- Beranda
- Stories from the Heart
Sonne Mond und Stern
...
TS
glitch.7
Sonne Mond und Stern
die SONNE der MOND und der STERN
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Waktu yang telah kita lalui
Buatmu jadi lebih berarti
Luluhkan kerasnya dinding hati
Engkaulah satu yang aku cari
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku
Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku
Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku
Kau menenangkanku,Kau melegakan aku.
Tak Lagi Sama - Noah
Spoiler for Cover Stories:
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 95% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahdan lanjutan dari sebuah cerita Love in Elegy yang pernah Gua tulis di Forum ini.
Quote:
Versi PDF Dua Thread Sebelumnya :

*mulustrasi karakter dalam cerita ini
Quote:
*thanks to my brother in law yang bantu index dan update selama gua mudik
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 239 suara
Siapakah pendamping Eza sebenarnya ?
Sherlin Putri Levanya
55%
Franziska Luna Katrina
17%
Giovanna Almira
28%
Diubah oleh glitch.7 08-01-2022 09:16
ezzasuke dan 126 lainnya memberi reputasi
123
1.9M
8.8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
glitch.7
#454
PART 2
Sekarang sudah memasuki waktu pulang kerja, sekitar pukul setengah lima gua merapihkan meja kerja lalu berjalan keluar ruangan. Beberapa karyawan divisi lainnya sudah berbenah untuk pulang. Seperti tadi pagi, gua melewati ruang kerja accounting dan melihat sosok gadis cantik nan baik hati. Giovanna Almira.
"Udah mau pulang Ann ?", gua berdiri di ambang pintu.
Giovanna menengok kearah pintu sambil membereskan meja kerjanya. "Eh Mas Eza... Iya Mas, baru selesai ini kerjaannya...", jawabnya sambil tersenyum.
Gua berjalan memasuki ruangan tersebut dan berdiri di samping meja kerja Fitri. Di ruangan ini masih ada Fitri yang menjabat sebagai head of accounting, kemudian satu karyawan lain yang bernama Rini, bawahan Fitri. Dan tambah satu lagi, karyawan baru yang tidak lain adalah Giovanna.
"Hai Fit...", sapa gua lalu melirik ke meja sebrangnya. "Hai Rin...".
"Hai Mas Eza...", sapa kedua karyawan cantik itu.
"Udah pada beres kerjaannya ?", tanya gua basa-basi.
"Iya udah Mas, ini kita lagi beberes mau pulang", jawab Fitri sambil memasukan blackberry nya ke dalam saku blazer. "Mas saya duluan ya, mari...", lanjutnya seraya berdiri lalu berjalan bersama Rini setelah sebelumnya tersenyum.
"Duluan ya Mas Eza", ucap Rini lalu gua menganggukan kepala dan tersenyum.
"Pulang sekarang Ann ?", tanya gua ramah.
Anna menganggukan kepalanya. "Iya, Mas.. Kamu juga mau pulangkan ?", tanyanya balik.
"Yap, bareng kebawahnya ya..", ajak gua.
Kami berdua berjalan keluar ruangan, lalu Giovanna menutup pintu ruang accounting itu dan barulah kami berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.
"Pulang dijemput atau bawa kendaraan Ann ?", tanya gua ketika kami masih berjalan menuju pintu keluar restoran.
"Aku bawa kendaraan sendiri sih Mas..", jawabnya sambil memegangi tas kerja yang ia apit di depan tubuhnya.
"Ooh.. Bawa mobil ?".
Giovanna menengok kepada gua dan tersenyum sambil mengangguk.
Okey, rasanya gua perlu melihat sendiri kalau dia memang benar membawa mobil ke tempat kerja. Kami sampai di parkiran kendaraan khusus karyawan dan gua berdiri terpaku ketika sampai di depan mobil milik Giovanna.
"Mas... Mmm.. Kamu mau pulang bareng ? Atau..?", tanyanya ragu setelah membalikan badan kearah gua.
"Ehm... Ann.. Kamu buru-buru gak ?", tanya gua balik.
"Emang kenapa Mas ?".
"Kalo kamu gak ada acara sore ini, ada yang mau aku omongin... Tapi kalo ada acara...".
"Aku enggak ada acara kok", jawabnya cepat memotong omongan gua.
Gua tersenyum lebar yang langsung membuat Giovanna menunduk malu dan melirik lagi kepada gua sambil tersenyum.
"Maaf, Mas... Maksud aku, aku free sore ini..", nada suaranya nyaris tidak terdengar.
...
Sore ini langit cukup cerah, tidak nampak akan hujan seperti kemarin malam. Ibu kota Jakarta memang selalu padat kendaraan, beberapa pengguna jalan raya di depan sana sudah mulai tidak sabar dengan kemacetan yang terjadi. Bunyi bising deru mesin roda empat ditambah suara klakson sudah menjadi nyanyian wajib di waktu jam pulang kantor seperti sekarang. Tapi itu semua tidak membuat gua terusik, karena apa yang sedang dialami orang-orang itu berbeda dengan kondisi gua saat ini.
Gua duduk didepan gerobak mie ayam pinggir jalan bersama seorang gadis remaja cantik bernama Giovanna di samping gua pada bangku plastik sederhana. Kami berdua baru saja menghabiskan masing-masing satu porsi mie ayam tersebut. Gua menaruh piring dibawah bangku lalu berdiri dan membeli dua botol air kemasan.
