- Beranda
- Stories from the Heart
Ada Cinta di Bee Talk
...
TS
breaking182
Ada Cinta di Bee Talk
Quote:
Ini dari cerita nyata yang beberapa tahun yang lalu pernah ku alamin, Ini juga merupakan coretan pertamaku di forum SFTH. Sekedar ingin menulis sebuah yang mungkin bagi orang yang membaca bukan hal yang wah. Akan tetapi, bagi ku kisah ini akan selalu akan di kenang. Bagi para sesepuh forum Story Of The Heart salam kenal dan mohon masukannya.Terimakasih
Quote:

ADA CINTA DI BEETALK
Diubah oleh breaking182 13-03-2018 08:43
1
14.5K
Kutip
41
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
breaking182
#9
PART 2A : CEMBURU
Quote:
Sejak pertemuan pertama dengan Ifa di Mc Donald Sudirman tempo hari kegiatan chat kita masih sama. Chat Bee Talk tanpa ada peningkatan yang signifikan. Gak ada nomor handphone atau pin BBM. Sampai detik ini pun aku juga belom tahu nama asli, kos dimana, kuliah dimana dan asalnya darimana. Seperti berhubungan dengan agent Intel Internasional yang tidak mau diketahui identitasnya. Tapi ya sudah, itu gak akan dijadikan masalah yang penting aku masih bisa ngobrol meski cuma lewat tulisan. Itu sudah lebih dari cukup untuk sementara ini.
“ Ifa ayo nonton Fast Furious 7. Seru filmnya, kamu pasti suka deh”, aku berusaha ngebujuk.
Fast Furious 7 bulan ini baru saja premier dan penontonnya membludak. Tiga bioskop XXI di Yogyakarta semua nayangin film ini. Antriannya sepanjang ular naga yang lagi koprol.Gak kebayangkan panjangnya kaya apa??
“ Emang bagus gitu kak, Ifa jarang hampir gak pernah nonton sih. Mending duitnya buat jajan cireng”
“ Ayo lah, sekali saja deh,” aku berusaha membujuk lagi.
“ Emang kapan kak?”
“ Hari Rabu gimana? Tar aku antriin deh?”
“ Iya deh,”akhirnya Ifa mengiyakan juga ajakanku.
Aku menjerit dan saking senengnya aku koprol dan roll depan roll belakang. Ngikut selebrasinya Greg Nwokolo pas habis cetak goal. Tau kaga Greg Nwokolo?
“ Ifa ayo nonton Fast Furious 7. Seru filmnya, kamu pasti suka deh”, aku berusaha ngebujuk.
Fast Furious 7 bulan ini baru saja premier dan penontonnya membludak. Tiga bioskop XXI di Yogyakarta semua nayangin film ini. Antriannya sepanjang ular naga yang lagi koprol.Gak kebayangkan panjangnya kaya apa??
“ Emang bagus gitu kak, Ifa jarang hampir gak pernah nonton sih. Mending duitnya buat jajan cireng”
“ Ayo lah, sekali saja deh,” aku berusaha membujuk lagi.
“ Emang kapan kak?”
“ Hari Rabu gimana? Tar aku antriin deh?”
“ Iya deh,”akhirnya Ifa mengiyakan juga ajakanku.
Aku menjerit dan saking senengnya aku koprol dan roll depan roll belakang. Ngikut selebrasinya Greg Nwokolo pas habis cetak goal. Tau kaga Greg Nwokolo?
Quote:
Pagi itu hari Rabu hari dimana aku dan Ifa mau nonton bareng, alarm handphone ku berbunyi tepat jam 4.15 saat adzan Subuh berkumandang dari masjid yang tidak jauh dari rumah. Setengah males-malesan aku bangun, mengucek mata sebentar lalu ngecek notif di handphone. Ada miss call 2 kali dari Ricky, sms sepuluh biji dari klien, 30+ dari Bee Talk messager dan 5 pesen dari blacberry messager. Satu persatu aku baca, dari klub ku di Bee Talk ada pembahasan kalo hari ini ada acara nonton bareng Fast Furious 7. Di buzz juga udah di share siapa saja yang musti antri tiket dan aku salah satunya. Mentang-mentang aku owner jadi musti tanggung jawab. Selepas sholat Subuh saat aku packing-packing barang yang musti dikirim hari itu juga. Beberapa tujuan ke Bandung, Surabaya dan Palembang. Tiba-tiba hp ku berbunyi. Ada telpon masuk. Aku lihat identitas penelponnya. Ricky, lalu aku angkat.
“ Sorry semalem aku tepar bro, kerjaan ku banyak kurang tidur”
Aku langsung membuka percakapan.
“ Iya bro, aku ngerti. Oya tar mau jam berapa antrinya.Tar kita bertiga katanya Adji juga mau nemenin “
“ Atur aja, jam sepuluh juga boleh. Tapi kamu jemput aku yah. Mobil lagi ngambek lagi kurang sajen masuk bengkel tuh “,kata ku.
“ Okey..sip beres. Sampai nanti bro”, Ricky menutup dari seberang telpon.
“ Sorry semalem aku tepar bro, kerjaan ku banyak kurang tidur”
Aku langsung membuka percakapan.
