- Beranda
- Stories from the Heart
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
...
TS
bunbun.orenz
[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)
Spoiler for Credit Cover (THANK YOU SO MUCH):
And I know
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
There's nothing I can say
To change that part
But can I speak?
Well is it hard understanding
I'm incomplete
A life that's so demanding
I get so weak
A love that's so demanding
I can't speak
I see you lying next to me
With words I thought I'd never speak
Awake and unafraid
Asleep or dead
- Famous Last Words by MCR -
JAGALAH SOPAN-SANTUN ANDA DALAM BERKOMENTAR, KARENA 90% TOKOH DISINI IKUT MEMBACA
Masa ini adalah lanjutan dari sebuah Masa yang Paling Indahyang dituangkan oleh suami ku tercinta Agatha
Quote:
Spoiler for Special Thanks:
***
Spoiler for From Me:
Versi PDF Thread Sebelumnya:
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/05/02/9605475_201705020801290527.jpg)
Foto diatas hanyalah sebagai ilustrasi tokoh dalam cerita ini
Quote:
Polling
0 suara
SIAPAKAH YANG AKAN MENJADI NYONYA AGATHA ?
Diubah oleh bunbun.orenz 04-07-2017 12:31
ugalugalih dan 27 lainnya memberi reputasi
26
1.5M
7.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#6588
PART 94
Mba Yu, Nona Ukhti, Mba Laras sedang mendengarkan penjelasan Gua tentang hubungan antara Gua dan Luna. Diantara mereka, yang lebih dulu mengetahui Luna telah selingkuh adalah Mba Yu, secara garis besar. Gua bercerita kepada Mba Yu ketika baru sampai Indonesia, saat diperjalanan menjemput Gua di bandara Soekarno-hatta lima hari lalu.
Kami duduk di sofa ruang tamu, Mba Laras duduk disebelah Mba Yu, sedangkan Gua dan Nona Ukhti duduk bersebelahan dihadapan mereka. Gua ceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi ketika Gua mendatangi Luna di tempat acara gala dinner pada malam natal beberapa hari lalu diselenggarakan. Tidak heran melihat Mba Laras langsung terkejut sambil mengucapkan istigfar saat Gua cerita bahwa Erick adalah tunangan Luna.
"Ya Alloh.. Masa Luna setega itu Za ? Enggak mungkin Luna berani ngekhianatin kamu kalo kita liat apa yang udah dia perjuangankan selama ini...", ucap Mba Laras sambil menggelengkan kepalanya,
"Mba tau betul, Luna itu setiap hari nanyain kamu nyariin kamu, dan Mba tau dia sayang sama kamu itu tulus... Keliatan Za, semenjak kamu kabur ke luar negeri, Luna itu udah seperti kehilangan suaminya...", lanjut Mba Laras mengingat saat dulu Gua pergi dari rumah.
"Iya sih.. Dia sampai ngedesek aku untuk ngasih tau dimana kamu berada Za...", timpal Mba Yu kali ini.
"Ngedesek gimana maksudnya Mba ?", tanya Gua balik.
"Iya Mas, jadi Luna itu mikir kalo aku tau dimana keberadaan kamu waktu itu, disangka aku nutup-nutupin... Sampe adu mulut sama dia.. Ngeselin itu perempuan satu, iishh...", Mba Yu seketika itu langsung bad mood mengingat kejadian yang ia alami bersama Luna.
"Sama kok, ke aku juga gitu, Luna anggap aku juga tau dimana kamu sebenarnya, dia sampai datang ke Singapore untuk mastiin aku sama kamu apa enggak...", timpal Nona Ukhti kali ini.
Gua menghela nafas kasar lalu menyandarkan kepala ke bahu sofa.
"Jadi sekarang kita cuma bisa nunggu dia jelasin ke kamu langsung gitu, Za ?", tanya Mba Laras lagi.
Gua masih menyandarkan kepala ke bahu sofa dengan mata terpejam. "Ya... Menurut Helen, dia bakal pulang kesini untuk jelasin semuanya...", jawab Gua tanpa merubah posisi.
Dalam kekecewaan yang kami semua rasakan karena ulah Luna, kami semua tidak menyadari satu hal bahwa kami sudah menghakiminya tanpa tau fakta yang sebenarnya. Walaupun saat itu, mata dan telinga ini jelas melihat, juga mendengar apa yang terjadi di malam natal. Dan kamu Franziska... You will be Uchiha Itachi.
