Hari-hari berikutnya komunikasi gue dan Atma masih terjalin, meski gue sesibuk apapun gue selalu berusaha untuk menyempatkan menjawab dan membalas telefonnya, begitu juga demikian sebaliknya, sampai suatu hari gue kecepolosan bertanya padanya “At jika kesempatan itu ada, jika lo seandainya dipertemukan lagi dengan Yuda dengan keadaan yang tak biasa, adakah kemungkinan untuk lo balik lagi dengannya” dan seperti gue duga tiba2 saja pertanyaan gue tak lagi berbalas, dan begitulah satu pertanyaan dari gue telah sukses membuatnya ngambek selama berhari2, kurang tau juga apa dia serius ngambek atau dia justru sedang dalam posisi dilema waktu itu dan membutuhkan waktu buat berfikir
Hampir dua minggu kemudian kami pun putus komunikasi, kita baru berhubungan lagi setelah sebelumnya gue mengalah dan memutuskan untuk menghubunginya duluan, gue meminta maaf atas pertanyaan gue sebelumnya yang tak gue sadar telah melukai perasaanya, tapi berbeda seperti saat sebelumnya yang selalu dingin mengomentari dan menjawab semua pertanyaan gue, kali ini dia sudah lebih bisa santai, dan sedikit lebih terbuka, intinya sebenernya dia tak menyalahkan jika suatu saat pertanyaan itu keluar, sebelumnya dia memang sudah menduganya, bahkan jujur dia sudah memiliki cara untuk mengantisipasinya, hanya saja waktu itu dia sedang dalam keadaan mood yang buruk, sehingga ketika gue mengajukan pertanyaan, jadilah saat itu jawabannya justru banyak dipenuhi luapan emosinya, justru setelah gue mengetahui jawaban dari pertanyan gue waktu itu malah membuat gue lebih2 kaget
Quote:
Atma : Gue gak peduli siapa orang itu Gri! entah itu lo, ataupun Yuda, bahkan mungkin kepada siapapun! asal dia serius dengan gue, peduli ke gue, mau menerima apapun keadaan gue, dan sanggup membahagiakan gue, kepada orang itu, gue akan mengabdikan juga hidup gue untuknya, ibarat sebuah lomba sekarang tinggal menunggu siapa yang tercepat diantara kalian, dan bagi kalian yang memenangkanya, gue lah yang menjadi hadiahnya, tentu saja andai lo tak mau sampai didahului oleh orang lain, maka buru2lah melamar, hanya dengan begitu gue akan menjadi milik lo satu2nya
Gue : Apa lo yakin? tak adakah syarat yang lain?
Atma : Sebenernya ada! hanya aja kesempatan untuk bertemu dengan orang itu lagi sepertinya tak akan mungkin diwaktu seperti sekarang, gue tak akan bisa menemukanya lagi dimanapun
Gue : Apakah orang itu Yuda?
