Kaskus

Story

alealeyaAvatar border
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...



Quote:


Namaku Aleya (Based on true story)


Quote:


Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:


Quote:


Quote:


Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
DeviafebAvatar border
imamarbaiAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 36 lainnya memberi reputasi
37
144.6K
869
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.4KAnggota
Tampilkan semua post
alealeyaAvatar border
TS
alealeya
#132
Part 17

kaskus-image


Berbulan kemudian setelah kejadian 'itu', hubungan ku dan Tomy mulai kembali lagi kayak dulu. Aku bisa percaya lagi sama dia, dan mulai bisa terima kenyataan kalo sekarang aku udah gak 'nganu' lagi. Yaa apa boleh buat kan? Semua udah terlanjur terjadi, dan gak bakal terulang lagi. Semoga.
Ulangan kenaikan kelas menyibukkan ku belajar lebih giat lagi, tiap habis pulang sekolah aku langsung pulang ke kost, membaca-baca lagi sedikit materi pelajaran, waktu nya udah makin dekat.

Sebelumnya aku sempat ragu-ragu, mau bilang gak ya ke sahabatku tentang hal itu, tapi kayaknya bakal lebih baik kalo semuanya kusimpan rapat-rapat, cukup aku dan Tomy aja yg tau. Lagian ngapain juga orang lain harus tau 'aib' itu?.
Saat tengah asyik membolak balikkan halaman demi halaman buku pelajaran, sebuah panggilan masuk ku terima.

"Yang, mau belajar bareng gak?" Tanya Tomy.

"Kamu mau kesini? Ya dateng aja kalo mau," jawabku.

"Enggak, ini dirumah lagi sepi, kalo mau kesini tar ku jemput kamu," ucapnya.

Jujur yaa, aku agak menghindari momen berduaan sejak malam itu, aku agak jarak sama Tomy, takut hal itu terjadi lagi. Karena menurut pengetahuanku dan apa yg ku baca lewat internet, katanya kalo udah pernah sekali bisa bikin ketagihan. Ahh aku gak mau itu terjadi lagi. Lagian aku juga lupa gimana rasanya, serius aku lupa semuanya.

"Gak mau ah kalo beduaan dirumahmu, kalo kamu mau belajar bareng mending kesini aja, kan bisa belajar bareng di ruang tamu kost," aku berusaha menghindar.

"Ohh yaudah kalo gitu, belajar di tempat masing-masing aja yaa," sahutnya lalu mematikan telepon. Kenapa sih ni anak, biasanya kalo mau belajar yaa gak peduli mau dimana pun dia pasti mau. Tumben banget.
Hari-hari terus berlalu, waktu yg ditakutkan sekarang datang, ulangan kenaikan kelas dimulai hari ini, senin. Aku udah siap dengan peralatan tulis dan sebuah buku baru di dalam tas ransel ku. Ternyata soal-soal dalam ulangan gak se horor yg ku pikirkan, banyak soal yg dengan mudah ku jawab, sisanya yaa di undi aja pake penghapus bertuliskan pilihan A, B, C, D, E.

Diluar dugaan, aku berhasil mendapat nilai yg bagus saat hari pembagian rapor tiba, ibu kost yg ku mintai tolong untuk mengambilkan rapor kesekolahan pun ikut bangga dengan hasil yg sudah ku raih. Kenapa harus ibu kost?. Yaiyalah, emang mau siapa lagi? Ayah? Ibu? Mereka kan terlalu sibuk kerja, yg mereka tau cuman mengirimi uang buat ku tiap bulan, bahkan mungkin mereka lupa sekarang aku udah duduk dikelas berapa.
Aku naik ke kelas 3 dengan hasil yg memuaskan, tak ingin cepat berbangga, aku berjanji akan belajar lebih giat dan nilai ku harus lebih baik lagi saat ujian nasional nanti.

Hubunganku dan Tomy masih tetap berjalan seperti biasa, kami masih suka nogkrong bareng seperti layaknya pasangan pada umumnya. Saat naik ke kelas 3 dipertengahan semester, aku tak lagi memotong rambut ku. Kini rambut hitam yg selalu ku jaga tetap pendek mulai tumbuh lumayan panjang sampai hampir melebihi pundak. Entah apa yg ku pikirkan, kok sekarang aku juga mulai suka pakek blush on dan bedak, padahal dulu boro-boro pake, punya aja enggak.

"Makin cantik aja kamu yang," ucap Tomy saat kami sedang duduk santai disebuah bangku taman dekat sekolah.

"Hehehe kenapa? Kamu gak suka? Kalo kamu gak suka biar aku balik kayak yg dulu lagi," jawabku.

"Enggak enggak, aku suka kok, sukaa banget sama perubahanmu ini," dibelai nya rambutku yg mulai tumbuh panjang.

"Ih ihh yang, malu ahh banyak orang, udah ah," ku raih tangan nya lalu ku letakkan diatas paha nya.

Walau sekarang aku udah gak kayak Aleya yg dulu, tapi gaya berpakaian ku masih gak berubah kok, tetep setia sama kaos dan celana pendek (aku baru tau kalo celana yg sering ku pake itu ternyata di bilang celana gemes sama beberapa orang).

