- Beranda
- Stories from the Heart
Whiskey Lullaby (a collection of short stories)
...
TS
romperstomper
Whiskey Lullaby (a collection of short stories)
Quote:

WHISKEY LULLABY
a collection of short stories about life, love... and whiskey

photograph by patheme@deviantart.com
He spent his whole life tryin' to forget
We watched him drink his pain away a little at a time
But he never could get drunk enough to get her off his mind
(Brad Paisley - Whiskey Lullaby)

INDEX
PROLOGUE
GLASS 1: UNTUK DESEMBER
GLASS 2 : PERTAMA UNTUK SELAMANYA (part 1)
GLASS 3 : JATUH UNTUK SELAMANYA (part 2)
GLASS 4 : A BROKEN ETERNITY (one-shot/fantasy)
GLASS 5 : BOTTLE OF WORDS (poetry)
GLASS 6 : ONE SWEET GLASS (part 3)
GLASS 7 : DRUNK RAMBLING (one-shot)
Diubah oleh romperstomper 15-10-2017 20:30
anasabila memberi reputasi
1
12.3K
31
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54KAnggota
Tampilkan semua post
TS
romperstomper
#28
ONE SWEET GLASS
(1st POV)

Darimana aku harus memulai kisahnya?
Tunggulah, Tuan bartender. Berikan lagi sedikit waktu untukku merangkai indah cerita yang sudah begitu lama terpendam ini. Anggap saja saat ini detik berhenti berdetak, waktu berhenti bergulir, atau malam hidup abadi tanpa pernah mengenal pagi sampai nanti akhir kisah ini terucap dari mulutku. Tolong tunggu sebentar lagi, Tuan. Mungkin lidahku memang tak lagi sabar untuk berceloteh lincah tentang masa lalu, namun ada rasa mengganjal di dalam diri yang sama sekali tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Anomali yang mengganjal sesak di dada dan memaksaku harus menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat seolah udara di sekitar tidak lagi mengandung banyak oksigen. Oh, maafkan pendongeng amatir ini, yang bahkan terjebak kebimbangan dalam urusan remeh semacam memilih kalimat untuk membuka.
Sejenak lagi, Tuan. Paling tidak sampai tenggorokanku selesai meneguk segelas whiskey ini. Ah, sahabat yang begitu setia menemani kita malam ini, Tuan bartender. Whiskey yang terlahir dengan nama Jack Daniel's, terduduk diam tanpa suara di atas meja, dan tak pernah sedetikpun beranjak pergi meninggalkan kita, Tuan.
Dan janjiku untukmu, Tuan. Meski kau muak dengan tema usang dari kisah ini dan nantinya terdengar begitu murahan di telingamu, percayalah, kisah picisan yang akan kuceritakan ini sesungguhnya pernah juga kau rasakan. Janjiku, Tuan, kisah ini akan terasa begitu familiar meski alurnya mengalir berbeda. Boleh kiranya nanti tuan menertawakan kisah ini, yang tak ubahnya curahan hati dari seorang remaja tanggung yang belum mengenal kehidupan. Tapi akuilah, Tuan, bahwa siapapun pasti pernah melewati fase yang dipenuhi banyak gejolak itu.
Masih sabarkah kau menantiku memulai kisah ini, Tuan bartender tanpa nama? Ah, beribu ucapan terima kasihku untuk kesabaranmu. Lihat, gelas di tanganku sudah kosong, dan sebatang rokok di bibirku menyala merah dengan kepulan asap. Inilah saatnya yang mungkin telah lelah kau tunggu, Tuan.
Ya, dari sanalah kisah ini akan kumulai.
Dari sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku; Reza. Kiranya kau pun mau mengingat nama itu, Tuan? Tak perlu kurasa melengkapinya dengan nama panjangku, sungguh tidak seberapa penting. Sama tidak pentingnya dengan latar belakang kisah hidupku yang akan terlalu panjang untuk diceritakan. Kisah ini bukan sebuah biografi, Tuan. Aku pun yakin kau sama tidak tertariknya dengan cerita tumbuh-kembangku dari balita hingga dewasa. Oh, satu pertanyaan untukmu, Tuan. Penting untuk kuketahui sebelum kisah ini memasuki bagian selanjutnya.
Masih kau ingat dengan kisah yang kuceritakan tempo hari itu? Ya, tepat Tuan. Kisah seorang anak yang pergi menuntut ilmu di kota berjuluk Kota Kembang. Dengan penuh semangat memulai babak hidup baru yang dipenuhi mimpi dan harapan. Bersama para sahabat dan berbotol-botol whiskey.
