Kaskus

Story

kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
Sang Pemburu (Fiksi)
Halo buat semua agan-aganwati di dunia perkaskusan ini. Salam kenal dari saya selaku newbie yang juga ingin ikut meramaikan tulisan-tulisan di forum SFTH. Berhubung masih belajar dan ini juga thread pertama, mohon maaf kalau ada kesalahan di sana-sini. Monggo kalau ada agan-aganwati yang ingin ngasih saran dan juga kritik.

Ini ceritanya murni fiksi, hasil dari ngelamun pas di kamar tidur sama di WC emoticon-Big Grin emoticon-Big Grin. Kalau soal update saya nggak bisa kasih jadwal. Semoga aja amanah buat nerusin ceritanya sampe selesai.
Segitu dulu aja ya, Gan. Maaf kalau terlalu formal bahasanya.

Selamat menikmati.

[SPOILER=Index]
PART 1
PART 2 : Warehouse Tragedy
PART 3
PART 4
PART 5
PART 6
PART 7 : Ikmal 'The Master'
PART 8
PART 9
PART 10
PART 11 : Hendro and the Asses
PART 12
PART 13
PART 14 : Kuterima Suratmu
PART 15
PART 16
PART 17 : Pensi Part I I Pensi Part II
PART 18
PART 19 : Perpisahan
PART 20
PART 21 : A man with Gun
PART 22
PART 23 : Bon Bin
PART 24 : Malam yang Nggak Terlupakan Part I I Part II
PART 25
Part 26 : The Dog
PART 27
PART 28 : Wiwid, Mita dan Yesi
PART 29
PART 30 : Rob 'The Jackal' Part I Part II
PART 31
PART 32 : The Sparrow
PART 33
PART 34 : REUNION
PART 35
PART 36 : THE BARKING DOG
PART 37
PART 38
Diubah oleh kawmdwarfa 03-06-2022 09:00
tet762Avatar border
sunshii32Avatar border
anton2019827Avatar border
anton2019827 dan 20 lainnya memberi reputasi
19
33.7K
115
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread1Anggota
Tampilkan semua post
kawmdwarfaAvatar border
TS
kawmdwarfa
#74
PART 33




Di kamarku, sepi dan ketenangan adalah dua hal yang berseberangan.

Quote:


Dulu Yesi sering nyeletuk kayak gitu sebelum kujawab dengan alasan yang asal-asalan. Sekarang bukan hari minggu, tapi Aku ingin saja melakukannya. Maksudku, Aku sekarang udah sampai di gereja tempat dia biasa beribadah. Bangunannya kulihat cukup besar dan halamannya agak kotor dikarenakan daun-daun kering. Aku sempat ragu apa Aku bisa masuk, tapi untungnya bisa karena pintunya memang lagi nggak terkunci.

Kesan megah dan sakral langsung terasa. Cahaya kuning mengisi hingga ke sudut ruang, menciptakan bayangan yang tipis dan menghadirkan nuansa khas zaman kerajaan. Aku kemudian langsung menduduki bangku jemaat di baris terdepan. Kupandangi patung-Nya dan tak lama setelah itu sesuatu langsung mengganjal dadaku.

“Aku nggak tau,” pelan suaraku. “Tapi, semuanya kayak nyata banget. Kalo kuingat-ingat lagi, waktu itu kayak dia....punya semacam kemampuan, sampai Aku akhirnya kembali ke sini. Tapi kenapa? Kenapa nggak sama situasinya? Kenapa? Kenapa?! Kenapa??!! Apa bedanya aku sama dia??!! Kenapa, hah??!!!!”

“Permisi.”

Aku seketika berbalik. Asal suaranya ternyata adalah orang yang menampakkan dirinya lagi sejak hari itu, setelah pemakaman Yesi.

“Maaf, saya bukannya mau menguping. Saya cuma kembali sebentar. Ada yang ketinggalan di dalam.”

“............”

“Silahkan dilanjut lagi.”

Sebentar kemudian laki-laki itu udah kembali. Di saat yang sama Aku tengah menatap ke depan, dan Aku pun yakin kalau orang ini terus menatapiku. Kukira dia bakalan pergi dari sini, tapi Aku salah karena nyatanya kami malah duduk bersebelahan.

“Kamu tahu? Sampai sekarang ini pun, saya juga masih ngerasa ragu,” orang itu mulai bicara. Nggak sampai 10 detik, dia ngomong lagi, “Ada begitu banyak pertanyaan yang belum Saya tahu jawabannya. Saya penasaran, terus mencari-cari, tapi pada akhirnya Saya menyerah. Mereka bilang ‘Tuhan bekerja dengan cara yang misterius’, bukan?”

Dia kemudian menoleh ke arahku. Kalau saja rautnya itu berarti menunggu tanggapanku, maka dia benar-benar tak sepintar kelihatannya.

