Kaskus

Story

alealeyaAvatar border
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...



Quote:


Namaku Aleya (Based on true story)


Quote:


Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:


Quote:


Quote:


Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
DeviafebAvatar border
imamarbaiAvatar border
ezzasukeAvatar border
ezzasuke dan 36 lainnya memberi reputasi
37
144.7K
869
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
alealeyaAvatar border
TS
alealeya
#42
Part 7

kaskus-image


"Leya, nak kamu bisa jaga diri sendiri kan? Kamu itu anak cewe ibu satu-satunya lho, baik-baik disana ya nak...", ucap ibu di tengah lamunanku.

"Iya bu, Leya bisa jaga diri kok, dan Leya juga gak macem-macem disana"

"Ibu percaya sama kamu nak, cuman Leya satu-satu nya harapan dan kebanggan ibu, jangan kecewa kan ibu ya nak", sambil mengusap pipi ku. Hari ini mataku seakan terbuka lebar, mendapatkan titik pandang baru dari sisi seorang ibu yg ku tinggalkan dalam proses pendewasaan diri. Sudah banyak hal ku lewatkan di kota ini, ketabahan ibu menghadapi segala sesuatu nya sendirian dan kesabaran ibu melewati hari-hari tanpa mengeluh sedikitpun walau ibu sampai sekarang masih belum menemukan pendamping yg pas untuk beliau. Yg sabar ya bu, Leya sayang ibu.

"Jadi gimana? Leya udah punya cowo belum? Masa anak ibu cantik gini belum punya cowo sih", ibu mencubit pipi ku.

"Aduh duh bu sakiit, iya bu Leya udah punya cowo"

"Wahh orang mana? Ganteng gak?, kalo gak ganteng gak boleh yaa hihihi"

"Yahh gitu lah, dibilang ganteng sih gak juga, dibilang jelek juga enggak, sedang lah bu"

"Mana mana? Ibu mau liat dong, ada foto nya kan di hp mu?", sambil menunjuk-nunjuk saku celana ku.

Awalnya aku ragu untuk menunjukkan foto Tomy ke Ibu, takut kalau-kalau Ibu gak setuju sama pilihan ku, tapi si Ibu terus maksa aku buat nunjukin muka Tomy, mungkin penasaran kali ya. Yaudah deh ku kasih liat aja foto Tomy yg ada di hp ku, ku scroll-scroll ke bawah trackball hp ku yg sempat nge-tren dulu di masanya.

"Nih bu orang nya", sambil menyodorkan hp ku ke arah ibu. Kebetulan foto yg kutunjukkan adalah foto berdua saat acara festival clothing.

"Wah tinggi juga yaa orang nya, di deketin dong (zoom) biar ibu liat muka nya"

"Nih nih bu, ganteng gak?"

"Yaa yaa boleh lah, cocok deh sama Leya yg cantik kalo gini", ibu menggelitik perutku. Sudah lama sekali sejak momen ini terjadi, entah mungkin 8 atau 10 tahun yg lalu sebelum Ibu juga ikut sibuk bekerja.

Senja pun tiba seiring dengan terbenamnya mentari di ufuk barat. Aku bermaksud undur diri dari rumah ibu dan segera menuju rumah ayah, mumpung ada disini kan lebih baik aku kunjungi keduanya, toh selama ini mereka sudah berbaik hati untuk membiayai sekolahku dan biaya lainnya. Terlihat sedikit rasa kecewa di raut wajah ibu saat aku bilang kalo aku gak bisa nginap disini, aku harus balik lagi kerumah sakit buat mengembalikan mobil dan menemani Rian yg sedang dirawat. Akhirnya aku pun menginjakkan pedal gas mengarah ke kediaman ku dulu, sebuah tempat penuh kenangan dengan perasaan yg tak karuan karena harus meninggalkan ibu lagi.
1 jam perjalanan ku tempuh, hari semakin gelap, matahari sudah tak terlihat lagi. Gerbang besar sebuah komplek perumahan elit menyambutku, disitu terlihat 2 orang petugas keamanan yg sedang berjaga. Ku hentikan mobil tepat di depan portal kemudian dihampiri seorang bapak yg sudah bertahun-tahun menjaga komplek ini.

"Wah pak sekarang kok di pasang portal segala?", tanya ku setelah membuka jendela mobil. Senyum hangat menyambut ku dari wajah bapak sang security.

