa kabar?” lanjutnya kembali, Nada suaranya kini berubah menjadi gugup ketika Ia menyadari kekonyolannya tempo hari yang berakibat fatal.
Meidy tidak menjawab. Mereka saling berdiam beberapa detik.
“Mei, Aku minta maaf. Niatku Cuma ngerjain Kamu” Anji berusaha menata omongannya yang terdengar sangat gugup “Aku sadar becandaku kelewatan”
Belum terdengar jawaban dari Meidy, yang terdengar hanya hembusan nafasnya.
“Mei, Aku ga bermaksud…”
“ternyata Mas Anji bener, si Merah itu memang ada” Jawab Meidy memotong ucapan Anji.
Anji mengernyitkan dahinya
“maksud kamu?” Anji tidak mengerti, “oh itu.., itu Cuma lelucon yang Aku buat sendiri untuk menakuti Kamu Mei, hahaha” lanjut Anji disertai tawa yang agak dipaksakan. Masih terdengar gugup tentunya.
“Bukan Mas..” Jawab Meidy tertahan
“kemarin itu Aku yang ngerjain Kamu dengan maksud ngagetin Kamu, tapi ternyata Aku keterlaluan sampe Kamu pingsan” Anji berusaha menjelaskan “Aku tau Aku salah, Maafin Aku Mei,” lanjutnya dengan nada bersalah.
“Bukan Mas yang membuat Aku pingsan, tapi ada orang lain, kepalanya ikut muncul dibelakang Mas, dan tangannya memeluk bahu Mas dari belakang…, gaun merahnya sangat lusuh, menjuntai hampir menempel dengan lantai. Kakinya tidak terlihat..” ucap Meidy pelan dan lirih.
“Mei, Kamu jangan becanda,” jawab Anji. Suaranya hampir bergetar.
“tangannya yang keriput, kukunya yang runcing, wajahnya yang rusak, matannya yang merah pekat, mulutnya yang sobek sampai ke telinga dan senyumnya menyeringai penuh ancaman” Meidy berhenti sesaat mengatur nafasnya “Aku ga bisa lupa Mas.., sampai sekarang Aku ga bisa lupa. Dan aku selalu merasa dia terus mengawasiku” nada bicara Meidy terdengar sangat ketakutan pelan dan juga lirih.
Namun Anji bisa mendengar itu semua dengan jelas. Nafas Anji tercekat. Jantungnya berdegup kencang.
“Mei..” belum sempat Anji melanjutkan, telepon itu mendadak terputus.
Angin berhembus entah datang dari mana, dan menerpa tengkuk leher Anji. Seketika bulu romanya meremang. Ia bangkit dari kursinya, berusaha mengemasi barangnya dengan gemetar. Mendadak Ia merasa seperti tengah diawasi seseorang.
Tiba-tiba gelap. Seluruh lampu di area perkantoran itu mendadak mati.
kantor yang tidak terlalu besar dan hanya memiliki tiga lantai. hanya saja ukuran space pada setiap lantainya yang terlihat cukup luas. kantor ini berada di deretan paling ujung diantara tujuh bangunan kantor lainnya. area ini memang khusus diperuntukkan untuk perkantoran yang dikelola oleh management developer. tapi sepertinya area tersebut baru selesai dibangun, karena sebagian besar ruko perkantoran tersebut masih kosong sehingga lokasi sekitar terlihat sangat sepi.
Hanya lantai satu yang dipergunakan untuk bekerja, lantai dua dibiarkan kosong walaupun perlengkapan kantor sudah lengkap, sedangkan lantai tiga dijadikan gudang tempat barang yang tidak terpakai.
untuk menuju toilet mereka harus naik, karena toilet hanya tersedia di lantai dua dan lantai tiga.
lelaki kurus yang duduk disebelahnya bernama Anji, rekan kerjanya yang lebih dulu bekerja pada perusahaan tersebut.
Anji mengatakan bahwa Ia terbiasa sendiri di kantor itu. Ia bertugas sebagai Design Interior. sedangkan bos mereka sangat jarang mengunjungi kantor, dalam satu bulan dapat dihitung sekitar dua atau tiga kali.
