- Beranda
- Stories from the Heart
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
...
TS
pakdhegober
Teror Hantu Kos Baru Pejaten (berdasar pengalaman nyata)
Assalamualaikum, semoga agan dan aganwati semua sehat, punya pacar dan enggak kehabisan uang.
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Agan pernah, diganggu jin atau sejenis makhluk astral lainnya. Kalau belum, Alhamdulillah. Bagi yang udah pernah, agan berarti nggak sendirian. Karena Ane kali ini mau berbagi cerita tentang pengalaman 7 tahun lalu di sebuah rumah kos di Pejaten, Jakarta Selatan. Sekadar overview, ane sudah lama mau nulis cerita ini, tapi banyak pertimbangan. Yang paling berat karena kos-kosan ini masih ada sampe sekarang. Setahu ane juga rame terus. Semoga kondisinya sudah lebih baik sekarang. Karena itu sebelum membaca ada beberapa rules ya, mohon dimaklumi.
1. Ini beneran cerita nyata gan? Iye ada benernye, tapi ane menulis cerita ini dengan metodologi prosa modern, ambil gampangnya novel. Jadi ane perlu nambahin bumbu buat dramatisasi. Kalau terpaksa dibikin komposisi, kira-kira 50:50 gan.
2. Kos gue juga Pejaten gan! Ini Pejaten sebelah mananya? Udeh ye nikmatin aje, jangan ganggu lapak rejeki orang. Jangan-jangan kos ente yang ane maksud lagi, berabe kan?
3. Gan bagusnya ada foto kali, supaya lebih kentara aslinya, bisa difoto gan? Yah entar ane usahain dah, pura2 nanya kamar kosong, tapi ane bakal ambil foto yang anglenya kelihatan susah ditebak ya. Lagi-lagi ini properti orang gan, mereka punya hak. Tapi entar insya allah ane usahain.
4. Kayanya ane ngerti deh tempatnya di mana, yang di jalan ini kan, sebelah ini kan? Udeh kalo ngerti simpen aja dalem hati.
5. Apdetnya kapan gan? Insya allah paling enggak seminggu sekali, antara malem jumat sampe malem minggu. kalo ada waktu banyak bisa dua kali.
6. Gan, kalo penampakan yang ini asli? suara yang itu juga asli apa rekayasa? Ya udah sih baca aja, ini bukan tayangan fact or fiction.
Nah, gitu aja sih rulesnya. semoga cerita ini menghibur dan bermanfaat. kalau ada kesamaan nama, mohon maaf ya. Buat penghuni kos yang kebetulan baca (soalnya kamarnya banyak banget gan sekarang) semoga gak sadar. Kalopun sadar, ane doain sekarang kondisinya udah nyaman sekarang.
Selamat membaca.
Spoiler for Prolog:
Quote:
Last Update 13/3/2019
Bersambung....
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 112 suara
Part bagusnya pake foto ilustrasi apa nggak?
Pake, biar makin ngefeel
42%
nggak usah, ane penakut
11%
terserah TS, yang penting gak kentang
47%
Diubah oleh pakdhegober 14-05-2022 11:55
bebyzha dan 141 lainnya memberi reputasi
128
1.2M
3.4K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
pakdhegober
#603
Part 19: Di Pekarangan Belakang
Di antara sebuku pengalaman menjengkelkan, tempat tinggal Wina juga punya banyak hal menyenangkan. Dua di antaranya, penghuninya yang kukenal ramah dan tidak suka mengurusi orang lain. Begitu pula empunya rumah dan penjaga, tidak banyak aturan, asalkan saling pengertian.
Sejak malam perayaan yang lalu, aku sesekali menyempatkan diri ke bawah. Bukan lagi menyeduh kopi atau masak mi instan, juga mengobrol dan menonton TV.
Tetapi yang sebenarnya kuincar adalah Mas Ron, penghuni paling kawakan di rumah ini.