...
Mba Yu pulang setelah dijemput oleh adiknya, Desi. Karena mereka akan merayakan tahun baru bersama keluarga. Tentu saja Gua diajak, tapi ya karena ada Nona Ukhti yang datang tiba-tiba tanpa kami semua ketahui membuat Gua tidak mungkin meninggalkannya sendirian.
Setelah Mba Yu pulang, Gua dan Nona Ukhti jalan keluar menggunakan motor yang selama ini sudah jarang Gua pakai, dan alhamdulillah selama Gua tidak ada, Mba Laras meminta supir pribadinya mengurus motor Gua, jadi kondisinya masih normal selama Gua tinggal.
"Awet ini si bising ya Za...", ucap Nona Ukhti ketika Gua baru saja mulai memanaskan si RR.
"Dirawat sama supirnya Mba Laras katanya, syukur masih bagus nih kerawat...", jawab Gua sambil memainkan handling gas.
"Berisik ih, jangan dimainin gasnya..", Nona Ukhti menepuk bahu Gua pelan.
Gua terkekeh lalu menjulurkan lidah, meledeknya.
"Eh iya Ve.. Kamu kesini sama siapa tadi ?", tanya Gua.
"Dianter Gimma tadi pakai mobil Mamah", jawabnya.
"Ooh.. Nah terus, kok kamu bisa pulang dari Singapore hari ini ? Sengaja ?", tanya Gua lagi.
"Aku udah dari kemarin sampe rumah Za, istirahat dulu terus memang ingin tahun baruan disini, jadi sekalian hari ini silaturahmi ke rumah kamu..", jawabnya lagi.
Tidak lama kemudian Gua meminta art untuk mengambilkan dua buah helm untuk Gua dan Nona Ukhti, setelah itu barulah kami berdua naik keatas si RR.
"Ready to ride ?", tanya Gua sebelum menutup kaca helm fullface ini seraya menengok kebelakang sedikit.
"Be careful Za", jawabnya sambil tersenyum.
Gua tarik handling gas, dan motorpun melaju meninggalkan pelataran halaman rumah...
Kecepatan motor hanya enam puluh kilometer perjam ketika kedua tangan Nona Ukhti memeluk kedua sisi pinggang Gua. Dan seketika itu, kenangan masa lalu saat bersamanya diatas motor ini kembali hadir. Indah, ya saat itu indah bersamanya. Dan sekarang ? Masih sama, tapi jelas ada yang berbeda.
Gua arahkan motor ke pusat kota dan beberapa kendaraan lainnya mulai memadati jalan raya. Gua mulai menyalip kanan kiri ketika sudah mulai memasuki kemacetan akibat volume kendaraan semakin meningkat, terlebih kebanyakan kendaraan roda dua. Akhirnya kami berdua sampai pada sebuah tempat tongkrongan yang ternyata sudah dipenuhi muda-mudi ataupun keluarga yang memang ingin merayakan pergantian tahun malam ini. Gua parkirkan motor lalu kembali mengajak Nona Ukhti berjalan menyebrangi jalan raya untuk nongkrong didekat kolam air mancur. Setelah berputar sebentar, akhirnya kami bisa mendapatkan satu spot untuk duduk disisi kolam.
"Udah lama banget ya Za gak kesini..", ucapnya sambil meluruskan kakinya.
Gua tersenyum. "Iya Ve, kapan terakhir kesini ya...", ucap Gua mengingat-ingat.
"Udah lama banget Za, sebelum kejadian itu...".
Gua terkejut lalu secara reflek memeluk bahu kanannya, melingkar dari sisi kiri.
"Maaf Ve, maaf.. Aku gak maksud untuk..".
"Enggak apa-apa kok, aku udah lewatin masa sulit itu Za..", jawabnya sambil melirik kepada Gua lalu tersenyum manis sekali.
Gua terkesiap sejenak, menyadari bahwa wajahnya sangat menenangkan, dan paras cantiknya yang terbalut hijab berwarna merah itu benar-benar terlihat bercahaya, walaupun Gua tau ini hanya pandangan imajinasi Gua, tapi entah kenapa terasa nyata.
"Za..".
"Ya, Ve ?".