Waktu terus berlalu, seakan begitu cepat bergulir, kini aku dihadapkan kembali dengan ujian nasional, penentu kelulusan setelah 3 tahun menuntut ilmu di SMA. Ujian nasional agak menyisakan trauma buatku, beberapa tahun lalu juga saat ujian nasional aku harus kehilangan keluarga, terpisah dan gak mungkin bisa sama-sama lagi.
Secarik kertas diatas meja dengan huruf-huruf yg sudah siap tinggal di kasih bulet-buletan itu lah yg bakal menentukan nasibku kelak. Perlahan tapi pasti aku mengerjakan soal demi soal sampai selesai.
Akhirnya aku berhasil lulus dengan nilai yg bisa dibanggakan, Tomy pun juga lulus dengan nilai yg bagus. Selamat tinggal masa SMA yg penuh kenangan, dan selamat datang masa nganggur gak ada kerjaan.

2011

"Halo leya sayang, selamat yaa akhirnya anak Ibu udah lulus sekolah, ibu bangga banget punya anak cantik yg berhasil lulus dengan nilai bagus gitu," kata Ibu lewat telepon.

"Iya bu makasih yaa bu, semoga leya bisa lanjutin kuliah juga dengan nilai yg bagus-bagus yaa bu,"

"Iyaa sayang, semangat terus belajarnya yaa, maaf ibu gak bisa hadir karena bla bla bla..." alasan klasik yg sama setelah bertahun-tahun berlalu, pasti tentang kerjaan, gak bisa ditinggal, harus meeting ini, itu dan lainnya.

Kini resmi sudah aku menyandang gelar seorang pengangguran untuk beberapa bulan kemudian. Hari-hari menganggur ku isi jalan-jalan bareng Tomy, males-malesan di kost, dan kebanyakan sih tiduran doang di kost seharian sambil dengerin musik.

"Jadi kamu udah ada bakal lanjut dimana?" Tanya Tomy.

Kami sedang berada di cafè tempat biasa kami nongkrong, ditempat yg penuh dengan kayu-kayu dan berlimpah cahaya. Ku nikmati es krim vanilla strawberry favorit ku seperti biasa.

"Mungkin di *$#@ aku mau ambil jurusan TI," jawabku.

"Lho? Yakin mau ambil jurusan itu?" Tomy agak terkejut.

"Iya yakin, emang kenapa? Oh iya kamu mau lanjut kemana yang?"

"Kayaknya aku bakal ambil hukum deh," jawabnya.

Artinya aku dan Tomy udah gak bisa ketemu tiap hari karena bakal beda kampus nantinya. Yaudah toh kami punya pilihan masing-masing dan ingin mengejar cita-cita kami. Ini pilihan hidup kami, tak ada jalan lain selain saling dukung, saling support dan selalu menjaga hubungan ini. Panggilan masuk ku terima di sore menjelang senja itu.

"Haloo," sapa ku.

"Haloo Ley, lagi sibuk gak?", ucap nya kemudian. Itu si Rian, tumben dia nelpon.

"Enggak juga sih Yan, emang kenapa?"

"Eh tau gak sih? Aku udah hampir sampe nih di kota mu hehehe," sahutnya penuh semangat.

"Oh yaaa?! Waah asyiik akhirnya kamu main kesini, udah dimana?" Tanya ku. Seneng banget rasanya bakal dapat kunjungan dari sahabat baikku.

"Udah deket kok, kata orang disamping bentaran lagi sampe terminal, oh iya doain aku yaa semoga diterima di universitas @#$& biar kita bisa se kota lagi hahaha," kata nya. Wooow mendengar itu aku seneeeeng banget, semangat banget rasanya mendengar kabar kalo Rian bakal tinggal disini dan deket sama aku.

"Tar kalo gak sibuk, mau gak kamu anterin aku jalan-jalan keliling kota?"

"Mau banget lahh, tenang aja kamu mau kemana aja tar ku anterin," sahutku.

Panggilan diakhiri setelah janjian kapan mau ketemuan, kulihat Tomy memperhatikan sambil dagu nya bertopang dengan tangan diatas meja.

"Rian yang?," tanya nya dengan wajah datar.

"Iya, katanya dia mau test di universitas, dan kalo lulus dia bakal kuliah disini hihihi," penuh semangat menjelaskan ke Tomy.

"Ohh gitu," jawabnya datar banget.

"Lho kamu gak seneng?"

"Iya iya seneng kok, nih aku senyum," senyum nya terlihat begitu dipaksakan.

Emang kenapa kok Tomy tiba-tiba berubah setelah aku terima telepon dari Rian? Bukannya dulu dia baik-baik aja, dan dia kan udah tau aku sahabatan dama Rian udah lama banget. Mood nya berubah banget usai aku terima telepon sore itu.

"Kamu kenapa yang? Kok keliatan BT gitu?" Tanya ku.

"Gak kok, siapa yg BT,"

"Jangan bo'ong deh, aku tau kok,"

"Tau apa?"

"Kamu cemburu sama Rian?"

Tomy kemudian menundukkan kepalanya, gak berapa lama ia kembali menatapku.

"Denger ya yang, bukannya aku cemburu, aku tau hubungan kamu tu gimana sama sahabatmu, aku cuman takut kalo ntar dia udah disini, kamu malah banyak ngabisin waktu sama dia, terus aku dilupain," ucapnya, terlihat raut wajah menahan amarah.

"Sini sini deh ku bisikin," ku tarik tangan nya agar mendekat ke arah ku.

"Gak usah takut kalo aku bakal lupain kamu ya, kamu udah dapat semuanya dari aku, mana mungkin aku bakal asyik sama sahabatku terus malah lupa sama kamu," bisik ku di telinga nya. Kata-kata ku rupanya membuatnya agak tenang, ia tersenyum setelah mendengar kata-kata ku barusan.

Quote:
Diubah oleh alealeya 18-07-2017 04:19
pintokowindardi
nomorelies
Nikita41
Nikita41 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.