"Ini minumnya Ann...", Gua memberikan satu botol air kemasan kepadanya.
"Makasih Mas...", jawabnya seraya menerima minuman dingin.
Gua kembali duduk dan meminum air mineral untuk gua sendiri. Barulah gua mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemeja dan mengambil sebatang rokok untuk kemudian gua nikmati setiap racun yang memasuki paru-paru ini.
"Umur kamu tujuh belas Ann ?", tanya gua sambil mengehembuskan asap rokok kesamping.
"Iya Mas, tapi bulan depan udah delapan belas sih..", jawabnya setelah meminum air kemasan tersebut.
"Hmm.. Pantes udah punya sim ya..", lanjut gua.
"Mmm.. Kenapa gitu Mas ?".
Gua tersenyum. "Enggak apa-apa sih... Oh ya, kamu tiap pulang pergi kerja lewat jalan tol ?".
"Iya, biasanya aku berangkat subuh dari rumah", Giovanna menaruh botol minumannya di bawah. "Mas.. Apa yang kamu mau omongin tadi ?", tanyanya melirik lagi kepada gua.
"Mmm... Ah bukan apa-apa sih hahaha...", gua merasa tidak enak untuk membicarakan hal ini sebenarnya.
"Ada apa Mas ? Kalo aku ada salah soal kerjaan bil...".
"Oh bukan, ehm.. Ini bukan soal kinerja kamu Ann..". Gua menghisap rokok lalu kembali menghembuskan asapnya kesamping.
"Terus ?".
"Maaf ya Ann, tapi aku harap kamu paham..",
"Ini soal mobil yang kamu pakai".
"Mobil ?".
Gua tersenyum ramah lalu menganggukan kepala kepadanya. "Iya, mmm.. Ini sebenarnya hak kamu sebagai karyawan dan aku tau enggak berhak untuk mengatur-ngatur masalah ini, tapi...", gua kembali menghisap rokok dalam-dalam.
Giovanna masih diam dan menunggu penjelasan gua.
"Tapi maaf Ann, mungkin kamu bisa ganti mobil kah ? Maksud aku, kamu pasti punya mobil lain dirumah kan ?".
Giovanna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Mas maaf, aku gak paham, maksudnya apa ya Mas nanya soal kendaraan pribadi aku ? Atau maksudnya Mas ingin tau keluargaku punya berapa kendaraan gitu ?".
"Bukan, bukan gitu... Gini, aku ngerasa gak enak dan pasti kamu pun akan ngerasa gak enak kalau sampai ada yang cemburu dengan kamu...".
"Cemburu ? Aduh Mas maaf, aku tambah gak ngerti deh, bisa tolong to the point...?".
Gua terkekeh pelan. "Aku minta tolong sama kamu untuk jangan bawa mobil jaguar kamu itu lagi ke tempat kerja... Karena akan ada kecemburuan sosial dari karyawan lain melihat karyawan baru yang masih berumur dibawah dua puluh tahun udah memiliki barang semewah itu...", gua kembali menghisap rokok dan kali ini membuang puntungnya kebawah lalu mematikan rokok tersebut dengan menginjaknya sambil menghembuskan asap rokok kebawah sana.
"Udah mau pulang Ann ?", gua berdiri di ambang pintu.
Giovanna menengok kearah pintu sambil membereskan meja kerjanya. "Eh Mas Eza... Iya Mas, baru selesai ini kerjaannya...", jawabnya sambil tersenyum.
Gua berjalan memasuki ruangan tersebut dan berdiri di samping meja kerja Fitri. Di ruangan ini masih ada Fitri yang menjabat sebagai head of accounting, kemudian satu karyawan lain yang bernama Rini, bawahan Fitri. Dan tambah satu lagi, karyawan baru yang tidak lain adalah Giovanna.
"Hai Fit...", sapa gua lalu melirik ke meja sebrangnya. "Hai Rin...".
"Hai Mas Eza...", sapa kedua karyawan cantik itu.
"Udah pada beres kerjaannya ?", tanya gua basa-basi.
"Iya udah Mas, ini kita lagi beberes mau pulang", jawab Fitri sambil memasukan blackberry nya ke dalam saku blazer. "Mas saya duluan ya, mari...", lanjutnya seraya berdiri lalu berjalan bersama Rini setelah sebelumnya tersenyum.
"Duluan ya Mas Eza", ucap Rini lalu gua menganggukan kepala dan tersenyum.
"Pulang sekarang Ann ?", tanya gua ramah.
Anna menganggukan kepalanya. "Iya, Mas.. Kamu juga mau pulangkan ?", tanyanya balik.
"Yap, bareng kebawahnya ya..", ajak gua.
Kami berdua berjalan keluar ruangan, lalu Giovanna menutup pintu ruang accounting itu dan barulah kami berjalan menuruni tangga menuju lantai satu.
"Pulang dijemput atau bawa kendaraan Ann ?", tanya gua ketika kami masih berjalan menuju pintu keluar restoran.
"Aku bawa kendaraan sendiri sih Mas..", jawabnya sambil memegangi tas kerja yang ia apit di depan tubuhnya.
"Ooh.. Bawa mobil ?".
Giovanna menengok kepada gua dan tersenyum sambil mengangguk.
Okey, rasanya gua perlu melihat sendiri kalau dia memang benar membawa mobil ke tempat kerja. Kami sampai di parkiran kendaraan khusus karyawan dan gua berdiri terpaku ketika sampai di depan mobil milik Giovanna.
