- Beranda
- Stories from the Heart
Balai desa merah
...
TS
achanyoe
Balai desa merah
Quote:
]
Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.
Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Untuk Agan agan pembaca setia thread ane terimakasih ane ucapkan atas kesetiannya. Mau menunggu dan bersabar, Ane setelah rutin nulis ini sering diteror gan, mulai dari mimpi aneh. Dan beberapa kejadian yang aneh seperti laptop rusak yang sebelumnya gak kenapa kenapa. Jatuh juga gak padahal dan kemarin sempet sakit juga. Jadi ane ucapkan terimakasih buat pembaca setia thread ane yang mau bersabar.
Dan juga ane ucapkan Mohon maaf lahir dan batin karena ini masih suasana lebaran. Terimakasih.

Yaudah gan langsung aja di nikmati threadnya gan.

Balai desa merah
Quote:
Part I
Wanita penjaga pintu masuk
Wanita penjaga pintu masuk
Spoiler for Kuntilanak:

Quote:
Waktu itu, gerimis menyambut kedatanganku. Suasana gelap ditambah sepinya jalan yang kulalui membuat suasana malam itu jadi sedikit menakutkan. Supir becak yang umurnya sudah lumayan tua, mengayuh becak dengan tenaga ala kadarnya. Jadilah perjalananku menuju kampugku terasa begitu lama. Waktu itu pukul 9 malam, namun tidak ada satupun warga yang kelihatan. Mungkin faktor gerimis membuat orang orang malas keluar rumah. Jalanan yang kulalui banyak lubang sana sini. Menambah ketidaknyamanan perjalanan ku. Aku heran kenapa jalanan yang sudah hancur lebur seperti ini masih dipiara saja. Apa yang dilakukan pak lurah selama menjabat. Untuk memecah keheningan aku coba mengajak supir becak yang dari tadi susah payah mengayuh becaknya bicara
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
.
Aku : “Pak ini ko jalan gak dibenerin sih pak, udah ancur gini padahal?”
Pak Becak :“Oh nganu mas, ga tau juga saya udah lama gak dibenerin udah 6 tahun dibiarin gini aja mas”
Aku : “ Udah lama juga yah pak, terakhir saya kesini 6 tahun lalu pak, makannya saya bingung ko jalannya bukan nambah bagus malah nambah parah. Apa ngga ditanyain sama lurahnya Pak”
Pak becak : “ Sudah mas, tapi jawabnya ya gitu mas. Dananya belum ada katanya”
Saat asik berbicara tiba tiba ada sekelebat bayangan lewat tepat didepan becak. Tiba tiba saja aku merinding.
Aku : “ Pak tadi liat ada bayangan lewat ga pak?”
Pak becak tidak menjawab pertanyaanku. Aku coba bertanya lagi namun pak becak masih diam seribu bahasa. Tapi entah kenapa aku merasa becaknya melaju lebih cepat dari sebelumnya. Aku lihat kebelakang pak becak nampak berkeringat disekujur tubuhnya. Lantas ia memberi isyarat kepadaku untuk jangan berbicara. Aku tidak mengerti maksud pak becak. Namun aku yakin isyarat itu ada hubungannya dengan bayangan yang lewat tadi. Aku menurut saja dengan pak becak. Sepanjang jalan kami hanya diam. Dan sepanjang jalan itu juga bulu kudukku merinding bukan main. Sampai akhirnya kami melewati sebuah balai desa. Balai desa itu adalah balai desa kampungku. Balai desa yang tidak terlalu besar namun memiliki lapangan yang luas. Di sisi kanannya ada pohon beringin besar. Didepan balai desa ada 4 pohon cemara yang sudah sangat tinggi. Entah kenapa tepat sampai disini aku merasa pak becak semakin cepat mengayuh becaknya. Firasatku makin tak enak, sepertinya pak becak tau sesuatu tentang tempat ini. Becak melaju dengan cepat gerimis masih menemani perjalanan kami sepi lengang ditambah dengan suasana ganjil ini. Sampai akhirnya kita akan melewati sebuah jembatan. Aku melihat ada wanita yang sedang duduk dijembatan itu. Mengadap kebelakang sambil mengayun ayunkan kakinya. Aku tau kalau itu bukan manusia. Malam malam begini ditambah suasana ganjil ini mana mungkin wanita itu manusia. Aku merinding bukan main. Aku menengok ke pak becak. Terlihat kringat pak becak makin membanjir Dia menggeleng gelengkan kepala dan memberi isyarat kepadaku untuk tetap diam. Aku tak tau harus bagaimana jadi aku menurut saja dengan yang dikatakan oleh pak becak. Wanita itu masih ada di jembatan itu masih mengayun ayukan kakinya. Rambutnya panjang sepinggang. Baju putih yang sudah tercampur dengan tanah menjadi lusuh dan berwarna kecoklat coklatan. Hingga akhirnya kami lewat tepat dibelakangnya aku tak berani menoleh. Bau busuk menusuk hidung. Benar benar busuk baunya sampai sampai aku mau muntah. Kami makin jauh melewati wanita tadi sekarang baunya sudah tidak begitu terasa. Pak becak mulai menghela nafas, becak kembali berjalan lambat. Aku pun sudah tidak mencium bau busuk lagi. Aku mulai memberanikan diri bertanya kembali dengan pak becak.