Anji merupakan rekan kerja yang baik dan tidak segan membantu Meidy walau Jobdesk mereka berbeda. Namun terkadang Ia bertingkah jahil seperti anak kecil. Meidy kerap kali menganggap candaan yang dilontarkan Anji sangat aneh dan Ia tidak menyukainya. Setiap kali Meidy akan beranjak ke toilet Anji selalu melontarkan candaan.
"hati-hati di atas ada si Merah" ucap Anji menyeringai sambil melirik ke lantai atas, lalu kemudian terkekeh.
Meidy selalu menanggapinya dengan mencibir dan berusaha terlihat tidak peduli. karna Ia sudah paham jika Ia menanggapi dan menujukkan rasa takut maka rekannya ini akan bertingkah semakin menjadi untuk mengerjainya.
Jauh dilubuk hatinya sebenarnya perkataan Anji cukup membuatnya merasa risih. setiap kali menuju toilet Meidy selalu merasa sedikit takut. terkadang Ia memperhatikan sofa merah klasik dan berukuran besar disamping pintu kecil menuju toilet yang semakin menambah kesan mistis di ruangan yang kosong dengan dinding kaca yang dibiarkan selalu tertutup oleh gorden itu. menjadikannya suasana yang temaram walaupun di siang hari. terlebih ketika menyibakkan gorden dibagian belakang yang menjadi pembatas area perkantoran tersebut, maka langsung terpampang jelas dan hanya berjarak sekitar tiga meter yaitu sekumpulan pohon bambu liar yang terlihat saling bersenggolan tertiup angin.
tapi Meidy selalu berusaha menguasai rasa takutnya. ia selalu menepis perasaannya. apa sebenarnya si Merah yang di maksud Anji itu, ah apa mungkin sofa itu? jadi hanya sofa itu? haha lucu sekali! bahkan Ia pun tidak pernah menemukan apa-apa ketika di lantai dua. mengapa Ia bergitu bodoh dan terlalu menanggapi candaan konyol Anji, begitu pikirnya.
siang itu Meidy beranjak dari kursinya hendak naik menuju toilet. seperti biasa Anji bersiap melontarkan candaannya.
"awas, diatas..."
"apa? si Merah lagi??" Meidy memotong cepat. matanya tampak melotot kepada Anji.
Anji berusaha menyembunyikan tawanya. tapi diotaknya muncul sebuah ide untuk mengerjai Meidy. sifat jahilnya memang sangat menyebalkan. Ia melepas sepatunya dan benjinjit perlahan menaiki anak tangga agar suaranya tidak terdengar. ketika sampai diatas Ia pun berhenti di depan pintu geser kecil yang menghubungkan lorong kecil menuju toilet. Ia menggeser pintu kecil tersebut dan menutupnya agar ketika Meidy keluar dari toilet dan membuka pintu kecil itu maka Ia akan kaget melihat kepala Anji menjulur dibalik pintu itu. disitulah Anji akan merasa puas melihat ekpresi kaget Meidy.
Ia tak sabar menunggu. perlahan terdengar suara langkah sepatu Meidy. Anji semakin bersemangat dan bersiap memasang wajah yang sangat seram agar semakin membuat Meidy ketakutan. langkah sepatu Meidy semakin dekat, kemudian pintu kecil itu bergeser. Anji segera menjulurkan kepalanya dengan ekspresi seram yang dibuatnya disertai suara dengusan kecilnya. Meidy terlonjak kaget dan spontan mundur ketika mendapatinya dan beberapa detik kemudian Ia berteriak histeris. Anji tak kuasa menahan tawanya dan terpingkal-pingkal memegang perutnya. Ia merasa sangat sukses mengerjai Meidy. Namun beberapa saat kemudian tawanya perlahan terhenti ketika Ia menyadari tubuh Meidy sudah terbaring di lantai.
