Kaskus

Story

alealeyaAvatar border
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...



Quote:


Namaku Aleya (Based on true story)


Quote:


Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:


Quote:


Quote:


Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
fajar1908Avatar border
DeviafebAvatar border
imamarbaiAvatar border
imamarbai dan 35 lainnya memberi reputasi
36
144.3K
869
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
alealeyaAvatar border
TS
alealeya
#538
Side story : Minus One

kaskus-image


Pagi itu sebelum berangkat kerja, aku mampir dulu ke kost Rian. Entah apa yg kupikirkan kok bisa-bisanya aku kesana lagi setelah kepergian nya 2 bulan yg lalu. Kamar kost itu menyimpan begitu banyak kenangan buat kami berdua, disitu tempatku bercanda tawa, bercerita, mencurahkan isi hati kepada Rian seorang sahabat, pacar dan calon suami ku.

Setibanya aku disana, beberapa teman 1 kost Rian mengucapkan turut berbela sungkawa atas apa yg terjadi. Mereka tanya, "mbak mau dibantu buat ngangkut barangnya?". Dengan tegas aku jawab, "makasih tapi gak usah, aku pengen semua barang nya tetap disitu, nantinya aku yg bakal bayar sewa nya,".

Pintu kamar ku buka, ku ucapkan salam, ku letakan tas dan jaket di sebuah meja disamping ranjang.

"Ya ampunn berantakan banget sih yang," ucapku pelan.

Suasana di dalam kamar itu masih tetap sama seperti dulu. Entah kenapa saat aku berada disitu seakan ada rasa yakin bahwa dia sedang pergi kerja dan nanti siang bakal pulang buat makan siang.
Ku bereskan perlahan barang-barang yg berserakan, yg paling sering diberantakin Rian adalah handuk dan pakaian kotor. Ku pungut beberapa lembar pakaian kotor dari lantai di pojokan, ku masukkan dalam sebuah wadah. Tadi nya mau ku cuci tapi tiba-tiba kepikiran, eh kalo di cuci ntar bau nya hilang.
Bergegas ku tutup pintu kamar, lalu ku tanggalkan seragam kerja yg udah ku pakai dari kost ku tadi, ku ganti dengan selembar kaos kotor milik Rian yg tadi ku pungut. Yaa ampun bau nya khas Rian banget, gak kerasa air mata menetes membasahi pipiku. Astagaa aku kangen banget sama dia.

Ku rebahkan badan di ranjang tempat biasa aku tiduran sama Rian, disitu kerasa banget hangat dan indah kasih sayang nya masih tetap hidup memenuhi hati ku ini. Air mata makin deras mengalir saat ku peluk sebuah guling yg biasa jadi pembatas antara aku dan Rian saat tidur.
Perasaan yg sama saat menunggu Rian pulang kerja itu muncul kembali, ada rasa tenang saat berada di kamar ini dan berharap ia segera kembali. Ku pejamkan mata sejenak, mengenang kembali momen indah saat masih bersama dulu. Seiring dengan ingatan yg kubangkitkan kembali, pipiku semakin dibasahi oleh air mata yg tambah deras dan makin deras lagi keluar.

Berbulan yg lalu sehari setelah jasad Rian dikebumikan.

"Ley kamu yg sabar yaa, kita juga merasa kehilangan kok dengan kepergian Rian," ucap Miza sambil menepuk bahuku.

"Aku gak tau harus ngomong apa Ley, aku cuma bisa bilang yg sabar, yg tabah," sambung Leo.

"Makasih ya Le, Miz, aku cuma ngerasa terpukul banget dengan semua ini, gak sanggup aku harus hadapi semuanya sendirian," jawabku menunduk.

"Ley! Liat mata ku, hey angkat muka mu!" Leo agak membentak ku.

"Hmmm apa?" Ku tatap matanya, tersirat jelas rasa kehilangan yg besar dari matanya yg berkaca-kaca itu.

"Kamu pikir kamu sendirian? Kamu anggap apa kami yg udah jauh-jauh datang kesini buat kamu?! Kami tau kamu bakal ngerasa gitu makanya kami sepakat buat langsung meluncur kesini, jadi tolong jangan pernah bilang kalo kamu sendirian!" Ucapnya di iringi dengan air mata yg menetes. Gak nyangka Leo juga begitu terpukul ternyata dengan apa yg menimpa ku ini.

Sett... ku keluarkan undangan pernikahan kami yg batal di bagikan dari dalam saku hoodie ku. Ku genggam erat kertas itu penuh emosi.
Sering terbesit dibenak ku, kenapa sih ini harus terjadi sama aku?.

Melihatku menggenggam erat kertas undangan itu, Miza memelukku dari samping kiri.