Suatu sore aku mendapat kesempatan itu. Mas Ron tidak seperti biasa ada di bawah, menonton TV sendiri. Kebetulan Wina masih di kampus, maka bagus juga turun ke ruang utama daripada mengurung diri.
Mas Ron duluan menyapa. Aksen Jawa belum 100 persen hilang dari bicaranya. Aku membalas sapaan itu lalu masuk ke dapur dengan maksud mencari modal mengobrol. Secangkir teh hangat saja sudah baik.
Dan Mas Ron kembali menyapa ketika aku keluar. Agaknya ia canggung menghadapi sore di rumah.
Singkat saja aku sudah berani menilai Mas Ron sebagai orang yang ramah, periang, dan suka menawarkan apa saja yang dia punya.
"Vin, ada cake tuh di kulkas. Sikat aja."
Aku menolak dengan iringan terima kasih.
"Oalah, arek iki malu-malu."
Mas Ron berdiri dan ingin mengambil makanan miliknya, tapi kutepis.
"Kalau aku makan, sampeyan gak ulang tahun lho besok."
Ucapanku justru membuat Mas Ron kian jadi. Namun aku memang sedang tidak bernafsu makan apa-apa. Jadilah berbohong sebagai jalan pintas.
"Aku nyoba diet gula, Mas."
"Lha nyapo diet gula? Masih muda gini kok."
"Gak opo-opo, Mas. Memang gini setiap hari."
Tampaknya ia tidak percaya, apalagi malam sebelumnya aku minum cola.
"Aku cuma membatasi dua sendok gula sehari, Mas."
Akhirnya ia menyerah menawarkan cake, termasuk tidak menawarkan cokelat yang belakangan diambilnya dari kamar. Padahal untuk cokelat, aku sangat tergiur.
"Partnerku baru pulang dari Belgia. Enak ini," komentarnya sambil melumat, "sayangnya bukan dark chocholate, ya."
Aku mengiyakannya dengan berat hati demi merawat kebohongan.
Layar cembung di sisi ranjang masih menyaji acara, tetapi tidak ada yang hirau. Sambil menghembuskan asap rokok secara teratur, Mas Ron mulai banyak bertanya. Rupanya ia tampak di awal saja terbuka, sebenarnya lebih tertutup dari yang kuterka. Pembawaannya memang luwes, tetapi di balik itu pria gundul ini enggan membicarakan hal-hal pribadi. Bahkan aku kesulitan mengetahui apa pekerjaannya.
Mas Ron kembali ke kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa cokelat.
“Lha ternyata ada yang dark chocolate,” ia langsung meletakkan pemberiannya di meja makan. Sialnya aku tidak suka cokelat murni, tapi lagi-lagi harus memakannya supaya terkesan konsisten.
“Terima kasih, Mas!”
“Ah, begitu aja. Kalau suka nanti aku minta lagi sama temanku.”
Tentu saja aku mengatakan tidak perlu.
Mbak Asih muncul dari dapur membawa setumpuk pakaian dan menyempatkan diri menyapa aku dan Mas Ron. Tempat menyeterika memang ada di halaman belakang, menumpang seadanya di bawah kanopi.
Dengan terampil perempuan itu menghitung helai demi helai pakaian. Kemudian seorang lagi masuk. Pak Wi. Menenteng tiga cawan yang siap disaji. Orang tua itu sudah merasa tidak perlu menjelaskan kelakuannya. Dimulai dari lukisan di bawah tangga, bergeser ke taman air, lalu memungkas di atas tangga, tepat di dinding kamar Wina. Sengaja kuawasi kegiatan yang menyebalkan itu, dan tanpa disadari Mas Ron juga memantau pengawasanku.
“Kamu asli mana, Vin?”
Pertanyaannya segera menghentikan pengamatanku. Kujawab, “Campuran, Mas.”
“Bukan Jawa?”
“Justru ada Jawanya, Mas.”
“Ooo, pantas bisa omong Jawa juga.”
“Kenapa, Mas?”
Tidak langsung dijawab pertanyaan itu. Mas Ron malah mengamati Pak Wi yang sedang menuruni tangga kayu.