Atma : Benar! dalam keadaan apapun gue masih berharap setidaknya dapat sekali lagi bertemu dengannya, gue hanya akan menikah atas ijin dan restu darinya, jika dia telah ikhlas! tentu saja gue tak akan lagi khawatir saat nanti harus membangun sebuah keluarga bersama orang lain
Gue : Apa perasaan terhadapnya masih ada At hingga sekarang? dan jawab jujur apakah sekarang gue telah pantas menggantikanya
Atma : Bukan masalah pantas dan gak pantas Gri! tentu saja gue sudah gak ada lagi pilihan selain lo! karena sementara ini hanya lo lah yang sedang dekat dengan gue, gue tak seharusnya kan untuk terus mengharap orang yang sampai saat ini gak ada khabarnya? sedang hidup masih harus terus berlanjut, dan tak harus seperti keinginan kita
Gue : Iya gue tahu! tapi gue khawatir jika nanti lo akan menyesal
Atma : Justru menyesal adalah bagian dari hidup gue Gri, kehilangan Yuda terlebih juga kehilangan anggota keluarga mungkin itu adalah beberapa yang paling buruk, tapi gue telah bertekad untuk tak ingin mengulang dan mendapat perasaan itu lagi, karena semua itu gue rasa cukupi! sedang bersama lo gue yakin pasti dapat melewatkanya, karena gue tau lo orang yang seperti apa! lo orang yang gak pernah bisa melihat orang disamping lo kecewa dan bersedih karena lo, dan atas semua itu gue nilai lo layak untuk bisa gue pertahankan dan gue harapkan untuk hidup gue
Gue : Baiklah gue mengerti! hanya saja gue belum bisa menjawabnya sekarang, gue masih perlu waktu untuk memikirkanya dulu
Atma : Tenang saja, gue masih punya banyak waktu untuk menunggu keputusan lo, berusahalah untuk berikutnya meyakinkan diri lo, bahwa hanya guelah pilihan lo satu2nya saat ini dan tak ada yang lain
Gue : Insyaalloh! cukup berdo’a aja semoga hasilnya tak akan mengecewakan
Beberapa bulan setelahnya, walau gue masih bisa menjaga untuk tetap berkomunikasi denganya, gue merasa sedikit ada yang lain dari beberapa balasan sms dan teleponya, gue rasakan sikapnya jadi acuh tak acuh ke gue, gue tahu bahwa mungkin itu salah gue juga, karena gue masih belum bisa memberi kepastian untuk melamarnya, itulah yang mungkin membuatnya tak bisa bersabar, isi sms terakhir yang dia kirimkan ke gue “Maaf saja jika gue tak bisa bersabar, jangan merasa lo sok kegantengan dan berasa paling penting untuk terus gue tunggu, gue rasa gue udah cukup jenuh untuk terus mengharap kepastian dari lo, jadi jangan menyesal jika seandainya gue lebih memilih opsi orang lain yang lebih serius dan kemudian meninggalkan lo, jangan pernah salahkan gue, tapi salahkan diri lo sendiri yang pengecut dan ragu2”
Beberapa kali setelah itu gue coba untuk menghubunginya, namun semua panggilan gue terus direject, semua sms gue pun juga gak berbalas, cukup lama setelah hari itu kita tak saling berkomunikasi, tak seperti biasanya yang cukup hitungan jam, hari, atau minggu dia ngambek, ini malah lebih hampir genap sebulan, apakah ancamanaya kali itu serius? gue tak mau bersuudzon, tapi mau gimana lagi gue juga jadi khawatir, gue memutuskan untuk pulang mudik untuk menemuinya, awalnya semua telah gue persiapkan, mengenai ijin dan absen kerja sudah gue titipkan, gue menukar shif dengan rekan kerja yang lain, tapi apa daya ijin gue tak disetujui oleh atasan, gue justru diharuskan mengikuti seminar yang dijadwalkan perusahaan di 3 kota yang sekiranya dilaksanakan dalam 1 minggu, dan dijadwalkan bahwa besok pagi gue harus sudah berangkat, jadilah gue terpaksa membatalkan rencana gue untuk pulang, semoga akan ada lain hari bagi gue untuk dapat melaksanakan rencana tersebut
Hari pertama di tempat seminar yang kebetulan berada di ibu kota, setelah gue menyelesaikan presentasi kita serombongan menginap di sebuah hotel ber bintang 2, ya benar yang kalian baca tak keliru, tempat gue menginap memang jauh dari kesan yang sebelumnya pernah gue bayangkan, entah apa itu sebutanya, losmen atau penginapan pokoknya tak semewah seperti yang pernah sering gue lihat di tivi, pada tengah malamnya tiba2 Atma menghubungi gue
Quote:
Atma : Gri lo ada waktu hari ini! gue hanya minta kesediaan lo buat dengerin, selanjutnya jangan memotong, membalas ataupun menjawab kalau gak gue yang suruh untuk lo bicara, paham maksud gue!
