- Beranda
- Stories from the Heart
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
...
TS
Shadowroad
[Action, Special Ability] Erik the Vampire Hunter
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Ane mau share novel buatan ane sendiri gan
Novel ane bergenre action, horror, romance, school-life dan supranatural
Inspirasi dapat dari alur game, film, anime, kehidupan, komik, mitologi, legenda dan novel yang pernah ane amati
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Spoiler for Begini gan ceritanya::
Cerita ini tentang seorang remaja dari Jakarta yang keluarganya terbunuh karena kaum vampire. Cowok remaja ini bernama Erik Calendula. Setelah selamat dari bencana yang dibuat kaum vampire, dia lalu memohon pada Arthur Pendragon. Arthur adalah salah satu dari beberapa pemburu vampire yang menyelamatkan Erik. Dibakar oleh tangisan, amarah dan dendam atas kematian keluarganya, Erik meminta Arthur untuk mendidiknya agar menjadi seorang pemburu vampire. Erik berniat menghancurkan organisasi vampire penebar bencana yang menjadi penyebab kematian orang tuanya.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Arthur menyetujui permintaan Erik. Sebelum dididik, Erik dibawa ke markas pemburu vampire di Jakarta yang bernama Knights of the Silver Sword. Lebih singkatnya, organisasi ini biasa disebut Silver Sword. Setelah bergabung dengan Silver Sword dan dibekali pelatihan dari Arthur, karir Erik sebagai pemburu vampire dimulai. Seperti Arthur, Erik juga memiliki kemampuan untuk mengendalikan listrik.
Spoiler for Daftar Isi:
Prolog: Hotel Indonesia
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Part 1: Arthur Datang Menjenguk
Part 2: Sekolah
Part 3: Kekuatan Dietrich
Part 4: Amanda Myrna
Part 5: Kisah Raja Arthur
Part 6: Pelabuhan
Part 7: Ghoul
Part 8: Bersembunyi di Rumah Kosong
Part 9: Amanda sang Pembunuh
Part 10: Lightning Versus Sand
Part 11: Kematian Rudy
Part 12: Rumah Sakit
Part 13: Teman Sekelas
Part 14: Kunjungan Mario dan Maya
Part 15: Cerita di Malam Hari
Part 16: Serangan Vampire
Part 17: Sungai Kapuas
Part 18: Kelompok Elena Versus Taiyou no Kishi
Part 19: Lantai Tiga
Part 20: Maya Versus Callista
Part 21: Lantai Dua
Part 22: Serangan Balik
Part 23: Kekuatan Callista
Part 24: Rumah Bergaya Belanda
Part 25: Immortals
Part 26: Empat Pertanyaan
Part 27: Der Schwarze Stein
Part 28: Mantra Deprehensio
Part 29: Kelompok Elena Versus Si Ekor Kalajengking
Part 30: Kolam-kolam Air
Part 31: Hydromancer Magnus
Part 32: Sepulang Sekolah
Part 33: Mall Kemang
Part 34: Korban Vampire
Part 35: Chibi, Chernov dan Minsk
Part 36: Pengejaran
Part 37: Tim Erik dan Tim Maul Versus Geng James Wood
Part 37.1: Hutan Ilusi
Part 37.2: Eyes of Markmanship
Part 37.3: Sand Versus Fire
Part 37.4: Pedang dan Tameng Es
Part 37.5: Maul dan Vira Versus James Wood
Part 38: Arthur Versus Lu Bu
Part 39: Agen Ganda
Part 40: Rumah Darkwing Bersaudara
Part 41: Tiga Produk
Part 42: Di Perbatasan Uni Soviet
Part 42.1: Diego Versus Dragovich
Part 43: FlyHigh
Part 44: Pecandu dari Pluit's Boat
Part 45: Kartel Ching Yan
Part 46: Ervan Versus Werewolf
Part 47: Berlindung di Balik Mobil
Part 48: Marga Asakura
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Part 50: Emmy Merah
Part 51: Pisau Dapur yang Melayang
Part 52: Lantai Dua
Part 53: Tim Sandra dan Dua Emmy
Part 54: Elektrokimia
Part 55: Aswatama
Part 56: Erik, Dietrich, Amanda Versus Arthur