“Saya mau ke rumah Asih dulu, ya, Mas Ron,” Pak Wi sekali tersenyum padaku, singkat. “Nanti paling habis maghrib saya pulang.”
“Monggo, Pak Wi,” ujar Mas Ron.
Di kala bersamaan Mbak Asih sudah selesai dengan tugasnya. Ia juga pamit dengan tutur kata yang ramah. Dengan demikian tinggal aku dan Mas Ron di ruang utama ini.
Mas Ron menghidupkan kretek lagi. Sepertinya ada sesuatu yang penting ingin diucapkannya.
“Pak Wi itu selalu nyaji tiap Selasa dan Kamis.”
“Kenapa itu?” Aku berupaya tidak terlalu menunjukkan keheranan.
“Apa ya…,” Mas Ron agaknya kesulitan menemukan kata-kata yang jitu, “Aku juga kurang begitu ngerti soal waktu nyaji.”
“Sesaji itu buat makhluk halus tho, Mas?”
Ia mengulum senyum, antara mengiyakan atau sebaliknya.
“Bisa juga untuk mereka, tapi nggak mesti begitu.”
“Aku justru tahunya cuma untuk gaib.”
“Oh bukan, vin. Sesaji juga bisa untuk tumbuhan, binatang, ruh orang-orang tua, bahkan manusia yang masih hidup.”
Yang terakhir itu terus terang menarik juga. Sesaji untuk manusia hidup, bukannya itu bermakna jamuan atau sedekah? Daripada disimpan saja, lebih baik kudalami dialog ini.
“Sebentar, Mas. Sampeyan bilang untuk manusia, bukan itu seperti pemberian?”
“Ya memangnya pemberian.”
“Semacam sedekah?”
“Ya memang sedekah.”
“Aku ngerti, Mas! Kalau untuk pohon, sungai, benda keramat itu baru minta bantuan gaib, begitu?”
Mas Ron mendengus sambil tertawa kecil, “Untuk semuanya juga sedekah, Vin.”
Ah! Jadi membingungkan semuanya. Sialnya aku tak mau berhenti bertanya.
“Tapi sedekah itu diyakini orang-orang untuk meminta pada makhluk halus,” kataku mengacarai.
“Keyakinan siapa?”
“Ya itu…..”
“Semangat aslinya bukan begitu,” Mas Ron menarik asap kretek lebih dalam lagi, “Sesaji itu kalau niatnya lurus cuma memberi, nggak perlu minta-minta.”
“Lha terus, sesaji yang benar itu gimana?”
Mas Ron melirik sesaji di kolam yang ada di sebelah kiri, lalu berkata,
“Orang Jawa itu dari dulu teguh pada konsep welas, asih, asuh. Ini sederhananya seperti menjalin relasi sosial. Di dunia kita tidak sendiri, maka kita sebagai manusia harus bergaul dengan baik dengan lingkungan.”
“Nah, untuk bergaul dan jadi manusia yang baik itu setiap orang harus punya jiwa welas, asih, asuh terhadap siapa pun yang ada di lingkungannya. Gampangnya seperti kamu punya rasa kasih sayang terhadap pacar atau orangtua kamu. Perasaan itu harus dirawat dan ditunjukkan.”
“Itulah makna sesaji yang benar. Menunjukkan kasih sayang bisa dibuktikan dengan memberi pemberian atau sesaji. Dan merawat welas asih itu dapat ditunjukkan dengan cara selalu memberi.”
“Akhirnya, manusia yang betul-betul punya jiwa kasih sayang itu nggak akan berpamrih, meminta imbalan atau balasan. Semua itu akan dilakukan dengan tulus.”
Penjelasan tentang sesaji ini ternyata lebih panjang dari tebakanku. Meski begitu aku belum merasa terang. Sebaiknya kutanyakan dalam kesempatan lain saja. Namun aku perlu bertanya sekali lagi.