Gue : Iya gue paham!
Atma : Lo tahu! selama beberapa minggu ini gue gak berhenti terus mikirin tentang lo Gri, entah sebegitu nyebelinya lo, ternyata gue gak bisa lama untuk terus marah sama lo, tapi kemaren lo memang sudah sangat kelewatan Gri! lo gak bisa terus menggantung perasaan orang tanpa kepastian, setidaknya berilah sebuah jawaban! jika alasan lo karena belum siap, gue rela mengunggu sampai lo siap, tapi nyatakan bahwa lo juga menginginkan gue, bukan hanya gue saja yang terus merasa mengharapkan lo, lo pasti tau kan ini cukup gak adil buat gue! sebelum dan terakhirnya gue hanya ingin tahu apakah sebenernya lo mencintai gue atau tidak? karena tak lucu kan bila ternyata hanya gue saja yang salah mengartikanya selama ini, gue mengharapkan orang yang mungkin sama sekali tak memiliki perasaan yang sama dengan gue, jadi walau seburuk apapun dan semenyakitkanya jawaban lo, gue siap untuk mendengarnya, bahkanpun jika seandainya lo menganggap gue selama ini hanya sekedar temen buat lo, gue akan ikhlas Gri setidaknya lo udah berusaha untuk jujur mengatakanya, jangan suruh gue untuk terus menebak! karena bisa saja gue salah mengartikan atas kepedulian lo selama ini
Atma : Gue kira kita sama Gri! dan mungkin lo juga akan setuju? gue gak ingin ada beban dalam hidup gue! dan sebaiknya lo juga gitu, lo gak ingin kan kerjaan lo jadi terganggu gara2 terus memikirkan tentang masalah ini, jika gue cuma jadi penghambat atas karir lo, maka sebaiknya lo belajar untuk lupain gue mulai dari sekarang, mungkin lo akan lebih sukses setelah lo bisa berhenti mikirin gue, gue pun juga sama akan begitu juga! tak selamanya kan gue sanggup untuk terus bersabar, jika pada akhirnya ini mungkin kali terakhir kita dapat berhubungan, sebelum dan sesudahnya gue berharap maaf dari lo karena gak bisa menjanjikan kehidupan indah seperti yang dulu lo inginkan, belum bisa menjadi pilihan sempurna untuk dapat lo pilih, tapi walaupun kecil kemungkinan sebenernya gue masih sangat berharap Gri! bahwa lo lah orang yang sanggup mengabulkan semua harapan gue, menjadi satu2nya orang yang mampu membahagiakan gue
Dan sial! kemudian teleponya langsung terputus sebelum gue dapat menjawab pernyataanya, gue coba untuk balik menghubunginya namun gagal sepertinya disengaja waktu itu Hpnya dimatikan, tentu saja berikutnya gue dalam dilema malam itu sehingga membuat tidurpun jadi tak nyenyak, banyak yang kemudian gue pikirkan namun tak satupun mendapatkan jawaban, pantas gak pantas sepertinya Atma adalah pilihan terbaik untuk saat ini, jadi tak seharusnya untuk gue abaikan, hari berikutnya gue cuma terfokus untuk segera menyelesaikan jadwal presentasi ditempat selanjutnya yaitu kota Atlas, berlanjut marathon ke tempat berikutnya, rencananya semua dead line cukup gue kebut selama 3 hari dan selesai, sementara sisa waktunya bisa gue pergunakan untuk pulang menemui Atma, sebelumnya gue menelepon dua perwakilan cabang perusahaan tempat gue akan melakukan seminar dan meminta untuk memajukan jadwal yang untung saja langsung mereka setujui
