Kaskus

Story

andra.wmAvatar border
TS
andra.wm
"MILAH"
"MILAH"


INDEX
Sebuah Penggalan Cerita Bersamanya
Awal Aku Bertemu Dengannya
Kebun Pinggir Sungai
Tangisan Tengah Malam
Ningsih

Kuntilanak, Sebutan untuk Jin dengan ciri-ciri berjubah putih berambut panjang. Aku masih mengenangnya, Aku tak pernah mengakuinya sebagai teman dan memang aku tak mau. Tapi tidak bisa di pungkiri bahwa aku memiliki banyak kisah yang aku lalui bersamanya, baik sedih, senang maupun lucu.

Namanya “MILAH”, aku tersenyum saat pertama kali dia memberitahu namanya karena identik dengan nama jawa kuno, aku tertawa saat dia memberitahu bahwa nama panjangnya “SUMILAH”, dan aku terbahak-bahak saat dia memberitahu bahwa “SUMILAH” memiliki arti “BERSERI-SERI”

Dia adalah seorang Kuntilanak yang berbeda dengan kuntilanak lainnya, dia memiliki tinggi sekitar 5 sampai 6 meter, dia hobi mengelus-ngelus rambutnya yang panjangnya hampir mendekati lututnya, paling tidak panjang rambutnya 4 meter. Dia juga hobi bersenandung sendiri tanpa aku tahu apa yang sedang dia senandungkan
Diubah oleh andra.wm 14-07-2017 21:50
312yes5758Avatar border
pulaukapokAvatar border
percyjackson321Avatar border
percyjackson321 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
26.7K
144
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.5KAnggota
Tampilkan semua post
andra.wmAvatar border
TS
andra.wm
#49
Ningsih

Siang hari, cuaca benar-benar panas, aku baru saja kembali dari konsultasi skripsi di rumah dosenku. Saat aku berada di depan rumah kontrakanku, aku melihat MILAH sedang duduk diatas dahan pohon bersama Jin perempuan, dia seorang bule dengan wajah cantik dan sikap duduk yang anggun, bajunya klasik khas jaman penjajah belanda melekat di badannya. Aku tak begitu peduli tentang Jin itu karena aku terlalu lelah untuk peduli, aku memilih tidur siang daripada mengobrol dengan mereka berdua.

Malam hari, aku membuat mie instan karena akhir bulan, jadi penghematan benar-benar harus dilakukan. Setelah mie jadi, aku memilih duduk di teras sekalian menanyakan kabar MILAH hari ini, dan jin bule itu masih ada duduk di dahan pohon bersama MILAH, kali ini dia menangis dan masih tetap terlihat anggun.”Anak buahmu ?” tanyaku ke MILAH sambil meniup mie agar cepat dingin, “bukan” Jawab dia.

Jin itu terus menangis, mungkin sudah belasan kali dia menyeka air mata dimana aku belum makan sesuap pun mie dan masih meniupnya. MILAH bercerita jika dia sedang bersedih karena teman manusianya sedang sakit karena gangguan Jin, ada jin yang memasukkan paku, kawat, jarum ke dalam tubuh teman manusianya itu. Dan reaksiku cuma “oohh…” sambil memakan mie yang sudah mulai hangat.

“Bagaimana kalau kau bantu Ningsih?”Tanya MILAH, “Siapa Ningsih ?” Tanyaku balik, “Dia” Jawab MILAH menatap Jin sebelahnya. Aku tersedak hingga aku bisa merasakan mie masuk ke dalam hidungku, antara ingin tertawa dan marah, ingin tertawa karena Jin bule bernama Ningsih, dan marah karena sedikit sakit saat tersedak. Bagaimana mungkin Jin yang jelas-jelas terlihat berwajah kebarat-baratan bisa bernama Ningsih.

