- Beranda
- Stories from the Heart
Dia Untukku
...
TS
nasihiber
Dia Untukku


Hidup itu keras. Hidup itu penuh dengan ketenangan. Hidup itu penuh dengan kegelisahan. Hidup itu penuh dengan tawa. Hidup itu penuh dengan air mata. Hidup adalah sebuah jalan yang kita tempuh. Dan kita harus siap menghadapi semua itu dengan lapang dada. Perjalanan hidup tidak hanya sekedar bangun tidur, melaksanakan kegiatan, dan tidur kembali. Setiap harinya, pasti ada sesuatu yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Terkadang kita dihadapkan dalam sebuah keadaan dimana kita harus memilih salah satu dari beberapa pilihan. Namun disitulah kita akan belajar menjadi dewasa.
Kita tak akan pernah benar-benar tahu apakah keputusan yang kita ambil berada pada posisi benar atau salah, sampai kita benar-benar telah memutuskan. Yang perlu kita yakini, saat kita memutuskan sesuatu, terlepas keputusan itu benar atau salah, berarti kita telah sukses melewati satu tahap kehidupan.
Aku bukanlah lelaki yang berasal dari keluarga berada. Aku juga tidak berasal dari keluarga yang mengenal agama. Bahkan ilmu agamakupun mungkin tergolong kategori rendah. Disini aku hanya ingin bercerita. Bukan berarti aku orang pintar, bukan. Melainkan aku orang yang penuh dengan kegelisahan. Aku bukanlah manusia yang hebat, yang dikagumi oleh banyak orang. Aku hanyalah seorang lelaki yang terlalu menikmati dosa-dosa. Aku hanya lelaki yang sedang berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik lagi. Jadikan kisah ini sebagai pengisi waktu kekosongan saja. Aku tidak memaksakan kalian untuk membaca kisah ini. Namun yang pasti, buang negatifnya, ambil positifnya.
Spoiler for F.A.Q:
Index
SEASON 1
BAB 1
BAB 2
BAB 3
BAB 4
BAB 5
BAB 6
BAB 7
BAB 8
BAB 9
BAB 10
BAB 11
BAB 12
BAB 13
BAB 14
BAB 15
BAB 16
BAB 17
BAB 18
BAB 19
BAB 20
BAB 21
BAB 22
BAB 23
BAB 24
BAB 25
BAB 26
BAB 27
BAB 28
BAB 29
BAB 30
BAB 31
BAB 32
BAB 33
BAB 34
BAB 35
BAB 36
BAB 37
BAB 38
BAB 39
BAB 40
BAB 41
BAB 42
BAB 43
BAB 44
BAB 45
BAB 46
BAB 47
SEASON 2
Part 2.1 - Kehidupan
Part 2.2 - Camping
(Behind the Scene)Isi Hatiku - Istrimu
Part 2.3 - Fernita Widyaningsih
Part 2.4 - Teman Lama
Part 2.5 - Fernita Dilamar?
Part 2.6 - Dapat Restu
Part 2.7 - Keputusan
Part 2.8 - Menjelang Pernikahan
Part 2.9 - Masa Lalu
Part 2.10 - Hati yang Hilang
Part 2.11 - Persiapan
Part 2.12 - Hijrah
Part 2.13 - Cahaya Cinta
Part 2.14 - Mblenjani Janji
Part 2.15 - Serendipity
Part 2.16 - Pertemuan
Part 2.17 - Kesempatan Kedua
Part 2.18 - Harapan dan Cinta
Part 2.19 - Cahaya Cinta 2
Part 2.20 - Liburan
Part 2.21 - Mekarnya sang Melati
Part 2.22 - Cinta dan Sahabat
Part 2.23 - Mella Agustina
Part 2.24 - Penenang Hati
Part 2.25 - Ikatan Suci
Ending 1 - Cinta Suci
Ending 2 - Dia Untukku
Dibalik Hati
NB: Terima kasih buat yang sudah memberi komentar.
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"
Yang berkomentar, page terakhir dan 2-3 page kebelakang mungkin akan ada pemberitahuan update melalui "Quote"

Polling
0 suara
Siapakah yang menikah dengan Fatir?