"Mas... Mmm.. Kamu mau pulang bareng ? Atau..?", tanyanya ragu setelah membalikan badan kearah gua.
"Ehm... Ann.. Kamu buru-buru gak ?", tanya gua balik.
"Emang kenapa Mas ?".
"Kalo kamu gak ada acara sore ini, ada yang mau aku omongin... Tapi kalo ada acara...".
"Aku enggak ada acara kok", jawabnya cepat memotong omongan gua.
Gua tersenyum lebar yang langsung membuat Giovanna menunduk malu dan melirik lagi kepada gua sambil tersenyum.
"Maaf, Mas... Maksud aku, aku free sore ini..", nada suaranya nyaris tidak terdengar.
...
Sore ini langit cukup cerah, tidak nampak akan hujan seperti kemarin malam. Ibu kota Jakarta memang selalu padat kendaraan, beberapa pengguna jalan raya di depan sana sudah mulai tidak sabar dengan kemacetan yang terjadi. Bunyi bising deru mesin roda empat ditambah suara klakson sudah menjadi nyanyian wajib di waktu jam pulang kantor seperti sekarang. Tapi itu semua tidak membuat gua terusik, karena apa yang sedang dialami orang-orang itu berbeda dengan kondisi gua saat ini.
Gua duduk didepan gerobak mie ayam pinggir jalan bersama seorang gadis remaja cantik bernama Giovanna di samping gua pada bangku plastik sederhana. Kami berdua baru saja menghabiskan masing-masing satu porsi mie ayam tersebut. Gua menaruh piring dibawah bangku lalu berdiri dan membeli dua botol air kemasan.
"Ini minumnya Ann...", Gua memberikan satu botol air kemasan kepadanya.
"Makasih Mas...", jawabnya seraya menerima minuman dingin.
Gua kembali duduk dan meminum air mineral untuk gua sendiri. Barulah gua mengeluarkan sebungkus rokok dari saku kemeja dan mengambil sebatang rokok untuk kemudian gua nikmati setiap racun yang memasuki paru-paru ini.
"Umur kamu tujuh belas Ann ?", tanya gua sambil mengehembuskan asap rokok kesamping.
"Iya Mas, tapi bulan depan udah delapan belas sih..", jawabnya setelah meminum air kemasan tersebut.
"Hmm.. Pantes udah punya sim ya..", lanjut gua.
"Mmm.. Kenapa gitu Mas ?".
Gua tersenyum. "Enggak apa-apa sih... Oh ya, kamu tiap pulang pergi kerja lewat jalan tol ?".
"Iya, biasanya aku berangkat subuh dari rumah", Giovanna menaruh botol minumannya di bawah. "Mas.. Apa yang kamu mau omongin tadi ?", tanyanya melirik lagi kepada gua.
"Mmm... Ah bukan apa-apa sih hahaha...", gua merasa tidak enak untuk membicarakan hal ini sebenarnya.
"Ada apa Mas ? Kalo aku ada salah soal kerjaan bil...".
"Oh bukan, ehm.. Ini bukan soal kinerja kamu Ann..". Gua menghisap rokok lalu kembali menghembuskan asapnya kesamping.
"Terus ?".
"Maaf ya Ann, tapi aku harap kamu paham..",
"Ini soal mobil yang kamu pakai".
"Mobil ?".
Gua tersenyum ramah lalu menganggukan kepala kepadanya. "Iya, mmm.. Ini sebenarnya hak kamu sebagai karyawan dan aku tau enggak berhak untuk mengatur-ngatur masalah ini, tapi...", gua kembali menghisap rokok dalam-dalam.
Giovanna masih diam dan menunggu penjelasan gua.
"Tapi maaf Ann, mungkin kamu bisa ganti mobil kah ? Maksud aku, kamu pasti punya mobil lain dirumah kan ?".
Giovanna tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. "Mas maaf, aku gak paham, maksudnya apa ya Mas nanya soal kendaraan pribadi aku ? Atau maksudnya Mas ingin tau keluargaku punya berapa kendaraan gitu ?".
"Bukan, bukan gitu... Gini, aku ngerasa gak enak dan pasti kamu pun akan ngerasa gak enak kalau sampai ada yang cemburu dengan kamu...".
"Cemburu ? Aduh Mas maaf, aku tambah gak ngerti deh, bisa tolong to the point...?".
Gua terkekeh pelan. "Aku minta tolong sama kamu untuk jangan bawa mobil jaguar kamu itu lagi ke tempat kerja... Karena akan ada kecemburuan sosial dari karyawan lain melihat karyawan baru yang masih berumur dibawah dua puluh tahun udah memiliki barang semewah itu...", gua kembali menghisap rokok dan kali ini membuang puntungnya kebawah lalu mematikan rokok tersebut dengan menginjaknya sambil menghembuskan asap rokok kebawah sana.
***
Satu bulan telah berlalu, kedekatan antara gua dan Giovanna berjalan apa adanya, tidak lebih dari sekedar rekan kerja, lebih dari itu hanya sebagai atasan dan bawahan. Diluar pekerjaan gua menganggap Giovanna sebagai adik gua sendiri. Bagaimanapun dia adalah adik dari sahabat gua, jadi rasanya untuk menjaga Giovanna dalam arti sebenarnya bukanlah hal yang berlebihan. Walaupun gosip di restoran mulai berkembang biak, tapi semua itu tidak terlalu gua pusingkan, karena akhirnya gua sendiri yang mengatakan kepada karyawan lain bahwa Giovanna adalah saudara gua sendiri.
