- Beranda
- Stories from the Heart
Hidup, Kerja, Mati
...
TS
anak86come
Hidup, Kerja, Mati
Hidup, Kerja, Mati
YANG TERBUANG
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Lahir, besar, tetap hidup, dan memenuhi kebutuhan hidup
Penuh rasa, penuh cinta, penuh harapan
Aku tak tahu apakah hidup itu untuk kerja kemudian mati
Atau hidup itu untuk mati setelah kerja
Atau…
Semburat cahaya menyinariku saat mata pertama terbuka
Peluh setelah rintihan mencampakkan ku
Senyum getir, napas tersengal Aku di dunia
Pagi berganti siang, siang berganti malam
Cepat… sangat cepat baginya
Tidak bagi ku
Dewasa… dewasa… dan terus dewasa
Berjuang… berjuang… dan terus berjuang…
Sampai kapan?
Tertatih, jatuh, bangun
Bangun, jatuh, tertatih
Hidup, kerja, mati
Selamat Membaca
INDEX
BAB I
BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V
BAB VI - Penyebab
BAB VII
BAB VIII
BAB IX - The end of the Nila
BAB X - Tamat
Diubah oleh anak86come 25-08-2017 10:24
anasabila memberi reputasi
1
3.9K
30
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anak86come
#14
BAB I
Ting…..
suara lift berbunyi ketika pintunya terbuka. Aku menghela napas panjang dan dalam hati bergumam “semoga lancar interview ini…” yaahh…. Itulah Aku yang telah lulus kuliah 5 tahun yang lalu di suatu Universitas Negeri yang berada di pulau Sumatera, dimana Aku bisa masuk di Universitas tersebut dengan perjuangan yang tidaklah mudah, harus berjuang dengan orang-orang dari seluruh Indonesia untuk mendapatkan Unversitas Negeri. Aku mencoba peruntungan ditempat kerja baru dimana untuk pertama kalinya Aku dipanggil untuk interview kerja karena rekomendasi teman kantorku sebelumnya. Memang sempat ragu hati ini untuk memilih tetap ditempat lama atau pindah tempat baru, tetapi “keadaanlah” yang mengharuskan Aku pindah untuk mendapatkan yang terbaik.
Kutekan angka 25 sebagaimana yang terpampang di dalam kabin lift yang boleh terlihat cukup besar, dimana bisa menampung kurang lebih 30 orang. Kumerasakan berjubel-jubel orang memasuki lift tersebut, saat kumelihat jam tangan ternyata memang sudah pukul 08.30 WIB dimana jam masuk karyawan dikantor tersebut. Aroma memenuhi seluruh kabin lift tersebut, wangi, lembab, apek, ya inilah Jakarta yang menjadi Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dimana semua orang, bangsa Indonesia mencari peruntungan di Ibukota untuk sesuatu yang lebih baik dan merantau dari kampug halaman. Suasana perkantoran disini sangat dan teramat berbeda dibanding tempat Aku bekerja dulu, disini suasana amat terasa perkantorannya, ya…memang lokasi amat sangat dekat dengan Ring 1 atau biasa orang sebut “Istana” yang terletak dipusat Ibukota.
Ting…..
kembali suara pintu lift terbuka, kumelihat angka 25 persis di tembok yang berhadapan dengan pintu lift ini, kumelangkah keluar dari lift dan terasa jantung berdegub kencang, kutarik napas dan bergumam “huufftt….jalanin aja deh”, kumelihat ruangan yang begitu luas, kubuka pintu kantor tersebut dan terpampang jelas nama perusahaan tersebut, namun Aku belum terbiasa dengan aura ruangan kantor tersebut karena Aku merasakan kosong, sepi, dan dingin. Kalau dingin sih memang karena gedung perkantoran itu memnggunakan Air Conditioner terpusat yang dikendalikan oleh operator gedung. Aku pun menuju meja Receptionist dan bertanya kepada orang yang duduk disana, pada pandangan pertama sih Aku melihatnya aneh karena “santai” sekali, memakai kaos berkerah, sandal, dan BACA KORAN!!!! “GILA….!!!! Kantor apa ini?” gumamku, tapi Aku tetap positif thinking saja,
kemudian kubertanya ke orang tersebut “Pagi Pak, saya ada panggilan interview dari Bagian HRD”,
orang tersebut pun menjawab dan sambil mendelik pertanda kaget karena ada tamu dihadapannya “Pagi Pak, atas nama Bapak siapa?” ujarnya,
“dengan Alex…”jawabku.
