- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
621.2K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•0Anggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#600
Quote:
CHAPTER 6
Langit mulai gelap ketika kami sampai di pos tiga. Kabut dengan cepat keluar menutup penglihatan, bintik-bintik air yang keluar membasahi jaket yang aku kenakan. Kami berempat duduk untuk mengambil nafas dan menghilangkan dahaga dengan air mineral.
“Apakah keadaan ini normal ?”
“Kabut digunung itu normal, menjadi tidak normal karena kamu belum pernah mengalaminya.” Jawab Baim.
Aku menaiki batu besar untuk melihat keatas. tapi tidak terlihat apa-apa, jarak pandang kami kini terbatas. Walaupun aku sudah menggunakan senter, tetap saja tidak terlihat. Sepertinya pos tiga menjadi perbatasan hutan dengan jalur berbatu. Jalanan semakin menanjak dan curam dengan batu-batu sebagai pijakan kami sekarang.
“Menurut di peta, daerah untuk mendirikan tenda dipos tiga ini, atau tidak setelah pos empat.”
“Aku terserah kalian saja, tapi bukankah dari pos tiga menuju puncak masih sangat jauh. Kecuali kalau kalian mau melanjutkan perjalanan malam-malam untuk mengejar matahari terbit.”
“Yasudah kita lanjut saja. kalian berdua setuju ?” aku melirik kearah Imron dan Hesti yang kemudian dibalas dengan anggukan kepala.
Kami melanjutkan perjalanan. Udara mulai terasa dingin, wajahku mulai basah oleh bintik-bintik embun dari kabut. Jalur semakin susah, seperti memanjat tebing tanganku harus cekatan memegang akar atau batang pepohonan. kaki harus menginjak batu yang tepat agar tidak tergelincir atau memilih batu mati yang tidak tertancap ketanah yang akan mengakibatkan batu berguling dan membahayakan orang yang ada dibawah.
Kabut benar-benar tebal, sampai senter yang kami gunakan saja tidak berguna sama sekali. pemandangan kanan dan kiri ditutupi pemandangan warna putih semuanya. Kami mendaki secara perlahan, karena tidak mau ada salah satu dari kami yang ketinggalan. Sulit mencari jalan, tidak seperti perjalanan dari pos satu menuju pos tiga yang sudah ada jalur khusus dan jejak, disini d jalur barbatu dan belum ada tanda seperti tanda panah atau sampah yang ditinggalkan pendaki lain seperti saat dibawah tadi, tapi Baim menyuruh kami untuk terus berjalan keatas tanpa berbelok.
Aku pernah membaca sebuah buku cerita dari negeri jepang, masyarakat disana percaya bahwa gunung dijaga oleh seorang Dewi. Satu kali dalam setahun masyarakat yang tinggal disekitar gunung selalu mengadakan upacara adat yang dilakukan di puncak gunung sebagai ucapan rasa sukur, karena gunung telah memberi mereka kehidupan. Beberapa hari sebelum upacara dilaksanakan, biasanya warga kampung memasang tali kain yang digantungi jimat dipintu masuk menuju jalur pendakian. Hal tersebut dilakukan sebagai tanda, bahwa selama upacara belum dilakukan gunung itu terlarang untuk dimasuki. Konon saat hari pelarangan itu daerah sekitar gunung selalu diselimuti kabut yang tebal, menurut mereka itu adalah tanda bahwa sang Dewi sedang menghitung jumlah pepohonan. Barang siapa yang masuk kedalam hutan kemudian melihat kabut saat hari pelarangan tersebut, dia akan dihitung oleh sang Dewi sebagai pohon dan otomatis tubuhnya akan berubah menjadi pohon.
