- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#6800
Dunklen Nacht
Sekitar pukul tujuh malam Gua sudah berada di rumah Luna lagi. Gua memarkirkan motor setelah satpam rumahnya membukakan gerbang. Lalu Gua berjalan melintasi sebuah mobil mewah yang belum pernah Gua lihat sama sekali. Gua berdiri diambang pintu ketika melihat kedalam ruang tamunya, disana terlihat ada tiga orang yang sepertinya sedang berdiskusi.
"Selamat malam...", ucap Gua sedikit berteriak agar terdengar kedalam.
Mereka bertiga menengok kepada Gua, dan ya Gua kenal betul dengan wajah-wajah itu. Salah satu dari mereka tersenyum lalu berdiri dan berjalan menghampiri Gua.
"Hai, malam Za..".
"Udah mendingan atau langsung sehat ?".
"Yaaa.. Seperti yang kamu lihat.. Sehatkan aku, hihihi...".
Ya kamu sehat Luna... Sehat dan akan selalu sehat...
"Ayo masuk Za..", ajaknya.
Gua berjalan dibelakang Luna hingga kami sampai di ruang tamunya, Gua menyalami Papahnya kemudian menyapa Erick yang duduk disebrang Papahnya itu. Kemudian Gua duduk bersebelahan dengan Luna di sofa sebelah Papahnya itu.
"Apa kabar Za ?", tanya Papahnya.
"Alhamdulillah baik Om..", jawab Gua sambil tersenyum. "Om sendiri apa kabar ? Kapan datang dari Jerman Om ?", tanya Gua balik.
"Ya, saya sehat... Saya baru datang tadi sore, masih jetlag rasanya ini, hahaha...", jawabnya sambil tertawa.
"Wah kalau begitu lebih baik istirahat dulu Om...".
"Wah enggak bisa rasanya Za... Ini Luna dan Erick dadakan mau menikah katanya...".
Gua terkejut sampai membelalakan mata mendengar ucapan beliau. What dafak..? Apalagi ini ? Gila, baru saja tadi pagi Luna menjelaskan soal hubungan kami di depan makam istri Gua, sekarang tiba-tiba Gua mendengar berita... Enggaklah.. Bukan berita bahagia untuk Gua. Syit!!! Oke oke... Gua tau Luna memang ingin mengakhiri hubungan kami, tapi kenapa dia enggak bilang tadi pagi juga kalau dia dan Erick akan menikah...
"Are you ok, Za ?", tanya Papahnya yang melihat Gua terkejut itu.
"Of course.. Of course I'm not okay..", reflek jawaban itu terlontar dari mulut ini. "Ehm.. Maaf Om, tapi apa in..".
"Aku akan jelasin ke kamu Za", potong Luna sambil menarik tangan kanan Gua pelan.
Erick dan Papahnya kebingungan melihat Gua yang dibawa oleh Luna keluar rumah lagi. Kini kami berdua duduk di bangku kayu teras rumahnya. Luna menundukan kepala sebentar lalu menengok kepada Gua.
"Jangan kamu minta maaf lagi Lun...", Gua langsung menerka apa yang akan ia ucapkan.
"Za.. Erick memang udah melamar aku ke Papah, maaf aku belum cerita soal ini Za.. Dia sungguh-sungguh...".
Gua berdiri dan berjalan mendekatinya, kali ini Gua berjongkok dimana ia masih terduduk.
"Luna... Kamu fikir aku enggak sungguh-sungguh mencintai kamu ? Kamu fikir aku main-main dengan semua ini ?", Gua menatap matanya lekat-lekat.
Luna memalingkan wajahnya kearah samping.
"Dengar baik-baik Luna... Kalau pertimbangan kamu karena penyakit yang kamu derita! Aku sendiri siap untuk menemani kamu Lun...menjadi pendamping hidup kamu, aku enggak peduli dengan apapun resiko yang akan kita hadapi kelak Lun..".
"Kamu... Kamu tau darimana aku punya penyakit Za ?".
Luna terkejut memandangi Gua.
"Lun, udahlah... Aku tau semuanya, aku tau kamu enggak mencintai Erick... Dia mungkin sudah tau apa yang kamu derita, begitupun dengan aku Lun.. Aku menerima kamu apa adanya seperti kamu menerima aku selama ini...".
"Kamu belum siap Za..", ucap Luna.
Gua mengerenyitkan kening. "Apa yang kamu maksud ?".
"Kamu belum siap untuk kehilangan Za.. Terlalu perihkan rasa dari sebuah kehilangan orang yang kamu sayangi ? Apa kamu siap jika harus kehilangan aku ? Bukan sekedar menjauh Za... Aku tau kamu mengerti maksud aku".