Aku : “ Pak yang tadi itu bukan manusia kan ?”
Pak becak : “ Demit itu mas, mana mungkin manusia malem malem duduk dijembatan sendirian. Mana perempuan lagi, sebenernya bayangan yang mas liat itu perempuan yang tadi dijembatan mas’
Aku : “ Owh, saya bener bener takut pak. Hampir kencing dicelana saya. Terus tadi kenapa bapak suruh saya diem aja?
Pak Becak : “ Mas emang pas 6 tahun lalu kesini ga tau apa apa mas tentang cerita kampung mas?”
Aku : “ Gak pak, Saya kesini 6 tahun lalu kesini Cuma main beberapa hari aja. Itupun saya naik mobil tau tau udah sampai rumah nenek.”
Pak becak : “ Jalan yang pas mas liat bayangan itu pintu masuk kampung demit mas, didesa mas ini ada kampung demit mas. Nah balai desa sampai ngelewatin jembatan itu pasarnya mas. Kenapa saya suruh mas diem aja. Soalnya konon kalau kita liat penampakan perempuan tadi terus dia noleh kekita terus senyum sambil nunjukin wajah ancurnya dia bakalan buka pintu pasar demitnya mas. Dan kita bisa kesasar disana mas. Kalau kita diem dia kira kita sopan mas.
Aku : Waduh serem amat pak, terus kalau sampai masuk pasar itu gimana pak?
Pak becak : Ya kalau kita ga kuat bisa pingsan dijalan pak. Disana bakalan ditampakin penduduk desa demitnya mas,
Dalam hati aku bersyukur untung ga sampai mampir kepasar demit. Hufft,ibu ku kenapa ga cerita masalah ini yah. Kalau saja sudah diceritakan kan jadi ada persiapan, Mau kirim anaknya buat sekolah dikampung tapi ga bilang apa apa. Untung aja anakmu ga pingsan dijalan.
Pak becak : Mas kan rumahnya deket balai desa jangan aja main kesitu lebih dari jam 9 malem yah mas..
Aku : Emangnya kenapa pak ? Angker yah..
Pak becak : Entar mas juga tau dari orang sini ,, saya ga berani cerita ini masih wilayahnya soalnya mas...
Bersambung ke part II..... lanjut besok ya merinding disko nih ngetiknya
Part II Penampakan 4 pocong
Part III Indra
Part IV Si mata merah
Part V Cerita dibalik Kesurupan
Part VI Kembalinya kuntilanak
Part VII Pocong dan Kunti
Thread ane lain di SFTH Tanpa Kaca Mata.. Mampir yah gan
Part VIII - Kebenaran dukun desa
Part IX - Andi, Joni Dan Kuntilanak Merah
Part X - Kamis Sore Horror
Part XI - The Dukun Is Back
Part XII - Kesurupan Bagian Kedua
Part XIII - Penampakan Jin Pendamping
Part XIV - Teror jin pendamping
Part XV - Review Part I - Part XIV
Part XVI - Pak Joko Si Tukang kebun
Part XVII - Pertempuran pak Joko Vs jin Pendamping aka Khadam
Part XVIII - Firasat
Part XIX - Seminggu sebelum kematian pak joko
Part XX - Malam paling mencekam Part I
Part XXI - Malam paling Mencekam Part II
Part XXII - Misteri yang terpecahkan
Part XXIII - Identitas dibalik mbah ngadiman dukun desa misterius
Part XXIV - Kisah Yudi
Part XXV - Munculnya Penolong Baru
Part XXVI - Mendekati akhir cerita
Part XXVII - Bersekutu dengan jin
Part XXVIII - Hidup Atau Mati
Part XIX - Yang Nyata dan Tidak Nyata
Sekuel Balai Desa Merah
Quote:
Original Posted By pipiettripitaka►kebayang kalo jadi film, tp yg garap sineas thailand, kebayang tuh ngeri luar biasa. tengkyu udah berbagi cerita gan,, 5* buat agan,,
Quote:
Original Posted By paking.disgrace►Bagus gan critanya
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Bisa membawa pembaca larut dalam alur ceritanya plus ada twist nya
Kasihan juga dengan pak joko, niat menolong nya kuat, sayang agak over PD ketika sukses menundukkan jin pendamping malah langsung nantang ke balai desa.
