Kaskus

Story

alealeyaAvatar border
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...



Quote:


Namaku Aleya (Based on true story)


Quote:


Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:


Quote:


Quote:


Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
fajar1908Avatar border
DeviafebAvatar border
imamarbaiAvatar border
imamarbai dan 35 lainnya memberi reputasi
36
144.3K
869
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.5KAnggota
Tampilkan semua post
alealeyaAvatar border
TS
alealeya
#162
Part 20

kaskus-image


"Aku udah tau ya! Dan emang aku udah firasat kalo persahabatanmu sama Rian tu lebih dari sekedar 'sahabat'," ucapnya menunjuk-nunjuk ke arah kami.

"A.. aaku bisa jelasin semuanya, ini gak kayak yg kamu liat yang," aku berdiri menghampiri Tomy yg daritadi terpaku di tempatnya.

"Haalah udah, gak ada yg perlu dijelasin, aku udah liat semuanya kok, aku udah rencanain ini semua, mau bikin surprise buat kamu tapi apa? Apa balasannya hah?" Tomy membentakku. Ku tarik tangan nya berusaha menenangkan suasana hatinya yg lagi kacau balau.

"Yang maafin aku, dengerin aku dulu dong," pintaku sambil menarik-narik tangannya.
Ia melepaskan tanganku dari tangannya.

"Udah cukup, gak perlu kamu jelasin lagi, sekarang ngaku aja! Ada hubungan apa kamu sama dia?!" Wajah nya makin memerah menahan emosi.

"Gak ada, aku sama Rian cuma sahabat doang," jawabku. Aku udah gak peduli diliatin sama 1 kantin.

"Plaakkk", telapak tangan Tomy mendarat di pipiku. Meninggalkan rasa sakit dan bekas merah.

"Aduhhh! Kok kamu gini? Kok kasar sama aku sih?!" Sambil menutupi bekas tamparan Tomy di pipi kiri ku.

"Itu pantes kamu dapetin, tukang selingkuh!" Jawabnya memaki ku.

Seketika Ryan langsung menghampiri kami, ditariknya tangan Tomy yg tadi meninggalkan tanda di pipiku. Kepala Rian mendekat dengan kepala Tomy.

"Eh bro, kalo mau main kasar jangan sama cewe, apalagi sama Leya, mending berantem sama aku yok di luar," ucap Rian sambil berbisik tapi masih jelas ku dengar.

"Ohh ada pahlawan, gak usah ikut campur urusan orang ya!" Sahut nya makin menjadi.

"Kamu udah nyakitin orang yg ku sayang selama ini, orang yg selalu ku jaga mulai dari kecil, kalo emang jantan ayo ikut keluar sekarang!" Ucap Rian sambil menunjul-nunjuk wajah Tomy.

Mereka berdua pindah ke samping kantin, lumayan luas, di tanah lapang dengan beberapa pohon gede disampingnya. Pandangan seisi kantin kinu tertuju kesitu, aku ingin kesana dan melerai mereka, tapi Cindy menahan ku. Air mata jatuh berderai di pipiku. Ya ampun kenapa harus gini sih!. Kurang jelas apa yg mereka bicarakan sebelum baku hantam dimulai, Rian itu pernah belajar silat dulu waktu SMP, makanya dia gak pernah takut sama apa aja. Beberapa pukulan mendarat di perut dan wajah Rian, tak ingin tinggal diam, dia segera membalas pukulan-pukulan Tomy dengan jurus yg pernah dipelajarinya.
Beberapa pukulan dikeluarkan Rian menyebabkan Tomy jatuh terkapar diatas tanah. Seisi kantin bersorak kagum melihat perkelahian itu, sebelum akhirnya petugas keamanan datang dan mengamankan mereka. Karena bukan mahasiswa disini, akhirnya mereka diusir pergi, dan gak tau diluar sana apakah masih berlanjut lagi. Diluar pagar kampus sesaat sebelum mereka berdua pergi, Tomy mengucapkan sesuatu buatku. Sebuah surprise dihari ulang tahunku.

"Udah ya Al, kita putus! Gak usah kamu harap aku bakal balik lagi sama kamu!", sambil menaiki motor sport nya.

"Hei! Tom! TOOM! setelah semua ini? Kamu segampang itu minta putus?!" Air mata ku makin deras mengalir.

"Persetan, toh aku udah dapat semuanya dari kamu, ternyata kamu gak kayak yg ku bayangkan!" Enteng banget dia bilang gitu dihadapan banyak orang.
Tomy pergi meninggalkan aku, Rian dan Cindy didepan pagar kampus. Cindy terus memelukku, karena cuma dia sih yg agak akrab sama aku di kelas. Aku terus menangis, bingung apa yg harus ku lakukan setelah ditinggalkan Tomy.