“ Iya bro, aku ngerti. Oya tar mau jam berapa antrinya.Tar kita bertiga katanya Adji juga mau nemenin “
“ Atur aja, jam sepuluh juga boleh. Tapi kamu jemput aku yah. Mobil lagi ngambek lagi kurang sajen masuk bengkel tuh “,kata ku.
“ Okey..sip beres. Sampai nanti bro”, Ricky menutup dari seberang telpon.
Quote:
Siang itu Yogyakarta masih terasa panas, sinar matahari sangat terik menusuk pori-pori kulit. Aku baru bermain game Need for Spees Hot Pursuit tatkala terdengar raungan suara mesin motor Satria FU yang berhenti tepat di depan rumah. Aku segera ke luar. Terlihat seorang cowok berhenti dan turun dari motornya. Badannya kurus tinggi, dengan setelan celana jeans item dipadu dengan kaos garis dan hoodie berwarna abu-abu monyet. Yah,itu Ricky salah satu member Bee Talk yang sangat loyal. Senyumnya berkembang saat melihat aku menjemput di depan pintu.
“ Sorry bro rada telat,tadi pulang dulu ke jalan Magelang. Cuma numpang mandi sih terus cap cuz ke sini “
“ Udah santai saja, aku juga baru beres ini kerjaan. Oya kamu tunggu bentar aku ganti baju dulu. Gak ada lima menit lah. Cuma ganti celana sama pake baju doang. Kamu tunggu di sini deh,” kata ku seraya masuk ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian aku selesai, setelan kaos putih dipadu dengan cardigan hitam dan celana jeans item sementara sepatu converse menambah casual penampilan ku.
“ Udah siap nih, sekarang aja yuk. Daripada tar kehabisan tiket.”
“ Okey Bro”,sahut Ricky pendek. Sambil berjalan ke arah motor yang terparkir di halaman.
Sepuluh menit kemudian kita sudah ada di jalanan protokol Yogyakarta, cuaca yang panas, polusi udara yang mulai menyesakkan pernafasan mulai terasa. Di sepanjang jalan pembangunan hotel-hotel baru dan mall mall baru juga banyak dilakukan.Yogyakarta sudah mulai jadi kota metropolitan dua-tiga tahun yang akan datang. Macet penuh sesak. Ricky berusaha memecah keramain kota dengan suaranya yang dikeraskan dari balik helm full face nya.
“ Jadinya mau dimana??XXI Urip Sumoharjo atau 21 Ambarukmo Plaza?”
“ Coba deh kita ke XXI dulu kalo antrinya ngeri macem antri sembako gitu lanjut ke 21 Ambarukmo Plaza aja “
“ Siap bro “
“ Sorry bro rada telat,tadi pulang dulu ke jalan Magelang. Cuma numpang mandi sih terus cap cuz ke sini “
“ Udah santai saja, aku juga baru beres ini kerjaan. Oya kamu tunggu bentar aku ganti baju dulu. Gak ada lima menit lah. Cuma ganti celana sama pake baju doang. Kamu tunggu di sini deh,” kata ku seraya masuk ke dalam kamar.
Tidak lama kemudian aku selesai, setelan kaos putih dipadu dengan cardigan hitam dan celana jeans item sementara sepatu converse menambah casual penampilan ku.
“ Udah siap nih, sekarang aja yuk. Daripada tar kehabisan tiket.”
“ Okey Bro”,sahut Ricky pendek. Sambil berjalan ke arah motor yang terparkir di halaman.
Sepuluh menit kemudian kita sudah ada di jalanan protokol Yogyakarta, cuaca yang panas, polusi udara yang mulai menyesakkan pernafasan mulai terasa. Di sepanjang jalan pembangunan hotel-hotel baru dan mall mall baru juga banyak dilakukan.Yogyakarta sudah mulai jadi kota metropolitan dua-tiga tahun yang akan datang. Macet penuh sesak. Ricky berusaha memecah keramain kota dengan suaranya yang dikeraskan dari balik helm full face nya.
“ Jadinya mau dimana??XXI Urip Sumoharjo atau 21 Ambarukmo Plaza?”
“ Coba deh kita ke XXI dulu kalo antrinya ngeri macem antri sembako gitu lanjut ke 21 Ambarukmo Plaza aja “
“ Siap bro “
Quote:
Motor Satria FU itu pun berlari membelah keramain kota Jogja bagian utara.
Sesampainya di XXI yang berada di jalan Urip Sumoharjo antrian sudah meluber sampai parkiran mobil di depan padahal studio belum buka. Gila bener. Bahkan saking panjangnya beberapa pengantri ada yang mengalami jetlag terus ada juga yang mengalami kerasukan. Ngeri banget. Lalu kita putuskan untuk pindah ke 21 Ambarukmo Plaza.
“ Udah bro,kita cobain ke 21 Ambarukmo Plaza saja. Mati kutu kalo antri disini”
“ Aku sih ngikut saja Jendral Besar..Hahahahahah,” Ricky berusaha melawak meski gak lucu. Aku juga ikut tertawa sekedar memberikan support agar dia makin meningkatkan kelucuannya.