“Dia nggak bisa selesaiin masalahnya sendiri ? Tanyaku ke MILAH sambil membersihkan hidungku. “Dia tidak berani” Jawab MILAH. “Kalau gitu kamu aja yang bantu, kenapa harus aku yang ikut campur ?”. Tanyaku lagi ke MILAH. Tiba-tiba Ningsih turun dari pohon dan menuju ke arahku, dan saat itu pula aku sedang mengunyah mie ku. Ningsih sekarang berada dihadapanku, aku muntah saat melihat Ningsih, Ususnya terurai keluar dengan darah yang terus menetes dari dinding-dinding ususnya.

Aku memuntahkan semua mie yang aku makan, nafsu makanku telah hilang, aku menatap tajam ke arah Ningsih. “Bantu aku” Kata Ningsih mengulurkan tangannya ke arahku. “Bantu apa brengsek ?”Tanyaku penuh dendam sambil mengusap bekas muntahan di bibirku. “Tolong temanku Ayu” Jawab Ningsih memasang muka memelas. “Eh Brengsek!!, kamu suruh aku ke rumah temanmu?, terus aku bilang ke orang tuanya, “permisi pak, anak bapak kena santet, saya datang menolong” gitu ?, tolong ya kalau mikir pakai logika sedikit, jangan asal ngomong”. Aku berdiri dan menendang mie yang masih berada dalam mangkok hingga jatuh ke tanah. Aku masuk dan membanting pintu agar mereka mengerti jika aku sedang marah dan tidak ingin di ganggu.

Esoknya, aku sedang perjalanan menggunakan motor menuju rumah teman Ningsih, aku tak percaya bisa terkena rayuan MILAH semalam untuk membantu teman Ningsih. Aku bertanya semalam mengapa dia tidak urus sendiri masalah Ningsih, dia hanya menjawab, “INGIN BERBAGI PENGALAMAN DENGANKU”. Alasan yang tidak masuk akal tapi mampu meluluhkanku, dan kalau dipikir-pikir kembali, ini mungkin yang namanya ilmu GENDAM

Perjalanan cukup jauh, bahkan keluar dari kota dan menuju ke sebuah desa, 45 menit perjalan dari kontrakkanku. Dan kini aku berada di depan rumah teman Ningsih yang bernama Ayu. Dari aura rumah tersebut saja sudah tidak mengenakkan, ditambah ada jin penjaga yang duduk di atas atap rumah, Jin gemuk berwarna merah dengan gada ditangannya. Tidak begitu mengerikan seperti jin-jin yang pernah aku temui, jadi tidak ada rasa takut sama sekali untukku

Aku bersiap silahturahmi ke rumah Ayu, dengan bermodal buah-buahan aku berjalan menuju pintu rumah Ayu. Melihat aku sedang berjalan, Jin gemuk itu berdiri dan mengarahkan gadanya ke arahku, seolah sedang mengancamku untuk segera pergi dari situ, aku alihkan pandanganku dan menatap MILAH yang sedang berdiri diluar pagar, dan ternyata MILAH sedang menatap Jin itu. Aku acuhkan mereka, aku berjalan munuju pintu rumah Ayu.

Aku ketuk pintu beberapa kali hingga seorang wanita paruh baya membukakannya. “Permisi bu, saya teman Ayu ingin menjenguk Ayu” Kataku dengan penuh canggung. “Oh iya mas, ayo masuk dulu mas” Kata Ibu mempersilahkan. Aku dan Ibu itu duduk di ruang tamu, “Ayu baru istirahat mas, semalaman dia teriak kesakitan, sampai ibu nggak tega liatnya”. Kata Ibu Ayu, “Oh ya sudah kalau gitu nggak papa bu, saya permisi saja” Kataku berdiri bersiap pamit untuk pulang, “Nanti saja mas, lagian baru sampai juga, saya buatkan minum dulu ya?”, Tawar Ibu itu. Kebetulan juga saat itu dahaga sedang menyerang, “Nggak ngerepotin bu ?”Tanyaku. “Walah enggak mas, sebentar ya”. Ibu itu pamit ke dapur untuk membuat minum