Part 57: Erik, Dietrich, Amanda Versus Aswatama
Part 58: Napoleon Bonaparte dan Timnya
Part 59: Melacak
Part 60: Arthur Versus Jie Xiong
Part 61: Penyelamatan Professor Vaugh
Part 62: Erik dan Vela Versus Pengendali Tulang
Gan, setelah baca mohon komennya, ya
Ane sangat menerima kritik dan saran
Pertanyaan juga sangat dianjurkan, supaya agan2 dapat lebih memahami cerita yang rumit ini
Kalau terjadi kesalahan seperti tanda baca, kurang jelas, ketidak konsistenan cerita mohon diingatkan ya gan
Terima kasih gan
Diubah oleh Shadowroad 26-11-2017 06:31
2
86.9K
Kutip
544
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
Shadowroad
#488
Part 49: Hantu di Rumah Amanda
Spoiler for Part 49: Hantu di Rumah Amanda:
Di malam minggu yang dingin, Erik berdiri di depan rumah Amanda bersama Sandra Permatasari. Seorang manipulator dari Departemen Investigasi Supernatural. Sudah tiga kali Erik menekan tombol bel rumah. Namun tidak ada yang membukakan pintu sehingga mereka masih berdiri di depan pagar berwarna hitam ini sejak lima belas menit yang lalu. Erik dan Sandra akan menyelesaikan masalah di rumah Amanda yang katanya dihantui oleh dua gadis kecil berpakaian merah dan putih.
Kali ini Erik mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Amanda. Setelah lima menit mencoba, panggilannya baru terhubung dengan Amanda. Dari lantai dua, tirai terbuka dan terlihatlah Amanda melambaikan tangan. Kalimat pertama Amanda adalah permintaan maaf.
Pintu rumah terbuka dan Amanda muncul. Dia berjalan cepat dan tangannya menggenggam kunci. Setelah sampai di gerbang, Amanda buru-buru membuka gembok dan gerbangnya. Setelah berkenalan dengan Sandra, Amanda segera mengajak Erik dan Sandra untuk masuk ke rumahnya.
Erik berjalan menuju dapur untuk mengambil tiga gelas jus. Dapur Amanda sangat bersih dan tertata rapi. Berbagai jenis piring, gelas, sendok, garpu dan perlatan makan dikelompokkan dengan baik di sebuah rak besar. Panci, wajan, baki dan peralatan memasak letaknya di rak kedua yang tak begitu jauh dari kompor. Erik memang berkali-kali memasuki dapur Amanda. Dan berkali-kali pula dia berharap dapurnya sebersih dan serapi milik Amanda. Sambil melihat interior dapur, Erik berjalan menuju kulkas.
Erik berjalan menuju rak tempat peralatan memasak. Begitu tangannya menyentuh sebuah baki, Erik mendengar tangisan tepat di belakangnya. Tangisan yang terdengar seperti tangisan anak-anak. Jantung Erik berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan dia tak kuasa membalikkan badan. Keringat dingin membasahi tubuhnya dan bulu kuduknya pun berdiri. Telinganya masih bisa mendengar Sandra dan Amanda sedang mengobrol namun bibirnya terlalu kaku untuk meminta tolong. Erik meletakkan kembali bakinya, menyelimuti tangannya dengan pengendalian listrik. Meski dia tahu pengendalian listriknya tidak akan melukai makhluk di belakangnya, setidaknya dirinya telah mencoba mempertahankan diri.
Sekuat tenaga, Erik membalikkan tubuhnya dengan tangan yang diselimuti listrik biru. Namun, dia tak mendapati apapun di belakangnya. Hanya lantai porselen biasa. Erik segera mengambil baki, mengambil tiga gelas jus jeruk dingin dan berjalan menuju ruang tamu.
Mata Erik dan Sandra tertuju ke kemar adik Sandra. Kamar itu masih tertutup dan tak ada suara satu pun. Sandra yang selalu mengaktifkan Eyes of Ghost Dimension masih tidak melihat apapun.