Gua terdiam, memikirkan ucapannya itu. Luna kamu tau apa yang udah terjadi dalam hidup ku, tapi kenapa kamu menjadi pesimis seperti ini Lun...
"Lun... Aku sadar, kita semua pasti akan kehilangan, begitupun dengan diri kita sendiri, yang akan meninggalkan dunia ini suatu hari nanti... Tapi biarlah aku bahagia dan membahagiakan kamu Luna... Selama kita masih bernafas, selama itu pula aku akan membahagiakan kamu Luna..".
"Poinnya bukan itu.. Kamu boleh bilang aku egois. Tapi kelak kamu akan menyadari untuk apa dan siapa aku melakukan ini semua, bukan hanya untuk dia, tapi kamu juga Za..".
Luna berdiri, kemudian memeluk Gua, dia menyandarkan kepalanya ke bahu ini.
"Za, aku akan bahagia jika melihat kamu bahagia... Mungkin ini klise Za, tapi pahamilah, aku akan menunjukkan jika omongan orang-orang itu benar...".
"Omongan siapa ?".
"Bahwa mencintai itu tidak harus memiliki, dan melihat kamu bahagia dengan wanita yang lebih pantas adalah kebahagiaan aku juga Za...".
Kemudian Luna mengajak Gua kembali masuk kedalam rumahnya, kembali kami berdua bergabung bersama Papahnya dan Erick di ruang tamu ini. Gua berdiri disamping Luna, sedangkan Erick dan Papahnya masih berdiskusi perihal acara pernikahan yang serba mendadak ini.
Gua berjalan mendekati Erick yang masih duduk, lalu Gua berjongkok di depannya. Erick kebingungan...
"Rick..", Gua menepuk bahunya. "Lepasin Luna... Lepasin dia Rick, Lu tau dia gak mencintai Lu.. Biarkan Luna bahagia sama Gua", ucap Gua dengan nada seramah mungkin.
Erick dan Papahnya memandangi Gua, lalu Erick melirik kepada Luna sesaat sebelum kembali menatap Gua.
"Za.. Gua sadar Luna mencintai Lu tulus.. Tapi kalau Gua sampai melepaskan Luna ke Lu, itu sama aja Lu egois Za...", jawabnya dengan suara yang pelan.
"Maksud Lu ?".
"Kita semua tau Za, apa yang Luna derita, Gua yakin begitu pun dengan Lu..".
"Karena itu Rick.. Karena itulah biarkan Luna bahagia bersama Gua..".
"Elu salah Za.. Elu salah besar...", Erick memegang tangan Gua yang masih berada dibahunya, lalu mengajak Gua berdiri. "Za, Luna memilih melepaskan Lu karena dia enggak mau Lu merasakan kehilangan seperti apa yang udah Lu alami dengan Almarhumah istri Lu dulu Za...", ucapnya kali ini setelah kami saling berhadapan.
"Tau apa Lu soal masa lalu Gua Rick ?".
"Maaf Za, tapi Luna udah cerita semuanya, cerita soal hubungan kalian sampai ke pernikahan Lu dengan Echa.. Gua tau semuanya Za.. Betapa hancur dan depresinya Lu ketika itu...".
Gua mendengus kasar. "Terus sekarang apa maksud Lu dengan Gua harus relain Luna, Rick ?".
"Luna pasti bahagia menikah dengan Lu Za, ya dia bahagia... Tapi.. Apa dia bisa memberikan kebahagiaan ke Elu Za ?", tanyanya.
"Jelaslah Rick... Itu jelas, menikah dengan orang yang dicintai pasti membuat bahagia.. Dan Elu gak perlu rasanya menanyakan hal seperti itu, Gua pasti bahagia".
"Enggak.. Lu gak akan bahagia kalau sampai Luna meninggalkan Lu untuk selamanya Za...".
Buaghh..Gua menghajar wajahnya hingga ia tersungkur dan terjatuh ke atas sofa.
Luna menahan bahu Gua dari belakang. Sedangkan Papahnya membantu Erick untuk kembali duduk. Nafas Gua memburu dan emosi Gua sudah diubun-ubun.
"Berani Lu bicara seperti itu Rick... Kita semua bukan Tuhan! Enggak ada yang tau masa depan seseorang sampai takdirnya sendiri yang mendatangi kita semua Rick!".