Dari ruang tamu aku melihat MILAH terbang menuju atap, tak berselang lama tiba-tiba ada sesuatu yang dengan cepat jatuh dari atas atap. Aku benar-benar kaget, aku berpikir bahwa MILAH membuat masalah dan membuat genteng rumah ini jatuh. Aku bergegas keluar rumah dan melihat ke arah atap, dan MILAH sudah berada diatap itu. “Woy!!, ngapain kamu?” Tanyaku ke MILAH berbisik agar tidak ada yang mendengar, “Mengusirnya” Jawab MILAH menunjuk ke belakangku. Aku melihat ke belakang, dan sekarang posisinya tertukar, Jin gemuk itu sekarang yang berada di luar pagar. Ternyata yang jatuh dengan cepat adalah Jin Gemuk tersebut hingga menembus tanah. Aku melontarkan senyum sinis ke arah Jin gemuk sambil berkata pelan, “Banyak gaya, udah berdiri terus pakai ngacungin senjata, eh…ternyata…” Ucapku diakhiri dengan geleng-geleng kepala dan terus menatapnya.

Aku kembali ke ruang tamu, tak lama ibu itu datang bersama es teh, aku meminumnya. Ibu itu terus bercerita tentang Ayu, beliau tidak menyangka hal seperti itu menimpa anaknya, dokter tidak mengetahui tentang penyakit yang menyerang Ayu, bahkan beliau telah datang ke orang pintar tapi tidak ada hasilnya, orang pintar hanya berkata jika ada yang usil dengan Ayu.

Tak berselang lama saat ibu itu cerita, Aku kaget karena banyak Jin keluar dari sebuah kamar, bahkan ada yang berlari ke arahku, sontak aku berdiri menghindar karena kaget, apalagi jin itu sangat menjijikan, badannya dipenuhi oleh lumpur yang berbau sedikit menyengat, “PAKAI MATA KALAU LARI baik!!” Bentakku ke Jin yang berlari ke arahku, Jin itu terus berlari bahkan aku bisa melihatnya dari dalam ruang tamu. Ibu Ayu menatapku heran, “Maaf bu” Ucapku tersenyum canggung sambil menggaruk-garuk kepala. Ibu Ayu terus menatapku, “Itu kamarnya Ayu ya bu ?” Tanyaku menunjuk sebuah kamar yang tak jauh dari tempatku berdiri. “Iya mas” Jawab ibu Ayu. “Boleh saya lihat keadaan Ayu bu ?” Tanyaku. Ibu Ayu langsung setuju setelah aku berteriak tadi. Aku juga penasaran apa yang terjadi dikamar itu, dan aku yakin jika MILAH yang membuat onar.

Dan tak salah lagi, MILAH sudah duduk disamping Ayu ditemani Ningsih. Aku ikut duduk disamping Ayu juga ditemani oleh Ibunya. Kalau diperhatikan Ayu ini orangnya cantik, tapi agak kurus, mungkin karena pengaruh musibah yang menimpanya. Ningsih terus menangis menatap wajah Ayu, apalagi saat wajah Ayu menampakkan wajah menahan sakit.

Milah menyuruhku mengambil tisu, “Bu ada tisu ?” Tanyaku. Ibu Ayu bergegas keluar kamar. Tak berselang lama beliau datang membawa sekotak tisu. “Buka bajunya sedikit dan taruh tisu diperutnya” Kata MILAH. Aku hanya diam tak menggubris omongan MILAH. “Taruh tisunya!” Kata MILAH menyuruhku lagi dengan nada sedikit tinggi. “Heh!!, kamu suruh aku buka baju Ayu di depan Ibunya ?!” Balasku berbisik dengan nada penuh emosi. Setelah ucapanku, suasana hening dikamar beberapa saat, aku merasa sedikit bersalah. “Bu, Bisa angkat bajunya Ayu sedikit untuk menaruh tisu diperutnya bu ?” Tanyaku dengan benar-benar canggung. Tanpa banyak bicara ibu Ayu mengangkat baju Ayu hingga terlihat perutnya.