Baru akan beranjak dari tempat duduk, pintu kamar adik Amanda terbuka. Gadis kecil yang menggenggam krayon itu memanggil Amanda. Amanda berjalan mendekatinya dan menanyainya beberapa hal. Melihat krayon di genggaman adiknya, Amanda mendapat ide. Pengendali es itu mengambil selembar kertas A4 dan memberikan kepada adiknya.
Amanda kembali duduk di sofa bersama Erik dan Sandra. Sambil menunggu adiknya selesai menggambar, mereka mendengarkan kisah-kisah hantu dari Sandra. Gambarnya selesai lima belas menit kemudian.
Amanda mengamati dua gambar yang dibuat oleh Dinda. Adiknya menggambar masing-masing hantu di dua sisi kerja. Kedua gambar tidak terlalu berbeda. Sama-sama bermulut merah, berambut hitam yang panjangnya hingga menyentuh pinggang dan bermata merah. Sehingga Amanda menilai bahwa hantu-hantu yang dilawannya mirip badut. Yang membedakannya hanyalah bajunya. Yang satu berbaju putih dan yang satu berbaju merah. Dari situ Amanda tahu mana Emmy Merah dan mana Emmy Putih.
Amanda diam sejenak. Membiarkan Sandra dan Erik mengamati gambarnya. Muka Erik tetap santai dan tiba-tiba muka Sandra terlihat serius. Amanda semakin heran ketika melihat Sandra mengambil ponsel dan menghubungi teman-temannya.
Para manipulator langsung bangkit dari duduk mereka dan berlari menuju kamar adik Amanda. Mereka mendapati adik Amanda menangis. Ada lima sayatan di kedua tangannya. Memanjang dari siku hingga punggung telapak tangannya. Darahnya terus menetes hingga membasahi lantai.
Quote:
“Kau yakin ini rumahnya?” tanya Sandra.
“Yakin,” dengus Erik, “Mana mungkin aku tidak tahu rumah teman setimku sendiri?”
Sandra mengangkat bahu dan tertawa, “Siapa tahu kepalamu terbentur saat bertarung di Pluit’s Boat.”
“Bagaimana? Apa ada hantu anak kecil berpakaian merah atau putih yang berkeliaran di rumah?”
Sandra menggeleng, “Hanya hantu-hantu biasa.”
Erik menghela nafas, “Seandainya aku memiliki Eyes of Ghost Dimension.”
“Untuk apa? Kau pemburu vampire dan aku pemburu hantu. Mataku tidak terlalu ada gunanya untuk pemburu vampire.”
“Lumayan untuk melihat hantu.”
“Kau serius ingin melihat hantu? Aku bisa melapisi matamu dengan nether,” kata Sandra sambil berusaha menyentuh kelopak mata Erik, “Yang memungkinkanmu untuk melihat hantu.”
“Hentikan!” kata Erik yang melompat mundur.
“Bagaimana, sih? Katanya ingin lihat hantu? Sudahlah jangan banyak bicara! Ambil ponselmu dan hubungi Amanda.”
“Yakin,” dengus Erik, “Mana mungkin aku tidak tahu rumah teman setimku sendiri?”
Sandra mengangkat bahu dan tertawa, “Siapa tahu kepalamu terbentur saat bertarung di Pluit’s Boat.”
“Bagaimana? Apa ada hantu anak kecil berpakaian merah atau putih yang berkeliaran di rumah?”
Sandra menggeleng, “Hanya hantu-hantu biasa.”
Erik menghela nafas, “Seandainya aku memiliki Eyes of Ghost Dimension.”
“Untuk apa? Kau pemburu vampire dan aku pemburu hantu. Mataku tidak terlalu ada gunanya untuk pemburu vampire.”
“Lumayan untuk melihat hantu.”
“Kau serius ingin melihat hantu? Aku bisa melapisi matamu dengan nether,” kata Sandra sambil berusaha menyentuh kelopak mata Erik, “Yang memungkinkanmu untuk melihat hantu.”
“Hentikan!” kata Erik yang melompat mundur.