Udah gregetan pas agan disuruh minum tu air sumur, duh kenapa diminum sih, katanya klo ada hidangan dari jin jangan pernah disentuh.
Dari crita agan dan hasil penjelasan dari ust danu di TV, ternyata emang manusia dan jin berdampingan. Dan klo mo lawan jin, manusia/dukun akan juga mengandalkan jin juga. Mereka yg akan bertempur saling adu kuat. Dan makanan jin adalah sesaji dan memakai tumbal untuk memperbesar kekuatan mereka.
Yg paling baik emang berharap ke Allah semata, yg maha memiliki kekuatan.
Thx gan, atas critanya, jadi memperjelas apa yg selama ini ust danu sering cerita kan
Diubah oleh achanyoe 20-01-2019 16:15
arieaduh dan 37 lainnya memberi reputasi
38
146.3K
Kutip
749
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
achanyoe
#467
Quote:
Part XXI - Malam paling mencekam Part II
Quote:
Kejadian aneh terjadi sesaat gw membuka mata, sebelumnya suara cekikikan hantu yang menggendong kepalanya sendiri menghilang.
Ditengah ketakutan dan rasa penasaran apakah hantu itu sudah pergi atau belum, akhirnya gw beranikan diri untuk membuka mata. Tapi apa yang terjadi, gw dibikin 100 kali lebih kaget dari pada penampakan hantu tanpa kepala. Gw tiba tiba ada di sebuah ruangan yang penduduk desa manapun tidak ada yang mau datang kemari sendirian di tengah malam seperti ini. Ya sekarang gw ada di tengah tengah ruangan balai desa.
Gw hafal betul setiap sudut ruangannya, karena beberapa kali gw pernah kesini tapi siang siang tentunya. Tidak tengah malam begini, malah sendirian lagi. Gw layaknya peserta uka uka saat itu, tapi tanpa ada kamera pengawas dan kru yang siap datang kapan saja jika gw mau menyerah untuk terus berada ditengah ruangan ini.
Gw masih bingung sama semuanya, kenapa gw tiba tiba bisa ada disini. Kekuatan apa yang bisa membuat gw tiba tiba ada ditengah ruangan balai desa. Ditengah kebingungan yang melanda gw. Tiba tiba gw dikagetkan dengan suara tawa yang entah dari mana asalnya.
Bukan hanya satu jenis suara tawa yang gw dengar kala itu. Tapi sangat banyak, ada suara tawa cekikan kuntilanak, suara anak kecil, suara auman seperti monster, suara ketawa yang mirip seperti genderuwo dengan suara yang berat dan masih banyak lagi. Suara tawa itu menggema diseluruh ruangan, terasa sangat menusuk kuping. Gw benar benar takut saat itu, badan gw seketika lemas. Gw cuma bisa reflek tutup kuping. Gw jalan perlahan menuju pintu balai desa karena gw waktu itu benar benar lemes. Gw lemes mungkin karena rasa takut yang teramat sangat waktu itu. Gw pikir waktu itu, waktunya gw untuk jadi tumbal. Gw berfikir hari itu mungkin saatnya gw mati. Makannya gw takut bukan main. Saat gw coba mau kepintu, tapi pandangan mata gw berasa jauh banget itu pintu. Suara ketawa masih menggema di seisi ruangan. Karena pintu tak kunjung sampai dan gw udah lemes banget. Akhirnya gw duduk pasrah sama semuanya, saat itu tiba tiba suara tawanya hilang. Dan ruangan hening seketika.
