- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#170
Menjemput Anissa
Huh, hari Senin. Gerutuan ini didapat Ario dari Anissa melalui chat. Hal yang sama terlihat pada Bima. Luna tetap berusaha memberikan Bima pendidikan.
Bima masuk ke sekolah negri. Berkat kecerdasan Bima, Ia sering mendapat beasiswa. Setidaknya hal itu meringankan beban Luna.
Namun, tetap saja. Hari Senin tetap merupakan hari yang berat bagi seorang murid seperti Bima.
“Mama sudah bilang jangan mengeluh saat makan dan saat mau ke sekolah. Kau harus bersyukur Nak. Liat, Paman Ario bahkan sangat berharap bisa sekolah. Tapi, aku dan Paman Ario tidak punya nasib sebaik kamu. Jadi berhenti mengeluh!”, seru Luna.
“Ya…. Ya…. Tanya pada Kak Anissa. Kalian tidak mengerti beban kami belajar. “, Bima melipat kedua tangannya di dada. Ario berpura-pura tidak tahu.
‘Betul juga kata Bima. Tidak sekolah mana tahu susahnya sekolah. Tapi tidak pernah kerja mana tahu kalau kerja lebih susah dari bersekolah.’, tawa Ario dalam hati. Dia lalu membalas chat dari Anissa.
‘Kamu mengoceh persis seperti Bima pagi ini. Dia bilang kami tidak mengerti bagaimana rasanya sekolah. Dan Luna harus bertanya padamu bagaimana beban di sekolah. Tapi kalian cukup beruntung untuk bisa memegang buku dan pensil dalam waktu yang lama. ’
Anisa tertawa sangat panjang dalam balasan pesan singkatnya pada Ario.
- Pulang aku jemput ya - Send.
Ario menunggu balasan sambil menunggu keputusan rapat paripurna antara Bima dan Ibunya. Akhirnya seperti biasa Bima mengalah dan memanggul tasnya sambil merengut.
-Oke. Aku tunggu ya. Istirahatnya sudah selesai nih. Udah dulu ya. Bye-
-Bye- Ario menyimpan handphonennya ke dalam saku. Tersenyum sambil berpikir kemana ya hari ini dia akan mengajak Anissa makan siang.
Bel pulang berdering. Anissa segera memberes-bereskan barang. Pasti Ario menunggunya. Tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
“Anissa, bisa kita bicara sebentar?”, ujar Bu Siska. “Oh, baiklah.”, Anissa segera mengirimkan sebuah sms pada Ario.
-Yo, guruku mencari aku. Bentar ya-
Huh, hari Senin. Gerutuan ini didapat Ario dari Anissa melalui chat. Hal yang sama terlihat pada Bima. Luna tetap berusaha memberikan Bima pendidikan.
Bima masuk ke sekolah negri. Berkat kecerdasan Bima, Ia sering mendapat beasiswa. Setidaknya hal itu meringankan beban Luna.
Namun, tetap saja. Hari Senin tetap merupakan hari yang berat bagi seorang murid seperti Bima.
“Mama sudah bilang jangan mengeluh saat makan dan saat mau ke sekolah. Kau harus bersyukur Nak. Liat, Paman Ario bahkan sangat berharap bisa sekolah. Tapi, aku dan Paman Ario tidak punya nasib sebaik kamu. Jadi berhenti mengeluh!”, seru Luna.
“Ya…. Ya…. Tanya pada Kak Anissa. Kalian tidak mengerti beban kami belajar. “, Bima melipat kedua tangannya di dada. Ario berpura-pura tidak tahu.
‘Betul juga kata Bima. Tidak sekolah mana tahu susahnya sekolah. Tapi tidak pernah kerja mana tahu kalau kerja lebih susah dari bersekolah.’, tawa Ario dalam hati. Dia lalu membalas chat dari Anissa.
‘Kamu mengoceh persis seperti Bima pagi ini. Dia bilang kami tidak mengerti bagaimana rasanya sekolah. Dan Luna harus bertanya padamu bagaimana beban di sekolah. Tapi kalian cukup beruntung untuk bisa memegang buku dan pensil dalam waktu yang lama. ’
Anisa tertawa sangat panjang dalam balasan pesan singkatnya pada Ario.
- Pulang aku jemput ya - Send.
Ario menunggu balasan sambil menunggu keputusan rapat paripurna antara Bima dan Ibunya. Akhirnya seperti biasa Bima mengalah dan memanggul tasnya sambil merengut.
-Oke. Aku tunggu ya. Istirahatnya sudah selesai nih. Udah dulu ya. Bye-
-Bye- Ario menyimpan handphonennya ke dalam saku. Tersenyum sambil berpikir kemana ya hari ini dia akan mengajak Anissa makan siang.
Bel pulang berdering. Anissa segera memberes-bereskan barang. Pasti Ario menunggunya. Tapi tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
“Anissa, bisa kita bicara sebentar?”, ujar Bu Siska. “Oh, baiklah.”, Anissa segera mengirimkan sebuah sms pada Ario.
-Yo, guruku mencari aku. Bentar ya-
Diubah oleh anism 04-07-2017 18:46
0