“Bagaimana, sih? Katanya ingin lihat hantu? Sudahlah jangan banyak bicara! Ambil ponselmu dan hubungi Amanda.”
Kali ini Erik mengambil ponsel dan mencoba menghubungi Amanda. Setelah lima menit mencoba, panggilannya baru terhubung dengan Amanda. Dari lantai dua, tirai terbuka dan terlihatlah Amanda melambaikan tangan. Kalimat pertama Amanda adalah permintaan maaf.
Quote:
“Maaf, Rik,” tawa Amanda, “Aku memakai headset.”
“Ya. Kalau begitu, jangan habiskan pulsaku dan segera bukakan pagarnya!” dengus Erik.
“Iya, iya,” Amanda tertawa lagi dan segera hilang dari jendela, “Jangan marah terus, dong.”
“Ya. Kalau begitu, jangan habiskan pulsaku dan segera bukakan pagarnya!” dengus Erik.
“Iya, iya,” Amanda tertawa lagi dan segera hilang dari jendela, “Jangan marah terus, dong.”
Pintu rumah terbuka dan Amanda muncul. Dia berjalan cepat dan tangannya menggenggam kunci. Setelah sampai di gerbang, Amanda buru-buru membuka gembok dan gerbangnya. Setelah berkenalan dengan Sandra, Amanda segera mengajak Erik dan Sandra untuk masuk ke rumahnya.
Quote:
“Tim Kak Sandra mana?” tanya Amanda.
Sandra menggeleng sebal, “Yang pengendali listrik sedang kencan dan yang pengendali cahaya masih mengurus acara pernikahan seniornya.”
“Si pengendali listrik benar-benar tega membiarkanmu bekerja sendiri.”
“Setelah kuceritakan apa yang akan kuhadapi, dia percaya bahwa aku bisa mengatasinya sendiri. Hanya si pengendali cahaya yang peduli padaku. Dia berkata akan menyusul jika keadaan mulai di luar kendali.”
“Lalu ... guru Kak Sandra?”
“Jayabaya. Biasa dipanggil Jay. Mantan Raja Kediri. Dia kembali ke pulau bernama Neustrasbourgh. Entah apa yang dikerjakannya.”
“Nah, sekarang ceritakan masalahmu, Amanda,” kata Erik.
Amanda terdiam sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nafasnya. Kemudian dia mulai cerita, “Begini, Kak Sandra. Adikku memiliki dua teman imajinasi. Dia menyebutnya Emmy Merah dan Emmy Putih. Dia menghabiskan waktunya mereka. Awalnya memang tidak menimbulkan masalah. Namun, lama-lama, adikku mulai berani padaku dan pada orang tua kami. Semacam ... bagaimana menjelaskan, ya? Sepertinya adikku diajari oleh hantu-hantu itu.”
“Ngomong-ngomong, dimana adikmu?” tanya Erik.
“Dia masih tidur,” jawab Amanda.
“Lalu orang tuamu?” tanya Erik lagi.
“Pergi bekerja. Berangkat waktu subuh,” jawab Amanda.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Sandra, “Soal Emmy Merah dan Putih ini?”
“Mereka hanya marah biasa dan hanya berpikir kenakalan anak kecil. Mereka sama sekali tidak berpikiran ulah hantu. Oh, iya, Kak Sandra mau minum apa? Jus jeruk?” jawab Amanda.
“Ah, boleh,” jawab Sandra.
“Erik, tolong ambilkan jus jeruk di kulkas, ya,” kata Amanda, “Sudah ada tiga gelas. Tinggal ambil saja.”
“Hah? Kenapa aku?” protes Erik.
“Sudahlah, Rik,” kata Sandra, “Aku sedang mengobrol dengan klien, nih.”
“Aku benci dibodohi oleh para gadis,” keluh Erik sambil bangkit dari tempat duduknya.
Sandra menggeleng sebal, “Yang pengendali listrik sedang kencan dan yang pengendali cahaya masih mengurus acara pernikahan seniornya.”
“Si pengendali listrik benar-benar tega membiarkanmu bekerja sendiri.”