"Luna pernah bilang sama aku..", ucapnya kali ini memalingkan mukanya kearah lain,
"Dia pernah bilang memang ingin melepaskan kamu Za..", lanjutnya nyaris tidak terdengar ucapannya itu.
Gua melepaskan tangan yang melingkar tadi, lalu berganti memegang tangan kirinya.
"Maksudnya apa Ve ?".
"Aku juga gak paham dan gak tau maksudnya apa.. Tapi dia cuma bilang gitu dan dia bilang lagi kalo suatu saat akan ngomong langsung ke kamu", jawabnya melirik kepada Gua dengan tatapan sendu.
"Kapan dia ngomong gitu ke kamu ?".
"Waktu kamu ke Singapore, waktu kita pulang dari perayaan ulang tahun aku Za..".
"Maksudnya dia bilang ditelpon ?".
Nona Ukhti mengangguk lemah. "Maaf aku gak langsung bilang, karena dia sendiri yang minta jangan bilang apapun ke kamu".
Gua menggelengkan kepala lalu menarik nafas dalam-dalam. Tidak paham dan tidak mengerti fikiran Luna saat ini.
"Ve.. Kamu tau kan, Luna selalu ada untuk aku selama aku ditinggal Echa dan Jingga.. Sampai akhirnya aku kembali kesini, dia masih setia untuk menemani aku...", ucap Gua lalu melepaskan gengnggaman tangan pada Nona Ukhti,
"Apa yang ada difikirannya sampai berani berbuat seperti ini sama hubungan kami Ve.. Aneh dan gak masuk diakal. Gak mudah Ve menjadi orang yang mencintai dan menyayangi orang lain disaat orang yang kita sayangi itu sedang depresi.. Maaf ya Ve. Aku bicara seperti ini karena pernah merasakannya juga, saat menemani kamu dulu...", Gua melirik kepada Nona Ukhti.
Nona Ukhti tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu mengusap lembut bahu Gua.
"Logikanya, saat itu aku benar-benar mencintai kamu tulus dan menerima kamu apa adanya, dan aku rasa setelah apa yang aku alami dan diketahui Luna sama seperti aku ke kamu dulu. Dan sekali lagi.. Maaf, aku bisa memilih Echa karena kamu tinggal. Tapi Luna ? Kenapa dia bisa berubah seperti ini, aku enggak selingkuh, aku gak main perempuan lain, aku memilih dia Ve...", hati Gua mulai panas ketika tersadar bahwa apa yang dilakukan Luna begitu menyakiti hati Gua,
"Semenjak aku kelas satu sma, semenjak aku mulai mengenal hubungan jarak jauh bersama Wulan dulu, aku udah gak percaya dengan hubungan LDR seperti ini.. Dan entah aku atau pasangan aku pasti goyah, akhirnya kebukti.. Aku mengkhianati Wulan saat bertemu Olla, kemudian ganti dia yang selingkuh dengan teman kampusnya di Bandung saat kuliah...", lanjut Gua mengingat hubungan LDR yang Gua artikan sama saja dengan hubungan sampah, membuang-buang waktu dan percuma.
"Za, enggak semuanya berakhir buruk kok, ada yang bisa melewati masa sulit karena jarak tapi berhasil..", Nona Ukhti mencoba meluruskan pandangan Gua soal LDR.
"Berapa persen tingkat keberhasilannya, Ve ?".
"Sebanyak kepercayaan dan keteguhan hati pasangan itu Za..", Nona Ukhti tersenyum memandangi Gua. "Enggak perlu LDR Za kalo memang jalannya salah satu mengkhianati pasti berantakan juga kok", kali ini Nona Ukhti mengerlingkan matanya sambil meledek Gua dengan memeletkan lidahnya keluar.
"Yeee.. Maksudnya apaan nih..", Gua pura-pura tidak mengerti.
"Maksudnyaaaa... Kamu itu yang suka genit sama perempuan lain, padahal udah punya pasangan... Huuu...", jawab Nona Ukhti sambil membetot hidung Gua dan terkekeh pelan.
"Diiihh.. Kata siapa, sok tauu".
"Loch, aku tau soal kedekatan kamu sama adik-adik kelas dulu di sma, padahal kamu masih pacaran sama Sherlin kan ? Ayo ngaku.. Siapa tuh namanya.. Mia deh kalo gak salah.. Lagian itu baru salah satunya, belum lagi sama, mmm... Tifa.. Eh Tissa.. Ya kan ?".