"Neng Leya, wahh baru keliatan sekarang, katanya lanjut sekolah diluar kota ya?", tanya sang bapak.

"Hehe iya pak, baru hari ini bisa main-main kesini, oh iya ayah saya udah pulang belum pak?"

"Udah neng udah, barusan sekitar 30 menitan lalu lewat sini", jawab beliau

"Enak ya pak kalo di pasang portal gini jadi tau siapa aja yg keluar atau masuk, tolong bukain pak saya mau ke rumah ayah hehe",

"Ohh siap siap neng, duh jadi lupa bukain gara-gara ngobrol", sambil membukakan portal besi yg menghalangi jalan ku.

Perjalananku berakhir didepan pagar rumah yg terlihat masih sama setelah bertahun-tahun ku tinggalkan, dan mungkin emang udah kebiasaan kali yaa mencet klakson pas sampe depan pagar, tak lama kemudian muncul sang bibi dari balik pagar menanyai ada keperluan apa aku kesini. Ku buka kaca jendela lalu mengeluarkan muka ku sambil menyapa, "hai bi, ini aku".

"Astaga neng Leya, tunggu neng bibi bukain pagar", sambil cepat-cepat mendorong pagar sekuat tenaganya.

Ku parkirkan segera mobil di halaman depan rumah, tepat di sebelah ayunan kecil yg pernah jadi tempat bermain favoritku saat masih SD, tiba-tiba terlintas sekilas ingatan tentang masa lalu yg hangat dan tentram.

"Ya ampuun neng Leya makin cantik aja, gimana neng sehat?", baru aja aku melangkahkan kaki keluar dari mobil dan belum sempat ku tutup pintu nya, aku sudah diberondongi segelintir pertanyaan dari bibi. Yaa mungkin beliau kangen sama aku wajar lahh.

"Baik bi baik hehe, bibi gimana? Masih betah disini bi?", tanya ku balik.

"Alhamdulillah masih betah neng, sehat dong bibi selalu sehat biar bisa bersihin rumah segede ini hehe", jawabnya.

"Ayo neng masuk yukk, bapak ada kok di dalem, tadi lagi makan malam", sambil menuntun ku masuk.

Kami melewati sebuah pintu besar lalu masuk melewati ruang tamu, ternyata foto ku semasa kecil masih terpampang di bingkai indah di sebuah dinding ruang tamu. Tiba-tiba ingatan itu datang lagi, kenangan masa kecil, masa indah ketika masih bersama. Foto ku yg tersenyum indah seakan mewakili perasaan ku saat itu sebagai seorang anak yg ceria, bahagia setiap hari. Hanya bermain dan bermain yg ku pikirkan. Aku tersenyum tanpa sadar air mata mengalir ke pipi ku.

"Neng, neng Leya gak papa?", bibi merangkul ku.

"Enggak bi Leya gak papa, cuman ingat waktu kecil dulu aja abis liat foto itu", ku tunjuk foto yg membuatku kembali mengingat masa lalu itu.

"Sabar yaa neng Leya, bibi tau kok perasaan neng Leya, yuuk lanjut jalan lagi"

Perjalananan memasuki rumah yg sempat terhenti di ruang tamu itu pun kami lanjutkan. Dalam rangkulan bibi terasa hangat, terlihat jelas bahwa ia sangat merindukan sosok anak cewe satu-satunya dirumah ini dulu. Kami berada diruang tengah, tempat ini lah tempat dimana kebanyakan pertengkaran antara orang tua ku terjadi, seketika air mataku mengalir lebih deras, teringatkan momen malam terakhir kedua orang tua ku berselisih pendapat disini.
Bibi memelukku erat, berusaha menenangkan ku. Aku menangis dalam pelukkan bibi, rasanya semua memori itu semakin jelas teringat di kepalaku.

"Udah udah neng, ada bibi disini, neng tenang yaa", bibi meng elus kepala ku.

Aku berhasil menenangkan diri, lalu melanjutkan langkah menuju ruang belakang, ruang makan tempat piring pecah terakhir ku temukan. Dari kejauhan kulihat sosok ayah sedang asyik menikmati santap malamnya, terhalang pintu kaca samar-samar terlihat sesosok...
orang?
Diubah oleh alealeya 15-07-2017 00:37
nomorelies
erman123
Nikita41
Nikita41 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.