"Gua bicara kenyataannya Za..", ucap Erick sambil menyeuka tulang pipinya yang sedikit berdarah. "Buka mata Lu, lihat kenyataan yang ada Za, Lu fikir Gua dan keluarganya gak berusaha untuk kesembuhan Luna Za.. Dan berapa persen manusia yang selamat dari penyakit itu Za ? Berbagai pengobatan udah kami coba.. Dan Lu gak pernah tau betapa sakitnya Gua Za ketika tau Luna lebih mencintai Lu daripada Gua!", lanjutnya yang kembali berdiri dihadapan Gua.
Gua nyaris saja maju dan kembali menghajarnya jika Luna tidak menahan Gua. "Za, tenang dulu...", ucap Luna dari belakang yang masih memegangi bahu ini.
"Lu harus sadar, semua ini demi kebahagiaan Lu Za.. Luna enggak mau melihat Lu hancur seperti pernikahan Lu sebelumnya, dan Gua disini mencoba memahami juga Za..", lanjut Erick, kemudian dia memasukan kedua tangannya ke saku celana dan tertunduk.
"Reza... Apa Lu pernah menikahi orang yang enggak mencintai Lu ?", Erick menatap Gua kali ini dengan tersenyum.
Pertanyaannya itu langsung menghempaskan Gua jauh kedalam cerita dimana saat Gua baru menikahi Echa. Posisi yang terbalik, saat itu Gua yang belum sepenuhnya mencintai Echa, dan posisi Erick saat ini, rasanya sama seperti Echa dulu.
"Sorry Za.. Karena itulah Gua bilang Lu itu egois...", ucapnya lagi,
"Ini semua demi Lu Za, masa depan dan kebahagiaan Lu.. Sadar Za, Luna mencintai Lu lebih dari apa yang Lu bayangin, dan Gua akan berusaha membahagiakan dia walaupun dia enggak mencintai Gua Za..", lanjutnya dengan tetap tersenyum.
Luna memeluk Gua dari belakang dan menyandarkan kepalanya ke punggung ini, terasa tubuhnya bergetar lalu suaranya terisak menangis.
"Aku mencintai kamu tulus, merelakan kamu bukan berarti aku berhenti menyayangi kamu Za, enggak ada yang tau soal ini, termasuk apa yang aku derita kecuali semua orang yang ada disini Za...", ucapnya lirih.
"Lun...", Gua melepaskan dekapannya dan berbalik untuk memegangi kedua bahunya. "Mamah kamu enggak tau soal penyakit kamu ?", tanya Gua.
Luna menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum. "Bahkan Helen pun enggak tau...".
Gua yang mendengar semua perasaan dari dalam hati orang-orang yang berada di rumahnya itu seolah-olah tidak memiliki keteguhan hati, apa yang Gua coba perjuangankan dipandang sebagai suatu keegoisan. Jika memang begitu, malam ini sama dengan malam dimana Gua harus bisa merelakannya pergi.
Tidak ada kebahagiaankah untuknya ? Ya, rasanya seperti itu, dia melepaskan dan memilih untuk berjalan pada pilihan yang sulit. Demi sebuah cerita yang dia rangkai sendiri untuk kami semua.
...
Gua pulang setelah waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam dengan menggunakan motor, hujan deras yang mengguyur kota ini cukup membuat Gua basah kuyup walaupun jarak rumah kami cukup dekat. Setelah memarkirkan motor disamping mobil sedan yang cukup Gua kenali, Gua turun dan menuju teras rumah.
"Za.. Kamu kenapa hujanan ?", tanya seorang wanita yang sudah berdiri diambang pintu rumah Gua.
"Gak apa-apa, udah malam soalnya, gak enak bertamu terlalu lama dirumah orang kan, Eh iya maaf, bisa tolong minta Bibi ambilin handuk Kak ?".
"Udah ah masuk dulu, biar aku yang ambilin handuknya...", Dia menarik lengan Gua dan kami berdua memasuki rumah ini.
Setelah itu Gua membilas tubuh didalam kamar mandi lalu mengenakan pakaian hangat karena rasanya terlalu dingin malam ini apalagi setelah hujanan. Gua menuruni tangga untuk menuju gazebo halaman belakang setelah meminta dibuatkan secangkir kopi hitam.
"Kapan datang Kak ?", tanya Gua ketika baru saja membakar sebatang rokok di dalam gazebo.
"Tadi sama Mba Laras jam delapanan... Eh kamu tadi darimana ?", ucapnya yang duduk dihadapan Gua.
"Abis dari rumah Luna.. Mba Larasnya mana ?"
"Ada di kamar, dia nunggu kamu tadi, tapi katanya ngantuk mau istirahat...", jawabnya sambil merapihkan helaian rambutnya yang tertiup semilir angin malam,
"Kamu dari rumah Luna ? Tumben naik motor... Enggak ada apa-apa kan Za ?", tanyanya lagi.