Gw buka tangan gw yang menutupi kuping. Ruangan hening banget, cuma ada suara dan hawa angin yang nusuk bikin seluruh bulu kuduk gw berdiri. Kemana larinya tawa tadi, gw liat diseluruh ruangan gak ada siapa siapa. Sampai akhirnya gw liat dinding balai desa yang mengalir cairan mirip darah. Cairan itu keluar dari sela sela atap mengalir ke dinding dan menutupi seluruh dinding sehingga dinding ruangan balai desa kini dilumuri merah darah. Itu kenapa judul thread ini gw kasih nama Balai desa merah karena asal mulanya dari sini.
Perasaan takut yang dari tadi udah banyak, semakin bertamah banyak. Gw berfikir mungkin ritual tumbalnya sudah dimulai sekarang. Berarti sebentar lagi gw mati dong pikir gw saat itu. Saat gw pandangi seluruh ruangan tiba tiba di salah satu dinding keluar seperti bara api. Tak lama kemudian muncul sesosok yang gak asing lagi saat itu. Penampakan setan yang sebelumnya pernah bikin tangan gw seperti terkena luka bakar. Dari balik dinding muncul penguasa balai desa. Badan yang mengeluarkan asap dan bara api disekujur tubuhnya muncul dan coba menghampiri gw. Gw cuma bisa teriak teriak sambil menghindar mundur dari penguasa balai desa itu. Gw teriak sekenceng kencengnya, berharap ada yang bisa denger dan datang ketempat gw buat nolongin gw. Tapi semuanya kayaknya percuma, gw udah teriak sekencengnya tetep gak ada yang datang. Dan sekarang setan penguasa balai desanya udah berdiri tepat didepan gw. Hawa panasnya bahkan berasa walaupun dia gak nyentuh gw. Tanduknya bikin gw berfikir kalau ini Iblis bukan setan biasa. Pak joko aja kalah sama nih setan. Mungkin gw juga bakalan tewas hari ini. Saat itu gw cuma bisa nunduk gak berani ngeliat itu setan.
Saat gw nunduk tiba tiba itu penguasa balai desa pegang dagu gw, gw berasa kepanasan banget. Akhirnya karena gw gak kuat, gw terpaksa buka mata gw, dan saat gw buka itu setan udah ada tepat didepan mata gw. Jarak satu jengkal doang kali. Benar benar pemandangan paling menakutkan dalam hidup gw. Saat itu tiba tiba penguasa balai desa nunjuk jarinya tepat di dahi gw. Jarinya yang mengeluarkan hawa panas dan kukunya yang panjang tepat ada didepan dahi gw. Dan tiba tiba jarinya srepppp... dia masukin ke dahi gw. Seketika itu juga semuanya gelap. Dan akhirnya gw pikir gw udah mati saat itu.
Tapi anehnya selang beberapa saat, gw bisa buka mata lagi. Tapi semua itu gak bikin gua seneng. Karena ternyata gw bisa liat tubuh gw sendiri yang tergeletak di lantai. Ternyata gw masuk di dunia arwah.
Bersambung.....
Ditengah ketakutan dan rasa penasaran apakah hantu itu sudah pergi atau belum, akhirnya gw beranikan diri untuk membuka mata. Tapi apa yang terjadi, gw dibikin 100 kali lebih kaget dari pada penampakan hantu tanpa kepala. Gw tiba tiba ada di sebuah ruangan yang penduduk desa manapun tidak ada yang mau datang kemari sendirian di tengah malam seperti ini. Ya sekarang gw ada di tengah tengah ruangan balai desa.
Gw hafal betul setiap sudut ruangannya, karena beberapa kali gw pernah kesini tapi siang siang tentunya. Tidak tengah malam begini, malah sendirian lagi. Gw layaknya peserta uka uka saat itu, tapi tanpa ada kamera pengawas dan kru yang siap datang kapan saja jika gw mau menyerah untuk terus berada ditengah ruangan ini.
Gw masih bingung sama semuanya, kenapa gw tiba tiba bisa ada disini. Kekuatan apa yang bisa membuat gw tiba tiba ada ditengah ruangan balai desa. Ditengah kebingungan yang melanda gw. Tiba tiba gw dikagetkan dengan suara tawa yang entah dari mana asalnya.