“Jadi sesaji pak Wi nggak ada hubungannya dengan meminta-minta atau supaya makhluk halus tidak mengganggu?”
“Bukan! Sama sekali bukan. Itu justru bukti Pak Wi welas asih terhadap semua makhluk, dari yang terlihat sampai yang nggak kasat mata.”
Oke, aku sudah menyimpan beberapa pertanyaan untuk kesempatan berikutnya. Sebab bertanya sekaligus hanya membuat aku menelanjangi diri sendiri. Maka kualihkan percakapan ke arah yang jauh dari sesaji dan hal-hal serupa.
Bunyi pintu kemudian terdengar dibuka. Via masuk dan menyapa kami berdua. Ia tidak langsung ke atas, melainkan duduk di samping mas Ron.
Dalam waktu singkat anak ini sudah membuat banyak ocehan. Tentang dosen, film keluaran terbaru, hingga para pria yang tidak kehabisan akal untuk menggodanya. Dengan begitu Via langsung membawa warna baru di rumah ini. Anak ini sepertinya lebih periang dari mata elang yang menempel di wajahnya. Sayang sekali rokokku habis. Maka cara yang terbaik adalah membelinya di luar.
Berjalan ke luar, aku baru tahu bahwa sore lebih gelap dari dugaanku. Kucabut handphone dari kantong untuk memastikan waktu. Sebentar lagi masuk maghrib. Bau tanah terbawa angin merasuk ke lubang penciuman. Sekarang sudah jatuh April, tetapi curah hujan masih berlimpah, bahkan seperti masa puncak. Karena ini juga tentunya orang-orang dari berbagai belahan dunia kian sibuk membahas perubahan iklim.
Sebentar saja gerimis datang, membuat bulatan-bulatan hitam kecil di jalan aspal. Aku melangkah lebih cepat setelah mendapat yang dibutuhkan. Keadaan lebih gelap ketika aku melewati basement. Kejadian kemarin malam berkelindan di dalam kepala, jadi kupercepat kaki hingga sampai di atas.
Unyil menyambut dengan suaranya yang pelan. Ternyata ia satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini. Tidak seperti yang kuharapkan, Mas Ron dan Via mungkin sudah kembali ke kamarnya. Kalau begini lebih baik aku naik juga. Namun rencanaku berubah, mumpung hujan agaknya baik jika ditemani secangkir kopi hitam.
Unyil mengekor. Di dapur pembawaan anjing ini tidak tenang. Mungkin lapar. Untuk memastikannya kuambil makanan kering di atas sebuah rak dan menuangkan untuknya. Benar, ia langsung melumatnya dengan cepat.
Kira-kira lima menit, kopi siap tuang. Bersamaan dengan itu unyil juga sudah menyelesaikan makan malamnya dan tidak lagi gelisah. Aku berjalan meninggalkan dapur, masih diikuti seekor anjing. Namun pintu dapur yang menghubungkan dengan halaman belakang bersuara. Pintu itu masih terbuka dan baru saja terdorong angin.
Kuletakkan cangkir di meja makan, kemudian kembali ke dapur. Hujan kali ini lebih jelas dari beberapa waktu yang lalu. Sebelum menutup pintu, tanpa rencana aku melihat jemuran yang cukup banyak, dan ada juga punyaku dan Wina di sana. Jemuran ini masih terhalang kanopi, namun dengan angin yang kian berhembus bisa saja kuyup dan meninggalkan bau.
Maka kuhampiri jemuran itu, Unyil menyalak sekali dari balik pintu. Satu persatu kuangkat pakaian yang nyaris kering dan melampirkannya di pundak.
Belakangan unyil mendekat. Aku tak melihatnya, hanya gonggongannya yang terdengar. Uh, banyak juga jemuran ini, tetapi bakal aneh kalau aku hanya mengangkat milik kami berdua. Pelan-pelan pundakku semakin berat dibebani pakaian banyak orang.