"Ya ampun Ley," kata nya.

"Kertas ini jadi saksi Miz, saksi keseriusan hubungan ku sama Rian, saksi cinta ku yg tulus buat dia, cintanya yg gak memandang aku ini siapa, dan apa yg udah terjadi sama aku di masa lalu," ucapku sambil menatapi kertas biru putih itu.

"Ley udah, simpan lagi kertas itu dan biarkan itu jadi kenangan, kita harus kuat, kamu harus kuat Ley, sabar dan ikhlaskan," Leo menggenggam tangan kananku yg memegang undangan.

"Kuat Ley kuat!" Sambung nya lagi.

Entah gimana perasaanku, aku cuma bisa menangisi apa yg terjadi. Seakan semua ini mimpi buruk, ingin rasanya cepat-cepat bangun dan mendapati Rian sedang tertidur disampingku.
Karena suasana terasa makin sedih dirumah ku, mereka memutuskan untuk mengajakku jalan-jalan. Biar lebih fresh dan sekalian liat-liat kota yg sudah lama banget kami tinggalkan ini. Kami menuju sebuah tempat, dimana dulu waktu SMP kami sering menghabiskan waktu bersama, di tempat bersejarah itu. Tak banyak berubah dari tampilan kantin itu, masih sama seperti dulu, hanya warna cat nya saja yg berbeda.

"Pak batagor nya 3 ya, kami duduk disana," Leo menunjuk meja tempat kami duduk biasanya.

"Ehh? Wahh udah pada gede-gede sekarang ya, udah kerja semua?" Tanya sang bapak pedagang.

"Hehe iya pak, kami semua sekarang tinggal diluar kota," jawab Miza.

"Ohh gitu, lho biasanya kan ber 4? Kok tumben ber 3 doang?" Tanya bapak itu lagi.
Teman-teman sempat terdiam, lalu memandang ke arahku yg spontan meneteskan air mata lagi saat pertanyaan itu dilemparkan.

"Si Rian baru di kuburkan kemarin sore pak," jawab Leo.

"Astagaa!! Ya ampun maafkan saya yaa, semoga dia diterima di alam sana," bapak itu merasa begitu bersalah setelah menanyakan Rian, dan beliau meng gratiskan semua yg kami makan hari itu sebagai ungkapan permintaan maaf nya.

"you can leave this out, or stand it up forever
Cause tears are matters, pain slowly goes by as you walking on"


Potongan lirik lagu yg diciptakan Leo untuk menghiburku, begitu baik para sahabat ku ini. Mereka terus berusaha membuat ku merasa tenang, merasa aman saat ada di dekat mereka, walaupun tak selamanya bisa bersama dengan mereka lagi seperti waktu dulu.
Suasana makan bersama ditempat itu menjadi agak haru, karena komposisi yg tak seimbang. Ada bangku kosong di samping kanan ku, tapi aku tetap berusaha kuat dan menguatkan diri sendiri.

"Ley, maaf ya kalo kami gak bisa selamanya ada disampingmu buat nemenin kamu," ucap Leo.

"Iya gapapa Le, lagian aku juga harus pulang ke perantauan lagi buat kerja," jawabku.

"Kami ngerti kok Ley perasaanmu gimana, sabar ya Ley, terus doain Rian nya biar dia dapat tempat yg layak disisi-Nya," sambung Miza sambil melahap batagor.

"Hu'um, makasih ya teman-teman kalian datang jauh-jauh kesini buat aku dan Rian," ku pegangi erat tangan kedua sahabatku yg amat berarti ini, berkat mereka aku bisa tegar, berkat mereka aku bisa tersenyum kembali dalam kesedihan ini.

Tak terasa ternyata aku terlelap dalam tidur pagi itu di kost Rian. Aku terkejut membuka mata, serasa ada yg menyentuh pipi ku dan memanggil-manggil nama ku. "Lho gak ada orang? Yaang kamu di kamar mandi?" Ucapku, kemudian aku terdiam. Aku seakan lupa kalau Rian sudah pergi buat selamanya, perasaanku jadi campur aduk.
Ku pandangi jam dinding ternyata menunjukkan pukul 14.30, setengah jam sebelum waktu kerja ku dimulai.

"Makasih ya udah bangunin aku, aku tau kok kamu disini," aku ngomong sendiri. Aku yakin apa yg ku rasakan barusan itu nyata, sentuhan di pipi dan ia memanggilku lembut sampai aku terbangun dari tidur. Rian, aku tau kamu masih selalu memperhatikan aku, sesuai janjimu padaku dulu, kamu akan selalu ada buat aku, terimakasih Rian.
ipan.yesso126
Nikita41
Deviafeb
Deviafeb dan 11 lainnya memberi reputasi
12
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.