- Beranda
- Stories from the Heart
Namaku Aleya (Based on true story)
...
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...

Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...
Quote:

Quote:
Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:
Quote:
Quote:
Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
ezzasuke dan 36 lainnya memberi reputasi
37
144.7K
869
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alealeya
#371
Part 29


3 hari liburan di bali membuat otak kembali fresh, dan hari ini aku masuk kerja dengan penuh semangat. Begitu indah rasanya kenang-kenangan yg diciptakan oleh pulau dewata. Kenangan yg tak tergantikan oleh apapun. Suasana Restoran pagi itu agak sepi, mungkin karena bukan weekend dan emang biasanya resto rame nya sekitar jam 12 an siang sih haha.
"Al gimana di bali?" Tanya Yuli padaku.
"Ahhhh gimana yaa aku jelasin nya, seru deh pokoknya, ditambah lagiiii...."
"Apa Al apaa? Ditambah apa?" Yuli makin penasaran.
"Rian mau melamar aku!" Ucap ku kegirangan.
"Waahhhh wow, selamat yaa Al, yaa ampun akhirnya teman ku nikah jugaa," ia ikut kegirangan lalu memelukku. Untung resto jadi sepi jadi leluasa buat ngerumpi haha.
Menjelang siang pun resto masih sepi, baru beberapa pengunjung yg datang, itupun cuma sekedar takeaway.
Aku yg sedang asyik mengelap sebuah meja di dekat jendela melihat sedan hitam parkir didepan. "Wah pengunjung nih," pikirku. Aku terus aja mengelap meja sampai bersih, lalu seorang wanita masuk kedalam resto dengan mengenakan kacamata hitam, baju dress agak pendek. Hmm kayaknya kenal, apa iyaa ya? Ahh bodo amat lah, dia kan udah sukses sekarang, barangkali dia malu punya teman yg cuma seorang waitress.
Setelah seorang waiter menghampiri, ia kemudian duduk di kursi tunggu dekat pintu masuk, "lho takeaway ternyata," pikirku. Aku yg sudah selesai membersihkan meja, berniat mau masuk dan menaroh lap di belakang.
"Al?... Aleyaa...!" Seru wanita itu memanggilku. Ahh rupanya dia gak sesombong yg ku pikirkan.
"Hei Cind, takeaway ya?" Ucapku.
Aku dan Cindy gak pernah lagi saling berhubungan baik via chat atau apapun sejak kejadian di parkiran itu, kupikir dia bakal ikut benci aku gara-gara insiden yg gak di harapkan. Tapi ternyata dia masih menyapa ku.
"Al Al mau kemana, sinii dong aku mau ngomong," dia menghampiri ku. Di gandengnya lenganku.
"Hehehe kenapa Cind? Kangen yaa?" Tanya ku.
"Hmmm kamu lagi sibuk gak? Kedepan bentar yuk," ucapnya sambil menunjuk mobil yg tadi dikendarai nya.
Setelah mendapatkan izin dari supervisor ku dan suasana emang lagi sepi, akhirnya aku ikut Cindy ke dalam mobilnya. Di buka nya kacamata hitam yg daritadi dia kenakan. Astaga!.
"Cind kamu kenapa?" Tanya ku. Kami duduk di jok belakang sedan itu.
"Huuu... emang bener kata si Rian ya ternyata..." kata Cindy. Matanya terlihat sembab seperti habis nangis.
"Lho emang kenapa? Ada apa? Ayoo cerita,"
"Itu si Tomy Al, aduh parah banget deh," ucapnya. Ah sebenernya males kalo dengar masalah Tomy, tapi yaudahlah lagian penasaran juga.
"Kenapa si Tomy? Kamu ada masalah sama dia?" Jawabku.
"Bukan masalah, ini lebih parah lagi Al," Lalu Cindy menangis dipelukan ku, baju kerja ku jadi agak basah kena air mata Cindy.
"Kenapa Cind? Sabar sabaar, cerita ayoo," ku elus-elus pundaknya.
"Aku diputusin sama Tomy Al," sahutnya.
"Lho kok bisa? Emang kenapa?"
"Emang b*engsek banget tu cowo, udah dikasih semuanya main ninggalin gitu aja," sambung Cindy, tangisan nya makin menjadi.
"Ka... kamu ju.."