Suara deras hujan yang turun menghantarkan Gua untuk kembali menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini antara Gua dan Luna. Kamu memang selalu menjadi pendengar yang baik ya Kak.. Dari awal masalah aku sejak sma hingga menikah dengan Echa. Dan sekarang sepertinya aku pun enggak bisa menutupi apa yang aku sembunyikan.
Gua menceritakan apa yang Luna alami selama ini kepada Tante Gua itu, Kinanti. Dengan seksama ia mendengarkan setiap rentetan cerita Gua sampai tadi dirumah Luna, tidak ada satupun kenyataan yang Gua tutupi kepadanya.
"Za.. Kamu diamanatkan untuk enggak menceritakan ini semua, tapi kenapa kamu cerita sama aku ?", tanyanya setelah mendengar cerita Gua itu.
"Aku percaya sama kamu Kak, lagipula aku dititik beratkan belum boleh cerita sama dua wanita yang Luna sebutkan toh.. Dan kamu bukanlah salah satu diantara mereka.. But yeah.. I trust you as always Kak...".
"Makasih untuk kepercayaannya Za..", ucapnya seraya tersenyum. "Za.. Ada ya wanita seperti Luna itu... Gak nyangka aja di dunia ini kamu bisa bertemu dan diberi kesempatan untuk melihat seorang wanita yang memiliki hati mulia seprti dia..", lanjutnya.
"Terlalu banyak bahkan Kak.. Tuhan menunjukkan Aku beberapa wanita yang memiliki hati mulia dan berjiwa besar..", kemudian Gua menghembuskan asap rokok setelah sebelumnya menghisapnya dalam-dalam.
"Echa.. Vera... Dan sekarang Luna...", timpal Kinanti membenarkan.
Gua tersenyum dan menganggukkan kepala. Gua berdiri dan berjalan kearah sisi gazebo, dimana di depan sana, disebelah kolam renang berada dua buah makam dari kedua orang yang Gua cintai.
Hujan malam ini masih turun dengan deras ketika airmata ini mulai menggenang di pelupuk mata. Mengalir pelan, dan menetes ketika air itu berada pada dagu ini. Tangan Gua bergetar sedikit, merasakan sensasinya, kenangan-kenangan bersama dua wanita yang sudah pergi ke alam lain itu tiba-tiba saja kembali menyeruak.
"Aku mencintai kamu dalam waktu yang singkat Cha.. Terlambat memang, dan ketika aku ingin mencoba mencintai wanita dengan tulus dari awal, kesempatan itu malah hilang... Dia memilih untuk melepaskan semuanya, Cha.. Dengan berat dia merelakan ini semua, Cha.. Atas nama kebahagiaan aku.. Omong kosong apa seperti itu, Cha ?".
Gua masih memandangi makam almh istri Gua di depan sana dengan airmata yang berderai. Ucapan Gua sebelumnya sepertinya terdengar oleh Kinanti.
"Aku mengerti Za apa yang Luna mau... Bukan dia egois.. Tapi apa yang kamu bilang soal ucapan Erick rasanya benar...", ucapnya yang sudah berdiri disamping Gua,
"Luna enggak mau sampai kamu kehilangan dia untuk selamanya... Disaat kalian sedang bahagia.. Itu sudah cukup kamu alami kan ?", kali ini Kinan melirik ke depan sana, memandangi makam yang sama, yang masih Gua pandangi. "Dan dia lebih memilih untuk dipandang buruk oleh semua orang daripada mengatakan yang sebenarnya..".
"Untuk apa dia menyembunyikan ini semua menurut kamu Kak ?".
"Kamu itu Za.. Wanita berfikir menggunakan perasaannya, dia enggak mau dikasihani.. Kalau sampai semua orang tau apa yang ia derita, itu sama aja dengan menghentikan langkah wanita itu untuk bersama kamu... Apa kamu gak akan berfikir kalo dia tau semua ini, akan tetap bertahan ? Dan Luna lebih memilih untuk mengalah sebelum kenyataan ini diketahui semuanya Za.. Apa yang udah Luna lihat dari sosok dia lebih dari cukup untuk melepaskan kamu dan merelakan kamu kepadanya Za".
"Lebih baik berhenti disini sebelum semuanya terlambat ? Bahagia yang hanya sesaat ?, gitu ?", tanya Gua.
"Mungkin.. Ya mungkin seperti itu maksud Luna.. Walaupun memang kita gak ada yang tau hidup ini sampai dimana.. Tapi dia lebih memilih berhenti sebelum kamu larut dalam kebahagiaan itu Za.. Dan ketakutan terbesar Luna adalah meninggalkan kamu, meninggalkan kamu untuk selama-lamanya".