Sepuluh menit kemudian kita sampai juga di Ambarukmo Plaza. Setelah parkir di samping mall yang sudah mulai padat juga. Kita berdua berjalan beriringan masuk ke dalam mall Ambarukmo Plaza. 21 Cinepleks ada di lantai paling atas. Ketika menaiki eskalator dari lantai dasar, Ricky berbicara tentang Arsita cewek Bee Talk yang diam-diam dia taksir. Aku sekali lagi cuma manggut-manggut, dalam hati aku berpikir kayanya Bee Talk lebih keren dari Indonesian Cupid yaitu situs jodoh secara on line.
Obrolan kita terhenti saat tiba di depan studio bioskop 21, antrian juga tidak kalah brutal. Di depan loket mengular orang antri sampai penuh hingga tembus keluar studio. Cuma sudah terlanjur bilang sama anak-anak mau antriin akhirnya nothing to lose juga. Antri sampai titik darah penghabisan. Meski tar musti pijit dan diurut sama tukang pijet yang penting tanggung jawab selesai.
“ Udah bro, kita antri saja deh. Rada mendingan juga disini antri adem. Lihat cewek sapa tahu jadi jodoh kamu,” kata ku menenangkan Ricky yang terlihat rada putus asa.
“ Iya,ni Adji juga bbm katanya lagi otw ke sini”
Aku mengangguk,lalu aku ambil handphone ku di tas kecil yang aku bawa. Menegaskan lagi sama Ifa soal agenda nonton malam nanti.
“ Ifa, jadi nonton kan tar malem jam setengah tujuh.Kalo jadi aku antriin sekarang”
Sekitar satu menit ada jawaban dari Ifa.
“ Kak, kayanya pending dulu deh. Ganti hari,kalo Kamis saja gimana? Nih ada acara mendadak ada acara ultah temen ku tar malem. Ini juga mendadak banget dia kasih tau.Temen deket jadi gak enak kalo nolak. Gak papa kan?”
“ Ya gak papa sih,fix Kamis yah nontonnya.Jam tetep kan?Setengah tujuh?”
Rada ada rasa kecewa menyeruak di hati ku.
“ Iya jamnya tetep, sampai besok kak,” Ifa menutup percakapan di BeeTalk massager.
Sesampainya di XXI yang berada di jalan Urip Sumoharjo antrian sudah meluber sampai parkiran mobil di depan padahal studio belum buka. Gila bener. Bahkan saking panjangnya beberapa pengantri ada yang mengalami jetlag terus ada juga yang mengalami kerasukan. Ngeri banget. Lalu kita putuskan untuk pindah ke 21 Ambarukmo Plaza.
“ Udah bro,kita cobain ke 21 Ambarukmo Plaza saja. Mati kutu kalo antri disini”
“ Aku sih ngikut saja Jendral Besar..Hahahahahah,” Ricky berusaha melawak meski gak lucu. Aku juga ikut tertawa sekedar memberikan support agar dia makin meningkatkan kelucuannya.
Sepuluh menit kemudian kita sampai juga di Ambarukmo Plaza. Setelah parkir di samping mall yang sudah mulai padat juga. Kita berdua berjalan beriringan masuk ke dalam mall Ambarukmo Plaza. 21 Cinepleks ada di lantai paling atas. Ketika menaiki eskalator dari lantai dasar, Ricky berbicara tentang Arsita cewek Bee Talk yang diam-diam dia taksir. Aku sekali lagi cuma manggut-manggut, dalam hati aku berpikir kayanya Bee Talk lebih keren dari Indonesian Cupid yaitu situs jodoh secara on line.
Obrolan kita terhenti saat tiba di depan studio bioskop 21, antrian juga tidak kalah brutal. Di depan loket mengular orang antri sampai penuh hingga tembus keluar studio. Cuma sudah terlanjur bilang sama anak-anak mau antriin akhirnya nothing to lose juga. Antri sampai titik darah penghabisan. Meski tar musti pijit dan diurut sama tukang pijet yang penting tanggung jawab selesai.
“ Udah bro, kita antri saja deh. Rada mendingan juga disini antri adem. Lihat cewek sapa tahu jadi jodoh kamu,” kata ku menenangkan Ricky yang terlihat rada putus asa.
“ Iya,ni Adji juga bbm katanya lagi otw ke sini”
Aku mengangguk,lalu aku ambil handphone ku di tas kecil yang aku bawa. Menegaskan lagi sama Ifa soal agenda nonton malam nanti.
“ Ifa, jadi nonton kan tar malem jam setengah tujuh.Kalo jadi aku antriin sekarang”
Sekitar satu menit ada jawaban dari Ifa.
“ Kak, kayanya pending dulu deh. Ganti hari,kalo Kamis saja gimana? Nih ada acara mendadak ada acara ultah temen ku tar malem. Ini juga mendadak banget dia kasih tau.Temen deket jadi gak enak kalo nolak. Gak papa kan?”
“ Ya gak papa sih,fix Kamis yah nontonnya.Jam tetep kan?Setengah tujuh?”
Rada ada rasa kecewa menyeruak di hati ku.
“ Iya jamnya tetep, sampai besok kak,” Ifa menutup percakapan di BeeTalk massager.
Quote:
Sekitar satu jam hanyut dalam antrian akhirnya tiket terdapatkan, 10 tiket untuk nonton malam nanti. Adji juga udah nyusul buat temeni aku sama Ricky pas antri ticket. Cowok tinggi besar ini terlihat bersungut –sungut dan murung mukanya. Bukan karena bete atau lagi marah. Doi mukanya emang kaya gitu. Muka –muka penuh penderitaan. Ricky terlihat bahagia banget saat ticket sudah di dapat. Terlihat matanya berkaca-kaca saking terharu menahan bahagia,karena dia menunggu film Fast Furious 7 sudah hampir dua tahun.
