Sehari setelah gue resmi meninggalkan lembaga pemasyarakatan, Nyokap mengadakan syukuran kecil2an atas kebebasan gue dengan turut mengundang beberapa orang temen gue, beberapa yang hadir diantaranya ada Beruk dan Putri, Nisa dan calon suaminya, Mbak Widia juga Mas Nugie, tak lupa Abang gue dan Mbak Sofi, terus juga Atma Yuda, Bokap Nyokap Aning, Nindy bersama orang yang sebelumnya dia kenalkan, dan lagi Vany beserta calonya (yang baru gue tahu adalah anak Pak Waluyo, yang bisa juga masih sepupuan dengan Wira, tapi sepertinya dia cukup netral! dia cukup bisa menerima bahwa Wira memang bersalah dan patut dihukum) kenapa bisa Vany datang waktu itu, itu yang sampai sekarang masih menjadi misteri mengingat hubungan keluarga kami sebelumnya kurang begitu baik, apakah setelah kejadian itu Nyokapnya sudah mulai melunak, atau apapun alasanya baguslah jika demikian, semoga kedepan hubungan keluarga kami menjadi semakin baik
Berkenaan dengan jalanya acara, ternyata juga dipergunakan oleh mereka sebagai ajang untuk memproklamirkan hari pernihakanya, berturut2 mereka secara bergantian menyebutkan tanggal resepsinya, gue yang hanya mendengarkan cukup mengangguk saja tanda persetujuan, walau sebenernya rasanya jelas cukup canggung, mengingat beberapa diantara mereka sebelumnya pernah memiliki hubungan istimewa dengan gue, sedang saat itu cuman gue seorang yang jadi jomblo disana, acara berlangsung hingga larut malam, beberapa mereka pulang setelah jam menunjuk pukul 12 malam, hanya Abang gue, Mbak Sofi, dan Mbak Widia yang memutuskan menginap
Sebuah hari baru setelah kemaren lusanya gue selesai berstatus sebagai mantan narapidana, hari itu gue awali untuk merencanakan hidup gue menjadi lebih baik dari sebelumnya, diantaranya dengan segera mencari sebuah pekerjaan, setelah gue resmi diputus kontrak atau dirumahkan dari perusahaan gue sebelumnya karena mangkir kerja selama hampir 1 bulan, tempat pertama yang gue datangi waktu itu adalah perusahaan pertama dulu gue kerja, berharap jasa gue masih dibutuhkan disana, segera saja gue langsung menghadap atasanya yang sangat gue kenal baik menanyakan perihal lowongan pekerjaan, masihkah perusahaanya membutuhkan seorang karyawan lagi, tapi sepertinya hari itu gue memang kurang beruntung, semua posisi telah terisi berikut posisi yang sudah lama gue tinggalkan dulu, semakin gak beruntung bahwa pos2 yang memiliki jabatan lebih rendah pun telah penuh terisi, sebuah khabar gembira yang waktu itu sedikit dapat menghibur gue, adalah ketika Bos lama gue tersebut menjanjikan untuk membantu melobykan sebuah pekerjaan ke salah seorang kenalanya
Tiga hari berselang setelah hari itu, gue kemudian dihubungi kembali oleh mantan Bos gue untuk bisa mengagendakan waktu buat dipertemukan sekaligus tes interview dengan kenalanya tersebut, yang baru gue ketahui sebagai seorang direksi di Kantor Pos pusat kota gue, kesan pertama yang gue lihat dari orang tersebut, sedikit arogan, terkesan tak menghargai bahkan memandang rendah orang, tapi setelah beberapa kali bicara langsung dan tatap muka bersama beliau rupanya dugaan gue sangat jauh meleset, beliau sama sekali tak seperti yang gue bayangkan, beliau justru begitu ramah dan penyabar, gue akhirnya ditinggalkan disana sendiri oleh Bos lama gue, berdua dengan orang tersebut