Wah rame ya. Sorry ya gw udah lama banget gak update cerita di kaskus. Banyak yang PM dan menanyakan kelanjutan cerita. Mohon maaf sekali lagi, Alhamdulillah di kerjaan gw dapat posisi baru dan banyak energi terkuras untuk pekerjaan, jangankan untuk update kaskus, untuk keluarga aja waktu berkurang. Semoga bulan Juli ini ritme kerja kembali normal.
Mumpung ada waktu, gw mau cerita beberapa cerita yang masih hangat. Ini kejadian bulan November 2016 kemarin.
"VILLA PUNCAK"
Bulan November 2016 lalu, kantor gw mengadakan Raker Nasional Akhir Tahun. Gw ditunjuk sebagai panitia pelaksana sekaligus juga peserta. Gw harus kerja keras karena selain gw harus mempersiapkan tetek bengek segala macam keperluan kegiatan Raker, juga harus mempersiapkan materi presentasi yang akan gw presentasikan kepada Dewan Direksi. Total panitia ada sekitar 20 orang yang membantu gw mempersiapkan segala kebutuhan Raker tersebut.
Karena acara raker berlangsung selama 3 hari, maka gw juga harus mempersiapkan penginapan, gw menyewa 4 Villa di puncak, 2 untuk menginap peserta dan 1 Villa untuk tempat acara Raker dan menginap Direksi. 1 villa dipersiapkan khusus untuk tempat menginap panitia, termasuk gw.
Lokasi kami Raker berada di daerah Puncak, Bogor. Kurang lebih 2 km setelah Taman Safari, masuk ke dalam jalan kampung. Lokasi kegiatan dan villa yang kami tempati berada dalam satu area. Meskipun dalam satu area, tapi antara bangunan satu dengan yang lain tetap saja jauh.
Hari pelaksanaan pun dimulai, acara sudah dimulai sejak pagi hari. Satu per satu para pimpinan mempresentasikan Pencapaian Kerja dan Rencana Kerja yang akan disetujui oleh Direksi. Acara diselingi perdebatan yang sengit karena Dewan Direksi biasanya 'membantai' peserta. Acara hari pertama selesai sekitar pukul 19.00. Peserta langsung pulang ke villa masing-masing,kecuali panitia, kami membereskan lokasi acara sekaligus mempersiapkan untuk kegiatan selanjutnya keesokan harinya. Panitia baru menyelesaikan pekerjaan hingga jam 22.00.
Setelah selesai, kembalilah kami ke villa panitia. Oh iya villa yang gw tempati ini ada 6 kamar dengan 2 lantai, total panitia yang ikut menginap ada 20 orang. Sebagian dapat kamar, sebagian lagi pakai extra bed di ruang tengah. Selain 6 kamar yang kami pakai, ada 1 kamar lagi di lantai atas yang tidak bisa digunakan karena dikunci. Ya mungkin memang kamar itu khusus buat pemilik villa aja kalau sang pemilik liburan ke villa itu, begitu pikir gw, karena villa di puncak memang kebanyakan punya pejabat. Di lantai 2 ini ada perapian dan meja Billiard.
Satu per satu dari kami mulai memasuki villa, bagi yang dapat jatah kamar (termasuk gw) mulai memasuki kamar, sebagian lagi leyeh-leyeh di ruang tengah. Satu per satu bergantian kami mandi. Kamar mandi di villa itu ada 3, jadinya kami harus bergantian. Karena badan gw capek, gw gak langsung mandi, gw leyeh-leyeh di kamar sebentar, trus gw ngopi. Jadilah gw mandi terakhir.
Memasuki kamar mandi, gw agak bergidik. Kamar mandi ini sangat besar, hanya ada shower, wastafel dan WC duduk. Dindingnya terbuat dari kayu dan bambu dengan lantai batu alam. Kamar mandinya sebetulnya cukup bagus, hampir sama dengan kamar mandi hotel, tapi gw merasakan hawa aneh disini. Hawa yang tidak asing lagi tentunya. Gw lanjut mandi, gw gak takut apalagi gw dengar suara teman-teman gw lagi bercanda di luar kamar mandi alias di ruang tengah.
"Permisi ya, gw cuma mau numpang mandi, tolong jangan ganggu!"- Gw permisi pada makhluk yang gw yakini ada disana.