“Setelah kuceritakan apa yang akan kuhadapi, dia percaya bahwa aku bisa mengatasinya sendiri. Hanya si pengendali cahaya yang peduli padaku. Dia berkata akan menyusul jika keadaan mulai di luar kendali.”
“Lalu ... guru Kak Sandra?”
“Jayabaya. Biasa dipanggil Jay. Mantan Raja Kediri. Dia kembali ke pulau bernama Neustrasbourgh. Entah apa yang dikerjakannya.”
“Nah, sekarang ceritakan masalahmu, Amanda,” kata Erik.
Amanda terdiam sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu menghela nafasnya. Kemudian dia mulai cerita, “Begini, Kak Sandra. Adikku memiliki dua teman imajinasi. Dia menyebutnya Emmy Merah dan Emmy Putih. Dia menghabiskan waktunya mereka. Awalnya memang tidak menimbulkan masalah. Namun, lama-lama, adikku mulai berani padaku dan pada orang tua kami. Semacam ... bagaimana menjelaskan, ya? Sepertinya adikku diajari oleh hantu-hantu itu.”
“Ngomong-ngomong, dimana adikmu?” tanya Erik.
“Dia masih tidur,” jawab Amanda.
“Lalu orang tuamu?” tanya Erik lagi.
“Pergi bekerja. Berangkat waktu subuh,” jawab Amanda.
“Bagaimana dengan orang tuamu?” tanya Sandra, “Soal Emmy Merah dan Putih ini?”
“Mereka hanya marah biasa dan hanya berpikir kenakalan anak kecil. Mereka sama sekali tidak berpikiran ulah hantu. Oh, iya, Kak Sandra mau minum apa? Jus jeruk?” jawab Amanda.
“Ah, boleh,” jawab Sandra.
“Erik, tolong ambilkan jus jeruk di kulkas, ya,” kata Amanda, “Sudah ada tiga gelas. Tinggal ambil saja.”
“Hah? Kenapa aku?” protes Erik.
“Sudahlah, Rik,” kata Sandra, “Aku sedang mengobrol dengan klien, nih.”
“Aku benci dibodohi oleh para gadis,” keluh Erik sambil bangkit dari tempat duduknya.
Erik berjalan menuju dapur untuk mengambil tiga gelas jus. Dapur Amanda sangat bersih dan tertata rapi. Berbagai jenis piring, gelas, sendok, garpu dan perlatan makan dikelompokkan dengan baik di sebuah rak besar. Panci, wajan, baki dan peralatan memasak letaknya di rak kedua yang tak begitu jauh dari kompor. Erik memang berkali-kali memasuki dapur Amanda. Dan berkali-kali pula dia berharap dapurnya sebersih dan serapi milik Amanda. Sambil melihat interior dapur, Erik berjalan menuju kulkas.
Quote:
“Dingin juga,” umpat Erik sambil memindahkan tiga gelas dari kulkas ke meja makan, “Nah, sekarang tinggal baki.”
Erik berjalan menuju rak tempat peralatan memasak. Begitu tangannya menyentuh sebuah baki, Erik mendengar tangisan tepat di belakangnya. Tangisan yang terdengar seperti tangisan anak-anak. Jantung Erik berdegup kencang. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan dia tak kuasa membalikkan badan. Keringat dingin membasahi tubuhnya dan bulu kuduknya pun berdiri. Telinganya masih bisa mendengar Sandra dan Amanda sedang mengobrol namun bibirnya terlalu kaku untuk meminta tolong. Erik meletakkan kembali bakinya, menyelimuti tangannya dengan pengendalian listrik. Meski dia tahu pengendalian listriknya tidak akan melukai makhluk di belakangnya, setidaknya dirinya telah mencoba mempertahankan diri.
Sekuat tenaga, Erik membalikkan tubuhnya dengan tangan yang diselimuti listrik biru. Namun, dia tak mendapati apapun di belakangnya. Hanya lantai porselen biasa. Erik segera mengambil baki, mengambil tiga gelas jus jeruk dingin dan berjalan menuju ruang tamu.
Quote:
“Terima kasih, Erik,” kata Amanda, “Kau tambah ganteng, lho.”