"Selamat malam...", ucap Gua sedikit berteriak agar terdengar kedalam.
Mereka bertiga menengok kepada Gua, dan ya Gua kenal betul dengan wajah-wajah itu. Salah satu dari mereka tersenyum lalu berdiri dan berjalan menghampiri Gua.
"Hai, malam Za..".
"Udah mendingan atau langsung sehat ?".
"Yaaa.. Seperti yang kamu lihat.. Sehatkan aku, hihihi...".
Ya kamu sehat Luna... Sehat dan akan selalu sehat...
"Ayo masuk Za..", ajaknya.
Gua berjalan dibelakang Luna hingga kami sampai di ruang tamunya, Gua menyalami Papahnya kemudian menyapa Erick yang duduk disebrang Papahnya itu. Kemudian Gua duduk bersebelahan dengan Luna di sofa sebelah Papahnya itu.
"Apa kabar Za ?", tanya Papahnya.
"Alhamdulillah baik Om..", jawab Gua sambil tersenyum. "Om sendiri apa kabar ? Kapan datang dari Jerman Om ?", tanya Gua balik.
"Ya, saya sehat... Saya baru datang tadi sore, masih jetlag rasanya ini, hahaha...", jawabnya sambil tertawa.
"Wah kalau begitu lebih baik istirahat dulu Om...".
"Wah enggak bisa rasanya Za... Ini Luna dan Erick dadakan mau menikah katanya...".
Gua terkejut sampai membelalakan mata mendengar ucapan beliau. What dafak..? Apalagi ini ? Gila, baru saja tadi pagi Luna menjelaskan soal hubungan kami di depan makam istri Gua, sekarang tiba-tiba Gua mendengar berita... Enggaklah.. Bukan berita bahagia untuk Gua. Syit!!! Oke oke... Gua tau Luna memang ingin mengakhiri hubungan kami, tapi kenapa dia enggak bilang tadi pagi juga kalau dia dan Erick akan menikah...
"Are you ok, Za ?", tanya Papahnya yang melihat Gua terkejut itu.
"Of course.. Of course I'm not okay..", reflek jawaban itu terlontar dari mulut ini. "Ehm.. Maaf Om, tapi apa in..".
"Aku akan jelasin ke kamu Za", potong Luna sambil menarik tangan kanan Gua pelan.
Erick dan Papahnya kebingungan melihat Gua yang dibawa oleh Luna keluar rumah lagi. Kini kami berdua duduk di bangku kayu teras rumahnya. Luna menundukan kepala sebentar lalu menengok kepada Gua.
"Jangan kamu minta maaf lagi Lun...", Gua langsung menerka apa yang akan ia ucapkan.
"Za.. Erick memang udah melamar aku ke Papah, maaf aku belum cerita soal ini Za.. Dia sungguh-sungguh...".
Gua berdiri dan berjalan mendekatinya, kali ini Gua berjongkok dimana ia masih terduduk.
"Luna... Kamu fikir aku enggak sungguh-sungguh mencintai kamu ? Kamu fikir aku main-main dengan semua ini ?", Gua menatap matanya lekat-lekat.
Luna memalingkan wajahnya kearah samping.
"Dengar baik-baik Luna... Kalau pertimbangan kamu karena penyakit yang kamu derita! Aku sendiri siap untuk menemani kamu Lun...menjadi pendamping hidup kamu, aku enggak peduli dengan apapun resiko yang akan kita hadapi kelak Lun..".
"Kamu... Kamu tau darimana aku punya penyakit Za ?".
Luna terkejut memandangi Gua.
"Lun, udahlah... Aku tau semuanya, aku tau kamu enggak mencintai Erick... Dia mungkin sudah tau apa yang kamu derita, begitupun dengan aku Lun.. Aku menerima kamu apa adanya seperti kamu menerima aku selama ini...".
"Kamu belum siap Za..", ucap Luna.
Gua mengerenyitkan kening. "Apa yang kamu maksud ?".
"Kamu belum siap untuk kehilangan Za.. Terlalu perihkan rasa dari sebuah kehilangan orang yang kamu sayangi ? Apa kamu siap jika harus kehilangan aku ? Bukan sekedar menjauh Za... Aku tau kamu mengerti maksud aku".
Gua terdiam, memikirkan ucapannya itu. Luna kamu tau apa yang udah terjadi dalam hidup ku, tapi kenapa kamu menjadi pesimis seperti ini Lun...
"Lun... Aku sadar, kita semua pasti akan kehilangan, begitupun dengan diri kita sendiri, yang akan meninggalkan dunia ini suatu hari nanti... Tapi biarlah aku bahagia dan membahagiakan kamu Luna... Selama kita masih bernafas, selama itu pula aku akan membahagiakan kamu Luna..".