sebut saja namanya Pak Dirman, awal2nya secara tak resmi kita hanya berkenalan berlanjut ke tahapan interview, berbeda dengan para peng interview lainya yang biasanya banyak bertanya menuntut ini dan itu, kebalikanya Pak Dirman justru menyerahkan semuanya kepada gue tentang apa2 yang ingin gue jelaskan tentang kualifikasi gue, tak pernah beliau mencoba membatasi, beliau juga mendengarkan semua yang gue jelaskan, termasuk ke beberapa hal yang seharusnya tak pantas gue sampaikan ketika interview, tetapi tampaknya beliau cukup puas atas hasil interviewnya
Quote:
Gue : Jadi begitulah kualifikasi saya Pak, hanya berlatar belakang pendidikan tamatan SMK, sedang sebelumnya saya juga pernah tersangkut kasus hukum, sempat menjalani proses masa tahanan kurang lebih hampir 1 bulan, selebihnya seperti yang Bapak dapat lihat sendiri, untuk berikutnya mohon untuk bisa dipertimbangkan, bila kualifikasi saya dirasa mungkin masih kurang dan belum memenuhi harapan Bapak, berikutnya saya siap untuk menstandarkan diri sesuai dengan yang Bapak butuhkan
P. Dirman : (tepuk tangan kemudian mengajak gue salaman) Saya salut bahwa ternyata masih ada anak muda yang seperti kamu di zaman sekarang, wajarnya yang sering saya tahu seseorang tak akan pernah mengumbar aib dirinya ketika proses interview, yang bisa saja berkemungkinan mengecilkan harapannya untuk dapat diterima, namun kamu memang berbeda, tak salah jika dulu Pak ***** begitu sangat mempercayaimu, kamu memang patut diandalkan untuk kejujuranmu, sebelum hari ini sebenernya saya bukan tanpa persiapan, jauh sebelum tiba hari ini saya sudah berbekal informasi dari mantan bos lamamu dulu, bahkan hampir semua hal tentangmu telah dikisahkan oleh beliau, hanya saya beneran gak nyangka bahwa sampai sedetail ini kamu bisa menjelaskanya, saya sangat mengapresiasinya! mungkin sudah cukup sekian untuk hari ini yang perlu saya tau, berikutnya kamu sudah dapat bekerja mulai besok di tempat saya, sepertinya belum ada pilihan lain yang tepat kecuali kamu satu2nya yang pantas mendapatkan posisi tersebut, jadi selamat bergabung! saya tunggu besok dimeja saya
Gue : Beneran Pak saya diterima bekerja, tentang latar belakang saya apakah Bapak gak ada masalah dengan itu
P. Dirman : Bagi saya pribadi! mengenai masalah itu hanya nomor kesekian dari yang saya cari, saya mengapresiasi karyawan bukan berdasar dari setinggi apa ijazah mereka tapi dari kecakapan kinerja dan tanggung jawab akan tugas, selebihnya mungkin dari kejujuran dan loyalitas, kalau untuk masalah itu tampaknya saya tak perlu khawatir sepertinya, dari beberapa yang saya tahu dari bos lamamu, sepertinya kamu telah memenuhi beberapa syarat tersebut
Gue : Alhamdulillah! terimakasih Pak! selanjutnya saya akan berusaha keras agar tak mengecewakan Bapak
P. Dirman : Iya! dan sebelum saya lupa, disini kamu jangan mengharap gajimu akan sebesar yang pernah kamu terima dulu di tempat kerja lamamu, karena ini badan usaha milik pemerintah bukan badan usaha milik swasta, maka gajimu tak lebih dari UMR, jikapun ada kenaikan itu setelah kamu nanti mendapatkan posisi dan jabatan, selebihnya lagi walau saya sebenernya sudah tau bahwa kamu sudah banyak memiliki pengalaman di bidang pendistribusian, disini kamu harus memulainya lagi dari nol bagaimana? apakah sanggup?