Entah kenapa tiba-tiba saja aku teringat pada cerita dari negeri jepang itu ketika melihat kabut disekelilingku. Dalam samar-samar putihnya kabut, aku melihat sosok bayangan hitam seorang wanita dengan rambut tergerai. Mungkin itu Cuma halusinasiku saja, atau mungkin memang bayangan itu nyata. tapi aku tidak sedang berada dijepang, aku yakin itu Cuma proyeksi dari kepalaku saja karena sedang ketakutan. Aku berhenti sebentar untuk mengambil nafas. Aku melihat Baim yang berjalan diatasku sudah tidak nampak.
“Aku ingin isitirahat sebentar .”
“Yah.. aku disini dibalik batu besar. Kau bisa melihatnya dari bawah ?” Suara Baim berteriak dari atas.
Hesti masih berada dekat dibelakangku, sementara Imron tampak kepayahan beberapa kali dia hendak tergelincir saat menginjak batu karena lututnya sudah gemetar tidak kuat lagi untuk berjalan.
“Biarkan Imron lewat dulu, kita tunggu sambil duduk. Jangan sampai terpisah, bahaya kabut semakin tebal saja.” Hesti mengangguk, entah dia mendengarkan kalimatku dengan jelas atau tidak karena kini kepalanya terutup kudung jaket yang tebal.
Angin bertiup kencang, menerbangkan dauh-daun kering dipepohonan. Hujan gerimis mulai turun, tapi karena tertiup angin, butiran air itu terasa pedas saat menyentuh wajah. Kami tidak bisa melanjutkan pendakian, akhirnya memutuskan untuk berlindung dibalik batu besar dan duduk berhimpitan karena dijalur curam ini tidak ada tempat yang cukup luas.
“Cepat pakai jas hujan, kalau baju kalian basah bisa bahaya.”
Semakin lama cuaca semakin menggila, hujan disertai angin kencang. Suasana ini seperti dejavu, aku pernah mengalaminya, tapi waktu itu aku sedang berada dirumah. Melihat hujan angin dari balik jendela kamar ditemani selimut tebal sambil menikmati teh hangat. Peristiwa yang sama dengan tempat yang berbeda.
Kami berempat saling berpegangan tangan. Baim terlihat tenang, bukan pasrah tapi tampak seperti nelayan yang biasa mengahadapi badai ditengah lautan bahwa cuaca seperti ini bukan hal aneh lagi baginya. Sementara Hesti terlihat gemetar, entah karena kedingingan atau karena rasa takutnya sudah tidak bisa lagi disembunyikan.
Air berputar tertiup angin, kadang datang dari sebelah kiri dan kadang datang dari sebelah kanan. Kalau datang dari sebelah kanan kami aman karena terhalang batu yang besar, tapi dari kalau sebelah kiri habislah kita terkena guyuran air yang sangat kencang.
Tidak ada suara yang keluar dari mulut kami, yang terdengar hanya suara angin ditelinga. Pemandangan indah yang sedari tadi kami lihat dibawah, disini hilang sudah. Aku mencoba menundukan kepala, menggosok-gosokan tangan dibalik jas hujan untuk mencari kehangatan.
……………………………………….
Mungkin sekitar lima belas menit lamanya setelah kami duduk berlindung dibalik batu, hujan mulai reda. Tapi kabut masih tetap menyelimuti, langit mulai redup mungkin hari sudah menjelang sore.
“Sebaiknya kita mencari tempat yang sedikit landai untuk mendirikan tenda. Tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan. Selain karena hampir malam, kalian juga terlihat sangat kelelahan.” Baim yang pertama kali berdiri.
Kami bertiga tidak ada yang berkomentar, hanya memandang baim sebagai isyarat “apapun keputusanmu kami akan ikuti”.
Beberapa meter diatas batu besar tempat kami berlindung tadi, ada sepetak tanah yang cukup untuk mendirikan dua buah tenda. walaupun tanahnya tidak rata karena bergelombang oleh batu-batu kecil yang tertanam ditanah, tapi kami tidak punya pilihan lagi.