Diubah oleh dipretelin 27-06-2018 10:21
junti27 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
248K
1.4K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
nasihiber
#50
BAB 7 - Nada
“Ngapain?” tanyaku heran
“Lo tinggal bareng gue. Apa itu kurang jelas?” katanya
“Ah elo, lo kira gue bocah” ucapku
“Gue serius Fatir, Sengganya, kalau dirumah gue, bisa mengurangi beban pengeluaran lo, seperti makan sehari-hari” ucap Nada
“Sorry Da, gue ga bisa, ini lo terlalu berlebihan, lagian gue bukan siapa-siapa elo, kita juga baru kenal beberapa minggu” ucapku
Aku memang tak ingin bila harus tinggal dirumahnya. Nada memang anak yang baik. Tomboy, nyebelin, cerewet, tapi dia peduli sama orang lain. Pernah saat dikampus, aku melihat ada seorang penjual gorengan yang dagangannya masih banyak, kemudian Nada memborong semuanya, dan makanan itu dibagi-bagi ke seisi kelas. Lalu saat kita semua ke kantin yang ada di luar kampus, aku sempat melihat ia memberikan nasi bungkus pada seorang wanita tua yang biasa mengemis disitu.
“Kita emang baru kenal, tapi gue percaya lo orang yang baik” ucap Nada
“Lo belum kenal gue jauh, makanya lo bisa ngomong gitu”
“Gue cuma ga mau lo kenapa-kenapa dengan kerjaan lo yang seperti itu” ucap Nada
“Tenang, gue bakal baik-baik aja”
Nada menyandarkan kepalanya ke bahuku. Aku diam saja sambil terus menghabiskan sisa rokok yang ada ditanganku ini. Suara gitar yang sedang dimainkan seseorang terdengar dari ujung tempat ini. Masih ada juga yang sibuk ngutak atik kendaraannya. Suasana seperti inilah yang membuatku nyaman. Ga pernah sepi. Setelah rokok habis, aku melihat Nada ternyata ia tertidur. Perlahan aku membangunkan dia dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar. Iapun terbangun dan mengikuti instruksiku.
Waktu berlalu. Hari LDKMpun tiba. Aku tengah bersiap-siap untuk ke kampus bersama Tirta. Saat melihat jam kami sudah terlambat untuk pembukaan. Kamipun berangkat. Tirta membawa tas carrier yang digunakan untuk naik gunung dan camping. Sementara aku hanya membawa ransel yang cukup besar, yang biasa aku gunakan untuk membawa pakaian.
Setibanya kami di kelas, banyak sekali senior yang sedang berdiri didepan kelasku. Benar saja, aku dan Tirta langsung kena semprot. Tapi aku menanggapinya biasa saja. Acarapun dimulai. Setelah penyambutan, kami semua naik truk tentara menuju lokasi perkemahan di daerah Lembang. Sesampainya disana, kami langsung di grebek hansip cilik (senior) disuruh baris.
Tau lah acara ini seperti apa. Kita semua harus menuruti apa kata senior kita. Diteriakin, disuruh-suruh, makanpun hanya menggunakan daun pisang seperti liwet dengan kebersihan yang mungkin hanya sekitar 50% saja. Tidak sedikit mahasiswa yang masuk medis karena kelelahan atau karena penyakitnya yang kambuh. Sementara aku, enjoy.
Keesokan sorenya, kami semua bersiap untuk pulang. Dan kami kembali menggunakan truk. Tapi karena kesalahan teknis dari pihak truknya, kepulangan kami ditunda hingga besok pagi. Kami semua terpaksa untuk berkemah satu malam lagi. padahal senin ada kuliah. Tapi dari senior sudah menjamin bahwa kami akan mendapat hari libur besok sebagai istirahat. Kami semua dipisahkan di beberapa tenda. Dan ada juga yang menggelar alas yang cukup lebar sebagai tempat tidur dibawah bintang-bintang. Dan aku memilih disitu. Saat aku sedang berbaring sambil mendengarkan lagu di headsetku, seseorang datang dan menepuk perutku. Dia adalah Aya.