Dan angin semakin kencang, aku mempercepat gerakan agar tidak sampai terlalu basah. Namun unyil kedengarannya malah lebih sibuk. Ia menggonggong tak beraturan. Aku tidak mengerti apa yang bisa dilakukan binatang itu di sini.
Akhirnya hampir selesai. Yang terakhir selembar seprai putih yang tidak begitu lebar. Kudorong kain seprai tipis itu dari sisi yang terdepan sebelum menariknya dari kawat jemuran. Namun kedua tanganku berhenti di situ. Ada alasan sagat kuat untuk berhenti. Aku merasakan ada sesuatu di dalam kain tersebut. Sesuatu yang tidak bergeming, agak kenyal, dan menyerupai tubuh manusia. Tanganku belum lagi bergerak, yang sesungguhnya ialah tidak mampu bergerak.
Sementara unyil terus menyalak meski suara yang keluar kalah oleh derasnya hujan. Anjing itu menggonggong ke arah seprai putih.
Akhirnya aku menemukan alasan untuk menjauhkan tangan dari kain itu. Alasan itu adalah sepasang kaki terlihat menjuntai dari dalam kain. Sungguh hanya kaki, dengan kulit yang keriput dan pucat gelap.
Tanganku terlepas sendirinya, namun tubuh ini terjungkal melihat panorama yang mengerikan itu. Beruntung bahwa masih ada sedikit daya terkumpul. Aku langsung berdiri dan buru-buru meninggalkan pekarangan belakang bersama pakaian di pundak.
Keluar dari dapur, Pak Wi baru saja masuk rumah. Matanya terbelalak melihatku memanggul pakaian.
Di antara sebuku pengalaman menjengkelkan, tempat tinggal Wina juga punya banyak hal menyenangkan. Dua di antaranya, penghuninya yang kukenal ramah dan tidak suka mengurusi orang lain. Begitu pula empunya rumah dan penjaga, tidak banyak aturan, asalkan saling pengertian.
Sejak malam perayaan yang lalu, aku sesekali menyempatkan diri ke bawah. Bukan lagi menyeduh kopi atau masak mi instan, juga mengobrol dan menonton TV.
Tetapi yang sebenarnya kuincar adalah Mas Ron, penghuni paling kawakan di rumah ini.
Suatu sore aku mendapat kesempatan itu. Mas Ron tidak seperti biasa ada di bawah, menonton TV sendiri. Kebetulan Wina masih di kampus, maka bagus juga turun ke ruang utama daripada mengurung diri.
Mas Ron duluan menyapa. Aksen Jawa belum 100 persen hilang dari bicaranya. Aku membalas sapaan itu lalu masuk ke dapur dengan maksud mencari modal mengobrol. Secangkir teh hangat saja sudah baik.
Dan Mas Ron kembali menyapa ketika aku keluar. Agaknya ia canggung menghadapi sore di rumah.
Singkat saja aku sudah berani menilai Mas Ron sebagai orang yang ramah, periang, dan suka menawarkan apa saja yang dia punya.
"Vin, ada cake tuh di kulkas. Sikat aja."
Aku menolak dengan iringan terima kasih.
"Oalah, arek iki malu-malu."
Mas Ron berdiri dan ingin mengambil makanan miliknya, tapi kutepis.
"Kalau aku makan, sampeyan gak ulang tahun lho besok."
Ucapanku justru membuat Mas Ron kian jadi. Namun aku memang sedang tidak bernafsu makan apa-apa. Jadilah berbohong sebagai jalan pintas.
"Aku nyoba diet gula, Mas."
"Lha nyapo diet gula? Masih muda gini kok."
"Gak opo-opo, Mas. Memang gini setiap hari."
Tampaknya ia tidak percaya, apalagi malam sebelumnya aku minum cola.
"Aku cuma membatasi dua sendok gula sehari, Mas."
Akhirnya ia menyerah menawarkan cake, termasuk tidak menawarkan cokelat yang belakangan diambilnya dari kamar. Padahal untuk cokelat, aku sangat tergiur.