Kau tentunya juga masih ingat, Tuan bartender, tempo hari segelas whiskey terakhir menemaniku menutup kisah tentang anak laki-laki itu yang terbangun dengan kepala berdenyut, efek samping konsumsi alkohol yang berlebihan malam sebelumnya? Dan satu sosok perempuan dengan senyum yang tersimpul malu dan seketika meniupkan musim semi ke dalam hidupnya? Satu nama yang terucap merdu dan tergurat abadi di dalam kepala anak laki-laki itu?
Ya, Tuan.
Perempuan bernama Fika, yang tewujud begitu indah dimatanya dan mengubah hidup anak laki-laki itu.
Tak cukup terima kasihku untukmu yang tidak sedikitpun melupakan rangkaian ceritaku, Tuan. Hanya dengan kisah ini sebagai kelanjutannya lah aku mampu membayar, semoga kau belum bosan mendengar kisah yang entah sampai kapan kiranya akan berakhir. Biarkan aku memulai kisah kali ini dengan sebuah kejujuran. Mungkin juga kau sudah bisa menebaknya, Tuan.
Ya, akulah anak laki-laki itu. Remaja tanggung yang baru menginjak tingkat sekolah tinggi. Pelancong muda dengan gelar mahasiswa rantau, yang lebih suka meneguk alkohol minimal 3 botol sehari dibanding mengisi perut 3 kali sehari, atau membakar berlinting-linting daun kering dengan alasan mendorong kreatifitas untuk menyelesaikan tugas dari dosen. Gaya hidup yang konyol, bodoh, terus sebut saja sisanya, Tuan. Aku tidak akan menyangkal fase itu yang begitu dipengaruhi budaya-budaya remaja barat yang dipenuhi pesta, alkohol, drugs, dan seks. Tapi dibalik semuanya, percaya atau tidak, moralitas timur dalam diriku diam-diam tidak begitu setuju dengan hal yang terakhir. Berbanding terbalik dengan salah satu sahabatku yang berpetualang dari satu gadis ke gadis lainnya, dengan bekal satu kondom ke banyak kondom lainnya.
Tentu bukan cerita petualangan sahabatku itu yang akan kuceritakan malam ini, Tuan, mungkin di lain waktu. Kisah malam ini hanya akan bercerita tentangku. Dan tentunya tentang dia, Tuan. Tentang hari-hari indah yang selalu penuh dengan sosoknya, suaranya, atau bahkan bayangan wajahnya yang abadi dalam benakku. Tentang manis yang kukecap saat menyebut namanya. Tentang beribu-ribu jam percakapan jarak jauh via ponsel yang kami lakukan, tentang tawanya yang tergelak renyah, hingga tentang kereligiusan dirinya yang mampu menuntunku untuk kembali mengenal ibadah. Tentang dirinya seutuhnya, dengan segala kekurangan dan kesempurnaannya, yang membuatku begitu yakin bahwa dia lah yang kuinginkan untuk selamanya.
Lucu memang, Tuan. Kadang mengingatnya kembali pun terkadang membuatku tersenyum. Tapi pada saat itu, dengan diri dan pikiranku yang belum dewasa dan matang, aku percaya telah menemukan belahan jiwaku dalam sosok seorang perempuan bernama Fika. Ya, Tuan, aku telah sampai di satu titik dimana aku tak lagi tertarik untuk mendekati perempuan lain di luar sana. Oh, jangan salah paham sebelumnya, Tuan. Bukan, ini bukanlah sebuah obsesi. Lebih seperti anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru setelah merengek berjam-jam, ada rasa kecukupan yang membuatku tidak menginginkan lainnya. Dia lah kepingan puzzle terakhir dalam hidupku. Satu eksistensi yang menyempurnakan, dia lah duniaku. Sungguh, aku tidak membual, Tuan. Hanya dia lah yang kuinginkan ada di dalam setiap lembar hidupku sampai akhir yang akan memisahkan.
Aku jatuh cinta untuk selamanya, Tuan.