Jirr kartu AS gw bray..


Ampun Ve.. Ampun
"Ah itu ma cuma perasaan dek Vera sajo, ambo tidak seperti itulah.. Hohoho..".
Kyuuuttt....
"Wadaaaww.. Sakit sakittt... Ampun Vee..", Gua meringis kesakitan ketika cubitan jarinya mendarat tepat di pipi ini.
"AIRIN jugakan!!!", nada suaranya berubah seketika. Emosi ini Nona Ukhti.
"Enggak.. Sumpah enggak Ve.. Ampun..".
"Ngaku enggak! Ngapain sering masuk kedalem gudang olahraga hah ?!!", tembaknya lagi.
Mampus, dibahas lagi masa lalu itu... Masa lalu.. Biarlah berlaluuu.. Gak asyik joss..
"Lepas dulu lepass.. Sakit ini oii..".
Akhirnya Nona Ukhti melepaskan cubitannya pada pipi Gua ini. Lalu kemudian dia melipat kedua tangannya sambil melotot kepada Gua.
Dan ketika itu, Gua melihat Vera yang dulu, Vera yang masih mengenakan seragam sma. Ya dia memang tidak pernah suka dengan teman sekelas kami yang satu itu, Airin, si cinta pertama Gua.
(gak lama dikolom komentar ada yang nulis soal Ve vs Airin). Pffftttt... Awas bray... Jadi pertanyaan Gua, kapan Airin pernah muncul di LiE wakakakak...
.
Duar...
Taarr...
Tarr...
Treeeetttt...
Treettt...
Duar..tarr..duaaarr...
"Wah liat Ve, udah pergantian tahun tuh... Kembang apinya bagus ya..", Gua melihat ke langit yang sudah dihiasi berbagai warna warni kemilau percikan kembang api. "Ve.. Bagus tuh kembang apinya", lanjut Gua tanpa menoleh kepadanya dengan sedikit berteriak karena cukup bising suara disekitar yang sudah bercampur dengan suara-suara dari trompet yang ditiup kencang.
Beberapa saat Gua masih terpukau dengan warna warni kembang api yang meledak diatas langit. Lalu Gua tersadar bahwa wanita disamping Gua itu belum juga menanggapi apa yang Gua ucapkan sebelumnya. Gua menengok kepada Nona Ukhti dan seketika itu juga tersenyum lebar.
"Aamiin...", ucapnya pelan lalu membasuh wajahnya dengan kedua tangan.
"Habis berdo'a ?", tanya Gua dengan tetap tersenyum.
Nona Ukhti mengangguk lalu tersenyum kepada Gua. "Semoga tahun baru ini menjadi lembaran baru juga untuk cerita kita berdua Za..".
Kami duduk di sofa ruang tamu, Mba Laras duduk disebelah Mba Yu, sedangkan Gua dan Nona Ukhti duduk bersebelahan dihadapan mereka. Gua ceritakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi ketika Gua mendatangi Luna di tempat acara gala dinner pada malam natal beberapa hari lalu diselenggarakan. Tidak heran melihat Mba Laras langsung terkejut sambil mengucapkan istigfar saat Gua cerita bahwa Erick adalah tunangan Luna.
"Ya Alloh.. Masa Luna setega itu Za ? Enggak mungkin Luna berani ngekhianatin kamu kalo kita liat apa yang udah dia perjuangankan selama ini...", ucap Mba Laras sambil menggelengkan kepalanya,
"Mba tau betul, Luna itu setiap hari nanyain kamu nyariin kamu, dan Mba tau dia sayang sama kamu itu tulus... Keliatan Za, semenjak kamu kabur ke luar negeri, Luna itu udah seperti kehilangan suaminya...", lanjut Mba Laras mengingat saat dulu Gua pergi dari rumah.
"Iya sih.. Dia sampai ngedesek aku untuk ngasih tau dimana kamu berada Za...", timpal Mba Yu kali ini.
"Ngedesek gimana maksudnya Mba ?", tanya Gua balik.
"Iya Mas, jadi Luna itu mikir kalo aku tau dimana keberadaan kamu waktu itu, disangka aku nutup-nutupin... Sampe adu mulut sama dia.. Ngeselin itu perempuan satu, iishh...", Mba Yu seketika itu langsung bad mood mengingat kejadian yang ia alami bersama Luna.