Hari ini ada meeting bulanan, karena restoran di Ibu Kota adalah cabang pertama dan pusatnya di kota gua tinggal, maka meeting evaluasi pun diselenggarakan di restoran pusat. Gua baru saja selesai mengenakan pakaian dan turun dari tangga lantai dua rumah menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama keluarga.
"Sarapan Za..", ucap Ibu gua itu sambil menata piring makan bersama Bibi (art) yang membantunya.
"Iya Bu...", gua menarik kursi dan duduk di depan meja makan lalu mengambil satu lembar roti.
"Mau teh manis atau kopi, Pak ?", tanya Bibi.
"Kopi aja Bi...", jawab gua kali ini sambil memberikan selai cokelat pada roti.
"Pagi-pagi ngopi, nanti mules kamu punya perut loch, Za...", ucap Ibu gua yang kali ini sudah duduk di sebrang.
"Hehehe.. Daripada nyabu".
Ibu gua itu langsung melotot kepada anak lelakinya ini. "Nyarap bubur maksudnya, hahaha...", iseng kepada sosok Mba Laras memang sudah sering gua lakukan.
"Dasar kamu tuh...",
"Oh ya, Fitri udah diingetin hari ini kalau ada meeting bulanan di pusat Za ?", tanya ibu gua sambil memotong roti diatas piring makannya.
"Udahff Bwuu...", jawab gua sambil mengunyah roti.
"Heh, telen dulu makanannya ah...".
Gleuk...Roti tertelan. "Heheh, iya...",
"Aku juga udah bilang kalo laporan keuangan dan segala bahan bahasan hari ini dibawa...", lanjut gua.
"Oh syukur deh.. Hm satu lagi, Papahnya Luna datang juga hari ini Za...".
"Loch ? Papahnya Luna ? Kok Ibu baru bilang ?", tanya gua cukup terkejut.
"Ibu juga baru dikabari kemarin sore, mau cerita sama kamu tadi malam tapi kamu larut banget pulangnya, emang dari mana kamu semalam ?", tanyanya balik.
"Abis dari rumah Nenek, rumah temen sih, nongkrong sama temen-temen komplek, tadinya malah mau nginep di Nenek dulu...", jawab gua.
"Misi Pak, ini kopinya".
"Makasih Bi..".
"Oh.. Nah iya soal Papahnya Luna yang ikut meeting kali ini karena mau bahas soal restoran di Bandung itu", lanjut Ibu gua.
"Hmm... Emang jadi kita mau buka cabang disana ?".
"Makanya hari ini mau dibahas, dia juga mau liat laporan a sampai z disetiap cabang Za".
"Ah gak perlu liat laporan kalo dia mau gelontorin dananya ya buka aja, hehehe...", jawab gua asal.
"Ya gak bisa gitu dong Za, gimanapun dia punya saham istilahnya di restoran kamu. Jadi dia harus tau juga perkembangan setiap cabang, dan nanti dari laporan itu bisa dilihat apakah bisa kita buka cabang baru atau enggak...".
"Ya ya ya... Ngomong-ngomong manager yang di Bali siapa namanya ?".
"Silvi... Oh ya, dia udah datang dari kemarin, nginep di hotel deket restoran yang di sebrang itu...", jawabnya.
"Oh perempuan, aku baru tau... Asli orang Bali ?".
"Bukan, dia temennya Luna, emang Ibu belum cerita ya ?".
"Belum ah...".
"Yaudah nanti sekalian dikenalin di meeting, abisin makanannya Za, udah jam berapa tuh...", Ibu gua beranjak dari duduknya lalu membawa piring kotor ke dapur.
...
Blazer putih dengan garis hitam dipinggir membalut kemeja putih, jilbab modis berwarna hitam serta celana panjang berwarna senada dengan jilbabnya itu membuat Ibu gua sangat terlihat cantik. Ah ya, dia memang cantik disetiap harinya. Modis dan kekinian, up to date soal fashion seperti wanita pada umumnya.
Gua duduk bersama Ibu gua di bangku belakang dalam mobil pribadi milik Ibu gua itu, seorang supir pribadi yang telah lama bekerja untuknya baru saja menekan tombol play pada music player mobil ini. Lantunan lagu jazz yang terdengar asyik ditelinga kami menemani perjalanan ke arah jalan protokol, dimana restoran utama berada.
"Bu, aku mau beli mobil baru...", ucap gua tiba-tiba ketika mobil ikut berhenti bersama kendaraan lain saat lampu lalu-lintas berwarna merah.
"Hm ? Why ? Ooh.. Mobil Almarhumah udah cukup lama ya ?".
"Bukan.. Bukan untuk aku, tapi untuk dia..", jawab gua.
"Emang rencananya mau beli mobil apa ?".
"Sedan aja kayaknya, tapi belum tau sedan apa... Aku kurang sreg dia pake mobilnya itu, agak gak pas aja diliatnya hehehe...".
"Hmmm.. Ya kamu main aja ke showroom untuk liat-liat dulu... Memang mobilnya yang lama gak enak diliat kenapa sih ? Ibu rasa bagus ah...".
Gua terkekeh pelan. "Ya maksudnya buat aku juga gitu hehehehe... Biar sekalian..".
"Dasar... Eh sebentar, dia mau ulang tahun kan sebentar lagi ?".