“Adaaw”
“Hehe sorry Fat, lo tidur disini?” tanya Aya
“Iya, adem”
“Ga dingin emang? Ini kan daerah pegunungan, pasti dingin” ucap Aya
“Dingin ya dingin sih, tapi seger aja, suka suasana kaya gini” ucapku
“Ooh . . gue gabung ya”
“Sok aja” ucapku
Aya duduk disampingku, sambil memeluk lututnya, mungkin karena kedinginan. Ia memandang langit sambil tersenyum. Dia manis juga. Ah . . aku tidak boleh tergoda lagi. Bagiku, Mella adalah yang terbaik. Mella. Terlintas namanya di pikiranku. Aku masih ingat saat pertama kali kami bertemu. Mella adalah seorang wanita yang berhasil merubahku dari pemalas menjadi suka dengan yang namanya belajar. Dia selalu punya cara unik untuk membuatku termotivasi. Tapi semenjak kepergian dia, aku merasa seperti ada rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Sehingga aku tak bisa lagi bergerak bebas. Keinginan untuk belajarpun hilang seketika. Mungkin ini salah, aku hanya belajar karena ada Mella.
Saat itu, aku sedang mengantarnya untuk pulang. Kami baru saja merayakan hari jadi kami yang pertama. Di malam itu begitu dingin, aku dan Mella dalam perjalanan menuju rumahnya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
“Sayang kita berteduh dulu” ucap Mella padaku
“Iya, kita disitu aja ya”
Aku menepikan motor tuaku. Aku memberikan jaketku untuk dikenakan oleh Mella. Ia tersenyum sangat manis. Ia menatapku sejenak. Kemudian ia berkata.
“Kamu mau kan menjadi yang pertama dan terakhir untuk aku?” ucapnya lirih
“Aku mau. Dan kamu juga bersedia untuk menjadi yang pertama dan terakhir untuk aku?” ucapku
“Aku mau. Tetap semangat Fatir” ucap Mella penuh harap
“Aku akan selalu semangat selama aku ada disampingmu”
“Jangan pernah padamkan api semangatmu, meski jika penyemangat itu sudah tiada”
Hatiku berdebar kencang ketika Mella berkata demikian. Ada apa dengan Mella. Kenapa perasaanku menjadi tak karuan, tapi hatiku terus memaksa agar aku tetap tersenyum. Pikiranku memberi sugesti bahwa semua akan baik-baik saja. Malam itu kami melanjutkan perjalanan pulang. Ia memelukku begitu erat. Mungkin paling erat dari apa yang pernah ku alami bersamanya. Erat namun hangat dan begitu memberi kesan yang menenangkan. Setibanya dirumah Mella, aku mengantarnya hingga depan rumah.
Beberapa hari kemudian, aku menjemput Mella dirumahnya. Setibanya aku disana, aku melihat ramai sekali dirumah Mella. Dan yang paling membuat aku bingung, ada ambulans yang terparkir didepan rumahnya. Aku datang menghampiri rumahnya, namun ayahnya menghadangku agar aku tidak masuk kerumahnya.
“Pergi kamu . . . jangan pernah datang kesini. Karena kamu anak saya masuk rumah sakit”
“Tapi om”
“Pergi sekarang. Mella sudah tiada . . Pergi kamu” ucap ayah Mella
Semenjak saat itu aku tak pernah lagi melihat Mella. Mendengar kata “Mella sudah tiada” Membuat hatiku seperti teriris pisau yang amat teramat tajam. Semenjak saat itu juga aku tak pernah mendapat kabar tentang Mella.
“Lo kenapa?” tanya Aya
“Gapapa Ya” ucapku
“Lo lagi mikirin sesuatu?” tanya Aya
“Engga kok . . lo ga ngantuk?” tanyaku
“Belum” ucapnya
“Gue tidur duluan ya” ucapku
“Hmm iya Fat” ucapnya dengan nada seperti kecewa
Akupun mencoba untuk tidur. Tapi tak bisa. Kenapa aku teringat lagi dengan Mella. Disaat aku mencoba untuk melupakannya, namanya malah terlintas dipikiranku. Aku belum juga bisa tidur, aku mengubah posisiku menjadi duduk dan melihat ke sekeliling. Aya sedang berbaring disampingku.
“Lo bangun?” ucap Aya sambil terbangun
“Gue ga bisa tidur” ucapku
“Kita gabung sama anak-anak yuk” aja Aya
“Emang mereka dimana?”