"Sama kok, ke aku juga gitu, Luna anggap aku juga tau dimana kamu sebenarnya, dia sampai datang ke Singapore untuk mastiin aku sama kamu apa enggak...", timpal Nona Ukhti kali ini.
Gua menghela nafas kasar lalu menyandarkan kepala ke bahu sofa.
"Jadi sekarang kita cuma bisa nunggu dia jelasin ke kamu langsung gitu, Za ?", tanya Mba Laras lagi.
Gua masih menyandarkan kepala ke bahu sofa dengan mata terpejam. "Ya... Menurut Helen, dia bakal pulang kesini untuk jelasin semuanya...", jawab Gua tanpa merubah posisi.
Dalam kekecewaan yang kami semua rasakan karena ulah Luna, kami semua tidak menyadari satu hal bahwa kami sudah menghakiminya tanpa tau fakta yang sebenarnya. Walaupun saat itu, mata dan telinga ini jelas melihat, juga mendengar apa yang terjadi di malam natal. Dan kamu Franziska... You will be Uchiha Itachi.
...
Mba Yu pulang setelah dijemput oleh adiknya, Desi. Karena mereka akan merayakan tahun baru bersama keluarga. Tentu saja Gua diajak, tapi ya karena ada Nona Ukhti yang datang tiba-tiba tanpa kami semua ketahui membuat Gua tidak mungkin meninggalkannya sendirian.
Setelah Mba Yu pulang, Gua dan Nona Ukhti jalan keluar menggunakan motor yang selama ini sudah jarang Gua pakai, dan alhamdulillah selama Gua tidak ada, Mba Laras meminta supir pribadinya mengurus motor Gua, jadi kondisinya masih normal selama Gua tinggal.
"Awet ini si bising ya Za...", ucap Nona Ukhti ketika Gua baru saja mulai memanaskan si RR.
"Dirawat sama supirnya Mba Laras katanya, syukur masih bagus nih kerawat...", jawab Gua sambil memainkan handling gas.
"Berisik ih, jangan dimainin gasnya..", Nona Ukhti menepuk bahu Gua pelan.
Gua terkekeh lalu menjulurkan lidah, meledeknya.
"Eh iya Ve.. Kamu kesini sama siapa tadi ?", tanya Gua.
"Dianter Gimma tadi pakai mobil Mamah", jawabnya.
"Ooh.. Nah terus, kok kamu bisa pulang dari Singapore hari ini ? Sengaja ?", tanya Gua lagi.
"Aku udah dari kemarin sampe rumah Za, istirahat dulu terus memang ingin tahun baruan disini, jadi sekalian hari ini silaturahmi ke rumah kamu..", jawabnya lagi.
Tidak lama kemudian Gua meminta art untuk mengambilkan dua buah helm untuk Gua dan Nona Ukhti, setelah itu barulah kami berdua naik keatas si RR.
"Ready to ride ?", tanya Gua sebelum menutup kaca helm fullface ini seraya menengok kebelakang sedikit.
"Be careful Za", jawabnya sambil tersenyum.
Gua tarik handling gas, dan motorpun melaju meninggalkan pelataran halaman rumah...
Kecepatan motor hanya enam puluh kilometer perjam ketika kedua tangan Nona Ukhti memeluk kedua sisi pinggang Gua. Dan seketika itu, kenangan masa lalu saat bersamanya diatas motor ini kembali hadir. Indah, ya saat itu indah bersamanya. Dan sekarang ? Masih sama, tapi jelas ada yang berbeda.
Gua arahkan motor ke pusat kota dan beberapa kendaraan lainnya mulai memadati jalan raya. Gua mulai menyalip kanan kiri ketika sudah mulai memasuki kemacetan akibat volume kendaraan semakin meningkat, terlebih kebanyakan kendaraan roda dua. Akhirnya kami berdua sampai pada sebuah tempat tongkrongan yang ternyata sudah dipenuhi muda-mudi ataupun keluarga yang memang ingin merayakan pergantian tahun malam ini. Gua parkirkan motor lalu kembali mengajak Nona Ukhti berjalan menyebrangi jalan raya untuk nongkrong didekat kolam air mancur. Setelah berputar sebentar, akhirnya kami bisa mendapatkan satu spot untuk duduk disisi kolam.