"Yap... Maka dari itulah, momennya pas toh ?".
Ibu gua tersenyum lalu mengangguk. "Sureprise ya.. Oke lah..", jawabnya sambil mengerlingkan satu mata.
...
Meeting bulanan telah selesai, beberapa orang serta satu manager cabang restoran di Bali pun sudah keluar ruangan. Tinggal empat wanita dan dua lelaki yang masih berada di dalam ruangan.
Gua memutar-mutar blackberry diatas meja sambil menunggu seorang lelaki paruh baya asal Jerman selesai membaca laporan dari Ibu direktur. Bosan rasanya daritadi duduk di dalam sini.
"Fit..", gua masih memutar blackberry tanpa menoleh.
"Ya, Mas ?".
"Bosen yak.. Maen batu gunting kertas yuk ?".
"Hihihi... Ada-ada aja Mas Eza...", jawabnya sambil terkekeh pelan sekali.
"Okey.. I think we can't open a new resto...". Suara beratnya itu terdengar nyaring. "Dari apa yang sudah saya lihat dalam laporan tiga bulan terakhir saya mengurungkan niat untuk menyuntikkan dana lagi...", lanjutnya kali ini sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi.
Siapa juga Pak yang minta dana bantuan dan ingin buka cabang baru. Ucap gua dalam hati.
"Memang progres dan laporan keuangan cabang di Jakarta mulai menunjukkan kenaikan grafik... Sama halnya dengan yang di Bali...".
"Tapi, mmm.. Saya butuh beberapa bulan lagi untuk melihat peningkatan income agar pada saat nanti kita buka cabang di Bandung, kamu bisa melepas cabang di Jakarta...", ucap Beliau melirik kepada gua.
"Melepas ?", tanya gua heran.
"Oh maksud saya pindah...", ralatnya.
"Maaf... Tanpa mengurangi rasa hormat, saya owner restoran ini... Ya walaupun sekarang jabatan saya manager cabang. Tapi rasanya hak saya masih cukup besar untuk menentukan dimana saya memilih sendiri cabang yang akan saya pegang...", jawab gua penuh penekanan.
"Maksud saya, kamu kan masih belajar managerial usaha ini Za, sambil meningkatkan kinerja kamu di Jakarta sekarang, nanti kamu bisa pegang cabang di Bandung kalo sudah fix kita buka restoran baru lagi..", ucap Papahnya Luna lagi sambil tersenyum.
"Enggak ada salahnya juga kok Za, hitung-hitung nambah pengalaman", timpal sang anak sulungnya itu yang duduk disamping sang Papah.
"Gini, saya sendiri belum ingin membuka cabang baru lagi. Dari tiga restoran yang sekarang sudah berdiri, dua restoran masih tergolong baru dan belum menunjukkan progres yang baik seperti di pusat ini, seperti yang anda bilang tadi. Jadi fokus kedua cabang adalah pilihan yang baik saat ini. Perihal nanti bagaimana kita akan membuka cabang lagi akan dibahas pada meeting tiga bulan kedepan Pak...", jelas gua memberikan penekanan bahwa meeting hari ini rasanya sudah cukup.
"Okey, pastikan tiga bulan kedepan kamu sudah profesional dan cukup bekal untuk me-manage restoran ini...", tandas Papahnya Luna yang sekaligus rekan bisnis gua.
"Saya undur diri duluan kalau begitu, sudah waktu jam makan siang jugakan.. Jangan lupa makan siang kawan-kawan...", ucap gua sambil berdiri dengan tertawa pelan. "Ayo Fit..", ajak gua kepada Fitri.
"Eh..ii..iya Mas...".
...
Gua dan Fitri sudah keluar ruangan meeting, sedangkan Ibu direktur yang sekaligus Ibu gua bersama sekretaris pribadinya, serta anak sulung dan sang Papah masih berada di dalam sana. Gua berjalan menuju lift lantai tiga ini bersama Fitri.
"Bosen gak Fit makan menu restoran terus ?", tanya gua ketika kami berdua sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai satu.
"Ah ? Mmm.. Enggak kok Mas, alhamdulillah masih dapet makan siang dari kerjaan... Hihihi...", jawabnya.
"Ah eum Ah eum aja kamu, bilang aja bosen... Hahaha... Gak usah sungkan, aku aja bosen kadang...", timpal gua.
"Ya bukan gitu sih maksudnya Mas... Cuma alhamdulillah aku bersyukur masih dapet rejeki berupa makan siang gratis dari tempat kerja", jawabnya dengan nada yang halus.
Gua tersenyum mendengar jawabannya. Fitri adalah karyawan lama yang sudah bekerja di restoran, dia sudah bekerja selama empat tahun dan pernah menjabat sebagai sekretaris Ibu gua saat masih ditempatkan di restoran pusat. Pilihan tepat ketika gua memulai terjun langsung untuk me-manage restoran cabang di Jakarta, Ibu gua menunjuk Fitri sebagai head of accounting sekaligus membantu gua yang masih belajar manajerial restoran ini, tentunya selain Nisa.
"Mau makan dimana Fit ?", tanya gua setelah kami sampai di lantai satu.
"Terserah Mas Eza aja...".
"Kamu mau makan masakan sunda ?".
"Boleh Mas...".
"Sip, aku lagi pingin makan sayur asem...".
...
Gua dan Fitri makan di rumah makan khas sunda, cukup jauh dari restoran gua itu. Setelah mengambil beberapa menu yang memang disajikan secara prasmanan, kami berdua duduk lesehan di dalam rumah makan ini.