“ Trus kita mau kemana nih?”, Adji membuka perbincangan.
“ Mojok dulu dah, aku capek. Nongki aja di Taman Sari sekalian ngadem. Males kalo musti keluar “,sahut ku memberi argumentasi. Adji dan Ricky cuma mangangguk pasrah. Karena mereka juga gak punya opsi lain.
Kita bertiga berjalan beriringan menuju ke sebuah food court di lantai empat Ambarukmo Plaza. Siang itu tampak sedikit lengang cuma ramai tadi pas di Studio 21. Maklum hari kerja,mana ada mall ramai pas hari kerja. Ada yang berkunjung itu pun beberapa orang.
“ Yakin mau makan di Taman Sari bro? Di situ makanannya mahal, gila bisa tekor gaji ku sebulan “, Adji mencoba menegaskan lagi.
“ Kita kaga usah makan deh, ngopi saja sambil ngobrol”, sahut ku
Sementara Ricky cuma diam sambil matanya menolah-noleh kanan kiri mirip speaker stereo yang lagi digeber dengan volume tinggi.
“ Anjir, cakep-cakep banget SPG nya“,gumam Ricky.
Saat melihat beberapa mbak-mbak SPG dari produk sebuah mobil keluaran Jepang membagikan brosur.
“ Biasa kali bro,cakep apaan.Itu cakep karena pake rok pendek.Coba kalo pake daster.Kaga cantik dah “, sahut ku ngasal.
“ Awas luh jangan baik “, kataku sambil cekikikan.
Suasana di Taman Sari food court juga relatif lengang, meja-meja banyak yang kosong. Hanya beberapa saja yang terisi. Kita memilih tempat duduk yang nyaman. Ricky tampak sudah mulai resah karena gak ada tempat buat ngerokok. Bibirnya yang muali menghitam terlihat kering.
“ Sial, mulut ku udah asem pengen ngerokok. Ini meja no smooking semua yah?”
Sembari tangannya memaikan korek gas yang sedari tadi tidak terlepas dari genggaman tangan.
“ Sabar,tar kita cari yang bisa buat kamu ngerokok.Aku mah gak ngerokok bro.Hidup sehat,” kata ku. Setelah puter-puter cari tempat yang bisa buat ngerokok tapi kebetulan tempat ngerokok udah penuh semua. Akhirnya Ricky nyerah.
“ Udah deh bro,kita duduk sini aja. Sambil nunggu ada tempat kosong. Nahan diri ini buat gak ngerokok”
“ Iya gitu lebih bagus bro,” Adji menimpali.
Dan kita memilih tempat duduk di sebelah luar dekat eskalator. Lebih santai dan bebas kalo mau ngobrol atau tertawa kencang-kencang.
“ Udah sekarang kita mau pesen apaan?”, tanyaku pada Adji dan Ricky.
“ Yang paling murah aja dah,” sahut Adji.
“ Okey.Tunggu bentar,” kata ku lalu beranjak ke konter minuman.
Di konter ada tiga orang yang bertugas sebagai pelayan dua orang dan sisanya nangkring di kasir.
“ Ada yang bisa dibantu kakak?”
Seorang pelayan cewek yang berwajah tirus langsung menyambutku. Kenapa tiap ada pelayan, entah pelayan toko atau apapun itu musti manggil kakak. Jadi aku ini apakah benar kakak kandungnya? Hati ku bertanya –tanya hal yang tidak penting itu.
“ Sebentar Mbak...”
Mataku melihat dengan teliti daftar menu dan harga yang tertempel di meja. Mencari harga minuman yang paling murah. Akhirnya ....
“ Ice coffe float tanpa topping tiga yah”
“ Baik, ice coffe float tanpa topping akan tersedia beberapa saat lagi,” kata si mabk pelayan tadi.
“ Atas nama siapa?”
“ Riza,” kata ku. Dia menulis nama ku di secarik kertas, tanpa bertanya dua kali.
Dia berkata, “ Nanti kami panggil.
“ Terimakasih...”
Aku tersenyum lalu beranjak ke arah kursi ku tadi.
“ Trus kita mau kemana nih?”, Adji membuka perbincangan.
“ Mojok dulu dah, aku capek. Nongki aja di Taman Sari sekalian ngadem. Males kalo musti keluar “,sahut ku memberi argumentasi. Adji dan Ricky cuma mangangguk pasrah. Karena mereka juga gak punya opsi lain.
Kita bertiga berjalan beriringan menuju ke sebuah food court di lantai empat Ambarukmo Plaza. Siang itu tampak sedikit lengang cuma ramai tadi pas di Studio 21. Maklum hari kerja,mana ada mall ramai pas hari kerja. Ada yang berkunjung itu pun beberapa orang.
“ Yakin mau makan di Taman Sari bro? Di situ makanannya mahal, gila bisa tekor gaji ku sebulan “, Adji mencoba menegaskan lagi.
“ Kita kaga usah makan deh, ngopi saja sambil ngobrol”, sahut ku
Sementara Ricky cuma diam sambil matanya menolah-noleh kanan kiri mirip speaker stereo yang lagi digeber dengan volume tinggi.