Gue : Tak masalah Pak, terpenting saya dapat bekerja sesuai bidang yang saya tekuni, saya siap dan sanggup ditempatkan diposisi manapun Pak!
P. Dirman : Baiklah! dan satu lagi pertanyaan saya! jika sewaktu2 nanti mungkin ada sebuah tawaran dari perusahaan lain yang menjanjikan gaji yang lebih fantastis, apakah ada kemungkinan bahwa kamu akan hengkang untuk berpindah kesana
Gue : Jika memang disana gajinya lebih menggiurkan! pasti ada kemungkinan seperti itu Pak, bukankah sudah kodrat manusia menginginkan kehidupan yang lebih baik, tamak terhadap harta dan jabatan, tapi sebisanya saya akan tetap menghabiskan masa pensiun saya disini, saya hanya akan berhenti kerja bilamana jasa saya benar2 telah tak dibutuhkan lagi
P. Dirman : Baiklah! sepertinya itu sudah cukup buat hari ini, saya tunggu kinerja kamu besok! buktikan bahwa kamu mampu memenuhi harapan saya
Rutinitas bekerja pun dimulai, sebelumnya gue harus menjalani masa training dulu selama 3 bulan sebelum akhirnya resmi diangkat sebagai pegawai tetap, bulan pertama gue hanya ditugaskan mengatur dan mempersiapkan aplikasi berkas untuk disistribusikan, bulan kedua hingga ketiga gue mulai mendistribusi kan secara mandiri baik dengan motoris maupun box, selesai masa training! karena dinilai cukup cakap dan kebetulan mengenal hampir seluruh wilayah cakupan pos, jabatan gue sedikit dinaikan, gue sekarang tak lagi berada di lapangan namun berada dibalik meja, pekerjaan gue hanya mengelompokkan surat2 berdasar alamat sehingga mudah untuk didistribusikan, menginjak bulan ke 6 jabatan gue kembali meningkat, kali ini gue telah diposisikan sebagai asistent manager, disinilah nanti gue akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang kemudian nanti menjadi cikal bakal Istri Wira berikutnya (entah kenapa dan sampai kapan hidup dan takdir gue kedepan selalu berhubungan terus dengan Wira) sebut saja namanya Ayu! penampilanya bisa dikatakan cukup menarik dan secantik namanya, terlebih dia juga berjilbab, persis seperti yang dulu pernah gue kriteriakan sebagai seorang pendamping, dia sebagai teller magang waktu itu, umur hanya terpaut 2 tahun lebih tua dari gue, dan ketika itu masih single
6 bulan berikutnya, hubungan kita semakin deket, namun bukan deket dalam artian status ya, kita tetap hanya sebatas teman kerja, walau beberapa kali gue pernah main ke rumahnya ataupun sebaliknya, mengantar jemputnya tiap hari, selalu mengajak dia serta ketika menghadiri ke beberapa resepsi teman (berturut2 sejak waktu itu ketika Vani, Atma, Yuda, Nisa telah melepas masa lajang mereka) ikut pula bantu2 ketika orang tua gue lagi ada hajat menikahkan Abang gue Bisma, tampak saat itu Erin dan suami juga hadir membawa serta buah hati mereka yang waktu itu baru berusia 3 bulan, seorang bayi laki2 tampan yang diberi nama sepenggal nama gue, beberapa penilaian mereka menempatkan sosok Ayu sebagai pilihan terpantas untuk gue saat itu, bahkan the one and only katanya! menurut mereka gue tak akan bisa menjumpai lagi cewek seperti Ayu beberapa tahun mendatang, bila kali itu gue sanggup melewatkanya
