Film pun berakhir dan kami lupa menghubungi kak Queen.
“yang, ga apa-apa kita keluar berdua gini?”, tanyaku
“ya mau gimana yang, aku kan lupa tadi”, katanya
Kamipun berjalan agak cepat saat keluar.
“ngebut amat yang”, kataku
“hehehe. Ga apa-apa kali yang”, katanya
“nunggu kak Queen?”, tanyaku
“ga usah kita naek angkot aja, lama nunggu dia mah”, katanya
Kamipun menuju rumah Wina menggunakan angkot. Sesampainya di rumah Wina ternyata tidak ada siapa-siapa, yang biasanya menjaga rumah pun tidak terlihat.
“yang kamu bawa kucni?”, tanyaku
“bawalah yang, nih”, katanya sambil membuka pintu.
Wina pun membuka semua jendela dan pintu, lalu membereskan sedikit yang kotor. Akupun duduk di ruang tamu.
“kamu ngapain yang?”, tanyanya
“duduk yang, cape”, kataku
“di kamar aja, ga usah di sini”, katanya
“tanggung yang”, kataku
Wina terlihat pergi kearah dapur, terasa hpku bergetar. Tidak terlalu jelas siapa yang menelepon.
Quote:
“halo?”, kataku
“yaaaanggg, kamu lagi di mana?”, ternyata Luna
“di rumah Wina yang, kenapa? Aku kira siapa, layarnya burem nih”, kataku
“maaf ya, nanti hpnya ganti coba yang”, katanya
“iya nanti aku ganti”, kataku
“kamu lagi sama Wina?”, tanya Luna
“ga ko yang lagi sendirian, Wina ke dapur”, kataku
“berdua doang di rumah Wina?”, tanyanya
“iya, kenapa?”, tanyaku
“curiga nih aku”, katanya
“curiga kenapa?”, tanyaku
“ga deh, kamu pulang kapan?”, tanyanya
“ga tau yang, malem kayanya”, kataku
“yaudah. Kamu jangan malem banget pulangnya, jangan lupa kabarin”, katanya
“iya yang”, kataku
“yang”, katanya
“apa yang?”, tanyaku
“kamu masih inget sama apa yang aku bilang?”, tanyanya
“bilang apa?”, tanyaku
“soal kamu sama Wina”, katanya
Deg Deg. Akupun teringat sama apa yang Luna katakana untuk tidak melakukannya lagi dengan Wina.
“inget yang”, kataku
“bisa?”, tanyanya
Akupun diam sejenak.
“bisa yang”, kataku
“bener?”, tanyanya
“aku ngerti ko kalau cowo sama cewe berdua itu kaya gimana, kan kita juga sering berduaan, tapi aku mau kamu ngehargain perasaan aku ya sayang, selama apa yang kamu lakuin ke dia itu sama kaya gimana kamu perlakuin aku, aku coba terima yang”, katanya
Suasana pun terasa sangat berat.
“iya yang”, kataku
“yaudah aku tutup ya, mau siap-siap buat nanti hari senin, belanja dulu”, katanya
“kamu hati-hati yang”, kataku
“iya, dadah”, katanya menutup telepon
Aku lupa dengan janjiku pada Luna, hasrat ini membutakanku. Akupun mencari cara agar bisa terhindar dari apa yang aku mau, membuat alas an untuk pulang cepat atau apapun itu sampai Wina mengagetkanku.
“haayoooo! Ngelamunin apa sih kamu yang?”, tanya Wina
“eh, ga yang. Kamu dari mana?”, tanyaku
“abis ngecek makanan yang, buat yang jaga sih, tapi kamu kalau mau makan juga sok aja”, katanya duduk di pahaku
“yang, duduk di sofa”, kataku
“kenapa?”, tanya Wina
“ga apa-apa”, kataku yang sambil mencari alasan
“kamu kenapa?”, tanya Wina
“ga apa-apa yang”, kataku
“bohong”, katanya agak ketus
“beneran yang”, kataku
“I know you are lying”, katanya sambil mencium bibirku
Lagi dan lagi, semua yang di lakukan Wina tak bisa ku tolak.
“ayo ikut aku yang”, katanya
Akupun mengikutinya, menuju kamarnya.
“masih ga mau bilang ada apa?”, tanya Wina
Belum sempat aku menjawabnya Wina sudah mendorongku ke atas kasur dan langsung menindihku. Dia menciumi leherku, lalu turun ke dadaku, turun keperut.
“yang”, kataku
Dia hanya tersenyum dan perlahan mengangkat kaos yang ku gunakan sampai terlepas. Entah apa yang salah dengan mataku, Wina terlihat sangat manis, setiap gerakannya terlihat erotis.
“hmmph”, gumamnya sambil membuka pakaiannya.
Langsung ku peluk Wina. Dan ku ciumi lehernya, turun ke dadanya.
“yaaaaangg”, kata Wina meremas rambutku
Perlahan kubuka daleman atas Wina, sehingga bisa bebas. Lalu ku arahkan tanganku ke roknya. Ku baringkan dia dan ku lepaskan pakaian bawahnya.
“yang, kamu curang ah”, katanya manja.
Kubuka ke dua pahanya.
“yang!”, katanya yang langsung menarikku dan merebahkanku.
Posisi berganti dengan cepat, kini Wina berada di atasku dan sudah bersiap melepas pakaian bawahku.
“lanjutin yang tadi ya”, katanya
Akupun pasrah melihatnya melakukan yang tertunda waktu nonton tadi. Sesekali ku pegang kepalanya dan ku tarik pelan rambutnya.
“jangan dulu yang”, katanya sambil memegang erat punyaku
Terasa cairan ini sudah semakin menumpuk namun di tahan oleh tangan Wina. Perasaan ini semakin kacau, ingin rasanya langsung menerkan Wina, tapi kesadaranku mengingat janjiku pada Luna.