- Beranda
- Stories from the Heart
T University 2 (Season 2)
...
TS
anism
T University 2 (Season 2)

Cover Super Keren by Awayaye <Ane minta
> Terima banyak untuk respon positif agan dan aganwati di thread sebelumnya. T University.
Bagi yang belum membacanya. Bisa mengklik judul dibawah ini.
T University
Spoiler for Daftar Isi/Case 1 : Lost Son:
Case 1 Finish
Spoiler for Case 2 : Lativa's Twins Terror:
Case 2 Finish
Spoiler for Case 3 : Arelia And Edward:
Case 3 Finish
Spoiler for Samantha And Mom:
Finish
Spoiler for Case 4 : Johnny Comes Back To China or England:
Case 4 Finish
Spoiler for Case 5 : King Killer's Son:
Case 5 Finish
Spoiler for Case 6 : Losing In A Plane:
Diubah oleh anism 30-05-2019 17:56
anasabila memberi reputasi
1
21.7K
198
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#84
Bergerak
“Mereka mungkin menyiksanya lebih dari perkiraan kita.”, Samantha bergidik.
“Apa handphone Romeo tidak dikunci? Kenapa mereka bisa mengirimkan foto itu?”, tanya Johnny.
“Mungkin mereka memaksanya membuka kunci handphone nya.”, ujar Arelia.
“Dan dia memberikannya begitu saja?”, ujar Johnny.
“John, saat seseorang mengancam nyawamu. Apa yang tidak kamu lakukan?”, tegas Brian kesal.
Arelia menggigit bibirnya. Dia tidak menyangka bahwa mereka benar-benar diburu. Semua yang Romeo lakukan adalah melindungi mereka, tepatnya adalah dirinya. Tapi Romeo gegabah.
Tiba-tiba hp Johnny berbunyi. Telepon masuk dari nomor Romeo. Arelia segera mengangkatnya dan menspeakerkan suara tersebut.
“Halo”, sebuah suara yang kaku dari seberang berbicara dalam bahasa mandarin. Johnny menjawab telepon tersebut dan mengambil alih pembicaraan.
“Temanmu disini sudah hampir kehilangan kesadaran. Darahnya keluar banyak sekali.”, ujar suara itu dengan sok cemas.
“Apa yang kau inginkan?”, ujar Johnny tegang.
“Jangan mengusut kasus tersebut lagi atau temanmu bakal mati.”, suara itu terdengar bergetar. Johnny merasa pernah mendengar suara itu entah dimana.
“Kembalikan dia!”, teriak Johnny.
“Biar aku beri kamu dengar suaranya sebentar ya.”, suara itu kembali tertawa.
“Bicaralah.” Tapi tidak terdengar suara dari seberang sana. “Bagaimana kalau sebuah jeritan saja?”, tangan orang tersebut bergerak ke sebuah luka di lengan Romeo dan menekannya. Romeo mengerang kesakitan.
“Dia terlalu lemah untuk bicara.”, suara itu kembali tertawa, namun kemudian terbatuk-batuk.
“Rembukkanlah bersama. Jika kamu mencabut kasus ini. Temanmu akan kembali. Tapi paling lama adalah tiga hari sejak hari ini. Kalau tidak, dia akan membusuk di sini!”, telepon itu dimatikan dan tidak dapat dihubungi lagi.
Johnny menjelaskan apa yang dikatakan oleh penelepon tersebut kepada sebelas orang lainnya.
“Aku rasa orang itu adalah Ru Gui.”, ujar Arelia tiba-tiba.
“Orang tua itu? Tidak mungkin.”, tegas Johnny.
“Dua hari lalu, aku dan Romeo melihat Ru Gui berbicara dengan Yan Fei. Dia selalu menggunakan tongkat di tiap kesempatan. Dan saat itu dia tidak menggunakannya. Dia berjalan dengan lancar. Apakah itu tidak aneh?”, jelas Arelia.
“Tapi sekarang tidak ada cara untuk menemukan dimana dia dan Romeo berada. Kita tidak bisa membuktikan bahwa orang itu adalah Ru Gui.”, jelas Johnny.
“Tidak. Kita bisa segera pergi ke rumahnya.”, ujar Samantha.
“Mereka mungkin menyiksanya lebih dari perkiraan kita.”, Samantha bergidik.
“Apa handphone Romeo tidak dikunci? Kenapa mereka bisa mengirimkan foto itu?”, tanya Johnny.
“Mungkin mereka memaksanya membuka kunci handphone nya.”, ujar Arelia.
“Dan dia memberikannya begitu saja?”, ujar Johnny.
“John, saat seseorang mengancam nyawamu. Apa yang tidak kamu lakukan?”, tegas Brian kesal.
Arelia menggigit bibirnya. Dia tidak menyangka bahwa mereka benar-benar diburu. Semua yang Romeo lakukan adalah melindungi mereka, tepatnya adalah dirinya. Tapi Romeo gegabah.
Tiba-tiba hp Johnny berbunyi. Telepon masuk dari nomor Romeo. Arelia segera mengangkatnya dan menspeakerkan suara tersebut.
“Halo”, sebuah suara yang kaku dari seberang berbicara dalam bahasa mandarin. Johnny menjawab telepon tersebut dan mengambil alih pembicaraan.
“Temanmu disini sudah hampir kehilangan kesadaran. Darahnya keluar banyak sekali.”, ujar suara itu dengan sok cemas.
“Apa yang kau inginkan?”, ujar Johnny tegang.
“Jangan mengusut kasus tersebut lagi atau temanmu bakal mati.”, suara itu terdengar bergetar. Johnny merasa pernah mendengar suara itu entah dimana.
“Kembalikan dia!”, teriak Johnny.
“Biar aku beri kamu dengar suaranya sebentar ya.”, suara itu kembali tertawa.
“Bicaralah.” Tapi tidak terdengar suara dari seberang sana. “Bagaimana kalau sebuah jeritan saja?”, tangan orang tersebut bergerak ke sebuah luka di lengan Romeo dan menekannya. Romeo mengerang kesakitan.
“Dia terlalu lemah untuk bicara.”, suara itu kembali tertawa, namun kemudian terbatuk-batuk.
“Rembukkanlah bersama. Jika kamu mencabut kasus ini. Temanmu akan kembali. Tapi paling lama adalah tiga hari sejak hari ini. Kalau tidak, dia akan membusuk di sini!”, telepon itu dimatikan dan tidak dapat dihubungi lagi.
Johnny menjelaskan apa yang dikatakan oleh penelepon tersebut kepada sebelas orang lainnya.
“Aku rasa orang itu adalah Ru Gui.”, ujar Arelia tiba-tiba.
“Orang tua itu? Tidak mungkin.”, tegas Johnny.
“Dua hari lalu, aku dan Romeo melihat Ru Gui berbicara dengan Yan Fei. Dia selalu menggunakan tongkat di tiap kesempatan. Dan saat itu dia tidak menggunakannya. Dia berjalan dengan lancar. Apakah itu tidak aneh?”, jelas Arelia.
“Tapi sekarang tidak ada cara untuk menemukan dimana dia dan Romeo berada. Kita tidak bisa membuktikan bahwa orang itu adalah Ru Gui.”, jelas Johnny.
“Tidak. Kita bisa segera pergi ke rumahnya.”, ujar Samantha.
Diubah oleh anism 19-07-2017 11:42
0