"Partnerku baru pulang dari Belgia. Enak ini," komentarnya sambil melumat, "sayangnya bukan dark chocholate, ya."
Aku mengiyakannya dengan berat hati demi merawat kebohongan.
Layar cembung di sisi ranjang masih menyaji acara, tetapi tidak ada yang hirau. Sambil menghembuskan asap rokok secara teratur, Mas Ron mulai banyak bertanya. Rupanya ia tampak di awal saja terbuka, sebenarnya lebih tertutup dari yang kuterka. Pembawaannya memang luwes, tetapi di balik itu pria gundul ini enggan membicarakan hal-hal pribadi. Bahkan aku kesulitan mengetahui apa pekerjaannya.
Mas Ron kembali ke kamarnya, lalu keluar lagi dengan membawa cokelat.
“Lha ternyata ada yang dark chocolate,” ia langsung meletakkan pemberiannya di meja makan. Sialnya aku tidak suka cokelat murni, tapi lagi-lagi harus memakannya supaya terkesan konsisten.
“Terima kasih, Mas!”
“Ah, begitu aja. Kalau suka nanti aku minta lagi sama temanku.”
Tentu saja aku mengatakan tidak perlu.
Mbak Asih muncul dari dapur membawa setumpuk pakaian dan menyempatkan diri menyapa aku dan Mas Ron. Tempat menyeterika memang ada di halaman belakang, menumpang seadanya di bawah kanopi.
Dengan terampil perempuan itu menghitung helai demi helai pakaian. Kemudian seorang lagi masuk. Pak Wi. Menenteng tiga cawan yang siap disaji. Orang tua itu sudah merasa tidak perlu menjelaskan kelakuannya. Dimulai dari lukisan di bawah tangga, bergeser ke taman air, lalu memungkas di atas tangga, tepat di dinding kamar Wina. Sengaja kuawasi kegiatan yang menyebalkan itu, dan tanpa disadari Mas Ron juga memantau pengawasanku.
“Kamu asli mana, Vin?”
Pertanyaannya segera menghentikan pengamatanku. Kujawab, “Campuran, Mas.”
“Bukan Jawa?”
“Justru ada Jawanya, Mas.”
“Ooo, pantas bisa omong Jawa juga.”
“Kenapa, Mas?”
Tidak langsung dijawab pertanyaan itu. Mas Ron malah mengamati Pak Wi yang sedang menuruni tangga kayu.
“Saya mau ke rumah Asih dulu, ya, Mas Ron,” Pak Wi sekali tersenyum padaku, singkat. “Nanti paling habis maghrib saya pulang.”
“Monggo, Pak Wi,” ujar Mas Ron.
Di kala bersamaan Mbak Asih sudah selesai dengan tugasnya. Ia juga pamit dengan tutur kata yang ramah. Dengan demikian tinggal aku dan Mas Ron di ruang utama ini.
Mas Ron menghidupkan kretek lagi. Sepertinya ada sesuatu yang penting ingin diucapkannya.
“Pak Wi itu selalu nyaji tiap Selasa dan Kamis.”
“Kenapa itu?” Aku berupaya tidak terlalu menunjukkan keheranan.
“Apa ya…,” Mas Ron agaknya kesulitan menemukan kata-kata yang jitu, “Aku juga kurang begitu ngerti soal waktu nyaji.”
“Sesaji itu buat makhluk halus tho, Mas?”
Ia mengulum senyum, antara mengiyakan atau sebaliknya.
“Bisa juga untuk mereka, tapi nggak mesti begitu.”
“Aku justru tahunya cuma untuk gaib.”
“Oh bukan, vin. Sesaji juga bisa untuk tumbuhan, binatang, ruh orang-orang tua, bahkan manusia yang masih hidup.”
Yang terakhir itu terus terang menarik juga. Sesaji untuk manusia hidup, bukannya itu bermakna jamuan atau sedekah? Daripada disimpan saja, lebih baik kudalami dialog ini.
“Sebentar, Mas. Sampeyan bilang untuk manusia, bukan itu seperti pemberian?”