"Poinnya bukan itu.. Kamu boleh bilang aku egois. Tapi kelak kamu akan menyadari untuk apa dan siapa aku melakukan ini semua, bukan hanya untuk dia, tapi kamu juga Za..".
Luna berdiri, kemudian memeluk Gua, dia menyandarkan kepalanya ke bahu ini.
"Za, aku akan bahagia jika melihat kamu bahagia... Mungkin ini klise Za, tapi pahamilah, aku akan menunjukkan jika omongan orang-orang itu benar...".
"Omongan siapa ?".
"Bahwa mencintai itu tidak harus memiliki, dan melihat kamu bahagia dengan wanita yang lebih pantas adalah kebahagiaan aku juga Za...".
Kemudian Luna mengajak Gua kembali masuk kedalam rumahnya, kembali kami berdua bergabung bersama Papahnya dan Erick di ruang tamu ini. Gua berdiri disamping Luna, sedangkan Erick dan Papahnya masih berdiskusi perihal acara pernikahan yang serba mendadak ini.
Gua berjalan mendekati Erick yang masih duduk, lalu Gua berjongkok di depannya. Erick kebingungan...
"Rick..", Gua menepuk bahunya. "Lepasin Luna... Lepasin dia Rick, Lu tau dia gak mencintai Lu.. Biarkan Luna bahagia sama Gua", ucap Gua dengan nada seramah mungkin.
Erick dan Papahnya memandangi Gua, lalu Erick melirik kepada Luna sesaat sebelum kembali menatap Gua.
"Za.. Gua sadar Luna mencintai Lu tulus.. Tapi kalau Gua sampai melepaskan Luna ke Lu, itu sama aja Lu egois Za...", jawabnya dengan suara yang pelan.
"Maksud Lu ?".
"Kita semua tau Za, apa yang Luna derita, Gua yakin begitu pun dengan Lu..".
"Karena itu Rick.. Karena itulah biarkan Luna bahagia bersama Gua..".
"Elu salah Za.. Elu salah besar...", Erick memegang tangan Gua yang masih berada dibahunya, lalu mengajak Gua berdiri. "Za, Luna memilih melepaskan Lu karena dia enggak mau Lu merasakan kehilangan seperti apa yang udah Lu alami dengan Almarhumah istri Lu dulu Za...", ucapnya kali ini setelah kami saling berhadapan.
"Tau apa Lu soal masa lalu Gua Rick ?".
"Maaf Za, tapi Luna udah cerita semuanya, cerita soal hubungan kalian sampai ke pernikahan Lu dengan Echa.. Gua tau semuanya Za.. Betapa hancur dan depresinya Lu ketika itu...".
Gua mendengus kasar. "Terus sekarang apa maksud Lu dengan Gua harus relain Luna, Rick ?".
"Luna pasti bahagia menikah dengan Lu Za, ya dia bahagia... Tapi.. Apa dia bisa memberikan kebahagiaan ke Elu Za ?", tanyanya.
"Jelaslah Rick... Itu jelas, menikah dengan orang yang dicintai pasti membuat bahagia.. Dan Elu gak perlu rasanya menanyakan hal seperti itu, Gua pasti bahagia".
"Enggak.. Lu gak akan bahagia kalau sampai Luna meninggalkan Lu untuk selamanya Za...".
Buaghh..Gua menghajar wajahnya hingga ia tersungkur dan terjatuh ke atas sofa.
Luna menahan bahu Gua dari belakang. Sedangkan Papahnya membantu Erick untuk kembali duduk. Nafas Gua memburu dan emosi Gua sudah diubun-ubun.
"Berani Lu bicara seperti itu Rick... Kita semua bukan Tuhan! Enggak ada yang tau masa depan seseorang sampai takdirnya sendiri yang mendatangi kita semua Rick!".
"Gua bicara kenyataannya Za..", ucap Erick sambil menyeuka tulang pipinya yang sedikit berdarah. "Buka mata Lu, lihat kenyataan yang ada Za, Lu fikir Gua dan keluarganya gak berusaha untuk kesembuhan Luna Za.. Dan berapa persen manusia yang selamat dari penyakit itu Za ? Berbagai pengobatan udah kami coba.. Dan Lu gak pernah tau betapa sakitnya Gua Za ketika tau Luna lebih mencintai Lu daripada Gua!", lanjutnya yang kembali berdiri dihadapan Gua.
Gua nyaris saja maju dan kembali menghajarnya jika Luna tidak menahan Gua. "Za, tenang dulu...", ucap Luna dari belakang yang masih memegangi bahu ini.
