- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146.1K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#483
Quote:
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Quote:
Di part sebelumnya gw akhirnya bisa kayak Dr. Strange masuk ke dunia astral. Tapi kalau gw bukan karena kemampuan sihir melainkan karena perbuatan jin penguasa balai desa. Setelah ditusuk dengan jari panas iblis laknat itu sampai tembus masuk kepala gw. Gw tergeletak dilantai tapi anehnya gw bisa liat tubuh gw itu. Gw liat tangan dan kaki gw,semuanya utuh. Gw coba bangunin tubuh gw yang asli tapi percuma tangan gw gak bisa nyentuh tubuh asli gw. Dalam keadaan kaya gitu, gw jadi makin bingung sebenarnya apa yang terjadi waktu itu. Gw pikir, gw udah mati dan sekarang masuk di dunia arwah. Tapi kenyataan gw masih hidup saat ini membantah itu semua.
Setelah beberapa lama gw berdiri di dekat jasad gw. Tiba tiba ada sesosok rantai besi yang mengalungi leher gw. Dan tiba tiba juga gw ditarik pake rantai oleh makhluk aneh yang belum gw pernah liat sebelumnya. Jin ini bertubuh tinggi kurus. Benar benar kurus sampai sampai badannya seperti hanya tulang. Berwajah keriput dengan mata merah. Walaupun kurus tapi tarikan dirantainya benar benar kuat. Walaupun dalam bentuk arwah tapi gw masih bisa merasakan kesakitan. Gw diseret keluar balai desa tepatnya gw dibawa ke belakang balai desa. Di belakang balai desa itu kebon. Gw dibawa kemana.
Sesampainya gw keluar dari balai desa. Ada keanehan di sana, karena kebon belakang balai desa berubah gak kaya sebelumnya. Padahal setau gw dibalai desa gak ada rawa tapi saat itu ada rawa dan gak jauh dari sana ada batu yang lumayan besar. Dan lagi batu ini gak ada sebelumnya. Gw diseret kearah batu itu. Sepanjang perjalanan banyak pemandangan menyeramkan banyak sosok hantu yang melotot mandengin gw. Gw cuma bisa liat sekilas karena gw dalam keadaan ditarik sama jin tinggi kurus tadi. Gw akhirnya sampai di batu besar itu. Rantai yang mengikat leher gw ditarik kenceng banget sampai gw terlempar didepan batu besar itu. Dan saat gw bangun, disana ada 2 sosok orang yang sedang berbincang-bincang. Sosok pertama seorang laki laki yang udah lumayan tua terlihat dari rambutnya yang beruban. Bapak tua itu mengenakan pakaian serba hitam sambil duduk didepan kemenyan dan sajen. Penampilannya mirip dukun yang pernah ngobatin gw dulu. Sosok satu lagi bapak bapak kepala 4. Masih belum terlalu tua. Mereka berbicara berdua. Karena gw gak dengar apa yang mereka omongin akhirnya gw coba mendekat sekaligus berniat minta tolong. Tapi karena rantai yang melilit leher gw gak panjang alhasil gw cuma bisa liat mereka dari balik batu. Gw minta tolong sama mereka tapi mereka gak dengar suara gw. Dan mereka juga gak tau kalau gw ada disitu. Karena percuma minta tolong sama mereka akhirnya gw mutusin buat fokus aja sama apa yang mereka bicarakan.
Karena pikir gw ini jin kurus bawa gw kesini pasti ada maksudnya. Gw dengerin semua yang mereka obrolin. Ternyata apa yang mereka obrolin itu benar benar mengejutkan. Selama ini jadi mereka yang bikin hidup gw menderita. Dari yang gw dengerin Kakek yang pake baju serba hitam namanya Mbah Darmo yang bapak bapak itu namanya Sukirno. Kurang lebih begini percakapan mereka. Semua percakapan dari bahasa Jawa. Tapi ane translate ke Indonesia.
Mbah : Km tau kan khadam yang Mbah berikan hatus dikasih makan selam Km masih pakai ilmu kebal itu.