“ Anjir, cakep-cakep banget SPG nya“,gumam Ricky.
Saat melihat beberapa mbak-mbak SPG dari produk sebuah mobil keluaran Jepang membagikan brosur.
“ Biasa kali bro,cakep apaan.Itu cakep karena pake rok pendek.Coba kalo pake daster.Kaga cantik dah “, sahut ku ngasal.
“ Awas luh jangan baik “, kataku sambil cekikikan.
Suasana di Taman Sari food court juga relatif lengang, meja-meja banyak yang kosong. Hanya beberapa saja yang terisi. Kita memilih tempat duduk yang nyaman. Ricky tampak sudah mulai resah karena gak ada tempat buat ngerokok. Bibirnya yang muali menghitam terlihat kering.
“ Sial, mulut ku udah asem pengen ngerokok. Ini meja no smooking semua yah?”
Sembari tangannya memaikan korek gas yang sedari tadi tidak terlepas dari genggaman tangan.
“ Sabar,tar kita cari yang bisa buat kamu ngerokok.Aku mah gak ngerokok bro.Hidup sehat,” kata ku. Setelah puter-puter cari tempat yang bisa buat ngerokok tapi kebetulan tempat ngerokok udah penuh semua. Akhirnya Ricky nyerah.
“ Udah deh bro,kita duduk sini aja. Sambil nunggu ada tempat kosong. Nahan diri ini buat gak ngerokok”
“ Iya gitu lebih bagus bro,” Adji menimpali.
Dan kita memilih tempat duduk di sebelah luar dekat eskalator. Lebih santai dan bebas kalo mau ngobrol atau tertawa kencang-kencang.
“ Udah sekarang kita mau pesen apaan?”, tanyaku pada Adji dan Ricky.
“ Yang paling murah aja dah,” sahut Adji.
“ Okey.Tunggu bentar,” kata ku lalu beranjak ke konter minuman.
Di konter ada tiga orang yang bertugas sebagai pelayan dua orang dan sisanya nangkring di kasir.
“ Ada yang bisa dibantu kakak?”
Seorang pelayan cewek yang berwajah tirus langsung menyambutku. Kenapa tiap ada pelayan, entah pelayan toko atau apapun itu musti manggil kakak. Jadi aku ini apakah benar kakak kandungnya? Hati ku bertanya –tanya hal yang tidak penting itu.
“ Sebentar Mbak...”
Mataku melihat dengan teliti daftar menu dan harga yang tertempel di meja. Mencari harga minuman yang paling murah. Akhirnya ....
“ Ice coffe float tanpa topping tiga yah”
“ Baik, ice coffe float tanpa topping akan tersedia beberapa saat lagi,” kata si mabk pelayan tadi.
“ Atas nama siapa?”
“ Riza,” kata ku. Dia menulis nama ku di secarik kertas, tanpa bertanya dua kali.
Dia berkata, “ Nanti kami panggil.
“ Terimakasih...”
Aku tersenyum lalu beranjak ke arah kursi ku tadi.
Quote:
Lalu aku duduk kembali melanjutkan obrolan dengan Adji dan Ricky. Saat mata ku memandang ke seberang meja yang di batasi oleh penyekat dari kayu yang tingginya sebatas pinggang orang dewasa. Aku lihat seorang cewek sedang tertawa-tawa kecil di sampingmya seorang cowok dengan style rambut klimis disisir ke belakang mengenakan kemeja flanel berwarna abu-abu. Tangannya tak lepas dari tablett yang di bawanya. Sesekali cewek itu mengajak ngobrol si cowok tanpa lepas dari tablet yang sedang dimainkan. Aku rada kaget seperti pernah lihat itu cewek,tapi dimana ya?Aku bener-bener lupa atau sebenarnya ingat tapi pura-pura lupa.Entahlah.
“ Bro,jangan bengong lah.Di ajak ngobrol bengong aja.Kenapa kesambet demit?”
Ricky memecah kebengongan ku.
“ Eh,iya ngomong apa kamu tadi..penyakit pes gitu yah.Emang sih, penyakit pes di sebabkan oleh tikus “
“ Ya tuhan demi arwah Neptunus, kita tadi ngomongin film Fast Furious 7. Kenapa jadi penyakit pes”.
Ricky menepok jidatnya sendiri. Karena tepokannya terlalu keras. Jidat jenong itu memerah membentuk telapak tangan. Pandangan ku masih tidak lepas ke cewek yang ada di seberang jauh tempat kita duduk.
Adji yang melihat hal itu bertanya, “ kenapa bro, lihat mulu di sono?”
“ Aku kayanya kenal deh sama itu cewek. Cuma aku lupa,kaya gak asing gitu deh”
“ Emang siapa sih bro,cewek yang mana?Di ujung banyak cewek noh,coba di tunjuk”
Adji mulai penasaran juga.
“ Tunjuk gimana, malu kalo ketahuan. Itu lihat cewek yang pake baju putih garis-garis item,yang lagi sama cowok itu “
“ Yang mana sih, yang mepet di tembok pembatas itu ya?”
Ricky berbisik lirih.
“ Iya itu “
Jawabku pendek.
“Emang siapa gitu?”