Bukan hanya satu jenis suara tawa yang gw dengar kala itu. Tapi sangat banyak, ada suara tawa cekikan kuntilanak, suara anak kecil, suara auman seperti monster, suara ketawa yang mirip seperti genderuwo dengan suara yang berat dan masih banyak lagi. Suara tawa itu menggema diseluruh ruangan, terasa sangat menusuk kuping. Gw benar benar takut saat itu, badan gw seketika lemas. Gw cuma bisa reflek tutup kuping. Gw jalan perlahan menuju pintu balai desa karena gw waktu itu benar benar lemes. Gw lemes mungkin karena rasa takut yang teramat sangat waktu itu. Gw pikir waktu itu, waktunya gw untuk jadi tumbal. Gw berfikir hari itu mungkin saatnya gw mati. Makannya gw takut bukan main. Saat gw coba mau kepintu, tapi pandangan mata gw berasa jauh banget itu pintu. Suara ketawa masih menggema di seisi ruangan. Karena pintu tak kunjung sampai dan gw udah lemes banget. Akhirnya gw duduk pasrah sama semuanya, saat itu tiba tiba suara tawanya hilang. Dan ruangan hening seketika.
Gw buka tangan gw yang menutupi kuping. Ruangan hening banget, cuma ada suara dan hawa angin yang nusuk bikin seluruh bulu kuduk gw berdiri. Kemana larinya tawa tadi, gw liat diseluruh ruangan gak ada siapa siapa. Sampai akhirnya gw liat dinding balai desa yang mengalir cairan mirip darah. Cairan itu keluar dari sela sela atap mengalir ke dinding dan menutupi seluruh dinding sehingga dinding ruangan balai desa kini dilumuri merah darah. Itu kenapa judul thread ini gw kasih nama Balai desa merah karena asal mulanya dari sini.
Perasaan takut yang dari tadi udah banyak, semakin bertamah banyak. Gw berfikir mungkin ritual tumbalnya sudah dimulai sekarang. Berarti sebentar lagi gw mati dong pikir gw saat itu. Saat gw pandangi seluruh ruangan tiba tiba di salah satu dinding keluar seperti bara api. Tak lama kemudian muncul sesosok yang gak asing lagi saat itu. Penampakan setan yang sebelumnya pernah bikin tangan gw seperti terkena luka bakar. Dari balik dinding muncul penguasa balai desa. Badan yang mengeluarkan asap dan bara api disekujur tubuhnya muncul dan coba menghampiri gw. Gw cuma bisa teriak teriak sambil menghindar mundur dari penguasa balai desa itu. Gw teriak sekenceng kencengnya, berharap ada yang bisa denger dan datang ketempat gw buat nolongin gw. Tapi semuanya kayaknya percuma, gw udah teriak sekencengnya tetep gak ada yang datang. Dan sekarang setan penguasa balai desanya udah berdiri tepat didepan gw. Hawa panasnya bahkan berasa walaupun dia gak nyentuh gw. Tanduknya bikin gw berfikir kalau ini Iblis bukan setan biasa. Pak joko aja kalah sama nih setan. Mungkin gw juga bakalan tewas hari ini. Saat itu gw cuma bisa nunduk gak berani ngeliat itu setan.
Saat gw nunduk tiba tiba itu penguasa balai desa pegang dagu gw, gw berasa kepanasan banget. Akhirnya karena gw gak kuat, gw terpaksa buka mata gw, dan saat gw buka itu setan udah ada tepat didepan mata gw. Jarak satu jengkal doang kali. Benar benar pemandangan paling menakutkan dalam hidup gw. Saat itu tiba tiba penguasa balai desa nunjuk jarinya tepat di dahi gw. Jarinya yang mengeluarkan hawa panas dan kukunya yang panjang tepat ada didepan dahi gw. Dan tiba tiba jarinya srepppp... dia masukin ke dahi gw. Seketika itu juga semuanya gelap. Dan akhirnya gw pikir gw udah mati saat itu.
Tapi anehnya selang beberapa saat, gw bisa buka mata lagi. Tapi semua itu gak bikin gua seneng. Karena ternyata gw bisa liat tubuh gw sendiri yang tergeletak di lantai. Ternyata gw masuk di dunia arwah.
Bersambung.....
Diubah oleh achanyoe 28-06-2017 17:11
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Kutip
Balas
Tutup