"Gimana soal pernikahan kamu Fit ?, katanya bulan depan... Kok belum urus cuti ?", tanya gua disela-sela makan siang ini.
"Alhamdulillah Mas, baru aja selesai cetak kartu undangan... Soal cuti, ehm.. Aku urus minggu depan ya Mas, jangan di pending.. Hihihi...", jawabnya.
"Tergantung lah...".
"Tergantung apa Mas ?".
"Kerjaan kamu numpuk enggak ? Kalo numpuk ya berarti tanggal pernikahan kamu yang diundurlah... Hahahaha....", canda gua.
"Iiih jangan dong Mas, aku udah cetak kartu undangan, tanggalnya udah pasti... Tenang aja, aku udah selesain semua kerjaan kok, nanti sisanya Rini yang handle...", jawabnya sedikit khawatir.
"Hehehe iya iya, by the way Rini beneran udah bisa back up you punya kerjaan tuh ? Aku cuma gak mau selama kamu cuti ada problem yang gak bisa dia handle... Atau aku minta orang pusat gantiin kamu sementara waktu ya ?".
"Mmm.. Ya terserah Mas Eza, kalo maunya Mas Eza manggil orang pusat, tapi so far kerjaan Rini zero mistake selama ini... She's good for this one...".
"Okey deh, liat nanti aja kalo gitu, lagipula ada Giovanna juga kan yang bisa bantuin Rini...", lanjut gua sambil membersihkan bibir dengan tissue.
"Iya Mas... Alhamdulillah Anna sejauh ini cepet belajar dan bisa nyelesain beberapa kerjaan sendiri... Cepet adaptasi juga loch... Supel orangnya".
"Ekselenteee... Baguslah".
"Ehm... Excellent apanya nih Mas ? kerjaannya atauuu...", Fitri tersenyum jahil melirik gua.
"Semuanya deh, biar puas kamu... Hahahaha".
"Hihihihi dasar iih..".
Tidak lama kami pun beranjak dari rumah makan ini setelah gua membayar makanan kami.
Gua dan Fitri kembali ke restoran untuk menemui Ibu direktur. Singkat cerita gua sudah duduk di sofa dalam ruangan yang nyaman dengan dinding yang penuh dengan karya seni lukisan bertema makanan.
"Kamu tuh gimana sih Za, masa dikasih kesempatan sama Papahnya Luna malah gitu jawabannya...", ucap Ibu gua dari balik meja kerjanya.
"Huuftt... Bu...".
"Apa ?".
"Aku atau dia owner restoran ini ?".
Hari ini ada meeting bulanan, karena restoran di Ibu Kota adalah cabang pertama dan pusatnya di kota gua tinggal, maka meeting evaluasi pun diselenggarakan di restoran pusat. Gua baru saja selesai mengenakan pakaian dan turun dari tangga lantai dua rumah menuju ruang makan untuk sarapan pagi bersama keluarga.
"Sarapan Za..", ucap Ibu gua itu sambil menata piring makan bersama Bibi (art) yang membantunya.
"Iya Bu...", gua menarik kursi dan duduk di depan meja makan lalu mengambil satu lembar roti.
"Mau teh manis atau kopi, Pak ?", tanya Bibi.
"Kopi aja Bi...", jawab gua kali ini sambil memberikan selai cokelat pada roti.
"Pagi-pagi ngopi, nanti mules kamu punya perut loch, Za...", ucap Ibu gua yang kali ini sudah duduk di sebrang.
"Hehehe.. Daripada nyabu".
Ibu gua itu langsung melotot kepada anak lelakinya ini. "Nyarap bubur maksudnya, hahaha...", iseng kepada sosok Mba Laras memang sudah sering gua lakukan.
"Dasar kamu tuh...",
"Oh ya, Fitri udah diingetin hari ini kalau ada meeting bulanan di pusat Za ?", tanya ibu gua sambil memotong roti diatas piring makannya.
"Udahff Bwuu...", jawab gua sambil mengunyah roti.
"Heh, telen dulu makanannya ah...".
Gleuk...Roti tertelan. "Heheh, iya...",
"Aku juga udah bilang kalo laporan keuangan dan segala bahan bahasan hari ini dibawa...", lanjut gua.
"Oh syukur deh.. Hm satu lagi, Papahnya Luna datang juga hari ini Za...".
"Loch ? Papahnya Luna ? Kok Ibu baru bilang ?", tanya gua cukup terkejut.
"Ibu juga baru dikabari kemarin sore, mau cerita sama kamu tadi malam tapi kamu larut banget pulangnya, emang dari mana kamu semalam ?", tanyanya balik.
"Abis dari rumah Nenek, rumah temen sih, nongkrong sama temen-temen komplek, tadinya malah mau nginep di Nenek dulu...", jawab gua.
"Misi Pak, ini kopinya".
"Makasih Bi..".
"Oh.. Nah iya soal Papahnya Luna yang ikut meeting kali ini karena mau bahas soal restoran di Bandung itu", lanjut Ibu gua.
"Hmm... Emang jadi kita mau buka cabang disana ?".
"Makanya hari ini mau dibahas, dia juga mau liat laporan a sampai z disetiap cabang Za".
"Ah gak perlu liat laporan kalo dia mau gelontorin dananya ya buka aja, hehehe...", jawab gua asal.