“Ya memangnya pemberian.”
“Semacam sedekah?”
“Ya memang sedekah.”
“Aku ngerti, Mas! Kalau untuk pohon, sungai, benda keramat itu baru minta bantuan gaib, begitu?”
Mas Ron mendengus sambil tertawa kecil, “Untuk semuanya juga sedekah, Vin.”
Ah! Jadi membingungkan semuanya. Sialnya aku tak mau berhenti bertanya.
“Tapi sedekah itu diyakini orang-orang untuk meminta pada makhluk halus,” kataku mengacarai.
“Keyakinan siapa?”
“Ya itu…..”
“Semangat aslinya bukan begitu,” Mas Ron menarik asap kretek lebih dalam lagi, “Sesaji itu kalau niatnya lurus cuma memberi, nggak perlu minta-minta.”
“Lha terus, sesaji yang benar itu gimana?”
Mas Ron melirik sesaji di kolam yang ada di sebelah kiri, lalu berkata,
“Orang Jawa itu dari dulu teguh pada konsep welas, asih, asuh. Ini sederhananya seperti menjalin relasi sosial. Di dunia kita tidak sendiri, maka kita sebagai manusia harus bergaul dengan baik dengan lingkungan.”
“Nah, untuk bergaul dan jadi manusia yang baik itu setiap orang harus punya jiwa welas, asih, asuh terhadap siapa pun yang ada di lingkungannya. Gampangnya seperti kamu punya rasa kasih sayang terhadap pacar atau orangtua kamu. Perasaan itu harus dirawat dan ditunjukkan.”
“Itulah makna sesaji yang benar. Menunjukkan kasih sayang bisa dibuktikan dengan memberi pemberian atau sesaji. Dan merawat welas asih itu dapat ditunjukkan dengan cara selalu memberi.”
“Akhirnya, manusia yang betul-betul punya jiwa kasih sayang itu nggak akan berpamrih, meminta imbalan atau balasan. Semua itu akan dilakukan dengan tulus.”
Penjelasan tentang sesaji ini ternyata lebih panjang dari tebakanku. Meski begitu aku belum merasa terang. Sebaiknya kutanyakan dalam kesempatan lain saja. Namun aku perlu bertanya sekali lagi.
“Jadi sesaji pak Wi nggak ada hubungannya dengan meminta-minta atau supaya makhluk halus tidak mengganggu?”
“Bukan! Sama sekali bukan. Itu justru bukti Pak Wi welas asih terhadap semua makhluk, dari yang terlihat sampai yang nggak kasat mata.”
Oke, aku sudah menyimpan beberapa pertanyaan untuk kesempatan berikutnya. Sebab bertanya sekaligus hanya membuat aku menelanjangi diri sendiri. Maka kualihkan percakapan ke arah yang jauh dari sesaji dan hal-hal serupa.
Bunyi pintu kemudian terdengar dibuka. Via masuk dan menyapa kami berdua. Ia tidak langsung ke atas, melainkan duduk di samping mas Ron.
Dalam waktu singkat anak ini sudah membuat banyak ocehan. Tentang dosen, film keluaran terbaru, hingga para pria yang tidak kehabisan akal untuk menggodanya. Dengan begitu Via langsung membawa warna baru di rumah ini. Anak ini sepertinya lebih periang dari mata elang yang menempel di wajahnya. Sayang sekali rokokku habis. Maka cara yang terbaik adalah membelinya di luar.
Berjalan ke luar, aku baru tahu bahwa sore lebih gelap dari dugaanku. Kucabut handphone dari kantong untuk memastikan waktu. Sebentar lagi masuk maghrib. Bau tanah terbawa angin merasuk ke lubang penciuman. Sekarang sudah jatuh April, tetapi curah hujan masih berlimpah, bahkan seperti masa puncak. Karena ini juga tentunya orang-orang dari berbagai belahan dunia kian sibuk membahas perubahan iklim.