"Iya Al aku juga sama kayak kamu, tapi lebih parah nya lagi..."
"Apa Cind?"
"Aku sekarang hamil,"
Hah?! What the... Cindy hamil? Astagaaa!!
"Apa?! Hamil?! Ya ampun Cind, kok bisa sih?" Ku peluk erat Cindy yg makin kencang nangis nya.
Cindy kemudian menjelaskan, bahwa ternyata dia udah berkali-kali 'melakukan' dengan Tomy, dan akhirnya setelah Cindy positif hamil, Tomy pergi begitu aja dan mengelak kalo itu anaknya. Bahkan lebih parah lagi, Tomy menuduh Cindy udah 'main' sama yg lain, sampai-sampai Cindy bisa hamil. Kurang ajar banget itu cowo!.
"Yaa ampun Cind, sabar yaa, astagaa emang beneran b*engsek tu orang ya," ku belai rambut panjangnya yg agak kecoklatan.
"Aku harus gimana Al? Harus gimanaa?" Terisak menangis, terlihat jelas wajahnya ketakutan, bingung dan sedih. Aku ngerti banget perasaan Cindy gimana, kasian banget dia.
Aku sih gak bisa kasih banyak solusi, bingung juga soalnya kalo udah kayak gini. Aku sekedar menyabari dan memberikan saran, coba dateng ke rumah Tomy, kalo dia tetap gak mau tanggung jawab, sebaiknya ketemu orang tuanya. Kasian banget Cindy harus jadi korban nya juga, untung aku gak sampe hamil. Hmmm...
"Yaudah deh Al, tuh pesenan ku kayaknya udah selesai," Ucap Cindy.
"Hmmm.. iya Cind, kamu yg sabar yaa, maaf aku gak bisa bantu banyak," kataku sambil membuka pintu mobil.
"Al... ingat yaa jangan bilang siapa-siapa masalah ini," katanya.
"Iya Cind beres, rahasia terjaga,"
Setelah mengambil pesanan nya, Cindy kemudian pergi meninggalkan resto, tersisa sedikit tanya di benak ku. Kok Cindy mau yaa sampe berkali-kali di gituin Tomy? Apa dia khilaf atau gimana sih.
Sore itu akhirnya shift kerja ku berakhir, aku langsung menuju kost ku yg cuma berjarak beberapa ratus meter dari resto. Masih terpikirkan rasanya nasib Cindy harus berjuang sendirian setelah ditinggalin Tomy, ahh untung aja aku udah dapat orang yg tepat dan calon suami yg baik hihihi beruntung nya aku.
Aku sempat menarik kesimpulan dengan apa yg terjadi sama Cindy, dia itu kan orang nya (maaf) agak matre, apa iya dia rela menukarkan 'itu' demi uang dan harta? Kan dulu Cindy gak punya mobil, apa itu pemberian Tomy yaa?. Lho kok aku malah mikirin itu sih, itu kan urusan dia hmmm...
Yg penting kan sekarang aku bahagi hehe.
Sesampainya di kost, aku mandi lalu rebahan di ranjang, ahh enak banget setelah seharian kerja langsung mandi dan istirahat gini. Aku pun akhirnya terlelap dalam tidur sore, mata ku perlahan-lahan menutup dengan sendirinya.
"Haloo Leya, nak lagi dimana?" Ucap Ibu lewat telepon yg mengagetkan ku dan membangunkan dari tidur sore.
"Di kost bu, baru pulang kerja, ibu udah pulang?"
"Iya ini udah dirumah, ini ada ibu sama bapak nya Rian disini,"
Eh? Waduh, cepet banget langsung ke rumah Ibu aja mereka, yaa ampun rupanya mereka gerak cepat. Mataku langsung terbelalak padahal tadi masih merem waktu baru angkat telepon.
"Oh ya? Terus terus bu?" Sahutku penuh semangat.
"Kamu kok nakal sih, gak bilang-bilang kalo selama ini pacaran sama Rian?" Sahut Ibu.
"Hehehe maaf bu, ku pikir belum waktunya ngomong,"
"Jadi gimana nak? Kamu bener udah siap?" Tanya Ibu, mulai deg-deg an rasanya habis denger pertanyaan ibu barusan.
"I... iya bu udah siap kok," jawabku.
"Yakiin?"
"Iya yakin bu yakin,"
"Oke kalo gitu ibu mau ngomong lagi sama bapak ibu nya Rian yaa, sekalian nentuin tanggal nya,"
Whaaaatt!? Secepat itu kah? Astagaa bentar lagi masa muda ku bakal berakhir, dan sebentar lagi aku jadi ibu-ibu.
Quote:
Diubah oleh alealeya 22-07-2017 00:19
Nikita41 dan mmuji1575 memberi reputasi
2