Anji segera menghampiri Meidy, menepuk-nepuk bahunya. dibenaknya sempat terpikir apa mungkin kali ini Meidy yang mengerjainya? tapi Meidy tak kunjung bangun. Ia pun mulai panik. Mereka hanya berdua di kantor itu dan kini Anji harus sendirian menangani temannya yang pingsan ini. Ia pun mengangkat tubuh Meidy dan membaringkannya di atas sofa merah disamping pintu kecil itu.
Ia menatap Meidy dengan bingung dan masih tak percaya bahwa candaan konyolnya bisa sampai membuat temannya tak sadarkan diri. apakah Meidy selemah itu? atau mungkin Meidy adalah penderita lemah jantung? Ia semakin merasa bersalah diantara pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan dalam kepanikannya.
Berbagai cara Ia lakukan mulai dari memijit kening Meidy, mendekatkan minyak aromatherapy yang Ia ambil dari kotak obat ke hidung Meidy, berusaha membangunkannya. Hingga sekitar lima belas menit kemudian terlihat Meidy perlahan menggerakkan tangganya kemudian membuka matanya.
“Mei, kamu udah sadar?” Anji langsung mendekat dan menepuk pelan bahu Meidy.
Meidy bangun dengan ekpresi kaget dan panik. Ia menoleh ke kiri dan kanan dengan tatapan nanar. lalu kemudian segera bengkit dengan tergesa-gesa dengan langkah yang tertatih-tatih.
Anji berusaha menahannya.
Meidy tidak memperdulikan Anji dan terus berlari kecil menuruni anak tangga dengan langkah yang lunglai dan nafas masih terengah-engah. Meraih tas nya kemudian pergi tanpa mematikan komputernya yang masih menyala.
“Mei” Anji berjalan dengan cepat berusaha mengikuti.
Meidy menghidupkan sepeda motornya dengan terburu-buru meski terlihat jelas bahwa Ia masih sangat lemah. Kemudian Ia langsung melesat pergi tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
Anji terdiam menatap Meidy yang semakin menjauh. Selain merasa bersalah Ia pun merasa khawatir dengan Meidy yang mengendarai motor dalam keadaan seperti itu. Ia tidak menyangka jika Meidy akan semarah itu.
Keesokan harinya Meidy tidak masuk kerja. Anji berusaha menghubungi melalui ponselnya namun tidak ada jawaban.
Sore itu, Jam menunjukkan pukul 18.30 dan Anji masih berkutat dengan layar monitor didepannya yang tengah menampilkan pertempuran dalam Game Action yang sedang Ia mainkan.
Hari ini sudah masuk hari ketiga Meidy tidak datang ke kantor dan Anji sudah sedikit melupakan kejadian itu meski Ia tidak bisa menghilangkan rasa bersalah dalam benaknya ketika teringat Meidy. Sampai suatu ketika telepon berdering.
Siapa yang menelepon di luar jam kantor, begitu pikirnya. segera Ia meraih gagang telepon itu.
“halo, selamat Sore,” Jawab Anji pelan
“Halo..” suara wanita di sebrang sana tak kalah pelan
“Lym’s contractor, ada yang bisa dibantu?” jawab Anji lagi. Kali ini suaranya lebih dipertegas.
“Mas Anji..” wanita itu menjawab masih dengan nada pelan dan terdengar ragu.
Seketika Anji menyadari suara di sebrang sana
“Mei? Ini Kamu?? Tanya Anji terdengar sumringah “eh, ehm apa kabar?” lanjutnya kembali, Nada suaranya kini berubah menjadi gugup ketika Ia menyadari kekonyolannya tempo hari yang berakibat fatal.
Meidy tidak menjawab. Mereka saling berdiam beberapa detik.
“Mei, Aku minta maaf. Niatku Cuma ngerjain Kamu” Anji berusaha menata omongannya yang terdengar sangat gugup “Aku sadar becandaku kelewatan”
Belum terdengar jawaban dari Meidy, yang terdengar hanya hembusan nafasnya.
“Mei, Aku ga bermaksud…”
“ternyata Mas Anji bener, si Merah itu memang ada” Jawab Meidy memotong ucapan Anji.