"Ya gak bisa gitu dong Za, gimanapun dia punya saham istilahnya di restoran kamu. Jadi dia harus tau juga perkembangan setiap cabang, dan nanti dari laporan itu bisa dilihat apakah bisa kita buka cabang baru atau enggak...".
"Ya ya ya... Ngomong-ngomong manager yang di Bali siapa namanya ?".
"Silvi... Oh ya, dia udah datang dari kemarin, nginep di hotel deket restoran yang di sebrang itu...", jawabnya.
"Oh perempuan, aku baru tau... Asli orang Bali ?".
"Bukan, dia temennya Luna, emang Ibu belum cerita ya ?".
"Belum ah...".
"Yaudah nanti sekalian dikenalin di meeting, abisin makanannya Za, udah jam berapa tuh...", Ibu gua beranjak dari duduknya lalu membawa piring kotor ke dapur.
...
Blazer putih dengan garis hitam dipinggir membalut kemeja putih, jilbab modis berwarna hitam serta celana panjang berwarna senada dengan jilbabnya itu membuat Ibu gua sangat terlihat cantik. Ah ya, dia memang cantik disetiap harinya. Modis dan kekinian, up to date soal fashion seperti wanita pada umumnya.
Gua duduk bersama Ibu gua di bangku belakang dalam mobil pribadi milik Ibu gua itu, seorang supir pribadi yang telah lama bekerja untuknya baru saja menekan tombol play pada music player mobil ini. Lantunan lagu jazz yang terdengar asyik ditelinga kami menemani perjalanan ke arah jalan protokol, dimana restoran utama berada.
"Bu, aku mau beli mobil baru...", ucap gua tiba-tiba ketika mobil ikut berhenti bersama kendaraan lain saat lampu lalu-lintas berwarna merah.
"Hm ? Why ? Ooh.. Mobil Almarhumah udah cukup lama ya ?".
"Bukan.. Bukan untuk aku, tapi untuk dia..", jawab gua.
"Emang rencananya mau beli mobil apa ?".
"Sedan aja kayaknya, tapi belum tau sedan apa... Aku kurang sreg dia pake mobilnya itu, agak gak pas aja diliatnya hehehe...".
"Hmmm.. Ya kamu main aja ke showroom untuk liat-liat dulu... Memang mobilnya yang lama gak enak diliat kenapa sih ? Ibu rasa bagus ah...".
Gua terkekeh pelan. "Ya maksudnya buat aku juga gitu hehehehe... Biar sekalian..".
"Dasar... Eh sebentar, dia mau ulang tahun kan sebentar lagi ?".
"Yap... Maka dari itulah, momennya pas toh ?".
Ibu gua tersenyum lalu mengangguk. "Sureprise ya.. Oke lah..", jawabnya sambil mengerlingkan satu mata.
...
Meeting bulanan telah selesai, beberapa orang serta satu manager cabang restoran di Bali pun sudah keluar ruangan. Tinggal empat wanita dan dua lelaki yang masih berada di dalam ruangan.
Gua memutar-mutar blackberry diatas meja sambil menunggu seorang lelaki paruh baya asal Jerman selesai membaca laporan dari Ibu direktur. Bosan rasanya daritadi duduk di dalam sini.
"Fit..", gua masih memutar blackberry tanpa menoleh.
"Ya, Mas ?".
"Bosen yak.. Maen batu gunting kertas yuk ?".
"Hihihi... Ada-ada aja Mas Eza...", jawabnya sambil terkekeh pelan sekali.
"Okey.. I think we can't open a new resto...". Suara beratnya itu terdengar nyaring. "Dari apa yang sudah saya lihat dalam laporan tiga bulan terakhir saya mengurungkan niat untuk menyuntikkan dana lagi...", lanjutnya kali ini sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu kursi.
Siapa juga Pak yang minta dana bantuan dan ingin buka cabang baru. Ucap gua dalam hati.
"Memang progres dan laporan keuangan cabang di Jakarta mulai menunjukkan kenaikan grafik... Sama halnya dengan yang di Bali...".
"Tapi, mmm.. Saya butuh beberapa bulan lagi untuk melihat peningkatan income agar pada saat nanti kita buka cabang di Bandung, kamu bisa melepas cabang di Jakarta...", ucap Beliau melirik kepada gua.
"Melepas ?", tanya gua heran.
"Oh maksud saya pindah...", ralatnya.
"Maaf... Tanpa mengurangi rasa hormat, saya owner restoran ini... Ya walaupun sekarang jabatan saya manager cabang. Tapi rasanya hak saya masih cukup besar untuk menentukan dimana saya memilih sendiri cabang yang akan saya pegang...", jawab gua penuh penekanan.
"Maksud saya, kamu kan masih belajar managerial usaha ini Za, sambil meningkatkan kinerja kamu di Jakarta sekarang, nanti kamu bisa pegang cabang di Bandung kalo sudah fix kita buka restoran baru lagi..", ucap Papahnya Luna lagi sambil tersenyum.
"Enggak ada salahnya juga kok Za, hitung-hitung nambah pengalaman", timpal sang anak sulungnya itu yang duduk disamping sang Papah.
"Gini, saya sendiri belum ingin membuka cabang baru lagi. Dari tiga restoran yang sekarang sudah berdiri, dua restoran masih tergolong baru dan belum menunjukkan progres yang baik seperti di pusat ini, seperti yang anda bilang tadi. Jadi fokus kedua cabang adalah pilihan yang baik saat ini. Perihal nanti bagaimana kita akan membuka cabang lagi akan dibahas pada meeting tiga bulan kedepan Pak...", jelas gua memberikan penekanan bahwa meeting hari ini rasanya sudah cukup.