Sebentar saja gerimis datang, membuat bulatan-bulatan hitam kecil di jalan aspal. Aku melangkah lebih cepat setelah mendapat yang dibutuhkan. Keadaan lebih gelap ketika aku melewati basement. Kejadian kemarin malam berkelindan di dalam kepala, jadi kupercepat kaki hingga sampai di atas.
Unyil menyambut dengan suaranya yang pelan. Ternyata ia satu-satunya makhluk hidup di ruangan ini. Tidak seperti yang kuharapkan, Mas Ron dan Via mungkin sudah kembali ke kamarnya. Kalau begini lebih baik aku naik juga. Namun rencanaku berubah, mumpung hujan agaknya baik jika ditemani secangkir kopi hitam.
Unyil mengekor. Di dapur pembawaan anjing ini tidak tenang. Mungkin lapar. Untuk memastikannya kuambil makanan kering di atas sebuah rak dan menuangkan untuknya. Benar, ia langsung melumatnya dengan cepat.
Kira-kira lima menit, kopi siap tuang. Bersamaan dengan itu unyil juga sudah menyelesaikan makan malamnya dan tidak lagi gelisah. Aku berjalan meninggalkan dapur, masih diikuti seekor anjing. Namun pintu dapur yang menghubungkan dengan halaman belakang bersuara. Pintu itu masih terbuka dan baru saja terdorong angin.
Kuletakkan cangkir di meja makan, kemudian kembali ke dapur. Hujan kali ini lebih jelas dari beberapa waktu yang lalu. Sebelum menutup pintu, tanpa rencana aku melihat jemuran yang cukup banyak, dan ada juga punyaku dan Wina di sana. Jemuran ini masih terhalang kanopi, namun dengan angin yang kian berhembus bisa saja kuyup dan meninggalkan bau.
Maka kuhampiri jemuran itu, Unyil menyalak sekali dari balik pintu. Satu persatu kuangkat pakaian yang nyaris kering dan melampirkannya di pundak.
Belakangan unyil mendekat. Aku tak melihatnya, hanya gonggongannya yang terdengar. Uh, banyak juga jemuran ini, tetapi bakal aneh kalau aku hanya mengangkat milik kami berdua. Pelan-pelan pundakku semakin berat dibebani pakaian banyak orang.
Dan angin semakin kencang, aku mempercepat gerakan agar tidak sampai terlalu basah. Namun unyil kedengarannya malah lebih sibuk. Ia menggonggong tak beraturan. Aku tidak mengerti apa yang bisa dilakukan binatang itu di sini.
Akhirnya hampir selesai. Yang terakhir selembar seprai putih yang tidak begitu lebar. Kudorong kain seprai tipis itu dari sisi yang terdepan sebelum menariknya dari kawat jemuran. Namun kedua tanganku berhenti di situ. Ada alasan sagat kuat untuk berhenti. Aku merasakan ada sesuatu di dalam kain tersebut. Sesuatu yang tidak bergeming, agak kenyal, dan menyerupai tubuh manusia. Tanganku belum lagi bergerak, yang sesungguhnya ialah tidak mampu bergerak.
Sementara unyil terus menyalak meski suara yang keluar kalah oleh derasnya hujan. Anjing itu menggonggong ke arah seprai putih.
Akhirnya aku menemukan alasan untuk menjauhkan tangan dari kain itu. Alasan itu adalah sepasang kaki terlihat menjuntai dari dalam kain. Sungguh hanya kaki, dengan kulit yang keriput dan pucat gelap.
Tanganku terlepas sendirinya, namun tubuh ini terjungkal melihat panorama yang mengerikan itu. Beruntung bahwa masih ada sedikit daya terkumpul. Aku langsung berdiri dan buru-buru meninggalkan pekarangan belakang bersama pakaian di pundak.
Keluar dari dapur, Pak Wi baru saja masuk rumah. Matanya terbelalak melihatku memanggul pakaian.
Diubah oleh pakdhegober 15-08-2019 17:58
bebyzha dan 10 lainnya memberi reputasi
11