Anji mengernyitkan dahinya
“maksud kamu?” Anji tidak mengerti, “oh itu.., itu Cuma lelucon yang Aku buat sendiri untuk menakuti Kamu Mei, hahaha” lanjut Anji disertai tawa yang agak dipaksakan. Masih terdengar gugup tentunya.
“Bukan Mas..” Jawab Meidy tertahan
“kemarin itu Aku yang ngerjain Kamu dengan maksud ngagetin Kamu, tapi ternyata Aku keterlaluan sampe Kamu pingsan” Anji berusaha menjelaskan “Aku tau Aku salah, Maafin Aku Mei,” lanjutnya dengan nada bersalah.
“Bukan Mas yang membuat Aku pingsan, tapi ada orang lain, kepalanya ikut muncul dibelakang Mas, dan tangannya memeluk bahu Mas dari belakang…, gaun merahnya sangat lusuh, menjuntai hampir menempel dengan lantai. Kakinya tidak terlihat..” ucap Meidy pelan dan lirih.
“Mei, Kamu jangan becanda,” jawab Anji. Suaranya hampir bergetar.
“tangannya yang keriput, kukunya yang runcing, wajahnya yang rusak, matannya yang merah pekat, mulutnya yang sobek sampai ke telinga dan senyumnya menyeringai penuh ancaman” Meidy berhenti sesaat mengatur nafasnya “Aku ga bisa lupa Mas.., sampai sekarang Aku ga bisa lupa. Dan aku selalu merasa dia terus mengawasiku” nada bicara Meidy terdengar sangat ketakutan pelan dan juga lirih.
Namun Anji bisa mendengar itu semua dengan jelas. Nafas Anji tercekat. Jantungnya berdegup kencang.
“Mei..” belum sempat Anji melanjutkan, telepon itu mendadak terputus.
Angin berhembus entah datang dari mana, dan menerpa tengkuk leher Anji. Seketika bulu romanya meremang. Ia bangkit dari kursinya, berusaha mengemasi barangnya dengan gemetar. Mendadak Ia merasa seperti tengah diawasi seseorang.
Tiba-tiba gelap. Seluruh lampu di area perkantoran itu mendadak mati.
berhubung ceritanya akan terus di update, ane bikinin index untuk cerita selanjutnya ya gan

Index :
cerita ke 3 --Shadow Man--
cerita ke 4 ---Jerigo---
cerita ke 5 ---tell me---
Diubah oleh benz9999 05-07-2018 11:00
pikadeku457 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
10K
Kutip
58
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
benz9999
#25
update cerita ke 3
"Malam ini kita jadi jalan?" tanya laras kepada arya setelah turun dari mobil tepat di depan kantornya
"Ya, jam berapa nanti aku jemput?"
"Mungkin kira-kira jam 7, aku kayanya bakal lembur hari ini"
Arya mengangguk-angguk sambil melebarkan matanya.
"Yang lain lembur juga atau kamu sendiri aja?" tanya arya
"Gimana nanti aja, kalo pun yang lain ga lembur ga masalah aku nunggu sendiri"
"Ga takut?" tanya arya dengan nada menakuti seraya memicingkan matanya
"Takut?" laras mengerutkan kening lalu memanyunkan bibirnya
Arya terkekeh
"Kan lagi populer tuh, shadow man yang suka nyari tempat sepi terus bunuh orang"
Laras melotot
"Iiiih rese deh kamu, udah sana balik ah, aku mau kerja" jawab laras dengan nada jengkel sambil melirik jam tangan nya.
Arya tertawa lepas.
"Oke okee," ucapnya dengan mengangkat kedua tangannya, dan terus diselingi tawanya. Kemudian Ia memutar mobilnya.
Laras menatapnya sebal.
"Sampai ketemu nanti sore ya.. " lanjut Arya bersamaan dengan laju mobilnya. suaranya nyaris tak terdengar tapi terlihat jelas Ia melambaikan tangannya.
