SLAP!SLAP!SLAP!
Quote:
“kamu kenapa yang?”, tanyaku
Luna tidak menjawab, tapi perlahan tangisannya mulai mereda. Jantung ini mulai berdegup kencang memikirkan kemungkinan yang akan Luna katakan.
“yang.. hiks.. hiks”, katanya
“kenapa yang?”, tanyaku
“dompet aku hilang yang. Huuuuu”, katanya
“ilang dimana? Ko bisa?”, tanyaku
“kayanya kemaren selama belanja yang, aku juga baru ngeh tadi”, katanya pelan
“kata ibu tadi kamu telepon? Ada yang penting? Coba cari lagi yang”, kataku
“iya tadi aku telepon. Huuu. Sedih yang dompet aku”, katanya
“coba kamu inget dulu pelan-pelan yang”, kataku
“iya nanti yang, aku mau ngomong yang lain dulu”, katanya dengan suara agak serak
“apa yang?”, tanyaku
“kayanya selama sebulan aku pergi sama keluarga sambil nunggu kelulusan yang, jadi ga bisa ketemu kita”, katanya
“yah, aku kira Cuma beberapa hari yang. Ko gitu?”, tanyaku
“ga tau yang, ade aku juga diminta ikut tapi kan dia ga bisa kalau sebulanan gitu, jadinya dia Cuma bentaran. Gimana dong yang?”, tanyanya
“ya aku ga tau yang, kan keputusan keluarga kamu itu”, kataku
“hmmmm. Oh iya, ada yang mau kamu omongin ke aku?”, tanya Luna
Deg deg. Seketika badanku lemas, mulutku kaku, lidahku kelu. Tapi aku haru smengatakannya, walaupun itu menyakitkan.
“ada yang. Tapi aku mau minta maaf”, kataku
Terdengar dia menghela nafas panjang dan berbisik “aku kuat, aku kuat”.
“jadi yang…”, belum selesai aku berbicara Luna sudah memotong.
“ketemu aku sekarang”, katanya
“iya”, lalu akupun menutup telepon
Tanpa berfikir untuk mandi dan yang lainnya aku langsung berangkat ke rumah Luna. Sepanjang perjalanan aku mencoba menyusun kata-kata agar tidak ada salah paham. Akupun sampai di daerah rumah Luna, dengan memantapkan langkah akupun berjalan ke rumah, sesampainya di rumah Luna tak lama dia keluar dengan mata yang bengkak. Aku pun berjalan menghampiri Luna yang duduk di bangku.
“plak!!”, Luna menampar keras pipiku. Sambil menahan sakit aku mencoba menenangkan diri.
“maaf”, kataku
Luna menamparku lagi, itu terus dia lakukan setiap aku meminta maaf. Entah ada atau tidaknya orang yang melihat. Terlihat jelas wajah kesal Luna saat itu.
“aku ga bisa ngomong apa-apa lagi selain maaf, aku harusnya bisa tepatin janji aku sama kamu, tapi aku malah kaya gini. Aku udah ga pantes
buat…..”, Luna mendekatiku lalu menamparku lebih keras dari yang sebelumnya.
“don’t you say it”, katanya sambil menahan amarah
“but i….”, Luna langsung memelukku.
“ya aku marah sama kamu, aku kesel sama kamu, aku kecewa sama kamu. Tapi kamu harus tau, kamu ga punya hak buat bilang hal kaya tadi. I love you so much”, kata Luna memelukku erat
Akupun mematung mendengar yang apa yang Luna katakana, aku tidak tau isi hati Luna, tapi dia masih seperti ini, memeluk orang yang hina sepertiku.
“aku tau Wina kaya gimana ke kamu, aku juga tau kamu kaya gimana ke Wina, di tambah lagi suasana kaya kemarin aku lebih tau apa yang mungkin kalian lakuin”, kata Luna melepaskan pelukannya.
“dan aku juga tau kalau kamu pasti bilang sama aku, aku tau yang kamu kaya gimana”, lanjutnya memegang pipiku
“aku minta maaf buat pipi kamu”, katanya
“aku jadi sakit gigi”, kataku
“hah? Yang bener yang? Maaf, aku beneran reflex”, katanya
Akupun hanya tersenyum.
“Teostraaaa! Kamu itu masih aja sih bisa becanda!!”, katanya sambil mencubit perutku
“aduh yang sakit. Aduh. Ampun”, kataku menepis tangannya
“tapi aku tetep minta maaf sama kamu sama apa yang udah aku perbuat yang. Dan aku siap nerima konsekuensinya dari kamu”, kataku
“kayak yang aku bilang kalau aku tau kalian berdua itu kaya apa, yang penting kamu jujur sama aku. Yang bisa aku bilang sekarang Cuma kamu harus bisa jaga terus perasaan aku buat kamu yang.”, katanya
Masalahku dengan Luna selesai, walaupun tidak seperti biasanya tapi kami sudah mulai bercanda dan membahas hal yang lain, tanpa kami sadari kalau hari sudah menjelang sore.
“maaf yang, jadwal kamu sama Wina ke ganggu aku”, katanya sambil memegang tanganku
“kamu itu lebih penting yang, aku pulang ya, udah sore”, kataku
“iya, kamu hati-hati”, katanya
Akupun pamit dan bergegas pulang. sesampainya di rumah ada mobil yang ku kenal, saat aku masuk ke dalam ternyata ada kak Queen.
“tuh anaknya pulang”, kata ibuku
“minta waktunya bentar ya tan”, kata kak Queen yang langsung menghampiriku dan memegang tanganku lalu menarikku keluar rumah.
“masuk”, katanya
Akupun masuk ke mobil.
“dari mana?”, tanya kak Queen
“rumah Luna”, kataku
“lu tau Wina kelimpungan kaya apa ga ada kabar dari lu?!”, katanya dengan nada tinggi.
“tadi abis…..”, tanpa memberiku kesempatan berbicara kak Queen menamparku.