Namun namanya hati memang siapa yang bisa nebak, walau gue begitu deket dengan Ayu namun sejauh itu tak ada darinya yang bisa bikin gue tertarik, gue akui dia memang menarik dari segi penampilan, tapi gue seperti tak memiliki rasa untuk pingin memilikinya, gue hanya menikmati nya deket hanya sebagai seorang sahabat, padahal dia jelas adalah sosok nyata yang kehadiranya dapat senantiasa gue rasakan setiap harinya disekitar gue, namun sebaliknya gue malah lebih tertarik dengan orang yang sempat akan diperkenalkan Putri ke gue melalui sebuah kencan buta, entah kenapa tanpa pernah sekalipun kita sebelumnya ketemu, tanpa pernah kita bicara, bertatap muka langsung atau bicara ditelepon, gue bisa begitu sangat mengharapkannya, gue sendiripun juga heran! secara gue tertarik dengan orang yang belum sekalipun pernah gue ketahui wujudnya, aneh sekali kan! pernah beberapa kali memang kita dulu coba untuk menyediakan sebuah waktu untuk dapat ketemu, tapi entah kenapa selalu saja gagal, kalau gak karena gue nya yang gak bisa, atau mungkin dia nya yang pas sibuk, jadilah beberapa bulan itu biasanya kita hanya saling bertukar salam lewat Putri
Dan keadaan ini tak terasa telah berlangsung hingga hampir 2 tahun lamanya, gue masih tetep deket dengan Ayu, sedang gue juga masih belum sekalipun bertemu dengan sosok rekan kerja atau kenalan Putri tersebut, hingga pada suatu hari kurang tau tepatnya Ayu menyuruh gue datang ke rumahnya untuk dipertemukan langsung dengan kedua orang tuanya, gue gak pernah sangka bahwa selama ini kedekatan gue dan Ayu diartikan berbeda oleh mereka, dikiranya kita memiliki hubungan istimewa, sehingga hari itu mereka meminta kejelasan status hubungan kita
Quote:
Bokap Ayu : Baiklah! jadi begini Nak Agri! sengaja Bapak undang kamu datang kerumah hari ini! sebenarnya dengan maksud ingin mengetahui tentang sejauh apa kejelasan hubungan kalian, Bapak lihat selama 2 tahun belakangan! tampaknya kalian telah cukup dekat, tapi mungkin lebih baiknya lagi jika memang hubungan kalian telah serius, bukankah sekarang harusnya kalian mulai memikirkan tujuan kedepan akan bagaimana selanjutnya! apakah hubungan kalian masih akan terus kalian pertahankan tetap seperti ini, tak inginkah kalian mengakhirinya dan menjalani kehidupan berumah tangga? itulah yang bapak maksudkan! jadi kapan sekiranya Nak Agri dan keluarga bisa datang untuk melamar Ayu anak kami
Gue : Maaf Pak, apa barusan saya telah salah dengar, Saya dan Ayu! jadi selama ini kalian mengira kami berpacaran, bukan Pak! bukan seperti itu! selama ini kamidekat tak lebih hanya sebatas teman kerja, dan hanya itu aja! lagian posisi yang Bapak tanyakan itu sebenarnya sama sekali tak pantas untuk saya, bagaimana mungkin saya dapat menjawabnya
Bokap Ayu : Jadi kamu menolak Ayu? apa yang kurang menarik darinya menurutmu? sehingga kamu gak bersedia menerimanya? sebenernya kami sangat kecewa atas jawabanmu, tapi yasudahlah! mana mungkin kami masih memaksa jika kamu memang tak suka, rupanya kami telah salah mengharapkan lebih darimu, jadi untuk selanjutnya jika kamu memang tak benar2 menginginkan Ayu, lebih baik untuk seterusnya jangan pernah lagi mendekatinya, jangan bergaul denganya, dan juga jangan sering menemuinya, dengan begitu biar yang seharusnya menjadi jodohnya tak terhalang setiap kehadiranmu ketika di dekatnya
Gue : Maaf Pak! sebenernya bukan seperti itu yang saya maksudkan! tapi yaudah terserah Bapak juga! apa pun yang Bapak sebelumnya telah pertimbangkan, jika itu memang demi untuk kebaikan Ayu dan demi kebaikan keluarga ini, saya akan ikut saja, tapi jika saya boleh tau apakah rencana ini juga telah diketahui Ayu sebelumnya? dan apa pendapatnya?