Laras membalas lambaian nya dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Saat ini dikota tersebut memang sedang marak pembunuhan entah apa motifnya. Yang pasti pembunuh tersebut kerap mengunjungi tempat sepi. siapapun yg Ia temui ditempat itu akan langsung dibunuh. dan menurut keterangan korban yang selamat, Ia tidak sempat melihat kedatangan nya, tidak ada tanda apapun yang dirasa aneh, pergerakan nya sangat cepat, dan langsung menyerangnya bertubi-tubi. Yang sempat dilihat oleh saksi tersebut ialah orang itu memakai mantel hitam dengan tudung menutupi wajahnya. Tubuhnya tinggi besar, kedatanganya tanpa diduga dan melesat sangat cepat seperti bayangan. Maka dari itu warga setempat menjulukinya sebagai Shadow Man.
Beruntung pada saat Shadow Man menyerang korban tersebut ada mobil yang sempat melintas dan Shadow Man langsung melesat hilang, sehingga Ia masih selamat meskipun kondisinya sangat memprihatinkan dengan mata sebelah kiri rusak nyaris tercungkil dan tubuh penuh sayatan. Syukurlah kondisinya semakin membaik karna langsung ditangani dokter. Sampai saat ini hanya Dia satu-satunya yang beruntung dan nyawanya masih tertolong. Sedangkan Korban lain semua meninggal dengan kondisi mengenaskan. Kebanyakan bagian tubuhnya terpotong dengan kedua bola mata yang tercungkil. tapi dari semua korban tidak ada satupun yang barang berharga atau bagian tubuhnya yg diambil oleh pelaku. Jelas membingungkan motif pembunuhan tersebut. Sehingga dugaan sementara mungkin pelaku adalah seorang psikopat yang hanya mencari kepuasan dengan cara menghilangkan nyawa orang.
Jam sudah menujukkan pukul 19.00, semua teman kantor Laras memutuskan pulang lebih dulu, sedangkan Laras baru menyelesaikan pekerjaannya dan menunggu Arya yang belum menjemputnya.
"Macet bgt, aku puter balik aja potong jalan nanti tembusnya belakang kantor kamu. Tunggu ya."pesan singkat masuk dari arya.
"Bukannya jalan itu ga boleh dilewatin sementara ya? Lagi rawan disana yank" laras menjawab pesan singkatnya.
"Udah tenang aja, ga akan ada apa-apa"
"Ok deh, Aku cuma khawatir aja"
"Ga ada apapun yank, bilang aja kamu yang takut disamperin Shadow Man ya? Hahaha"
"Plis deh yank
"
"Nengok kesamping deh, tuh dia ada disamping kamu. Hahahaha"
"Sumpah gak lucu yank!!!"
Jam menunjukan pukul 19.25. Arya belum membalas pesan singkatnya.
Laras mulai gusar, Ia berharap Arya segera mengabari nya bahwa Ia sudah tiba dan menunggu di loby.
Laras mengitari pandangan, hanya beberapa tumpukan berkas dan property kerja lainnya yang tampak disekelilingnya. Ia bangkit menuju jendela kaca yang besar dan menyibakkan gorden menatap keluar kantor. Suasana terlihat sepi disana. Ia memutuskan untuk turun dan menunggu dibawah. Mungkin itu lebih baik, pikirnya.
Laras berdiri diantara deretan kursi tunggu di bagian luar loby kantor. Suasana sangat sepi, bahkan security yang harusnya masih berjaga pun tidak tampak.
Ia kembali membuka handphone nya. Sudah 45 menit Ia menunggu dan belum ada balasan dari Arya. Bersamaan dengan itu pesan singkat masuk ke ponselnya.
"Hahahaha" hanya seperti itu balasan pesan dari Arya
"Yank, Kamu dimana?? Harusnya 30 menit yang lalu Kamu udah sampe."
"Takut yaaa? Tuh liat deh dibelakang"
"Tolong Yank, Aku serius, Kamu dimana sekarang?"
"Dia disamping kiri Kamu"
Laras refleks seketika menoleh ke kiri, dan tentu saja tidak ada apapun disana. Dia tau Arya tengah meledeknya
"Kalo Kamu terus becanda, Aku pulang aja, pesan taksi onlie sekarang! "
"sekarang dia ada diatas Kamu"
Laras benar-benar marah. Ia mendengus menahan kekesalan yang teramat sangat.