“Taruh tisu diperutnya” Kata MILAH, aku taruh beberapa lembar tisu di perut Ayu. “Sekarang taruh tanganmu diatas tisu itu” Kata MILAH lagi. Aku benar-benar menahan emosi saat itu, aku merasa seperti orang mesum yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. “Permisi bu, saya minta ijin menaruh tangan saya diatas perut Ayu” Kataku meminta ijin. Lagi-lagi beliau setuju, seakan dia mempasrahkan ke aku.

Aku menaruh tanganku diatas perut Ayu, MILAH memegang kepala Ayu sambil memandang tajam ke wajahnya. Tiba-tiba saja aku merasakan ada cairan di tanganku dan di ikuti dengan benda padat, benda-benda itu terasa hampir memenuhi kedua tanganku. Setelah MILAH melepas tangannya dari kepala Ayu. Aku pun mengangkat tanganku, badanku lemas, tanganku dipenuhi darah hitam pekat, perut Ayu pun sama ditambah dengan beberapa paku, kawat dan jarum. Aku memandang tanganku dengan mata melotot karena shok, aku pun melihat Ibu Ayu kaget hingga menutup mulutnya, dan dengan sendirinya badanku terjatuh dan pingsan.

Aku terbangun disebuah kamar, disana sudah ada Pria paruh baya yang mungkin saja itu Bapak Ayu, dan beberapa wanita yang mungkin juga saudara dari Ayu. Disampingku sudah ada makanan yang bisa dikatakan banyak sekali. Bapak Ayu berterima kasih kepadaku, beliau berkata bahwa Ayu sudah bangun dan merasa jika badannya sudah enakan, bahkan sekarang Ayu sudah bisa bercanda dengan keluarganya.

Aku memakan makanan yang sudah tersedia untukku, lalu pergi untuk menemui Ayu, aku berbincang sebentar dan ijin untuk pamit pulang, Keluarga Ayu memberiku uang tapi aku menolaknya, meski saat itu akhir bulan. Saat aku bersiap untuk pulang, ibu Ayu memberiku keranjang yang isinya bahan pokok, ada beras, gula dll. Aku saat itu juga menolaknya, tapi Bapak ayu berkata bahwa beliau akan sangat tersinggung jika aku menolaknya, jadi mau tidak mau aku harus menerimanya.

Baru saja aku mengobrol sebentar di teras rumah Ayu, ada Jin raksasa dengan ikat kepala berwana emas juga pakai emas datang. Dia disambut oleh MILAH, Jin emas itu menyilangkan tangannya dan berkata kepada MILAH “Berani-beraninya kau membunuh Abdiku, apa kau tidak tahu siapa aku, aku adalah abdi dari XXXXXX!!. Tak mau kalah MILAH pun berteriak. “AKU ADALAH SUMILAH, ABDI RAJA XXXXXX PENGUASA XXXX, BILANG KEPADA TUANMU, WILAYAH INI MENJADI MILIKKU, SEKALI KAU MENGGANGGU, KALIAN SEMUA BERURUSAN DENGANKU, AKAN KU PERLIHATKAN KEKUATAN KERAJAAN XXXXX DI HADAPANMU” Ucap MILAH. Kala itu aku melihat kuku MILAH menjadi panjang seperti pedang dan aura hitam menyelimuti MILAH. Dan seperti biasa endingnya Jin emas itu pergi.

Dalam perjalanan pulang aku masih dipenuhi rasa heran, kata-kata itu sepertinya pernah aku dengar di sinetron indonesia. Dan aku pun merasa menjadi sutradara dalam adegan itu. Malamnya aku tanya kepada MILAH apakah yang dia katakan benar, tentang dia dan kerajaan. Dan MILAH cuma meng-iyakannya. Tak berhenti disitu, aku bertanya apakah dia punya jabatan, dan lagi-lagi MILAH meng-iyakannya, dia berkata jika punya abdi bernama renggong kuning dan joglong sewu. Dan saat aku bertanya mengapa sekarang dia ada bersamaku dan tidak ditempat seharusnya, dia hanya tersenyum menyisir rambutnya dan tak menjawab pertanyaanku
dhikyzulkarnaen
arysasby
pulaukapok
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
2
Tutup
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.