Battle Royal
Quote:
“aneh”, kataku
“aneh kenapa yang?”, tanya Luna
“ya cemburunya dia itu ga beralasan aja”, kataku
“aku punya alesan ko buat cemburu sama kamu”, kata Rathi
“Thi”, kata Luna
“biarin aku ngomong Lun”, kata Rathi
Suasana pun sudah mulai tidak nyaman.
“belum balik pak?”, tanya Abay yang baru keluar dari gerbang
“belum”, kataku
“lagi perang?”, bisik Abay
Akupun meliriknya sinis.
“et dah, udah sini temenin gua minum sih”, kata Abay menarikku ke warung
“Lun, cowo lu gua pinjem dulu!”, katanya setengah teriak
Akupun duduk di warung.
“ada apa?”, tanyaku
“ga apa-apa”, kata Abay
“ga usah ngeles lah Bay, ada apa?”, tanyaku lagi
“gua ada feeling ga enak sih, pas keluar ternyata bener lagi perang”, katanya tersenyum
Akupun melihat kearah Luna dan mereka masih ngobrol.
“lu liat aja Bay, mereka ga da masalah”, kataku
“mereka memang ga ada masalah tapi lu yang punya masalah”, katanya
“yang laen udah pada balik?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan
“belum, lagi pada di kantin sama lagi maen basket. Hari terakhir ujian ini, seneng-seneng lah dikit”, katanya sambil memberikan botol minuman padaku.
“traktir?”, tanyaku
“minum aja udah”, katanya
Kamipun ngobrol tentang hal tidak penting, tentang beberapa anak yang terkena kasus dan di skors, sampai membicarakan orang lewat di depan kami. Akupun sesekali melihat kea rah Luna, memastikan dia tidak kemana-mana. Saat sedang asik ngobrol, ada angkot yang berhenti di depan kami dan di dalamnya banyak anak-anak SMP lain, salah satu anak seperti melihat situasi, lalu angkot itu pergi. Tak lama angkot itu kembali, terus seperti itu sampai 4 kali. Akupun melihat ke arah Abay.
“nyantai aja, kita ga usah mulai”, katanya
Aku kenal seragam yang mereka gunakan, sekolah yang biasa tawuran dengan kami, tapi wajah mereka tak satu pun ada yang ku ingat, kemungkinan anak kelas 1 atau 2. Untuk ke 5 kalinya angkot berhenti di depan kami san 2 orang anak turun sambil memegang gesper. Aku melihat kea rah Luna, untungnya dia melihat ke arahku dan ku minta dia untuk masuk ke sekolah.
“ada apa bos?”, tanya Abay sambil berdiri
Mereka tidak menjawabnya. Abay pun mendekati mereka, sedangkan aku masih duduk menikmati minumanku. Angkot mereka agak menjauh, dan segerombolan anak SMP turun, memegang senjata mereka masing-masing. Walaupun bukan senjata tajam, kebanyakan sabuk dan kayu, hanya ada 1 yang membawa gear dan dia ada di barisan belakang. Terlihat salah satu anak memegang kerah Abay dan berkata kasar, aku hanya bisa tersenyum melihatnya. Bukan karena adegan ini lucu tapi dia salah memilih lawan. Terlihat rombongan yang di angkot mendekati Abay, akupun berdiri sambil memegang botol. Mereka berhenti.
“duduk sih bos”, kata Abay padaku
Tiba-tiba Abay di pukul pas bagian perut, spontan aku berlari dan memukul anak tadi dengan botol yang ku pegang, dan anak satunya berlari ke kelompoknya.
“gaya sih lu pak”, kataku membantu Abay bangun.
“BEGO!!”, kata Abay sambil menarikku dan membuatku hampir terjatuh.
Ternyata anak yang memegang gear tadi melemparnya ke arahku dan hampir mengenaiku.
“bawa ni bocah ke dalem”, kata Abay
“serius?”, tanyaku
“bawa”, katanya
Akupun membawa anak yang ku pukul dengan botol ke dalam, sesampainya di gerbang semua mata melihat ke arahku, dan Pris dari lapangan basket berlari ke arahku.
“siapa ni bocah?”, tanyanya
“noh liat ke luar”, kataku
Pris pun melihat keluar, lalu dia berteriak memanggil yang lain. Spontan semua mendekati gerbang dan anak yang ku pegang tadi di ambil alih oleh Pris.
“lu kelas berapa?”, tanya Pris
“kelas 1 bang”, katanya
“ayaaaangg!”, teriak Luna yang berada di tempat lompat jauh
Luna berlari ke arahku, aku pun menuntun Luna keluar gerbang untuk melihat keadaan Abay. Ternyata dia masih berdiri di sana, dan kelompok anak SMP hanya diam tidak mencoba mendekat.
“kamu ga apa-apa?”, tanya Luna
“Abay tuh bonyok”, kataku
“palalu bonyok”, kata Abay sambil memegang perutnya
Kamipun duduk di warung
“ga apa-apa kita duduk di sini?”, tanya Luna
“santai Lun, mereka kalau maju yang ada mati itu bocah yang di dalem”, kata Abay.
“ko gitu?”, tanya Luna
Tak lama Pris keluar dengan anak yang tadi, namun dalam keadaan babak belur.
“nih gua balikin! Kalo berani satu-satu sini!”, teriak Pris yang di belakangnya di ikuti siswa SMP ku.
Gerombolan tadi menaruh peralatan mereka di angkot, dan satu dari mereka mendekati Pris
“ampun bang, temen kita jangan di gebukin lagi bang”, katanya sambil memepah temannya
“Pergi sana! Masih bocah maen keroyokan! Belajar sama kakak kelas lu kalo mau tawuran!!”, teriak Pris yang sontak di soraki oleh kami.
Mereka pun pergi.
“anjir mau tawuran di suruh belajar! Waras tah lu Pris!”, teriak Abay.
Kamipun tertawa dan kembali ke kegiatan masing-masing.