“ Aku lupa bro, iya ato bukan ya?Coba deh kalian lihat itu cewek sama gak dengan foto yang ada di handphone ku,” lalu ku keluarkan hp ku dan kebetulan foto Ifa aku simpan di gallery.
“ Menurut kalian pada sama gak dengan foto cewek yang ada di hp ku?”
Adji dan Ricky mepet dua pasang mata itu melotot ke arah layar hp yang ada di tangan ku.
“ Kayanya sih sama, cuma coba deh kamu pastiin dulu. Ini bener cewek gebetan mu atau bukan. Kamu pura-pura saja jalan ke ujung gitu,tar aku sama Ricky perhatikan itu cewek dari sini “
“ Okey”, jawab ku pendek.
Seraya beranjak dari kursiku berjalan ke arah meja si cewek berbaju bergaris –garis hitam. Aku melewati depan meja si cewek dan berpura-pura tidak melihat. Lalu balik lagi ke arah tempat duduk ku tadi.
Wajah ku langsung terlihat kuyu. Dua orang teman ku yang duduk di kursi tampaknya bisa melihat sesuatu terjadi padaku. Sesuatu yang buruk.
“ Mending kamu jauhin deh bro itu cewek, km lihat sendiri kan dia jalan sama cowok. Mungkin udah di jadwal tuh. Sekarang jalan sama ini, besok sama itu lusa sama kamu. Kecuali kalo kamu mau bermain-main ya sudah bungkus saja. Tapi inget gak usah maen pake hati, kamu juga tar galau lagi”, Adji memberi masukan panjang lebar. Sudah macam motivator.
“ Cuma aku belom percaya deh kalo dia kaya gitu,dia begitu inocent bro. Masa iya sih?”,kata ku setengah tidak percaya.
“ Ah, jaman sekarang kaga jamin bro. Udah pergeseran jaman, emansipasi wanita. Gak Cuma cowok saja yang bisa gesa-gesi,wanita juga banyak yang gesa-gesi”,kali ini Ricky ikut berbicara.
“ Ah... gesa –gesi tahun berapa istilah itu ”
Aku bersungut –sungut.
“ Coba kamu bbm deh, dia jawab ato gak?”
“ Udah dari tadi, cuma belom di baca juga”,kata ku.
“ Nah, iya kan. Gak bakalan dibales juga deh.Yakin sama aku kaga mungkin. Paling tar kalo uda beres sama itu cowok baru inget kamu”
Ricky rupanya sangat lihay memprovokasi.
Aku hanya terdiam sambil mencerna kata-kata Adji dan Ricky. Lalu aku mengalihkan pembicaraan.
“ By the way, mana ini kopi nya? Lama betul?”
“ Kayanya udah dipanggil deh, coba aku samperin dah di konter,”
Adji berdiri merapikan sedikit kemejanya lalu beranjak dari kursi. Tak lama kemudian tiga gelas kopi kemasan premium reguler yang berada di gelas plastik sudah ada di atas meja.
“ Benerkan? Tadi udah dipanggil, cuma kita gak dengar. Asik liyatin cewek gebetan mu Ris.Ha..ha...ha..ha..”
Ricky masih juga getol memprovokasi.
“ Aku masih belom yakin itu Ifa bro, mustinya malam nanti kan dia mau nonton sama aku.Cuma tadi di cancel katanya ada acara Ultah temennya. Masa iya sih bohong” Aku mulai kebingungan.
“ Ah, cuma alibi dia bro. Ini lah kebiasaan kamu, pantesan langganan di bego-begoin cewek dari Nana,Vebby,trus yang terakhir kemaren Raya.Karena apa?Karena kamu mudah percaya sama cewek. Percaya boleh, cinta boleh tapi jangan full 100% ending-endingnya mewek kan?”.
Adji memang jarang ngomong tapi begitu ngomong bisa panjang kali lebar kali tinggi.
“ Dengerin tuh dokter cinta Adji bro sedang berfirman,” kata Ricky sambil senyum-senyum lalu menyedot kopi di gelasnya dengan menggunakan pippet. Saking semangat nyedot cairan kopi coklat dingin itu nyangkut di tenggorokan.
“ Gini aja deh,kalo kamu masih belom yakin. Kita samperin tempat duduknya. Aku lihat tadi ada yang udah out. Ada meja yang kosong tuh. Pas tepat di depan meja dia,kamu pantengin tuh bener gak itu si Ifa”, kata Adji lagi.
“ Iya ide bagus tuh ,samperin saja sekalian aku juga mau ngerokok,” sahut Ricky.
Aku hanya mengangguk,lalu kita bertiga pindah tempat duduk tepat di depan meja yang aku duga sebagai Ifa. Jantung ku berdegup-degup kencang bagai genderang mau perang. Lho kok jadi lirik lagu??
Aku sedikit curi-curi pandang, ekor mata ku sesekali melirik ke arah cewek dengan baju putih garis item-item yang duduk di sebelah meja mepet di tembok pembatas. Cewek itu masih asik memainkan tab yang ada di tangan kanannya. Dan sesekali ngobrol dengan cowok yang ada di sebelahnya. Fix sudah dia emang Ifa,ada perasaan aneh yang mulai aku rasakan.Semacam rasa kaget, sedikit kecewa dan nyaris galau. Ingat nyaris galau. Lalu ku sedot habis kopi di gelas tanpa tersisa. Cairan dingin berwarna coklat pekat itu berpindah tempat ke lambung ku.