Kirno : iya Mbah Darmo saya tau, cuma saya sudah gak mau pakai ilmu kebal itu. Makannya saya tidak akan memberinya makan lagi.
Mbah : Sukirno kamu tau dampaknya kalau khadam itu tidak diberi makanan? Bisa bisa ngamuk itu khadam
Kirno : Maaf Mbah, saya sudah tidak mau mencari tumbal lagi. Tolong usir khadam saya mbah.
Mbah : kamu dulu yang mohon mohon pasangin ilmu kebal dan Kanuragan. Sekarang kamu minta dibuang. Lihat saja jika kamu berhenti kasih dia makan. Dia akan cari sendiri makanannya. Anak cucu kamu. Sampai kamu mati bakalan dia cari.
Kirno : Ampun Mbah, jangan begitu Mbah. Kasian anak cucu saya .
Mbah : Rasakan kamu, itu akibat ulahmu sendiri. Jin khadam kamu marah besar sama kamu. Dia bilang anak cucu kamu kalau mau selamat juga harus cari tumbal untuk dia.
Saat gw dengerin semua percakapan mereka gw berfikiran apa mungkin gw salah satu cucu bapak Sukirno itu ya. Apa jangan jangan Gw dibawa kemasa lalu? Sama ini jin. Cuma buat dengerin percakapan mereka. Gw masih mau dengerin percakapan mereka tapi sialnya. Jin Tinggi kurus itu malah narik leher gw. Gw ditarik dengan kerasnya. Sampai gw jatuh telentang. Saat gw masih dalam kondisi jatuh leher gw ditarik, gw diseret pergi ke sesuatu tempat. Gw diseret menjauh dari balai desa. Karena gw nahan sakit gw gak tau gw mau dibawa kemana. Saat sampai tujuan gw liat ternyata gw dibawa ke kamar gw. Dimana udah ada tubuh gw yang tergeletak di kasur. Jin Tinggi kurus itu langsung tarik arwah gw. Dilempar ke badan gw. Gak lama dari situ gw sadarkan diri utuh bareng jasad gw. Gw liat seluruh tubuh gw gak ada bekas luka apapun. Bekas luka bakar dari jin penguasa balai desa juga gak ada. Gw seneng karena gw masih hidup. Tapi gw stress terima kenyataan, kalau gw mau selamat ternyata dari perjalanan ghaib itu gw harus cari tumbal.
Bersambung...
Setelah beberapa lama gw berdiri di dekat jasad gw. Tiba tiba ada sesosok rantai besi yang mengalungi leher gw. Dan tiba tiba juga gw ditarik pake rantai oleh makhluk aneh yang belum gw pernah liat sebelumnya. Jin ini bertubuh tinggi kurus. Benar benar kurus sampai sampai badannya seperti hanya tulang. Berwajah keriput dengan mata merah. Walaupun kurus tapi tarikan dirantainya benar benar kuat. Walaupun dalam bentuk arwah tapi gw masih bisa merasakan kesakitan. Gw diseret keluar balai desa tepatnya gw dibawa ke belakang balai desa. Di belakang balai desa itu kebon. Gw dibawa kemana.
Sesampainya gw keluar dari balai desa. Ada keanehan di sana, karena kebon belakang balai desa berubah gak kaya sebelumnya. Padahal setau gw dibalai desa gak ada rawa tapi saat itu ada rawa dan gak jauh dari sana ada batu yang lumayan besar. Dan lagi batu ini gak ada sebelumnya. Gw diseret kearah batu itu. Sepanjang perjalanan banyak pemandangan menyeramkan banyak sosok hantu yang melotot mandengin gw. Gw cuma bisa liat sekilas karena gw dalam keadaan ditarik sama jin tinggi kurus tadi. Gw akhirnya sampai di batu besar itu. Rantai yang mengikat leher gw ditarik kenceng banget sampai gw terlempar didepan batu besar itu. Dan saat gw bangun, disana ada 2 sosok orang yang sedang berbincang-bincang. Sosok pertama seorang laki laki yang udah lumayan tua terlihat dari rambutnya yang beruban. Bapak tua itu mengenakan pakaian serba hitam sambil duduk didepan kemenyan dan sajen. Penampilannya mirip dukun yang pernah ngobatin gw dulu. Sosok satu lagi bapak bapak kepala 4. Masih belum terlalu tua. Mereka berbicara berdua. Karena gw gak dengar apa yang mereka omongin akhirnya gw coba mendekat sekaligus berniat minta tolong. Tapi karena rantai yang melilit leher gw gak panjang alhasil gw cuma bisa liat mereka dari balik batu. Gw minta tolong sama mereka tapi mereka gak dengar suara gw. Dan mereka juga gak tau kalau gw ada disitu. Karena percuma minta tolong sama mereka akhirnya gw mutusin buat fokus aja sama apa yang mereka bicarakan.