"ARYA STOP!!! AKU BENAR-BENAR MARAH SEKARANG."
ia memencet tombol bergambar gagang telepon pada nomor telepon Arya yang tertera di ponselnya, berusaha menghubunginya. Tapi Arya tidak mengangkat. Ia mencoba lagi, tetap tidak diagkat.
Ia menggeleng dengan raut wajah kecewa. Segera Ia membuka aplikasi pemesanan taksi Online. Bersamaan dengan itu pesan singkat masuk. Segera Ia membuka pesan tersebut. Bukan dari Arya melainkan dari teman dekatnya, Listy.
"Laraaaas kenapa susah sekali ditelepon"
Laras mengernyitkan dahi, belum sempa Ia mengetik balasan, pesan singkat dari Listy kembali masuk.
"Oh my god, Laras... Ayolah, angkat teleponnya"
Laras semakin bingung, karna tidak ada telepon masuk dari siapapun ke ponselnya.
Laras mengetik balasan, belum sempat Ia menyelesaikan pesan nya, masuk kembali pesan dari Listy, kali ini isinya sebuah pesan suara.
Laras segera membuka nya.
Terdengar nada kepanikan diselingi isak tangis pada suara Listy.
"Laras.., mohon maaf Aku harus kasih tau ini melalui pesan suara hmmm.." terdengar suara Listy bergetar, dengan nafas tersengal-sengal, antara kepanikan dan ketakutan "aku berusaha nelpon kamu berkali-kali ga ada jawaban" lanjutnya. "sekarang Aku di TKP kejadian, Arya... ditemukan tewas dimobil dalam kondisi..., Umm, Kamu tau cerita Shadow Man kan?" Listy berhenti sejenak, diiringi tangisan yang menyayat "polisi mengatakan kejadian nya mungkin 30 menit yang lalu, segera datang kesini Laras, lokasi kira-kira tiga kilo melalui belakang kantor kamu, ga jauh dari Taman lampu. Laras... Aku mohon maaf, Kamu harus kuat" pesan suara itu berakhir.
Laras menutup mulutnya, air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ia menggenggam ponselnya erat-erat. Dadanya sesak, kepalanya pusing. Ini sulit dipercaya. Ingin rasanya Ia berteriak.
Tiba-tiba Ia teringat sesuatu, segera Ia membuka ponselnya. Pesan dari Arya yang tadi...
Bertepatan dengan itu pesan singkat kembali masuk. Dari Arya...
Laras membuka dengan gemetar, jemari nya nyaris tidak bisa membuka tombol Open pada ponselnya. Kemudian pesan itu terbuka,
"Dia sekarang ada dibelakangmu, tepat satu langkah dibelakangmu"
Laras mengatur nafasnya, dihadapannya bayangan tinggi besar memantul menindih bayangan dirinya sendiri, ujung bayangan itu berbentuk kerucut, seperti sebuah tudung.
Tubuh Laras bergetar hebat, ia berusaha mengangkat kakinya untuk berlari, tapi terlambat, terdapat hentakan besar pada tubuhnya.
Kemudian gelap.
Spoiler for shadow man:
"Malam ini kita jadi jalan?" tanya laras kepada arya setelah turun dari mobil tepat di depan kantornya
"Ya, jam berapa nanti aku jemput?"
"Mungkin kira-kira jam 7, aku kayanya bakal lembur hari ini"
Arya mengangguk-angguk sambil melebarkan matanya.
"Yang lain lembur juga atau kamu sendiri aja?" tanya arya
"Gimana nanti aja, kalo pun yang lain ga lembur ga masalah aku nunggu sendiri"
"Ga takut?" tanya arya dengan nada menakuti seraya memicingkan matanya
"Takut?" laras mengerutkan kening lalu memanyunkan bibirnya
Arya terkekeh
"Kan lagi populer tuh, shadow man yang suka nyari tempat sepi terus bunuh orang"
Laras melotot
"Iiiih rese deh kamu, udah sana balik ah, aku mau kerja" jawab laras dengan nada jengkel sambil melirik jam tangan nya.