“ Emang bener dia Ifa bro,cewek yang belakangan sering chat sama aku.Tapi ya udah deh,dia mau jalan dengan siapa saja terserah juga. Kita juga cuman temen doang, gak lebih”. Kata ku mulai pasrah.
“ Udah deh, mending sekarang kita karaokean saja daripada kamu bete gitu. Teriak-teriak meluapkan emosi jiwa. Ya gak bro,” kata Adji sambil mengedip-ngedipkan matanya.Aku tahu dia pasti ngetawain kebodohan ku di dalam hati.
“ Okey,tapi bentar aku mau ke toilet bentar. Tunggu bentar,”kataku sambil beranjak ke toilet yang ada di ujung ruangan itu. Saat aku kembali ke meja ku,sudah tidak terlihat lagi Ifa di sana.Meja itu sudah kosong.
“ Napa bro,mereka udah cabut. Saat kamu tadi ke toilet mereka langsung cabut,” tampaknya Ricky tahu arti pandangan ku.
Ketika menuruni eskalator dari lantai atas ke lantai dasar aku hanya terdiam,entah mengapa masih terngiang-ngiang kata-kata Adji pas tadi waktu kita ngobrol di food court.
“ Mending kamu jauhin deh bro itu cewek,km lihat sendiri kan dia jalan sama cowok. Mungkin udah di jadwal tuh.Sekarang jalan sama ini,besok sama itu lusa sama kamu.Kecuali kalo kamu mau bermain-main ya sudah bungkus saja.Tapi inget gak usah pake hati,kamu juga tar galau lagi ”
Tapi aku masih belom percaya, aku masih belom banyak mengenal Ifa. Dan kata-kata itu perlahan aku abaikan. Meski masih tersisa beberapa pertanyaan yang entah mengapa membuat kepalaku migrain mendadak.
“ Bro,jangan bengong lah.Di ajak ngobrol bengong aja.Kenapa kesambet demit?”
Ricky memecah kebengongan ku.
“ Eh,iya ngomong apa kamu tadi..penyakit pes gitu yah.Emang sih, penyakit pes di sebabkan oleh tikus “
“ Ya tuhan demi arwah Neptunus, kita tadi ngomongin film Fast Furious 7. Kenapa jadi penyakit pes”.
Ricky menepok jidatnya sendiri. Karena tepokannya terlalu keras. Jidat jenong itu memerah membentuk telapak tangan. Pandangan ku masih tidak lepas ke cewek yang ada di seberang jauh tempat kita duduk.
Adji yang melihat hal itu bertanya, “ kenapa bro, lihat mulu di sono?”
“ Aku kayanya kenal deh sama itu cewek. Cuma aku lupa,kaya gak asing gitu deh”
“ Emang siapa sih bro,cewek yang mana?Di ujung banyak cewek noh,coba di tunjuk”
Adji mulai penasaran juga.
“ Tunjuk gimana, malu kalo ketahuan. Itu lihat cewek yang pake baju putih garis-garis item,yang lagi sama cowok itu “
“ Yang mana sih, yang mepet di tembok pembatas itu ya?”
Ricky berbisik lirih.
“ Iya itu “
Jawabku pendek.
“Emang siapa gitu?”
“ Aku lupa bro, iya ato bukan ya?Coba deh kalian lihat itu cewek sama gak dengan foto yang ada di handphone ku,” lalu ku keluarkan hp ku dan kebetulan foto Ifa aku simpan di gallery.
“ Menurut kalian pada sama gak dengan foto cewek yang ada di hp ku?”
Adji dan Ricky mepet dua pasang mata itu melotot ke arah layar hp yang ada di tangan ku.
“ Kayanya sih sama, cuma coba deh kamu pastiin dulu. Ini bener cewek gebetan mu atau bukan. Kamu pura-pura saja jalan ke ujung gitu,tar aku sama Ricky perhatikan itu cewek dari sini “
“ Okey”, jawab ku pendek.
Seraya beranjak dari kursiku berjalan ke arah meja si cewek berbaju bergaris –garis hitam. Aku melewati depan meja si cewek dan berpura-pura tidak melihat. Lalu balik lagi ke arah tempat duduk ku tadi.
Wajah ku langsung terlihat kuyu. Dua orang teman ku yang duduk di kursi tampaknya bisa melihat sesuatu terjadi padaku. Sesuatu yang buruk.
“ Mending kamu jauhin deh bro itu cewek, km lihat sendiri kan dia jalan sama cowok. Mungkin udah di jadwal tuh. Sekarang jalan sama ini, besok sama itu lusa sama kamu. Kecuali kalo kamu mau bermain-main ya sudah bungkus saja. Tapi inget gak usah maen pake hati, kamu juga tar galau lagi”, Adji memberi masukan panjang lebar. Sudah macam motivator.
“ Cuma aku belom percaya deh kalo dia kaya gitu,dia begitu inocent bro. Masa iya sih?”,kata ku setengah tidak percaya.
“ Ah, jaman sekarang kaga jamin bro. Udah pergeseran jaman, emansipasi wanita. Gak Cuma cowok saja yang bisa gesa-gesi,wanita juga banyak yang gesa-gesi”,kali ini Ricky ikut berbicara.