“Tuuh, lagi pada di lapangan belakang” ucap Aya
Aku dan Ayapun kesana. Malam mulai terasa dingin. Aku yang tadinya terbiasa mulai merasa kedinginan karena angin yang berhembus cukup kencang. Disana, anak-anak lagi pada pada nyanyi sambil diiringi alat musik gitar yang dibawa oleh senior sambil mengelilingi api unggun yang awalnya digunakan untuk berkumpul. Sementara aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Aku sendiri membuat api unggun kecil disitu. Aya bergabung dengan mereka sementara aku terpisah. Aku duduk didepan api unggun yang aku buat. Tiba-tiba Nada menghampiriku. Nada menggunakan jaket yang cukup tebal di bagian kerahnya itu berbulu dan ia menggunakan tudung. Ia terlihat menggemaskan
“Hey Fatir” katanya sambil duduk disampingku
“Ya” jawabku cuek
“Lo ga gabung sama mereka? Ucapnya
“Engga, lo aja” ucapku
“Malam ini dingin banget ya” katanya
“Baru kerasa” ucapku
“Lo ga dingin?” tanyanya
“Dingin lah . . . lumayan” ucapku
Aku menggosok telapak tanganku untuk mencoba tetap hangat. Tiba-tiba Nada memberikan sarung tangannya padaku, tapi hanya sebelah aja. Aku menatap heran padanya.
“Lo pake ini, biar ga dingin” ucapnya
“Lo aja pake” ucapku
“Udah sini tangan lo, gue pakein” ucapnya
Aku diam saja saat ia memegang tanganku dan memakaikan sarung tangan padaku. Ia tersenyum manis. Kenapa aku merasa begitu tenang saat ia melakukan itu. Kenapa aku tak berkutik saat dia seperti itu. Seharusnya aku tak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi. Lagipula Nada juga sudah punya pacar.
“Makasih” ucapku singkat
“Lo itu terlalu cuek. Coba deh lo buka diri sama orang-orang. Kalau ga sama lingkungan lo, minimal sama temen-temen di kelas lo. Jangan menyendiri terus” ucap Nada
“Gue emang kaya gini orangnya” ucapku
“Ya gue tau, tapi ga ada salahnya lo mencoba untuk bergabung sama yang lain. Ga akan nyesel, gue jamin. Justru banyak temen tuh enak. Kalau lo lagi susah, mereka akan bantuin lo” ucap Nada
“Iya gue tau itu”
“Maaf ya, gue ga ada maksud menggurui, tapi hanya sekedar mengingatkan aja. Ga rugi kok lo ngobrol sama temen-temen lo” ucap Nada
“Gapapa . . “ ucapku
“Lo masih kerja di tempat itu?” tanyanya
“Iya masih”
“Ga ada keinginan buat cari lagi?” tanya Nada
“Ingin sih, tapi gue ga punya skill apa-apa” ucapku
“Bukan ga punya, tapi lo ga menyadarinya” ucap Nada
“Emang apa yang bisa gue lakuin? Lo tau sendiri gue kaya gimana di kelas”
“Lo punya badan, lo bisa jasa diri lo” ucap Nada
“Emm layanin para wanita? Hahaha” ucapku bercanda
“Bukan itu dodooll. Misal lo bisa jadi kuli, atau misal lo bisa jadi tukang ojeg” kata Nada
“Ojeg? Motor aja gue ga punya, semua udah dibawa ke Jogja” ucapku
“Yaudah, lo pake motor gue ya, besok pagi lo ikut pulang ke rumah gue, jangan dulu ke kosan”
“Ga ah, tar gue repotin” ucapku
“Tenang, ga repot kok” katanya
Akupun diam saja. Dan dia beranggapan bahwa aku mau. Tapi aku masih mikir-mikir. Waktu ku lihat sudah menunjukkan jam 2 malam. Anak-anak masih menikmati kehangatan api unggun, dan akupun begitu bersama Nada. Keesokan paginya, kami semua pulang. Aku menuju rumah Nada. Tibalah aku dirumahnya. Rumahnya cukup besar, dua tingkat dengan satu garasi yang bisa dimasuki mobil. Aku diajak masuk kerumahnya. Aku langsung saja dipersilahkan duduk di ruang tengah oleh Nada.