"Lu harus sadar, semua ini demi kebahagiaan Lu Za.. Luna enggak mau melihat Lu hancur seperti pernikahan Lu sebelumnya, dan Gua disini mencoba memahami juga Za..", lanjut Erick, kemudian dia memasukan kedua tangannya ke saku celana dan tertunduk.
"Reza... Apa Lu pernah menikahi orang yang enggak mencintai Lu ?", Erick menatap Gua kali ini dengan tersenyum.
Pertanyaannya itu langsung menghempaskan Gua jauh kedalam cerita dimana saat Gua baru menikahi Echa. Posisi yang terbalik, saat itu Gua yang belum sepenuhnya mencintai Echa, dan posisi Erick saat ini, rasanya sama seperti Echa dulu.
"Sorry Za.. Karena itulah Gua bilang Lu itu egois...", ucapnya lagi,
"Ini semua demi Lu Za, masa depan dan kebahagiaan Lu.. Sadar Za, Luna mencintai Lu lebih dari apa yang Lu bayangin, dan Gua akan berusaha membahagiakan dia walaupun dia enggak mencintai Gua Za..", lanjutnya dengan tetap tersenyum.
Luna memeluk Gua dari belakang dan menyandarkan kepalanya ke punggung ini, terasa tubuhnya bergetar lalu suaranya terisak menangis.
"Aku mencintai kamu tulus, merelakan kamu bukan berarti aku berhenti menyayangi kamu Za, enggak ada yang tau soal ini, termasuk apa yang aku derita kecuali semua orang yang ada disini Za...", ucapnya lirih.
"Lun...", Gua melepaskan dekapannya dan berbalik untuk memegangi kedua bahunya. "Mamah kamu enggak tau soal penyakit kamu ?", tanya Gua.
Luna menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum. "Bahkan Helen pun enggak tau...".
Gua yang mendengar semua perasaan dari dalam hati orang-orang yang berada di rumahnya itu seolah-olah tidak memiliki keteguhan hati, apa yang Gua coba perjuangankan dipandang sebagai suatu keegoisan. Jika memang begitu, malam ini sama dengan malam dimana Gua harus bisa merelakannya pergi.
Tidak ada kebahagiaankah untuknya ? Ya, rasanya seperti itu, dia melepaskan dan memilih untuk berjalan pada pilihan yang sulit. Demi sebuah cerita yang dia rangkai sendiri untuk kami semua.
...
Gua pulang setelah waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam dengan menggunakan motor, hujan deras yang mengguyur kota ini cukup membuat Gua basah kuyup walaupun jarak rumah kami cukup dekat. Setelah memarkirkan motor disamping mobil sedan yang cukup Gua kenali, Gua turun dan menuju teras rumah.
"Za.. Kamu kenapa hujanan ?", tanya seorang wanita yang sudah berdiri diambang pintu rumah Gua.
"Gak apa-apa, udah malam soalnya, gak enak bertamu terlalu lama dirumah orang kan, Eh iya maaf, bisa tolong minta Bibi ambilin handuk Kak ?".
"Udah ah masuk dulu, biar aku yang ambilin handuknya...", Dia menarik lengan Gua dan kami berdua memasuki rumah ini.
Setelah itu Gua membilas tubuh didalam kamar mandi lalu mengenakan pakaian hangat karena rasanya terlalu dingin malam ini apalagi setelah hujanan. Gua menuruni tangga untuk menuju gazebo halaman belakang setelah meminta dibuatkan secangkir kopi hitam.
"Kapan datang Kak ?", tanya Gua ketika baru saja membakar sebatang rokok di dalam gazebo.
"Tadi sama Mba Laras jam delapanan... Eh kamu tadi darimana ?", ucapnya yang duduk dihadapan Gua.
"Abis dari rumah Luna.. Mba Larasnya mana ?"
"Ada di kamar, dia nunggu kamu tadi, tapi katanya ngantuk mau istirahat...", jawabnya sambil merapihkan helaian rambutnya yang tertiup semilir angin malam,
"Kamu dari rumah Luna ? Tumben naik motor... Enggak ada apa-apa kan Za ?", tanyanya lagi.
Suara deras hujan yang turun menghantarkan Gua untuk kembali menceritakan apa yang sudah terjadi selama ini antara Gua dan Luna. Kamu memang selalu menjadi pendengar yang baik ya Kak.. Dari awal masalah aku sejak sma hingga menikah dengan Echa. Dan sekarang sepertinya aku pun enggak bisa menutupi apa yang aku sembunyikan.