Bokap Ayu : Jelas saja dia sudah tau! bagaimana pendapatnya? tentu saja apapun yang terbaik yang berusaha kami pilihkan untuknya sebagai orang tuanya, dia akan selalu menerimanya
Gue : Baiklah Pak! cukup jika begitu saya rasa, mungin sekarang saya akan pamit, saya minta maaf atas kesalah pahaman ini, sebelum dan sesudahnya saya benar2 tak menginginkan ini terjadi, saya juga tak menduga jika hasilnya bakal jadi seperti ini, berikutnya semoga yang terbaik aja yang senantiasa diperoleh buat keluarga Bapak dan Ayu sendiri, saya akan turut mendo’akan
Keesokan harinya gue lihat Ayu absen kerja, kurang tau atas alasan apa? entah karena dia malu ketemu gue, atau emang gak dibolehin oleh Bokapnya! hingga genap 1 minggu masih belum ada khabar darinya, terus terang gue jadi sedikit khawatir, gue coba hubungi ponselnya tapi terus di reject, untung2an kali itu gue coba kirimkan sebuah pesan lewat sms mengenai ajakan untuk bertemu
Quote:
Gue : Jika memang ada yang perlu untuk kita bicarakan, mari kita bertemu di ***** sekitar jam 5 sore nanti, gue anggap lo sedang memiliki masalah dengan gue tentang hal yang tempo hari, gue siap untuk menjelaskan semuanya ke lo, termasuk jika lo butuh pengakuan dari gue! gue siap! jangan balas! karena gue anggep lo pasti datang
Ayu : Apa yang membuatmu yakin bahwa gue bakal dateng?
Gue : Jika lo tega! gue akan menunggu lo disana semaleman sampai lo datang
Ayu : Ok fine, setidaknya kasih gue alesan kenapa gue harus datang, semoga sebuah khabar bahagia yang akan lo sampaikan
Gue : Gue gak yakin apakah ini akan jadi khabar baik buat lo! tapi gue janji akan mengatakan sebuah kebenaran, apa yang gue rasa selama ini tentang lo, sebelum gue nanti nyesel selamanya tak akan pernah memiliki kesempatan untuk bisa meminta maaf
Ayu : Ok, gue dateng, lo tunggu aja!
Sampai akhirnya waktu itu tiba, saat ini gue tengah berada di sebuah kafe tempat gue janjian dengan Ayu, diseberang bangku gue kini telah duduk Ayu yang sedang nangis sejadinya, setelah akhirnya mengetahui dan mendengar sendiri pengakuan dan penjelasan gue, bahwa gue gak bisa lanjut dengan dia, dan jujur mengatakan bahwa gue tak memiliki perasaan special terhadapnya
Quote:
Gue : Seperti itulah yang sebenernya terjadi Ay, setelah hari ini lo boleh membenci gue, lo boleh lakukan apapun semau lo ke gue, gue tak akan melawan, sebelumnya gue hanya ingin minta maaf jika sikap gue selama ini bikin lo jadi salah paham, kepedulian dan perhatian gue seperti ini memang udah biasa gue tunjukan kepada siapa saja, kepada teman ataupun orang di dekat gue, belum ada yang menerimanya lebih special dari yang lain, termasuk lo juga Ay, gue anggep lo cuma sebagai temen, jadi sewajarnya gue kasih juga apa yang barusan, jujur gue sama sekali gak pernah melibatkan perasaan! hanya tulus seorang sahabat
Ayu : Dan sekarang lo minta gue cukup melupakanya gitu aja Gri! lo tahu kan gimana perasaan gue selama ini ke lo? tanpa perlu gue sebut, gue anggep lo udah cukup merasa lah! tapi sekarang bagaimana bisa lo tega menyuruh gue melupakanya, lo tahu kan betapa sulitnya itu? apalagi alasan lo nolak gue karena sedang menunggu seseorang, itu sungguh tak dapat gue terima Gri, jika lo emang punya seseorang yang seperti itu, baiklah tunjukkan sekarang ke gue siapa orangnya, dengan begitu gue gak akan lagi berharap ke lo terlalu banyak, sampai gue belum melihatnya sendiri dengan mata kepala gue, tentang orang yang lo ceritain tadi, gue masih belum dapat mempercayai semua omongan lo
Gue : Jangan jadi orang egois Ay, jika lo emang gak bisa dapet apa yang lo inginkan maka ikhlaskan! dan dapatkan lagi yang lain, hidup lo tak melulu untuk terus menunggu gue kan, bahagia bisa lo dapet darimana saja bukan hanya dari gue, gue pun sama! gue bebas dong untuk memilih ataupun tak memilih lo, sebelum nantinya gue benar2 menemukan yang tepat untuk gue, jadi apa sekarang masalahnya?