Arya tertawa lepas.
"Oke okee," ucapnya dengan mengangkat kedua tangannya, dan terus diselingi tawanya. Kemudian Ia memutar mobilnya.
Laras menatapnya sebal.
"Sampai ketemu nanti sore ya.. " lanjut Arya bersamaan dengan laju mobilnya. suaranya nyaris tak terdengar tapi terlihat jelas Ia melambaikan tangannya.
Laras membalas lambaian nya dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Saat ini dikota tersebut memang sedang marak pembunuhan entah apa motifnya. Yang pasti pembunuh tersebut kerap mengunjungi tempat sepi. siapapun yg Ia temui ditempat itu akan langsung dibunuh. dan menurut keterangan korban yang selamat, Ia tidak sempat melihat kedatangan nya, tidak ada tanda apapun yang dirasa aneh, pergerakan nya sangat cepat, dan langsung menyerangnya bertubi-tubi. Yang sempat dilihat oleh saksi tersebut ialah orang itu memakai mantel hitam dengan tudung menutupi wajahnya. Tubuhnya tinggi besar, kedatanganya tanpa diduga dan melesat sangat cepat seperti bayangan. Maka dari itu warga setempat menjulukinya sebagai Shadow Man.
Beruntung pada saat Shadow Man menyerang korban tersebut ada mobil yang sempat melintas dan Shadow Man langsung melesat hilang, sehingga Ia masih selamat meskipun kondisinya sangat memprihatinkan dengan mata sebelah kiri rusak nyaris tercungkil dan tubuh penuh sayatan. Syukurlah kondisinya semakin membaik karna langsung ditangani dokter. Sampai saat ini hanya Dia satu-satunya yang beruntung dan nyawanya masih tertolong. Sedangkan Korban lain semua meninggal dengan kondisi mengenaskan. Kebanyakan bagian tubuhnya terpotong dengan kedua bola mata yang tercungkil. tapi dari semua korban tidak ada satupun yang barang berharga atau bagian tubuhnya yg diambil oleh pelaku. Jelas membingungkan motif pembunuhan tersebut. Sehingga dugaan sementara mungkin pelaku adalah seorang psikopat yang hanya mencari kepuasan dengan cara menghilangkan nyawa orang.
Jam sudah menujukkan pukul 19.00, semua teman kantor Laras memutuskan pulang lebih dulu, sedangkan Laras baru menyelesaikan pekerjaannya dan menunggu Arya yang belum menjemputnya.
"Macet bgt, aku puter balik aja potong jalan nanti tembusnya belakang kantor kamu. Tunggu ya."pesan singkat masuk dari arya.
"Bukannya jalan itu ga boleh dilewatin sementara ya? Lagi rawan disana yank" laras menjawab pesan singkatnya.
"Udah tenang aja, ga akan ada apa-apa"
"Ok deh, Aku cuma khawatir aja"
"Ga ada apapun yank, bilang aja kamu yang takut disamperin Shadow Man ya? Hahaha"
"Plis deh yank
""Nengok kesamping deh, tuh dia ada disamping kamu. Hahahaha"
"Sumpah gak lucu yank!!!"
Jam menunjukan pukul 19.25. Arya belum membalas pesan singkatnya.
Laras mulai gusar, Ia berharap Arya segera mengabari nya bahwa Ia sudah tiba dan menunggu di loby.
Laras mengitari pandangan, hanya beberapa tumpukan berkas dan property kerja lainnya yang tampak disekelilingnya. Ia bangkit menuju jendela kaca yang besar dan menyibakkan gorden menatap keluar kantor. Suasana terlihat sepi disana. Ia memutuskan untuk turun dan menunggu dibawah. Mungkin itu lebih baik, pikirnya.
Laras berdiri diantara deretan kursi tunggu di bagian luar loby kantor. Suasana sangat sepi, bahkan security yang harusnya masih berjaga pun tidak tampak.