“Aku tetap ganteng meski tidak mengambil jus jeruk di dapur,” gerutu Erik.
“Kenapa lama sekali?”
“Aku mendengar seorang gadis kecil menangis di belakangku. Kubalikkan badanku dan tak ada apapun.”
“Pantas saja aku merasa hawa nether kuat berhambur keluar dari dapur,” kata Sandra.
“Sekarang bagaimana?” tanya Erik.
“Entahlah, Rik. Aku sudah mengaktifkan mataku sejak tadi. Namun, aku sama sekali tidak melihat adanya hantu yang disebut Emmy Merah dan Emmy Putih ini. Apa kau pernah diganggu secara langsung? Atau minimal ... penampakan Emmy Merah dan Emmy Putih?”
“Penampakan,” jawab Amanda, “Aku terbangun di malam hari karena haus. Aku berjalan ke dengan mata terpejam. Karena merasa ada yang memperhatikan, secara reflek kepalaku mengarah ke ventilasi kamar adikku. Di sana aku melihat sepasang mata yang menyala merah. Kututup mataku dan kubuka lagi. Sepasang mata itu sudah tidak ada di sana. Waktu itu aku cuek saja. Belum menyadari tentang Emmy Merah dan Emmy Putih. Kukira mataku yang salah. Aku berjalan ke dapur, mengambil segelas air, meminumnya dan kembali ke kamarku di lantai dua. Tanpa ada gangguan lagi. Kembali ke Emmy Merah dan Emmy Putih, aku tidak tahu hantu mana yang menatapku melalui ventilasi kamar adikku.”
“Aku tetap ganteng meski tidak mengambil jus jeruk di dapur,” gerutu Erik.
“Kenapa lama sekali?”
“Aku mendengar seorang gadis kecil menangis di belakangku. Kubalikkan badanku dan tak ada apapun.”
“Pantas saja aku merasa hawa nether kuat berhambur keluar dari dapur,” kata Sandra.
“Sekarang bagaimana?” tanya Erik.
“Entahlah, Rik. Aku sudah mengaktifkan mataku sejak tadi. Namun, aku sama sekali tidak melihat adanya hantu yang disebut Emmy Merah dan Emmy Putih ini. Apa kau pernah diganggu secara langsung? Atau minimal ... penampakan Emmy Merah dan Emmy Putih?”
“Penampakan,” jawab Amanda, “Aku terbangun di malam hari karena haus. Aku berjalan ke dengan mata terpejam. Karena merasa ada yang memperhatikan, secara reflek kepalaku mengarah ke ventilasi kamar adikku. Di sana aku melihat sepasang mata yang menyala merah. Kututup mataku dan kubuka lagi. Sepasang mata itu sudah tidak ada di sana. Waktu itu aku cuek saja. Belum menyadari tentang Emmy Merah dan Emmy Putih. Kukira mataku yang salah. Aku berjalan ke dapur, mengambil segelas air, meminumnya dan kembali ke kamarku di lantai dua. Tanpa ada gangguan lagi. Kembali ke Emmy Merah dan Emmy Putih, aku tidak tahu hantu mana yang menatapku melalui ventilasi kamar adikku.”
Mata Erik dan Sandra tertuju ke kemar adik Sandra. Kamar itu masih tertutup dan tak ada suara satu pun. Sandra yang selalu mengaktifkan Eyes of Ghost Dimension masih tidak melihat apapun.
Quote:
“Aku ingin tahu wujudnya,” kata Sandra, “Dari wujudnya, aku bisa tahu apakah yang kita hadapi ini hantu lemah atau hantu kuat. Jika hantu kuat, maka aku perlu memanggil teman-temanku sesegera mungkin.”
“Bagaimana jika kita berkeliling?” tanya Amanda.
“Boleh,” kata Sandra, “Jika para hantu itu tiba-tiba muncul, maka kita bisa menendang bokong mereka.”
“Bagaimana jika kita berkeliling?” tanya Amanda.
“Boleh,” kata Sandra, “Jika para hantu itu tiba-tiba muncul, maka kita bisa menendang bokong mereka.”