Hari terakhir atau tepatnya hari ke 3 gue dan rombongan memberikan seminar, gue menerima panggilan dari Atma, mengabarkan bahwa dia mendapatkan sebuah musibah, tak sengaja katanya dia terkunci di dalam gudang tempat usahanya, sedang cuma ada dia sendirian disana, lebih cerobohnya lagi dia juga tak sengaja telah membakar beberapa bahan sembako yang tersimpan di gudangnya, waktu itu dia menelepon gue dalam keadaan panik, dan meminta gue untuk segera pulang waktu itu juga, gue melihat jam menunjukan pukul 8 dimana bersamaan dengan dibukanya acara seminar, tentu saja gue gak bisa beralasan untuk meninggalkan seminar begitu saja, andai pun gue bisa pulang segera! gue yakin tak akan keburu, perjalanan naik kereta dari tempat gue seminar akan membutuhkan waktu berjam2, belum lagi antri tiket, terus juga menunggu di peron sampai jadwal kereta berangkat, tak kurang akal gue menghubungi orang rumah untuk mengabarkan keadaan yang dialami Atma, dan meminta mereka mencari bantuan, dengan begitu setidaknya gue lega setidaknya ada orang yang lebih dulu tahu tentang keadaanya, dan berharap dia bisa diselamatkan dari sana
Berikutnya gue hanya dapat berucap syukur setelah Nyokap mengabarkan bahwa Atma dinyatakan selamat dari musibah yang tak diinginkan siapapun itu, walaupun menderita sedikit luka di bagian lengan, pundak dan sebagian wajah, terpenting dia masih selamat, setidaknya sekarang kondisinya telah aman bersama keluarga gue, gue berpesan kepada Nyokap bahwa gue akan segera pulang setelahnya, namun rencana gue untuk pulang memang gagal total pada hari itu, karena kebetulan ditempat yang gue gunakan untuk menggelar seminar terakhir, memang sedang di adakan sebuah hajatan kecil, yang tak memperkenankan gue dan rombongan untuk pulang sebelum acara selesai, tentu saja gue sungkan menolak permintaan mereka, keesokan hari saat kami serombongan hendak pamit lagi2 kami justru tak diperkenankan, karena telah terlanjur disiapkan sebuah armada untuk mengantar kepulangan kami menuju ke kantor cabang tempat kami bekerja, padahal sudah berulang kali gue beralasan menolak
Tiba ditempat gue kerja, ternyata sama juga halnya sebelumnya, disana telah disiapkan sebuah pesta kecil2an untuk menyambut kepulangan kami yang dinilai telah berhasil memberikan seminar, atasan gue nampaknya cukup puas dengan kinerja kami, dan lagi2 terpaksa gue tak bisa beralasan, karena gue diancam dengan tak diberikan jatah cuti jika gue membantah, hingga tibalah keesokan hari setelah gue akhirnya memperoleh cuti, gue langsung pulang guna sesegera mengetahui khabar Atma
Sampai setelah gue tiba di rumah sakit tempat Atma dirawat, gue menemukan nyokap sedang duduk di depan sebuah bangsal, seperti biasa setelah gue sungkem dan mencium tangan beliau, gue bertanya dimana bangsal tempat Atma dirawat, dan nyokap langsung menunjuk ruangan didepanya
Quote:
Nyokap : Tepat didepan sini Mas, hanya saja sekarang sedang ada tamu, seseorang yang Ibuk sendiri juga kaget awalnya, karena dia banyak memiliki kesamaan dengan Mas, mungkinkah dia orang yang disukai Atma sebelumnya
Gue : Ya mungkin saja Buk! tapi biarpun begitu juga gak kenapa2, emang Mas siapanya Atma yang masih bisa cemburu! kita cuman temen kok Buk bukan pacar sungguhan
Nyokap : Sebaiknya lebih dijaga bicaranya Mas, takutnya malah nanti jadi kenyataan, Ibuk tahu kok akhir2 ini kalian sangat deket, bohong jika selama ini kalian gak ada perasaan, Ibuk juga pernah muda lah Mas, jadi tau mana yang pura2 dan mana yang sungguhan, Ibuk nilai sepertinya antara kalian sedikit2nya ada kok perasaan itu, hanya kalian belum mau jujur aja
Gue : Anggaplah saja memang benar seperti itu Buk! jika memang sudah tiba waktunya tak akan ada yang dapat kami rahasiakan lagi dari Ibuk, Ibuk berhak mengetahui semuanya, hanya mungkin belum sekarang saatnya, yaudah segitu dulu Buk, Mas mau lihat dulu ke dalem
Nyokap : Lhoh2 Mas mau apa? didalem masih ada tamu loh, gak mau nunggu dulu?