"Udah lama banget ya Za gak kesini..", ucapnya sambil meluruskan kakinya.
Gua tersenyum. "Iya Ve, kapan terakhir kesini ya...", ucap Gua mengingat-ingat.
"Udah lama banget Za, sebelum kejadian itu...".
Gua terkejut lalu secara reflek memeluk bahu kanannya, melingkar dari sisi kiri.
"Maaf Ve, maaf.. Aku gak maksud untuk..".
"Enggak apa-apa kok, aku udah lewatin masa sulit itu Za..", jawabnya sambil melirik kepada Gua lalu tersenyum manis sekali.
Gua terkesiap sejenak, menyadari bahwa wajahnya sangat menenangkan, dan paras cantiknya yang terbalut hijab berwarna merah itu benar-benar terlihat bercahaya, walaupun Gua tau ini hanya pandangan imajinasi Gua, tapi entah kenapa terasa nyata.
"Za..".
"Ya, Ve ?".
"Luna pernah bilang sama aku..", ucapnya kali ini memalingkan mukanya kearah lain,
"Dia pernah bilang memang ingin melepaskan kamu Za..", lanjutnya nyaris tidak terdengar ucapannya itu.
Gua melepaskan tangan yang melingkar tadi, lalu berganti memegang tangan kirinya.
"Maksudnya apa Ve ?".
"Aku juga gak paham dan gak tau maksudnya apa.. Tapi dia cuma bilang gitu dan dia bilang lagi kalo suatu saat akan ngomong langsung ke kamu", jawabnya melirik kepada Gua dengan tatapan sendu.
"Kapan dia ngomong gitu ke kamu ?".
"Waktu kamu ke Singapore, waktu kita pulang dari perayaan ulang tahun aku Za..".
"Maksudnya dia bilang ditelpon ?".
Nona Ukhti mengangguk lemah. "Maaf aku gak langsung bilang, karena dia sendiri yang minta jangan bilang apapun ke kamu".
Gua menggelengkan kepala lalu menarik nafas dalam-dalam. Tidak paham dan tidak mengerti fikiran Luna saat ini.
"Ve.. Kamu tau kan, Luna selalu ada untuk aku selama aku ditinggal Echa dan Jingga.. Sampai akhirnya aku kembali kesini, dia masih setia untuk menemani aku...", ucap Gua lalu melepaskan gengnggaman tangan pada Nona Ukhti,
"Apa yang ada difikirannya sampai berani berbuat seperti ini sama hubungan kami Ve.. Aneh dan gak masuk diakal. Gak mudah Ve menjadi orang yang mencintai dan menyayangi orang lain disaat orang yang kita sayangi itu sedang depresi.. Maaf ya Ve. Aku bicara seperti ini karena pernah merasakannya juga, saat menemani kamu dulu...", Gua melirik kepada Nona Ukhti.
Nona Ukhti tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu mengusap lembut bahu Gua.
"Logikanya, saat itu aku benar-benar mencintai kamu tulus dan menerima kamu apa adanya, dan aku rasa setelah apa yang aku alami dan diketahui Luna sama seperti aku ke kamu dulu. Dan sekali lagi.. Maaf, aku bisa memilih Echa karena kamu tinggal. Tapi Luna ? Kenapa dia bisa berubah seperti ini, aku enggak selingkuh, aku gak main perempuan lain, aku memilih dia Ve...", hati Gua mulai panas ketika tersadar bahwa apa yang dilakukan Luna begitu menyakiti hati Gua,
"Semenjak aku kelas satu sma, semenjak aku mulai mengenal hubungan jarak jauh bersama Wulan dulu, aku udah gak percaya dengan hubungan LDR seperti ini.. Dan entah aku atau pasangan aku pasti goyah, akhirnya kebukti.. Aku mengkhianati Wulan saat bertemu Olla, kemudian ganti dia yang selingkuh dengan teman kampusnya di Bandung saat kuliah...", lanjut Gua mengingat hubungan LDR yang Gua artikan sama saja dengan hubungan sampah, membuang-buang waktu dan percuma.
"Za, enggak semuanya berakhir buruk kok, ada yang bisa melewati masa sulit karena jarak tapi berhasil..", Nona Ukhti mencoba meluruskan pandangan Gua soal LDR.
"Berapa persen tingkat keberhasilannya, Ve ?".