Jarak pun tidak menjadi tembok penghalang bagiku, Tuan. Bagi kami. Fika bersahabat erat dengan salah satu teman serumahku saat itu. Ceritaku tempo hari itu, Tuan, jika kau masih mengingatnya. Ya, seorang teman bernama Wisnu yang juga memperkenalkanku dengan Fika. Sosok pendukung nomor satu yang begitu antusias mendengar pengakuan mabuk yang keluar dari mulutku di suatu malam perihal hati yang mendamba cinta milik dara bernama Fika. Yang kemudian mulai menjual imej diriku kepada Fika seolah aku adalah seorang santo suci yang tak sedikitpun ternoda dosa. Saat itu pun aku tertawa lepas, Tuan. Terdengar begitu konyol, tapi aku pun tak menyangka taktiknya ternyata sukses besar.
Seolah gayung bersambut, Fika semakin sering berkunjung pada akhir pekan dengan alasan janji temu dengan Wisnu. Belakangan dia mulai ikut menginap di rumah yang kami sewa, tentu saja Wisnu yang selalu memberikan kamarnya menjadi tumbal dan tidur di atas sofa ruang tamu. Kamarku? Tidak tentu saja. Percayalah, Tuan, mahasiswa fakultas seni rupa tidak pernah punya cukup waktu untuk membersihkan kamar. Dan waktu pun berlalu seiring kisah yang saling bertukar, tawa yang tergelak, dan dua pasang mata yang saling balas menatap penuh afeksi. Ketika itu, duniaku berputar dengan Fika sebagai porosnya. Sungguh, Tuan, dia mengubah segalanya dalam hidupku. Kedua sahabatku pun tak pernah berhenti takjub, bagaimana eksistensi satu orang bisa mengubah semestaku seluruhnya. Bahkan whiskey yang dulu begitu kucintai perlahan mulai kutinggalkan. Perubahan positif? Mungkin, Tuan, tapi saat itu semua yang kulakukan hanya demi dirinya seorang.
Dia lah satu-satunya alasan dalam hidupku, Tuan.
Pun aku menghitungnya dengan seksama, Tuan. Aku masih mengingatnya dengan begitu jelas. Sepuluh kali makan malam, enam film berdurasi kurang-lebih dua jam yang tayang di sinema, dua buket bunga, satu kali kejutan saat aku berkunjung secara tiba-tiba ke rumahnya, satu kali sesi kencan di bar favoritku, empat gelas Tequilla yang kuteguk cepat, wajahku yang memerah dan satu rangkaian kalimat kikuk yang mengungkapkan rasa cintaku, momen berikutnya dia berada di dalam pelukanku bersama cinta yang diberikannya sesaat lalu dan kami resmi menjadi sepasang kekasih.
Dan setelahnya, setiap detik terasa begitu sempurna bagiku, Tuan.
Kala itu tak ada lagi yang kupinta dari hidup ini, Tuan. Tidak ada lagi yang kubutuhkan kecuali dirinya. Aneh kah, Tuan? Jika seseorang merasa begitu cukup dan sempurna hanya karena cinta yang berbalas dari sang terkasih? Begitu indah rasanya, Tuan, seperti pelangi yang terlukis penuh warna di langit kelabu sehabis hujan mereda. Seperti mentari pagi yang terbit menyapa hari setelah malam terlelap dalam tidurnya. Oh, Tuan, sungguh aku kehabisan kata untuk menggambarkannya. Aku yakin kau pun tahu bagaimana rasanya.
Euforia yang bahkan tidak bisa didapat dari lintingan marijuana kering.
Tapi maafkan lah diriku yang naif itu, Tuan. Maafkan lah dia, diriku di masa lalu itu yang begitu terbuai oleh senandung para Cupid. Yang masih hijau dan belum mengerti benar arti kehidupan. Karena kita pun pasti tahu sekarang, Tuan, bahwa arti selamanya sesungguhnya hanyalah milik sang maut dan alam setelahnya. Bahwa gelas yang penuh di tanganku ini pun nantinya akan kembali kosong, atau mimpi yang lenyap kala jiwa terbangun dari tidur. Bahwa semua kisah pasti memiliki akhirnya, tak peduli manis atau pahit yang nanti akan dikecap.
Biarkanlah kisah manis ini menjadi penutup di malam ini, Tuan. Malam sudah terlampau larut, dan aku sudah melewati batas waktuku sebagai seorang pengunjung di bar ini. Ingatlah kisah yang kubagi malam ini, Tuan bartender. Ingatlah manisnya kisah kasih dua insan yang saling jatuh cinta dengan tulus. Ingatlah indahnya hari yang berlalu seiring tangan yang saling bergandengan, lengan yang saling merengkuh, bibir yang saling berpagut, atau tubuh yang tidur berpelukan tanpa pretensi ataupun birahi.
Ingatlah manisnya, Tuan, meski tak seberapa.
Karena mungkin kisah selanjutnya hanya akan menyisakan pahit untuk kau kecap.

0