Gue : Gak pa2 Buk! lagian saya udah kenal siapa orang itu, tak akan terjadi apa2 kok
Berikutnya gue pun masuk, setelah menemukan dimana ranjang tempat Atma dirawat, tertulis disana “Fajrina Atmayanti” pada sebuah name tag, gue juga temukan Yuda sedang berada disana, gue berjalan menghampirinya dan memberikan salam, berlanjut setelahnya mencium kening Atma tepat di hadapanya, gue tahu waktu itu Yuda sedikit kesal, tapi dia memang tak bisa memperlihatkan kekesalanya langsung dihadapan Atma, berikutnya gue mencoba membuka obrolan tanpa menghiraukan keberadaan Yuda disana
Quote:
Gue : Syukurlah bahwa lo gak kenapa2 At! gue gak akan pernah maafin diri gue sendiri jika sampai terjadi sesuatu dengan lo
Atma : Benarkah! lalu kemana aja lo selama dua hari ini? saat kemaren gue minta lo untuk pulang segera? hingga baru sekarang lo bisa datang, apakah lo yakin gue masih sanggup mempercayai lo lagi, dan berharap bahwa lo disana juga sedang menghawatirkan juga kondisi gue, sebenernya apa yang coba mau lo buktikan? bukankah lo sama sekali sudah gak peduli lagi dengan gue? lo lebih mementingkan urusan kerjaan lo kan daripada gue? lo memang sama sekali gak bisa gue andalkan Gri, beruntunglah ada Yuda waktu itu yang entah dari mana datangnya dia tahu kondisi gue, dan tiba2 aja hadir disini buat nemani gue
Gue : Begitu ya! benar jika lo bilang semua adalah salah gue At, gue memang orang yang payah yang terlalu pengecut bahkan untuk menunjukan sedikit perasaan khawatir gue buat lo, sedang andaikan lo tahu alasan sebenernya pun, gue yakin lo juga gak akan dapat menerimanya, jadi gue tak ingin mencoba memberi alasan, gue sadar gue memang tak memiliki kemampuan untuk selalu dapat berada disamping lo, tapi ketahuilah At! gue sudah mengupayakan/ mengusahakan yang terbaik yang bisa gue lakuin untuk lo, meskipun itu dengan cara yang sama sekali tak pernah sebelumnya lo ketahui sekalipun, gue tetap menjaga dan memperhatikan lo walau bukan langsung dengan tangan gue sendiri
Atma : Lo masih meminta gue untuk percaya Gri, sedang sementara telah terbukti tak ada tindakan yang dapat sama sekali lo tunjukkan, apakah menurut lo gue ini masih seperti gadis bodoh yang senantiasa hanya diam mendengar semua kebohongan tentang lo? cukup dan akuilah bahwa lo memang tak bisa berbuat apa2, berhentilah berperan bahwa sepertinya lo telah berbuat banyak untuk gue, gue sudah capek dan gak bisa nerima itu lagi dari lo, jadi maaf! semua udah cukup bagi gue! semua kepedulian lo selama ini gue anggap hanya pura2
Gue : Baiklah jika begitu, gue pun juga tak akan banyak membela diri, karena benar! sebagian sifat gue yang lain memang seperti yang lo tuduhkan, sekarang apa yang menurut lo baik aja kedepan At! maka ambilah sebagai pilihan lo dan tinggalkan segalanya yang buruk, seperti halnya sekarang lo sudah punya Yuda kan At, tentu semua sudah seperti yang lo harapkan selama ini bukan? jadi sudah saatnya sekarang lo membuang gue ke tempat yang jauh, lupakan dan jangan pernah mengingat apapun lagi tentang gue, selamat tinggal At! semoga lo lekas sembuh, dan berikutnya hiduplah dengan bahagia, mintalah kepada Yuda untuk memberikanya!