Baim segera membuka peralatan. Dua kantong tenda segera dibuka, aku dan Imron bersusah payah manyambung potongan tongkat almunium yang akan dijadikan tiang penyangga. Sedangkan Baim tampak tidak kesulitan sama sekali, sebuah tenda hampir saja berdiri.
selesai mendirikan tenda dan menata barang, kami merebus mie instan. Dua mangkok untuk empat orang, dua sendok saling bergantian. Sambil menikmati makam malam ini, aku mencoba menghangatkan suasana dengan memulai obrolan.
“Dari semenjak masuk pos 3 tadi, bulu kudukku merinding terus. Apa kalian juga sama ?”
“Jangan memulai pembicaraan yang horror, suasana tidak mendukung. Kasian Hesti, nanti dia ketakutan.” Jawab Imron sambil menyuapkan mie kuah kedalam mulutnya.
“Yee..kok bawa-bawa aku sih. Kamu saja yang penakut kali, aku sih biasa saja.”
“Kalian tahu tidak, tadi pas aku beli jas hujan diwarung bawah. Si bapaknya cerita bahwa beberapa bulan kebelakang ada orang yang meninggal. Ya tepatnya dijalur tempat kita mendirikan tenda ini.” aku mencoba mengarang cerita. memang ada yang meninggal, tapi aku tidak tahu dimana persisnya mayat pemuda itu ditemukan.
“Huss, sudah. Ga baik ngomongin orang yang sudah meninggal, pamali.” Kata Imron.
“Iyah, ga boleh itu. Kalau dia denger gimana ? terus datang nyamperin kita karena ingin ikut nimbrung.” Hesti malah mengkompor-kompori suasana, mungkin dia juga senang kalau melihat Imron ketakutan.
“Aku kok pegen pipis.” Lanjut Hesti
“Itu dibelakang tenda saja..tapi aga jauhan dikit. Disemak-semak itu cukup rimbun, hati-hati tergelincir.” Kata Baim sambil menunjuk kebelakang tenda.
Hesti masuk kedalam tenda untuk mengambil senter, lalu berjalan kebelakang sendirian. Sementara kami bertiga masih asik menikmati mie rebus dengan campuran sosis dan telur yang nikmatinya dua kali lipat bila disantap dalam udara dingin.
“Besok, kita mesti berangkat dini hari kalau mau mengejar matahari terbit.”
“Jam berapa Im ?”
“Sekitar jam 2 atau jam 3. Kalau keatas kepagian itu lebih bagus, kita bisa istirahat dulu dipuncak sambil ngopi-ngopi. Dipuncak kan ada orang katanya, jadi kita bisa ikut nimbrung sama mereka.”
“Soal yang meninggal dijalur yang sedang kita tempati itu serius Pan ?”
“Serius, Mayatnya ditemukan tepat ditempat yang sedang kamu duduki sekarang. Hahahaha..”
“Sial!”
Imron tampak menggerutu karena kesal, tapi tiba-tiba dari arah samping Hesti datang dengan langkah yang sedikit kaku, wajahnya pucat pasi dan bibirnya gemetar.
“Teman-teman, Disitu..” belum selesai dia berbicara, tangannya mengelap matanya yang berkaca-kaca.
Aku bingung, kemudian menyuruh Hesti untuk duduk dan mengatur nafas agar lebih tenang. Baim mengambilkan air minum, tapi Hesti menolak.
“Tadi disitu, aku melihat seorang laki-laki sedang berjalan. dia membawa senter, aku bisa mendengar suaranya dari kejauhan sedang bersenandung.”
Seketika itu pula aku merinding, suasana mulai mencekam atau hanya perasaanku saja. Bukan kah Baim pernah bilang bila kita melihat sesuatu yang terasa ganjil sebaiknya tidak dibicarakan saat pendakian.
“Apakah laki-laki yang kau ceritakan meninggal itu serius atau hanya cerita bohong ?”
“Aku serius, bapak pemilik warung itu tadi cerita kepadaku.” Aku menatap Imron untuk meyakinkan.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe

twiratmoko dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Kutip
Balas
Tutup