“Gue bikinin minum dulu ya” katanya
“Ga usah repot-repot” ucapku
“Ah elu, kaya ke siapa aja”
“Lo tinggal bareng gue. Apa itu kurang jelas?” katanya
“Ah elo, lo kira gue bocah” ucapku
“Gue serius Fatir, Sengganya, kalau dirumah gue, bisa mengurangi beban pengeluaran lo, seperti makan sehari-hari” ucap Nada
“Sorry Da, gue ga bisa, ini lo terlalu berlebihan, lagian gue bukan siapa-siapa elo, kita juga baru kenal beberapa minggu” ucapku
Aku memang tak ingin bila harus tinggal dirumahnya. Nada memang anak yang baik. Tomboy, nyebelin, cerewet, tapi dia peduli sama orang lain. Pernah saat dikampus, aku melihat ada seorang penjual gorengan yang dagangannya masih banyak, kemudian Nada memborong semuanya, dan makanan itu dibagi-bagi ke seisi kelas. Lalu saat kita semua ke kantin yang ada di luar kampus, aku sempat melihat ia memberikan nasi bungkus pada seorang wanita tua yang biasa mengemis disitu.
“Kita emang baru kenal, tapi gue percaya lo orang yang baik” ucap Nada
“Lo belum kenal gue jauh, makanya lo bisa ngomong gitu”
“Gue cuma ga mau lo kenapa-kenapa dengan kerjaan lo yang seperti itu” ucap Nada
“Tenang, gue bakal baik-baik aja”
Nada menyandarkan kepalanya ke bahuku. Aku diam saja sambil terus menghabiskan sisa rokok yang ada ditanganku ini. Suara gitar yang sedang dimainkan seseorang terdengar dari ujung tempat ini. Masih ada juga yang sibuk ngutak atik kendaraannya. Suasana seperti inilah yang membuatku nyaman. Ga pernah sepi. Setelah rokok habis, aku melihat Nada ternyata ia tertidur. Perlahan aku membangunkan dia dan menyuruhnya untuk pindah ke kamar. Iapun terbangun dan mengikuti instruksiku.
Waktu berlalu. Hari LDKMpun tiba. Aku tengah bersiap-siap untuk ke kampus bersama Tirta. Saat melihat jam kami sudah terlambat untuk pembukaan. Kamipun berangkat. Tirta membawa tas carrier yang digunakan untuk naik gunung dan camping. Sementara aku hanya membawa ransel yang cukup besar, yang biasa aku gunakan untuk membawa pakaian.
Setibanya kami di kelas, banyak sekali senior yang sedang berdiri didepan kelasku. Benar saja, aku dan Tirta langsung kena semprot. Tapi aku menanggapinya biasa saja. Acarapun dimulai. Setelah penyambutan, kami semua naik truk tentara menuju lokasi perkemahan di daerah Lembang. Sesampainya disana, kami langsung di grebek hansip cilik (senior) disuruh baris.
Tau lah acara ini seperti apa. Kita semua harus menuruti apa kata senior kita. Diteriakin, disuruh-suruh, makanpun hanya menggunakan daun pisang seperti liwet dengan kebersihan yang mungkin hanya sekitar 50% saja. Tidak sedikit mahasiswa yang masuk medis karena kelelahan atau karena penyakitnya yang kambuh. Sementara aku, enjoy.
Keesokan sorenya, kami semua bersiap untuk pulang. Dan kami kembali menggunakan truk. Tapi karena kesalahan teknis dari pihak truknya, kepulangan kami ditunda hingga besok pagi. Kami semua terpaksa untuk berkemah satu malam lagi. padahal senin ada kuliah. Tapi dari senior sudah menjamin bahwa kami akan mendapat hari libur besok sebagai istirahat. Kami semua dipisahkan di beberapa tenda. Dan ada juga yang menggelar alas yang cukup lebar sebagai tempat tidur dibawah bintang-bintang. Dan aku memilih disitu. Saat aku sedang berbaring sambil mendengarkan lagu di headsetku, seseorang datang dan menepuk perutku. Dia adalah Aya.