"Okey, pastikan tiga bulan kedepan kamu sudah profesional dan cukup bekal untuk me-manage restoran ini...", tandas Papahnya Luna yang sekaligus rekan bisnis gua.
"Saya undur diri duluan kalau begitu, sudah waktu jam makan siang jugakan.. Jangan lupa makan siang kawan-kawan...", ucap gua sambil berdiri dengan tertawa pelan. "Ayo Fit..", ajak gua kepada Fitri.
"Eh..ii..iya Mas...".
...
Gua dan Fitri sudah keluar ruangan meeting, sedangkan Ibu direktur yang sekaligus Ibu gua bersama sekretaris pribadinya, serta anak sulung dan sang Papah masih berada di dalam sana. Gua berjalan menuju lift lantai tiga ini bersama Fitri.
"Bosen gak Fit makan menu restoran terus ?", tanya gua ketika kami berdua sudah berada di dalam lift untuk turun ke lantai satu.
"Ah ? Mmm.. Enggak kok Mas, alhamdulillah masih dapet makan siang dari kerjaan... Hihihi...", jawabnya.
"Ah eum Ah eum aja kamu, bilang aja bosen... Hahaha... Gak usah sungkan, aku aja bosen kadang...", timpal gua.
"Ya bukan gitu sih maksudnya Mas... Cuma alhamdulillah aku bersyukur masih dapet rejeki berupa makan siang gratis dari tempat kerja", jawabnya dengan nada yang halus.
Gua tersenyum mendengar jawabannya. Fitri adalah karyawan lama yang sudah bekerja di restoran, dia sudah bekerja selama empat tahun dan pernah menjabat sebagai sekretaris Ibu gua saat masih ditempatkan di restoran pusat. Pilihan tepat ketika gua memulai terjun langsung untuk me-manage restoran cabang di Jakarta, Ibu gua menunjuk Fitri sebagai head of accounting sekaligus membantu gua yang masih belajar manajerial restoran ini, tentunya selain Nisa.
"Mau makan dimana Fit ?", tanya gua setelah kami sampai di lantai satu.
"Terserah Mas Eza aja...".
"Kamu mau makan masakan sunda ?".
"Boleh Mas...".
"Sip, aku lagi pingin makan sayur asem...".
...
Gua dan Fitri makan di rumah makan khas sunda, cukup jauh dari restoran gua itu. Setelah mengambil beberapa menu yang memang disajikan secara prasmanan, kami berdua duduk lesehan di dalam rumah makan ini.
"Gimana soal pernikahan kamu Fit ?, katanya bulan depan... Kok belum urus cuti ?", tanya gua disela-sela makan siang ini.
"Alhamdulillah Mas, baru aja selesai cetak kartu undangan... Soal cuti, ehm.. Aku urus minggu depan ya Mas, jangan di pending.. Hihihi...", jawabnya.
"Tergantung lah...".
"Tergantung apa Mas ?".
"Kerjaan kamu numpuk enggak ? Kalo numpuk ya berarti tanggal pernikahan kamu yang diundurlah... Hahahaha....", canda gua.
"Iiih jangan dong Mas, aku udah cetak kartu undangan, tanggalnya udah pasti... Tenang aja, aku udah selesain semua kerjaan kok, nanti sisanya Rini yang handle...", jawabnya sedikit khawatir.
"Hehehe iya iya, by the way Rini beneran udah bisa back up you punya kerjaan tuh ? Aku cuma gak mau selama kamu cuti ada problem yang gak bisa dia handle... Atau aku minta orang pusat gantiin kamu sementara waktu ya ?".
"Mmm.. Ya terserah Mas Eza, kalo maunya Mas Eza manggil orang pusat, tapi so far kerjaan Rini zero mistake selama ini... She's good for this one...".
"Okey deh, liat nanti aja kalo gitu, lagipula ada Giovanna juga kan yang bisa bantuin Rini...", lanjut gua sambil membersihkan bibir dengan tissue.
"Iya Mas... Alhamdulillah Anna sejauh ini cepet belajar dan bisa nyelesain beberapa kerjaan sendiri... Cepet adaptasi juga loch... Supel orangnya".
"Ekselenteee... Baguslah".
"Ehm... Excellent apanya nih Mas ? kerjaannya atauuu...", Fitri tersenyum jahil melirik gua.
"Semuanya deh, biar puas kamu... Hahahaha".
"Hihihihi dasar iih..".
Tidak lama kami pun beranjak dari rumah makan ini setelah gua membayar makanan kami.
Gua dan Fitri kembali ke restoran untuk menemui Ibu direktur. Singkat cerita gua sudah duduk di sofa dalam ruangan yang nyaman dengan dinding yang penuh dengan karya seni lukisan bertema makanan.
"Kamu tuh gimana sih Za, masa dikasih kesempatan sama Papahnya Luna malah gitu jawabannya...", ucap Ibu gua dari balik meja kerjanya.
"Huuftt... Bu...".
"Apa ?".
"Aku atau dia owner restoran ini ?".
Quote:
*
*
*
*
*
Finally Home Sweet Home.... 

Diubah oleh glitch.7 12-07-2017 17:47
oktavp dan 5 lainnya memberi reputasi
6