Baru akan beranjak dari tempat duduk, pintu kamar adik Amanda terbuka. Gadis kecil yang menggenggam krayon itu memanggil Amanda. Amanda berjalan mendekatinya dan menanyainya beberapa hal. Melihat krayon di genggaman adiknya, Amanda mendapat ide. Pengendali es itu mengambil selembar kertas A4 dan memberikan kepada adiknya.
Quote:
“Tolong gambarkan wujud Emmy Merah dan Emmy Putih, dong. Jangan lupa warnanya. Kalau sudah selesai berikan padaku, ya.”
Amanda kembali duduk di sofa bersama Erik dan Sandra. Sambil menunggu adiknya selesai menggambar, mereka mendengarkan kisah-kisah hantu dari Sandra. Gambarnya selesai lima belas menit kemudian.
Amanda mengamati dua gambar yang dibuat oleh Dinda. Adiknya menggambar masing-masing hantu di dua sisi kerja. Kedua gambar tidak terlalu berbeda. Sama-sama bermulut merah, berambut hitam yang panjangnya hingga menyentuh pinggang dan bermata merah. Sehingga Amanda menilai bahwa hantu-hantu yang dilawannya mirip badut. Yang membedakannya hanyalah bajunya. Yang satu berbaju putih dan yang satu berbaju merah. Dari situ Amanda tahu mana Emmy Merah dan mana Emmy Putih.
Quote:
“Mukanya kok mirip badut, ya?” tanya Amanda, “Berbibir merah dan pucat?”
“Memang seperti itu wajah mereka, Kak,” jawab adiknya.
Amanda tersenyum sinis sambil memberikan kertasnya pada Erik dan Sandra, “Konyol. Tak kukira kita menghadapi badut konyol seperti ini, Kak Sandra.”
“Aku mau pipis terus mau tidur lagi, ya, Kak,” jawab Dinda.
“Ya. Silahkan. Pintunya jangan dikunci.”
“Memang seperti itu wajah mereka, Kak,” jawab adiknya.
Amanda tersenyum sinis sambil memberikan kertasnya pada Erik dan Sandra, “Konyol. Tak kukira kita menghadapi badut konyol seperti ini, Kak Sandra.”
“Aku mau pipis terus mau tidur lagi, ya, Kak,” jawab Dinda.
“Ya. Silahkan. Pintunya jangan dikunci.”
Amanda diam sejenak. Membiarkan Sandra dan Erik mengamati gambarnya. Muka Erik tetap santai dan tiba-tiba muka Sandra terlihat serius. Amanda semakin heran ketika melihat Sandra mengambil ponsel dan menghubungi teman-temannya.
Quote:
“Putra, segera mandi dan berangkat ke alamat yang kukirim kemarin malam!” kata Sandra, “Ya ... ya ... aku ingin main aman.”
“Kenapa, Kak?” tanya Erik.
“Aku pernah beberapa kali menghadapi hantu-hantu bermuka badut seperti ini,” jawab Sandra, “Terlalu merepotkan untuk dihadapi oleh satu orang.”
“KAKAAAAAAKKKK!!!” terdengar jeritan dari kamar adik Amanda.
“Kenapa, Kak?” tanya Erik.
“Aku pernah beberapa kali menghadapi hantu-hantu bermuka badut seperti ini,” jawab Sandra, “Terlalu merepotkan untuk dihadapi oleh satu orang.”
“KAKAAAAAAKKKK!!!” terdengar jeritan dari kamar adik Amanda.
Para manipulator langsung bangkit dari duduk mereka dan berlari menuju kamar adik Amanda. Mereka mendapati adik Amanda menangis. Ada lima sayatan di kedua tangannya. Memanjang dari siku hingga punggung telapak tangannya. Darahnya terus menetes hingga membasahi lantai.
Quote:
“SIAPA YANG MELAKUKAN INI PADAMU???” bentak Amanda.
Adiknya menjawab, “EMMY MERAH, KAAAAKKK!!!”
Adiknya menjawab, “EMMY MERAH, KAAAAKKK!!!”
0
Kutip
Balas