“ Ah... gesa –gesi tahun berapa istilah itu ”
Aku bersungut –sungut.
“ Coba kamu bbm deh, dia jawab ato gak?”
“ Udah dari tadi, cuma belom di baca juga”,kata ku.
“ Nah, iya kan. Gak bakalan dibales juga deh.Yakin sama aku kaga mungkin. Paling tar kalo uda beres sama itu cowok baru inget kamu”
Ricky rupanya sangat lihay memprovokasi.
Aku hanya terdiam sambil mencerna kata-kata Adji dan Ricky. Lalu aku mengalihkan pembicaraan.
“ By the way, mana ini kopi nya? Lama betul?”
“ Kayanya udah dipanggil deh, coba aku samperin dah di konter,”
Adji berdiri merapikan sedikit kemejanya lalu beranjak dari kursi. Tak lama kemudian tiga gelas kopi kemasan premium reguler yang berada di gelas plastik sudah ada di atas meja.
“ Benerkan? Tadi udah dipanggil, cuma kita gak dengar. Asik liyatin cewek gebetan mu Ris.Ha..ha...ha..ha..”
Ricky masih juga getol memprovokasi.
“ Aku masih belom yakin itu Ifa bro, mustinya malam nanti kan dia mau nonton sama aku.Cuma tadi di cancel katanya ada acara Ultah temennya. Masa iya sih bohong” Aku mulai kebingungan.
“ Ah, cuma alibi dia bro. Ini lah kebiasaan kamu, pantesan langganan di bego-begoin cewek dari Nana,Vebby,trus yang terakhir kemaren Raya.Karena apa?Karena kamu mudah percaya sama cewek. Percaya boleh, cinta boleh tapi jangan full 100% ending-endingnya mewek kan?”.
Adji memang jarang ngomong tapi begitu ngomong bisa panjang kali lebar kali tinggi.
“ Dengerin tuh dokter cinta Adji bro sedang berfirman,” kata Ricky sambil senyum-senyum lalu menyedot kopi di gelasnya dengan menggunakan pippet. Saking semangat nyedot cairan kopi coklat dingin itu nyangkut di tenggorokan.
“ Gini aja deh,kalo kamu masih belom yakin. Kita samperin tempat duduknya. Aku lihat tadi ada yang udah out. Ada meja yang kosong tuh. Pas tepat di depan meja dia,kamu pantengin tuh bener gak itu si Ifa”, kata Adji lagi.
“ Iya ide bagus tuh ,samperin saja sekalian aku juga mau ngerokok,” sahut Ricky.
Aku hanya mengangguk,lalu kita bertiga pindah tempat duduk tepat di depan meja yang aku duga sebagai Ifa. Jantung ku berdegup-degup kencang bagai genderang mau perang. Lho kok jadi lirik lagu??
Aku sedikit curi-curi pandang, ekor mata ku sesekali melirik ke arah cewek dengan baju putih garis item-item yang duduk di sebelah meja mepet di tembok pembatas. Cewek itu masih asik memainkan tab yang ada di tangan kanannya. Dan sesekali ngobrol dengan cowok yang ada di sebelahnya. Fix sudah dia emang Ifa,ada perasaan aneh yang mulai aku rasakan.Semacam rasa kaget, sedikit kecewa dan nyaris galau. Ingat nyaris galau. Lalu ku sedot habis kopi di gelas tanpa tersisa. Cairan dingin berwarna coklat pekat itu berpindah tempat ke lambung ku.
“ Emang bener dia Ifa bro,cewek yang belakangan sering chat sama aku.Tapi ya udah deh,dia mau jalan dengan siapa saja terserah juga. Kita juga cuman temen doang, gak lebih”. Kata ku mulai pasrah.
“ Udah deh, mending sekarang kita karaokean saja daripada kamu bete gitu. Teriak-teriak meluapkan emosi jiwa. Ya gak bro,” kata Adji sambil mengedip-ngedipkan matanya.Aku tahu dia pasti ngetawain kebodohan ku di dalam hati.
“ Okey,tapi bentar aku mau ke toilet bentar. Tunggu bentar,”kataku sambil beranjak ke toilet yang ada di ujung ruangan itu. Saat aku kembali ke meja ku,sudah tidak terlihat lagi Ifa di sana.Meja itu sudah kosong.
“ Napa bro,mereka udah cabut. Saat kamu tadi ke toilet mereka langsung cabut,” tampaknya Ricky tahu arti pandangan ku.
Ketika menuruni eskalator dari lantai atas ke lantai dasar aku hanya terdiam,entah mengapa masih terngiang-ngiang kata-kata Adji pas tadi waktu kita ngobrol di food court.
“ Mending kamu jauhin deh bro itu cewek,km lihat sendiri kan dia jalan sama cowok. Mungkin udah di jadwal tuh.Sekarang jalan sama ini,besok sama itu lusa sama kamu.Kecuali kalo kamu mau bermain-main ya sudah bungkus saja.Tapi inget gak usah pake hati,kamu juga tar galau lagi ”
Tapi aku masih belom percaya, aku masih belom banyak mengenal Ifa. Dan kata-kata itu perlahan aku abaikan. Meski masih tersisa beberapa pertanyaan yang entah mengapa membuat kepalaku migrain mendadak.
Diubah oleh breaking182 12-03-2018 10:03
0
Kutip
Balas