Gua menceritakan apa yang Luna alami selama ini kepada Tante Gua itu, Kinanti. Dengan seksama ia mendengarkan setiap rentetan cerita Gua sampai tadi dirumah Luna, tidak ada satupun kenyataan yang Gua tutupi kepadanya.
"Za.. Kamu diamanatkan untuk enggak menceritakan ini semua, tapi kenapa kamu cerita sama aku ?", tanyanya setelah mendengar cerita Gua itu.
"Aku percaya sama kamu Kak, lagipula aku dititik beratkan belum boleh cerita sama dua wanita yang Luna sebutkan toh.. Dan kamu bukanlah salah satu diantara mereka.. But yeah.. I trust you as always Kak...".
"Makasih untuk kepercayaannya Za..", ucapnya seraya tersenyum. "Za.. Ada ya wanita seperti Luna itu... Gak nyangka aja di dunia ini kamu bisa bertemu dan diberi kesempatan untuk melihat seorang wanita yang memiliki hati mulia seprti dia..", lanjutnya.
"Terlalu banyak bahkan Kak.. Tuhan menunjukkan Aku beberapa wanita yang memiliki hati mulia dan berjiwa besar..", kemudian Gua menghembuskan asap rokok setelah sebelumnya menghisapnya dalam-dalam.
"Echa.. Vera... Dan sekarang Luna...", timpal Kinanti membenarkan.
Gua tersenyum dan menganggukkan kepala. Gua berdiri dan berjalan kearah sisi gazebo, dimana di depan sana, disebelah kolam renang berada dua buah makam dari kedua orang yang Gua cintai.
Hujan malam ini masih turun dengan deras ketika airmata ini mulai menggenang di pelupuk mata. Mengalir pelan, dan menetes ketika air itu berada pada dagu ini. Tangan Gua bergetar sedikit, merasakan sensasinya, kenangan-kenangan bersama dua wanita yang sudah pergi ke alam lain itu tiba-tiba saja kembali menyeruak.
"Aku mencintai kamu dalam waktu yang singkat Cha.. Terlambat memang, dan ketika aku ingin mencoba mencintai wanita dengan tulus dari awal, kesempatan itu malah hilang... Dia memilih untuk melepaskan semuanya, Cha.. Dengan berat dia merelakan ini semua, Cha.. Atas nama kebahagiaan aku.. Omong kosong apa seperti itu, Cha ?".
Gua masih memandangi makam almh istri Gua di depan sana dengan airmata yang berderai. Ucapan Gua sebelumnya sepertinya terdengar oleh Kinanti.
"Aku mengerti Za apa yang Luna mau... Bukan dia egois.. Tapi apa yang kamu bilang soal ucapan Erick rasanya benar...", ucapnya yang sudah berdiri disamping Gua,
"Luna enggak mau sampai kamu kehilangan dia untuk selamanya... Disaat kalian sedang bahagia.. Itu sudah cukup kamu alami kan ?", kali ini Kinan melirik ke depan sana, memandangi makam yang sama, yang masih Gua pandangi. "Dan dia lebih memilih untuk dipandang buruk oleh semua orang daripada mengatakan yang sebenarnya..".
"Untuk apa dia menyembunyikan ini semua menurut kamu Kak ?".
"Kamu itu Za.. Wanita berfikir menggunakan perasaannya, dia enggak mau dikasihani.. Kalau sampai semua orang tau apa yang ia derita, itu sama aja dengan menghentikan langkah wanita itu untuk bersama kamu... Apa kamu gak akan berfikir kalo dia tau semua ini, akan tetap bertahan ? Dan Luna lebih memilih untuk mengalah sebelum kenyataan ini diketahui semuanya Za.. Apa yang udah Luna lihat dari sosok dia lebih dari cukup untuk melepaskan kamu dan merelakan kamu kepadanya Za".
"Lebih baik berhenti disini sebelum semuanya terlambat ? Bahagia yang hanya sesaat ?, gitu ?", tanya Gua.
"Mungkin.. Ya mungkin seperti itu maksud Luna.. Walaupun memang kita gak ada yang tau hidup ini sampai dimana.. Tapi dia lebih memilih berhenti sebelum kamu larut dalam kebahagiaan itu Za.. Dan ketakutan terbesar Luna adalah meninggalkan kamu, meninggalkan kamu untuk selama-lamanya".
*
*
*
*
*
Quote:



Tuhan bila masih ku diberi kesempatan
Ijinkan aku untuk mencintanya
Namun bila waktuku telah habis dengannya
Biar cinta hidup sekali ini saja



Diubah oleh glitch.7 30-06-2017 16:08
dany.agus memberi reputasi
1
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..

). 
(Jangan lupa tempura seminggu sekali ya Yah) 