"Sebanyak kepercayaan dan keteguhan hati pasangan itu Za..", Nona Ukhti tersenyum memandangi Gua. "Enggak perlu LDR Za kalo memang jalannya salah satu mengkhianati pasti berantakan juga kok", kali ini Nona Ukhti mengerlingkan matanya sambil meledek Gua dengan memeletkan lidahnya keluar.
"Yeee.. Maksudnya apaan nih..", Gua pura-pura tidak mengerti.
"Maksudnyaaaa... Kamu itu yang suka genit sama perempuan lain, padahal udah punya pasangan... Huuu...", jawab Nona Ukhti sambil membetot hidung Gua dan terkekeh pelan.
"Diiihh.. Kata siapa, sok tauu".
"Loch, aku tau soal kedekatan kamu sama adik-adik kelas dulu di sma, padahal kamu masih pacaran sama Sherlin kan ? Ayo ngaku.. Siapa tuh namanya.. Mia deh kalo gak salah.. Lagian itu baru salah satunya, belum lagi sama, mmm... Tifa.. Eh Tissa.. Ya kan ?".
Jirr kartu AS gw bray..



Ampun Ve.. Ampun

"Ah itu ma cuma perasaan dek Vera sajo, ambo tidak seperti itulah.. Hohoho..".
Kyuuuttt....
"Wadaaaww.. Sakit sakittt... Ampun Vee..", Gua meringis kesakitan ketika cubitan jarinya mendarat tepat di pipi ini.
"AIRIN jugakan!!!", nada suaranya berubah seketika. Emosi ini Nona Ukhti.
"Enggak.. Sumpah enggak Ve.. Ampun..".
"Ngaku enggak! Ngapain sering masuk kedalem gudang olahraga hah ?!!", tembaknya lagi.
Mampus, dibahas lagi masa lalu itu... Masa lalu.. Biarlah berlaluuu.. Gak asyik joss..

"Lepas dulu lepass.. Sakit ini oii..".
Akhirnya Nona Ukhti melepaskan cubitannya pada pipi Gua ini. Lalu kemudian dia melipat kedua tangannya sambil melotot kepada Gua.
Dan ketika itu, Gua melihat Vera yang dulu, Vera yang masih mengenakan seragam sma. Ya dia memang tidak pernah suka dengan teman sekelas kami yang satu itu, Airin, si cinta pertama Gua.
(gak lama dikolom komentar ada yang nulis soal Ve vs Airin). Pffftttt... Awas bray... Jadi pertanyaan Gua, kapan Airin pernah muncul di LiE wakakakak...
.Duar...
Taarr...
Tarr...
Treeeetttt...
Treettt...
Duar..tarr..duaaarr...
"Wah liat Ve, udah pergantian tahun tuh... Kembang apinya bagus ya..", Gua melihat ke langit yang sudah dihiasi berbagai warna warni kemilau percikan kembang api. "Ve.. Bagus tuh kembang apinya", lanjut Gua tanpa menoleh kepadanya dengan sedikit berteriak karena cukup bising suara disekitar yang sudah bercampur dengan suara-suara dari trompet yang ditiup kencang.
Beberapa saat Gua masih terpukau dengan warna warni kembang api yang meledak diatas langit. Lalu Gua tersadar bahwa wanita disamping Gua itu belum juga menanggapi apa yang Gua ucapkan sebelumnya. Gua menengok kepada Nona Ukhti dan seketika itu juga tersenyum lebar.
"Aamiin...", ucapnya pelan lalu membasuh wajahnya dengan kedua tangan.
"Habis berdo'a ?", tanya Gua dengan tetap tersenyum.
Nona Ukhti mengangguk lalu tersenyum kepada Gua. "Semoga tahun baru ini menjadi lembaran baru juga untuk cerita kita berdua Za..".
*
*
*
*
*
Quote:
***
Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya, selamanya
Andaikan ku dapat mengungkapkan perasaanku
Hingga membuat kau percaya
Akan ku berikan seutuhnya rasa cintaku
Selamanya, selamanya
Diubah oleh glitch.7 28-06-2017 11:55
fatqurr memberi reputasi
1
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/18/9605475_20170318104940.jpg)
![[TAMAT] L.I.E (LOVE in ELEGY)](https://s.kaskus.id/images/2017/03/19/9605475_20170319120710.jpg)



love u too bun...ahaha..