“Waktu Saya kerja di sebuah pabrik, Saya punya atasan yang benar-benar menjengkelkan. Dia laki-laki, tapi mulutnya itu, ya ampun, melebihi perempuan.” Dia tertawa kecil, setelahnya dia ngomong lagi, “‘Kau Saya benci dengan seseorang, Saya justru akan diamkan orang itu. Jangankan memarahi, menegurnya saja pun Saya nggak akan sudi.’ Dia pernah bilang itu sama Saya sebelum dia berhenti, pindah ke luar kota. Kamu tahu? Saya nggak pernah benar-benar memikirkan kata-kata itu sebelum ‘sesuatu’ terjadi dalam hidup Saya.”

Sialan, kupikir. Di titik ini dia sudah sama seperti mereka, golongan orang-orang yang nggak ngerti kalau cerita mereka begitu membosankan.

“Oh, iya. Saya Rudi.”

“Yohan, Pak. Mmm....Romo!”

Dengan senyuman yang tipis, wajahnya kemudian berubah pangling. “Benar berarti.”

“Benar?”

“Hmp! Saya belum tahu orangnya siapa. Saya sempat nebak waktu.....waktu itu. Kemarin. Di.... pemakaman.”

“Saya nggak ngerti.”

“Ternyata memang kamu orangnya.”

“Saya?”

“Iya. Ternyata Yohan itu memang kamu. Yesi cerita banyak ke saya.”

Seketika itu juga Aku langsung berdiri dan meninggalkan dia sendirian.

Datang ke sini betul-betul ide yang bodoh.

***


“Dari mana, ‘Ang’?” Dani menyambutku dari depan kamar.

“Dari luar. Udah lama di sini?”

“Udah, nggak apa-apa.”

Kemudian Dani mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Kulihat itu sekeping kaset dalam kemasan yang tembus pandang.

“Apa ini?”

“Anak-anak minta kopian dari rekaman pensi kita. Satu orang kukasih satu, tinggal kamu. Aku nggak tau gimana harus ngubungi kamu, makanya aku nungguin daritadi di sini. Kalau kamu nggak pulang, mau kumasukin langsung dari bawah pintu, tapi kamu ternyata muncul juga.”

“Iya, Aku baru pulang ini.”

“Besok Aku udah berangkat, Ang.”

“Berangkat?”

“Mmmp. Ngurus keperluan masuk kuliah. Mau ikut program bimbingan juga soalnya.”

“Oh.”

“Ya udah, Aku pulang dulu, ‘Ang.”

“Nggak masuk dulu?”

“Enggak, deh.”

Cara Dani tersenyum membuatku yakin kalau dia sebenarnya ingin mampir. Tapi kalaupun dia memang udah sungkan duluan, maaf, buatku itu malah bagus karena Aku benar-benar lagi pengen sendiri.

“Ya udah. Hati-hati, Dan. Sukses, ya”

“Kamu kapan mau pulang?”

“Aku nggak tau.”

Dani mengela nafas panjang. Sedikit tepukan di bahu, dia kemudian pergi tanpa bicara apa-apa lagi.

***


Tak seperti sebelumnya, ketakutan kali ini terasa lebih kuat.
Saat ini..........Aku seperti manusia gua di zaman mutakhir...
bingung harus kuapakan perangkat-perangkat ini.


Waktu terus berlalu, tapi malam itu akan selalu kuingat.
Ini berbeda.
Ini tak seperti ketika aku memikirkannya.
Ini sedikit lebih nyata.
Sedikit lebih nyata.


‘Enter’

Sesuatu-sekalipun yang terpinggirkan-ada karena sebuah alasan, bukan? Maksudku, soal hitam yang membantu kita memilah putih, jahat yang mengajarkan kita untuk mengenal baik, gelap atas terang, jauh untuk dekat, begitulah seterusnya. Sekarang Aku paham bahwa kehadiran seseorang kan benar-benar kita inginkan, justru ketika dia sudah jauh. Aku pun paham kalau nggak ada yang akan berubah sekalipun air mata ini habis.

Ah,,,,Yesi. Senyumnya saat itu, tingkahnya saat itu, terlihat seperti anak kecil di peringatan Hari Kartini. Aku tersenyum dengan air mata di pipiku sebelum kulihat sekilas sesuatu yang terasa familiar. Tanggal perekaman itu, pikirku, seperti terhubung ke sesuatu.

Atau cuma perasaanku saja?

16 Maret?

16.

Enam belas.

Enaaam....

Beelas..

Maaa.....

???????????

!!!!!!!!!!!!!!!

Quote:


Enggak. Enggak!! Ini nggak ada hubungannya. Ini nggak berarti apapun. Ini cuma kebetulan. Benar-benar cuma kebetulan.

Quote:

Iya. Aku nggak mungkin salah.

Quote:


Bangs#t!

BANGS#####T!!!!

***

Diubah oleh kawmdwarfa 04-07-2017 12:15
ariefdias
pulaukapok
pulaukapok dan ariefdias memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.