“Adaaw”
“Hehe sorry Fat, lo tidur disini?” tanya Aya
“Iya, adem”
“Ga dingin emang? Ini kan daerah pegunungan, pasti dingin” ucap Aya
“Dingin ya dingin sih, tapi seger aja, suka suasana kaya gini” ucapku
“Ooh . . gue gabung ya”
“Sok aja” ucapku
Aya duduk disampingku, sambil memeluk lututnya, mungkin karena kedinginan. Ia memandang langit sambil tersenyum. Dia manis juga. Ah . . aku tidak boleh tergoda lagi. Bagiku, Mella adalah yang terbaik. Mella. Terlintas namanya di pikiranku. Aku masih ingat saat pertama kali kami bertemu. Mella adalah seorang wanita yang berhasil merubahku dari pemalas menjadi suka dengan yang namanya belajar. Dia selalu punya cara unik untuk membuatku termotivasi. Tapi semenjak kepergian dia, aku merasa seperti ada rantai yang mengikat tangan dan kakiku. Sehingga aku tak bisa lagi bergerak bebas. Keinginan untuk belajarpun hilang seketika. Mungkin ini salah, aku hanya belajar karena ada Mella.
Saat itu, aku sedang mengantarnya untuk pulang. Kami baru saja merayakan hari jadi kami yang pertama. Di malam itu begitu dingin, aku dan Mella dalam perjalanan menuju rumahnya. Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
“Sayang kita berteduh dulu” ucap Mella padaku
“Iya, kita disitu aja ya”
Aku menepikan motor tuaku. Aku memberikan jaketku untuk dikenakan oleh Mella. Ia tersenyum sangat manis. Ia menatapku sejenak. Kemudian ia berkata.
“Kamu mau kan menjadi yang pertama dan terakhir untuk aku?” ucapnya lirih
“Aku mau. Dan kamu juga bersedia untuk menjadi yang pertama dan terakhir untuk aku?” ucapku
“Aku mau. Tetap semangat Fatir” ucap Mella penuh harap
“Aku akan selalu semangat selama aku ada disampingmu”
“Jangan pernah padamkan api semangatmu, meski jika penyemangat itu sudah tiada”
Hatiku berdebar kencang ketika Mella berkata demikian. Ada apa dengan Mella. Kenapa perasaanku menjadi tak karuan, tapi hatiku terus memaksa agar aku tetap tersenyum. Pikiranku memberi sugesti bahwa semua akan baik-baik saja. Malam itu kami melanjutkan perjalanan pulang. Ia memelukku begitu erat. Mungkin paling erat dari apa yang pernah ku alami bersamanya. Erat namun hangat dan begitu memberi kesan yang menenangkan. Setibanya dirumah Mella, aku mengantarnya hingga depan rumah.
Beberapa hari kemudian, aku menjemput Mella dirumahnya. Setibanya aku disana, aku melihat ramai sekali dirumah Mella. Dan yang paling membuat aku bingung, ada ambulans yang terparkir didepan rumahnya. Aku datang menghampiri rumahnya, namun ayahnya menghadangku agar aku tidak masuk kerumahnya.
“Pergi kamu . . . jangan pernah datang kesini. Karena kamu anak saya masuk rumah sakit”
“Tapi om”
“Pergi sekarang. Mella sudah tiada . . Pergi kamu” ucap ayah Mella
Semenjak saat itu aku tak pernah lagi melihat Mella. Mendengar kata “Mella sudah tiada” Membuat hatiku seperti teriris pisau yang amat teramat tajam. Semenjak saat itu juga aku tak pernah mendapat kabar tentang Mella.
“Lo kenapa?” tanya Aya
“Gapapa Ya” ucapku
“Lo lagi mikirin sesuatu?” tanya Aya
“Engga kok . . lo ga ngantuk?” tanyaku
“Belum” ucapnya
“Gue tidur duluan ya” ucapku
“Hmm iya Fat” ucapnya dengan nada seperti kecewa
Akupun mencoba untuk tidur. Tapi tak bisa. Kenapa aku teringat lagi dengan Mella. Disaat aku mencoba untuk melupakannya, namanya malah terlintas dipikiranku. Aku belum juga bisa tidur, aku mengubah posisiku menjadi duduk dan melihat ke sekeliling. Aya sedang berbaring disampingku.
“Lo bangun?” ucap Aya sambil terbangun
“Gue ga bisa tidur” ucapku
“Kita gabung sama anak-anak yuk” aja Aya
“Emang mereka dimana?”