Mandi pun dimulai, gw memang senang sekali berlama-lama berdiri di bawah shower, apalagi saat badan capek seperti ini. Saat gw keramas menggunakan shampoo, tiba-tiba gw merasakan sesuatu yang sangat aneh. Suara temen-temen gw yang terdengar berisik di ruangan tengah tiba-tiba berhenti, senyap sekali suasana kamar mandi itu, hanya terdengar suara shower. Gw mematikan kran shower untuk memastikan suara teman-teman gw masih ada. Ternyata memang sepi sekali, hanya terdengar suara jangkrik. Aneh sekali, pikir gw.
Gw buru-buru membilas shampoo, saat membuka mata, gw melihat tangan keriput sedang memegang dinding yang menjadi sekat antara tempat shower dengan wastafel.
"Astagfirullah!!"- Gw kaget.
Tapi penampakan itu hanya sepersekian detik saja, saat gw membuka mata penuh, tangan keriput itu tidak ada. Tapi gw yakin gw melihat tangan itu. Tangannya keriput dan pucat. Gw langsung ambil handuk dan mengeringkan badan. Tanpa ba-bi-bu, gw langsung keluar kamar mandi. Saat gw keluar kamar mandi, gw melihat teman-teman gw masih di ruangan tengah sedang bercanda, dan masih berisik tentunya.
"Kenapa lu Ron?Keluar kamar mandi doang rusuh."- Salah satu teman gw bertanya.
"Gpp bro."- Kata gw singkat.
Gw masuk kamar untuk ganti pakaian dalam waktu yang sangat singkat, gw udah berganti pakaian dan langsung kumpul di ruang tengah bareng temen2 gw.
"Kenapa pucet banget lu Ron?kayak abis liat setan aja..hahahahha"- Temen gw yang bernama Gilang menyambut gw dengan pertanyaan sembrono.
"Eh..jangan ngomong sembarangan ya disini. Gw ga apa2."- Gw tegas menegur Gilang.
"Halaah..takhayul aja"- Gilang mulai sombong.
"Heh!!!"- Singkat gw kembali menegur Gilang, kali ini Gilang diam.
Setelah ngobrol cukup lama, temen2 gw memutuskan pindah ke lantai atas sambil main billiard, biar seru katanya. Gw capek sebetulnya dan pengen istirahat, tapi takut juga gw di kamar sendirian. Untungnya ada salah satu temen gw yang ngantuk juga, akhirnya temen gw numpang dalam kamar gw untuk tidur duluan. Sebut saja temen gw bernama Arif.
Sekitar tengah malam, gw terbangun karena suara berisik di lantai atas. Gw bangun dan melihat sekitar.
"Lah, si Arif mana ya?"- Gw mencari Arif udah ga ada di kasurnya.
Bruk..Brak...Bruuk...Brak....Suara berisik dari lantai atas terdengar lagi, kali ini lebih keras.
"Halah..anak-anak ini main billiard aja kayak main futsal" - Gw masih berpikir ini suara ribut temen2 gw yang memang sedang main billiard.
"Ah..tapi tunggu dulu..di atas kamar gw adalah kamar terkunci, kamar kosong." - Gw baru menyadari kalau ini bukan suara ribut karena temen2 gw.
Gw langsung keluar kamar dan pergi ke lantai atas bergabung dengan temen2 gw, nyali gw gak cukup kuat untuk meghadapi ini sendirian. Di lantai atas gw ketemu Arif.
"Eh Rif, lu maen tinggalin aja."- Gw tegur Arif.
"hahaha..iya Bro, tadi kebangun, terus ga bisa tidur lagi, ya udah gw gabung aja disini."- Kata Arif.
Akhirnya, malam itu gw terpaksa ikut begadang hingga jam 2 subuh, baru setelah itu kami tidur di kamar masing-masing.
Keesokan paginya kami semua melanjutkan acara Raker dan penutupan, setelah itu kami semua pulang ke rumah masing2.
Setelah acara raker selesai, besoknya kami kembali masuk ke kantor seperti biasa. Tapi, tidak ada GIlang di kantor. Menurut kabar dari atasannya, diinfokan bahwa Gilang tidak masuk karena sakit.
Selanjutnya, gw mendengar kabar bahwa Gilang mengalami sakit tiba2 hingga kejang2, lalu pihak keluarga membawa Gilang ke Villa tempat kami menginap sebelumnya dan melakukan ritual disana. Konon, penghuni villa mengikuti Gilang sampai ke rumahnya, mungkin karena tersinggung?