Ayu : Mbuh lah! pusing gue! adanya lo malah bikin gue mikir jadi tambah bego!
Gue : Yaudah gue harus gimana lagi, untuk bikin lo berhenti dan gak lagi mikirin gue?
Ayu : Menghilang aja sana yang jauh, jangan tunjukin muka lo lagi di depan gue, jika adanya lo di deket gue cuma bisa nyakitin!
Gue : Ok, sesuai permintaan lo, besok gue akan coba ajuin resign, gue pastikan besok lo gak akan pernah ketemu gue lagi di tempat kerja
Ayu : Silahkan! jika lo berani! emang nyari kerjaan sekarang gampang apa?
Gue : Kita lihat saja nanti! padahal gue masih berharap Ay, bahwa seterusnya kita masih bisa menjadi seorang sahabat
Ayu : Siapa juga yang sudi punya sahabat kayak lo, bahkan di angan2 pun gue ogah!
Gue : Baiklah! maaf Ay! adanya gue malah bikin lo jadi berubah kayak gini, sumpah gue beneran nyesel!
Keesokan harinya gue beneran menghadap P. Dirman di mejanya untuk mengantarkan surat resign kerja gue, di awal2 sempet gue ditahan2 oleh beliau, ditanyakan alasan kenapa gue keluar, apa gue bosan? apa gajinya terlalu kecil? sampai sebuah pertanyaan apakah gue telah ingkar terhadap janji gue dulu ke beliau, dengan meninggalkan kantornya untuk menuju ke perusahaan lain, ini yang bikin gue sebenernya sulit mengatakanya, karena gue terbiasa untuk berkata jujur! terlebih kepada beliau, tapi kali ini gue mesti terpaksa berbohong, gue tak memberikan jawaban yang dapat memuaskan beliau, bodoh aja jika alasan gue resign karena wanita, terlebih dengan teman sekantor, bagaimana mungkin nanti dapat beliau terima, jadilah biar beliau aja yang terus menebak2 nya sendiri
Selesai beres2 apa yang mesti gue bawa, gue lanjut kemudian berpamitan kepada beberapa orang karyawan yang gue kenal disana, sempat gue lihat juga Ayu yang hari itu sudah mulai masuk kerja, tapi sengaja gue salamin paling terakhir, ketika tiba pada giliranya! saat gue hendak pamit, gue langsung dipeluk erat olehnya dari belakang sedang air matanya telah banyak membanjir pada punggung gue
Quote:
Ayu : Maafin gue Gri! lo gak seharusnya menuruti apa kemauan gue, gue mungkin masih baik2 aja walau ada lo disini juga, semua yang terucap kemaren malem! dan yang telah lo denger, semua hanya kebodohan gue yang gak bisa mikir panjang! gue mengucapkanya spontan karena saat itu gue lagi emosi, jadi jangan lo anggep serius dan berlebihan, gue masih pingin lo ada disini, semua yang telah gue lakuin selama ini, tak akan ada gunanya jika lo pergi, please Gri jangan pergi