Kemudian orang tersebut bangun dari duduknya dan mempersilahkan Aku untuk menunggu diruang tunggu. Sekilas kumelihat orang tersebut seperti security ya arena boleh kubilang postur tubuhnya tinggi besar berkepala plontos dan suara yang lantang namun cempreng hahahahaha. Setelah kurang lebih Aku menunggu 20 menit lamanya akhirnya ada sesosok “aah… bukan makhluk… aah bukan… itu nampaknya Bagian HRD perusahaan ini” gumamku, dengan seyum khas-nya serta berseringai dia meperkenalkan diri
“saya Dedy Bagian HRD perusahaan ini”,
“Pagi Pak saya Alex yang 2 hari lalu kita bicara ditelpon” ujarku.
Kemudian dia mengarahkanku ke suatu ruangan rapat, sekilas kumelihat ruangan ini kecil yang berarti untuk rapat-rapat kecil, disebelahnya ada ruangan rapat yang luasnya dua kali dari ruangan yang ku tempati namun disebelahnya ada ruangan yang lebih besar lima kali dari ruangan ku berada sekarang.
Dedy pun bertanya “Apa kabar Pak Alex? Semoga sehat selalu”,
“Alhamdulillah pak Dedy” ujarku.
“disini kita mengelola beberapa Perusahaan, dimana diantara beberapa perusahaan tersebut ada Holding Company yang akan menaungi perusahaan-perusahaan tersebut, nah pak Alex akan berada di Holding Company tersebut, menurut keterangan dari pihak yang merekomnedasikan bapak, pak Alex sudah cukup mumpuni ya berkutat di Bagian Legal Corporate?”, kata Dedy.
“saya memang kurang lebih tiga tahun sudah berkutat di dunia hukum karena basic saya lulusan Fakultas Hukum pak Dedy, jadi bilamana perusahaan ini mencari orang yang spesilisasi dibidang ini bisa dikatakan saya cocok, namun kembali lagi penilaian bapak selaku HRD apakah saya cocok bergabung diperusahaan ini atau tidak, saya serahkan kepada bapak untuk memberikan saya test dalam bentuk apapun dan saya siap bilamana perusahaan memberikan assessment kepada saya” jawabku.
“baik pak Alex, saya sudah menerima curriculum vitae pak Alex, saya panggil dulu Direksi perusahaan ini serta user yang akan menginterview bapak lebih lanjut, mohon tunggu sebentar ya pak” ujarnya.
Tak lama kemudian dia pergi meninggalkan saya diruangan tersebut. Aku melihat orang ini cukup humble dengan penampilannya yang sederhana dan terlihat sangat mudah menerima orang baru seperti saya.
Sepuluh menit berlalu, kemudian pak Dedy masuk bersama dengan dua orang, satu orang pertama Aku sangat mengenalnya karena dia adalah temanku ditempat kerjaku dulu sebut saja namanya Tulah.
“apakabar Lex?” ujarnya dengan disertai suara ketawa yang besar,
ya inilah ciri temanku itu.
“Alhamdulillah kabar baik pak Tulah” jawabku,
kemudian dia bertanya tentang kondisi terakhir tempat kerjaku dulu serta kenangan-kenangan dia saat itu, panjang lebar kami ngalor-ngidul membicarakan masa lalu, bisa dikatakan cukup lucu bila mengenang hal itu. Apalagi si Tulah ini resign dari tepat kerjaku dulu dikarenakan beban kerja yang besar saat dia disana yaitu DIMUSUHI karyawan satu kantor. Kenapa bisa seperti itu yang karena dia diposisikan sebagai Kepala HRD saat itu dan sedang bermusuhan dengan Serikat Pekerja disana, boleh dikatakan wajar bila disuatu perusahaan ada perseteruan. Tiba-tiba pak Dedy memotong pembicaraan ku dengannya
“jadi bagaimana pak Tulah? Kita lanjut proses berikutnya?”,
“silahkan pak Dedy” kata pak Tulah.