Atma : Tanpa pernah lo mintapun gue pasti akan melakukanya, sepertinya itu bukanlah perkara yang sulit buat gue, hanya saja bagaimana dengan lo sendiri? apa lo bisa menerima keputusan ini?
Gue : Lo udah tau seperti apa gue kan At, bukan pertama kali juga gue seperti ini, gue bahkan udah sering terlatih untuk dikecewakan, jadi gue rasa kedepan gue tak akan kenapa2
Atma : Baiklah kalau gitu! berikutnya jalani hidup lo sesuai dengan kemauan lo seperti biasanya, dan dapatkan lagi kebahagiaan lo sendiri, semoga sukses di kedepanya
Gue : Amin, lo juga demikian At, selamat tinggal dan sampai bertemu lagi nanti ketika gue telah sukses seperti harapan lo
Berikutnya gue memutuskan untuk pulang setelah gue pamit, gue mengajak serta juga Nyokap, namun belum jauh gue meninggalkan rumah sakit, langkah gue segera dihentikan oleh Yuda waktu itu
Quote:
Yuda : Gri! boleh gue minta waktu lo sedikit buat bicara, demi allah gue nyesal atas apa yang telah gue perbuat hari ini, entah pikiran kotor apa yang telah meracuni gue sehingga gue demikian tega justru berbuat seperti itu terhadap lo, kenapa justru gue lah orang yang telah mengambil dan mencuri keuntungan itu dari lo, kesempatan saat lo gak bisa hadir dan menemani Atma disini, gue benar2 telah merasa bersalah Gri, jujur sebelumnya gue telah banyak mengarang cerita dan menjelek2an lo didepan Atma, supaya apa Gri? supaya gue tak lagi kehilanganya untuk kedua kali, gue sadar gue emang tamak, gue gak bisa tinggal diam saja melihat sesuatu yang seharusnya menjadi milik gue kemudian dimiliki orang lain, sementara itulah cara satu2nya yang terpikirkan oleh gue Gri, walau gue tahu itu mungkin sangat kejam buat lo, tapi gue beneran gak nyangka jika semua justru berakhir seperti ini, tak pernah gue duga Atma bisa meledak seperti tadi, bahkan pertama kalinya gue melihatnya marah
Yuda : Gue sangat2 menyesal! tapi gue juga tak bisa berbuat banyak Gri, terima kasih waktu itu bahwa lo telah mengabarkan gue tentang kondisi Atma, jika bukan karena lo mungkin gue tak akan berada pada situasi dan kondisi gue sekarang, gue juga tahu bahwa lo lah orang yang telah sengaja memasukan nomor Atma dulu ke kontak Hp gue, sekaligus yang juga telah mengiriminya sebuah sms sehingga kami dapat berbalas pesan, entah kenapa lo sampai melakukanya Gri, padahal gue tahu jika lo juga memiliki perasaan yang sama padanya, kenapa lo bisa begitu baik? yang jujur gue gak tahu maksud apa yang sebenernya lo inginkan atas semua itu, jika itu untuk mencoba mendekatkan kami berdua lagi? berarti sungguh bodoh atas semua yang telah gue lakukan kepada lo hari ini, karena justru gue harus menyakiti lo? kenapa malah justru lo orang yang gue korbankan? maafin gue Gri! dengan dan atas apapun yang ada didunia ini, selamanya gue akan selalu berhutang maaf ke lo