Karena pikir gw ini jin kurus bawa gw kesini pasti ada maksudnya. Gw dengerin semua yang mereka obrolin. Ternyata apa yang mereka obrolin itu benar benar mengejutkan. Selama ini jadi mereka yang bikin hidup gw menderita. Dari yang gw dengerin Kakek yang pake baju serba hitam namanya Mbah Darmo yang bapak bapak itu namanya Sukirno. Kurang lebih begini percakapan mereka. Semua percakapan dari bahasa Jawa. Tapi ane translate ke Indonesia.
Mbah : Km tau kan khadam yang Mbah berikan hatus dikasih makan selam Km masih pakai ilmu kebal itu.
Kirno : iya Mbah Darmo saya tau, cuma saya sudah gak mau pakai ilmu kebal itu. Makannya saya tidak akan memberinya makan lagi.
Mbah : Sukirno kamu tau dampaknya kalau khadam itu tidak diberi makanan? Bisa bisa ngamuk itu khadam
Kirno : Maaf Mbah, saya sudah tidak mau mencari tumbal lagi. Tolong usir khadam saya mbah.
Mbah : kamu dulu yang mohon mohon pasangin ilmu kebal dan Kanuragan. Sekarang kamu minta dibuang. Lihat saja jika kamu berhenti kasih dia makan. Dia akan cari sendiri makanannya. Anak cucu kamu. Sampai kamu mati bakalan dia cari.
Kirno : Ampun Mbah, jangan begitu Mbah. Kasian anak cucu saya .
Mbah : Rasakan kamu, itu akibat ulahmu sendiri. Jin khadam kamu marah besar sama kamu. Dia bilang anak cucu kamu kalau mau selamat juga harus cari tumbal untuk dia.
Saat gw dengerin semua percakapan mereka gw berfikiran apa mungkin gw salah satu cucu bapak Sukirno itu ya. Apa jangan jangan Gw dibawa kemasa lalu? Sama ini jin. Cuma buat dengerin percakapan mereka. Gw masih mau dengerin percakapan mereka tapi sialnya. Jin Tinggi kurus itu malah narik leher gw. Gw ditarik dengan kerasnya. Sampai gw jatuh telentang. Saat gw masih dalam kondisi jatuh leher gw ditarik, gw diseret pergi ke sesuatu tempat. Gw diseret menjauh dari balai desa. Karena gw nahan sakit gw gak tau gw mau dibawa kemana. Saat sampai tujuan gw liat ternyata gw dibawa ke kamar gw. Dimana udah ada tubuh gw yang tergeletak di kasur. Jin Tinggi kurus itu langsung tarik arwah gw. Dilempar ke badan gw. Gak lama dari situ gw sadarkan diri utuh bareng jasad gw. Gw liat seluruh tubuh gw gak ada bekas luka apapun. Bekas luka bakar dari jin penguasa balai desa juga gak ada. Gw seneng karena gw masih hidup. Tapi gw stress terima kenyataan, kalau gw mau selamat ternyata dari perjalanan ghaib itu gw harus cari tumbal.
Bersambung...
pulaukapok dan 9 lainnya memberi reputasi
10
Kutip
Balas
Tutup