- Beranda
- Stories from the Heart
Namaku Aleya (Based on true story)
...
TS
alealeya
Namaku Aleya (Based on true story)
Peringatan : Cerita ini mengandung unsur BB 18+.
Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...

Selamat datang di thread pertama ane, sambil dengerin lagu yuukks...
Quote:

Quote:
Spoiler for sedikit penjelasan tentang alur cerita:
Quote:
Quote:
Spoiler for video:
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 7 suara
Siapa kira-kira yg lebih pantas buat jadi pendamping Aleya?
Rian
43%
Tomy
0%
Gak keduanya
57%
Diubah oleh alealeya 25-07-2017 06:46
imamarbai dan 35 lainnya memberi reputasi
36
144.3K
869
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
alealeya
#16
Part 5

Sekitar pukul 14.00 waktu setempat akhirnya bus kota yg ku tumpangi berhasil mengantarkan ku sampai dengan selamat di tujuan, kota penuh dengan kenangan. Ku langkahkan kaki dengan pasti keluar dari bus, terminal yg (maaf) agak kumuh menyambutku, aaahh aroma udara di kota ini tak berubah sedikitpun setelah bertahun ku tinggalkan. Eh iya, aku ke rumah sakit naik apaan ya? Ojek atau angkot?, ah sambil jalan aja lah mikirnya.
Kulanjutkan lagi perjalanan menuju keluar dari terminal, melewati sebuah warung kopi dengan beberapa cowok-cowok yg mungkin preman terminal di depannya.
"Eh eneng mau kemana? Abang anterin yuk", goda salah satu cowok padaku.
Yahh pakaian ku gini, jelas lah jadi perhatian orang, lagian disini gak biasa kalo liat orang pake pakaian gini keluar rumah. Aku hanya terus berlalu walau mereka tak henti-henti nya menggoda ku. Ahh cowok pikirku. Pilihanku akhirnya tertuju pada seorang pengojek yg sedang mangkal tepat di seberang terminal, tampang nya cukup meyakinkan, ia mengenakan peci putih (ditempatku biasa disebut kopiah haji).
"Pak, ke rumah sakit berapa?", tanya ku sambil menghampiri beliau.
"Eh.. a.. anu neng 15 ribu", jawabnya sambil memperhatikanku dari atas kebawah.
"Maaf pak pakaian saya kurang sopan, abis gerah banget dalam bus"
"Iya neng gak papa, yuk bapak anterin".
Aku menyambut sebuah helm yg ia sodorkan padaku, tak seperti dugaan ku, helm yg ia sodorkan ternyata tak berbau. Kupikir semua pengojek punya standar bau helm yg sama, tapi bapak ini berbeda.
Dalam perjalanan ia sempat tanya-tanya tentang asalku dan ada apa kok baru datang langsung ke rumah sakit, aku jelaskan sejelas mungkin pada beliau maksud kedatangan ku ini. "Wah pasti bukan sahabat biasa ini mah, wong jauh-jauh datang cuma buat nengok hihi", ucap beliau mencoba menggoda. Iya sih pak, emang bukan sahabat biasa, kita kan sahabat dekat.
20 menit perjalanan berlalu, aku tiba dirumah sakit lumayan besar, tak ingin buang waktu langsung ku tanyakan keberadaan Rian pada bagian informasi, Rian pasti kaget liat aku ada disini pikirku. Walaupun lapar rasanya menggerogoti perutku karena dari semalam aku hanya makan 1 cup mie instan, tak apalah yg penting aku bisa ketemu Rian dulu dan memastikan kondisinya baik-baik saja.
Ku masuki sebuah ruangan tempat Rian dirawat, dari kaca pintu terpampang jelas wajah Rian yg sedang tidur sendirian, kasian si Rian lagi sakit gini malah gak ada yg ngerawat, ucapku dalam hati. Kemudian ku letakkan ransel bawaan ku di kursi, lalu aku duduk disamping Rian yg sedang tertidur pulas, terlihat jelas wajahnya yg polos dan lucu. Ku raih tangan kanan Rian yg tergeletak di ranjang.
"Yan, cepet sembuh yaa, kok kamu gak bilang sih kalo kamu habis kecelakaan", aku bicara sendiri sambil memegangi tangan nya.
Oh iya aku lupa mengabari Tomy kalo aku sudah sampai di rumah sakit dengan selamat. Segera ku ketik sebuah pesan singkat menyampaikan bahwa aku sudah disini, disisi sahabat baik ku yg sedang sakit.
"Klakk...", pintu kamar terbuka.
"Eh Leya, kapan datang?", ucap Ibu Rian sambil menutup kembali pintu.