"Kurang ajar banget kalo ngomong, liat aja kalo ketemu aku lagi mampus tu orang!" Rian makin emosi.

"Udah dong Al jangan nangis lagi yaa, sabar yaa, kamu yg sabar," ucap Cindy sambil mengusap air mata dari pipi ku.

"Apa sih maksud nya tadi Ley? Dia udah dapetin semua dari kamu? Maksudnya apa!?" Tanya Rian, dia tadinya sudah duduk diatas motor kini kembali menghampiriku.

"Gak papa Yan, udah kamu pulang aja," jawab ku sambil ter isak menangis.

"Ka .. kamu gak... anu kan?" Sambung Rian.

"Udah mas, kan denger sendiri kata Al tadi apa, kamu pulang aja deh dulu," Cindy menyahut.

"Settt..." Rian menggenggam tanganku erat.

"Ley, bilang sama aku sekarang, apa yg udah di lakuin Tomy ke kamu," terlihat matanya mulai berkaca-kaca.

"Aku gak bisa bilang sekarang Yan, belum waktunya," tangisanku makin menjadi. Mungkin Rian mulai paham dengan apa yg terjadi, air matanya nampak mulai mengalir pelan membasahi pipinya.

"Cind, boleh tinggalin kami dulu gak?" Pinta ku.

"Mhhh iya, kalo kamu perlu aku, aku di situ ya," sambil nunjuk arah kampus. Aku cuma mengangguk aja.

"Kita jalan-jalan bentar yaa Ley biar agak tenang," ucap Rian sambil berdiri lalu memakai helmnya. Kemudian aku duduk di jok belakang motor matic Rian. Kami tempuh perjalanan agak was-was, soalnya aku gak pake helm. Beberapa menit kemudian, kami tiba di sebuah kost yg gak mewah-mewah banget, tapi gak jelek-jelek banget juga.

"Yuk masuk dulu, cuekin aja kalo ada yg godain, tar ku tampol," ucapnya sambil menarik tanganku masuk ke kamar kostnya.

Disitu kuceritakan semua kejadian yg udah ku alami, Rian sangat sedih dengan apa yg udah terjadi. Ia benar-benar menyayangkan seorang Aleya harus kehilangan 'anu' nya di kelas 2 SMA. Rasa sedih bercampur amarah terlihat jelas di raut wajah Rian. Seperti apa yg dia bilang di depan kampus tadi, "liat aja kalo ketemu aku lagi bakal mampus tu orang,". Dan aku percaya hal itu.
Aku menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Rian, gak sanggup rasanya aku harus menerima ini. Tepat di hari ulang tahunku, ini jadi ulang tahun terhebat buatku!.

"Udah udah Ley kamu tenang aja, apapun yg terjadi sama kamu, aku selalu ada buat kamu kok," ucapnya sambil menghapus air mata di pipiku. Padahal dia sendiri berderai air mata juga.

"I... iya Yan, yaa ampun aku masih gak nyangka jadi nya gini,"

"Udah Leya, aku selalu sayang kok sama kamu, dari dulu gak pernah berubah," ucapnya di ikuti dengan senyuman walau matanya masih basah.

"Makasih ya Yan, cuman kamu tempat aku ngomong, dan cuman kamu satu-satunya yg tau masalah ini,"

"Gak usah di pikirin, selamat ulang tahun Leya, jangan sedih lagi, ada aku disini," di kecupnya keningku. Perasaan ku campur aduk gak karuan, antara sedih, hancur dan senang karena masih punya seseorang buat jadi tempat ku berpegang.

"Aku gak bakal ninggalin kamu kayak si br*ngsek itu kok, jangan sedih lagi yaa," ucapnya.

Untungnya kost Rian ini bebas, jadi gak bakal ada yg kepoin kalo pintu ditutup lagi berduaan sama cewe, tapi jangan salah sangka, aku cuma peluk dia buat menenangkan hati aja, gak lebih ya!.
Kejadian hari itu mengajarkan ku, bahwa pemberian yg 'spesial' pada orang yg kita sayang, belum menjamin bahwa dia akan selalu ada disisi kita selamanya, buktinya sekarang aku harus memulai semua dari awal lagi, dengan status 'cacat' gini, apa masih ada laki-laki yg mau nerima kekurangan ku ini?.

Quote:
Diubah oleh alealeya 19-07-2017 13:24
pintokowindardi
Nikita41
Nikita41 dan pintokowindardi memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.