“silahkan pak Prakas, kalau ada yang perlu disampaikan, mungkin saya dan pak Tulah akan mendengar lebih lanjut”. Ujar pak Dedy.
Kemudian pak Prakas berbicara “saya adalah user yang akan me-manage anda, perkenalkan nama saya Prakas, salam kenal”.
Kemudian pak Prakas membicarakan metode kerja diperusahaan ini, menjelaskan kondisi Tim yang selama ini dibawahi dimana anak buahnya ada 2 orang, namun saat ini 1 anak buahnya sedang cuti melahirkan selama 3 bulan sehingga dia membutuhkan tambahan orang untuk menyelesaikan seluruh Pekerjaannya.
Sekilas kumelihat orang ini mempunyai ilmu tentang hukum yang tinggi, dari wajahnya terpancar jiwa kepemimpinan dan berkarismatik. Pembicaraan ku dengannya lumayan panjang kali lebar, namun tiba-tiba ditengah perbincanganku dengannya masuk 1 orang lagi, dan Aku tidak kaget, ya dia juga merupakan temanku saat dikantor dulu, pak Ari!!! Ya pak Ari, dia orang yang berkarir sangat cepat saat dikantor lamaku dulu, dari perjalanan awalnya menjadi Rekanan di kantor ku kemudian di-hire langsung menjadi Manager Operasional tak lama kemudian diangkat menjadi Kepala Divisi Operasional kemudian diangkat kembali menjadi General Manager,
“luar biasa”, batinku.
Namun pak Ari mempunyai sisi buruk sih menurut penilaianku, pak Ari orangnya sangat sombong, arogan, angkuh, dan SUKA MENJILAT!!! Dikantor lamaku banyak juga yang tidak suka dengan orang ini dikarenakan karakternya itu tadi. Ya itulah dunia kerja, kasar, keras, penuh manipulasi, cari muka untuk cari uang. Itu sih penilaian ku saja, tapi banyak juga diluar sana yang mempunyai jiwa profesionalitas yang tinggi sesuai dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Kemudian pak Tulah bertanya ke pak Ari
“heh, elo masih inget gk sama orang ini?”,
“siapa ya?”, ujar pak Ari. Dengan seyum masam aku melihatnya
“Anjrit… masih gk berubah nih orang ini, SHIT!!! KAMPRET!!!”, batinku. Andaikan Presiden Direktur tempatkku dulu kerja mengetahui dibalik layar karakter dan sifat orang ini, mungkin dia gk akan menerima si Ari ini jadi anak buahnya.
“ini si Alex loh ri, dulu anak buahnya si Indah yang panikan itu” ujar Tulah disertai ketawa keras si dedy.
“siapa ya?”, Tanya si Ari.
“KAMPRET!!! Nih orang suwe juga ya didepan banyak orang”, batinku.
Hampir 2 jam Aku berada dikantor tersebut sebelum akhirnya pak Dedy mengakhiri pertemuan tersebut. Kemudian dia berkata
“terima kasih Pak Alex, akan kami hubungi kembali untuk assessment yang waktunya akan ditentukan kemudian”.
“baik pak, terima kasih untuk kesempatan yang diberikan, mudah-mudahan ada kabar baik untuk saya, dan mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan dihati bapak” jawabku.
Kumelangkahkan kaki keluar ruangan dan menuju lift untuk turun ke lantai 1, namun seketika Aku terkejut melihat seseorang perempuan, tidak cantik, tidak juga manis melainkan PAKAIANNYA!!! Yang dapat mengundang imajinasi tiada henti. Aku kaget sekali saat ini, wajar sih karena Aku belum pernah bekerja di wilayah Jakarta atau dipusat bisnisnya. Memang terasa sekali perbedaannya, mulai dari cara berpakaian, cara berbicara, cara berjalan, cara bergaul, tapi kalau cara buang hajat sih kayaknya sama saja hehehehehe (pikir aja sendiri). Mereka berpakaian seperti itu memang terkadang tuntutan pekerjaan atau bisa saja karena tuntutan mendapat kerja atau yaaah…. Piker sendiri saja lah, itu juga urusan mereka.
Bersambung…
Diubah oleh anak86come 14-08-2017 17:05
0