"Baru aja sampe tante, hehe"
"Naik apa kamu kesini? Udah makan belum kamu nak?", sambil meletakan tas plastik cukup besar diatas meja.
"Belum tante, gak sempet makan langsung kesini soalnya, khawatir banget abis denger Rian kecelakaan", jawabku.
Ibu nya Rian mengajakku untuk makan bersamanya, tanpa menunggu lama langsung ku santap makanan yg di suguhkan dengan lahapnya. Beliau sambil menceritakan kronologis kejadian kecelakaan Rian, ternyata Rian jadi korban tabrak lari dari sebuah truk saat pulang sekolah, membuat tulang kaki kiri nya retak dan harus menjalani serangkaian terapi selepas sembuh nanti. Kasian banget Rian harus menghadapi bencana kayak gini.
"Maa...", Rian terbangun dari tidurnya, mungkin karena terganggu dengan suara kami yg asyik mengobrol.
"Nahh Rian udah bangun, mau makan nak?, coba liat siapa yg datang ini", ucap Ibu Rian.
"Siapa ma..., eh.. loh.. Leya?", sambil mengucek matanya rasa tak percaya.
"Halo Yan, aku disini buat kamu hihi", aku tersenyum menatapnya.
Rian meneteskan air mata, mungkin ia terharu karena aku rela jauh-jauh datang kesini cuma buat nengok dia yg sedang sakit. Sempat ku cubit tangan nya karena kesal di bohongin, tapi hanya sebagai rasa khawatirku saja dengan keadaan nya.
"Untunglah Yan kamu gak apa-apa", ucapku.
"Aduh kamu Ley, kaki ku diperban gini kamu bilang gak apa-apa?, tega kamu"
"Ya kan masih untung kamu gini, jadi bisa ketemu aku sekarang", canda ku sambil mengusap-usap kepalanya.
"Awas kamu Ley kalo aku udah sembuh, terus terus aja berantakin rambutku, tar ku bales jangan nangis", Rian mulai emosi.
"Ehh anak-anak, jangan pada ribut disini, ingat ini rumah sakit, emang yaa si Rian cocok nya sama Aleya, klop banget deh pasti cepet sembuh", Ibu rian tersenyum melihat tingkah kami.
Pertemuan siang itu mengantarkan kami pada cerita-cerita nostalgia, aku duduk disamping ranjang Rian, sambil berbagi cerita lama yg lucu, kocak dan penuh kenangan. Rasanya ingin mengulang lagi masa-masa indah itu, masa dimana gak ada duka, hanya ada ceria setiap hari dikelilingi oleh sahabat terbaik di dunia.
Ditengah perbincangan kami, tiba-tiba Rian bertanya, "Ley, gimana pacarmu? Apa dia gak marah kamu jauh-jauh kesini cuma buat nengokin aku?".
Kujelaskan pada Rian bahwa aku ada disini sekarang itu semua atas izin dari Tomy, dan dia titip salam buat Rian.
"Masa sih?", Rian rasa tak percaya.
"Beneran... liat nih muka ku emang aku bo'ong?"
"Gak usah dijelek-jelekin muka nya udah jelek dari orok", sambil mencubit pipiku.
"Ih ih, Yaaann!! Sakiit!"
"Hus huss ini anak-anak susah banget di kasih tau orang tua", kata Ibu Rian.
Kami cekikikan sebentar lalu langsung diam, sejenak ditengah diam aku melamun, entah memikirkan apa.
"Kenapa Ley? Ada masalah?, Rian meraih tanganku.
"Mmmh... engga Yan gak papa, gak tau ngelamun sendiri", kulemparkan senyuman pada Rian biar dia percaya kalo aku gak mikirin apa-apa.
"Ini... muka ini gak bisa bo'ong kalo ada masalah", sambil mengusap-usap dahiku.
Iya sih, setiap aku ada masalah pasti teman-teman bisa tau tanpa ku kasih tau ada masalah apa. Apa begitu jelas terlihat ya?
"Ley, kamu gak mau nengok Ibu mu?", tanya Rian. Membuatku terdiam seakan menyadari apa yg barusan ku lamunkan.
"Ntar aja Yan, aku mau temenin kamu dulu sampe sembuh pokoknya"
"Gak boleh gitu dong, kamu ingat kan? Keluarga itu nomer satu..."
"Iya Leya, bener kata Rian, mending kamu jenguk dulu deh ibu kamu mumpung tante ada disini nemenin Rian"
Apa iya sekarang aku harus kesana? Bukannya males sih, cuman aku masih ada rasa trauma yg gak hilang dalam hati, walau orang tua ku sudah lama berpisah. Entah kenapa perasaan itu masih ada dan membekas.
Diubah oleh alealeya 15-07-2017 00:36
Nikita41 dan 8 lainnya memberi reputasi
9