“Tuuh, lagi pada di lapangan belakang” ucap Aya
Aku dan Ayapun kesana. Malam mulai terasa dingin. Aku yang tadinya terbiasa mulai merasa kedinginan karena angin yang berhembus cukup kencang. Disana, anak-anak lagi pada pada nyanyi sambil diiringi alat musik gitar yang dibawa oleh senior sambil mengelilingi api unggun yang awalnya digunakan untuk berkumpul. Sementara aku tidak terlalu dekat dengan mereka. Aku sendiri membuat api unggun kecil disitu. Aya bergabung dengan mereka sementara aku terpisah. Aku duduk didepan api unggun yang aku buat. Tiba-tiba Nada menghampiriku. Nada menggunakan jaket yang cukup tebal di bagian kerahnya itu berbulu dan ia menggunakan tudung. Ia terlihat menggemaskan
“Hey Fatir” katanya sambil duduk disampingku
“Ya” jawabku cuek
“Lo ga gabung sama mereka? Ucapnya
“Engga, lo aja” ucapku
“Malam ini dingin banget ya” katanya
“Baru kerasa” ucapku
“Lo ga dingin?” tanyanya
“Dingin lah . . . lumayan” ucapku
Aku menggosok telapak tanganku untuk mencoba tetap hangat. Tiba-tiba Nada memberikan sarung tangannya padaku, tapi hanya sebelah aja. Aku menatap heran padanya.
“Lo pake ini, biar ga dingin” ucapnya
“Lo aja pake” ucapku
“Udah sini tangan lo, gue pakein” ucapnya
Aku diam saja saat ia memegang tanganku dan memakaikan sarung tangan padaku. Ia tersenyum manis. Kenapa aku merasa begitu tenang saat ia melakukan itu. Kenapa aku tak berkutik saat dia seperti itu. Seharusnya aku tak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi. Lagipula Nada juga sudah punya pacar.
“Makasih” ucapku singkat
“Lo itu terlalu cuek. Coba deh lo buka diri sama orang-orang. Kalau ga sama lingkungan lo, minimal sama temen-temen di kelas lo. Jangan menyendiri terus” ucap Nada
“Gue emang kaya gini orangnya” ucapku
“Ya gue tau, tapi ga ada salahnya lo mencoba untuk bergabung sama yang lain. Ga akan nyesel, gue jamin. Justru banyak temen tuh enak. Kalau lo lagi susah, mereka akan bantuin lo” ucap Nada
“Iya gue tau itu”
“Maaf ya, gue ga ada maksud menggurui, tapi hanya sekedar mengingatkan aja. Ga rugi kok lo ngobrol sama temen-temen lo” ucap Nada
“Gapapa . . “ ucapku
“Lo masih kerja di tempat itu?” tanyanya
“Iya masih”
“Ga ada keinginan buat cari lagi?” tanya Nada
“Ingin sih, tapi gue ga punya skill apa-apa” ucapku
“Bukan ga punya, tapi lo ga menyadarinya” ucap Nada
“Emang apa yang bisa gue lakuin? Lo tau sendiri gue kaya gimana di kelas”
“Lo punya badan, lo bisa jasa diri lo” ucap Nada
“Emm layanin para wanita? Hahaha” ucapku bercanda
“Bukan itu dodooll. Misal lo bisa jadi kuli, atau misal lo bisa jadi tukang ojeg” kata Nada
“Ojeg? Motor aja gue ga punya, semua udah dibawa ke Jogja” ucapku
“Yaudah, lo pake motor gue ya, besok pagi lo ikut pulang ke rumah gue, jangan dulu ke kosan”
“Ga ah, tar gue repotin” ucapku
“Tenang, ga repot kok” katanya
Akupun diam saja. Dan dia beranggapan bahwa aku mau. Tapi aku masih mikir-mikir. Waktu ku lihat sudah menunjukkan jam 2 malam. Anak-anak masih menikmati kehangatan api unggun, dan akupun begitu bersama Nada. Keesokan paginya, kami semua pulang. Aku menuju rumah Nada. Tibalah aku dirumahnya. Rumahnya cukup besar, dua tingkat dengan satu garasi yang bisa dimasuki mobil. Aku diajak masuk kerumahnya. Aku langsung saja dipersilahkan duduk di ruang tengah oleh Nada.
“Gue bikinin minum dulu ya” katanya
“Ga usah repot-repot” ucapku
“Ah elu, kaya ke siapa aja”
junti27 dan 5 lainnya memberi reputasi
6