Ia kembali membuka handphone nya. Sudah 45 menit Ia menunggu dan belum ada balasan dari Arya. Bersamaan dengan itu pesan singkat masuk ke ponselnya.
"Hahahaha" hanya seperti itu balasan pesan dari Arya
"Yank, Kamu dimana?? Harusnya 30 menit yang lalu Kamu udah sampe."
"Takut yaaa? Tuh liat deh dibelakang"
"Tolong Yank, Aku serius, Kamu dimana sekarang?"
"Dia disamping kiri Kamu"
Laras refleks seketika menoleh ke kiri, dan tentu saja tidak ada apapun disana. Dia tau Arya tengah meledeknya
"Kalo Kamu terus becanda, Aku pulang aja, pesan taksi onlie sekarang! "
"sekarang dia ada diatas Kamu"
Laras benar-benar marah. Ia mendengus menahan kekesalan yang teramat sangat.
"ARYA STOP!!! AKU BENAR-BENAR MARAH SEKARANG."
ia memencet tombol bergambar gagang telepon pada nomor telepon Arya yang tertera di ponselnya, berusaha menghubunginya. Tapi Arya tidak mengangkat. Ia mencoba lagi, tetap tidak diagkat.
Ia menggeleng dengan raut wajah kecewa. Segera Ia membuka aplikasi pemesanan taksi Online. Bersamaan dengan itu pesan singkat masuk. Segera Ia membuka pesan tersebut. Bukan dari Arya melainkan dari teman dekatnya, Listy.
"Laraaaas kenapa susah sekali ditelepon"
Laras mengernyitkan dahi, belum sempa Ia mengetik balasan, pesan singkat dari Listy kembali masuk.
"Oh my god, Laras... Ayolah, angkat teleponnya"
Laras semakin bingung, karna tidak ada telepon masuk dari siapapun ke ponselnya.
Laras mengetik balasan, belum sempat Ia menyelesaikan pesan nya, masuk kembali pesan dari Listy, kali ini isinya sebuah pesan suara.
Laras segera membuka nya.
Terdengar nada kepanikan diselingi isak tangis pada suara Listy.
"Laras.., mohon maaf Aku harus kasih tau ini melalui pesan suara hmmm.." terdengar suara Listy bergetar, dengan nafas tersengal-sengal, antara kepanikan dan ketakutan "aku berusaha nelpon kamu berkali-kali ga ada jawaban" lanjutnya. "sekarang Aku di TKP kejadian, Arya... ditemukan tewas dimobil dalam kondisi..., Umm, Kamu tau cerita Shadow Man kan?" Listy berhenti sejenak, diiringi tangisan yang menyayat "polisi mengatakan kejadian nya mungkin 30 menit yang lalu, segera datang kesini Laras, lokasi kira-kira tiga kilo melalui belakang kantor kamu, ga jauh dari Taman lampu. Laras... Aku mohon maaf, Kamu harus kuat" pesan suara itu berakhir.
Laras menutup mulutnya, air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ia menggenggam ponselnya erat-erat. Dadanya sesak, kepalanya pusing. Ini sulit dipercaya. Ingin rasanya Ia berteriak.
Tiba-tiba Ia teringat sesuatu, segera Ia membuka ponselnya. Pesan dari Arya yang tadi...
Bertepatan dengan itu pesan singkat kembali masuk. Dari Arya...
Laras membuka dengan gemetar, jemari nya nyaris tidak bisa membuka tombol Open pada ponselnya. Kemudian pesan itu terbuka,
"Dia sekarang ada dibelakangmu, tepat satu langkah dibelakangmu"
Laras mengatur nafasnya, dihadapannya bayangan tinggi besar memantul menindih bayangan dirinya sendiri, ujung bayangan itu berbentuk kerucut, seperti sebuah tudung.
Tubuh Laras bergetar hebat, ia berusaha mengangkat kakinya untuk berlari, tapi terlambat, terdapat hentakan besar pada tubuhnya.
Kemudian gelap.
0
Kutip
Balas